Hope you still enjoy this part too ^^ inspired by tangisan abang Donghae di Evanesce hahaha

*****

“Kajima!” seru Donghae sambil menjulurkan tangannya. Perlahan ia membuka matanya dan melihat tangannya yang terangkat ke udara. Ia bangkit dari tubuhnya dan menatap tangannya tadi. Tanpa ia sadari, setetes air mata mengalir saat ia mengingat mimpinya barusan.

‘Jangan tinggalkan aku, Hamun,’ gumannya dalam hati.

*****

Ia melihat jam dindingnya yang menunjukan pukul setengah satu. Ia segera menghapus air matanya dan beranjak dari tempat tidurnya. Ia berjalan menuju ruang tamu untuk memastikan apakah gadis itu sudah terbangun.

“Mimpi buruk, sunbae?” tanya Hamun saat Donghae keluar dari kamarnya. Donghae melihat gadis itu sedang sibuk dengan laptopnya. “Ah, iya, tenang saja, aku sudah mematikan kamera di sekitar sini jadi kau tak perlu capek-capek berakting,” kata gadis itu dingin tanpa melihat Donghae.

Donghae menyentuh dadanya yang terasa sakit. ‘Apa kau merasakan sakit seperti ini tiap kali aku bersikap dingin padamu?’ tanyanya dalam hati.

Donghae berusaha untuk bersikap seperti dirinya yang dulu tanpa mempedulikan hatinya yang masih sakit atau pikiran Hamun yang menganggap itu semua hanya akting. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa selama Hamun menjadi virtual wifenya ia ingin memperlakukan gadis itu dengan istimewa. Ia tak mau melakukan kesalahan untuk kedua kalinya, ia tak mau menyakiti perasaan gadis itu lagi. Setelah semua ini berlalu, ia tak akan menyesal lagi. Dengan setulus hati ia akan menyerahkan gadis itu pada sahabatnya.

“Kau sedang mengerjakan tugas apa?” tanya Donghae. Ia berjalan mendekati Hamun dan duduk di sebelahnya saat ini.

“Psikologi perkembangan. Vygotsky dan Jean Piaget. Membandingkan keduanya,” jawab Hamun seadanya.

“Hm, apa susah? Kurasa tidak, kau pasti bisa mengerjakannya. Ada yang bisa kubantu?” tanya Donghae yang Hamun jawab dengan gelengan kepala.

“Bagaimana kabar orang tuamu? Mereka sehat-sehat saja? Sepertinya sudah lama aku tidak bertemu dengan mereka. Aku rindu masakan ibumu yang sangat enak itu. Ah, apa Choco masih hidup? Ia pasti sudah besar sekarang. Lalu, bagaimana kabar Sonrye sahabatmu itu? Dia kuliah dimana sekarang?” tanya Donghae.

Hamun kini mengalihkan perhatiannya dan menatap Donghae tajam. Donghae dapat melihat air mata gadis itu tertahan di pelupuk matanya, sama seperti gadis yang tadi ada mimpinya. “Apa maksud sunbae menanyakan semua hal itu? Apa maksudmu tiba-tiba bersikap baik seperti ini? Bukankah kau selalu dingin kepadaku selama 7 tahun terakhir ini? Kalau hanya karena acara ini, aku sudah bilang tadi, kameranya sudah kumatikan jadi kau tak perlu pura-pura peduli padaku,”

“Uljima,” ujar Donghae sambil menghapus air mata Hamun yang akhirnya mengalir. Donghae menggenggam tangan Hamun erat dan menatap manik mata Hamun. “Saat ini aku tidak sedang berpura-pura, Hamunie,” ujarnya. Tangannya yang tadi menghapus air mata Hamun ia gunakan untuk merapikan rambut gadis itu dan menyelipkannya kebelakang telinga Hamun. Ia mengelus pipi Hamun lembut dalam diam seakan ia sangat menikmati pemandangan yang ada di hadapannya saat ini.

“Aku rindu padamu. Aku rindu masa-masa saat kita bersama dulu. Sangat,” ujar Donghae.

‘Ting tong’ bunyi bel membuat mereka berdua tersadar. Hamun segera menepis tangan Donghae dan mengusap air matanya. Sedangkan Donghae, ia hanya menatap gadis itu dengan pilu. Hatinya sakit saat mengingat air mata Hamun tadi mengalir akibat dirinya.

“Kau mau kemana? Biar aku saja yang buka,” ujar Donghae yang ikut berdiri saat melihat Hamun bangkit dari tempat duduknya.

“Itu Siwon oppa,” balas Hamun lalu pergi meninggalkan ruang tamu.

Donghae kembali duduk di sova itu. Ia menengadahkan kepalanya menahan air mata yang memaksa keluar. Keberadaan sahabatnya itu mengingatkannya kalau baru saja ia melewati batasnya. ‘Donghae, kau harus ingat, Hamun bukan milikmu. Ia masih kekasih sahabatmu,’ katanya dalam hati.

*****

Hamun membuka pintu rumah sementaranya itu dan mendapati sosok yang paling ia rindukan saat ini, Choi Siwon. “Oppa,” gumam Hamun. Ia berharap kehadiran pria itu bisa membuat perasaannya lebih tenang. Ia hendak memeluk pria itu, namun keinginannya tertahan saat ia merasakan aura yang tidak enak dari Siwon.

“Kau sedang apa?” tanya  Siwon dengan intonasi yang tak biasa. Terkesan dingin, bahkan.

“Mengerjakan tugas, oppa. Waeyo?” tanya Hamun balik.

“Kau harus membatalkan kontrak acara ini,” ujar Siwon yang membuat dahi Hamun mengkerut. “Waeyo?” tanya Hamun tak mengerti.

“Aku tak mau kau menghabiskan waktu bersama Donghae,” jawab Siwon.

“Oppa, kau kenapa, sih? Lama tak muncul, tak memberi kabar, begitu muncul kau jadi sangat dingin dan seenaknya seperti ini. Apa yang terjadi?” tanya Hamun yang sedikit kesal dengan sikap Siwon. Bukan ini yang Hamun harapkan dari Siwon saat ini.

“Oh, jadi, kau lebih senang jika menghabiskan waktu berdua saja dengan Donghae seperti sekarang ini?” tanya Siwon yang lebih terkesan menyindir.

Hamun menganga tak percaya mendengar kalimat itu keluar dari mulut kekasihnya. “Oppa, bukan begitu. Aku tak bisa seenaknya membatalkan kontrak ini. Hanya empat bulan, oppa, dan itu tak akan mengubah apapun. Jika aku membatalkannya, perusahaan harus membayar denda,” ujar Hamun berusaha meredam emosi Siwon.

“Aku yang akan membayar dendanya, kau tak perlu memikirkan itu. Sekarang, ayo pulang denganku,” ujar Siwon sambil menggenggam tangan Hamun.

“Lepaskan tanganku, oppa. Aku tak suka dengan sikapmu yang seperti ini,” ujar Hamun dengan tegas. “Apapun yang kau katakan, aku tak akan membatalkan kontrak ini. Aku harus bersikap profesional, oppa. Lagipula, apa yang kau takutkan? Kau tak percaya pada perasaanku? Kau cemburu?” tanya Hamun yang masih berusaha mengendalikan emosinya.

“Bagaimana aku bisa percaya padamu kalau kau akan menghabiskan hari-harimu dengan Donghae? Apa kau bisa menjamin kau tidak akan jatuh cinta lagi padanya? Kau pernah sangat mencintainya, Hamun!” seru Siwon.

“Oppa! Itu semua masa lalu. Apa tak bisa kau percaya padaku, ha? Kau juga tahu kalau Donghae sunbae tidak menyukaiku! Jangan bersikap childish, oppa! Aku selalu melakukan hal itu setiap kali melihat berita miring tentang kau dan lawan mainmu di drama atau film apapun. Mengapa kau tak mencoba hal itu?!” seru Hamun kesal. Ia kesal karena Siwon begitu seenaknya, menyangsikan perasaannya, dan membahas hal yang paling pantang ia dengar saat ini. Apa ia tak tahu kalau Hamun sudah berusaha keras untuk melupakan semua itu? Apa ia tak tahu betapa sakit hatinya saat melihat Siwon digosipkan dengan gadis lain? Ia berusaha memendam semua perasaan itu agar tidak merepotkan kekasihnya itu. Mengapa ia tak mencobanya?

“Mworago? Kau bilang aku childish? Yaa! Kau itu yang masih kecil tapi selalu sok dewasa! Jadi, sekarang kau menuntutku supaya jadi seperti yang kau mau, ha?!” tanya Siwon yang meninggikan suaranya.

“Yaa, oppa! Berhenti berbicara padaku dengan intonasi seperti itu! Kau tahu aku tak suka diperlakukan seperti itu!” ujar Hamun tak kalah kesal.

Siwon mendengus dan berkacak pinggang. “Anak kecil tetap saja anak kecil. Kau selalu saja seperti ini, selalu membuatku repot dan tak tenang. Apa kau tak bisa sedikit saja memahami perasaanku?”

Hamun terdiam mendengar perkataan yang Siwon lontarkan barusan. Ia tak kuat menahan emosinya ketika kalimat-kalimat itu terucap. Hamun merasa tersakiti oleh apa yang Swion ucapkan dan kini air matanya mulai mengalir. Bukan ini yang ia harapkan setelah sebulan lebih tidak berteu dengan kekasihnya itu.

Hamun menghapus air matanya. “Baiklah, lebih baik aku yang mengalah. Pria ini selalu merasa dirinya benar,” ujar Hamun pada dirinya sendiri dan jelas sekali menyindir Siwon. Hamun melepaskan tangan Siwon yang sedari tadi menggenggamnya. “Kalau hanya itu yang mau oppa katakan, lebih baik oppa segera kembali ke Beijing dan bertemu dengan Han Joya” lanjutnya.

“Aku tak mau tahu, kau harus membatalkan kontrak dengan acara ini. Aku akan bilang ke appa,” tegas Siwon.

“Aku tak akan mendengarkan ucapan seseorang yang baru saja menyebutku sebagai anak kecil yang merepotkan. Apa oppa tak ingat siapa yang dulu mengejar anak kecil yang merepotkan ini? Apa kau tak ingat kalau kau berjanji akan selalu siap menerima segala resikonya jika berpacaran dengan anak kecil ini?”

Siwon terdiam di tempatnya. “Kalau ternyata aku memang merepotkan dan kau tak tahan, putuskan saja aku,” ujar Hamun dengan tegas namun ia tak bisa menahan air matanya yang menderas.

“Siwon ah, cukup,” ujar sebuah suara yang sangat Siwon kenal. Pria itu berjalan semakin mendekati Hamun tak hanya itu, ia juga menarik Hamun ke dalam pelukannya.

“Jangan menyentuhnya!” seru Siwon. Ia sudah beranjak dari tempatnya untuk menarik Hamun dari pria itu.

“Apa kau tak sadar kalau kau baru saja melukainya?” tanya Donghae sambil mengeratkan pelukannya pada Hamun. Ia tak peduli jika kaosnya sudah basah dengan air mata Hamun yang tak kunjung berhenti.

“Kau pasti lelah makanya kau tidak bisa berpikir jernih. Pulanglah,” ujar Donghae.

Siwon tak berkutik saat melihat Donghae menatapnya dengan mata yang tersakiti. Seakan-akan, pria itu bisa merasakan apa yang Hamun rasakan. Akhirnya, Siwon pergi dari tempat itu. Saat di mobil, pikirannya tak bisa berhenti mengulang kejadian tadi. Ia sangat ingat kalau Donghae pernah mengatakan bahwa ia tak pernah menyukai Hamun karena gadis itu bukan tipenya, tapi saat melihatnya memeluk Hamun tadi dan saat mata Donghae menatapnya, mengapa semuanya itu terasa benar? Benar bahwa pria itu mencintai Hamun lebih dari siapa pun. Bagaimana mungkin?

*****

TBC