PART 1 , PART 2

xxxx

Hyejin kembali ke dorm Super Girls dengan senyum tak bisa hilang dari wajahnya. “Kau kenapa tampak senang sekali? Ada apa?” Tanya HyunAh, sebagai satu-satunya member yang tersisa di dorm.

“Aku berhasil membalaskan kekesalanku pada makhluk iblis itu karena berani-beraninya comeback tanpa memberitahuku,” jawab Hyejin.

“Apa yang kau lakukan memangnya?” Tanya HyunAh penasaran.

“Ada deh. Yang pasti Kyuhyun tidak akan mudah melupakan apa yang aku lakukan padanya.” Hyejin tersenyum jahil pada HyunAh. “Aku menyiksanya,” bisik Hyejin.

HyunAh tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban Hyejin. “Kadang-kadang otakmu bisa kotor juga,” ujar HyunAh. Hyejin tersenyum-senyum, bahkan sampai bersenandung.

“Kau daritadi sendirian di dorm? Henry tidak datang?” Tanya Hyejin sambil menggonta-ganti channel tv.

“Dia sedang fan meeting di Hongkong. Besok atau lusa juga pulang. Kenapa? Kau merindukannya?” Sahut HyunAh usil. Ia tahu Henry adalah artis favorit Hyejin dan gadis itu sangat mengagumi bakat musik Henry.

“Oh. Aku berniat menjadi ketua fanclub Strings. Bagaimana menurutmu?”

HyunAh tertawa semakin keras. “Jangan harap. Mereka akan membully dirimu kalau tahu artis satu manajemen jadi ketua fanclub idola mereka.”

“Aku akan mengurungkan niatku kalau begitu. Member yang lain belum pulang?”

HyunAh menggelengkan kepalanya. “Hamun masih kuliah,”

“Sampai selarut ini? Hari Sabtu lagi. Luar biasa,” potong Hyejin saking terkejutnya dengan magnae-nya yang begitu giat kuliah.

“MinAh masih keluar dengan Eric Oppa palingan. Jihyo sedang bermain dengan Key. Aku yakin ia sedang memeras Key untuk membelikannya iPhone baru entah seri keberapa.”

“Evil magnae kita tidak pernah berubah.”

HyunAh mengangguk setuju sambil menguap. “Aku mau istirahat. Besok aku harus tampil di Inkigayo demi album duet tercinta. Kau tidak istirahat?”

“Tidak. Jadwal konferensi pers dramaku mulai jam 1 siang dan Super Junior akan berada di Jepang sampai pertengahan minggu depan. Aku yakin bisa membuat Kyuhyun sakit kepala selama di Jepang!!!” Hyejin tertawa puas namun HyunAh tidak sempat menyahutnya karena sudah lebih dulu memejamkan mata.

—–

Kyuhyun sedang serius bermain Game of War di iPad miliknya saat Donghae melemparkan sebuah koran padanya. “Tumben kau mengijinkan Hyejin main drama,” ujar Donghae heran.

Dengan terpaksa, Kyuhyun mematikan game-nya dan memungut koran yang tadi dilemparkan Donghae. “Memangnya kenapa? Dia hanya main drama komedi,” sahut Kyuhyun.

“Oh ya?” Tanya Donghae masih tidak percaya. “Coba kau buka koran itu.”

Kyuhyun membuka-buka koran itu sampai halaman yang ketujuh, dia menemukan berita wawancara dengan para pemain drama yang dibintangi Hyejin beserta foto para pemain dan poster drama tersebut.

Mata Kyuhyun membelalak kaget melihat poster tersebut. Hyejin berpose di atas punggung Choi Jin Hyuk, melekatkan lengannya di leher pria itu dan kakinya di pinggang lawan mainnya itu. Ekspresi Hyejin menunjukkan ia ingin mencekik Jin Hyuk tapi karena ini drama komedi romantis maka ekspresinya dibuat lucu.

“Ige mwoyaaaaa?!” Seru Kyuhyun terkejut sekaligus kesal. Kyuhyun langsung membuang koran itu sembarangan dan mengambil handphonenya yang sejak tadi tergeletak manis di meja.

Dengan tidak sabaran Kyuhyun memencet tombol panggilan yang akan segera menghubungkannya dengan Hyejin. “Yaak!” Seru Kyuhyun begitu teleponnya diangkat.

“Wae?” Sahut Hyejin santai.

“Apa yang kau lakukan dengan Jin Hyuk?” Tanya Kyuhyun dengan galak.

“Jin Hyuk? Jin Hyuk Oppa, lawan mainku maksudmu?” Hyejin balik bertanya.

“Eoh. Apa yang kau pikirkan sampai kau mau bertengger di punggungnya hanya dengan memakai baju handuk kekecilan seperti itu? Pahamu itu kemana-mana tahu! Bahumu juga! Dadamu!” Omel Kyuhyun kepada kekasihnya yang justru malah tertawa-tawa.

“Ya Tuhan, nae jagi. Aku itu memakai celana pendek dan kemben di dalamnya!” Hyejin balas mengomel.

“Tetap saja! Aku tidak suka!”

“Aku tahu! Kau memang tidak pernah suka jika aku main drama atau musikal! Padahal aku tidak pernah protes jika berciuman dengan gadis yang menjadi lawan mainmu di setiap musikalmu. Kau tidak adil!”

Hyejin menutuskan sambungan telepon, membuat Kyuhyun berteriak frustasi kepada smartphone malang kesayangannya itu.

Kyuhyun mencoba menghubungi Hyejin sekali lagi tapi tidak diangkat. Akhirnya, Kyuhyun mengirimkan pesan untuk Hyejin.

Kita akan mengurus masalah ini begitu aku menginjakkan kaki kembali ke Korea!

Lima detik kemudian, Kyuhyun mendapat balasannya.

Terserah!

“Aaaaaargh!” Erang Kyuhyun semakin kesal karena tidak ada yang bisa dilakukannya. Ia sedang berada di Jepang untuk promosi album Super Junior bersama member yang lain sedangkan Hyejin di Korea. Kyuhyun baru bisa menemui gadis itu 3 hari lagi.

—–

“Baby Hyuuuuuuuun!!!!” Seru Henry dengan aegyo-nya begitu masuk ke dalam dorm Super Girl untuk menemui kekasihnya.

HyunAh tersenyum lebar melihat Henry datang dengan sekotak coklat kesukaannya. “Baby Hen… Gomawo,” ucap HyunAh senang dan segera membuka kotak coklat itu.

Henry menghempaskan dirinya ke samping HyunAh, melebarkan tangannya untuk menjangkau bahu HyunAh dan memuaskan matanya untuk memandang HyunAh yang menurutnya semakin lama semakin cantik.

HyunAh mengambil satu butir coklat dan menyuapkannya ke mulut Henry. “Aaaa…” Perintah HyunAh agar Henry membuka mulutnya. Henry membuka mulutnya dan sedetik kemudian, coklat itu sudah lumer di dalam mulutnya.

Henry mungkin terlalu fokus pada HyunAh sehingga ia tidak menyadari bahwa bukan hanya mereka berdua di ruangan ini. “Dia kenapa, baby Hyun?” Tanya Henry pada HyunAh begitu menyadari ada seorang gadis yang sedang berbaring di sofa yang menatap televisi dengan tatapan kosong dan mukanya yang sangat kusut sehingga tidak enak untuk lama-lama dilihat.

“Biasa. Sedang bertengkar dengan Kyuhyun,” jawab HyunAh sepelan mungkin agar tidak didengar Hyejin dan tidak membangkitkan lagi emosi Hyejin yang mulai tenang.

“Bertengkar kenapa?” Tanya Henry penasaran dengan suara yang juga dipelankan, meniru HyunAh.

“Masalah poster drama baru Hyejin. Kyuhyun marah karena Hyejin berpose mesra dengan Jin Hyuk Oppa di poster itu,” jawab HyunAh.

“Yak kalian berdua! Pacaranlah yang benar! Jangan bawa-bawa aku dalam obrolan kalian!” Tegur Hyejin dengan dingin tanpa melihat pasangan yang menatapnya dengan ngeri.

“Mengerikan,” komentar Henry sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Sssst! Sudah tidak usah dibahas lagi,” ujar HyunAh dengan menyikut perut Henry pelan.

Henry terdiam. Dia mengembalikan seluruh fokusnya untuk HyunAh. Tanpa penyebab yang jelas, Henry tersenyum-senyum sendiri. “Baby Hyuuun,” panggil Henry tanpa melupakan aegyo-nya yang mematikan.

“Waeyo, Baby Henry-ku sayang?” Sahut HyunAh gemas. Ia mencubit pipi tembem Henry dengan penuh kasih sayang.

“Kau cantik,” puji Henry membuat HyunAh tersipu malu sekaligus mengulum senyum.

Hyejin melirik pasangan itu kemudian bangkit berdiri dari tahtanya, memutuskan lebih baik ia berada di kamar seorang diri.

—–

Jihyo keluar dari kamarnya dan menemukan Hamun sedang berkutat dengan buku-buku dan kertas-kertas yang memenuhi hampir seluruh ruangan santai dorm mereka. “Kau kuliah sarjana atau mau jadi profesor sih? Tugas-tugas kuliahmu mengerikan sekali,” sapa Jihyo yang terpaksa mengungsi ke ruang makan karena sofa empuk di ruangan santai juga telah diduduki oleh Psikologi Modern untuk Remaja.

Hamun hanya tertawa. Ia tidak sempat menyahut sapaan Jihyo karena ia sedang terlalu sibuk dengan tugas kuliah yang harus ia kumpulkan nanti siang.

MinAh mengikuti jejak Jihyo duduk di ruang makan akibat penjajahan benda mati paling mengerikan milik Hamun. “Aku tidak tahu kenapa kau masih betah berkutat dengan benda itu. Kalau aku jadi kau, aku akan membuat seribu satu alasan untuk menghindarinya,” komentar MinAh.

Hamun tidak bergeming. “Percuma. Dia sedang serius, eonni,” kata Jihyo.

Henry keluar dari kamar HyunAh diikuti wanita itu dari belakang. “Kau tidur di sini?” Tanya MinAh.

Henry menganggukkan kepalanya dengan malas. Matanya belum sepenuhnya terbuka tapi ia dapat menemukan dengan mudah sekotak susu yang disimpan dengan rapi oleh HyunAh di dalam kulkas.

“Kau melakukan apa sih, Hamun? Sampai kami semua harus mengungsi ke tempat ini?” Tanya Henry yang kemudian meneguk susu kotaknya sekaligus tanpa jeda.

Untuk pertama kalinya, Hamun mengalihkan perhatiannya. “Tidak bisakah kalian berhenti bertanya apa yang sedang aku lakukan? Kalian tidak bisa melihatnya apa? Aku sibuk!” Jawab Hamun dengan galak kemudian kembali mengerjakan tugasnya.

MinAh, HyunAh, Jihyo dan Henry terdiam bengong melihat Hamun. Ini pertama kalinya melihat Hamun berbicara dengan galak kepada mereka. “Aku rasa ia benar-benar stress. Mengerikan,” gumam Henry disetujui oleh member Super Girls lainnya.

Pintu dorm terbuka dan Hyejin muncul dengan sekantong pudding. Ia baru selesai jogging. “Jangan sampai lupa makan, magnae,” ujar Hyejin sambil meletakkan dua cup pudding di dekat Hamun lalu bergabung dengan member Super Girls yang lain dan juga Henry.

—–

AYAYA! AYAYA! AYAYA!

Handphone Kyuhyun berbunyi tiga kali menandakan ada pesan yang masuk. Henry mengirimkan dua pesan dan satu video.

Hyungdeul…
Do you want to see my girls?

Kyuhyun membuka video itu. Orang yang pertama kali muncul adalah seorang gadis dengan wajah kusut, rambut terikat kencang di atas kepala beserta bolpen dan kertas di tangannya.

“Mian. Hamun sedang tidak bisa diganggu,” ujar Henry yang sudah menampakkan wajahnya.

Siwon yang berada di sebelah Kyuhyun senyum-senyum sendiri saat melihat kekasihnya muncul dengan tampang kusut dan rambut mencuat ke atas.

“Annyeong!!!!” Seru Henry dengan ceria sambil melambaikan tangan ke layar. “Sesuai perintah hyungdeul, aku telah menjaga gadis-gadis kalian dengan baik.”

Video menampilkan MinAh yang sedang makan roti dengan kakinya yang dilipat di kursi, Jihyo yang masih menguap lebar dan mengucek-ucek matanya serta HyunAh yang sedang sibuk memasak.

Video kembali menampilkan wajah Henry dan juga kecupannya pada layar. “Annyeong!” Ucapnya dan video selesai.

Dengan kesal, Kyuhyun mengirim pesan pada Henry.

Yaaak!! Mana Hyejin-ku? Kenapa dia tidak ada di videomu?

Tidak lama, Henry membalasnya.

Kkkk!! Dia tidak mau di-syut, hyung. Moodnya sedang sangat mengerikan. Kalau kau berani, minta saja sendiri.

Kyuhyun melihat kalender di smartphonenya, masih ada 1 hari 3 jam lagi untuk bertemu Hyejin.

“Grrr!” Geram Kyuhyun kesal.

—-

MinAh berjalan-jalan dengan menggunakan topi serta masker untuk menutupi wajahnya yang sudah dikenal hampir di seluruh Korea.

“Oppa, kau dimana? Aku sudah sampai,” kata Minah pada Eric melalui handphonenya. “Aaah… Arraseo. Aku akan ke sana.”

MinAh melangkahkan kaki semakin jauh. Seorang pria bertopi, bermasker, dan berkacamata hitam melambai-lambaikan tangannya ke arah MinAh. Tanpa ragu, MinAh mendekati pria itu.

“Oppaaaa!!” Seru MinAh dengan girang sambil memeluk Eric kilat. “Aku tidak akan menyangka kau mengajakku kencan ke Istana. Istana zaman dahulu kala… Waw!”

Eric tersenyum. Ia merangkul bahu MinAh dan mengajaknya mulai berwisata. “Tempat ini terlalu sibuk karena banyak turis jadi aku rasa tidak akan ada yang mengenali kita. Kau tidak suka?”

MinAh tersenyum senang di balik maskernya. Eric tidak bisa melihatnya tapi mata MinAh menunjukkannya. “Aku senang sekaliiiii….”

“Terima kasih,” ujar Eric lalu mengecup topi MinAh dengan masker yang dipakainya. MinAh tidak bisa untuk tidak tertawa bahagia.

“Aku senang Oppa mau meluangkan waktu untukku apalagi siang-siang begini,” ujar MinAh.

“Aku juga senang. Aku hanya tidak senang dengan masker ini, membuatku susah bernafas,” keluh Eric yang memang tidak suka dengan benda apapun yang menutupi hidungnya.

MinAh tertawa kecil. “Maafkan aku, Oppa. Aku tahu Oppa tidak suka tapi mau bagaimana lagi. Aku dan memberku tidak bisa terang-terangan berkencan. Paparazzi akan sangat senang kalau mengetahui kami punya kekasih. Kami kan bukan Shinhwa…”

Eric menepuk kepala MinAh dengan lembut. “Gwencana. Aku tidak masalah. Yang penting aku bisa berkencan denganmu.”

Sepasang kekasih itu terus berjalan-jalan, memasuki seluruh ruangan, menghabiskan semakin lama waktu untuk berdua.

“Oppa mau difoto?” Tanya MinAh menawarkan Eric berfoto di depan sebuah istana kecil yang merupakan tempat Raja berlibur.

Eric menggelengkan kepalanya. “Aku tidak mengoleksi foto dengan wajah tertutup seperti ini, nona Park.”

Tapi MinAh memaksa Eric. Mereka berpose di depan istana itu, melebarkan senyum meski tersembunyi di balik masker mereka. “Cheese!” Seru MinAh yang kemudian mengambil foto mereka berdua.

—-

Siwon masuk ke dalam mobil dimana kepala Jihyo muncul dari jendela beserta tangannya yang melambai-lambai dengan semangatt. “Oppa!!” Seru Jihyo kencang-kencang.

Siwon memilih pulang tidak bersama dengan member Super Junior lain karena dia punya rencana.

“Jagiyaaaaa,” seru Siwon yang langsung memeluk Hamun dengan gemas begitu di dalam mobil, mengabaikan Jihyo yang menatapnya dengan keji.

“Aku akan benar-benar menghajarmu jika kesabaranku sudah habis, tuan muda Choi,” ancam Jihyo saking kesalnya.

Siwon masih memeluk Hamun, seolah tidak bertemu beberapa hari saja membuatnya sangat merindukan gadis itu.

“Kau kan sudah punya Woobin. Jangan menggangguku,” kata Siwon bahkan tanpa menoleh pada satu-satunya adik yang dia miliki.

“Andai aku bisa menukarmu dengan Kyuhyun, Oppa,” ujar Jihyo menyulut emosi Siwon.

“Yaaak!”

Hamun mengelus tangan Siwon dengan lembut agar kekasihnya tidak menjadi lebih emosi. “Jihyo eonni hanya bercanda,” kata Hamun dengan tenang.

“Aku tidak sedang bercanda,” ujar Jihyo galak.

Hamun menatap Jihyo dengan tatapan memelas. “Eonni, aku mohon…”

Jihyo menghela nafas panjang. “Oooh baiklah, aku menarik kata-kataku.” Jihyo menatap Siwon dengan kesal. “Aku melakukannya karena aku menyayangi Hamun, bukan Oppa.”

Siwon tersenyum senang. Ia mengecup kedua pipi Jihyo dengan gemas membuat gadis itu terpaksa mendorongnya jauh-jauh. “Aku sudah besar, Opppaaaa!!!”

Siwon tertawa sambil mengelus kepala adiknya itu dengan penuh kasih sayang. “Aku tahu. Kau sudah berkali-kali ganti pacar. Aku tahu kau sudah besar,” kata Siwon. “Apa kabar Woobin?”

“Jangan menyebut namanya di depanku. Menemuinya jauh lebih sulit dibanding menemui Presiden. Aku kesal padanya! Aku akan menghajarnya habis-habisan begitu bisa bertemu dengannya.”

“Ah, mana mungkin. Begitu nanti ketemu eonni juga langsung meleleh,” ujar Hamun membuat Jihyo terpaksa menatapnya dengan sebal.

“Aku tidak seperti itu!” Elak Jihyo namun Hamun hanya tersenyum mengejek karena Jihyo benar-benar akan meleleh jika bertemu dengan Woobin

—-

Kesepuluh pria yang tidak muda lagi itu tidur bergelimpangan di dorm saking kelelahannya. Mereka tidak ada yang sanggup mengangkat pantat hanya untuk memindahkan diri mereka dari lantai yang keras ke tempat tidur yang empuk.

Sementara itu di tempat lain, sekelompok orang sibuk mengetik pada keyboard, mengupload foto, mengedit setiap huruf dengan teliti, menyusun letak-letak foto dengan benar, dan menghitung akurasi waktu dengan tepat. Jam 12 malam mereka memencet tombol ENTER.

To be continued