By @gurlindah93

 

Sepertinya baru 5 menit aku memejamkan mata tapi suara itu sudah terdengar kembali.

“Oppa… Oppa… Ireona…” dengan mata terpejam aku menggoyang-goyangkan tubuh suamiku, berharap dia bangun dan mendengar suara itu juga.

“Wae? Ayo kembali tidur.. Aku lelah” jawab Eric lalu memelukku, menyuruhku tidur.

“Oppaaaa…. Ayo bangun, sekarang kamu yang harus mengurusnya” pintaku sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya lagi.

Suamiku tidak bergeming.

“Mung Junghyuk!!! Ireona!!!” teriakku di telinganya.

Berhasil.

“Yaaaaaa kamu mau suamimu yang tampan ini tuli??” katanya menahan diri agar suaranya yang keluar tidak terlalu keras.

Dengan mata setengah terpejam aku tersenyum tipis “Giliranmu” lalu kembali tidur.

“Aiiiisssshhhh wanita ini, kalau saja bukan istriku sudah kulakban mulutnya” omelnya kemudian menciumku sebelum turun dari tempat tidur dan melaksanakan tugasnya.

***

1 tahun yang lalu.

“Yaaaaaa Oppaaaaaaaaaa!!!! Ireona!!!!!!!!!!! Sekarang sudah jam 11 siang. Mau tidur sampai kapan????” teriakku pada pria yang sudah menjadi suamiku selama 2 bulan ini. 2 bulan yang melelahkan.

“Ne… Ne… Tapi aku baru tidur jam 5 pagi. Ayo tidur lagi my love, ini hari Minggu” Eric menarik tanganku sampai aku berbaring di sampingnya lalu mendekapku.

“Shireo!!! Oppa sih terlalu lama bermain game. Myungjin ahjumma sedang memasak makan siang untuk kita. Ireonaaaa” rajukku.

“Kenapa bukan kamu yang masak sih?” tanya Eric sambil menciumi mata dan hidungku, kebiasaannya sejak kami menikah. Kebiasaan aneh menurutku.

“Oppa mau aku menyalakan alarm kebakaran lagi seperti waktu itu?” pikiranku melayang ke kejadian saat kami baru menikah.

Aku yang tidak bisa memasak mencoba untuk memasak kimchi jigae, berpedoman pada resep yang kudapat dari mertuaku dengan percaya diri aku mulai memasak. Beberapa langkah awal berhasil kulewati sampai saat sedang mengiris-iris bawang, aku lupa mengecilkan kompor sehingga airnya habis dan akhirnya asap muncul dengan tebal. Akhirnya kami meminta maaf setelah menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada pegawai gedung apartment yang datang karena alarm kebakaran berbunyi dari apartment kami.

“Hahahahahahaa” Eric tertawa mengingat kejadian itu.

Kupelototi dia sambil cemberut.

“Arra arra.. Ayo, aku rindu Myungjin ahjumma” ucap Eric lalu menciumku dan beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

Di meja makan sudah ada beberapa makanan favorit suamiku yang resepnya didapat Myungjin ahjumma dari mertuaku. Entah karena resepnya atau karena Myungjin ahjumma memang jago masak, masakannya selalu enak. Aku sungguh beruntung memiliki asisten rumah tangga seperti Myungjin ahjumma.

Biasanya aku akan makan dengan lahap semua masakan Myungjin ahjumma sampai tak bersisa, tapi entah kenapa kali ini aku tidak berselera. Mencium baunya saja sudah membuatku pusing.

“MinAh wae geurae? Mukamu pucat sekali” tanya Eric dengan cemas lalu memeriksa keningku. “Omo, kamu berkeringat dingin. Gwencahana? Apa kamu sakit?” aku tidak tahu harus menjawab apa karena aku memang tidak merasa sakit, hanya merasa sedikit lemas.

Aku menggeleng “Gwenchana oppa, aku hanya sedikit lemas. Ahjumma, mianhae sepertinya aku tidak bisa makan. Jeongmal mianhae” ucapku hampir tidak terdengar.

“Gwenchana nyonya muda. Apa mau saya buatkan susu cokelat?” membayangkan bau susu cokelat membuatku sedikit gembira. Aku mengangguk.

Setelah susu cokelat kesukaanku diletakkan di depanku langsung saja kuminum sampai habis tak bersisa. “Gomawo ahjumma” kataku. Myungjin ahjumma mengangguk sambil tersenyum tipis penuh arti.

“Wae?” tanyaku. “Aniyo, hanya bersyukur nyonya muda masih mau minum susu saat tidak ada makanan yang masuk. Lebih baik nyonya muda beristirahat di kamar, nanti saya buatkan beberapa gelas susu cokelat lalu saya masukkan ke kulkas. Kalau merasa lapar, minum itu saja” ide untuk beristirahat di kamar sangat menggoda untuk dilakukan.

“Gomawo ahjumma. Oppa, aku ke kamar ya.. Gwenchana? Aku tidak tahu kenapa tapi aku benar-benar tidak bertenaga hari ini. I’m sorry oppa…” aku menyesal tidak bisa menemani suamiku makan di hari liburnya seperti yang selalu kulakukan.

Suamiku mengelus tanganku lalu tersenyum penuh pengertian “Gwenchana istriku… Tidurlah, setelah makan aku akan menyusulmu ke kamar” ujarnya. Aku mencium kening suamiku lalu pergi ke kamar.

Di dalam kamar aku tidak bisa tidur, hanya berbaring dan membolak-balik badan. Kunyalakan TV tapi tidak ada acara yang menarik jadi kumatikan lagi. Akhirnya kunyalakan saja CD, kupilih CD dari DJ favoritku dengan harapan dapat memompa semangatku.

Eric masuk ke kamar dengan wajah heran “My love, kenapa kamu setel CD seperti ini? Dengan suara keras pula” dia mengecilkan volumenya. Aku hanya menyengir “Aku berharap lagu-lagunya bisa memompa semangatku jadi tidak lemas lagi. Aku merasa bersalah tidak bisa menemani oppa di hari liburmu, aku harap bisa segera pulih tapi keadaanku sepertinya tidak berubah” kataku dengan kecewa.

Suamiku berbaring di sampingku lalu mendekapku, dia mencium mata dan hidungku “Gwenchana MinAh, yang penting kamu merasa lebih sehat dan segar. Aku yang akan menemanimu di tempat tidur” ujarnya sambil membelai punggunggku. Sentuhannya membuatku nyaman sekali, hampir saja aku tertidur kalau tidak mendengar ketukan pintu.

Tok tok.

“Tuan muda, ada tamu” teriak Myungjin ahjumma dari luar kamar.

“Ne… Aku menemuinya dulu ya Min….” dia beranjak dari tempat tidur dan meninggalkanku sendiri.

Aku ingin sekali melihat siapa tamunya, tapi tubuhku seakan mengikatku agar tetap berada di tempat tidur.

Eric masuk bersama wanita yang tidak asing bagiku “Haerim eonni” aku terkejut melihatnya.

“MinAh… Wae geurae?” dia memeriksa keningku.

Aku menatap Eric dengan sebal “Yaaaaa oppa menghubungi Haerim eonni ya? Aku kan tidak apa-apa oppa… Tidak sakit.. Aku juga dokter jadi tahu keadaan tubuhku”.

“Kamu tadi terlihat pucat sekali MinAh… Aku khawatir” Eric menatapku dengan cemas.

“Sudah, bertengkarnya nanti dilanjutkan lagi. Sekarang aku akan memeriksamu” Haerim mengambil stetoskopnya lalu mulai memeriksa jantungku, kemudian mengecek denyut nadiku.

“Kamu merasa mual?” tanyanya. Aku mengangguk. “Lesu, tidak bersemangat, sulit makan?” Haerim mengajukan beberapa pertanyaan sekaligus. Aku mengiyakan semua pertanyaannya.

Haerim tersenyum simpul lalu memeriksa perutku padahal aku tidak merasa ada yang salah dengan perutku.

Tiba-tiba Haerim mengeluarkan tabung khusus urine “Ini” dia menyerahkan padaku. “Mwo? Untuk apa?” aku terkejut dengan permintaannya.

“Sudah lakukan saja” katanya setengah memaksa. Dengan malas aku ke kamar mandi.

“Ini” kuserahkan tabung berisi urineku pada Haerim. Kulirik Eric, dia menatapku dengan penuh tanda tanya. Aku hanya mengangkat bahu sama-sama tidak mengerti juga.

Karena masih merasa lemas, aku kembali berbaring di tempat tidur tidak terlalu memperhatikan Haerim yang sedang sibuk sendiri.

“Sudah berapa lama kamu terlambat?” tanyanya tiba-tiba. Kutatap Haerim dengan bingung “Terlambat apa?”.

Haerim menghela nafas dengan frustasi “Haid” ucapnya.

Aku berusaha mengingat-ingat “Mmmmmmm berapa ya? 3 atau 4 minggu. Ohya ya, lama sekali ya terlambatnya.. Pantas pembalutku masih banyak. Mungkin dalam beberapa hari aku akan dapat” jawabku dengan santai. Jadwal haidku memang tidak pernah teratur jadi ketika terlambat aku tidak terlalu memikirkannya.

“Babo” komentar Haerim kesal. “Mwo???” aku tidak percaya dengan pendengaranku. Senior yang paling kukagumi mengatakan aku bodoh?????

Haerim menyerahkan 2 stick sepanjang 15 cm padaku. Di salah satu stick ada tanda ‘+’ dan stick lainnya bertanda ‘=’.

“Ige mwoya?” tanyaku tidak mengerti. Haerim menatapku dengan sebal dan frustasi “Itu hasil urinemu. Masih tidak mengerti juga?”. Aku menggeleng.

Eric merebut stick-stick dari tanganku lalu raut wajahnya terlihat gembira. “Marie!!!” teriaknya lalu memelukku. Suamiku ini memanggilku dengan Marie hanya jika dia sedang kesal padaku, sama seperti aku memanggilnya Junghyuk jika sedang kesal padanya.

“Wae oppa?? Wae??” jika dia memang sedang kesal padaku kenapa dia memelukku ya?

“Marie Park you are so dumb!!! Don’t you know what are these?” Eric mengatakannya dengan hampir berteriak dan membuatku ketakutan. Mataku berkaca-kaca hampir menangis karena teriakannya, aku merasa dimarahi oleh suamiku padahal kondisi badanku sedang tidak fit. Entah kenapa akhir-akhir ini perasaanku sensitif sekali.

“Yaaaaaa why are you crying?? You’re pregnant!!!” kata Eric dengan lebih tenang, aku tidak percaya dengan pendengaranku. Aku? Hamil? Kutatap Haerim, dia balik menatapku dengan tersenyum dan mengangguk “Chukkae” bisiknya.

Seolah baru sadar apa yang terjadi padaku aku ikut tersenyum kemudian berteriak “Jeongmal???? Aaaaaaaaccccckkkk!!!” kupeluk suamiku dengan perasaan berbunga-bunga. Aku tidak menyangka akan mendapat anugerah secepat ini. Terima kasih Tuhan.

Setelah memeluk suamiku aku memeluk Haerim eonni “Gomawo” bisikku.

“Aku tidak menyangka kalian dianugerahi anak secepat ini. Aku saja harus menunggu 2 tahun. Hebat sekali kamu hahaa” komentar Haerim sambil melirik Eric.

Eric senyum-senyum nakal “My love… Ternyata aku hebat” dia menunjukkan ekspresi sombongnya.

“Yaaaaaa” aku malu, jadi kupukul perutnya. Kami bertiga tertawa bahagia mengetahui berita tidak terduga ini.

“Haerim-aaahhh apa kehamilan bisa menurunkan IQ? Kenapa dokter seperti MinAh tidak menyadari kalau sedang hamil ya?” tanya Eric tiba-tiba yang otomatis merusak suasana hatiku. Kupelototi dia.

“Dia hanya tidak menyangka, lagipula kalian tidak ada rencana untuk punya anak secepat ini kan?” jawab Haerim.

“Iya sih. Aku memang benar-benar hebat” katanya memuji diri sendiri dengan narsis, kupukul lagi perutnya “Aaaawww.. Sakit” rajuknya.

“Besok jangan lupa periksa ke dokter Hwangjae ya…” sahut Haerim. Dokter Hwangjae adalah dokter obgyn (kandungan) dari rumah sakit kami yang sudah diakui secara internasional. Aku mengangguk.

Setelah Haerim pulang aku langsung mengirimkan pesan ke sahabat-sahabatku melalui group.

‘Ladies….. I have a good news’ ketikku.

‘Apa?’ balas Jung HyunAh.

‘Apa eonni?????’ balas Kang Hamun.

‘Arra….’ balas Song Hyejin.

Aku heran dengan balasan Hyejin.

‘Apa yang kamu tahu Hyejin-aahh?’ balasku.

‘Kamu hamil kan?’ balas Hyejin.

‘Jinjja??????? Eonni apa itu benar????’ balas Hamun.

Sial, tahu dari mana wanita ini. Memang sih baru dia yang sudah memiliki anak di antara kami berlima, tapi tetap saja bagaimana tebakannya bisa tepat?

‘Jeongmal????? Aku juga mauuuu’ balas HyunAh.

HyunAh menikah 2 bulan sebelum aku, sebenarnya malah dia dan suaminya Henry Lau yang sangat ingin memiliki anak.

‘😀😀😀’ balas Hyejin.

‘Ne…. Aku hamil….. Tapi Hyejin-aaaahhh tahu dari mana kamu???’ balasku.

‘Beberapa hari yang lalu saat kita bertemu, emosimu sangat tidak stabil, beratmu sepertinya juga naik. Lagipula aku sudah bisa menduga bagaimana kamu dan suamimu beraksi di tempat tidur hahahahaa… Ingat, aku dan Kyuhyun sudah menikah selama 4 tahun ;p’ balas Hyejin.

Wajahku memerah membacanya.

“Gwenchana???” Eric yang baru masuk kamar terlihat khawatir melihat wajahku yang memerah. Melihat suamiku aku malah semakin malu “Gwenchanaaaaaaa…. Pergilah oppaaaaaa… Aku sibuk” pintaku dengan manja. Tanpa bertanya Eric meninggalkanku sendirian di kamar.

‘Ada apa ini ramai sekali. Mianhae aku baru saja mengurus catering’ balas Choi Jihyo.

Jihyo akan menikah dengan kekasihnya Kim Woobin 5 bulan lagi tapi dia sudah mulai sibuk sejak beberapa bulan yang lalu.

‘Baca saja’ balas Hyejin.

Aku masih belum sanggup membalas pesan mereka.

‘Waaaaaaahhhh chukkae….. Cepat sekali ya eonni…. Aku mau dong rahasianya biar cepat punya anak’ balas Jihyo.

‘Hihihihiiii eonni dae~bak. Eric oppa apalagi :3’ balas Hamun.

Aku membanting smartphoneku dengan wajah seperti kepiting rebus.

Tapi karena bunyinya tidak berhenti terpaksa aku mengambilnya kembali.

 ‘Mana ini MinAh… Yaaaaaaa kenapa kamu? Apa kamu mual??’ balas HyunAh.

‘Eonni….. Gwenchanaaaaaaa???’ balas Hamun.

‘MinAh… MinAh…. Hohohooo’ balas Hyejin.

‘MinAh eonni…… Gwenchana?’ balas Jihyo.

‘Tenang saja ladies, aku rasa dia hanya malu’ balas Hyejin.

Aku merasa Hyejin lebih cocok jadi peramal dibandingkan arsitek.

‘Ladies, aku………. Ah sudahlah, jangan membahas masalah tempat tidur lagi. Stop!!!’ balasku.

‘Eonni…. Aku kira terjadi sesuatu padamu.. Syukurlah T.T’ balas Hamun.

‘Huahahahahhahahahaaaa’ balas HyunAh.

‘Hahahahahahahahahhahahahahahhahahahahahahahaaaaaaa. I got you Park MinAh’ balas Hyejin.

‘Eonni, jangan lupa resepnya ya’ balas Jihyo.

Tidak kuhiraukan pesan dari mereka. Kali ini benar-benar kuletakkan smartphoneku di meja karena merasa lelah sekali lalu mulai tidur.

***

“Aaaaaaaaacccckkkkkk!!!!!” teriakku histeris.

Eric yang baru masuk kamar langsung keluar lagi “Wae wae wae??? Wae geurae???” tanyanya dengan panik.

Aku menatap suamiku dengan sedih lalu menunjuk ke bawah.

“Kenapa timbangannya? Rusak??” Eric mengecek timbangan yang ada di bawah kakiku.

“Aku naik 6 kilo” ucapku hampir menangis. Suamiku memelototiku “Yaaaaa aku kira terjadi sesuatu padamu” lalu pergi meninggalkanku.

“Oppaaaaa kajimaaaaa” teriakku. “Waeeeeeeee?????” balasnya dengan berteriak juga. Eric duduk di depan TV lalu menyalakan acara olahraga kesukaannya.

Aku berjalan ke arahnya, mengambil remote dari tangannya, lalu mematikan TV. Kupelototi suamiku.

“Wae?” dia menatapku dengan sedikit bingung. “Aku naik 6 kilo oppaaaaa” kataku histeris.

“Seumur-umur kamu tidak pernah ribut masalah berat badan” dia benar-benar terlihat bingung sekarang.

“Tapi usia kehamilanku baru 13 minggu!!!! Waktu Hyejin hamil beratnya naik 6 kilo setelah usia kehamilan 20 minggu. Teman-temanku juga naiknya normal-normal saja” aku duduk di sebelah Eric lalu menangis tersedu-sedu.

Suamiku mengelus-elus kepalaku lalu mendekapku “Gwenchana… Yang penting kamu dan anak kita sehat. Lagipula kamu masih terlihat cantik dan makin seksi” godanya. “Jeongmal?? Awas jangan bohong ya oppa” kataku lalu memberinya tatapan yang mematikan.

Eric balas memberiku tatapan yang menyejukkan lalu mulai menciumku. Kalau tidak ingat perutku yang besar ini sudah kuajak dia ke kamar tidur.

Ting tong.

“Kubukakan” aku ke pintu sambil setengah berlari “Hati-hati” perintah Eric.

Kulihat dari interkom sahabat-sahabat suamiku datang.

“Annyeong oppadeul” sapaku.

“Annyeong MinAh…” balas Lee Minwoo lalu memelukku.

“Hello yeppeo” Kim Dongwan mencium pipiku lalu memelukku. “Hello handsome” balasku, Dongwan adalah sahabat Eric kesayanganku. Aku bergelayut manja di lengannya sambil berjalan masuk ke rumah.

“Bagaimana wanita yang sedang oppa dekati?” tanyaku. Dia memberiku tatapan sedih “Sepertinya dia tidak menyukaiku” sahutnya.

“Gwenchana oppa… Pasti akan ada wanita yang mencintaimu dengan setulus hati. Oppa kan baik hati, tampan, dan kaya” pujiku padanya.

Dongwan menatapku lalu terdiam sejenak seperti memikirkan sesuatu. “Bagaimana kalau kamu yang menikah denganku? Tinggalkan saja dia” katanya sambil menunjuk Eric. Yang ditunjuk seperti kebakaran jenggot “Yaaaaaa Kim Dongwan!! Lepaskan istriku. Dia sedang hamil anakku, jangan ganggu dia” perintah Eric.

“Benarkah oppa? Hmmmm tawaran yang menarik. Akan kupikirkan setelah aku melahirkan ya oppa. Gidaryo..” aku mengedipkan mata dan semakin menggelayut pada Dongwan. Minwoo tertawa terbahak-bahak.

“Marie, ambilkan kami bir. Kami akan menonton baseball” Eric terdengar seperti memberi perintah.

“Ne Junghyuk-aaahhh” dengan sebal aku menuju kulkas untuk mengambilkan 3 pria berumur 30an itu beberapa kaleng bir. Karena hari ini hari Minggu jadi Myungjin ahjumma sudah pulang, terpaksa aku yang akan meladeni mereka seharian.

Besoknya sepulang kerja Eric langsung ke rumah sakit karena akan menemaniku kontrol.

“Annyeong MinAh, Eric-ssi” sapa dokter Hwangjae pada kami. “Annyeong sunbaenim” kataku.

Tanpa disuruh aku langsung tidur di dekat peralatan USG, dengan sigap dokter Hwangjae langsung memberi gel pada perutku dan melakukan USG.

“Sekarang sudah naik berapa kilo MinAh?” dokter Hwangjae memutar-mutar alat USG di perutku.

Sebelum kujawab Eric menyambar lebih dulu “Nah itu dia, kemarin dia ribut terus. Katanya sudah naik 6 kilo padahal usia kehamilannya masih muda. Tolong dijelaskan padanya dok, hal itu biasa terjadi pada ibu hamil” Eric menjawab dengan nada gusar dan tertekan. Aku meliriknya dengan kesal.

“Hahahaaa wajar Eric-ssi, istrimu ini membawa double combo” kata dokter Hwangjae dengan santai, kali ini beliau memegang-megang perutku.

“Mwo????” sahutku dan suamiku bersamaan dengan terkejut.

***

2 hari lagi hari pernikahan Jihyo, tapi aku merasa tidak tenang gara-gara gaun bridesmaid milikku yang kutebak tidak cukup dengan perutku yang sangat besar ini.

Dengan bantuan Eric aku mencoba gaunku, benar saja aku tidak bisa menutup resletingnya.

“Aduuuuuhhh kok bisa tidak cukup sih” omelku.

“Soalnya kamu bertambah besar. Selain perut, tubuhmu yang lain juga ikut membesar rupanya” suamiku menatap bagian atas tubuhku dengan tatapan nakal seolah ingin melahapku hidup-hidup.

“Yaaaaaaa ini kan wajar… Aku akan menyusui 2 bayi sekaligus. Jangan berpikiran nakal ya oppa, pergi sana hush hush..” kataku lalu segera mengganti bajuku. Dia hanya menyengir jahil dan segera keluar kamar.

Segera saja kubawa kembali gaunku ke designer yang merancangnya.

“Ottokae???” ucapku frustasi saat memakainya. Choi Soohyun sang designer hanya tersenyum simpul “Gwenchana MinAh-ssi.. Aku sudah tahu akan seperti ini melihat pertumbuhan perutmu yang express hehehe” katanya. Aku memanyunkan bibir merasa bersalah padanya.

“Jeosonghamnida Soohyun-ssi. Aku jadi merepotkan. Apa masih bisa dibesarkan?” semoga saja masih bisa dipermak jadi aku masih bisa menjadi bridesmaid bagi Jihyo. Kalau sampai gagal, aku tidak bisa membayangkan bagaimana kecewanya Jihyo.

“Gwenchana MinAh-ssi, aku sengaja membuatnya agar bisa dibesarkan. Ini hanya dibesarkan 2 cm kok. Tunggu 20 menit ya, pegawaiku akan langsung mengerjakannya” Soohyun langsung membawa gaunku ke belakang agar bisa segera dikerjakan.

Hari pernikahan Jihyo tiba.

Jam 6 pagi aku harus ke salon tempat aku dan ketiga temanku akan dirias. Dengan mata masih mengantuk aku masuk mobil, “Masih ngantuk?” Eric menyetir dengan pelan. Aku hanya mengangguk berharap bisa meluruskan tubuhku yang semakin menggelembung tidak karuan ini.

Sampai di salon aku melihat ketiga temanku sudah datang, Hyejin malah sudah selesai dirias dan sekarang sedang menggendong Kihyun yang terlelap. Untuk ukuran anak berumur 2 tahun, dia sangat tinggi.

“Eonni, oppa annyeong” sapa Hamun, satu-satunya gadis di antara kami. Tapi melihat hubungannya dengan Lee Donghae kutebak tidak lama lagi mereka akan menyusul kami berempat.

Aku mengangkat tangan dengan malas membalas sapaannya kemudian duduk di antara Hamun dan HyunAh. “Annyeong Hamun-aahh. Waahh sudah cantik yaaa” komentar Eric melihat perubahan Hamun yang memang terlihat semakin cantik. Hamun yang mengaku sangat menyayangi Eric tersenyum mendengar pujian dari suamiku.

Di sebelah kananku HyunAh sedang berbisik-bisik lalu tertawa dengan suaminya. Entah apa yang pasangan dorky ini bicarakan. Mungkin menu yang akan mereka masak bersama untuk besok.

“Hyejin-aaahh, mana Kyuhyun?” aku tidak melihat suami Hyejin, Cho Kyuhyun sang pengusaha sukses di manapun. “Tadi malam baru pulang dari India, nanti dia menyusul langsung ke venue jam 9” jawabnya sambil menepuk-nepuk punggung Kihyun yang terlihat rewel.

Selesai didandani kami semua langsung menuju venue saat jam masih menunjukkan angka 8. Karena masih ada 1 jam lagi aku memilih beristirahat di ruang tunggu yang sudah disediakan. Membawa 2 bayi membuatku semakin cepat lelah.

Akhirnya saat yang ditunggu-tunggu tiba, pemberkatan yang sakral dan penuh haru membuatku dan orang-orang yang hadir meneteskan air mata. Mengingatkanku pada pernikahanku beberapa bulan lalu.

Jihyo memeluk aku dan ketiga temanku yang lain satu persatu dengan bercucuran air mata “Gomawo eonniedul, magnae” katanya sambil terisak.

“Semoga bahagia eonni” kata Hamun. “Jihyo-yaaaa” kata HyunAh sambil terisak, karena sedang hamil muda HyunAh jadi sangat sensitif. Aku sudah pernah merasakannya.

Hyejin menatap Jihyo dengan bangga lalu memeluknya lagi. Sambil menangis aku mencium pipi pengantin wanita yang nampak luar biasa cantik “Congratulations baby” ucapku, Jihyo mengangguk-angguk dengan mata bengkak sebesar bola pingpong padahal sebentar lagi acara akan dilanjutkan.

Saat resepsi dilangsungkan, banyak sekali tamu yang hadir. Wajar sih mengingat keluarga Choi dan Kim termasuk keluarga berpengaruh di Korea Selatan.

Setelah menyapa semua yang kukenal aku memilih duduk di pojok dekat kolam renang, memijit-mijit kakiku yang pegal sekali. Entah kenapa Eric bertemu banyak sekali koleganya di sini jadi terpaksa aku sendirian.

“MinAh…” seseorang memanggilku. Ternyata Donghae “Donghae oppa… Mana Hamun?” tanyaku, biasanya pasangan ini tidak bisa dipisahkan.

“Tuh, sedang menjaga Kihyun. Hye dan Kyu sedang makan, ahjumma yang menjaga Kihyun sedang membeli diapers Kihyun” Donghae menunjuk kekasihnya yang sedang menggendong Kihyun.

“Ooooohhh Eric oppa juga sedang sibuk, entah kenapa malah dia yang bertemu banyak kolega di sini” keluhku.

“Hahahaa Eric hyung kan pengacara terkenal di negeri ini, wajar kalau kenalannya banyak. Ohya bagaimana kehamilanmu? Kudengar kembar ya? Selamat…” Donghae menunjukkan senyuman sempurnanya yang bisa membuat gadis-gadis bertekuk lutut. Aku tersenyum-senyum bahagia bisa mendapatkan senyuman dari pria tampan di depanku. Sungguh beruntung sekali magnaeku itu.

“Gomawo… Iya, semakin berat. Padahal baru 6 bulan” kataku sambil mengelus-elus perutku.

“Mau melahirkan secara normal atau caesar?” tanyanya. Donghae adalah dokter bedah muda terbaik  di Seoul, dia sudah sering mengisi berbagai acara seminar di luar negeri padahal usianya hanya beda setahun denganku.

“Aku ingin normal, tapi lihat saja bagaimana nanti. Dokterku sih sudah menyiapkan beberapa alternatif melihat pertumbuhan mereka yang luar biasa cepat. Doakan agar semua lancar” jawabku. Tidak terasa kami mengobrol untuk beberapa saat karena Donghae adalah orang yang enak untuk diajak mengobrol, terutama karena kami memiliki profesi yang sama.

***

Sore ini aku janjian untuk ikut yoga hamil bersama HyunAh.

“Eodi???” tanyaku meneleponnya “Sebentar lagi, jalanan macet” jawab HyunAh.

Di usia kandungan 7,5 bulan ini aku sudah tidak sanggup menyetir sendiri, perutku sudah sebesar balon udara. Well, tidak sebesar itu sih, tapi sangat besar.

Setelah sampai di tempat yoga kami langsung masuk ke kelas yoga untuk ibu hamil. Di sana sudah ada 2 orang teman yoga kami. “Oke ayo kita mulai” ajak Kim Haewon instruktur kami.

Kami siap-siap dengan posisi awal “MinAh-ssi, tidak usah dipaksakan ya.. Perutmu sudah besar sekali, kalau merasa tidak nyaman lebih baik tidak usah dilakukan. Nanti aku akan membantumu” ujarnya. “Ne Haewon-ssi” sahutku lalu mulai mengikuti instruksinya.

Selesai yoga aku mengajak HyunAh ke cafe untuk membeli salad karena akhir-akhir ini aku mengalami konstipasi, walaupun kata dokter Hwangjae hal itu biasa tapi tetap saja menggangguku.

“Bagaimana kehamilanmu Hyun? Tidak ada masalah kan?” aku bertanya mengenai kehamilan HyunAh yang berumur 20 minggu. Tapi entah kenapa seperti tidak ada perubahan pada tubuhnya, kemudian kuingat tubuhku sendiri saat kehamilanku berumur 20 minggu. Aku iri padanya.

“Aku ngidam!!!! Ya Tuhaaaannn aku hanya mau makan masakan baby Hen.. Padahal dia kan setiap hari harus kerja. Huhuhuhuu” keluh HyunAh sambil mengelus-elus perutnya yang tidak terlalu menyembul.

“Hahahahaa lalu?” aku sungguh tidak habis pikir dengan kelakuan pasangan ini. “Sekarang baby Hen bangun jam 5 pagi lalu memasak untukku sebelum berangkat kerja.. Oh my God, I love him so much” tidak lama setelah mengatakan itu HyunAh langsung menelepon suaminya.

***

“Mun Junghyuk!!!!!!!!!!!!!” teriakku dari dalam kamar mandi. Dengan terburu-buru Eric mendatangiku. “Wae wae wae?? Apa sudah ada kontraksi?” di usia kehamilan 9 bulan ini suamiku menjadi semakin paranoid.

“Ani… Ini kenapa pasta gigi tidak ditutup rapat?” aku menunjukkan pasta gigi yang hanya tertutup separuh. Dia menatapku lalu meninggalkanku begitu saja “Heeeiiiiisssshhh apa susahnya sih menutup pasta gigi” omelku. Aku bukan orang yang perfeksionis, tapi aku suka bila semua pada tempatnya. Menutup pasta gigi dengan rapat, mengembalikan dasi yang baru dipakai ke tempatnya semula, mematikan listrik yang tidak terpakai, dan hal-hal kecil yang selalu membuatku mengomeli suamiku karena dia tidak melakukannya.

Seperti biasa di hari Sabtu ini Eric hanya menonton DVD sambil makan popcorn. Kali ini dia menonton the Avengers entah untuk keberapa kalinya, aku duduk di sebelah suamiku lalu menyandarkan kepalaku ke bahunya.

“Gwenchana?” tanyanya sambil mengelus-elus perutku. Aku mengangguk “Tadi ada kontraksi kecil-kecilan tapi tidak sering. Kata dokter sih normal” ujarku.

Mungkin karena terlalu lelah aku ketiduran.

“Aaaaaaaaawwwww” jeritku. Dibandingkan kontraksi yang tadi kontraksi kali ini terasa menyakitkan. Eric langsung terperanjat “Gwenchana?”.

Setelah mengontrol nafas seperti yang sudah diajarkan dokter Hwangjae dan Soohyun, kontraksinya mulai berkurang. “Gwenchana oppa. Gwenchana.. Mianhae sudah mengagetkanmu” aku mengelus-elus dadanya agar tenang, lalu kusenderkan lagi kepalaku berusaha tidur lagi.

Baru saja memejamkan mata kontraksi yang lebih hebat lagi datang, kali ini membuatku menangis. “Aaaaaaaaaawwww.. Ya Tuhan… Oppaaaaaa… Eommaaaa… Huh huh” aku mulai mengatur nafas lagi, tapi nampaknya tidak terlalu berpengaruh.

“Ayo kita ke rumah sakit” Eric menggenggam tanganku yang mulai berkeringat dingin.

“Tapi ini belum saatnya huh huh” tolakku. Aku takut ini hanya kontraksi palsu karena menurut dokter aku baru melahirkan sekitar 7-10 hari lagi.

“Tapi wajahmu terlihat pucat. Ahjumma, tolong bawa kemari tas yang sudah disiapkan MinAh” untung saja Myungjin ahjumma masih belum pulang, dengan sigap dia membawakan tas yang memang sudah kusiapkan jauh-jauh hari kalau saja aku melahirkan.

“Kajja” dengan dibantu Myungjin ahjumma Eric membawaku ke rumah sakit.

Ternyata sampai rumah sakit kata suster aku sudah siap untuk melahirkan karena pembukaannya sudah cukup banyak. Untungnya dokter Hwangjae masih ada di rumah sakit jadi aku bisa langsung masuk ruang bersalin.

Tidak kulepaskan tangan Eric, aku ingin dia menemaniku saat melahirkan. Untungnya Eric tipe pria yang kuat, dia tidak meninggalkanku sama sekali walau pemandangannya menjijikkan bagi orang yang tidak pernah berkutat dengan darah.

Setelah perjuangan yang teramat berat, aku berhasil melahirkan secara normal 2 bayi hasil cintaku dengan Eric.

Bayi pertama yang lahir adalah bayi laki-laki dengan berat 2,6 kg dan panjang 28 cm. Kami memberinya nama Mun Junghwa atau Evander Mun.

Berselang 10 menit bayi kedua kami lahir, bayi perempuan dengan berat 2,2 kg dan panjang 25 cm. Kami memberinya nama Mun Minra atau Minerva Mun.

Kebahagiaan kami terasa lengkap dengan kehadiran mereka.

***

Entah apa yang sudah Eric lakukan, yang jelas anak-anakku diam sampai pagi hari. Hal itu membuatku bisa tidur nyenyak.

Jam 7 pagi baru mereka menangis minta ASI.

Setelah berkali-kali berlatih, di usia 3 bulan aku sudah bisa menyusui mereka berdua sekaligus tanpa bantuan siapapun. Tapi mungkin hal ini tidak bisa berlangsung lama karena pertumbuhan anak-anakku yang sangat cepat.

“Evander, Minerva. Cepatlah besar ya, daddy sudah tidak sabar mengajak kalian bermain” Eric mencium kening kedua anak kami.

“Sudah kubilang jangan panggil mereka dengan nama itu, panggil mereka dengan Junghwa dan Minra. Nanti mereka kebingungan kalau dengar 2 bahasa sejak bayi, oppa boleh memangggilnya dengan Evander dan Minerva kalau mereka sudah bisa bicara. Dan jangan harap mereka akan memanggilmu daddy” ancamku. Entah kenapa suamiku ini ingin sekali anak-anak kamu memanggil kami  daddy dan mommy, katanya sih agar terdengar internasional.

“Minerva.. Jangan cerewet seperti mommy ya kalau sudah besar” bisik Eric pada anak perempuanku. Aku memelotinya tapi seperti biasa dia hanya senyum-senyum kalau kumarahi.

Setelah selesai menyusui mereka aku menyerahkan Minra pada Eric agar digendong. Sambil menggendong Minra dengan jahilnya Eric menciumi Minra sampai dia rewel.

Tapi Eric hanya tertawa melihat kerewelan anaknya karena memang itulah tujuannya, kemudian suamiku yang jahilnya di atas normal itu membawanya ke balkon untuk dijemur. Aku hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan ayah dari anak-anakku dan mengikutinya ke balkon untuk menjemur Junghwa.

Kami berdua meletakkan anak-anak kami di stroller untuk dijemur. 10 menit kemudian Eric menggendong Junghwa “Wae?” tanyaku. “Aku ingin dia mendapat sinar matahari langsung” jawabnya.

“Wae?” aku masih tidak mengerti, “Supaya dia memiliki kulit kecokelatan yang seksi dan eksotis seperti milikku” ujarnya dengan congkak. Aku menatapnya dengan tatapan tidak percaya, dia mengangkat bahunya. “Junghwa-yaa jangan kaget ya kalau nanti kamu sudah besar akan digilai banyak gadis seperti appa dulu. Hahahaa…” bisiknya pada anakku.

Dengan kehadiran Junghwa dan Minra, kehidupanku tidak akan setenang dulu. Akan terdengar tangisan, rengekan, jeritan, pertengkaran, dan lain-lain karena kini hidupku bukan lagi milikku seorang. Tapi dengan penuh cinta aku akan membagi kehidupanku pada 3 orang terkasihku.

***

Enjoy ^^