“Happy Halloween,” bisik Hyejin lalu mencium Kyuhyun untuk membangunkan pria kesayangannya itu yang masih tidur nyenyak karena baru kembali dari Tokyo.

Kyuhyun membuka matanya sedikit melihat wanita tercintanya yang sudah dua hari tidak ia lihat. “Humm?” Tanya Kyuhyun yang masih mengantuk.

Hyejin tersenyum sambil membelai wajah Kyuhyun dengan jari-jarinya. “Kita ada pesta halloween di rumah Eric Oppa malam ini. Kajja,” ujar Hyejin.

“Pesta Halloween? Aku tidak punya kostum,” kata Kyuhyun setengah terbangun setengah tersadar.

“Kau tenang saja. Aku sudah menyiapkannya,” kata Hyejin, menunjukkan kostum halloween mereka yang tergantung rapi di depan lemari. “Aku meminjam dari wardrobe Super Show 6 tadi pagi. Bagaimana, Kyu Elsa?”

Kyuhyun membelalakan mata melihat kostum Elsa ‘Frozen’-nya lengkap beserta wig super besar dan stoking jaring-jaring. “Kau mau aku memakai pakaian itu nanti malam? Yaaa!” Hyejin menganggukkan kepalanya.

“Andwe,” kata Kyuhyun dengan jelas.

“Wae? Kau kan biasa memakai pakaian wanita.”

“Itu kan hanya untuk show.”

“Oh, ayolah… Aku sudah menentukan tema kita berhubungan dengan es.”

“Kau pakai kostum apa?” Tanya Kyuhyun.

“Jack Frost,” jawab Hyejin tanpa ragu karena ia sudah menyiapkan ide ini sejak lama.

“Kalau begitu, aku yang jadi Jack Frost, kau jadi Elsa. Kau kan perempuan mana cocok jadi Jack Frost. Jadi Elsa saja? Ya? Ya? Ya?”

“Yaahh, jadinya tidak lucu… Ayolah…. Kau jadi elsa. Ya, Kyu, ya? Demi aku. Jebaaaal,” pinta Hyejin dengan wajah memelas dan puppy eyes-nya yang langsung mengalahkan Kyuhyun, telak.

“Arraseo,” ujar Kyuhyun malas-malasan dan Hyejin tersenyum puas. Ia bangkit dari tempat tidurnya lalu mencium Hyejin sebelum masuk ke dalam kamar mandi untuk siap-siap.

“Gomawooooo!!!” Seru Hyejin sambil tertawa-tawa membayangkan Kyuhyun itu dengan kostum Elsa-nya.

Musim gugur membuat Kyuhyun menjadi agak malas mandi sehingga ia hanya mencuci mukanya dan sikat gigi secukupnya. Tidak sampai 2 menit, Kyuhyun sudah keluar dari kamar mandi.

“Yaaaa!!! Kau mandi atau tidak?” Tegur Hyejin yang sedang memakai kostum Jack Frostnya.

“Tidak. Tadi pagi kan sudah,” jawab Kyuhyun dengan santai lalu memakai pakaian dalamnya sebelum memakai gaun biru yang biasa ia kenakan saat bertransformasi menjadi Elsa. Hyejin hanya bisa menghela nafas melihat kebiasaan kekasihnya yang tidak pernah berubah itu.

Hyejin membantu Kyuhyun memakai kostumnya dan dengan sengaja menyentuh bagian dada dari gaun itu. “Aku tidak menyangka mereka bisa membuatnya menjadi sebesar ini,” kata Hyejin dengan kekaguman tersendiri.

Kyuhyun menyeringai dengan bangga. “Kau pasti iri kan?” Kata Kyuhyun sambil tertawa membuat Hyejin terpaksa memukul pria itu sampai meringis kesakitan.

“Enak saja. Aku juga punya kok. Walau tidak sebesar punyamu tapi punyaku asli!!”

Kyuhyun tertawa terbahak-bahak mendengar argumentasi Hyejin dan masih sempat-sempatnya mencuri ciuman dari gadis yang sedang cemberut itu. “Aku tahu dan aku menyukainya,” bisik Kyuhyun sambil tersenyum jahil.

—–

“OPPA!!!! Lama sekali mandinya!!! Kau harus segera pakaian!!!” Teriak MinAh yang sudah mulai cemas. Sebagai penyelenggara pesta, seharusnya mereka sudah siap untuk menerima para tamu tapi yang ada pasangannya masih sibuk mandi padahal pesta akan dimulai setengah jam lagi.

MinAh terus meneriaki Eric, yang pura-pura tidak mendengarnya, sambil memandang pantulan dirinya yang memakai kostum Barbie. “Sempurna,” puji MinAh dengan bangga kepada dirinya sendiri. “OPPA!!! YAA MUN JUNG HYUK!!!”

Setelah sekian lama, Eric akhirnya keluar juga. “Aku harus menjadi yang paling tampan malam ini,” kata Eric sambil berpose penuh wibawa seolah memang ia pria paling tampan.

MinAh hanya tertawa geli melihat kelakuan Eric. “Ya ya ya. Kita lihat apa Oppa tetap bisa jadi yang paling tampan setelah memakai kostum itu,” kata MinAh merujuk pada jaket kulit hijau dan celana pendek hitam di atas tempat tidur.

Eric melihat kostumnya dan membandingkannya dengan kostum pacar yang akan segera menjadi istrinya itu. Barbie. Protes pun segera melayang dari mulutnya, “Yaa Park MinAh! Kalau kau jadi Barbie kenapa aku tidak jadi Ken saja? Kenapa aku harus jadi Mathilda? Waaae??”

“Karena menurutku Oppa paling lucu dengan kostum itu,” ujar MinAh dengan santai sambil tersenyum. Ia lalu menyodorkan satu set pakaian Mathilda beserta wig pendek yang akan terlihat sangat kecil jika dibandingkan kepalanya. “Cepat pakai. Sebentar lagi mereka akan datang.”

Eric dengan ragu menerima kostumnya tapi MinAh berhasil memaksanya. “Sudah, pakai saja. Tidak usah malu. Tidak usah sok jaga image. Seluruh dunia juga sudah tahu bagaimana kalau kau memakai kostum ini. Tenang saja…”

Eric agak memanyunkan bibirnya. “Memang image-ku sejelek itu apa di matamu?” Tanya Eric saat memakai stoking jaring-jaringnya.

“Tidak sih tapi mengingat banyak sekali keabsurdan Oppa yang sudah aku lihat yaah… Sudahlah, pakai saja ah!”

Eric kemudian tertawa terbahak-bahak. Ia ingat sudah banyak pakaian aneh yang pernah dipakainya, termasuk Mathilda, dan ia sadar tidak ada satupun dari hal-hal aneh itu yang menurunkan rasa percaya dirinya. Dia akan tetap paling tampan dan menarik, setidaknya untuk MinAh.

“Siapa saja yang datang?” Tanya Eric sambil memakai jaket hijau yang sebetulnya agak sesak tapi cukup di badannya sehingga memperlihatkan otot-ototnya hasil fitness beberapa kali seminggu.

“Aku sih hanya Hyejin, HyunAh, Jihyo dan Hamun saja beserta pasangannya. Oppa mengundang siapa?” jawab MinAh.

“Tidak ada. Mereka saja kurasa sudah cukup,” kata Eric membuat MinAh terpaksa mencubit hidung pria itu dengan gemas.

“Kupikir kau akan mengundang Shinhwa oppadeul. Aku sudah pesan makanan banyak tahu.”

“Tidak apa-apa. Bisa buat kita makan besok. Santai saja,” kata Eric dengan cuek lalu menatap cerminan dirinya di cermin. Eric tersenyum puas. “Aku tetap paling tampan kan?”

MinAh memandang kekasihnya yang sudah siap dengan kostumnya dan hanya geleng-geleng kepala saat pria itu mengaku dirinya tetap yang paling tampan.

—-

“Hamun-ah!! Tunggu aku!!” Teriak Donghae yang baru keluar dari dalam mobilnya sambil menenteng sepatu hak tinggi yang merupakan salah satu kelengkapan kostum pesta halloweennya.

Hamun yang berada beberapa meter di depan Donghae terpaksa berhenti dan Ia tidak kuat untuk tidak tertawa saat melihat pria itu berusaha mengejarnya dengan gaun hitam ketat sepaha dan wig panjang bergelombang, jangan lupa kakinya masih telanjang. “Oppa!! Ppali!!! MinAh eonni sudah bolak-balik menelepon!!” Seru Hamun tanpa bisa menghentikan tawanya.

Dengan susah payah, Donghae berhasil menyusul Hamun. “Jalanmu cepat sekali sih?! Pelan-pelan saja kenapa? Gaun ini ketat sekali! Aku jadi susah berjalan,” keluh Donghae sambil menurunkan rok gaunnya yang agak terangkat sehingga memperlihatkan celana pendek lebih ketat sebagai dalamannya.

“Hahhahhaha! Aku kan jadi Edward Cullen hari ini jadi aku harus serba cepat. Oppa tahu Edward Cullen kan? Vampir di film Twilight itu loh. Gerakan mereka kan cepat-cepat,” celoteh Hamun yang sudah masuk kiri keluar kanan di telinga Donghae.

“Iya iya aku tahu. Lalu kenapa aku tidak jadi Jacob atau serigala saja? Masa aku jadi Beyonce?” Protes Donghae yang kembali menurunkan roknya sambil berjalan menuju rumah Eric.

Hamun hanya tertawa geli. “Edward kan ceritanya jatuh cinta sama manusia, si Bella itu. Tadinya aku mau bikin Oppa jadi Bella tapi tiba-tiba aku ingat Super Show 3 yang Oppa jadi Beyonce, ya kubikin saja Oppa jadi Beyonce. Memang kenapa?”

“Tidak apa-apa sih tapi kan lebih bagus kalau ada ide lain. Misal aku jadi raja minyak dari Arab atau jadi Iron Man?”

Hamun tertawa semakin keras. “Terlalu bagus untuk halloween party kita hari ini. Oppa pasti kaget kalau melihat kostum yang dipakai oleh yang lainnya,” kata Hamun membuat Donghae sedikit lebih tenang namun juga penasaran.

“Memang apa yang mereka pakai?” Tanya Donghae.

“Ada deh. Oppa lihat saja nanti,” jawab Hamun sok misterius padahal Donghae sudah melihat Eric dan Kyuhyun yang sedang duduk di kursi dengan kaki melebar sambil meminum bir dari kaleng masing-masing. “Mereka berdua lucu sekali.” Donghae tidak bisa berhenti tertawa. Ia bahkan sampai memegangi perutnya.

“Jangan tertawa. Sudah kubilang Oppa tidak sendirian kan?”

“Iya iya. Hahahahahaha. Ngomong-ngomong, tema kita apa? Kyuhyun dan Hyejin tampaknya bertemakan es. Eric hyung dan MinAh, entahlah, apa persamaan dari Barbie dan Mathilda?” Ujar Donghae yang kebingungan sendiri melihat kostum Eric dan MinAh.

Hamun menggelengkan kepalanya. “Tidak ada tema khusus. Aku hanya ingin jadi Edward Cullen dan aku suka jika Oppa jadi Beyonhae. Itu saja,” jawab Hamun dengan santai dan Donghae hanya menaikkan alisnya seolah berkata : ‘Yaak Kang Hamun! Pikirkan tema yang bagus!’

“Okay. Tema kita Edward Cullen ternyata fans berat Beyonce?” Usul Hamun spontan membuat Donghae hanya bisa menghela nafas putus asa.

“Harusnya aku jadi Chucky dan kau jadi Annabelle. Aku yakin kita akan jadi pasangan yang paling menyeramkan malam ini,” ujar Donghae yang baru disadari Hamun ide itu sangat bagus sebenarnya tapi menyeramkan.

“Aku tidak mau jadi Annabelle. Hiiii!!” Kata Hamun lalu berjalan lebih dulu untuk menghampiri kedua eonnideulnya yang sedang sibuk menyiapkan makanan. Dengan terpaksa, Donghae berlari menyusul Hamun dengan keterbatasan gaun hitamnya yang super ketat itu.

—-

“Yaaaa Kim Woobin!!! Kau terlambat!!! Astagaaaaa!!!” Seru Jihyo dengan panik melihat pacarnya yang baru sampai apartemen padahal pesta halloween di rumah Eric akan dimulai 5 menit lagi. “Oppa kenapa bisa terlambat sih? Aku kan sudah bilang acaranya jam 9, kenapa baru pulang jam 9?” Jihyo tidak berhenti mengoceh membuat Woobin yang baru pulang agak sakit kepala.

“Mana kostumku?” Tanya Woobin dengan tidak sabar.

“Di mobil. Memangnya Oppa mau pakai kostum dinosaurus itu sekarang?” Woobin menggelengkan kepalanya. Mengingat kostum dinosaurus itu memiliki ekor yang panjang dan akan sangat mengganggu jika sepanjang perjalanan menuju rumah Eric dia sudah memakai kostum itu. “Ya sudah. Sekarang Oppa lebih baik mandi yang cepat. MinAh eonni dan Hyejin eonni sudah meneleponku seribu kali bertanya aku sudah berada dimana. Ppali!!”

Woobin secepat kilat melesat masuk ke kamar mandi dan bersiap-siap semampunya. Jihyo tersenyum puas sambil mengacungkan kedua jempolnya ketika Woobin muncul di hadapannya tidak sampai 5 menit sejak ia menyuruh pria jangkung itu masuk ke kamar mandi. “Kajja!” Ajak Woobin yang disusul oleh Jihyo.

“Kau jadi apa?” Tanya Woobin agak bingung melihat gadis yang duduk di sebelahnya memakai baju ketat berwarna coklat yang membalut tubuhnya dari leher sampai kaki tanpa ada bagian yang tidak tertutup sama sekali. Woobin bahkan semakin heran karena Jihyo bahkan membawa sebuah busur dan anak panah.

“Katniss Everdeen,” jawab Jihyo.

“Katniss Everdeen?”

“Ya Tuhan, Woobin Oppa yang paling tampan! Hunger Games. Catching Fire. Mocking Jay? Kau tahu kan? Katniss. Everdeen.”

Woobin menepuk keningnya sambil tertawa. “Maaf, aku lupa. Sepertinya aku ketiduran waktu kau mengajak nonton film itu,” ujar Woobin membuat Jihyo agak memanyunkan bibirnya sedikit. “Lalu, kenapa aku jadi dinosaurus?”

“Katniss kan seorang pemburu. Biasanya dia berburu rusa atau burung. Aku tidak suka binatang-binatang kecil seperti itu. Aku ingin yang lebih besar jadi aku memilih dinosaurus,” jawab Jihyo sambil menyeringai lebar membuat Woobin sadar akan ide-ide jahil dalam kepala kekasihnya itu.

“Jadi maksudmu aku hewan buruanmu?” Tanya Woobin dengan penuh curiga dan Jihyo menganggukkan kepalanya sambil menyengir.

“Hewan buruan yang bisa kau siksa. Begitu?” Tanya Woobin lagi dan Jihyo kembali menganggukkan kepalanya dengan cengiran yang lebih lebar.

Woobin tersenyum. Senyuman jahil yang sepertinya ia dapatkan karena terlalu sering bersama Jihyo. Senyuman jahil itu semakin lebar dan semakin menakutkan. “Oppa, jangan tersenyum seperti itu. Mengerikan!” Kata Jihyo memukul lengan Woobin.

Woobin tersenyum semakin jahil lalu mencuri satu ciuman dari Jihyo. “Kita lihat saja nanti siapa yang sebenarnya pemburu dan buruan,” kata Woobin membuat Jihyo tersipu malu-malu, sebentar.

Jihyo tersadar apa yang baru dilakukan Woobin barusan adalah kesalahan. “Yaaak Oppa!! Kau sedang menyetir!! Kau mau kita mati hah?!” Omel Jihyo sambil memukuli bahu Woobin dimana Woobin hanya tertawa terbahak-bahak puas melihat tingkah laku pacarnya yang tidak bisa diam.

—-

“Hyung!!! Ada apa dengan kostum kalian?!” Seru Henry sambil tertawa terbahak-bahak melihat ketiga hyungdeulnya berpakaian aneh bin ajaib.

Eric menganggap Henry tidak ada. Kyuhyun melihat Henry dengan malas-malasan. Hanya Donghae yang agak berbaik hati menjawab pertanyaan Henry, “Ini pesta halloween, Henry. Kau harus memakai kostum yang lucu untuk memeriahkan suasana. Bukan memakai kostum spiderman kekanak-kanakan seperti itu.”

Henry kembali tertawa. “Yaa hyung, kostumku ini kostum yang awet sepanjang masa. Mana ada laki-laki yang tidak mau jadi superman,” sahut Henry lalu meninggalkan hyungdeulnya untuk bergabung dengan para yeoja yang sedang menata meja makan.

Eric menatap Henry dengan iri. Kyuhyun melihat Henry dengan sebal. Sedangkan Donghae memandang dengan pasrah. “Seharusnya kita tidak mempercayakan kostum ini pada yeoja,” kata Eric penuh penyesalan.

“Aku setuju,” sahut Kyuhyun.

Henry sedang lincah-lincahnya menata piring dan makanan-makanan di atas meja dan tiba-tiba sebuah jitakan mendarat di kepalanya. “Nunaaaaa… Wae?” Tanya Henry dengan wajah polos dan suaranya yang sok diimut-imutkan yang membuat MinAh ingin menjitaknya sekali lagi.

“Siapa yang menyuruhmu pakai kostum spiderman? Aku akan sudah bilang kalau yang pria harus cross-dressing!!! Haiiiisssh!!!” Omel MinAh yang hanya ditanggapi oleh Henry dengan sebuah senyuman lebar sambil menunjuk HyunAh.

MinAh berpaling kepada HyunAh. Wajahnya sudah sebal saja. “Hyuuun… Memangnya kau tidak bilang padanya kalau dia harus memakai kostum perempuan?” Tanya MinAh dengan sebal.

“Aku bilang kok tapi dia keras kepala,” jawab HyunAh dengan tatapan tajam kepada Henry. Henry kembali hanya menyeringai. “Yaaaa Baby Hen….”

“Hahahahahaha. Mian. Mian,” kata Henry meminta maaf. “Aku tahu aku salah dress code. Aku minta maaf. Tapi aku keren kan dengan kostum ini?” Tanyanya yang sebetulnya tanpa memerlukan jawaban. Pria dengan kostum merah jaring-jaring hitam dengan lambang spiderman itu sudah dengan lincah melompat kesana kemari, menjulurkan tangannya seolah akan mengeluarkan jaring-jaring seperti spiderman aslinya.

Dengan malas, MinAh menonton aksi Henry. “Hyun, aku mohon urus dulu pacarmu itu. Kurasa dia mulai stress karena keseringan kau tinggal pergi,” komentar MinAh membuat HyunAh tertawa.

“Oh ya Hyun, ngomong-ngomong kau pakai kostum apa? Kenapa simpel sekali? Hanya kemeja putih dan rok hitam. Siapa yang memilihkan?” Tanya MinAh.

HyunAh menunjuk Henry yang masih melompat kesana kemari, beraksi seolah-olah menjadi spiderman. “Dia spiderman. Aku Mary-Jane.”

MinAh memperhatikan penampilan HyunAh dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Hyun, sebaiknya kau lebih hati-hati. Aku rasa sense of fashion-mu sudah terpengaruh oleh keanehan fashion kekasihmu. Kemeja putih, rok pendek hitam, kaus kaki merah dan sepatu kuning. Aku bisa pingsan kalau sekali lagi melihatmu seperti ini Hyun…”

HyunAh hanya tertawa. “Namanya juga cinta, MinAh. Sekali-sekali membiarkan pria yang kita cintai mendandani kita kan tidak apa-apa,” sahut HyunAh yang membuat MinAh menengok pada Eric yang sedang duduk dengan satu kaki berpangku pada kaki yang lainnya, didukung stoking jaring-jaringnya yang memperjelas gambar otot-otot Eric.

MinAh kembali menoleh kepada HyunAh. “Aku rasa ada baiknya jika kendali fashion tetap ada pada wanita. Ya ampun Jung HyunAh, aku mohon. Aku tidak mau sense of fashion-mu yang sudah bagus itu hancur begitu saja….”

“Hahahahahaha. Tidak akan, MinAh-ya. Aku janji,” kata HyunAh dan MinAh sepenuhnya percaya pada sahabatnya itu.

“Ya sudah, aku percaya padamu,” kata MinAh yang masih tidak bisa mencerna pemandangan di depan matanya dengan akal sehatnya. Henry masih melompat-lompat, menikmati cosplay-nya sebagai spiderman. “HyunAh benar-benar wanita yang sabar,” pikir MinAh.

@gyumontic