Ini apa yah namanya, one shot lepas tapi masih juga berhubungan sama seri Lost *apa deh author* yah, semacam epilog deh ya, hehehe. Silahkan dibaca dan dicomment.

“Minnie oppa, eskrimku habis,” JinAh memandang penuh harap ke eskrim yang Minnie oppanya pegang. Minnie tersenyum dan memberikan eskrimnya ke anak perempuan yang duduk di sebelahnya.

“Yeeeey, Minnie oppa memang paling baik,” JinAh memeluk Minnie dengan cepat sebelum merebut eskrim dari genggaman Minnie.

“JinAh, sudah berapa kali eomma katakan kau tidak boleh makan es krim terlalu banyak?”suara eomma memenuhi seluruh sudut kabin mobil, JinAh memanyunkan bibirnya.

“Eomma, kan Minnie oppa yang kasih!” jawab JinAh cepat sebelum menjilat eskrim strawberrynya.

“Sudahlah, lagipula kan ini sekali-kali, iya kan princess?” appa melihat JinAh dari kaca spion tengah.

“Appa ini, selalu saja membela JinAh. Kau terlalu memanjakannya!” eomma memelototi appa.

“Anak-anak, siapa yang mau bertemu samchun?” appa bertanya kepada anak-anaknya, membiarkan eomma hampir mati kesal.

“Aku! Aku!” seru Minnie dan JinAh bersamaan.

“Apa yang akan kalian ucapkan ke samchun nanti?” tanya appa.

“Samchun, aku rindu samchun! Aku ingin bertemu samchun!” cerocos JinAh. “Aku juga akan cerita ke samchun kalau pr matematikaku susah sekali dan Minnie oppa membantuku mengerjakannya. Eh, aku menang juara pertama menari di sekolahku juga perlu diceritakan ke samchun tidak, appa?”

Appa mengangguk. “Minnie?”

“Aku akan bilang kalau JinAh cerewet sekali,” ujar Minnie kalem.

“Huh, Minnie oppa tidak seru! Ah, kita sudah sampai!” seru JinAh saat appanya memarkirkan mobilnya. Ia langsung membuka pintu dan berlari menemui samchunnya.

“Samchun, annyeonghaseyo,” JinAh membungkuk ke makam yang berada di depannya. “Saengil chukkae!”

“Annyeonghaseyo, samchun,” Minnie meletakkan sebuket bunga mawar putih ke makam samchunnya. “Samchun, JinAh cerewet sekali,” bisik Minnie namun tetap bisa didengar oleh dongsaengnya.

“Bohong! Minnie oppa tukang ngadu! Weeeek!’ JinAh menjulurkan lidahnya mengejek Minnie oppanya, namun langsung ditegur oleh eommanya.

“Kalian berdua ini! Sudah mengirim doa untuk samchun?” teriak eomma. Minnie dan JinAh terdiam dan langsung menunduk.

“Si kembar masih saja suka bertengkar?” suara wanita mendekati keluarga itu. Terlihat seorang wanita seumuran dengan eomma mendorong stroller bayi menuju ke makam samchun.

“Imo!” seru JinAh berlari mendekati wanita tersebut. “Aaaaaakkkh, annyeong Donghan!” JinAh mencubit pipi bayi laki-laki yang tertidur di dalam stroller bayi tersebut. “Imo, Eunhyun dimana?”

“Eunhyun tidur di mobil sayang, bersama samchun. Omo! Uri Minnie sudah menjadi namja tampan. Haduh, berapa sekarang umurmu?,” imo-nya mengacak-acak rambut Minnie.

Minnie tersenyum sambil membungkukkan badannya memberi salam. “Tanggal 1 bulan depan 9 tahun, imo.”

Imo meninggalkan si kembar, memeluk eomma dan appa mereka berdua. Ketiga orang dewasa tersebut terdiam sesaat memandangi kuburan samchun.

“Ada yang mau pergi ke restoran Jepang?” tanya imo memecah kesunyian di pemakaman tersebut.

“Aku! Aku mau sushi, ramen, sashimi, semuanya, imo. Boleh kan?” seru JinAh.

“Boleh sayang, asal bantu imo mendorong stroller Donghan, ya?” imo dan JinAh berjalan menjauh dari makam samchunnya, diikuti oleh appa.

“Minnie, ayo kita pulang. Kau tidak lapar, nak?” ajak eomma.

“Eomma, apa saat aku dewasa nanti aku bisa menjadi dokter seperti Sungmin samchun?” tanya Minnie tiba-tiba.

Eomma terdiam sesaat, lalu tersenyum. “Tentu sayang, jika kau belajar dengan giat kau pasti bisa menjadi dokter seperti Sungmin samchun.” Eomma melangkahkan kakinya dari makam samchun. Minnie tetap berdiri tegak di depan makam samchunnya.

“Kim Sungmin, ayo masuk ke mobil!” teriak appa dari kejauhan. Minnie mengangguk.

“Sungmin samchun, saengil chukkae. Suatu saat nanti aku akan menjadi dokter dan menyembuhkan penyakitmu,” Minnie berlari menuju mobil keluarganya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

“Kukira kau akan datang lebih dulu, JinAh,” seru Woobin memeluk wanita di depannya.

“Ya, oppa! Kau tidak lihat apa Eunhyun dan Donghan masih kecil? Aku harus mempersiapkan keperluan mereka berdua. Mana Kyujong oppa mau membantuku mengurus seperti ini?” teriak JinAh sambil menginjak kaki Woobin.

“Menurutmu oppa mu ini mau membantuku memasukkan semua keperluan Sungmin dan JinAh ke dalam tas?” keluh Jihyo yang langsung disambut dengan pelukan dari JinAh.

“Memang dimana-mana lelaki sama saja, week!” seru JinAh yang langsung dihadiahi jitakan oleh Woobin.

Jihyo tertawa geli, namun tawanya berubah menjadi senyuman saat melihat makam di hadapannya. “Maafkan aku setahun ini tidak mengunjungi. Minnie dan JinAh semakin besar. Minnie semakin mirip denganmu.”

“Dan JinAh semakin mirip dengan Jihyo, mmh, Woobin oppa, mmmh lebih mirip denganku sih. Haduh anak itu sepertinya gabungan kami bertiga, Sungmin oppa,” timpal JinAh. “Aku merindukanmu, Sungmin oppa.”

Woobin terdiam,  dia menggenggam tangan Jihyo. “Aku selalu akan menjaga mereka semua, hyung.”