Seri terakhir dari Lost. Aaaaakh, maafkan author kalau ternyata malah endingnya seperti ini. Selamat membaca dan jangan lupa komen😀

Aku memandangnya berhati-hati melangkah menuju altar. Dia tersenyum padaku, tapi aku tau dari matanya dia cemas. Aku tau itu, sama seperti pertama kali aku melihatnya berlari menuju ruang UGD, aku keluar dan bertanya siapa keluarga dari pasien yang baru saja aku tangani karena kecelakaan mobil.

Wajahnya terlihat pucat, matanya sembab dan terpancar kecemasan sangat jelas. Dia dengan bergetar mengatakan jika dia kekasih pasienku, Kim Woobin.

Aku menengok ke pria yang berdiri di sampingku. Dia menatap calon istriku dengan lekat. Dia, pria yang menjadi pasienku, yang tak ingat sama sekali masa lalunya, bahkan seorang gadis yang begitu mencintai dirinya.

Aku ingat bagaimana aku membiusnya saat pertama kali dia bangun dari koma. Aku memutuskan itu karena dia bertindak diluar batas. Dia mencabut infusnya, berteriak, memaki, dan memukul gadis itu. Aku hanya bisa menatap simpati kepada gadis bernama Choi Jihyo itu.

“Hai,” Gadis itu berbisik kepadaku. Aku tersadar dari lamunanku, menyodorkan lenganku untuk dia gandeng.

“Kau tampan,” Dia berbisik. Aku tersenyum. “Dan kau cantik.”

“Aku memang selalu cantik,” dia menjulurkan lidahnya. Aku kini tak bisa menahan tawa.

“Jihyonnie, kita harus serius,” aku mencubit lengannya. Dia menyenderkan kepalanya ke bahuku.

Aku ingat pertama kali dia menyenderkan kepalanya ke bahuku. Waktu itu sudah waktunya aku melakukan cek rutin ke kamar Woobin. Namun langkahku terhenti di depan pintu kamar pasienku itu saat aku mendengar suara gadis yang diam-diam aku cintai selama hampir separuh hidupku, Jin Ah.

“Aku mencintai Woobin oppa!” suara itu menghentikan niatku untuk membuka pintu kamar Woobin. Tubuhku menegang. Mana mungkin aku salah mendengar suara yang sudah hampir 20 tahun yang setiap hari selalu terngiang di benakku.

“Woobin oppa juga mencintaiku kan? Iya kan?”

Aku tak bisa mendengar suara balasan apapun, tiba-tiba saja kepalaku sakit, seperti dihujam pukulan bertubi-tubi. Di saat pandanganku kabur, aku hanya bisa melihat sosoknya, yang keluar dari kamar Woobin, menahan air matanya agar tidak jatuh. Ditengah semua kesadaranku yang hampir hilang, aku menahannya, menariknya ke dalam pelukanku. Dia menangis di pelukanku, aku bisa merasakannya. Dan kesadaranku kembali.

“Lee Sungmin, apakah kau bersedia untuk menerima Choi Jihyo menjadi istrimu dalam suka maupun duka?”
Aku menatap calon pengantin perempuan di hadapanku. Dia tersenyum, menunggu jawabanku, walaupun aku juga tau, dia tidak akan menginginkan jawabanku.

“Oppa, kau kenal dengan Jihyo-ssi kan?” JinAh bertanya dengan serius. Aku berusaha menghiraukannya, aku tetap memeriksa perkembangan kesehatannya, menjalankan tugasku sebagai dokter.

“Ya! Oppa! Jawab aku! Kau kenal tidak?” JinAh menjambak rambutku, aku mengaduh. Ini tingkah kekanakannya kaalau dia sudah habis kesabarannya.

“Iya, aku kenal. Lalu kenapa?” aku masih tak bisa menatap mata JinAh sejak kejadian itu, saat JinAh menyatakan cinta ke Woobin dan ternyata Woobin, menurut pengakuan JinAh, juga mencintainya.

“Kalian sepertinya pasangan cocok. Kenapa Minnie oppa tidak pacaran saja sih dengan Jihyo-ssi? Kau sudah terlalu lama sendiri, oppa! Bahkan aku tidak ingat juga kau pernah memiliki kekasih. Apa harus aku yang menjodohkan kalian berdua? Pasti sangat menyenangkan nanti jika aku dan Woobin lalu kau dan Jihyo-ssi berkencan bersama-sama, yeaaay!”

“Aku bersedia,” jawabku. Aku bersedia menjadi suami, sahabat, pelindung, apapun itu untuk gadis cantik di depanku ini. Aku bahkan rela mengorbankan nyawaku hanya untuk dia. Dia yang bahkan baru aku sadari begitu berharganya baru-baru ini, di saat aku terpuruk.

Aku tak bisa bangun dari tempat tidurku, sudah dua hari aku terkapar, tubuhku tak bisa digerakkan, bahkan aku tak bisa mengangkat ratusan deringan telepon di handphoneku sejak aku meninggalkan rumah sakit. Samar-samar aku melihat dirinya datang menghampiriku, tangannya yang hangat memegang wajahku. Mengapa aku baru menyadari jika dia memang terlalu berharga untuk dilepaskan.

“Kau kenapa oppa? Aku harus segera membawamu ke rumah sakit? Kau bisa berjalan? Oh Tuhan, kau terlihat buruk sekali. Kumohon, tetaplah sadar. Sungmin oppa! Jangan pejamkan matamu. Kumohon.”

Aku sadar, aku baru saja melihat wajah yang sama saat aku keluar dari ruang operasi menangani pasien baru yang mengalami kecelakaan mobil. Aku melihat wajah tunangan dari pasienku yang begitu cemas dan terus berharap tak hal yang buruk yang menimpa tunangannya. Dan sekali lagi, aku melihatnya saat itu.

“Apakah kau mau menikah denganku?” tanyaku saat dia memasuki ruangan praktekku. Wajahnya menegang, kaget, bingung, semuanya jadi satu. Tentu ini pertanyaan bodoh, di saat kami berdua hanya sepakat untuk berpacaran hanya untuk membuat JinAh dan Woobin tidak merasa kasihan dengan kami berdua.

“Ada apa? Kau sudah merasa lebih baik?” tanyanya lembut, dia berusaha meraih tanganku. Aku melepaskan map yang sejak tadi aku genggam erat dan meraih tangannya.

“Kumohon,” baru kali ini aku memohon kepada seorang perempuan, bahkan aku tidak memohon seperti ini ke JinAh.

“Kumohon hyung, tolong batalkan pernikahan ini,” aku melihat Woobin berdiri di ujung ruangan, matanya memerah. Aku membenarkan dasi kupu-kupuku. 10 menit lagi aku harus berjalan di altar pernikahan, aku tak bisa mendengar ucapan seperti ini.

“Woobin, aku tau aku terlalu cepat melamar Jihyo. Aku juga tau jika kau tidak mau kehilangan sahabatmu-”

“Dia tunanganku. Aku sudah ingat semuanya,” suara Woobin meninggi. Aku tau ia sedang mengontrol amarahnya. Begitu pula denganku yang seperti baru saja tersambar petir.

“Hyung, kumohon. Aku mencintainya,” Woobin mengepalkan tangannya, air matanya jatuh.

“Lalu kau mau memutuskan JinAh begitu saja?” Aku marah. Aku marah jika Woobin menyia-nyiakan JinAh, teman masa kecilku yang sudah aku relakan untuk bersamanya.

“Aku bersalah, hyung. Aku akan menjelaskan kepada JinAh semuanya. Aku akan terima semua konsekuensinya. Namun kumohon hyung, batalkan pernikahan ini. Aku tidak bisa hidup tanpa Jihyo.”

“Dan kau meninggalkannya,” akhirnya suaraku kembali setelah tiba-tiba tenggorokanku perih. “Aku akan tetap menikahinya. Karena kau sudah membuangnya,” aku keluar dari ruang gantiku, meninggalkan Woobin. Aku tau aku egois, namun apa salahnya untuk kali ini saja tidak mengalah kepada seseorang yang sudah aku tolong jiwanya, seseorang yang sudah kuanggap seperti adikku sendiri, seseorang yang telah merebut JinAh dari hidupku, seseorang yang telah memenjarakan cinta Jihyo hanya untuknya.

Aku menghentikan langkahku, “Bersiaplah, sebentar lagi kau harus menjadi man of honor. Dan aku tidak mau kau menghancurkan hari pernikahanku.” Dan tentunya sisa hidupku yang tak lama lagi ini.

“Choi Jihyo, apakah kau bersedia untuk menerima Lee Sungmin menjadi suamimu dalam suka maupun duka?”

Dia melirik ke arah belakangku, matanya mulai memerah. Jihyo menarik napas dalam-dalam. Entah mengapa rasanya menunggu jawaban Aku bersedia dari bibir merahnya terasa seperti jutaaan tahun lamanya. Ini sama seperti saat aku membuka map dokumen hasil pemeriksaanku. Aku melihat huruf-huruf yang terangkai menjadi kalimat dan tertulis kanker otak.

“Aku bersedia.”