Thank you for reading this fanfiction. Closer to the end hehehe. Hope you enjoy this part too 🙂 

Main cast: Lee Donghae, Kang Hamun, Choi Siwon

Supporting cast: Member SJ and SG

******

“Apa yang kita lakukan seharian ini adalah farewell kita. Aku ingin kita putus, Hamun,” ujar pria itu. Kata-kata pahit itu terucap dengan penuh kelembutan.

Hamun terlalu kaget dengan apa yang ia dengar barusan. Ia bahkan tidak sempat mengatur emosinya dan air mata itu mengalir begitu saja. “Uljima, Hamun. Uljima,” pinta Siwon sambil menghapus air mata gadis itu.

Hati Siwon sangat sakit melihat air mata Hamun mengalir karena dirinya. Siwon mengerti mengapa Hamun menangis. Gadis itu pasti sudah membulatkan tekadnya untuk tetap bersama dengan Siwon selamanya sampai ia rela memendam perasaannya terhadap Donghae. Akan tetapi, kini justru Siwon sendiri yang mengakhiri hubungan mereka.

“Waeyo, oppa?” tanya Hamun tak mengerti.

“Apa kau tahu mengapa Donghae dulu berbohong padamu?” tanya Siwon yang Hamun jawab dengan gelengan kepala. Ia tidak tahu dan ia tidak mau mendengar. Tidak saat ini setelah ia memutuskan untuk memberikan hatinya pada Siwon.

“Ia mengorbankan perasaannya untukku karena ia tahu aku menyayangimu sama seperti dirinya. Dan, ia mengorbankan perasaannya untukmu, karena ia pikir hanya aku yang bisa membuatmu bahagia dengan segala yang aku punya,” jelas Siwon.

Hati Hamun mencelos mendengar kenyataan itu. Ia menatap pria diujung sana yang sedang menatapnya dengan lirih. Ia tak menyangka kalau Donghae sudah mengorbankan perasaannya sejak dulu demi kepentingan Hamun dan Siwon.

“Aku juga tahu, kau akan melakukan hal yang sama seperti pria itu. Kau akan mengorbankan perasaanmu untukku agar aku tidak terluka dan tetap bahagia. Iya, kan, Hamun? Pikiran itu, kan, yang ada di kepalamu?” tanya Siwon dengan tawa yang ia paksakan. Hamun tak bisa menjawab, apa yang Siwon katakan adalah kebenarannya seakan-akan pria itu bisa melihat sampai ke hatinya yang terdalam. Siwon menarik Hamun kedalam pelukannya dan tangisan Hamun menderu.

“Aku sudah sangat bahagia selama enam tahun bersamamu. Aku juga sangat berterima kasih karena kalian rela mengorbankan perasaan kalian demi aku. Tapi, kali ini aku ingin mengembalikan semua kebahagiaan itu padamu dan Donghae. Biarkan aku berkorban untuk dua orang yang paling berharga di hidupku,” lanjut Siwon.

“Mulai detik ini, kau bukan lagi milikku, Hamun,” ujar Siwon sambil melepaskan Hamun dari pelukannya. “Kembalilah padanya,” lanjutnya.

Siwon hendak beranjak pergi dari situ tapi Hamun menahannya dengan memeluk Siwon dari belakang. “Aku memang mencintai Donghae oppa. Tapi, aku akan belajar mencintaimu oppa seperti dulu. Aku yakin aku bisa karena aku sudah berjanji untuk membuatmu bahagia. Asal kau menunggu lebih lama, semuanya akan kembali sama seperti dulu,” ujar Hamun ditengah isakannya.

Siwon melepaskan pelukannya dan memutar tubuhnya untuk kembali menatap Hamun. “Semuanya sudah berubah Hamun dan kita tidak bisa kembali seperti dulu. To have something halfway is harder than not having it all, Hamun. Since beginning, your heart is not belong to me. Aku tahu kau menyayangiku, tapi rasa itu berbeda dengan perasaanmu terhadap Donghae. Kau sendiri yang sangat mengenal hatimu, Hamun,” kata Siwon.

Kini, Siwon benar-benar pergi meninggalkan Hamun, meninggalkan hatinya. Hamun terlalu sedih untuk bisa mengejar Siwon. Harusnya ia bahagia karena ia bisa kembali pada Donghae, pria yang sangat ia cintai. Akan tetapi, rasa sakit menguburnya. Sakit karena ia sadar dirinya telah melukai hati pria yang pernah sangat mencintainya.

“Hamun ah,” panggil pria itu lembut. Air mata Hamun kembali mengalir saat melihat pria itu ada disampingnya.

“Donghae oppa,” panggil Hamun memastikan kalau ia tidak salah. Ia bahkan menyentuh wajah Donghae untuk merasakan kalau kehangatan itu masih sama seperti sebelumnya. “Bagaimana kau bisa berada disini?” tanyanya.

Donghae langsung menarik Hamun ke dalam pelukannya dan membiarkan tangisan Hamun menderu. Ia juga menitikan air matanya, namun ia harus kuat demi gadis ini. Gadis kesayangannya, yang tak ia sangka akan menjadi miliknya, tentu saja jika Hamun ingin kembali padanya. Kalau pun pada akhirnya ia kembali memilih Siwon, Donghae akan merelakannya. Asal gadis itu bahagia.

*****

“Pagi,” sapa Donghae saat Hamun mulai membuka matanya. Donghae yang sejak semalam duduk di kursi belajar Hamun, kini berpindah ke tepi tempat tidur Hamun. “Oppa semalaman disini?” tanya Hamun.

Donghae mengangguk sambil merapikan rambut Hamun yang menutupi wajah cantiknya. “Kau bermimpi sampai menangis dan menyebutkan namaku berkali-kali. Aku tidak bisa meninggalkanmu,” jawab Donghae sesuai kenyataan.

Hamun tersenyum kecil mendengar hal itu. Wajahnya terasa kaku akibat air mata yang mengering di kulit wajahnya. Meskipun kini Hamun bisa tersenyum, hatinya masih merasa sakit atas semua yang terjadi. “Oppa,” ujar Hamun memecah keheningan diantara mereka berdua. “Wajahmu kenapa?” tanyanya sambil mengelus pipi Donghae yang membiru.

Donghae tersenyum dan memulai ceritanya.

Flashback

“Siwon, waeyo? Tumben ke tempatku?” tanya Donghae begitu ia mendapati Siwon yang memencet bel apartemennya.

“Ada yang ingin kubicarakan padamu,” kata Siwon. Ia langsung masuk ke dalam apartemen itu sebelum tuan rumah mengizinkan.

“Ada apa?” tanya Donghae yang tak mengerti tujuan kedatangan Siwon. “Duduklah,” tawar Donghae yang tidak dipedulikan oleh sahabatnya itu. Siwon hanya berdiri berhadapan dengan Donghae dan menatapnya dengan serius.

“Apa kau mencintai Hamun?” tanya Siwon tiba-tiba.

Donghae terdiam sesaat. Ia kaget dengan pernyataan itu. Dengan segera, ia mengatur ekspresinya. “Tidak,” jawab Donghae tanpa keraguan. “Jika kau ingin membahas gadis itu, kau pulang saja,” ujar Donghae sambil berlalu meninggalkan Siwon. Saat Donghae berjalan di samping Siwon, pria itu menahan tangan Donghae dan memukul wajah Donghae.

Donghae tersungkur di lantai sambil menyentuh pipinya yang kesakitan. “Bangun,” ujar Siwon memerintah. Ia bahkan menarik kerah kemeja Donghae agar pria itu berdiri. “Sampai kapan kau mau membohongiku? Aku sudah mendengar semuanya saat kau menjenguk Hamun di rumah sakit malam itu,” ujar Siwon.

Donghae kembali terdiam. Dia tak punya kalimat yang dapat membantah ucapan Siwon. “Jika semua itu benar, aku juga tak bisa apa-apa. Ia bahagia bersamamu dan kau juga demikian,” ujar Donghae yang langsung mendapat pukulan dari Siwon.

“Kenapa kau tak memperjuangkannya?!” seru Siwon. Ia kembali mengangkat Donghae agar ia bisa berdiri dan menerima pukulan dari Siwon.

Donghae mengusap ujung bibirnya yang sudah berdarah. “Kau tak bisa menjawab?” tanya Siwon sinis. “Aku tak menyangka kau sepengecut itu,” lanjutnya. “Aku datang kesini untuk memastikan suatu hal dan aku sudah mendapatkan jawabannya. Aku menyesal memperhitungkanmu sebagai pria yang dapat menggantikanku dalam hidup Hamun, ternyata cintamu pada Hamun sangat dangkal,” ujarnya.

Siwon sudah melangkah sampai pintu keluar, tetapi sebelum ia memutar kenop pintu, Donghae menahan pundak Siwon dan memukul pria itu telak. Siwon bahkan sudah tersungkur di lantai. Donghae menahan tubuh Siwon yang masih tergeletak dan hendak memukulnya lagi, namun tangannya terhenti di udara. Siwon merasakan ada air yang jatuh di wajahnya, ia mengangkat kepalanya dan mendapati Donghae sudah menatapnya dengan penuh amarah dan air mata yang menumpuk di kelopak matanya.

“Jangan pernah menyepelekan perasaanku pada Hamun,” bertepatan dengan ucapannya itu, air matanya terjatuh lagi. “Aku mencintainya sampai-sampai aku merasa bisa melakukan apapun untuknya. Apapun, kecuali menyakiti sahabatku sendiri,” ujarnya. Donghae melepaskan cengkramannya pada tubuh Siwon tadi dan duduk di lantai.

Siwon mengangkat tubuhnya dan duduk di samping Donghae. Ia terdiam mengamati Donghae yang berusaha untuk menghentikan air matanya. “Mengapa kau berkorban untukku?” tanya Siwon yang emosinya mulai mereda.

“Saat itu aku berpikir kalau hanya kaulah yang bisa membuatnya bahagia. Aku sangat mencintainya saat itu sampai aku rela mengorbankan perasaanku asal ia bahagia dan aku sangat menyayangimu sebagai sahabatku, aku tak bisa melihatmu terluka terutama karena keegoisanku,” ujar Donghae sejujurnya. “Walaupun selama 6 tahun ini hatiku selalu terasa sangat sakit melihat kalian bersama,” lanjutnya.

Siwon terdiam mendengar jawaban Donghae. Sekuat tenaga ia menahan agar air matanya tak mengalir walaupun hatinya juga tersakiti. Ia tak bisa membayangkan bagaimana cara Donghae mengabaikan rasa sakit yang selama ini ia rasakan. Terlebih lagi semuanya ia lakukan demi kebahagian Siwon dan Hamun. “Kau tahu? Apa yang seharusnya menjadi milikmu, pada akhirnya akan kembali padamu bagaimana pun caranya,” kata Siwon. Ia menepuk pundah pria itu dan berjalan meninggalkannya.

“Kalau kau benar-benar menyayanginya, datanglah ke tempat yang akan aku beritahu nanti. Buktikan padaku kalau kau memang sayang pada Hamun,” ujar Siwon sebelum ia menutup pintu apartemen Donghae.

Flashback end

Hamun tak bisa menyembunyikan air matanya. Sekuat apapun ia tahan, setetes air mata lolos membasahi pipinya. “Oppa,” panggilnya lagi. Donghae hanya tersenyum dengan sabar.

“Aku tidak bisa kembali padamu,” ujar Hamun lirih. Matanya menyorotkan kesedihan yang mendalam karena sesungguhnya bukan hal itu yang ia inginkan. Akan tetapi, ia tahu dirinya tidak pantas untuk meresmikan hubungan dengan Donghae disaat Siwon mungkin sedang sangat tersakiti.

Donghae menggenggam tangan Hamun dengan senyum yang tak pernah hilang. “Aku tahu kau akan mengatakan hal ini. Jadi, aku sudah mempersiapkan hatiku,” kata Donghae.

“Aku juga tak ingin menyakiti Siwon lebih dari ini. Aku akan menunggumu, sama seperti sebelumnya. Aku mampu bertahan selama enam tahun ini, jadi menunggumu setahun atau dua tahun lagi bukan hal yang sulit karena perasaanku padamu tidak akan pernah berubah,”

*****

2 years later

“Hamun, kau yakin mau di dorm sendirian saat kau tidak ada jadwal seharian ini?” tanya Jihyo pada Hamun yang begitu serius menonton metamorfosis kupu-kupu di televisi. “Kau bisa ikut dengan kami kalau mau, Hamun,” sahut Woobin.

“Kurasa ia harus segera kita carikan kekasih. Kesepian membuat Hamun semakin menjadi aneh,” kata Minah yang sudah berdandan sangat cantik. “Bahkan genre tontonan Hamun sudah sangat berubah,” kata Eric.

“Aku tak tahu apa menariknya ulat itu,” ujar Henry. “Hamun, jangan menonton televisi terlalu serius seperti itu,” kata Hyunah.

“Kenapa semuanya berkumpul seperti ini?” tanya Hyejin yang baru saja keluar dari kamar. “Magnaemu mengkhawatirkan,” ujar Kyuhyun yang sedari tadi ikut menonton televisi bersama Hamun.

“Bahkan ia tidak mau jika aku mengganti channelnya,” omelnya sambil menunjuk televisi yang tidak salah apa-apa.

“Kalau kau tidak ada kerjaan hari ini, keluar saja dengan Donghae oppa. Dia sedang syuting, tapi kalau kau yang minta pasti ia menyempatkan. Jangan merasa tidak enak dengan Siwon hyung, atau Jihyo, atau kami semua. Ini sudah nyaris dua tahun sejak kau putus dengan Siwon hyung. Tapi sikap kau dan Donghae tidak berubah sama sekali, masih dingin satu sama lain padahal saling mencintai. Jika kau memang mencintai Donghae oppa, kami semua mendukung kalian berdua,” lanjut Kyuhyun.

Jihyo hanya bisa terdiam sambil menatap gadis itu lirih. Dulu memang ia tak bisa menerima saat Hamun dan oppanya putus, akan tetapi melihat pengorbanan Hamun ini justru membuatnya sedih. Rasanya sudah berulang kali member SG dan SJ menasehati Hamun dan Donghae dengan kalimat yang Kyuhyun katakan tadi. Mereka berdua pasangan yang sangat menyedihkan menurut Jihyo. Saling mencintai namun menolak untuk bersama demi menjaga perasaan orang-orang terdekatnya.

Hamun menghela nafas panjang setelah mendengar ucapan Kyuhyun itu. Untuk pertama kalinya, akhirnya ia mengalihkan perhatiannya dari ulat dan kepompong di depannya. Ia beranjak dari ruang televisi itu dan membuka pintu dorm SG untuk mengantar mereka keluar. “Terima kasih untuk perhatian kalian onniedul dan oppadeul. Tapi, kalian tak perlu khawatir padaku karena aku tidak apa-apa. Jika kalian ingin kencan, pergilah, sebelum aku berubah pikiran dan berniat mengganggu kencan kalian,” ujar Hamun.

Dengan wajah prihatin mereka semua bergantian keluar dari dorm itu sambil berpamitan pada Hamun dan mengacak rambut Hamun, mungkin untuk memberikan semangat. Hyejin onnie adalah orang yang terakhir keluar. Ia menggenggam tangan Hamun dan menatapnya dengan wajah serius. “Aku mohon, kali ini kau harus memikirkan apa yang Kyuhyun katakan tadi. Bukan hanya untuk dirimu, tetapi untuk Donghae oppa juga,” ujarnya.

*****

TBC