By @gurlindah93

 

Hari ini seperti biasa pria itu berdiri di depan tempatku bekerja. Dengan senyum manisnya dia menyapa semua yang dia kenal.

Kulihat dia memakai kemeja berwarna merah maroon dengan celana kain, berdasarkan penampilannya dia datang kemari dari kantor dan akan kembali ke kantor.

Entahlah aku suka sekali menebak hal-hal tentangnya sejak pertama kali bertemu dengannya.

Biasanya aku akan keluar agar bisa melihatnya dari dekat, juga agar dia menyapaku. Tapi sekarang aku memilih berada di dalam. Memang aku tidak bisa melihatnya dari dekat, melihat wajah tampannya, senyum manisnya, matanya yang bersahabat, dan bulu matanya yang lentik. Hanya saja bila berada di dalam aku bisa memperhatikannya lebih lama tanpa khawatir ada yang menyadari bahwa aku sedang memperhatikannya, pria yang seharusnya tidak kukagumi. Tidak kucintai.

Malam ini seperti malam-malam sebelumnya aku akan membayangkan pria itu, membayangkan bagaimana bila aku bertemu dengannya beberapa tahun lebih awal. Bisakah aku memilikinya?

Kata orang cintaku adalah cinta terlarang, cinta yang tidak seharusnya kurasakan. Aku sendiri membenci perasaanku, tapi semakin aku mencoba melupakannya semakin aku mencintainya. Jadi kubiarkan saja perasaan ini tinggal di hatiku, kalau Tuhan menghendaki aku pasti akan melupakannya.

***

Hari ini aku keluar, berharap bisa bertemu dengannya setelah kemarin aku bersembunyi. Sayangnya dia tidak datang.

Memang tidak setiap hari dia datang ke tempatku bekerja, sepertinya dia memiliki jadwal kapan akan datang kapan tidak.

Aku kecewa tidak bisa melihatnya, perasaan yang sama setiap kali dia tidak datang.

Malamnya aku bermimpi tentangnya. Aku bermimpi kami bertemu beberapa tahun lebih awal seperti yang selalu kubayangkan. Tapi seperti yang terjadi pada kehidupan nyata, dia menolakku. Mungkin ini adalah pertanda bahwa dia memang bukan untukku. Aku bukanlah tulang rusuknya, aku tidak pernah diciptakan untuknya.

Jam 3 pagi aku terbangun gara-gara mimpi itu kemudian menangis tersedu-sedu sampai pagi hari.

***

Hari ini aku tidak ingin menemuinya, bukan karena mimpiku semalam tapi karena mataku bengkak. Aku hanya tidak ingin dia melihatku dalam keadaan seperti ini, dalam keadaan tidak cantik. Hahaha bodohnya aku.

Kulihat dia memakai kemeja berwarna kuning dengan jas dan celana kain. Kutebak dia baru selesai meeting karena sangat jarang dia memakai jas bila kemari.

Kali ini dia hanya sebentar dan langsung pergi, walau hanya sebentar tapi sudah cukup bagiku. Sudah cukup untuk melupakan mimpiku semalam.

***

Hari ini dia tidak datang padahal aku sudah siap bertemu dengannya.

Untuk mengobati rasa rinduku aku melihat-lihat foto pria itu yang kuambil diam-diam melalui smartphoneku. Ada 1 foto yang menjadi favoritku, saat dia seolah-olah menatap lensa kamera smartphoneku padahal aku tahu dia tidak mungkin sadar bahwa aku memotretnya.

***

Hari ini dia juga tidak datang, jadi kutebak dia sedang ada tugas di luar kota. Tebakan yang kubuat untuk menyenangkan hatiku.

Karena hari ini hari Jumat aku bisa pulang lebih cepat. Aku ingin cepat-cepat sampai rumah untuk bermain dengan kucing peliharaanku.

Sampai di rumah aku menemukan kucingku sudah tergeletak tidak berdaya, dengan panik aku memanggil eommaku. Kata eomma Kitty sudah mati karena usianya yang tua. Aku merasa sedih sekali karena hanya Kitty yang tahu perasaanku pada pria itu, aku menceritakan segala hal tentang pria itu pada Kitty karena aku yakin dia tidak akan menceritakannya kepada siapapun.

Semalaman aku menangis meratapi kepergian sahabat terbaikku. Kuharap dalam keadaan terpuruk seperti ini pria itu ada di sampingku, memeluk dan menenangkanku. Berkata bahwa dia akan selalu ada untukku.

***

Hari ini aku berdandan cantik sekali, kupakai dress favoritku, kupakai lipstick dengan warna yang agak menyala. Aku berharap pria itu menyadari penampilanku ini.

Firasatku mengatakan pria itu akan datang. Aku yakin pria itu akan datang.

Benar saja, kulihat mobil yang sangat kukenal.

“Dongguk kajja” kataku.

Kugandeng seorang anak laki-laki menuju pria itu.

Aku tersenyum lebar melihatnya, dia membalas senyumku. Rasanya aku ingin waktu berhenti berputar agar aku bisa menikmati senyum pria itu lebih lama.

“Appa………”

Pria itu menggendong anak laki-laki replika dirinya.

“Dongguk annyeong” sapa pria itu.

“Appa kapan pulang dari Jeju? Bawa oleh-oleh untukku?” tanya Dongguk dengan manja.

Pria itu tertawa “Ada dong… Appa bawa oleh-oleh, itu ada di mobil”.

“Jinjjayo?” Dongguk seakan tidak percaya.

“Ne…. Lihat saja nanti. Annyeonghaseyo Marie-ssi, sudah lama tidak bertemu. Wah semakin hari Marie-ssi semakin cantik ternyata” puji pria itu padaku. Berhasil, dia menyadarinya.

Pujiannya membuat seluruh sendiku menegang, jantungku berdebar, lututku gemetar.

Lalu seorang wanita yang sangat anggun keluar dari mobil. Ternyata mereka datang bersama-sama, hal yang jarang terjadi.

“Eomma, apa benar appa bawa oleh-oleh untukku?” tanya Dongguk pada wanita yang dia panggil eomma.

Wanita itu mengangguk lalu menggendong Dongguk “Annyeonghaseyo Marie-ssi.. Mau kencan ya? Cantik sekali” ujarnya yang aku tahu dikatakan dengan tulus.

Pria itu menyahut “Aku juga mengatakannya, dia nampak cantik”.

Aku sangat senang dia berkata seperti itu lagi dan berharap dia akan terus-terusan mengatakannya.

“Gamsahamnida” balasku sambil tersenyum.

Dia merangkul wanita anggun itu “Oke, kami harus segera pulang karena aku harus kembali ke kantor. Annyeonghaseyo Marie-ssi, selamat berkencan” katanya.

“Annyeonghaseyo miss Marie, guru kesayangan Dongguk. See you tomorrow” Dongguk melambaikan tangan. Lalu mereka bertiga masuk ke dalam mobil.

Kuharap akulah yang berada di posisi wanita itu, bukan Kang Hamun. Akulah yang menggendong Dongguk, akulah yang dirangkul pria itu, akulah yang pulang bersama mereka.

Setiap saat aku berdoa akulah yang menikah dengan pria itu dan menemaninya seumur hidup.

Lee Donghae.

***

FF ini dibuat setelah nonton MV This Is Love, efek terkesima dengan abang Donghae tampan yang menawan hati hahahahaa.. Intinya sih pesona Lee Donghae ga bisa ditolak wkwkwk

Enjoy ^^