Song Hyejin’s POV

Annyeong yeorobun. Oremaneyo!! Long time no see… This is Song Hyejin and I need some help. Hari ini sampai 2 minggu ke depan, suamiku akan pergi ke Jepang untuk urusan bisnis. Can you watch him for me? Beritahu aku kalau dia selingkuh dariku. Hihihihi. Kamsahamnida yeorobun!! Cho Kyuhyun, saranghaeyo! XOXO

Aku mempost sebuah note ke dalam http://www.TopClassSocialite.com untuk memberitahukan kepada dunia bahwa suamiku sedang berada di Jepang dan aku mengawasinya 24 jam dengan mata-mata terbaik di dunia sosialita kami sehingga para wanita-wanita nakal kurang kerjaan itu berpikir seribu kali untuk menggoda suamiku.

Cho Kyuhyun, Direktur Utama Song-Cho Corporation, perusahaan fashion terbesar di Korea, pemilik 50 trilyun won saham di industri fashion Korea, tampan dan brilian. Wanita mana yang tidak mau dengannya dan istri mana yang mau kehilangan suami sesempurna itu? Aku jelas tidak mau. Karena itu, aku selalu mengawasinya 24 jam.

Smartphone-ku berdenting, sebuah pesan singkat datang dari pria yang sangat kurindukan saat ini : Kau sudah menyuruh website sok maha tahu itu mengawasiku ya?? Romantis sekali. Aku suka… Hyejin-ah, saranghae!

Aku berusaha mengabaikannya. Kalau aku membalasnya, aku yakin tidak akan bisa menghentikannya dan malah akan meneleponnya dan menangis betapa aku merindukannya. Aku tidak mau mengacaukan urusannya.

Aku menjauhkan smartphoneku dan mulai sibuk dengan laptopku, agar aku tidak tergoda untuk menghubungi Kyuhyun. Aku mengecek Top Class Socialite sekali lagi dan belum ada berita tentang Kyuhyun. Aku bisa menyelesaikan pekerjaanku dengan tenang.

Smartphone-ku berdenting lagi. Aku tidak tahan untuk tidak melihatnya. Sebuah pesan singkat lagi dari Kyuhyun : Kau sudah tidur? Aaah sayang, aku sangat merindukanmu. Baru berpisah seperempat hari saja sudah separah ini, bagaimana 2 minggu?

Pria bernama Cho Kyuhyun ini benar-benar membuat emosiku naik. “Yak! Berhentilah memancing emosiku. Sebentar lagi aku bisa menangis saking merindukanmu, bodoh!” Aku meneleponnya. Aku tidak tahan lagi untuk tidak mendengar suaranya.

Kyuhyun tertawa renyah. Aku bisa merasakan kehangatan dari tawanya dan mulai membuatku meneteskan air mata. “Yeobo, tidak bolehkah aku ikut ke Jepang bersamamu?”

“Boleh. Siapa yang melarang? Tapi kan kau sendiri yang tidak mau. Katanya, kau takut mengganggu pekerjaanku.”

Aku menganggukkan kepala sambil mengusap air mataku. “Iya, aku takut mengganggu tapi 2 minggu rasanya lama sekali. Sepertinya aku tidak sanggup. Selain itu siapa yang akan mengurus perusahaan di sini kalau aku ke Jepang?”

“Kalau gitu bagaimana jika kau ke Jepang 3 hari sekali? Aku yakin Hyemi tidak akan keberatan kalau mengurus perusahaan 2 hari seminggu. Di sini nanti kau bisa makan teriyaki kesukaanmu, main di Disneyland sepuasmu dan tidur bersamaku malam harinya. Bagaimana ideku? Kau suka?”

Aku suka sekali idenya tapi rasanya itu masih kurang. Aku ingin setiap hari bersamanya. “Aaah lupakan. Yang ada nanti aku tidak mau pulang-pulang. Sudahlah. Aku mau tidur dulu. Bye.” Aku memutuskan teleponku. Sedetik kemudian sebuah sms masuk : Jalja, yeobo. Can’t wait to see you. Saranghae, jagiya!!! Pria itu benar-benar menguras air mataku malam ini. Aku menangis sendirian saking merindukannya.

—-

Pagi-pagi sekali aku sudah bangun karena tempat tidur ini rasanya terlalu dingin jika ditiduri seorang diri. Hal pertama yang aku lakukan adalah membuka semua social media untuk mengetahui berita tentang suamiku. Semua masih berjalan aman.

@GaemGyu. 7 days to go and I already miss you to death. Comeback home asap please… Love you!

Aku mengirim tweet untuk Kyuhyun tidak berharap dia sempat membacanya. Aku hanya ingin melampiaskan kerinduanku padanya. Tapi tidak sampai 5 menit, Kyuhyun meneleponku. “Merindukanku uh? Masih tidak ingin ke Jepang? Di sini banyak wanita cantik. Kau tidak takut aku tergoda oleh mereka?”

“YAK CHO KYUHYUN! Jangan berani-berani kau selingkuh!” Seruku panik yang hanya dibalas dengan tawa senangnya berhasil membangkitkan emosiku di pagi hari.

“Hari ini urusanku hanya setengah hari. Aku rasa aku bisa pulang ke Korea dan kembali ke Jepang pagi-pagi buta besok. Bagaimana? Apa kau mau melihatku?”

“Kau tidak capek?”

“Kalau langsung bertemu denganmu, capekku akan langsung hilang. Ok?”

“Kau serius?”

Kyuhyun tertawa. “Aku serius, sayang. Aku akan pulang sebentar. Ini juga demi keselamatan hidupku. Andaikata aku ini handphone, bateraiku tinggal satu strip sehingga aku harus bertemu chargerku.”

Aku tidak bisa menyembunyikan kegembiraanku. Aku senang sekali bisa melihatnya lagi meskipun hanya beberapa jam. Satu-satunya yang kuinginkan sekarang hanyalah dia dan aku akan mendapatkannya beberapa jam lagi. Aku sangat senang. “Kyaaaaa!!! Aku akan menunggumu. Kau ingin aku pakai baju apa? Apa aku perlu berdandan?”

Kyuhyun tertawa. “Kau tahu jelas aku paling suka saat kau tidak pakai baju dan berkeringat.”

“Kyaaaa! Cho Kyuhyun, kau mesum!”

Kyuhyun hanya tertawa. “Terserah kau mau pakai apa, yang penting aku bertemu denganmu. Ok? Sampai jumpa nanti, sayang. Aku mencintaimu.”

“Aku juga. Sampai jumpa.”

Dengan terburu-buru, aku membuka lemari pakaianku, memilih-milih satu di antara seribu pakaian yang akan aku pakai untuk menyambut Kyuhyun. Musim gugur, dingin. Aku memutuskan untuk hanya memakai kimono teringan yang aku punya. Bukan aku tidak mau tampil lebih layak tapi belum tentu baju ini akan kembali ke lemari dengan selamat jika sudah berhadapan dengan Kyuhyun.

—-

Cho Kyuhyun’s POV

Aku menyelesaikan rapatku lebih cepat daripada dugaanku sehingga aku bisa pulang lebih cepat dari yang dijadwalkan. Aku segera meluncur ke bandara, memajukan jam penerbanganku 2 jam lebih cepat, menelepon supirku agar menjemputku begitu aku sampai di Korea. 2 jam mungkin tidak terasa lama tapi bagiku 2 jam akan sangat berarti karena ada makhluk paling cantik yang menunggu kedatanganku di rumah.

Cepat pulang hari ini atau aku akan meninggalkanmu seminggu.

Itu hanya pesan biasa tapi bagiku rasanya seperti ancaman mati. Aku telah seminggu lebih meninggalkannya dan dia akan meninggalkanku seminggu lagi kalau aku tidak pulang. Tidak tidak. Hal itu tidak bisa terjadi. Aku harus pulang, bertemu dengannya. Demi kesehatan jiwa dan ragaku, aku harus makan vitaminku. Song Hyejin, istriku.

Aku menyuruh supirku mengebut agar aku bisa segera bertemu istriku. 1 detik rasanya seperti 1 menit, membuatku frustasi. Aku jauh lebih frustasi bertemu dengan istriku dibandingkan aku bertemu dengan Presiden. Aku tidak sabar bertemu dengan istriku. Dia benar-benar membuatku kecanduan.

Aku telah sampai di rumah dan segera berlari ke kamarku. Aku tidak menghiraukan semua sapaan pelayan rumah. Aku bahkan melemparkan jas dan dasiku sembarangan kepada mereka. Aku hanya menginginkan istriku sekarang. “Kau pulang lebih cepat,” katanya begitu aku masuk ke dalam kamar. Ia duduk di atas tempat tidur kami dengan laptop yang bertengger di sebuah meja kecil di hadapannya. Ia tersenyum kepadaku dan itu menjadi magnet yang membuatku tertarik kepadanya.

Aku tinggal beberapa senti untuk memeluknya tapi dia malah menjauh dariku. “Kau harus mandi dulu. Aku tidak mau tidur dengan laki-laki bau sake dan…parfum wanita lain,” katanya dingin. Ia mengacuhkanku dan kembali sibuk dengan laptopnya.

Aku mencium bau tubuhku. Dia memang benar, bau sake terasa menusuk hidungku tapi bau parfum perempuan tidak ada sama sekali. Aku bahkan tidak bertemu dengan satu pun perempuan selama seminggu di Jepang. “Aku sebau apa sampai kau tidak mau kupeluk?” Tanyaku.

“Kau bau perempuan. Aku tidak suka. Mandi saja sana. Tidak usah cerewet,” perintahnya dengan pandangan tertuju pada laptopnya. Dia tidak mau melihatku sama sekali.

Aku mencium tubuhku lagi kemudian tersenyum geli. Ia cemburu pada bau parfumnya sendiri. Aku punya kebiasaan memakai parfumnya kalau tidak sedang bersamanya. Hal itu bisa membuatku lebih tenang karena aku merasa bersamanya. “Ini bau parfummu, sayang. Aku membawanya ke Jepang. Kenapa? Kau tidak suka? Humm?” Ujarku lalu memaksa untuk memeluknya.

Ia mendorongku dan menyuruhku mandi. Aku yang sudah hafal wataknya, memilih untuk menuruti perintahnya.  “5 menit dan kau tidak boleh menolakku,” kataku sebelum benar-benar masuk ke kamar mandi. Tidak ada gunanya mengajak wanita ini berdebat. Yang ada dia akan mendiamiku sampai aku yang minta maaf meskipun itu bukan kesalahanku.

Setelah selesai mandi, aku bergabung dengan istriku di tempat tidur kami. Aku merebahkan kepalaku di pangkuannya, menggantikan laptop yang sudah kupindah ke atas meja. Dia mengendusku dari atas sampai bawah untuk memastikan bau-ku sudah sesuai dengan keinginannya. “Parfum wanitanya belum hilang,” katanya lalu mengacuhkanku. Ia mengambil remote tv lalu mengganti-ganti channel sesuka hatinya, entah apa yang ingin ditontonnya.

Aku kemudian mendekatkan tubuhku ke bawah hidungnya. “Sudah aku bilang, itu bau parfummu. Aku tidak bertemu satu pun wanita selama di Jepang, bagaimana bisa aku bau parfum wanita? Humm? Hidungmu sedang eror ya?” Kataku dengan ringan, berusaha tetap santai. Ia mendorongku. Aku menggelitiki pinggangnya untuk menggodanya.

Istriku tidak menggubrisku. Aku tahu dia sedang menahan gengsi. Dia yang salah tapi tetap aku yang harus meminta maaf. Jadi aku tidak boleh membalas kesal, aku harus tetap memperlakukannya dengan hangat. “Yeobo. Aku merindukanmu,” bisikku di telinganya lalu mencium pinggulnya karena bagian itu adalah yang terdekat dengan bibirku.

Istriku mulai melunak. Ia masih tidak mau meresponku tapi ia membiarkan aku memeluknya dan menjelajahi setiap inci tubuhnya dengan indera perabaku. “Bagaimana pekerjaan di Jepang? Sukses?” Tanyanya. Ia masih tidak berpaling dari layar televisi tapi ia membiarkan aku melakukan apapun yang aku suka pada tubuhnya.

“Sukses,” jawabku singkat. Saat ini, aku terlalu sibuk menikmati tubuh wanita yang menjadi pusat kehidupanku. Aku memeluknya erat dan menghirup wanginya sekuat yang aku bisa. Aku bagaikan pecandu kokain yang sedang mendapatkan supply tidak terbatas.

Ia menggeliat kegelian dan melepaskan pelukanku. “Aku mau beres-beres dulu,” katanya sambil mematikan televisi. Ia beringsut dari tempat tidur dan berjalan menuju lemari. Tubuhnya yang mulus terekspos jelas memuaskan mataku.

“Kau selalu saja tidak bisa memakai pakaian tidur yang benar. Kau mau menggodaku ya?” kataku. Aku mendapati dia hanya memakai kimono satin pendek dan celana dalam tipis yang bisa aku hancurkan dengan sekali tarik.

Istriku hanya tersenyum, nakal. Ia kembali masuk ke dalam selimut, meringkuk memelukku, meletakkan kepalanya di dadaku. “Kau suka pakaianku malam ini? Cocok untuk musim panas kan?”

Aku tahu ia sedang menggodaku. Jelas-jelas saat ini sedang musim gugur dan suhu udara bisa mencapai 10 derajat. Tapi iya, tubuhku mengalami ‘musim panas’. Dia menempelkan tubuhnya kepadaku, membuat segala sesuatunya menjadi lebih sulit untukku.

“Jangan menggodaku. Aku bisa menelanjangimu sekali sentak kalau kau begitu,” kataku sambil menyengir nakal. Ia hanya tertawa.

“Aku mau laporan dulu apa yang terjadi selama kau di Jepang, baru setelah itu kau boleh melakukan apapun yang kau mau,” ujarnya.

“Aku akan mendengarkan. Silahkan melapor,” kataku.

Istriku mulai melaporkan pekerjaannya di kantor, menggantikanku selama aku tidak ada. Ia bercerita panjang lebar, setiap detil yang dia kerjakan, pegawai-pegawainya dan hal-hal lain yang bisa aku simpulkan semua berjalan lancar. Aku mendengarkan ceritanya tapi seluruh tubuhku sudah terfokus pada wanita ini. Tubuhku sudah berteriak menginginkan wanita ini.

“Laporan diterima. Terima kasih sudah menggantikanku. Apa sekarang aku boleh menciummu?”

Ia hanya tersenyum kemudian menciumku. Aku tahu ia sudah memberikanku izin untuk memberitahukan betapa aku merindukan duniaku dan aku tidak bisa menjelaskannya dalam bahasa apapun kecuali bahasa tubuhku. Aku merindukan wanitaku, duniaku, pusat kehidupanku.

Kkeut!