Annyeong, esther back with this fanfiction. Hope you enjoy it🙂 Your comments are love for me❤

 

******

‘Kali ini, hanya disaat-saat seperti ini, aku tidak akan menahan perasaanku. Aku ingin memperlakukanmu selayaknya pria yang mencintai kekasihnya. Aku tak masalah jika pada akhirnya kau tak  pernah tahu perasaanku yang sesungguhnya. Aku akan menanggung rasa sakit itu asal aku bisa melihat kau tersenyum,’ gumamnya dalam hati.

******

“Annyeonghaseyo, Kang Hamun,” balas Donghae diiringi senyuman yang mampu meluluhlantahkan semua wanita.

“Annyeonghaseyo, Donghae sunbae,” jawab Hamun malu-malu. “Eng, ini untuk sunbae,” ujar Hamun sambil menyerahkan sebuah bungkusan. Donghae melihat isinya dan tersenyum. “Kau tahu darimana aku menyukai coklat ini?” tanya Donghae.

Hamun tampak salah tingkah dan berkata, “Aku bertanya pada Eunhyuk sunbae kemarin,”

Senyum Donghae tak memudar dari wajahnya terutama setelah ia tahu Hamun berbohong. Eunhyuk memang tahu kalau Donghae menyukai coklat, tapi hanya Hamun yang pernah ia beritahu jenis coklat apa yang ia suka. ‘Kau masih mengingatnya?’ tanyanya dalam hati.

Kini giliran Donghae yang memberikan sesuatu untuk Hamun. Ia menyodorkan sebuah gelas yang berisi Frapuccino Latte. “Aku tak tahu apa yang kamu suka, tapi semoga kau menyukainya,” kata Donghae.

Hamun terdiam karena kaget saat melihat pemberian Donghae. “Bagaimana sunbae tahu aku suka minuman ini? Ini favoritku,” tanya Hamun.

“Aku bertanya pada semua member SG kemarin,” jawabnya. Hamun tersenyum pada pria itu namun ia tak bisa mengabaikan perasaannya. Onniedulnya memang tahu Hamun menyukai kopi, tapi hanya pria itu yang pernah Hamun beritahu kalau Frapuccino Latte adalah favoritnya. Dulu, sudah sangat lama.

‘Mengapa jadi seperti ini? Hamun tenang, jangan terlalu dipikirkan. Donghae sudah berubah ia bukan Donghae oppa yang dulu. Ia tak sengaja membeli Frapuccino itu. Bukan karena ia masih ingat dengan perkataanku dulu,’ gumam Hamun.

“Hamun, kajja. Kita naik Roller Coaster. Kau suka, kan?” tanya Donghae.

“Ne, nomu joha,” jawab Hamun pura-pura bersemangat. Ia terlihat sangat bersemangat padahal hatinya sangat kalut. Sebisa mungkin, ia berusaha menghindari pria itu sampai akhirnya ia tak sadar kalau Donghae sudah tertinggal dibelakang.

Donghae berjalan seperti biasa di belakang gadis itu. Ia kembali menampilkan senyumnya saat melihat punggung gadis itu.

‘Kau tidak berubah sama sekali, Hamun,’ katanya dalam hati.

*****

Syuting hari itu berlanjut sampai mereka melihat rumah milik mereka berdua. Mereka mengisinya dengan perabotan rumah tangga dan membereskannya. Setelah semua itu selesai masing-masing dari mereka sepakat untuk membuat semacam perjanjian selama mereka menjadi sepasang suami istri.

Donghae membacakan isi kertasnya terlebih dulu, “Aku ingin Kang Hamun memanggilku ‘oppa’ bukan ‘sunbae’. Jangan ragu bilang padaku jika butuh pertolongan. Harus selalu cerita padaku jika kau punya masalah. Sudah, itu punyaku, Hamun,” ujar Donghae diikuti senyuman untuk Hamun.

Hamun membalas senyum itu dengan kikuk. Hamun baru menyadari kalau senyum itu membuat jantungnya berdebar kencang sedari tadi. Itu senyum yang sama seperti dulu, senyum yang mungkin ia nantikan selama ini. Hamun sendiri tak percaya tubuhnya masih bereaksi seperti itu hanya karena senyumannya. Sama seperti dulu, ia akan berusaha melakukan apapun hanya untuk melihat senyuman itu.

Hamun mengambil kertas miliknya dan membacanya sekilas, ia tak menyangka kalau ada beberapa bagian yang bunyinya sama seperi milik Donghae tadi. “Lee Donghae sunbae harus memanggilku tanpa menggunakan embel-embel -shi. Harus selalu jujur padaku jika punya masalah dan jangan ragu meminta pertolonganku karena Donghae shi sebagai orang dewasa pasti punya lebih banyak masalah. Aku ingin Donghae sunbae membaginya denganku, aku akan berusaha untuk membantu. Aku akan tidur tiap jam 10 malam dan tolong bangunkan aku jam 12 karena aku harus belajar atau mengerjakan tugas kuliah. Dan, mulai sekarang aku akan mencoba memanggilmu oppa. Selesai,” ujar Hamun diiringi tawa mereka berdua.

“Ayo kita tempel agar kita selalu ingat apa janji kita,” ujar Donghae. Ia beranjak dari tempat duduknya diikuti oleh Hamun. Donghae yang menempelkan dan Hamun yang memotong isolasinya. Donghae dan Hamun tersenyum puas saat melihat itu. Saat Hamun masih fokus dengan kertas itu, Donghae meliriknya dan menatap wajah gadis itu dengan penuh kasih seakan-akan ia sangat mencintai gadis ini. “Kau tetap seperti dulu ya, Hamun,  selalu memikirkan orang lain,” kata Donghae sambik mengelus kepala Hamun lembut.

Hamun bisa merasakan tubuhnya tercekat saat pria itu mengatakan sesuatu tentang masa lalu. Apa yang ia lakukan saat ini pun masih terasa sama seperti dulu. Kehangatannya dan ketulusannya. Tidak berubah sama sekali.

‘Semua hanya akting, Hamun. Apa yang ia lakukan semuanya ada di script,’ ujar Hamun dalam hati mengingatkan dirinya.

“Cut! Syuting hari ini selesai. Bagus sekali Lee Donghae dan Kang Hamun. Kalian persis seperti yang kami harapkan. Kalau begitu, kalian boleh siap-siap untuk istirahat dan kami akan memasang beberapa kamera di sekitar rumah ini,” ujar sang sutradara.

“Terima kasih semuanya, kalian sudah bekerja keras hari ini,” ujar Hamun untuk semua kru disana. “Ini makan malam untuk onniedul dan oppadeul, tadi aku titip Hyejin onnie untuk memesankannya,” lanjutnya sambil membagi-bagikan kotak makanan itu kepada semua kru dan juga Lee Donghae.

“Sunbae, makanlah,” kata Hamun.

Donghae mengambil kotak makan yang Hamun berikan sambil tersenyum, “Bukankah kita sudah berjanji tadi, kau akan memanggilku ‘oppa’ kan?” tanya Donghae.

Hamun kini tersenyum, tapi entah mengapa Donghae melihat adanya kesedihan di wajahnya. “Nice acting, sunbae. Aku sampai mengira kalau semua yang kau lakukan seharian ini adalah kenyataan. Tapi, sekarang kita tidak sedang syuting jadi sunbae tidak perlu memaksakan diri untuk bersikap lembut dan selalu tersenyum padaku,” ucap Hamun. “Selamat makan,” lanjutnya lalu beranjak pergi dari situ.

Donghae termenung di tempatnya. Matanya tak bisa lepas dari Hamun yang masih sibuk membagikan makanan itu. Tanpa ia sadari, bibirnya menyunggingkan senyuman lirih. ‘Sifatmu dan kebiasaanmu masih sama seperti dulu. Apa hatimu juga masih sama seperti dulu? Kurasa tidak, karena aku telah begitu melukainya,’ katanya dalam hati begitu ia mengingat ucapan Hamun tadi.

*****

“Oppa, oppa, gadis seperti apa yang kau sukai?”

“Aku suka gadis yang mungil, ceria, friendly, peduli dengan orang sekitarnya, bijaksana, tapi tak pernah sadar kalau ia punya semua kelebihan itu,”

Ia mengernyitkan dahinya. “Memang ada gadis yang seperti itu?” tanyanya.

Aku tertawa dalam hati lalu menyentil pelan dahinya. “Tentu saja ada. Buktinya, ia tidak sadar kalau aku sedang membicarakannya,” jawabnya.

Kini aku melihat wajahnya yang merona. Entah mengapa, kini aku juga merasa jantungku berdebar sangat kencang. Bukankah apa yang kukatakan barusan sama seperti pernyataan cinta? Aku harap ia sadar apa maksudku. “Maksud oppa, aku?” tanyanya malu-malu.

“Anak pintar,” ujarku sambil mengacak rambutnya.

“Apa itu berarti oppa menyukaiku?” tanyanya padaku.

“Ne, aku menyukainya. Sangat,” ujar sebuah suara lain yang membuat suaraku tenggelam. Tiba-tiba sosok gadis itu hilang dari hadapanku. Kini yang kulihat adalah Choi Siwon. Ia tersenyum malu-malu sambil berkata, “Kurasa aku sudah benar-benar menyukainya. Perbedaan umur kurasa bukan masalah besar. Bagaimana menurutmu Donghae? Apa aku punya kesempatan menjadi pacar Hamun? Kau akan membantuku untuk mendekatinya, kan? Tunggu, kau tidak punya perasaan apa-apa pada Hamun, kan?”

Belum sempat Donghae menjawab tiba-tiba sosok Siwon menghilang dan digantikan oleh gadis itu lagi. “Apa itu berarti oppa menyukaiku?” tanyanya lagi padaku.

“Tidak, aku tidak menyukaimu. Mana mungkin aku mencintai anak kecil sepertimu. Semua yang kuucapkan tadi hanya untuk membuatmu senang. Sejujurnya, yang aku suka adalah gadis yang dewasa dan seksi,” kalimat itu keluar dari mulutku begitu saja. Kini, ia menatapku dengan air mata yang menggenang di pelupuknya. Hatiku sangat sakit saat melihatnya menangis tersedu-sedu akibat perbuatanku. Aku ingin memeluknya tapi tidak bisa. Aku tak bisa menyentuhnya, berulang kali aku mencoba, berulang kali aku gagal.

Tiba-tiba Siwon muncul. Siwon memeluknya sangat erat dan membawa gadis itu pergi menjauh. “Kajima!” teriakku berulang kali tapi Siwon tak berhenti.

“Kajima!” seru Donghae sambil menjulurkan tangannya. Perlahan ia membuka matanya dan melihat tangannya yang terangkat ke udara. Ia bangkit dari tubuhnya dan menatap tangannya tadi. Tanpa ia sadari, setetes air mata mengalir saat ia mengingat mimpinya barusan.

‘Jangan tinggalkan aku, Hamun,’ gumannya dalam hati.

*****

TBC