By @gurlindah93

 Sebelum baca FF ini baca ‘Delivery Man’ & ‘Delivery Promise’ dulu yaa..😉

1 Desember 2014.

“Min…. Sekarang sudah jam 11 kurang 5, kamu ada janji dengan Junghyuk oppa kan?” ShinAe menggoyang-goyangkan tubuhku.

“Mwo?” aku langsung terbangun mendengar kata-kata ShinAe.

Langsung saja aku ke kamar mandi mencuci muka, tidak sempat menyisir rambut aku mengikat cepol rambutku dengan asal-asalan. Hanya dalam waktu 2 menit aku sudah siap.

Kunyalakan laptopku dan log in ke account skype milikku dengan tidak sabar. Tepat saat skype-ku berhasil tersambung, Junghyuk menghubungiku.

“Hi there…” sapaku.

“MinAh.. Kamu terlihat… Kacau.. Hahahaa” balasnya lalu tertawa.

Aku cemberut “Yaaaaa stop it. Aku ketiduran, biasanya kan aku tidak pernah ketiduran kalau akan bertemu denganmu. Ah sudahlah jangan tertawa lagi”.

“Hahahahaa mian.. Aku tidak akan tertawa lagi… Memangnya ada apa sampai kamu ketiduran?” tanyanya.

“Hari ini ada ujian praktek yang sungguh melelahkan. Tadi malam seperti biasa aku tidur jam 11 lalu bangun dan mulai belajar jam 1 pagi, kemudian tidak tidur lagi sampai tadi saat menunggumu ternyata aku ketiduran. Ingat ya, aku bukan tidur tapi ketiduran” ujarku membela diri.

Sejak Junghyuk berangkat ke Inggris untuk kuliah di salah satu Universitas di London, 2 sampai 3 kali seminggu kami selalu bertemu melalui skype. Perbedaan waktu adalah kendala terbesar kami, oleh sebab itu kami selalu membuat janji kapan dan jam berapa kami akan bertemu agar tidak terlalu mengganggu waktu salah satu dari kami.

“Lalu bagaimana dosen killermu?” pria ini luar biasa, dia mengingat semua ceritaku sampai hal paling kecil. Dia ingat siapa saja nama dosenku, ujian apa yang membuatku paling stress, bahkan dia mengingat nomer mahasiswaku.

“Aaaaahhh jangan bicarakan dia lagi, kemarin dia memberi tugas yang harus dikumpulkan minggu depan. Padahal tugasnya itu tidak mudah. Aiiiiissshhhh” omelku.

“Eeeeeeyyyy jangan mengumpat. Dikerjakan saja, dia memberi tugas kan untuk kebaikanmu. Kalau sedang di Seoul aku pasti akan langsung ke apartmentmu dan menemanimu mengerjakan tugas” mendengar kata-katanya aku tersenyum bahagia “Gomawo….”.

Tiba-tiba latar belakang Junghyuk terlihat ramai.

“Mianhae, ini aku masih di kelas jadi teman-temanku masih banyak yang berkumpul untuk mengerjakan tugas kelompok. Mereka selalu berisik kalau mengerjakan tugas” katanya sambil berbisik-bisik. Padahal tanpa berbisikpun teman-temannya tidak ada yang mengerti pembicaraan kami.

“Eric! What are you doing?” tanya seseorang dari jauh. Junghyuk menoleh padanya “Chatting hehee” jawab Junghyuk sambil menyengir.

“Hello” seorang pria tanpa kuduga muncul di layar sambil melambaikan tangan, “Omo! Hi… Hello” balasku sambil melambaikan tangan juga.

“Annyeonghaseyo” ucapnya. Aku tertawa mendengarnya berbicara bahasa Korea “Annyeonghaseyo” sahutku.

“Are you Marie?” pria dengan rambut pirang dan mata hijau ini sungguh menawan. Aku mengangguk “Yes, I’m Marie Park. Nice to meet you”.

“I’m Matthew Richards from US, Eric’s roommate” dia memperkenalkan dirinya.

Aku sudah sering mendengar cerita tentangnya dari Junghyuk. Kata Junghyuk dia teman yang baik sekali, selalu membantu Junghyuk beradaptasi dengan kehidupan di Inggris.

“Hello Matthew, Eric already told me about you” sahutku. “Wow, I hope he told you the good side of me. But actually I’m a nice person hahahaa” ternyata benar, Matthew memang orang yang menyenangkan dan lucu.

“Hahahhaaa you’re so funny” komentarku. Junghyuk langsung mendorong Matthew menjauh dari layar “Hey what’s wrong, I’m in the middle of chatting with this sweet lady” kata Matthew. “Go awaaaayyyy” perintah Junghyuk.

“Hahahaa he’s jealous. Hey Marie, are you Eric’s girlfriend?” Matthew masih berusaha mengobrol denganku, kepalanya berusaha menjangkau camera walau dihalang-halangi Junghyuk.

“No” kataku.

“Yes” kata Junghyuk.

“Oooopppssss, different answer. Okay, I’ll go now before he kills me. Bye Marie, see you very soon” teriak Matthew lalu menghilang.

Aku masih tertawa melihat tingkah laku Matthew.

“Yaaaaa jangan tertawa lagi. Hentikan” ujar Junghyuk dengan kesal.

“Memang kenapa? Dia kan lucu” balasku.

“Aaaahhh sudah diam, sekarang giliranku cerita” lalu Junghyuk mulai bercerita kegiatannya selama di Inggris.

***

24 Desember 2014.

Hari ini aku akan bertemu dengan Junghyuk jam 8 pagi, itu artinya masih jam 12 malam waktu Inggris.

“Hi…” sapaku. Junghyuk terlihat mengantuk sekali. Matanya kemerahan dan kantong matanya semakin besar, pasti akibat belajar terus menerus.

“Hi…” balasnya.

“Gwenchana?” aku tidak tega melihat keadaannya.

“Gwenchana. Hanya sedang banyak tugas dan paper yang harus diselesaikan dalam waktu singkat. Waaahh kamu segar sekali, ada rencana pergi di malam natal ini?” mendengar pertanyaannya aku malah semakin sedih. Junghyuk harus melewati natal jauh dari keluarganya.

“Wae?” dia menyadari ekspresi wajahku yang mungkin nampak sedih.

“Are you really okay? Kamu sendirian di sana…” bisikku tidak berani menatap Junghyuk.

“Yaaaaaa nan gwenchana MinAh-ssi… Jangan memikirkanku. Nanti malam aku ada acara di kampus bersama teman-teman, membagikan hadiah ke panti asuhan dekat kampusku jadi aku tidak akan kesepian. Bagaimana denganmu?” nadanya terdengar sungguh-sungguh.

“Jeongmal?” aku menatapnya dan dia memang terlihat jujur. Dia mengangguk sambil tersenyum.

“Aku ada rencana makan malam bersama eomma dan appa. Mereka akan menginap di rumah bibiku malam ini, tapi besok mereka langsung pulang karena pekerjaannya tidak bisa ditinggal” kataku.

“Jota… Jadi malam ini kita tidak akan sendirian kan??? Tersenyumlah, aku suka melihat senyummu” dengan tersipu aku menyunggingkan senyum.

“Sepertinya kamu lelah sekali, tidurlah. Aku juga harus menjemput orang tuaku di stasiun kereta” kalau boleh jujur, aku ingin terus mengobrol dengannya tapi aku tidak tega melihatnya menahan kantuk seperti itu.

“Okay… Have fun and merry Christmas Marie Park” ucapnya.

“Have fun and merry Christmas Eric Mun. Have a nice dream” balasku.

“I’m gonna dream about you tonight. Bye” lalu dia memutuskan sambungan.

“I dreamt about you too last night” bisikku pada layar di hadapanku yang kini kosong.

***

16 Februari 2015.

Jam 10 malam ini aku akan bertemu Junghyuk.

Tidak seperti biasanya hari ini aku mandi, memakai baju favoritku, berdandan, bahkan memakai parfum sebelum bertemu dengannya.

“Apa kamu gila? Untuk apa pakai parfum segala, dia tidak akan menyadarinya” komentar ShinAe saat melihatku sibuk di meja rias.

Aku menatapnya dengan tatapan ‘aku tidak peduli’, ShinAe mengangkat bahu lalu pergi dari kamarku.

Tepat jam 10 kami bertemu. “Hi…” sapaku.

“Wow, you look…” kupotong kata-katanya “Happy birthday” kataku dengan senyuman paling manis yang bisa kulakukan.

Untuk pertama kali selama aku mengenal Mun Junghyuk, wajahnya memerah. Dia menatapku dengan tersipu “Thank you… Tapi dari mana kamu tahu?” tanyanya dengan heran.

“Ra-ha-sia” jawabku lalu mengedipkan mata.

Wajahnya semakin memerah, dan aku yakin itu bukan karena kedinginan. Hahaha aku suka menggoda pria ini.

“Mana hadiahku?” Junghyuk menengadahkan tangannya.

“Tada!” aku menunjukkan sebuah kotak dengan 4 cupcake di dalamnya bertuliskan ‘Happy’, ‘Birthday’, ‘Eric’, dan ‘yaaaa’.

“’Yaaaa’?? Kenapa kamu tidak sopan sekali? Aku kan lebih tua darimu, berani sekali kamu memanggilku ‘yaaaa’” dia memanyunkan bibirnya.

“Sebenarnya aku minta 3 cupcake saja, tapi kata pegawainya 1 kotak minimal berisi 4 cupcake. Aku bingung harus ditulis apa jadi kutulis ‘yaaaa’ saja” kataku membela diri.

“Kenapa tidak tulisan ‘oppa’, atau gambar hati, atau simbol titik dua dengan bintang saja?” tanyanya lagi.

Aku membelalakkan mata “Apa maksudmu? Aneh ah..” apa dia mengharapkan aku memberinya simbol-simbol cheesy seperti itu?

“Aneh bagaimana? Kita kan sudah pernah ciuman” ujarnya santai.

Kali ini wajahku yang memerah “Yaaaaaaaaaa!! Sssssshhhhhhh… Jangan keras-keras” aku menoleh ke sekeliling kamar dengan panik, takut tiba-tiba ShinAe masuk ke kamarku.

“Hahahaha lalu bagaimana caraku memakannya?” dia memandang hadiahnya dengan memelas sepertinya ingin sekali memakannya.

“Akan kuwakilkan” jawabku dan langsung memakan cupcakenya. “Yaaaaaa tapi aku juga ingin… Yaaaa Park MinAh! Jangan makan terus, sisakan untukku” Junghyuk terus berteriak seperti anak kecil.

***

9 Maret 2015.

“MinAaaaaaahhhhh!!!” teriak ShinAe di telingaku.

“Wae wae wae???” aku langsung terduduk mendengar teriakan temanku dengan mata setengah terpejam.

“Kenapa kamu belum bangun??? Sekarang sudah jam 8, bukannya kamu harus bertemu Junghyuk oppa?” mendengar kata-katanya membuatku membuka mataku lebar-lebar.

“ShinAe!!!! Kenapa kamu tidak membangunkanku dari tadi??? Aku belum mandi.. Ottokae???” aku langsung bangkit dari tempat tidurku dan menyalakan laptop. Sudah tidak ada waktu lagi bahkan untuk sekedar mencuci muka.

“Aku sudah membangunkanmu sejak jam 6 MinAh-ssi.. Ah sudahlah, aku mandi dulu” ShinAe pergi meninggalkan kamarku.

“Gomawo” teriakku. “Eoh” jawabnya.

“Hi….” sapaku.

Junghyuk melihatku dengan bingung lalu tertawa terbahak-bahak.

“Wae?? Wae???” tanyaku bingung.

“Apa kamu…. Baru bangun?” tanyanya sambil tertawa. “Eoh. Lalu kenapa? Ah tidak usah membahas penampilanku” sahutku kesal.

Junghyuk mengalihkan pandangannya dari layar “Apa kamu.. Tidak ingin ganti baju atau memakai kemeja atau yang lainnya? Mmmmmm dari sini terlihat jelas” katanya tanpa melihatku.

Aku mencerna kata-katanya, lalu kulihat baju yang kupakai “Aaaaaaaaaaaaaccccckkkkkkk!!!!!” teriakku.

Semalam aku tidur dengan memakai tanktop dan karena terburu-buru aku lupa menggantinya  sebelum bertemu dengannya “Jakkaman!!! Jangan mengintip!!!”. Segera kuambil kemeja yang pertama kulihat lalu kupakai di luar tanktopku.

“Sudah” kataku. Junghyuk mengembalikan pandangannya ke layar lalu memasang tampang kecewa “Yah, mending tidak usah kuberitahu ya…” ujarnya.

“Yaaaaaaa jangan berpikiran kotor ya” seruku sambil memelototinya.

Dia menunjukkan giginya yang rapi “Sudah terlanjur” balasnya pendek.

“Yaaaaaaaaa!!! Kumatikan nih” ancamku.

“Andwae!! Hehehee… Hanya bercanda” katanya.

Aku masih memanyunkan bibirku.

“Happy birthday Marie…” dia menatapku dengan mata berbinar-binar.

Ah benar sekali, hari ini adalah hari ulang tahunku itu sebabnya dia memaksa untuk bertemu saat ini, karena di London saat ini jam 12 malam tepat pergantian hari.

“Thank you“ balasku dengan gembira.

“Kamu tidak ingin kado dariku?” tanyanya. Aku menggeleng “Percuma, aku tidak bisa memilikinya sekarang” jawabku.

“Lihatlah di tempat tidurmu” Junghyuk menunjuk tempat tidurku, aku menoleh mengikuti arah tangannya.

Di tempat tidurku ada sebuah kotak, dengan secepat kilat aku mengambilnya lalu membukanya di depan Junghyuk.

Isinya sebuah kalung dengan liontin ‘M’ yang sangat indah.

“Ini darimu?” dia mengangguk. “Jinjja????” tanyaku sekali lagi.

“Aigoo.. Kenapa kamu tidak percaya padaku sih? Aku membelinya di Inggris, lalu dengan sedikit bantuan dari Kwangmin dan ShinAe kalung itu ada di tempat tidurmu” ucapnya.

Aku menatapnya dengan terharu “Gomawo….”.

“Aaaaaahhh kalau saat ini aku ada di hadapanmu, kamu pasti langsung memelukku kan?” Junghyuk tersenyum dengan jahil.

“Kamu terlalu GR” kataku yang membuatnya tertawa terbahak-bahak.

***

1 Januari 2016.

“Hi…” sapaku.

“Happy new year” katanya lalu meniup terompet yang dia bawa.

“Hahahahaa happy new year…” balasku, tapi aku menatapnya dengan gelisah.

“Wae?” tanyanya.

“Kapan kamu pulang?” Junghyuk nampak kaget dengan pertanyaanku“Molla… Wae?”.

“Aku akan wisuda tanggal 19 Agustus. Apa kamu belum pulang saat itu?” aku tahu pertanyaanku akan membebaninya, tapi aku tidak bisa bohong kalau aku ingin Junghyuk ada di sampingku saat itu.

“Sepertinya belum. Agustus itu malah bulan sibuk karena aku harus menyiapkan thesis. Mungkin paling cepat aku akan pulang bulan September” jawabnya.

Aku menghembuskan nafas kecewa.

“Mianhae.. Gwenchana?” dia nampak merasa bersalah.

Kupasang senyum termanisku dengan terpaksa “Gwenchana.. Tidak usah memikirkan aku” ujarku.

***

19 Agustus 2016.

Hari yang sangat penting bagikupun tiba.

Walaupun kedua orang tuaku menghadiri wisudaku, tapi terasa tidak lengkap dengan absennya seseorang yang berarti bagiku.

Untuk menggantikan kehadirannya aku memasang kalung dengan liontin ‘M’ di hari bahagiaku ini.

Sepanjang acara wisuda aku terus mengecek smartphoneku, tapi sepanjang hari ini hanya ada 1 pesan yang berasal darinya.

‘Congratulations! Wish you all the best for your future. PS: Wait for me’

Aku tersenyum membacanya, hanya dengan membacanya saja aku merasa bahagia. Lalu dengan terpaksa kumatikan smartphoneku agar tidak mengganggu konsentrasiku.

Selesai acara aku mencari-cari kedua orang tuaku karena aku ingin segera pulang. Kulihat mereka berada di pojok ruangan sedang berbicara dengan ShinAe yang wajahnya pucat.

“ShinAe-yaaa.. Wae geurae??” tanyaku pada ShinAe.

ShinAe menatapku lalu menatap kedua orang tuaku.

Appa menghela nafas dengan berat “MinAh, hari ini Junghyuk pulang” kata appa.

“Jinjja????? Di mana dia? katanya bulan depan baru pulang… Kenapa tidak menemuiku? Aaaahhh dia pasti ingin memberiku kejutan” aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan tapi tidak menemukan sosok yang kurindukan.

“Ternyata dia bisa lulus lebih cepat dari jadwal setelah berusaha keras karena dia sangat ingin datang di saat kamu wisuda. Tapi……” ShinAe mengatakannya dengan bergetar.

“Tapi pesawatnya mengalami kecelakaan saat akan mendarat di Incheon. Sampai saat ini dia belum ditemukan karena pesawatnya terbakar” eomma melanjutkan perkataan ShinAe sambil menatapku dengan sedih.

Aku menggenggam kalung pemberiannya lalu segalanya menjadi gelap.

***

Penasaran sama lanjutannya? Baca ‘Delivery Love’🙂

Enjoy ^^