Thank you for always read this fanfiction, and finally it will comes to the end. Hope you enjoy this part too 🙂 (Spoiler: Choi Siwon and Lee Donghae, uljima~) kekekekeke

Main cast: Lee Donghae, Kang Hamun, Choi Siwon

Supporting cast: Member SJ and SG

*****

‘Lee Donghae dan Kang Hamun tampak serasi di foto Pre Wedding mereka’ itulah judul headline artikel yang sedang Donghae baca. “Saat pengambilan foto, mereka berdua tampak malu-malu tapi entah mengapa aku merasa mereka berdua sangat cocok. Rasanya perbedaan usia yang cukup jauh tidak menjadi masalah buat mereka, bahkan kadang Hamun bersikap lebih dewasa dari pada Donghae. Aku juga sedih menyadari kalau tinggal beberapa hari lagi syuting We Got Married bersama Haemun couple akan berakhir,” ujar produser We Got Married di artikel itu.

Selain itu, Donghae juga membaca comment-comment yang ditinggalkan oleh netizen di website tersebut. ‘Aku sedih saat sadar kalau sebentar lagi syuting kalian akan selesai. Aku berharap kalian bisa menjadi pasangan di dunia nyata,’ tulis salah satu netizen dan di ‘like’ oleh banyak orang.

‘Aku juga berharap demikian,’ ujar Donghae dalam hati.

Ia melihat foto Hamun yang hampir tiga bulan ini menjadi wallpaper smartphonenya. “Semoga aku bisa melupakanmu setelah semua ini terlewati,” gumamnya.

*****

Hari itu, setelah syuting selesai, Donghae mengajak Hamun ke tempat dimana mereka bertemu pertama kali dalam acara ini. Tempat yang menjadi awal kembalinya hubungan mereka berdua yang sejak dulu tak pernah menjadi kenyataan. Bohong kalau Donghae mengatakan tiga bulan ini sudah cukup. Sejujurnya, saat ia bersama Hamun, setahun atau sepuluh tahun tidak akan pernah cukup. Ia sanggup menukar apapun agar ia bisa bersama Hamun, tapi ia tak sanggup jika yang dipertaruhkan adalah persahabatannya. ‘Aku lebih baik menderita,’ ujarnya dalam hati.

“Jadi, ini farewell kita, oppa?” tanya Hamun memecah kesunyian diantara mereka berdua.

“Hm,” jawab Donghae sekenanya. Ia sendiri tak sanggup untuk menerima kenyataan itu.

“Oppa akan melupakanku sehabis ini?” tanya Hamun.

Donghae menatap Hamun yang saat ini hanya menengadah ke langit untuk melihat bintang-bintang malam itu. “Ne. Kau juga demikian,” ujarnya.

Hamun mengangguk mantap. “Oppa tak perlu khawatir tentangku, aku bisa mengatur diriku sendiri. Aku tak akan melukai Siwon oppa dan aku akan belajar mencintainya lagi,” ujar Hamun. Mungkin dari perkataannya, Hamun terlihat sangat tegar. Akan tetapi, saat matanya kini bertemu dengan mata Donghae, pria itu akhirnya sadar kalau Hamun sama terlukanya seperti dirinya.

“Ne, aku percaya padamu. Tak ada yang perlu kukhawatirkan,” ujar Donghae sambil mengelus kepala Hamun lembut.

“Kau juga harus segera mencari gadis yang mencintaimu, ya, oppa,” kata Hamun. “Aku sangat senang menghabiskan waktu bersamamu tiga bulan ini,” lanjutnya.

“Aku juga,” jawab Donghae. Hamun bisa melihat air mata mulai membasahi bola mata Donghae. Ia juga sadar, kalau dirinya tak bisa bertahan lebih dari ini. “Oppa, aku pulang lebih dulu ya, managerku sudah menjemput,” kata Hamun. Jika ia lebih lama bersama pria itu, ia tak tahu hal gila apa yang akan dilakukannya. Bisa saja ia minta Donghae untuk mempertahankannya, atau mungkin mengajaknya kabur asal mereka bersama. Entahlah. Tetapi, sebelum semua pemikiran itu mengusik, ia lebih baik menghindar.

“Ne, hati-hati. Aku akan disini untuk beberapa saat,” ujar Donghae. Hamun beranjak dari tempatnya. Sebelum Hamun melangkah lebih jauh, Donghae berpesan, “Jangan menoleh ke belakang, ya, Hamun,” ucapnya dengan lirih.

Hamun tahu apa maksud Donghae. Hamun sadar kalau saat ini Donghae mulai menitikan air mata, Donghae tak mau Hamun melihatnya dalam keadaan seperti itu. Hamun juga tidak bisa menjawab karena saat ini air matanya sudah mendesak keluar. Ia hanya mengacungkan ibu jarinya dan berharap Donghae tidak menyadari betapa sedihnya Hamun saat ini.

Donghae membuka ponselnya dan menatap wallpapernya. Dengan segera, ia menghapus semua foto-fotonya bersama gadis itu yang ada di smartphonenya. Ia juga menghapus semua kontak gadis itu. Air matanya menderas saat ia sadar kalau tidak ada lagi kenangan yang dapat menghubungkannya dengan Hamun. “Good bye, Hamun,”

*****

“Jihyo ah, mana Hamun?” tanya Siwon oppa yang baru saja tiba di dorm Super Girls.

Jihyo memasang tampang kesal pada oppanya. “Yaa! Oppa! Kau ini oppaku, harusnya kau perhatikan aku juga!” serunya.

Siwon tertawa dan mengacak rambut adiknya itu. “Kau biasanya juga lebih peduli pada Woobinmu itu. Setidaknya, aku masih membawakanmu dan Woobin oleh-oleh,” ujar Siwon sambil memberikan sekantong plastik besar yang mengubah mood Jihyo.

“Terima kasih, oppa!” kata Jihyo. Ia langsung berlari menuju Woobin yang ada di ruang televisi untuk menunjukan apa yang oppanya berikan padanya.

“KyuJin, MinHyuk, dan HyunRy! Keluarlah dari kamar! Aku bawakan sesuatu juga untuk kalian,” seru Siwon sambil meletakan kantong plastik yang lain di atas meja makan. Tak perlu beberapa lama, semua pasangan itu keluar dengan tampang bahagia. Setahu mereka, oleh-oleh yang Siwon berikan tidak pernah biasa saja. Pantas saja mereka sangat bersemangat.

“Oppa, hyung, gomawo. Kami sangat menyukai oleh-olehnya,” ujar Hyejin dan Kyuhyun bersamaan dengan aegyo yang dibuat-buat.

“Gomawo, Choi Siwon-nim,” kini giliran MinHyuk couple yang berterima kasih sambil pura-pura membungkuk seolah-olah Siwon adalah boss mereka.

“Gomawo Siwon Oppa, Hyung!” ujar Henry dan Hyunah bergantian.

“Arraseo, arraseo. Kembali ke kamar kalian sana. Jangan berisik-berisik, nanti Hamun terganggu,” ujar Siwon yang dengan senang hati dituruti oleh pasangan-pasangan itu.

Setelah mereka semua pergi dan setelah memastikan kalau Woobin tidak duduk terlalu dekat dengan adiknya, Siwon pergi ke kamar Hamun. Setelah beberapa kali mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban dari dalam, Siwon memutuskan untuk masuk. Sesuai dugaannya, kekasihnya itu sedang tertidur lelap.

“Mianhe, aku datang terlalu malam,” ujar Siwon yang sudah duduk di tepi kasur Hamun. Ia hanya terdiam sambil menikmati wajah polos gadisnya yang sedang tertidur. Tiba-tiba, alis Hamun mengkerut dan setets air mata mengalir ke pipinya. “Donghae, oppa.. kajima..” ujar gadis itu menyuarakan mimpinya.

Siwon terdiam saat mendengar ucapan Hamun. Senyumnya kini menghilang. ‘Apa kau sangat menginginkannya, Hamun? Lalu, mengapa kau bertahan denganku?’ tanya Siwon dalam hati.

“Hamun, bangun sayang,” ujar Siwon membangunkan Hamun dari tidurnya. Hamun langsung bangkit dari tidurnya saat melihat kekasihnya ada disana. “Oppa, annyeong,” sapa Hamun pada pria itu. Sepertinya, Hamun sendiri belum sadar kalau ia menangis dalam mimpinya.

“Mimpi apa Hamun? Kau sampai menangis seperti ini,” tanya Siwon yang pura-pura tidak mendengar ucapan Hamun tadi. Siwon mengusap pipi Hamun menghilangkan bekas air matanya.

Hamun tersenyum pada pria itu. “Aku mimpi anjingku yang di rumah mati, oppa,” jawabnya. “Oppa pasti lelah dari bandara langsung kesini. Oppa tidur disini saja, biar aku di sova depan. Aku tak mau oppa menyetir malam-malam seperti ini,” kata Hamun.

Siwon tersenyum mendengar semua perhatian yang Hamun ucapkan tadi. Ia menggenggam tangan Hamun. “Aku akan tidur disini, tapi kau tak boleh tidur di sova. Badanmu akan sakit semua. Lagipula, apa kau mau mengganggu Woobin dan Jihyo yang sedang kencan di sova ruang televisi?” tanya Siwon. Hamun terdiam tampak sedang memikirkan solusi yang lain.

“Kau tidur disini saja bersamaku. Hamun, kau percaya padaku, kan? Aku tidak akan melakukan apa-apa padamu,” lanjut Siwon.

Hamun menatap manik mata pria itu. Dalam hati sebenarnya ia bimbang dan takut, akan tetapi ia tahu kalau pria ini sangat menyayanginya dan tak mungkin melakukan hal apapun padanya. Hamun tersenyum dan mengangguk setuju dengan usul Siwon. “Aku percaya padamu, oppa. Kalau begitu, kajja kita tidur,” ujar Hamun yang kembali ke posisi tidurnya tadi.

Siwon tertawa melihat tingkah Hamun dan ikut mengambil posisi berbaring di sebelah Hamun. Kini keduanya saling bertatapan berusaha menghabiskan rindu yang sudah menumpuk sejak lama. “Welcome home, oppa,” sambut Hamun.

Siwon mengambil tangan Hamun dan menggenggamnya erat. “Apa Donghae mengontakmu setelah syuting We Got Married selesai sebulan yang lalu?” tanya Siwon.

“Ani. Aku sudah bilang pada oppa, kan, hubungan kami hanya sebatas profesionalitas saat itu,” jawab Hamun dengan penuh kesabaran. Ia tak ingin membuat Siwon khawatir. Mungkin saat ini memang hatinya masih milik Donghae, tapi ia akan berusaha untuk mencintai Siwon agar pria itu tidak terluka.

“Hm, apa saat ini kau bahagia? Saat kau bersamaku seperti ini?” tanya Siwon lagi. Hamun mengangguk sebagai jawabannya.

“Lebih dari saat kau bersama Donghae dulu?”

“Lebih dari itu,” jawab Hamun. “Apa yang kau takutkan, oppa? Aku akan bersamamu, selama kau mau bersamaku,” ujar Hamun. “Kau tahu, kan, oppa? Aku sangat merepotkan dan kekanak-kanakan. Tak semua orang tahan padaku, jadi mungkin kau juga..”

Siwon memotong perkataan gadis itu dengan kecupan di bibir Hamun. “Mereka yang menganggapmu merepotkan adalah orang bodoh,” ujar Siwon saat ia melepaskan bibir Hamun. Hamun tersenyum pada Siwon dan memeluk pria itu erat.

‘Aku mohon oppa, bersabarlah sebentar lagi. Aku sedang belajar untuk mencintaimu melebihi dulu aku pernah mencintai Donghae,’ kata Hamun dalam hatinya.

‘Hamun, untuk apa kau berbohong padaku? Aku tak tahu mengapa kau begitu baik sampai rela mengorbankan perasaanmu untukku?’ tanya Siwon dalam hati. Hatinya saat ini terasa seperti luka yang diberikan alkohol. Sangat sakit. Sakit akan rasa bersalahnya. Ia merasa begitu egios karena tidak mau menyerahkan gadis ini pada sahabatnya. Hatinya juga merasa sakit karena Siwon sadar, satu-satunya alasan yang membuat Hamun bertahan dengannya: Hamun tak ingin melukai perasaan Siwon.

TBC