“Baby Hyuuuuun!!!” Seru Henry dengan girang saat melihat HyunAh muncul menemuinya dan langsung memeluk gadis itu dengan erat. “Gwencanayo?”

“I’m really okay. It’s fine. Waeyo, baby Hen?” Tanya HyunAh bingung.

“Humm… Aku khawatir dengan pemberitaan Dispatch. Aku takut kau kenapa-kenapa. Aku takut Super Girls…”

HyunAh tertawa santai. “Super Girls tidak akan kenapa-kenapa. Leaderku saja bahkan masih bisa bertengkar dengan pacarnya di saat sedang maskeran,” ujar HyunAh.

“Sungguh?” Tanya Henry.

“Sungguh. Sampai saat ini album kami belum mengalami penurunan. Aku tahu banyak komentar negatif fans kalian yang tidak rela tapi itu bukan masalah besar. Aku yakin Goddess tidak akan meninggalkan Super Girls,” jawab HyunAh.

Henry kembali memeluk HyunAh dan memberikan kecupan terbaiknya di kening HyunAh. “Aigoo Baby Hyun, aku akan menjadi Goddess nomor satu yang mendukungmu. Aku benar-benar salut padamu. Aku tidak salah jatuh cinta padamu…”

Henry mencubit pipi HyunAh dengan gemas. HyunAh tertawa meringis. HyunAh menangkupkan tangannya di wajah Henry kemudian mengecup bibir pria itu. “Kau lapar tidak? Aku mau membuat pancake. Kau mau mencobanya?” Tawar HyunAh yang tentu saja disambut senang hati oleh Henry.

“Kau pasti tahu aku tidak pernah bisa menolak masakanmu,” jawab Henry ceria. Ia menyengir memamerkan giginya, menunjukkan ia senang bisa mendapatkan masakan HyunAh seperti anak balita yang diperbolehkan makan permen oleh ibunya.

“Tunggu sebentar. Aku tidak akan lama,” ujar HyunAh yang langsung sibuk dengan peralatan masaknya di dapur.

Henry duduk di ruang santai sambil menonton televisi yang menayangkan dirinya. “What a narcisist. Bagaimana bisa kau menonton dirimu sendiri seserius itu, Oppa?” Tegur Jihyo.

“Jihyo!!! Maaf aku tidak menyadari keberadaanmu,” ucap Henry merasa bersalah tapi tetap saja ia tertawa.

“Kau mau kemana malam-malam begini?” Tanya Henry melihat Jihyo berpakaian rapi lengkap dengan tas jinjing mininya.

“Mana HyunAh eonni?” Tanya Jihyo.

Henry mengedikkan kepalanya ke arah dapur. “Dia sedang membuat pancake.”

“Malam-malam begini?” Tanya Jihyo heran.

“Lebih aneh mana? Masak pancake malam-malam atau keluar dorm malam-malam sendirian?”

Jihyo mendecakkan lidah dengan kesal. “HyunAh eonni benar-benar berpengaruh banyak padamu. Kau jadi ingin tahu urusanku. Cih! Aku akan pergi sebentar menemui Woobin Oppa. Tolong sampaikan pada HyunAh dan Hyejin eonni ya… Jangan lupa!”

“Okay. Aku akan menyampaikannya nanti,” kata Henry.

“Jangan lupa! Beneran! Mereka akan menghajarku kalau tiba-tiba aku menghilang,” tegas Jihyo sekali lagi.

Henry mengacungkan jempolnya kepada Jihyo. “Kau bisa mengandalkanku, Jihyo-ya.”

Jihyo tersenyum lebar. “Gomawo, Oppa. Kau memang teman yang baik. See you! Saranghae.”

—-

Jihyo masuk ke dalam mobil yang sudah menunggunya di basement. Mobil berisi Kim Woobin, pria yang paling ia rindukan saat ini.

“Oppa!!! Bagaimana bisa kau tidak menghubungiku sekali pun hari ini??” Protes Jihyo begitu melihat Woobin di depan matanya.

Woobin tersenyum santai yang dengan mudah meluluhkan Jihyo. “Jangan merayuku dengan senyuman itu. Aku sedang marah padamu,” lanjut Jihyo kesal.

Woobin tidak menghilangkan senyumnya. Ia justru meningkatkan kadarnya sehingga membuat Jihyo tidak sanggup lagi berkata-kata.

“Mian, nona evil-ku sayang. Hari ini dari pagi-pagi buta sampai tengah malam seperti ini aku harus syuting. Aku benar-benar tidak punya waktu. Untuk makan saja aku harus curi-curi waktu. Aku bahkan baru selesai membaca apa yang diberitakan Dispatch tentang kita. Maafkan aku ya?”

Jihyo menghela nafas panjang, merutuki kebodohannya yang begitu mudah luluh pada Woobin hanya karena senyuman pria itu yang terlalu mempesona. “Aku akan memaafkanmu tapi aku tidak pernah menerima permintaan maaf dengan tangan kosong. Aku menerima bunga, coklat, sepatu, jam tangan, cek…”

Cuup. Woobin mencium Jihyo tepat di bibir gadis itu. “Aku rasa kau tidak bisa menolaknya,” kata Woobin.

“Dasar tuan devil menyebalkan!!” Omel Jihyo diiringi suara tawa renyah Woobin.

“Oppa…” Panggil Jihyo pelan kepada Woobin.

“Waeyo?” Tanya Woobin sambil mengunyah donat coklat blueberry sisa tadi siang.

“Mengenai Dispatch pagi ini. Apa kau tidak masalah?”

Woobin menggelengkan kepalanya dengan mantap. “Aku tidak pernah masalah. Palingan mereka akan berkomentar sedikit lalu meninggalkan kita sendirian. Tenang saja…”

Jihyo menghela nafas panjang lagi. “Aku lupa kau bahkan mengakui punya pacar padahal kau baru saja debut. Ckckckckk.”

Woobin tersenyum tipis tapi itu mampu membuat Jihyo tidak tenang. “Jangan tersenyum seperti itu! Aku tidak suka.”

“Kau cemburu. Kalau kau mau, aku akan dengan senang hati mengakui ke publik kalau kita pacaran. Otte?”

“Andwe! Jangan berani-berani.”

“Nah kan! Kau sendiri yang tidak mau.”

Jihyo melenguh kesal karena tidak bisa lagi membalas perkataan Woobin. Untuk kesekian kalinya dalam 3 bulan belakangan ini Jihyo selalu kalah berdebat dengan Woobin.

“Kau terdiam. Aku rasa kau sudah semakin mencintaiku,” goda Woobin.

“Tidak,” sahut Jihyo kesal.

“Lalu? Kau masih mencintai Sungmin Oppa-mu itu?”

“Yaaak! Jangan sebut-sebut nama itu lagi di depanku!” Seru Jihyo galak.

“Wae? Apa dia sudah benar-benar melupakanmu? Dia tidak mendekatimu lagi?”

“Dia bahkan sudah punya pacar,” gumam Jihyo tidak bisa menyembunyikan kekesalannya.

Dengan senang, Woobin merangkul Jihyo dan mengecup kepala gadis itu dengan lembut. “Itu artinya aku sudah bisa hidup dengan tenang. Tidak ada lagi yang mengejar-ngejar gadisku…” Ujar Woobin sambil tersenyum lebar.

Dengan gemas, Jihyo mencubit perut Woobin. “Yaak!! Aku ini punya banyak fans tahu! Banyak yang mengejar aku!” Protes Jihyo.

Woobin tertawa mengejek. “Aku sudah mengalahkan mereka semua dengan mudah. Buktinya, kau sedang berada bersamaku sekarang.”

“Bisa saja aku berubah pikiran kalau kau terus-terusan besar kepala seperti ini.”

Woobin menangkup wajah Jihyo dan menatap ke dalam mata gadis itu. “Tidak mungkin. Aku tahu kau jatuh cinta padaku, nona evil Choi Jihyo,” kata Woobin pelan kemudian mencium Jihyo dengan lembut.

—-

Tanpa berdaya, Hamun keluar dari kamarnya dengan membawa setumpuk buku serta kertas-kertas yang penuh dengan tulisan dan gambar-gambar yang hanya dapat dimengerti olehnya dan teman-teman sejurusannya.

“Apa itu?” Tanya manajer Oppa melihat bawaan Hamun.

“Tugas kuliah,” jawab Hamun tidak bersemangatt.

MinAh, HyunAh dan Jihyo menatap tidak percaya pada apa yang disebut Hamun sebagai ‘tugas kuliah’.

“Sebanyak itu?” Tanya MinAh mulai mual.

Hamun menganggukkan kepalanya dengan malas. Ia lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa dan mengeluh betapa lelahnya ia harus aktif comeback sekaligus kuliah.

“Aku ingin cuti kuliaaaaaaah!!!!” Seru Hamun kesal.

“Cuti saja,” kata Jihyo.

“Tidak bisa. Sudah mau ujian akhir. Aku bisa mulai cuti semester depan. Hufff…” Hamun menghembuskan nafas putus asa. “Sudahlah tidak usah dibahas. Aku lelah. Apa jadwal kita hari ini?”

“Running Man. Seharian,” jawab Manajer Super Girls tanpa perlu melihat catatannya.

“Lalu kenapa kita belum berangkat? Aku ingin tidur di mobil,” kata Hamun sambil menguap.

Manajer Oppa mengedikkan kepalanya ke arah pintu kamar Hyejin. “Leadermu terlambat bangun,” katanya.

“Hyejin eonni terlambat bangun?”

Manajer Oppa melemparkan senyuman penuh arti kepada Hamun. Dengan cepat, Hamun menangkap maksud manajernya. “Oh ya, Kyuhyun Oppa tidur di sini semalam.”

—-

Hamun mungkin sudah menguap untuk keseratus kalinya hari ini. Tidak peduli saat ia sedang syuting atau break atau saat dia mengerjakan tugas di sela-sela syutingnya.

Puk! Rasa dingin tiba-tiba menjulur di pipinya. “Oppa,” kata Hamun senang melihat penyebab pipinya terasa dingin adalah susu coklat dingin yang dibawa Siwon sedang ditempelkan ke pipinya.

“Kau bekerja terlalu keras, jagi. Istirahatlah sebentar,” ujar Siwon sambil tersenyum. Pria itu mengambil kursi agar bisa duduk di sebelah Hamun.

“Yaaah mau bagaimana lagi,” sahut Hamun pasrah.

Siwon tersenyum. “Aku membawakan ayam goreng kesukaanmu. Jajjan!!” Seru Siwon sambil memamerkan ayam goreng bawaanya seperti anak kecil yang sedang memamerkan mainan baru kepada temannya.

Hamun menatap Siwon penuh penyesalan. “Aku sedang diet, Oppa…”

“Mwoooo?! Kau harus syuting, kuliah, kurang tidur dan kau masih harus diet?!! Mereka mau membunuhmu?!”

“Oppa…”

“Kau harus makan!” Paksa Siwon. Siwon membuka kotak ayam gorengnya dan mulai menyuapi Hamun.

Hamun menutup mulutnya rapat-rapat. Ia tidak mau sepotong ayam goreng merusak diet yang sudah dijalankannya berbulan-bulan. “Ehm-Ehm,” kata Hamun bermaksud mengatakan ‘tidak’ dengan mulut terkatup.

“Atau aku akan menciummu. Di sini. Sekarang,” ancam Siwon.

“Oppa…”

Hamun membuka mulutnya dan Siwon tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Siwon memasukkan sesendok nasi beserta ayam ke dalam mulut Hamun. “Telan,” perintah Siwon.

Hamun tidak bisa membantah. Ia mengunyah makanan itu sebentar lalu menelannya. “Kalau dietku gagal, Oppa harus tanggung jawab.”

“Aku sanggup bertanggung jawab atas seluruh hidupmu. Apalagi hanya masalah diet,” ujar Siwon lalu menyuapkan sendok yang kedua.

Hamun tersenyum. “Aku memang bisa mengandalkanmu, Oppa,” kata Hamun dengan bangga.

“Memang,” sahut Siwon.

Siwon terus menyuapi Hamun sembari Hamun menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya.

“Ayo kita mulai syuting lagi!!!” Seru Asisten Sutradara kepada member Running Man dan member Super Girls.

Mereka segera bersiap-siap. Hamun mengecup pipi Siwon sebelum bergabung bersama membernya yang lain. “Gomawo, Oppa.”

—-

Syuting Running Man kembali berlangsung. Tim dibagi menjadi dua. Girls Team dan Boys Team. Super Girls dengan Song Jihyo dalam Girls Team. Yoo Jae Suk, Ji Suk Jin, Lee Kwang Soo, Ha Ha, Gary dan Kim Jong Kook dalam Boys Team.

Sebagai main MC, Yoo Jae Suk memimpin acara. “Tampaknya berita Dispatch itu benar. Aku melihat Choi Siwon di sana,” kata Yoo Jae Suk sambil menunjuk ke suatu arah di depannya.

“Yaa Choi Siwon! Apa yang kau lakukan di sini? Kami tidak mampu membayarmu!” Seru Yoo Jae Suk diikuti dengan kamera yang mengarah kepada Siwon.

“Aku merindukanmu, Hyung!” Balas Siwon.

Kamera kembali menyorot Jae Suk. “Aku tidak yakin. Aku rasa aku akan mempercayai Dispatch,” kata Yoo Jae Suk sambil tertawa diikuti oleh member Running Man lainnya.

“Waktu pertama kali aku membaca berita itu yang pertama kali terlintas di benakku bukan ‘ini benar?’ Tapi ‘Bagaimana mereka bisa menyembunyikan hubungan mereka selama ini?'” Timpal Suk Jin.

“Hyejin-ssi, bagaimana bisa kau menyembunyikan hubungan selama 7 tahun?” Tanya Kwang Soo.

Hyejin mencoba tertawa dalam mulutnya. “Itu tidak seperti yang kalian pikir. Aku dan Kyuhyun sunbae hanya teman dekat,” jelas Hyejin.

“Eiiiish… Aku tidak percaya. Mana mungkin kalian hanya teman dekat, kalau kemana-mana berdua. Aku pernah melihat kalian berkencan di Dongdaemun,” kata Kwang Soo tidak percaya.

Siwon tertawa. Kamera menyorot lagi dirinya. “Apa kau bilang tadi, Siwon-ssi?” Tanya Jae Suk dari jauh.

“Mereka pasangan terburuk yang pernah aku lihat!!!!” Seru Siwon lalu kembali tertawa.

Jae Suk tertawa terpingkal-pingkal. “Sudahlah. Aku yakin kita akan mendapatkan jawabannya tidak lama lagi,” kata Jae Suk dan mulai benar-benar syuting Running Man.

—–

Hyejin ditemani oleh MinAh, mengunjungi kafe keluarga Kyuhyun hanya karena Hyejin begitu merindukannya padahal mereka baru berdebat hanya karena masalah masker.

MinAh memesan minuman sedangkan Hyejin menyelinap masuk ke dapur melalui pintu belakang. Hyejin berjalan mengendap-endap menuju Kyuhyun yang sedang merapikan gelas-gelas plastik. “Annyeong!” Sapa Hyejin setengah berbisik sambil memeluk Kyuhyun dari belakang.

Kyuhyun membalikkan tubuhnya dan balas memeluk Hyejin pada pinggang gadis itu. “Kau begitu merindukanku, humm?” Tanya Kyuhyun disambut anggukkan dari Hyejin.

“Aku begitu merindukanmu.” Hyejin menaikkan telapak kakinya di atas punggung telapak kaki Kyuhyun, mendongakkan kepalanya.

“Apa yang kau lakukan?” Goda Kyuhyun yang tahu betul apa yang diinginkan Hyejin.

“Menciummu. Tidak boleh?”

Kyuhyun menurunkan kepalanya, menjaga jarak antara bibirnya dengan bibir Hyejin agar mudah diraih. “Dengan senang hati,” bisik Kyuhyun.

Hyejin tersenyum dan sedetik kemudian dia berhasil menyelipkan bibir atas Kyuhyun di antara belahan bibirnya. Kyuhyun mengeratkan pelukannya dan mendesak untuk ciuman yang lebih intim.

“Kyuhyun-ah!!!” Seru Ahra sambil membuka pintu, membiarkan pintu itu menjeblak terbuka tanpa menyadari orang-orang di balik pintu itu dapat melihat jelas apa yang sedang dilakukan adik kesayangannya itu.

Kesempatan itu tidak disia-siakan. Beberapa blitz memancar menandakan ada yang mengabadikan momen itu. Refleks, Hyejin melepaskan diri dari Kyuhyun.

“Ottoke?” Tanya Hyejin cemas. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran tingkat tinggi. Tidak ada lagi yang bisa mereka sembunyikan.

—-

@SMTOWNGLOBAL Annyeonghaseyo yeorobun! Apa kabar? Sebenarnya, urusan privasi artis kami bukan urusan kami tapi saat ini kami datang untuk mengkonfirmasi berita yang ada setelah berkomunikasi dengan artis kami. Kami mengucapkan selamat kepada pasangan Song Hyejin ‘ Super Girls’ dan Cho Kyuhyun ‘ Super Junior’. Kami telah bertanya pada mereka dan mereka mengakui bahwa mereka sedang berada dalam hubungan yang serius. Kami mohon dukungan kalian.

Kkeut!!!

:*