By @gurlindah93

 

Terlahir sebagai chaebol membuatku sangat santai dalam menjalani hidup.

2 tahun setelah mendapat gelar MBA di sebuah Universitas di Australia aku masih belum bekerja. Ralat, aku tidak mau bekerja. Untuk apa bekerja kalau semua bisa kudapatkan dari unlimited credit card yang diberikan oleh ayahku.

Alasanku mati-matian mendapat gelar MBA adalah agar aku tidak dianggap sebagai sosialita bodoh seperti yang selama ini melekat pada masyarakat. Well, paling tidak itu yang sudah kami buktikan, aku dan sahabat-sahabatku.

Song Hyejin, mendapat gelar MBA lebih dulu dariku. Dia memang jenius.

Jung HyunAh, menyelesaikan masternya di bidang fashion design hanya dalam waktu 1,5 tahun.

Choi Jihyo, gelar Master of Journalism baru saja dia dapatkan.

Kang Hamun, magnae, saat ini sedang kuliah kedokteran.

Kami berlima sama-sama pewaris kekayaan orang tua kami yang kami sendiri tidak tahu jumlah pastinya. Bedanya mereka berempat sedang atau ingin bekerja untuk mengaplikasikan ilmu mereka, sedangkan aku tidak. Gelar saja sudah cukup bagiku.

‘Ladies, aku sudah di Heaven. Eodi??????’ pesanku yang kukirimkan ke group chat.

‘Sebentar lagi sampai eonni. HyunAh eonni menjemputku’ balas Hamun.

‘Sabar Park MinAh, aku masih ada urusan dengan Kyu’ balas Hyejin.

’10 menit lagi sampai’ balas Jihyo.

‘Lama sekaliiiiiiiii’ balasku.

‘Maklum, kekasihku tidak bisa melepaskanku. Kamu tahu sendiri kan? Eh kamu sedang jomblo ya hahahaa mianhae ;p’ balas Hyejin.

Aku ingin mengutuk Hyejin tapi karena dia tidak ada aku mengutuk smartphoneku. Memang di antara kami hanya aku dan Hamun yang sedang single, tapi Hamun punya Lee Donghae yang selalu ada saat Hamun membutuhkannya.

Terakhir kali aku berpacaran adalah 2 bulan yang lalu setelah berpacaran selama hampir 4 bulan. Seingatku aku tidak pernah pacaran lebih dari 4 bulan. Tapi mantan kekasihku tidak banyak kok, hanya 13, the lucky number. Jadi aku bukan player kan?

‘Hyejin eonni jahat T.T Aku juga sedang jomblo’ balas Hamun.

‘Tapi kamu punya Lee Donghae’ balas HyunAh.

‘Eonni jangan mengetik, kan sedang menyetir’ balas Hamun.

‘Hahahahahaaaa’ balas Jihyo.

‘Ppali!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!’ balasku.

Hari Jumat malam seperti biasa kami menghabiskan waktu di Heaven club, club paling top di Seoul. Karena kami semua anggota VIP jadi kapan saja kami ingin datang selalu ada ruangan khusus untuk kami, tepat di depan meja DJ. Hohoho.

“Eonni….. Mianhae……..” Hamun datang langsung memelukku.

“Sorry Min, tadi macet sekali” kata HyunAh yang langsung menenggak champagne.

Aku memanyunkan bibirku “Nanti kalau janjian lagi aku datang terlambat juga ah”.

“Kamu tadi waktu datang juga sudah terlambat dari perjanjian awal” komentar Hyejin yang baru datang.

“Hye, lipstickmu tuh. Ckckck…” kataku saat melihat lipstick Hyejin belepotan. Aku tidak mau membayangkan apa yang sudah dia dan Kyuhyun lakukan.

“Heheheee thanks” Hyejin mengeluarkan kaca dan lipstick lalu mulai merapikannya.

Hamun terkikik melihat kelakuan Hyejin sedangkan HyunAh asyik dengan iPadnya. Tebakanku dia sedang bekerja, dia selalu menyempatkan diri bekerja di mana saja, kapan saja. Dasar designer aneh, sama seperti kekasihnya Henry Lau. Kami menyebut mereka dorky couple.

“Annyeong” sapa Jihyo. Dia datang bersama Kim Woobin kekasihnya, aktor dan model super tampan yang wajahnya berseliweran di TV. Entah doa apa yang Jihyo panjatkan sampai bisa mendapatkan pria sempurna seperti itu.

“Woobin annyeong” sapaku.

“Annyeong noona, HyunAh, Hamun” balasnya ramah.

“Dia hanya mampir kok, sebentar lagi juga kembali ke lokasi syuting” omel Jihyo. Woobin yang tahu kekasihnya sedang kesal karena segera dia tinggal mencium leher Jihyo. “Mianhae jagiya” bisiknya.

“Woobin-aahh.. Kenalkan aku dengan teman aktormu dong. Yang pasti lebih tua dari aku ya, harus tampan dan kaya hahahaha” pintaku dengan jahil.

“Arraseo noona. Kira-kira siapa yang ingin kukenalkan ke noona?” balasnya. See, aku sungguh senang memiliki calon adik ipar seperti dia, tidak seperti Cho Kyuhyun yang jahilnya mirip setan.

Aku mulai menyebutkan nama aktor-aktor favoritku “Hyun Bin…. Kang Dongwon…. Lee Dongwook…. Tapi prioritas utama sih Hyun Bin”.

“Apa kamu sudah gila Min? Itu namanya mimpi. Nama yang kamu sebutkan tadi top class aktor” cerocos Hyejin yang masih memegang kaca. Astaga, bahkan eye shadownya juga belepotan. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan pasangan kekasih ini.

Kutatap Hyejin dengan penuh simpati “Sssssshhhh rapikan saja eye shadowmu. Aigoo, apa yang Kyuhyun lakukan sih sampai semua make upmu belepotan begitu” Hyejin langsung gelagapan dan mengaplikasikan eye shadow di kelopak matanya.

“Huahahahhaaa” Jihyo dan Hamun tertawa terbahak-bahak tapi segera diam setelah mendapat tatapan peringatan dari Hyejin.

“Okay noona, aku akan mencoba mengenalkan Hyun Bin sunbaenim ke noona ya.. Baiklah aku harus pamit, managerku sudah meneleponku berkali-kali. Bye yeojadeul… See you very soon jagiya” Woobin mencium Jihyo dengan lembut yang membuat Jihyo takluk karena wajahnya tersipu-sipu. Mereka benar-benar membuatku iri. Aku harus secepat mungkin mencari kekasih baru.

Setelah Woobin pulang barulah ladies’ night kami mulai. Aku, Hyejin, dan Jihyo langsung turun ke lantai dansa sedangkan HyunAh yang memang tidak terlalu suka pesta dan Hamun yang ditelepon Donghae tetap duduk di tempat asal mereka.

Karena misiku malam ini adalah mencari kekasih maka mataku jelalatan mencari pria yang kuanggap sesuai kriteriaku.

Ah, aku menemukannya. Pria itu duduk sendirian di pojok, secara fisik bentuk dan proporsi tubuhnya kuberi point 9,5 walau wajahnya tidak nampak. Wajah tidak terlalu penting sih bagiku. Stylenya juga menunjukkan kalau dia orang kaya, minimal Manager, maksimal CEO. Aku tersenyum sendiri dengan penilaianku.

Setelah kupastikan rambut, make up, dan dressku nampak sempurna aku mendekatinya.

“Annyeonghaseyo, apa kamu sendirian?” sapaku. Dia tidak berkutik sedikitpun.

“Annyeonghaseyo” sapaku sekali lagi. Dia masih tidak berkutik. Apa dia tuli ya?

“Annyeonghaseyo” sapaku kali ini dengan suara yang lebih keras.

“Yaaaaaaaa!!!!!!!!!!! Kamu berisik sekali sih, gara-gara kamu aku kalah” pria itu membentakku dan menujukkan iPad mininya dengan tulisan ‘YOU LOSE’ lalu pergi meninggalkanku.

Aku syok.

Sejenak aku tidak bisa berpikir. Selama ini tidak ada orang yang membentakku seperti itu, kecuali kedua orang tua dan kakak laki-lakiku.

“MinAh!!!! Wae geurae?? Siapa pria itu? Kenapa dia membentakmu?” pertanyaan Hyejin membuatku sadar.

“Aku membenci pria itu! Aku membencinya!!!!” teriakku lalu segera kembali ke mejaku. Moodku untuk mencari kekasih seketika itu hancur.

“Nugu???” tanya Jihyo bingung. Aku tidak menjawabnya.

Jihyo dan Hyejin mengikutiku.

Karena kesal aku langsung meminum wine dari botolnya yang baru diminum sedikit, aku tidak peduli dengan kenyataan bahwa aku mudah mabuk.

“Wae???” HyunAh menatapku kebingungan.

“Molla. Aku hanya melihat seorang pria membentak lalu meninggalkan MinAh begitu saja. Mungkin MinAh syok karena dibentak” Hyejin memberi penjelasan yang sangat tepat.

“Jangan… Pernah… Membahasnya… Lagi… Ever!!!” kutatap keempat sahabatku dengan serius dan berhasil membuat mereka berempat ketakutan. Aku yakin mereka tidak akan pernah membahas kejadian ini selamanya.

Entah berapa botol wine dan champagne yang sudah kuhabiskan. Aku bahkan tidak ingat bagaimana aku bisa sampai di kamarku.

***

“MinAh ireona” sepertinya aku bermimpi sedang berlibur dengan yacht ketika sayup-sayup ada yang memanggilku.

“MinAh” aku tidak mempedulikan suara itu. Aigoo tidur-tiduran di yacht memang nyaman sekali.

“MinAh” ada yang menepuk pipiku tapi aku tidak mau bangun. Aaaahhh enak sekali berada di yacht ini.

Byuuuuuuurrr!!!!

Ombak yang sangat besar menghantam yachtku sampai aku basah kuyup.

Tunggu, ini kan yacht jadi tidak mungkin ada ombak sebesar itu masuk dan mengenaiku.

“Park MinAh!!!!!!!!” teriak seseorang di telingaku. Aku yakin ini bukan mimpi.

Aku mengerjapkan mata dan kulihat Jungsoo oppa berdiri sambil membawa ember.

HAH???????

Seketika aku duduk dan menyadari tubuhku basah kuyup.

“Oppaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!” teriakku.

“Wae?” kakak laki-lakiku malah menantangku.

Aiiiiisssshhhhh aku sebal dengannya. Kutendang dia tapi karena masih merasa pusing akibat mabuk tendanganku tidak tepat sasaran.

“Hahahahaa apa yang kamu lakukan MinAh-yaaaa?” Jungsoo oppa tertawa mengejekku.

Aku tidak mempedulikannya dan bersiap tidur kembali. Kepalaku tidak bisa diajak kompromi rupanya.

“YAAAAAA!!!!!! APPA MENYURUHMU MENEMUINYA!!!” teriaknya yang kuyakin bisa membangunkan singa dalam jarak 25 meter.

“WAE WAE WAE WAE?????? SHIREO!!!!!!!!!!” teriakku tidak kalah keras.

“Park MinAh-ssi, cepat keluar” tiba-tiba eomma sudah ada di kamarku.

“Eomma, aku masih ngantuk. 1 jam lagi ya?” pintaku memelas.

Eomma pura-pura tidak mendengarku dan keluar.

“See? Appa memberi perintah untuk membawamu ke ruang kerjanya. Pe-rin-tah” Jungsoo oppa juga ikut keluar dari kamarku.

Perintah? Tapi tubuhku serasa menempel di kasur “Hooaaaaahhhmmmmm” kuletakkan kepalaku ke bantal dengan perlahan.

“PARK MINAH!!!!!” teriak Jungsoo oppa dari luar kamar.

“Aiiiiiiissssssshhhhh awas ya Park Jungsoo. Tunggu pembalasanku” omelku lalu segera menuju ruang kerja appa dalam keadaan basah kuyup.

Di ruang kerja appa, eomma, dan Jungsoo oppa sudah menungguku. Aura mencekam keluar dari mereka bertiga. Ada apa ya? Apa mereka akan menjodohkanku dan memaksaku menikah? Tapi oppa kan belum menikah.

“MinAh… Kamu harus segera bekerja” kata appa tanpa basa-basi.

Aku tertawa terbahak-bahak. Apa ini hidden camera untukku? Selama 27 tahun appa tidak pernah menyuruhku untuk bekerja, tapi kini tidak ada angin tidak ada hujan tiba-tiba beliau menyuruhku bekerja. Ini pasti lelucon.

Kuhentikan tawaku karena 3 orang itu sekarang menatapku dengan tajam.

“Appa serius Min.. Kami berpikir sudah terlalu lama kamu bermain-main. Kegiatanmu hanya belanja, pesta, hangout, dan pacaran. Tidak ada yang berguna. Hidupmu tidak berguna bagi orang lain” eomma mengatakan dengan halus tapi tajam. Aku tidak percaya wanita yang melahirkanku mengatakan hal itu. Huks huks. Hatiku tersayat.

“Kamu harus bisa mengeluarkan potensi dirimu MinAh. Untuk apa gelar MBAmu kamu sia-siakan? Kamu pintar kok, kami percaya itu” Jungsoo oppa ikut-ikutan bicara dengan nada sok. Aku melotot padanya.

“Jangan memelototi oppamu seperti itu Park MinAh! Dia benar, kamu harus mulai merasakan bagaimana rasanya mencari uang” tegur appa. Jika appa bicara aku hanya bisa menatap karpet yang hari ini terlihat bersih sekali.

“Appa sudah mencarikanmu pekerjaan melalui teman appa sebagai sekretaris anaknya. Tapi kamu tetap harus memasukkan lamaran dan mengikuti wawancara seperti pelamar lainnya” appaku mengatakan hal itu dengan sangat serius.

Mmmmmm sepertinya tadi aku mendengar kata-kata sekretaris.

“Sekretaris????? Appa bercanda?????? Maksudku, appa benar-benar ingin aku jadi sekretaris? Bekerja sebagai sekretaris?” mengingat isi otak dan kemampuanku aku pasti bisa mendapat posisi lebih dari sekretaris. Mungkin appa sedang sedikit linglung jadi aku harus menyadarkannya.

“Wae? Jangan merendahkan profesi sekretaris. Apa kamu tidak lihat bagaimana pekerjaan sekretaris kami? Mereka sangat penting bagi kehidupan kami, bahkan keberadaan mereka lebih penting darimu. Atau kamu merasa tidak sanggup melakukannya?” aku mengingat pekerjaan ketiga sekretaris yang 24 jam jungkir balik melayani appa, eomma, dan oppaku. Memang pekerjaan mereka tidak mudah. Tapi tetap saja, sekretaris? Minimal aku harus berada di posisi manajerial.

“Ani.. Hanya saja….” sebelum mengemukakan pendapatku appa sudah memotongnya “Tidak ada alasan. Kalau kamu tidak lolos sebagai sekretaris aku akan menyuruhmu untuk melamar pekerjaan sebagai office girl. Jadi selamat berusaha Park MinAh” ujar appa lalu keluar dari ruang kerjanya diikuti eomma.

“Office girl?????? Appa! Park MinAh, putri Park Jaesoo bekerja sebagai office girl???? Apa appa tidak menyayangi anak perempuanmu ini?” teriakku entah pada siapa karena aku yakin appa sudah berada di mobil yang membawanya ke Incheon airport.

Jungsoo oppa memandangku dengan belas kasihan yang kuyakin dibuat-buat.

“Tidak usah memandangku seperti itu oppa” aku berjalan mondar-mandir memikirkan apa yang harus kulakukan.

Jungsoo oppa menyerahkan sebuah map padaku “Ini. Semua persyaratan untuk melamar ada di situ. Ingat, berkas-berkas sudah harus diserahkan hari Senin besok. Selamat bekerja Park MinAh, putri dari Park Jaesoo pemilik supermarket yang tersebar di seluruh Korea Selatan dan beberapa negara Asia” ujarnya menahan tawa lalu meninggalkanku sendiri.

“Oppaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa” panggilku. Tapi percuma, Jungsoo oppa sudah pergi kencan di hari Sabtu ini.

Dengan hati tidak menentu kukirimkan pesan ke groupku.

‘Song Hyejin aku akan ke rumahmu sekarang. Ladies, kalian juga harus ke rumah Hyejin sekarang juga. IMPORTANT’ ketikku.

‘Wae? Aku masih tidur MinAh-yaa’ balas Hyejin.

‘Ini masih jam 8 pagi eonni’ balas Jihyo.

Dan beberapa pesan lain yang tidak kuhiraukan.

Tanpa ganti baju aku segera mengambil kunci mobil dan tas lalu memacu mobilku ke rumah Hyejin yang tidak terlalu jauh dari rumahku. Pembicaraan barusan dengan keluargaku membuat rasa pusingku hilang dalam sekejap.

Sampai di rumah Hyejin ternyata Hyejin benar-benar masih tidur, aku merebahkan diri di sebelah Hyejin “Sudah datang?” Hyejin bertanya sambil mengintip karena dia belum bisa membuka matanya lebar-lebar.

“Hmmmm… Tidurlah” tidak butuh waktu lama bagiku untuk tidur.

“Eonni!!!! Tadi katanya ada sesuatu yang penting” Hamun menggoyang-goyangkan tubuhku.

Kulihat ketiga sahabatku, belahan jiwaku sudah berkumpul di kamar Hyejin.

“MinAh, kenapa kamu lusuh sekali? Apa tadi kamu tercebur ke kolam renang?” HyunAh sang designer mengomentari penampilanku. Aku ingin menutup mulutnya agar tidak mengomentari penampilanku yang memang sedang tidak beradab.

“Oppa tadi menyiramku dengan air. Ah sudahlah tidak usah dibahas, ada yang lebih penting” kulihat satu persatu sahabatku. Mereka berusaha menahan tawa.

Kuhirup nafas panjang “Aku disuruh bekerja. Ya, Park MinAh akan bekerja” ucapku dengan lirih seakan-akan kiamat akan datang.

Tidak butuh waktu lama bagi mereka berempat untuk tertawa terbahak-bahak.

***

tbc

Enjoy ^^