By @gurlindah93

Sebelum baca FF ini baca ‘Delivery Man’ dulu ya…😉

Hari ini Junghyuk akan menjemputku untuk makan malam. Bagiku ini hanyalah makan malam biasa, tapi ShinAe sudah ribut sejak sore.

“Omo!!! Kamu keren sekali Min….” komentarnya saat melihatku keluar dari kamar. Aku memakai celana skinny jeans dipadu crop sweater warna biru dengan wedges paling nyaman yang kumiliki.

“Kamu sungguh berlebihan” kataku.

“Jadi, kamu akan kencan di mana?” tanyanya dengan jahil.

“Sudah kubilang berapa kali ini bukan kencan! Hanya makan malam biasa bersama teman. Lagipula aku menerima ajakannya supaya dia tidak menggangguku terus-terusan” kucek smartphoneku, masih 10 menit sebelum dia datang.

“Ah.. Ara.. Bukan kencan.. Di mana kalian akan makan malam?” tanyanya sekali lagi.

“Molla… Aku tidak bertanya, hanya saja dia menyuruhku untuk memakai pakaian yang paling nyaman. Jadi tidak mungkin kami makan di restaurant mahal” jawabku. Kucek kembali riasanku.

“Wajar sih.. Dia kan baru lulus kuliah, sepertinya restaurant mewah terlalu berlebihan untuk kalian” sahut ShinAe. Aku mengangguk-angguk menyetujui pendapatnya.

Ting tong.

“Kubukakan pintu” ShinAe melesat pergi.

Tanganku dingin sekali “Mungkin karena malam ini udaranya dingin” pikirku.

“Waaaaaahhh tampan sekali. Ayo masuk” ajak ShinAe.

Junghyuk memakai t-shirt warna abu-abu dengan jaket kulit hitam dan celana jeans. Wow.

Dia memperhatikanku dari atas sampai bawah dengan bola mata yang membesar sambil senyum-senyum jahil. Kalau kubiarkan dia menatapku seperti itu, wajahku bisa seperti kepiting rebus.

“Kajja” aku mengambil tas lalu berjalan ke arah pintu.

“Annyeong MinAh, annyeong Junghyuk-ssi. Bersenang-senanglah. Ohya apa malam ini kamu akan pulang Min?” aku melirik ShinAe dengan pandangan ingin membuangnya ke antartika. Dia memasang tampang innocent yang selalu dia tampilkan kalau sedang iseng.

“Annyeong ShinAe-ssi. Wah aku tidak tahu apa aku sanggup memulangkannya kalau dia secantik ini” ucap Junghyuk lalu mengikutiku. Aku melotot pada Junghyuk, dia hanya mengangkat bahu lalu mengacungkan kedua jempolnya.

Sebelum menutup pintu aku mendengar ShinAe berteriak “Tidak usah pulang! Hahaha” gadis itu, aku ingin menyumpal mulutnya dengan boneka koleksinya.

“Temanmu baik sekali ya” kata Junghyuk saat kami menunggu lift. “Sssssshhhh” perintahku sambil melotot. Dia hanya senyum-senyum seperti biasanya.

“Kita akan jalan kaki atau naik subway?” tanyaku saat kami sampai di lobby.

Dia tidak menjawab jadi aku mengikutinya saja.

“Nih pakai” Junghyuk menyerahkan helm padaku.

“Kita naik ini?” aku menunjuk sepeda motor besar bermerk Ducati dengan linglung.

“Yes ma’am” dia memakaikanku helm. Aku melongo.

“Kamu belum pernah naik sepeda motor?” tanyanya. “Sering, tapi bukan sepeda motor seperti ini” jawabku masih dengan linglung, bahkan tiba-tiba aku kehilangan orientasi tempat.

“Ka” ajaknya yang sudah siap di atas sepeda motornya. Dengan terpaksa aku menurutinya.

Dia menyalakan motornya “Berpeganganlah dengan erat”, aku langsung memegang bagian belakang sepeda motor “Sudah” sahutku.

“Yakin? Baiklah, aku sudah memperingatkanmu ya nona Park” lalu dia memacu sepeda motornya dengan kencang.

5 menit pertama aku berhasil bertahan pada peganganku, tapi kemudian aku menyerah karena sepeda motor bergerak ke kanan dan ke kiri dengan tidak stabil. Akhirnya kulingkarkan tanganku ke pinggangnya.

“Terima kasih sudah mendengarkan nasihatku, sekarang aku bisa menyetir dengan normal” tidak kusangka dia mempercepat laju kendarannya. Semakin kupererat pelukanku agar tidak jatuh “Yaaaaaa apa kamu gila? Bagian mana yang normal?” teriakku.

“Tidak tahukah kamu kalau sepeda motor dengan mesin sebesar ini harus dikendarai dengan kecepatan tinggi?” tanyanya. Aku sedang tidak ingin berdebat dengannya jadi kudiamkan saja.

Ternyata benar katanya, semakin cepat sepeda motor melaju semakin stabil posisiku. Walaupun aku sudah mulai terbiasa tapi aku tetap tidak melepaskan tanganku dari pinggangnya, aku tidak ingin mati konyol karena terlempar dari sepeda motor.

“Jantungmu berdetak kencang sekali ya” katanya. “Dari mana dia tahu?” pikirku.

“Aku bisa merasakannya” lanjutnya seakan bisa membaca pikiranku. Baru kusadari kalau tubuhku menempel padanya itu sebabnya dia bisa merasakan detak jantungku yang memang berdetak kencang sekali. Dan itu bukan karena sepeda motor ini.

Kujauhkan tubuhku darinya.

Dia menarik tanganku sampai tubuhku menempel lagi padanya.

“Gwenchana.. Johahae” teriaknya. Aku tidak membantahnya.

Entah untuk berapa lama kami berkendara, yang jelas hari sudah semakin malam.

“Kita mau ke mana?” tanyaku. “Sebentar lagi sampai” jawabnya. Aku berharap kami tidak makan di luar kota Seoul karena aku sudah mulai lapar.

“Sampai” Junghyuk mengehentikan motornya di depan sebuah restaurant dengan desain yang unik. Di luarnya terdapat papan dengan tulisan ‘Shinhwa’.

“Yaaaaaa ini kan hanya butuh 15 menit dari apartmentku. Dengan kecepatan seperti tadi malah seharusnya hanya 5 menit” omelku. Tidak kupercaya dia mengajakku berputar-putar saja.

Junghyuk menyengir tanpa rasa bersalah, aku turun dari sepeda motor dan bersiap-siap mengomelinya lagi.

“Junghyuk-yaaa kenapa kamu kemari? Bukannya tadi di rumah kamu bilang akan pergi ya?” seorang wanita paruh baya mendatangi Junghyuk.

“Annyeonghaseyo” sapaku. Beliau baru menyadari keberadaanku “Ah annyeonghaseyo” balasnya dengan ramah.

“Jadi maksudmu pergi itu pergi kemari? Whoaaaa tidak kusangka sekarang kamu licik sekali, benar-benar mirip ayahmu” wanita yang kuyakini sebagai ibu Junghyuk ini geleng-geleng kepala mengetahui kelakuan anaknya.

Junghyuk senyum-senyum seperti anak kecil yang manja pada ibunya “Eommoni… Aku lebih tampan dari aboji” rajuknya.

“Cih! Eh kamu tidak memperkenalkan temanmu ini?” tanya ibu Junghyuk.

“Annyeonghaseyo eommoni, jeoneun Park MinAh-imnida. Bangapseumnida” kataku sambil membungkuk. “Aku tidak perlu memperkenalkannya lagi kan?” sahut Junghyuk yang dibalas dengan pukulan di kepalanya. Aku tertawa.

“Jeosonghamnida MinAh-ssi, anak ini memang seperti ini. Mungkin karena dia anak terakhir ya, 2 kakak lelakinya sudah menikah semua jadi dia manja, kekanak-kanakan, dan sedikit tidak sopan. Ayo masuk” ajaknya sambil menggandengku.

Tapi ternyata ibu Junghyuk tidak membawaku ke bagian depan restaurant, beliau malah mengajakku ke bagian dalam restaurant. Di sana ada seorang lelaki paruh baya sedang memangku seorang anak lelaki kira-kira berumur 5 tahun.

“Yeobo, Junghyuk membawa teman” panggil ibu Junghyuk pada suaminya.

Ayah Junghyuk langsung menurunkan anak kecil itu lalu mendatangiku.

“Annyeonghaseyo, jeoneun Park MinAh-imnida. Bangapseumnida” kataku sambil membungkuk.

“Annyeonghaseyo Park MinAh-ssi. Anakku ini pasti menyusahkanmu ya? Jeosonghaeyo” ujar ayah Junghyuk.

“Ah aniyo aboji. Gwenchana” balasku.

“Yaaaa Minguk-yaaa mana appamu? Ngapain di sini?” Junghyuk bertanya pada anak lelaki itu sambil melotot. Anak itu memanyunkan bibirnya pada Junghyuk.

“Orang tuanya sedang berkencan, ini kan malam minggu jadi Minguk dititipkan di sini” jawab ayah Junghyuk.

“Jeosonghamnida MinAh-ssi, ini Mun Minguk anak satu-satunya kakak pertama Junghyuk. Mereka berdua memang tidak pernah akur” ibu Junghyuk menjelaskan mengapa mereka berdua terlihat seperti sedang terlibat dalam perang dingin.

Kulirik Junghyuk dan Minguk, sekarang mereka sedang saling melotot. Kutahan tawaku tidak tahu siapa yang lebih kekanakan.

Tiba-tiba Minguk menghampiriku “Noona, jangan menikah dengan samchon ya. Menikah saja dengan Minguk. Samchon itu nakal, dia suka merebut mainan Minguk. Nanti kalau besar Minguk pasti lebih tinggi dari samchon” balita ini merangkul kakiku. Aku tersenyum padanya tidak tahu harus menjawab apa jadi kubelai rambutnya.

“Yaaaaa siapa yang mengajarimu bicara seperti itu? Appamu ya?? Eeeeeyyy dasar hyung, sudah menikah masih saja playboy. Sudah, lepaskan noona itu, jangan menyentuhnya” Junghyuk menggendong Minguk lalu menyerahkannya pada ibunya.

“Ka” ajak Junghyuk padaku lalu menggandengku ke bagian depan restaurant.

Dia mencari-cari tempat kosong, kebetulan ada tempat untuk 2 orang di pojok restaurant yang baru ditinggalkan customer. Kami duduk saling berhadapan.

Seorang pegawai yang tidak asing lagi menghampiri kami “Hyung! Ah noona. Annyeonghaseyo” sapanya. Ternyata dia adalah pegawai yang menggantikan Junghyuk saat sakit, namanya Kim Kwangmin.

“Annyeonghaseyo” balasku.

“Pesan apa hyung?” tanya Kwangmin pada Junghyuk.

“Samgyetang. Benar kan?” Junghyuk menatapku meminta persetujuanku. Aku mengangguk. Tentu saja dia tahu makanan favoritku, dia selalu mengantarkannya

“2 samgyetang, lalu minumnya?” tanya Kwangmin lagi. “Ice lemon tea” jawabku.

“Oke, 2 samgyetang dan 2 ice lemon tea  segera datang” Kwangmin meninggalkan kami.

“Ini pertama kali aku ke sini. Ternyata benar kata orang-orang, tempatnya nyaman sekali” komentarku melihat restaurant yang penuh dengan pengunjung ini.

“Aboji yang mendesainnya dibantu haraboji. Restaurant ini bahkan lebih tua dari umurku, 25 tahun” katanya dengan bangga.

“Lalu apa kamu yang akan melanjutkan bisnis keluarga ini?” aku teringat perkataan Kwangmin saat mengantarkan pesanan ke apartmentku “Di saat dia sedang mengerjakan tugas akhir kuliahnya seperti ini dia masih mau membantu mengurus restaurant milik orang tuanya. Sebelum menjadi delivery man Junghyuk hyung adalah kasir”  yang mengindikasikan pria di depanku ini sangat concern dengan bisnis keluarganya.

“Tahu dari mana?” dia menatapku dengan rasa ingin tahu. “Hanya menebak” jawabku.

“Ne.. Karena itu aku kuliah di bidang management, kakak pertamaku seorang arsitek, kakak keduaku seorang polisi. Kalau bukan aku siapa yang akan melanjutkan bisnis ini?” katanya sambil mengedarkan pandangan ke restaurant kebanggaannya.

Aku memandangnya dengan takjub.

“Wae?” dia sadar kalau aku memperhatikannya.

“Hehee.. Ani..” ucapku.

“Mmmmmmm.. Ada yang ingin kubicarakan” tiba-tiba dia terlihat serius. “Ada apa? Bilang saja” aku jadi penasaran dengan perubahan sikapnya.

“Ini, aku baru menerimanya kemarin” dia memberiku sebuah amplop. Aku membaca isinya “Waaaaaahhhh ini luar biasa.. Chukkae Junghyuk-ssi” kataku dengan riang.

Junghyuk mendapat beasiswa untuk melanjutkan master di bidang bisnis management di sebuah Universitas di Inggris selama 2 tahun.

“Gomawo” tapi entah kenapa Junghyuk terlihat tidak bersemangat.

“Sudah kamu terima kan?” tanyaku. Dia memandangku dengan lesu “Hari Senin besok adalah hari terakhir untuk menjawabnya”.

“Lalu? Ini kan kesempatan bagus, di sana kamu disediakan dorm jadi tidak perlu memikirkan tempat tinggal” aku tidak tahu apa yang membuatnya ragu.

“Masalahnya aku tidak akan pulang selama 2 tahun” gumamnya lirih. Aku menatapnya dengan tidak percaya.

“Walaupun biaya kuliah dan tempat tinggal ditanggung, tapi kebutuhan sehari-hari dan buku tetap menjadi pengeluaranku. Belum lagi tiket pesawat yang pasti mahal, kamu tahu sendiri kan bagaimana tingginya kurs poundsterling. Aku harus pintar-pintar mengolah uang” katanya.

Aku menghela nafas, mengerti apa yang dia khawatirkan.

“Pergilah” suaraku terdengar seperti perintah.

“Mwo?” dia tidak mempercayai pendengarannya.

Aku memaksakan diri untuk tersenyum “Pergilah, aku yakin ilmumu dapat digunakan untuk membesarkan restaurant ini”.

“Lalu.. Bagaimana denganmu?” dia memajukan badannya, mendekatkan wajahnya padaku.

Well, sebagai orang yang sarkastik aku pasti bisa melakukannya.

“Aku? Hahaa.. Tidak usah memikirkanku. Kamu kira aku pernah memikirkanmu? Kita ini kan bukan siapa-siapa, makan malam ini bukan kencan jadi jangan salah paham. Lagipula aku sendiri juga akan sangat sibuk dalam 2 tahun ini agar bisa secepatnya lulus dan mencari pekerjaan. Aku akan fokus belajar. Silahkan.. Silahkan pergi saja ke Inggris. Aaaahhh  aku senang sekali memikirkan tidak akan ada yang menggangguku lagi setiap malam” kukatakan dengan nada sedingin mungkin lalu kujauhkan tubuhku agar dia tidak bisa membaca kebohongan di mataku.

Junghyuk tidak mengatakan apa-apa. Aku tidak bisa membaca ekspresi wajahnya, entah dia pintar mengontrol ekspresi wajahnya atau memang dia percaya dengan perkataanku.

“Hyung, noona, ini samgyetang buatan nyonya Mun. Ada yang kalian butuhkan lagi?” tanya Kwangmin.

Aku dan Junghyuk diam saja.

“Oke.. Aku akan meninggalkan kalian. Selamat makan” Kwangmin meninggalkan kami dengan canggung.

Kugigit bibirku dengan keras, berusaha  agar kebohonganku tidak terbongkar dengan sia-sia.

“Makanlah” suruhnya. Aku menurutinya.

Dia tidak makan, hanya memperhatikanku sambil melipat kedua tangannya di dada.

Pria di depanku menghembuskan nafas dengan frustasi “Bekerja di restaurant membuatku bertemu banyak orang, belajar membaca ekspresi mereka saat menikmati makanan kami. Kebanyakan dari mereka benar-benar puas dengan makanan kami, tapi sebagian kecil hanya berpura-pura menikmati makanan kami” dia kembali mendekatkan tubuhnya ke arahku.

Aku tidak bisa lagi membendung air mataku.

Junghyuk menghapus air mataku “Gwenchana.. Kalau kamu bilang jangan pergi, aku akan menolak beasiswa itu saat ini juga” ujarnya dengan lembut.

“Jangan pergi” rasanya hatiku ingin berteriak. Tapi aku bukan gadis kecil lagi, aku tidak boleh memikirkan diriku sendiri. Bahkan ketika orang yang saat ini berarti bagiku, orang yang selalu kutemui setiap hari selama berbulan-bulan akan pergi, aku harus merelakannya.

“Pergilah. Nan gwenchana.. Aku menangis karena bahagia. Sungguh.. Pergilah dan raih cita-citamu. Aku akan selalu mendukungmu” kataku dengan tulus.

Dia menghela nafas dengan berat “Aku akan menerimanya” akhirnya kata-kata itu keluar dari mulutnya.

Untuk kesekian kalinya kupaksakan diri untuk tersenyum “Jota.. Ayo makan lagi, kalau dingin tidak enak” ajakku.

Tiba-tiba dia memegang tanganku “Aku berjanji akan kembali padamu setelah 2 tahun. Kalau kamu sudah melupakanku, aku akan membuatmu ingat kembali padaku dan semua kenangan kita. Kalau kamu sudah memiliki kekasih, aku akan merebutmu. Dan kalau kamu menolakku, aku akan muncul di depanmu setiap hari sampai menerimaku lagi. Deal?”.

Aku tertawa “Hahahaa apa-apaan itu. Kamu terlalu berlebihan Mun Junghyuk-ssi. Aku yakin kamu akan menemukan gadis yang tepat di sana. Kalau itu terjadi, berbahagialah. Jangan pikirkan aku” ucapku yang sangat berbeda dengan kata hatiku. Berhubungan dengan pria ini membuatku pandai berdusta.

“Jinjja? Boleh?” dia menatapku dengan gembira karena kuberi ijin untuk menjalin hubungan dengan gadis lain.

Aku mengangguk dengan berat hati “Ne.. Silahkan.. Lagipula aku tidak akan menunggumu, kalau aku menemukan pria tampan dan baik hati yang mau denganku, tentu saja aku akan menerimanya” sahutku tanpa menatapnya.

Kini giliran dia yang tertawa “Hahahahaaa.. Wajah cemburumu itu lucu sekali, dan jangan harap kamu bisa memanas-manasiku ya. Terserah kamu akan menungguku atau tidak, mau pacaran dengan pria lain atau tidak. Yang jelas 2 tahun lagi aku akan tetap hadir di hadapanmu. Kamu tahu sendiri bagaimana pantang menyerahnya aku kan? Jadi tunggu aku” aku tahu Junghyuk mengatakan dengan sungguh-sungguh.

“Terserahlah” kataku lalu mendengus kesal tapi diam-diam merasa bahagia. Dia tertawa kemudian menyantap makanannya yang mulai dingin.

Selama perjalanan pulang aku memeluk pinggangnya dengan erat, berharap waktu akan berhenti berputar dan aku bisa tetap memeluknya seperti ini. Tapi aku tidak ingin menarik kata-kataku, aku ingin kami berdua menjadi orang yang sukses. Kudoakan dia dengan tulus.

“Mau masuk?” tawarku setelah kami sampai di depan apartmentku. Dia menggeleng “Sudah malam, ShinAe-ssi pasti sudah tidur” tolaknya.

“Mmmm oke…” aku tidak berani menatap matanya jadi kuperhatikan saja sepatuku yang mulai lusuh.

Tiba-tiba dia memegang pipiku dengan kedua tangannya dan menciumku. Aku melingkarkan tanganku ke lehernya berharap ini bukan ciuman pertama sekaligus terakhir kami.

“Gomawo” kata kami bersamaan setelah dia melepaskan bibirnya dari bibirku.

“Sampai bertemu 2 tahun lagi” pamitnya lalu meninggalkanku. Kutatap punggungnya yang semakin menjauh dengan nanar.

Aku menahan diri untuk mengejar dan memeluknya.

***

Setelah baca FF ini jangan lupa baca ‘Delivery Romance’

Enjoy ^^