Hai, esther imnida. hahahaha long time no see. Baru kali ini bikin ff berchapter lagi setelah God, please stop the time. Hope you like it❤

******

Hamun menghela nafas panjang setelah membaca sebuah artikel di Smartphonenya. ‘Spotted! Choi Siwon with Han Joya spend time together in Beijing! Cr: Dispatch’ ―itu judul artikelnya. Hamun sangat kesal saat membacanya tapi ia tak bisa melakukan apa-apa terkait masalah itu. Ia mematikan ponselnya dan kembali melakukan aktivitas sebenarnya, makan malam di cafetaria SMent.

“Hamunie, sendirian saja?” tanya seseorang yang tiba-tiba muncul di depan Hamun, Kangin. “Aku, Donghae, Ryeowook, dan Eunhyuk duduk disini boleh?” tanyanya yang tentu saja Hamun persilahkan. Keempat pria itu duduk memenuhi kursi yang ada di sekeliling Hamun. Sama seperti Hamun, mereka mulai menghabiskan isi piring mereka.

“Sudah jam segini kenapa kau tidak balik ke dorm saja?” tanya Eunhyuk oppa memulai basa-basi.

“Semua member sedang ada di dorm bersama para kekasihnya oppa, aku tidak bisa belajar karena mereka. Berisik sekali,” ujar Hamun yang disambut tawa oleh Eunhyuk, Kangin, dan Ryeowook.

“Jadi, kau berniat bergadang sendirian disini?” tanya Kangin. “Sepertinya begitu oppa, aku sudah tidur tadi jadi kurasa aku bisa bergadang,” jawab Hamun.

“Aigo, magnae SG ini rajin sekali,” kini giliran Ryeowook yang bersuara sambil mengacak rambut Hamun. Hamun hanya tersenyum atau ikut tertawa bersama mereka, tapi sesekali ia pasti memperhatikan pria yang duduk diseberangnya, Lee Donghae. Pria itu tidak tertawa atau tersenyum. Ia juga tidak mengajak bicara Hamun sedari tadi. Entah mengapa, sejak beberapa tahun terakhir Hamun merasa Donghae sangat dingin terhadapnya padahal yang ia tahu, Donghae sangat care terhadap semua hoobaenya. Ya, semuanya kecuali dirinya.

Tanpa sengaja, Donghae menengadahkan kepalanya. Sepertinya ia tahu bahwa ada yang sedang menatapnya. Hamun segera memalingkan kepalanya setelah matanya bertemu dengan mata Donghae dalam waktu yang sangat singkat. “Eng, Hamun, kau tak apa-apa, kan, dengan gosip itu?” tanya Ryeowook. Tak perlu bertanya lebih dalam, Hamun tahu apa yang Ryeowook maksud.

Hamun tersenyum sebisanya, ia tak bisa menyembunyikan perasaan sedih dan kesalnya. “Hm, aku tak apa-apa, Oppa,” balasnya. Ia mencoba menahan emosinya.

“Kau tahu, kan, Siwon sangat mencintaimu? Aku yakin dia tidak akan mengkhianatimu,” ujar Eunhyuk. Kalimat itu seperti mengingatkan Hamun akan perasaannya pada Siwon selama ini. Emosinya pun mereda saat kembali mengingat kebersamaannya dengan Siwon. Ia kembali tersenyum, senyum yang tulus. “Ya, aku tahu dan aku percaya padanya. Gomawo oppa sudah mengingatkanku,” ujar Hamun.

“Sudah berapa lama kau tak bertemu dengan Siwon? Kapan terakhir telepon? Kau hebat sekali bisa tahan berpacaran dengan pria super sibuk itu,” ujar Kangin.

Hamun tertawa lalu menjawab, “Sekitar satu bulan seingatku, dan 5 hari yang lalu ia terakhir menelponku,”

“Daebak! Yeonhee saja marah jika dalam seminggu aku tidak menyediakan waktu untuk menemuinya!” puji Euhyuk.

“Mau bagaimana lagi, oppa. Dia sangat sibuk dan aku sangat mencintainya, jadi..” suara Hamun terputus bersamaan dengan suara derit kursi Donghae yang bergeser. “Aku sudah selesai, aku kembali duluan ke studio rekaman,” ujar Donghae pada membernya. Ia pergi begitu saja bahkan tidak berpamitan pada Hamun.

“Kenapa dia tiba-tiba jadi dingin seperti itu?” tanya Kangin yang bingung dengan kepergian Donghae, Eunhyuk dan Ryeowook hanya mengangkat bahunya karena mereka juga tak mengerti. Sedangkan, Hamun hanya bisa terdiam untuk meredakan rasa sakit yang berulang kali ia rasakan di hatinya setiap kali pria itu bersikap dingin padanya.

‘Ia bukan Lee Donghae yang dulu. Kau harus ingat itu, Kang Hamun,’ gumam Hamun dalam hatinya.

*****

Donghae melihat jam tangannya yang sudah menunjukan waktu pukul tiga dini hari. Ia keluar dari studionya dan berjalan menuju cafetaria. Sesampainya, ia segera memesan Frapuccino Latte dan membawanya menuju meja yang masih ditempati oleh seorang gadis. Gadis yang sangat ia kenal dan sudah ia perhatikan sejak lama.

“Katanya kau bisa bergadang, tapi ternyata tidur juga. Dasar,” gumam Donghae. Ia tersenyum tulus saat melihat gadis itu tertidur pulas di atas bukunya. “Kau pasti lelah, tapi kau masih berusaha melakukan yang terbaik. Kau masih seperti dulu, tidak berubah,” ujar Donghae meskipun gadis itu tak bisa mendengarnya.

Donghae meletakan Frapuccino Latte itu dan mengambil smartphone gadis itu. Dengan mudah, ia membuka lock phone-nya. “Kau harus lebih kreatif, sampai kapan kau akan menggunakan tanggal lahirmu untuk membuat kode atau password seperti ini?” ujarnya lagi. Setelah melakukan hal yang menurutnya penting, ia meletakan Smartphone itu. Ia hendak pergi tapi hatinya belum rela. Ia masih ingin melihat wajahnya, masih ingin bersama dengannya. Tidak apa-apa jika ia tak memiliki gadis ini, seperti ini saja sudah cukup.

Tangannya terulur pada gadis itu. Menyelipkan rambut gadis itu kebelakang telinganya agar ia dapat melihat wajahnya lebih jelas. “Apa kau bahagia bersamanya? Asal kau bahagia, itu cukup untukku,” katanya.

*****

Bunyi alarm smartphone Hamun berhasil membangunkan gadis itu. Ia segera mematikannya setelah benar-benar tersadar. “Sepertinya tadi aku tidak memasang alarm,” ujarnya. Ia ingat dirinya ketiduran begitu saja saat membaca bukunya. Saat dirinya hendak kembali belajar, ia melihat sebuah gelas yang berisi Frapuccino Latte di depannya. Ada post-it di gelas itu bersama dengan pesannya ‘For you, who always do the best in everything. Good luck for your test. I always pray for you,’

Hamun tersenyum setelah membacanya. Ia menengok ke kanan dan ke kiri untuk mencari tahu siapa kira-kira yang melakukan hal ini. Sayangnya, hanya ada dia seorang dan dua barista yang ada di teritorial kerjanya. Ia tak tahu siapa pelakunya, tapi ia merasa semangatnya bangkit kembali. “Terima kasih untuk Farpuccino Lattenya, aku jadi semangat lagi! Doakan aku ya!” seru Hamun entah pada siapa sedangkan kedua barista itu hanya bisa menggeleng melihat tingkah aneh gadis itu.

Di salah satu sudut di gedung itu, pria ini bersembunyi. Hamun tak dapat melihatnya tapi ia dapat dengan jelas melihat Hamun dan mendengar apa yang gadis itu sampaikan barusan. “Saranghae, Hamun,” gumamnya tanpa bisa ia tahan. Ia tersenyum lirih, untuk dirinya sendiri.

*****

“Bagaimana ujiannya tadi? Kau pasti bisa,” ujar manager SG yang baru saja tiba di dorm mereka. Hamun hanya mengacungkan jempol sebagai tanda keberhasilannya. “Oia, apa yang oppa mau bicarakan?” tanya Hamun.

Managernya mengambil posisi duduk diseberang Hamun. “Hamun, ini ada tawaran untukmu,” lanjutnya sambil menyerahkan sebuah surat pada Hamun. Hamun membaca dengan seksama dan terbelalak saat tahu inti dari surat itu. “We Got Married dengan Lee Donghae?!” seru Hamun yang tak bisa menyembunyikan perasaan kagetnya.

TBC

Otte? hehehe actually ga seberapa percaya diri sama ff lanjutan kayak gini but hope you enjoy it🙂