Annyeong ! @gyumontic mau kasih sequel kisah cinta kyujin nih. Hahahhaa. Semoga suka. Jangan lupa komen ya..

Enjoy!

****

Cho Kyuhyun’s POV

Aku menatap kalender meja di hadapanku. Aku melihat banyak deret tanda silang yang aku bubuhkan di setiap tanggalnya. Tanpa bisa aku kontrol, bibirku melengkung membentuk sebuah senyuman. Sebuah senyum konyol, menurutku, karena aku tersenyum hanya karena melihat satu tanda hati di antara tanda silang. Tanda hati itu melingkari angka 23, mengingatkanku pada usia pernikahan kami yang telah menginjak usia 1 tahun.

“Happy anniversary,” ucapku pada foto pernikahanku dengannya yang aku pajang dengan kebanggaan tersendiri di atas meja kerjaku. Aku kembali tersenyum, sendiri.

Klek. Pintu ruang kerjaku terbuka. Tanpa perlu diberitahu, aku tahu siapa yang datang. Aku hanya mengijinkan satu orang yang bebas keluar masuk ruanganku tanpa perlu memberitahuku terlebih dahulu. “Ada yang bisa kubantu, Hyejin-ssi?” Tanyaku pada istriku. Ia berdiri kaku, jauh dari jangkauanku. Aneh rasanya memanggil istri sendiri masih dengan embel-embel ‘ssi’ di belakang namanya dan melihatnya selalu menjaga jarak denganku.

Ia menatapku dengan ragu. Dari matanya aku tahu Ia ingin mengatakan sesuatu namun ditahannya. “Kenapa? Katakan saja,” kataku berusaha hangat.

Ia masih menatapku dengan ragu tapi ia membuka mulutnya. “Aku mau pergi,” katanya kemudian diam beberapa detik. “Sebentar saja,” lanjutnya.

“Kau akan pulang kan?” Tanyaku.

Ia menganggukkan kepalanya. “Silahkan,” kataku.

“Kau tidak bertanya kemana aku akan pergi?” Tanyanya. Aku menggelengkan kepalaku sambil tersenyum. Istriku kemudian menghilang.

Aku tidak perlu tahu kemana dia pergi, dengan siapa atau apa yang akan dia lakukan. Aku tahu dia akan menemui pria yang ia cintai, meluapkan semua kerinduannya dan tertawa lepas hanya karena lelucon-lelucon antara mereka berdua. Bagiku, aku bisa melihatnya sebelum tidur sudah lebih dari cukup.

Aku menatap kembali foto pernikahan kami.  Ia menikah denganku namun hatinya tidak penah diberikannya untukku. Aku mencintainya dengan sepenuh hatiku meskipun aku akan selalu bertepuk sebelah tangan.

—–

Donghae’s POV

Aku duduk dengan gelisah menunggu kedatangannya. Aku bolak-balik melihat pintu masuk restoran yang tidak kunjung terbuka. “Apa yang harus aku lakukan?” Tanyaku pada diriku sendiri, kebingungan.

Aku menolehkan kepalaku untuk yang kesekian kalinya ke arah pintu masuk. Kali ini, sosok yang aku tunggu akhirnya datang juga. Ia segera berlari ke arahku dengan senyuman sumringahnya yang membuat detak jantungku semakin tidak beraturan.

“Oppa,” katanya kepadaku. Ia duduk di hadapanku dan mulai bercerita lepas, seperti apa yang selalu dia lakukan selama ini. Ia tertawa, aku pun tertawa. Ia tersenyum, aku pun tersenyum. Tidak terasa kami sudah hampir 3 jam bersama dan aku belum mengatakan maksudku mengajaknya ke tempat ini.

“Hyejin-ah,” panggilku.

Ia tersenyum kepadaku, manis. “Wae, Oppa?” Tanyanya.

Aku terdiam. Aku memperhatikan setiap inci wajahnya, yang cantik, yang tidak sanggup aku bayangkan akan menjadi apa setelah aku mengatakan tujuanku.

“Oppa, waeyo? Jangan hanya menatapku. Aku jadi malu,” katanya lalu tertawa. Aku tidak tahan untuk tidak meniru semua tindak tanduknya. Aku ikut tertawa walau hanya kecil.

Aku menarik nafas panjang. Aku juga menarik tangannya ke dalam genggamanku. “Ada yang harus aku beritahu padamu,” kataku berusaha sesantai mungkin walaupun dari suaraku aku merasakan ada getaran yang menunjukkan keteganganku.

“Ada apa?” Tanyanya.

Aku diam. Aku mengelus tangan mungilnya yang terbungkus tanganku. Lagi, aku menarik nafas panjang. “Aku harus pergi. Aku akan ke Amerika selama beberapa tahun,” jawabku pada akhirnya.

Wajah gadis ini seketika berubah pucat. Ia menatapku dengan tegang. Aku tahu ia cukup pintar untuk mencerna semua kata-kataku. Amerika itu cukup jauh dan itu membuat kami tidak bisa lagi bertemu. Aku pergi bukan hanya sekedar pergi. Aku akan meninggalkannya.

“Aku akan menunggu,” katanya sesuai dengan ciri khasnya yang keras kepala.

Aku mengelus lembut tangannya. Aku memutuskan pergi ke Amerika hanya dengan satu alasan. Aku harus mundur. Aku harus benar-benar pergi dari kehidupan Hyejin agar semuanya menjadi lebih mudah, meskipun aku mencintainya.

“Kita harus mengakhiri hubungan ini, Hyejin-ah,” kataku. Mata Hyejin membulat menatapku. Aku melanjutkan bicaraku, “Setahun sudah berlalu dan hubungan kita semakin rumit. Kau juga sudah menikah. Belajarlah untuk mencintai suamimu.”

“Aku mencintaimu. Hanya dirimu. Selamanya. Kau juga mencintaiku, Oppa. Aku tahu itu meskipun kau tidak pernah mengatakannya lagi,” kata Hyejin keras kepala. Aku hanya berusaha menenangkannya dengan belaian lembut di kepalanya.

“Kau tidak akan bahagia bersamaku, Hyejin-ah. Kau dan aku tidak pernah ditakdirkan bersama.”

“Jangan bicara omong kosong denganku!” Serunya. Aku melihat matanya mulai berkaca-kaca.

Aku terus berbicara. “Aku tahu Kyuhyun mencintaimu dan aku yakin kau akan bahagia bersamanya. Dia memiliki semua yang tidak aku miliki,” kataku.

“Kau punya semuanya, Lee Donghae-ssi. Kau lebih tampan darinya. Kau seribu kali lebih lembut. Kau yang terbaik, Oppa! Kau juga tidak kalah kaya darinya. Tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin hidup dengan orang yang aku cintai,” sahutnya.

Aku tersenyum getir. Aku memang memiliki semuanya yang juga Kyuhyun miliki tapi aku tidak memiliki satu hal yang dimiliki Kyuhyun. Meskipun aku punya 1 miliar won, aku tidak akan bisa membelinya. “Kau tidak salah. Aku punya semua itu tapi aku tidak punya restu dari orang tuamu. Kau tahu betapa menderitanya hidup tanpa diberkati orang tua sendiri? Kyuhyun memiliki hal itu, maka aku yakin dia bisa membahagiakanmu.”

Hyejin terdiam. Ia menatapku dengan nanar. Tanpa perlu bertanya, aku tahu apa yang sedang berkecamuk di dalam pikirannya. Ia tidak menginginkan aku meninggalkannya. Aku memeluknya dan seketika tangisannya pecah. Aku memeluknya lebih erat. “Uljimayo. Aku mohon,” ucapku karena setetes lagi air mata yang mengalir dari matanya, aku tidak bisa membendung air mata yang akan mengalir di wajahku.

“Maafkan aku. Sungguh, maafkan aku,” ucapku untuk terakhir kalinya sebelum aku benar-benar melepaskannya.

—-

Song Hyejin’s POV

Aku duduk di atas tempat tidurku. Aku menatap entah kemana dengan tatapan kosong. Aku masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan Donghae Oppa kepadaku. Ia meninggalkanku.

Aku duduk diam dan kemudian tiba-tiba menangis. Aku kembali merasakan kesesakan di dadaku yang membuatku untuk bernafas saja menjadi begitu sulit. “Oppa. Donghae Oppa. Wae?” gumamku pelan berulang kali. Pria yang aku cintai memutuskan untuk meninggalkanku. Ini jauh lebih buruk daripada dipaksa menikah dengan pria yang tidak kau cintai.

Aku menangis dan terus menangis. Aku sudah tidak tahu berapa kali air mata ini mengalir sejak terakhir kali aku melihat Donghae Oppa. “Aku mencintaimu, Oppa. Jangan tinggalkan aku,” gumamku di sela-sela tangisanku.

Aku terlalu larut dalam kesedihanku sampai aku tidak sadar ada seseorang yang masuk ke kamarku. Ia mengelus kepalaku dengan lembut. “Kau mau menyusulnya ke Amerika?” Tanyanya. Ia pasti telah mengetahui segalanya.

“Donghae Oppa memberitahukannya padamu?” Tanyaku.

Ia menatapku dengan sedih. Matanya menyiratkan penderitaan yang sangat dalam. “Ia memintaku untuk menjagamu dengan baik,” jawabnya sambil terus mengelus kepalaku.

Pikiranku terlalu rumit saat ini dan perasaanku terlalu sulit untuk diuraikan. Aku menatap Kyuhyun dengan tajam dan ingin meluapkan semua emosiku. “Kau senang kan akhirnya Donghae Oppa meninggalkanku?! Iya kan?!” Teriakku frustasi. Aku bahkan memukul lengannya dengan sekuat tenaga. “Kau jahat! Aku membencimu! Kalau aku tidak menikah denganmu, aku tidak akan seperti ini!”

Dia terdiam. Dia menatapku dengan sedih. Aku tidak berhenti meneriakinya atau memukulinya. “Kau jahat! Pergi sana!” Teriakku. Aku tidak bisa membendung lagi air mataku. Aku menjerit seperti orang gila.

Kyuhyun diam menatapku. Matanya merah. Dia merapikan helai-helai rambut yang jatuh di keningku. “Aku tidak pernah ingin melihatmu menderita. Sungguh. Kalau kau ingin kita bercerai lalu menyusulnya ke Amerika, aku akan mengabulkannya. Kalau itu membuatmu bahagia. Aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaanmu, Hyejin-ssi,” katanya.

Aku tergoda dengan tawarannya namun pikiranku terusik dengan hal-hal yang menyakitkanku. “Percuma. Donghae Oppa pergi karena ia memang ingin meninggalkanku. Kalaupun aku mengejarnya, ia tidak akan mau menemaniku,” kataku.

“Dia…tidak bisa bersamaku karena orang tuaku tidak menginginkannya. Donghae Oppa tidak bisa hidup denganku tanpa restu orang tua,” lanjutku pelan dan sedetik kemudian yang kurasakan hanyalah cairan asin yang mengalir dari mataku dan tanpa sengaja jatuh ke mulutku.

Kyuhyun memelukku, mengelus punggungku dan aku menjerit histeris di pelukannya, meluapkan semua sakit hatiku, kekesalanku dan frustasi yang selama ini berdiam di hatiku. Entah berapa liter air mata yang sudah kuhabiskan untuk membasahi baju Kyuhyun sepanjang malam. Namun yang aku rasakan sekarang, aku agak sedikit lebih tenang dan menerima kenyataan.

—-