By @gurlindah93

 

“MinAh-yaaa aku pinjam tugasmu dong…”

Aku menoleh ke arah suara itu. 5 orang gadis masuk ke dalam kelas, Song Hyejin, Choi Jihyo, Jung HyunAh, Kang Hamun, dan gadis yang sejak awal kuliah sampai semester 8 ini selalu kuperhatikan diam-diam.

Gadis pandai tapi pendiam sehingga lebih suka bersembunyi di balik teman-temannya. Dia tidak pernah berpacaran karena sangat tertutup dengan pria jadi tidak ada yang bisa mendekatinya.

Bagaimana aku bisa tahu? Karena aku menyukainya, tidak, aku mencintainya sejak pertama kali melihatnya.

Aku tahu segala hal tentang dia. Kadang-kadang aku mengikutinya, bukan untuk membuntutinya tapi karena aku ingin menjaganya walaupun hanya dari jauh.

Sama seperti gadis itu aku juga belum pernah berpacaran, tapi bukan karena tidak percaya diri. Aku termasuk orang yang oleh psikolog disebut memiliki sindrom anti sosial. Untuk pertama kalinya aku mensyukuri keadaanku sejak divonis oleh psikolog saat masih SMP, dengan perilaku anti sosialku ini tidak ada yang menyadari keberadaanku termasuk saat aku memperhatikan atau mengikuti gadis itu.

“Junghyuk, ini fotocopyan bahan untuk UAS” Jihyo memberiku fotocopyan yang cukup tebal. Kuterima lalu kumasukkan ke dalam tas.

Tapi dia tidak beranjak dari hadapanku. “Di mana rasa terima kasihmu?” tanyanya dengan sinis sambil melipat kedua tangannya di dada. Aku diam saja.

“Jihyo ada apa? Ayo cepatlah kemari, katanya mau pinjam tugasku” gadis itu memanggil Jihyo.

Hanya dengan mendengar suara gadis itu aku merasa bahagia. “Yaaaa malah senyum-senyum… Dasar… Awas ya” kata Jihyo sebelum meninggalkanku.

Kulihat wallpaper smartphoneku, foto gadis itu sedang tersenyum saat teman-temannya memberinya surprise party di ulang tahunnya 3 tahun lalu.

***

Hari ini adalah hari Selasa yang artinya gadis itu akan pulang sendirian karena harus mengikuti les bahasa Prancis setelah kuliah.

Seperti biasa aku mengikutinya sampai tempat les dan menunggunya di sebuah gang dekat tempat lesnya sampai dia selesai les jam 6 sore.

Tapi sampai jam 6.30 dia belum keluar juga, aku mulai khawatir. Kuputuskan untuk masuk dan memeriksanya.

“Jeogiyo, ada yang bisa saya bantu?” tanya seseorang di belakangku saat aku berada di lobby. Aku menoleh padanya, ternyata seorang wanita paruh baya “Ah ne.. Mmmmm apa kelasnya belum selesai?” wanita itu memperhatikanku dari atas sampai bawah. Aku baru sadar kalau aku masih memakai hoodie untuk menutupi wajahku, kubuka hoodieku lalu kupaksakan tersenyum agar dia tidak memanggil security.

“Hari ini semua kelas dapat tambahan 1 jam karena 2 minggu lagi ada tes berskala internasional yang wajib diikuti mereka. Siapa yang kamu cari? Mungkin bisa kupanggilkan” ujar wanita itu sambil tersenyum ramah.

“Aaaahh gwenchana, aku akan menunggu di depan. Gamsahamnida” balasku lalu buru-buru pergi dari tempat itu.

Aku kembali ke gang tempatku biasa menunggu sampai jam 7 malam.

Jam 7 malam aku mengintip dan benar saja semua peserta les keluar bersamaan. Tapi aku bisa dengan mudah mengenali punggung gadis itu, kupakai kembali hoodieku dan mengikutinya dengan jarak yang cukup dekat tapi tidak menarik perhatiannya.

***

“Hyun kamu kenapa?” tanya gadis itu pada HyunAh di hari pertama UAS. Mereka duduk di depanku tapi seperti biasa tidak menyadari keberadaanku. Saat ini walaupun taman di belakang kampus cukup ramai aku bisa mendengar mereka karena pendengaranku yang cukup bagus.

“Ujiannya sulit sekali” jawab HyunAh dengan nada sedih. “Aku juga tidak bisa mengerjakannya tapi mau apa lagi” sela Hyejin dengan santai. “Nado hahahaaa” Jihyo ikut berkomentar.

Gadis itu dan Hamun saling memandang lalu mengangkat bahu mereka, sepertinya tidak tahu harus berkata apa karena sebagai 2 mahasiswa dengan nilai tertinggi mereka pasti bisa mengerjakan dengan mudah.

“Sudaaahh ayo semangat.. 1 jam lagi masih ada ujian kedua.. Ayo kita belajar” ajak Hamun pada teman-temannya.

Pulangnya aku menunggu sampai gadis itu pulang bersama Jihyo karena rumah mereka dekat. Setelah mereka naik mobil baru aku pulang dengan sepedaku.

***

Hari Selasa ini gadis itu akan mengikuti tes berskala internasional, dia memakai dress bunga-bunga dan ditambah dengan riasan tipis yang memang selalu dia pakai setiap Selasa membuatnya semakin terlihat segar dan cantik. Aku menebak dia berdandan karena akan mengikuti les sehingga harus tetap terlihat segar setelah kuliah.

Saat sedang mengikutinya aku melihat 3 orang pria tiba-tiba berada di belakangnya, dari gerak-geriknya aku yakin pria-pria itu memiliki niat buruk pada gadis itu.

Saat berada di gang yang sepi tanpa berpikir panjang aku mendatangi mereka “Jauhi gadis itu” ancamku. “Atau apa?” tantang pria yang bertubuh paling besar.

Buk!

Seseorang memukul punggungku, aku terjatuh tapi bisa menjegal pria lainnya lalu memberinya pukulan.

Sebisa mungkin aku melakukan defense karena pria-pria ini tidak memberiku kesempatan untuk menyerang. Yang kupikirkan hanyalah bagaimana cara agar gadis itu menjauh sehingga pria-pria ini tidak bisa melaksanakan niat buruk mereka jadi dia bisa mengikuti tes yang sangat penting baginya.

Walaupun cukup ahli dalam taekwondo, tapi aku kesulitan meladeni 3 pria dengan tubuh seperti bodyguard ini. Kesadaranku mulai hilang, mereka menendang perutku sampai aku tidak bisa berdiri lagi. Kalaupun kehilangan nyawa di sini, aku bisa menerimanya. Demi gadis itu.

Sayup-sayup kudengar ada yang menjerit, lalu diikuti sirene polisi. Sebelum kehilangan kesadaran aku melihat bayangan kemudian tanpa kusadari aku bergumam “Kamu.. Terlihat.. Cantik…” dan semua menjadi gelap.

Jika nanti saat terbangun aku berada di surga, aku akan meminta pada Tuhan untuk selalu menjaga gadis itu.

***

Aku mencium bau menyengat yang membuatku membuka mata perlahan. “Junghyuk.. Syukurlah kamu sudah siuman…” aku mendengar eommaku berkata dengan cemas. “Suster, anakku sudah bangun” teriak eommaku. Kutebak saat ini aku berada di rumah sakit. Jadi aku belum mati.

“Eomma.. Aku masih hidup?” tanyaku. Eomma langsung memukul lenganku dengan pelan “Bicara apa kamu ini. Tentu saja masih hidup! Kamu tidak boleh meninggalkan eomma lebih dulu seperti appamu” suaranya bergetar. Tapi beliau adalah wanita yang sangat kuat sehingga tidak meneteskan air mata sedikitpun.

“Siapa yang membawaku ke sini? Bagaimana gadis itu?” aku baru ingat dengan gadis itu.

“Gadis apa? Tadi yang membawamu ke sini seorang nenek, katanya dia melihatmu saat dipukuli pria-pria itu. Tapi polisi langsung datang dan menangkap mereka. Apa sih yang kamu pikirkan sampai menantang pria-pria besar seperti itu? Untung saja kulitmu tebal seperti badak, tidak ada pendarahan dalam ataupun patah tulang. Hanya memar jadi 2 hari lagi kamu bisa pulang” kata eommaku sambil mengusap-usap pipiku yang memar.

“Tidak ada gadis? Mereka sudah tertangkap semua kan? Syukurlah” ujarku. Yang penting gadis itu baik-baik saja.

“Yaaaa apa kepalamu kena pukul? Tapi kata dokter kepalamu tidak apa-apa. Sudah tidurlah” perintah eommaku. Tidak ingin membantahnya aku memilih tidur.

***

4 hari kemudian aku kembali ke kampus karena harus mengikuti ujian susulan.

Berdasarkan keterangan polisi, 3 pria itu adalah perampok yang sering beraksi di daerah situ. Saat polisi yang sedang berpatroli mendengar suara teriakan seorang wanita, mereka langsung mendatangi sumber suara itu dan menemukan para penjahat  sedang menghajarku.

Ternyata nenek itu benar-benar telah menyelamatkan hidupku, aku berjanji setelah menyelesaikan UAS akan mendatangi nenek itu dan mengucapkan terima kasih.

“Kudengar dia berkelahi dengan anggota geng” kata Hyejin. Walaupun aku tidak melihatnya tapi aku tahu dia sedang membicarakanku.

“Waaahh yang kudengar malah dia punya hutang pada mafia” sahut Jihyo. “Tapi katanya dia dihajar 5 orang. Ngeri sekali ya” komentar HyunAh. “Berarti setidaknya dia bisa membela diri kalau dilihat dari keadaannya saat ini yang tidak terlalu parah” balas Hamun dengan nada prihatin.

Rumor yang berkembang memang terlalu berlebihan, eomma sudah mewanti-wantiku untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya agar orang-orang tidak salah paham. Agar orang-orang mengerti kalau aku menggagalkan perampokan, sudah berbuat kebaikan. Tapi untuk apa? Yang penting gadis itu baik-baik saja.

“Menurutmu bagaimana?” Hyejin bertanya pada gadis itu. Aku mempertajam pendengaranku.

Gadis itu terdiam sejenak “Molla. Lagipula kita kan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, jadi jangan membicarakan hal yang tidak kita ketahui. Lebih baik kita belajar lagi” jawab gadis itu.

Aku tersenyum. Gadis itu selalu saja berpikiran positif, bahkan padaku yang dianggap banyak orang sebagai pria anti sosial yang layak untuk dijauhi. Itu membuatku semakin mencintainya.

***

Setelah menyelesaikan UAS aku memenuhi janjiku untuk mendatangi nenek yang sudah menolongku. Kata eomma nenek itu memiliki kedai ramyeon di dekat tempat kejadian.

Kedai itu ternyata cukup ramai, aku harus menunggu beberapa saat sampai dilayani nenek itu. “Mau pesan apa? Omo, kamu pemuda yang dipukuli di gang itu kan? Syukurlah kamu sudah pulih. Duduklah, aku akan membuatkan ramyeon spesial untukmu” katanya dengan gembira.

Sejujurnya selain eomma dan almarhum appaku aku belum pernah bertemu dengan orang yang merasa gembira setelah bertemu denganku. Setelah appa meninggal karena sakit 5 tahun yang lalu, eomma harus bekerja banting tulang untuk membiayai pendidikanku tapi beliau selalu tersenyum saat melihatku setelah pulang kerja.

“Ini ramyeon spesial di kedai kami. Makanlah selagi panas” nenek itu meletakkan ramyeon yang baunya sangat sedap di hadapanku. Tanpa basa-basi aku langsung memakannya.

“Hahahahaa makanmu lahap sekali. Junghyuk kan namamu?” aku mengangguk.

Nenek itu duduk di hadapanku sampai aku menghabiskan ramyeonku.

“Enak?” tanyanya. Aku mengangguk sambil tersenyum “Gamsahamnida untuk pertolongannya dan untuk ramyeonnya” ucapku.

“Sudah kuduga kamu terlihat tampan saat tersenyum. Saat di ambulans kamu terus-terusan mengigau ‘Kamu terlihat cantik’. Aku kira kamu mengatakannya untukku hahahaa. Lalu aku sadar mungkin kamu mengatakannya untuk temanmu” nenek itu mengingat-ingat kejadian beberapa hari lalu.

Tunggu. Teman? Tapi aku tidak punya teman.

“Teman? Teman siapa haelmoni?” tanyaku kebingungan.

“Temanmu, gadis yang memakai baju bunga-bunga” jawabnya.

Aku terbelalak.

“Gadis dengan dress bunga-bunga?” aku bertanya lagi.

“Eoh. Dia gadis yang manis sekali. Saat aku melihatmu sedang dipukuli, gadis itu berteriak dengan sangat keras sampai polisi yang lewat langsung datang. Aku dan gadis itu langsung bersama-sama mendatangimu, dia nampak sangat khawatir dengan keadaanmu. Lalu saat kamu bergumam ‘Kamu terlihat cantik’ dia menjawab ‘Ara’ dan kamu langsung pingsan. Gadis itu terlihat terburu-buru karena dia terus melihat jamnya jadi kusuruh saja dia pergi. Awalnya dia enggan meninggalkanmu tapi setelah aku berjanji akan mengurusmu dia bilang ‘Tolong segera hubungi keluarga temanku ini’ lalu langsung pergi” ucapan haelmoni membuat pikiranku seketika menjadi kosong.

Jadi bayangan yang kulihat sebelum pingsan bukan halusinasiku semata.

“Junghyuk-aahh.. Gwenchana? Apa ada yang sakit?” nenek itu terlihat khawatir.

“Jeosonghamnida haelmoni, aku akan kembali ke sini untuk membayar ramyeon yang kumakan. Tapi kali ini aku harus cepat-cepat pergi” kataku lalu pergi secepat kilat.

***

Aku sampai di depan rumah yang selama 4 tahun ini diam-diam kudatangi.

Kamarnya masih gelap jadi aku memutuskan untuk menunggu di luar sampai lampu kamarnya menyala. Tentu saja aku tidak berencana menemuinya, aku hanya ingin memperhatikannya dari jendela sampai dia tidur lalu mengucapkan terima kasih karena telah menyelamatkan nyawaku walau dia tidak mungkin mendengarnya.

“Junghyuk?” panggil suara yang sudah tidak asing lagi. Aku langsung membelakanginya dan memakai hoodieku, berencana pergi dari hadapannya. Sejujurnya aku belum siap bertemu dengannya karena yang selama ini kulakukan hanya melihat punggungnya dari jauh.

Hahaha, ternyata selain anti sosial aku juga pengecut.

“Junghyuk-aah.. Kajima” pinta gadis itu.

Terpaksa aku berbalik dan menghadapnya.

Kulihat gadis itu membawa belanjaan. “Mworago?” tanyanya.

“Eobseo. Hanya kebetulan lewat” jawabku

Bila pria lain saat bertemu dengan gadis yang dicintai sekaligus telah menyelamatkan nyawanya akan langsung memeluk atau mencium gadis itu, aku tidak bisa melakukannya. Jadi aku berjalan melewatinya. Untuk pertama kalinya selama 4 tahun aku berada sangat dekat dengan gadis itu. Aku bisa mencium aroma shampoo dari rambutnya yang masih sedikit basah.

Tiba-tiba langkahku terhenti karena seseorang memelukku dari belakang “Kotjimal” katanya.

“Aku tahu apa yang telah kamu lakukan selama ini. Aku tahu kamu selalu menjagaku. Aku tahu semuanya, jadi berhentilah berbohong” ujarnya dengan lembut.

“Memang apa yang sudah kulakukan?” tanyaku dengan dingin.

Dia semakin mempererat pelukannya “Kamu sudah mencintaiku selama 4 tahun”.

Aku terkesiap, sudah kusembunyikan perasaanku sedalam mungkin tapi entah bagaimana ternyata dia menyadarinya.

“Lalu?” seperti biasa sebagai pengidap anti sosial, self defenseku bekerja dengan baik.

“Tidakkah kamu ingin mengetahui perasaanku?” tanyanya.

Aku menggeleng tidak peduli bila dia tersakiti karena memang itulah tujuanku. Tidak pernah ada rencana untuk mengungkapkan perasaanku padanya seumur hidupku, jadi lebih baik aku membuatnya menjauh.

Gadis itu menyandarkan kepalanya ke punggungku “Aku tahu kadang-kadang kamu mengikutiku, diam-diam memotretku. Kamu juga sering berdiri di sini memperhatikanku lewat jendela kamarku, lalu akan pergi setelah aku mematikan lampu kamar. Setiap hari Selasa kamu akan mengantarku ke tempat les lalu menungguku di gang yang gelap sampai aku selesai les kemudian mengantarkanku pulang, oleh sebab itu setiap hari Selasa aku berdandan. Tahukah kamu, aku berdandan khusus untukmu” bisiknya.

Selama ini tidak pernah ada seorangpun yang melakukan sesuatu khusus untukku, tapi ternyata gadis yang kucintai berdandan hanya untukku.

Aku berbalik dan menatap matanya untuk pertama kalinya, bukan punggungnya.

“Jinjja?” tanyaku. Dia mengangguk malu-malu “Sudah lama aku juga memperhatikanmu secara diam-diam Mun Junghyuk. Gadis pandai sepertiku ternyata tertarik dengan pria anti sosial sepertimu hehee” gadis itu memperlihatkan giginya yang rapi.

Gadis itu membuka hoodieku kemudian memegang kedua pipiku dengan telapak tangannya yang dingin “Saranghae” bisiknya.

Dia berjinjit dan mendekatkan wajahnya lalu menempelkan bibirnya ke bibirku. Aku belum pernah berciuman tapi secara insting aku menciumnya, bukan, melumat bibirnya. Aku bisa mendengar desahan nafasnya yang sama kerasnya seperti desahan nafasku, dia melingkarkan tangannya ke leherku dan menempelkan tubuhnya ke tubuhku. Kulingkarkan tanganku ke pinggangnya sampai tubuh kami menempel dengan erat, bahkan udarapun tidak bisa melewatinya. Untuk beberapa saat kukira hal ini tidak akan berhenti. Kami sama-sama menikmatinya.

Tapi aku harus menghentikannya.

Kulepaskan bibirku “Gwenchana?” tanyaku. Wajahnya memerah, entah karena kedinginan atau karena aktivitas yang baru saja kami lakukan. Dia mengangguk.

Untung saja jalanan di sini cukup sepi jadi tidak ada orang lalu lalang. Atau mungkin ada yang lewat hanya saja kuabaikan, aku tidak peduli.

“Apa yang membuatmu mencintaiku?” bahkan setelah berciuman dengannya aku masih tidak percaya kalau gadis yang  kucintai juga merasakan hal yang sama.

“Kamu juga mencintaiku kan? Seharusnya kamu tahu apa itu cinta. Hal paling abstrak yang ada di dunia ini adalah cinta. Aku hanya tahu jantungku yang berdetak kencang setiap melihatmu adalah cinta. Can’t we just live for this love? Without any reason and any question?” dia menatapku dengan sungguh-sungguh.

“Deal” ucapku lalu memeluknya tidak ingin melepaskannya dengan alasan apapun.

I promise I’m gonna walking after her, to keep her safe for the rest of my life.

Park MinAh.

***

Enjoy ^^