By @gurlindah93

 Sebelum baca FF ini baca ‘Delivery Man’, ‘Delivery Promise’, & ‘Delivery Romance’ dulu yaa..😉

‘Dia ditemukan selamat, tapi sesuatu yang berat menimpa kepalanya dan membuat Junghyuk kehilangan penglihatan ‘

Aku terbangun tengah malam dengan air mata yang mengalir di pipiku.

Sudah 3 tahun sejak kejadian itu tapi hampir setiap hari aku masih memimpikannya.

Dengan perlahan aku bangkit dari tempat tidur dan ke kamar mandi untuk mencuci wajahku, berharap sisa air mata akan hilang bersama air yang kubasuh ke wajahku.

Seperti malam-malam sebelumnya setelah bermimpi seperti itu aku tidak akan bisa tidur sampai pagi, jadi aku memutuskan untuk membaca novel sampai waktunya untuk berangkat bekerja.

“MinAh, sudah jam 6. Kamu sudah bangun?” eomma melongokkan kepalanya ke dalam kamarku. Aku mengangguk lalu segera mandi karena harus siap di toko buku milik appaku jam 7.30.

Dengan mengendarai sepeda aku menuju toko buku milik appa di mana aku bekerja sebagai kasir, di kota kecil ini hanya ada 2 toko buku jadi toko buku milik appa lumayan ramai sejak pertama kali dibuka sekitar 3 tahun yang lalu.

“Kapan kamu pulang?” “Aku akan wisuda tanggal 19 Agustus. Apa kamu belum pulang saat itu?”. Kalau saja aku tidak mengatakannya, saat ini Junghyuk pasti sedang mengelola restaurant milik keluarganya, membuka coffee shop seperti cita-citanya, dan kami akan menjalani hubungan layaknya sepasang kekasih.

Kecelakaan yang dialami Junghyuk adalah kesalahanku. Berada di dekat Junghyuk membuatku semakin merasa bersalah. Oleh sebab itu 2 bulan sejak kejadian mengerikan itu terjadi aku memohon pada orang tuaku untuk pindah sejauh mungkin dari Junghyuk, untunglah mereka mengabulkannya demi kebaikanku.

Kedua orang tuaku akhirnya mengajakku pindah ke Kanada tanpa memberitahu siapapun kecuali ShinAe. Aku yakin sahabatku itu tidak akan mengkhianati kepercayaanku dengan memberitahu keberadaanku pada Junghyuk, dia tahu betapa besar perasaan bersalahku.

Awalnya kuharap dengan tinggal di kota kecil yang memiliki perbedaan waktu lebih dari 20 jam dari Seoul ini akan membantuku untuk melupakan perasaan bersalahku, melupakan keinginan agar bisa mengulang waktu, dan di atas semua itu aku ingin melupakan Mun Junghyuk.

Tapi harapan tinggal harapan, aku tidak bisa melupakan semua itu. Perasaan  bersalah masih terus menghantuiku. Terkadang aku berharap bisa mengulang waktu agar aku bisa menahan diri untuk tidak menyuruhnya pulang ke Korea di hari itu.

“Marie, you come earlier today” kata David salah satu pegawai appaku yang bekerja di toko buku. “Wow it’s still 7.20 and you’re here hahahaa” sahut Nicole pegawai lain. Hanya mereka berdua yang bekerja di toko buku ini bersamaku, dan karena mereka sudah bekerja sejak toko buku ini didirikan mereka sudah seperti kakak bagiku.

Aku tersenyum kecut mendengar perkataan mereka. Biasanya aku datang sedikit terlambat dari waktu yang ditentukan jadi ketika aku datang lebih awal mereka selalu menggodaku.

“I woke up earlier guys” jelasku lalu mulai bekerja.

Ketika tidak ada customer aku akan membantu David dan Nicole merapikan buku seperti saat ini. “Marie, you know Adam right? My childhood friend” tanya David.

Aku mengangguk. Adam, teman David pernah beberapa kali kemari untuk membeli buku.

“Do you want to go out with him? Only for dinner. As a friend” David melirikku dengan takut-takut.

“He asked you to tell me that thing?” tanyaku. “He’s afraid that you will say no so I help him” jawab David jujur.

Kuhembuskan nafas dengan berat “I’m sorry David, tell him I like him as a friend, but for now I don’t want to go out with him or anyone. Thank you” jawabku lalu beranjak pergi.

Sampai sekarang aku masih belum siap untuk berhubungan dengan lelaki manapun, bahkan jika itu hanya sekedar makan malam.

“Boleh aku mengajakmu makan malam?” kata-kata itu terngiang di telingaku dan membuatku tersenyum. Aku benar-benar merindukannya.

***

Kejadian sejak awal aku bertemu dengan Junghyuk sampai kecelakaan itu tiba-tiba hadir di mimpiku. Dengan terengah-engah aku terbangun, dadaku terasa sangat sakit karena seluruh kenangan akan dirinya hadir di saat yang bersamaan seperti roll film yang berputar tanpa henti. Aku hanya bisa menangis tersedu-sedu.

Entah untuk berapa lama aku menangis tapi alarm dari smartphoneku menyadarkanku. Setelah sedikit tenang aku langsung ke kamar mandi untuk mandi dan berusaha menyegarkan diri

Selesai mandi aku membaca beberapa pesan yang masuk ke smartphoneku, salah satunya dari ShinAe yang menanyakan kabarku. Tumben sekali dia menanyakan kabarku karena kami cukup intens berkomunikasi sejak aku pindah.

Setelah membalas semua pesan tiba-tiba mataku tertuju pada tanggal yang tertera di smartphoneku. Seketika itu aku terkesiap.

16 Februari 2020.

“Happy birthday” bisikku sambil menggenggam kalung yang tidak pernah lepas dari leherku selama 3,5 tahun ini.

Hari ini entah kenapa banyak sekali customer yang datang, kebanyakan membeli novel yang baru terbit dari Nicholas Sparks. Dengan hanya 3 orang pegawai dan dibantu appaku kami semua cukup kewalahan melayani customer yang datang tanpa henti.

Akhirnya kami bisa berhenti bekerja saat jam menunjukkan jam 6 sore saat kami menutup toko. Dengan rasa lelah yang masih terasa kami bertiga membersihkan toko sebelum pulang karena appa sudah pulang duluan untuk bertemu temannya.

“David who’s that guy?” Nicole bertanya sambil memandang ke arah luar toko saat sedang menyapu.

“A guy? Where? I don’t see anyone anywhere” David mengedarkan pandangannya ke luar toko dengan bingung.

“Maybe that was just my imagination, forget it” Nicole melanjutkan kegiatan menyapunya sambil bersenandung ‘Just My Imagination’ dari The Cranberries. Tidak lama kemudian David ikut-ikutan bersenandung ‘Don’t Know Why’ dari Norah Jones.

Aku hanya geleng-geleng dengan kelakuan mereka yang terkadang konyol seperti saat ini. Tapi itulah yang membuatku senang berada di dekat mereka karena mereka bisa membuatku tertawa. Walaupun sudah 3,5 tahun tinggal di sini tapi aku tidak memiliki banyak teman.

“Sorry we’re already closed, please come back tomorrow” teriak Nicole saat tiba-tiba ada yang membuka pintu toko.

“Annyeonghaseyo Park MinAh” sapa seseorang.

Sepertinya aku sedang berhalusinasi.

“Sorry?” David bertanya dengan bingung.

“Annyeonghaseyo Park MinAh… Or Marie Park” suara ini terdengar sangat nyata. Suara yang selalu terngiang di telingaku selama ini. Suara yang kurindukan.

Dengan jantung berdebar aku mendatangi asal suara itu.

Dia tersenyum seperti biasanya sambil menatapku.

Tunggu, dia menatapku!

Aku berjalan mendekatinya, dan matanya bergerak mengikutiku.

“Apa kabar? Senang bisa melihatmu lagi” ucapnya.

Ya Tuhan, aku benar-benar mencintai pria ini.

Tidak ada suara yang keluar dari mulutku. Aku hanya memandangnya dengan kerinduan yang membuncah.

“Marie, we’re going home. See you tomorrow” pamit Nicole yang kemudian keluar diikuti oleh David. Aku yakin mereka sengaja meninggalkanku sendirian.

Kini hanya tinggal kami berdua di sini.

“Apa kamu merindukanku? Pasti kamu merindukanku kan..” dia menyeringai. Seringai yang sama persis seperti yang selama ini ada di ingatanku. Segala hal tentangnya tidak ada yang hilang sedikitpun dari ingatanku.

“Mmmmmm bolehkah aku duduk?” tanyanya. Tanpa kujawab dia duduk di kursi yang paling dekat dengannya.

Aku mengikutinya duduk di depannya.

“Baiklah kalau kamu tidak ingin bicara, dengarkan saja aku” dia berhenti sejenak lalu menarik nafas panjang.

“Sejak kecelakaan aku selalu menunggumu untuk menemuiku tapi kamu tidak pernah datang. Setiap aku bertanya, semua orang di sekelilingku seperti berkonspirasi untuk tidak memberitahuku. Aku bahkan sampai bersujud pada ShinAe dan Kwangmin tapi mereka tetap diam. Waaaahhh hebat sekali ya kamu bisa menyuruh mereka menutup mulut seperti itu” ucapnya, dia seperti mengingat kembali kejadian itu lalu tertawa.

“Aku tahu kamu menghindariku bukan karena keadaanku, tapi karena kamu merasa bersalah atas apa yang menimpaku. Padahal sebelum kamu bertanya kapan aku pulang aku sudah merencanakan untuk hadir di acara wisudamu, rencananya sih aku akan memberimu kejutan, tapi pada akhirnya malah kamu yang terkejut.. Mianhae…” ucapnya lembut. Aku menahan air mataku agar tidak tumpah. Tidak sekarang, tidak di hadapannya.

“Saat aku berusaha menata kembali hidupku, berusaha menggapai semua impianku walau tanpa penglihatan, tanpa kuduga 6 bulan yang lalu aku mendapat donor kornea yang cocok. Aku menebak ini pasti sudah takdir Tuhan. Aku tahu penglihatanku dikembalikan padaku agar aku bisa menemukanmu karena tanpamu hidupku terasa kosong” Junghyuk menatapku dengan penuh kerinduan.

“Setelah pantang menyerah mencari tahu keberadaanmu kesana kemari akhirnya bulan lalu aku mendapat informasi yang akurat keberadaanmu. Segera saja aku menyelesaikan pekerjaan di restaurant dan coffee shop agar bisa menyusulmu, dan di sinilah aku sekarang. Menemui cintaku, belahan jiwaku” lanjutnya dengan bangga.

Rasanya ingin sekali aku memeluknya, mengatakan selamat karena akhirnya bisa memiliki coffee shop impiannya, dan karena dia bisa melihat kembali. Tapi kejadian 3,5 tahun yang lalu menahanku. Perasaan bersalah masih memenuhi pikiranku membuatku menyadari aku tidak pantas berada di dekatnya.

“Happy birthday” bisikku dengan lirih. Hanya itu yang bisa kulakukan.

Dia memajukan kursinya semakin mendekatiku. “Ternyata kamu masih mengingatnya… Thank you” wajahnya semakin mendekati wajahku tapi aku langsung membuang muka dan berdiri.

“Aku harus pulang sekarang” aku mengambil tas dan kunci toko lalu berjalan ke arah pintu.

Junghyuk mengikutiku “Mau makan malam denganku?” ajaknya.

Perasaan bahagia menggelayutiku, tapi aku menggeleng “Pulanglah” pintaku. Kemudian aku segera mengambil sepeda dan segera mengayuh sepedaku secepat mungkin. Menjauhinya.

“Aku serius. Pikirkanlah” teriaknya.

Air mata yang sejak tadi kubendung sekarang tumpah. Perasaanku bercampur aduk dan aku tidak tahu harus berbuat apa.

Sampai di rumah untunglah appa dan eomma belum pulang karena aku tidak ingin mereka melihatku dalam keadaan seperti ini. Tanpa berganti baju aku langsung berbaring di tempat tidur dan menangis sejadi-jadinya. Aku berharap ketika matahari terbit semua ini hanya mimpi.

***

“MinAh, tadi malam appa bertemu Junghyuk” kata appa saat kami sarapan.

Ternyata apa yang terjadi semalam nyata.

“Junghyuk sudah bisa melihat. Jangan menyalahkan dirimu lagi ya” eomma menatapku dengan khawatir.

“Aku berangkat dulu” ujarku bergegas keluar rumah. Aku tidak ingin membahasnya dengan kedua orang tuaku, terlebih setelah apa yang mereka lakukan untukku agar kami bisa pindah kemari.

Di toko buku aku bertingkah seperti biasa seolah-olah aku tidak bertemu dengan Junghyuk semalam.

“Marie, is he your boyfriend?” tanya Nicole tiba-tiba saat toko sedang sepi.

“No” jawabku bersamaan dengan jawaban lain.

“Yes, I’m her boyfriend. My name is Eric Mun. Nice to meet you guys” sahut Junghyuk yang sudah berdiri di hadapanku.

“Hi, I’m Nicole” “Hello dude, my name is David, nice to meet you. Marie, why wouldn’t you tell us that you already have a boyfriend? That’s why you rejected all of those guys..” sahut David. Aku diam saja.

“Really? Hahaha here I am, Marie’s boyfriend. Please tell them that she has a boyfriend” Junghyuk melirikku tapi aku tidak menghiraukannya.

“Dave, let’s go inside we have so much to do” ajak Nicole sambil menarik David.

“Jadi mau makan malam denganku?” tanya Junghyuk.

Aku menggeleng.

“Sudah kamu pikirkan secara matang?” aku mengangguk.

“Baiklah, sampai bertemu besok” ujarnya lalu pergi.

Aku merasa deja vu dengan kejadian ini.

***

“Mau makan malam denganku Marie Park?” ini sudah ke-8 kalinya dia menanyakan hal yang sama.

Aku tetap menggeleng.

“Apa kamu tidak pernah menyesal setiap menolakku” tanyanya dengan eskpresi wajah yang dibuat sedih.

Aku masih menggeleng.

“Okay, see you tomorrow” ujarnya sambil tersenyum jahil.

***

“Bagaimana? Mau makan malam denganku?” tiba-tiba Junghyuk muncul saat aku sedang mengunci pintu toko.

“Omo! Kamu mengagetkanku” kataku setengah berteriak.

“Kamu berisik” dia menutup kedua telinganya, aku hanya bisa memelototinya dengan kesal.

“Ayolah… Ini sudah hari ke-16 aku mengajakmu makan malam. Kamu masih tidak mau?” tanyanya dengan setengah merajuk.

Aku menggeleng lalu meninggalkannya dengan sepedaku.

“Park MinAh, jangan memimpikanku yaaaa!!! Sampai bertemu besok” teriaknya. Aku tersenyum mendengarnya.

***

Hari ini Junghyuk tidak muncul di toko seperti biasanya.

Setelah mengunci pintu toko aku mengedarkan pandangan tapi tidak menemukannya di manapun. Aku berharap dia tiba-tiba muncul dan mengagetkanku tapi dia tidak pernah muncul setelah kutunggu selam 15 menit.

Sejujurnya aku khawatir terjadi sesuatu dengannya karena kadang bisa terjadi komplikasi pada penerima donor. Aku berdoa semoga dia baik-baik saja.

Dengan gontai aku mengayuh sepedaku, aku merindukannya padahal baru sehari tidak bertemu dengannya.

Kutertawakan diriku yang jadi rapuh setelah bertemu lagi dengannya, dulu tanpanya aku bisa bertahan hidup hanya dengan kenangannya. Tapi setelah dia muncul, aku kembali menjadi Park MinAh yang dulu, Park MinAh yang hari-harinya dilalui bersamanya. Park MinAh yang tidak bisa hidup tanpa Mun Junghyuk.

Tanpa sadar aku sudah sampai di rumah dan kulihat sosok yang sejak tadi kupikirkan berdiri di depan rumahku sambil mengobrol dengan appa. Setelah menyadari kedatanganku appa langsung masuk ke dalam rumah.

“Wae geurae?” tanyaku.

Tidak seperti biasanya dia terlihat sedikit gelisah.

“Kamu benar-benar tidak ingin makan malam denganku malam ini? Hanya sekedar makan malam?” tanyanya dengan sangat serius.

Aku menggeleng.

“Kamu belum bisa memaafkan dirimu” dia menatapku dengan perasaan bersalah.

Kugigit bibirku menahan air mataku.

“Melihatmu hancur, aku juga semakin hancur. Tolong hentikan perasaan bersalahmu” pintanya.

Aku tidak berani menatapnya.

“Besok pagi aku harus pulang karena mendadak harus menyiapkan pembukaan coffee shop baruku yang jadwalnya tiba-tiba dimajukan, entah kapan aku bisa kembali lagi ke sini dan mengajakmu makan malam. Tapi aku berjanji aku akan kembali, aku akan selalu kembali. Kamu tahu betapa pantang menyerahnya aku kan? Aku akan menunggu sampai kamu memaafkan dirimu sendiri dan membuka hatimu untukku. Sampai jumpa Park MinAh” ucapnya lalu mencium pipiku.

Kemudian dia melangkahkan kakinya menjauh dariku.

Entah kapan aku bisa bertemu dengannya lagi. Entah kapan aku bisa menyatakan perasaanku padanya karena baru kusadari saat melihat punggungnya menjauh, aku belum pernah menyatakan betapa aku mencintainya.

Mungkin sekarang saatnya aku harus belajar untuk memaafkan diriku sendiri jika ingin membuatnya bahagia.

“Mun Junghyuk!!!” teriakku. Junghyuk menghentikan langkahnya lalu berbalik menghadapku.

Aku berlari ke arahnya berharap apa yang akan kulakukan dapat membahagiakan kami berdua.

Kugenggam kalungku dengan erat “Kamu benar aku belum bisa memaafkan dirku, mungkin seumur hidup perasaan bersalah itu akan terus ada. Tapi aku akan berusaha untuk memaafkan diriku, berusaha untuk membenarkan bahwa bukan aku yang membuatmu mengalami kejadian mengerikan itu. Jadi tolong bantu aku untuk melalui semua yang akan terjadi di masa depan kita” kataku sambil terengah-engah.

Dia mengangguk lalu membuka mulutnya untuk bicara tapi kuletakkan jari telunjukku ke bibirnya “Kali ini tolong biarkan aku yang bicara” pintaku.

Kami terdiam sejenak saling menatap.

“Saranghae” ucapku lalu menciumnya dengan lembut.

“Hanya itu yang ingin kamu katakan?” tanyanya setelah melepaskan bibirnya dari bibirku.

Aku menarik nafas panjang.

“Maukah kamu menerimaku menjadi istrimu?” aku bertanya dengan lantang.

Dia tidak berkata apapun hanya memandangku sambil melongo.

“Apa kamu menolaknya?” tanyaku mulai diliputi kekhawatiran. Tidak seharusnya aku segegabah ini.

“Aaaaaarrrggghhh Park MinAh, kamu sangat bodoh” gerutuku dalam hati. Kutatap dia dengan cemas, bersiap untuk sebuah penolakan.

Dia balik menatapku “Aku akan menerimanya kalau kamu mau makan malam denganku malam ini” katanya sambil menyeringai.

“Call! Kajja” balasku dengan gembira.

Aku sudah siap menjalani masa depan bersamanya.

***

This is the last part of Delivery series..

Enjoy ^^