“Tuan muda Kim, CEO sedang tidak diganggu,” resepsionis itu terus mengikuti langkahku hingga aku berada di depan pintu ruangan samchun.

“Oiya? Dia sedang sibuk apa?” aku menyeringai, resepsionis ini berani berbohong rupanya. “Apa? Kau tidak bisa menjawab? Baiklah,” aku memegang kenop pintu, namun resepsionis itu tetap menghalangiku.

“Tuan muda, CEO benar-benar tidak bisa diganggu,” wajah resepsionis itu memelas, sepertinya samchun mengancam yang aneh-aneh lagi.

“Heejung, biarkan tuan muda Kim masuk,” aku menoleh ke arah suara itu, aku melihat sosok yeoja yang membawa setumpuk berkas. Aku menundukkan tubuhku, memberi salam kepadanya.

“Ada proyek baru, sekretaris?”

“Proyek menyebalkan dari samchunmu,” dia menghela napas sambil membenarkan kacamatanya. Aku tertawa, bagaimana dia bisa bertahan menjadi sekretaris dari samchunku yang mengerikan itu.

Aku membuka pintu ruangan samchun, namun aku sedikit tidak menyiapkan diri melihat apa yang dia lakukan di dalam ruangannya.

“Ya! Resepsionismu mengejarku dari lantai lobby hingga lantai 34 hanya untuk mencegahku melihat kau bermain game? Samchun!” aku mengacak-acak rambutku karena kesal. Dia bahkan tidak sama sekali melihat keponakan tampannya ini.

“Samchun! Aku ada perlu denganmu!” aku membanting tubuhku ke sofa di depan layar televisi 42 inch miliknya. Aku menendang-nendang kakinya, namun dia benar-benar tidak bereaksi, tetap fokus ke stik Playstationnya.

“Samchun, gara-gara idemu Jihyo menghindariku selama dua minggu!”

“Kau ditolak?” kini dia menengok ke arahku. “Kau di tolak, Woobin?” Dia mengatakan seolah-olah dunia mau kiamat, tapi memang mau kiamat sih untukku.

“Aku tidak ditolak ya, samchun. Bahkan aku belum menyatakan cinta padanya!” aku membela diri, tapi ini sih percuma saja, aku bahkan tidak bisa menyatakan cinta kepadanya.

“Kau memang perlu banyak belajar dengan samchunmu ini, anak muda,” dia menepuk pundakku. “Baiklah, apa yang mau kau ceritakan kepada samchunmu yang paling tampan dan disukai oleh seluruh perempuan di Korea ini?”

“Aku mengikuti saranmu. Kau bilang aku harus menerima permintaan wawancara majalah tempat Jihyo bekerja dan meminta agar Jihyo mewawancaraiku,” aku menatap samchunku, adik bungsu dari eommaku. Samchun yang pertama kali mengatakan pada seluruh keluarga jika namaku jelek, hingga harus diubah menjadi Woobin saja.  Memang akhirnya tidak jadi diubah di akte kelahiranku. Namun semenjak aku menjalani karir sebagai model, aku memutuskan memakai nama Kim Woobin dan untuk karirku sebagai arsitek aku memakai nama asliku. “Ya lalu Jihyo bersedia mewawancaraiku. Hanya saja dia tidak tau jika Kim Hyun Joong dan Kim Woobin itu orang yang sama!”

“Mengapa kau tidak bilang dari awal jika nama aslimu Hyun Joong?”

Aku hampir saja memukul samchunku jika tidak ingat bagaimanapun juga dia adalah orangtua. “Ya! Kau sendiri yang bilang jika aku tidak boleh memberitahukan nama asliku!”

Dia tertawa sangat keras, “ Okay, my bad. Then what should I do to help you, my handsome nephew? If you can’t get her, just leave her.”

Iya, aku tau jika seharusnya sangat mudah untuk melepaskan Jihyo. Tapi masalahnya ini pertama kalinya aku tertarik dengan yeoja yang sama sekali tidak feminim. Dari dulu semua mantan kekasihku adalah yeoja feminim dan anggun hingga akhirnya aku bosan dan tidak mendapatkan tantangan apapun untuk mendapatkan mereka. Dan baru pertama kali seorang yeoja tidak langsung bertekuk lutut dihadapanku di saat pertama kali pertemuan denganku. Ini aneh, sangat aneh.

“Kau bahkan hanya bertemu dengannya di lift. Kim Woobin, kau memalukan,” samchunku terus mengoceh. Aku memberikan death glareku untuk menyuruhnya diam, namun memang benar kata orang, kau tidak bisa membohongi darah yang mengalir di tubuhmu. Samchunku malah menjitak kepalaku.

“Kau benar-benar menyukainya, hah?”

Aku mengangguk. Aku tidak yakin jika aku benar-benar menyukainya, mungkin aku hanya penasaran, tapi saat ini bukanlah masalah untukku.

“Kau naif,” dia mematikan PS4 nya dan bangkit menuju kursi kerjanya. “Tapi, kau adalah keponakan dari Mun Eric, jadi kau tidak boleh memalukan nama baik samchunmu yang terkenal sebagai casanova ini, hahaha.”

“Playboy maksudnya?” aku meralat omongan samchunku, namun dia terus mengoceh.

“Aku akan memberimu satu jurus rahasia lagi dan Jihyo mu itu akan bisa bertekuk lutut padamu.”

+++

“Hyung, ampun hyung, ampun!” Kyuhyun terus berteriak kesakitan, namun aku tidak peduli, aku terus menendangnya bagaikan sebuah samsak.

“Kau gila apa menjodohkanku dengan kekasih seorang mafia, hah!” gara-gara bocah tengik ini, aku mendapatkan banyak masalah hari ini.

“Hahahaha, aku hanya bercanda hyung waktu itu, tidak menyangka bahwa kau benar-benar serius menemuinya. Aduh hyung hentikan! Kalau kakiku patah nanti semua pasien perempuan akan mencariku besok!”

Aku menjitak Kyuhyun saking aku sudah gemas dengan tingkahnya yang tidak pernah berubah sejak kuliah. “Kau tau kan aku tidak pernah membuat kakimu patah sekesal apapun aku padamu?”

Kyuhyun mengangguk, memberikan tatapan paling innocent yang pernah dia lakukan untuk berpura-pura bersalah.

“Tapi kali ini tidak, aku akan memukulimu hingga kakimu patah!” aku mengejar Kyuhyun yang berlari menghindariku, dasar anak ini memang selalu menjadi pelari yang tercepat disaat terdesak seperti ini.

“Apa-apaan sih ini?” Jihyo yang baru saja pulang menatap kami berdua dengan kesal. “Aku capek, jadi kalian berdua sebaiknya jangan berisik dan bersihkan rumah!” si magnae langsung masuk ke kamarnya, membanting pintu lalu menguncinya.

“Hyung, kenapa sih dia?” Kyuhyun mendekat ke arahku dan bergabung denganku melihat pintu kamar Jihyo yang sudah tertutup rapat.

“PMS sepertinya,” ujarku yang langsung diiringi anggukan Kyuhyun.

“Kau tau tidak sih, gara-gara kau, aku tadi memukul Hamun!” aku kembali ke kenyataan, daritadi ini yang ingin aku ceritakan ke Kyuhyun.

“SERIUSSSSSS?” kini dia memberikan tatapan aneh kepadaku. “KAU MEMUKUL ANAK KECIL, HYUNG?”

“Mmmh, bukannya Hamun sudah umur 19 tahun yah?” aku agak bingung dimana letak ‘anak kecil’ yang dikatakan Kyuhyun tadi.

“Tetap saja dia anak kecil, hyung! Dia adik kecil kita, aaarrrgh! Lalu bagaimana keadaannya? Dia baik-baik saja?” Kyuhyun terlihat panik, mungkin ini wajar karena Hamun sudah menjadi tetangga kami sejak lama, namun tetap saja sebagian dari diriku merasa marah saat melihat reaksi Kyuhyun yang mencemaskan Hamun.

“Dia tidak apa-apa. Hamun bilang ke orangtuanya jika dia jatuh dari tangga dan aku yang menolongnya,” memang benar itu yang dikatakan Hamun, dan aku benar-benar merasa bersalah karena dia menutupi perbuatan konyolku.

“Tentu saja jika orangtua Hamun tau kejadian sebenarnya habislah kau. Lagi kau sinting apa hyung memukul Hamun?” kini giliran Kyuhyun menendang kakiku. “Itu untuk Hamun,” ucapnya.

Aku menceritakan kejadian tadi siang ke Kyuhyun, lengkap dan mendetail. Kyuhyun mendengarkan sambil memasang tampang sok serius, namun pada akhirnya dia tetap saja evil, menertawakanku hingga dia berguling-guling di lantai.

“Hahahaha, baiklah hyung, hahahahaha, mian, hahahaha ini terlalu lucu. Kau terlalu gugup di hadapan Hamun hingga kau memukulnya?”

“Aku tidak gugup.” Memangnya apa yang membuatku gugup dihadapan Hamun?

“Kau tidak gugup? Ayolah, kau selalu gugup dan bertingkah konyol di hadapan yeoja yang kau suka. Dan jangan mengelak! Aku sudah mengenalmu sejak kita di perkuliahan dulu!” Kyuhyun kini memasang tampang sok tau nya, dan tentunya sok evilnya. “Jadi kau mau aku membantumu?” dia mengangkat alisnya sebelah dan tersenyum penuh arti.

“Membantu apa?”

“Mengajak si anak kecil kencan. Kyaaaa! Itu pasti akan lucu sekali, aku benar-benar mau melihatnya!” Kyuhyun tiba-tiba berteriak.

“Tidak! Terakhir kali kau membantuku untuk mendapatkan kekasih hasilnya kekacauan tingkat dunia, tidak!”

“Hyung, tapi ini berbeda hyung! Aku punya ide cemerlang! Ini benar-benar cemerlang!”

“Ya! Kalian berdua bisa tidak sih diam semalam saja!” Jihyo keluar dengan wajah menyeramkan membuat kami berdua tak bisa berkutik.

“Hyung, aku tetap akan membantumu,” bisik Kyuhyun sambil menyikut perutku.

“Tidak usah, kau berisik, Kyu!” aku balas menyikut Kyuhyun.

“Kalian berdua, berisik! Masuk ke kamar sebelum aku menendang kalian satu per satu!” seru Jihyo yang langsung membuat aku dan Kyuhyun lari ketakutan.

+++

“Sejak kapan papan namamu jadi kayu begini? Bukannya waktu itu dari kaca? Iya kan, samchun?” keponakanku yang sejak tadi datang hanya untuk sesi curhat kini kembali ke sifat aslinya, tukang mengacak-acak kantorku.

“Jangan sentuh! Ini sengaja kupesan supaya serasi dengan miliknya!” aku segera merebut papan nama .

bertulisan CEO MUN ERIC dari tangannya.

“Huh, kau yang bilang kalau aku naif. Lalu kalau begitu kau apa, samchun? Itu papan nama yang sengaja kau mirip-miripkan dengan psikologmu itu kan?” dia memasang senyum jahilnya. Aku bingung darimana gen jahilnya berasal.

“Memang! Ini seperti barang couple kami. Aku bahkan menunjukkan foto papan nama ku saat terakhir kali aku datang untuk sesi konseling,” ujarku bangga.

“Terserah apa katamulah,” keponakanku langsung mengambil alih stik PS ku dan memainkan game.

“Ya! Kim Hyun Joong! Kau merebut mainanku!”

“Ya! Mun Eric! Kau sudah tua, sudah tidak pantas bermain game seperti ini!”

Aku langsung memukkul punggungnya, anak iini tidak sopan, nanti akan kuadukan ke eommanya.

“Awwww! Samchun! Kau harus segera mencari istri! Biar nanti ada yang membelaku kalau kau memukuliku seperti ini!”

“Jadi kau mau menikung samchunmu ini dengan mendekati istriku nantinya?” anak ini benar-benar, darimana sih sifat playboynya turun?

“Bukan begitu maksuku. Kau ini pikirannya selalu ke arah negatif, samchun. Makanya lekas carikan imo untukku.”

“Aku sudah ada calonnya!” entah mengapa suaraku meninggi, aku memang benar-benar bisa kehabisan akal kalau menghadapi anak ini.

“Oiya?” ujarnya tanpa sekalipun mengalihkan pandangannya dari layar televisi. “Psikolog itu? Siapa namanya samchun? Park siapa?”

“Park MinAh,” jawabku. “Tambahkan imo di belakang namanya jika kau memanggilnya.”

“Memangnya dia sudah tante-tante? Eits, jangan marah. Namun tumben sekali kau menyuruhku memanggil yeoja yang kau taksir dengan sebutan imo. Belum pernah sih sepertinya.”

“Karena semua yeoja yang hampir saja aku dapatkan selalu saja berpaling untukmu. Jadi untuk yang kali ini, kau harus memanggilnya MinAh imo, arra?” Memang salahku juga sih, aku selalu saja mengetes yeoja yang sudah selangkah lagi menjadi kekasihku dengan menyuruh Woobin merayu mereka, dan tidak ada yang lulus tes tersebut. Aku selalu memiliki ketakutan jika para yeoja yang mendekatiku hanya demi harta saja, klise sih memang pemikiranku, tapi kenyataan berbicara seperti itu.

“Arra, samchun. Arra. Hanya saja kau yakin yeoja yang kali ini tepat?”

“Tentu saja,” aku mengangguk mantap. Awal mulanya memang aku hanya bercanda agar eomma tidak lagi menyuruhku untuk mendatangi tempat prakteknya lagi. Namun lama-kelamaan aku jadi penasaran dan menyukai yeoja ini, dia selalu mengusirku saat aku mengatakan aku ingin menikah dengannya dan mengajaknya makan siang. Tentu saja aku, Eric Mun, tak suka penolakan.

“Aku curiga,” Woobin melempar stik PS ku, pasti dia kalah. “Kau saja sampai saat ini belum bisa mengajaknnya makan siang, iya kan?”

“Kata siapa?”

“Kataku,” sekretarisku, Jung HyunAh masuk dengan seabrek tumpukan kertas. “Ini, tanda tangani,” ujarnya sambil melempar tumpukan kertas ke atas mejaku.

“Kau cerita ke anak tengik ini?” aku menggembungkan pipiu karena kesal. Bisa-bisanya sekretaris dan keponakanku membicarakan tentang atasan dan samchunnya di belakangku.

“Ne, lagi pula cerita ini bukanlah hal yang rahasia kan?” HyunAh tersenyum dan menyodorkan tangannya ke arah Woobin yang langsung sambut keponakanku dengan high five.

“Sudahlah samchun, mengaku saja kalau kau memang belum bisa mendapatkan psikolog itu,” Woobin tersenyum penuh maksud.

“Kau mau bertaruh denganku?” aku tau jika keponakanku ini pasti akan mengajakku taruhan. Biasanya aku yang menang, dan kali ini pasti aku yang menang.

“Oke,” dia berpikir sejenak, lalu kembali memasang senyum jahilnya. “Bulan depan, aku ingin dia datang denganmu ke acara makan malam ulang tahun haelmoni.”

“Setuju!” aku menyodorkan tanganku ke arah anak kecil ini, berjabat tangan adalah cara laki-laki dewasa mengikat janji.

“Dan aku ingin di acara itu kau melamar Park MinAh imo di hadapan semua orang.”

Aku menarik lagi tanganku.

+++

“Hyung, kau masih bangun?” aku berbisik di depan pintu kamar Siwon hyung. Ini sudah jam 1 malam tapi aku tetap belum bisa tidur.

“Hyung,” aku mengetuk pelan pintu kamarnya, Siwon hyung pasti mendengarnya, indra pendengarannya sangat peka dibandingkan aku dan Jihyo, kadang aku menyangka jika dia adalah mutan seperti film X-Men.

“Ada apa?” Siwon hyung membuka pintu kamarnya. Benarkan! Padahal aku mengetuk pelan sekali.

“Temani aku minum wine yah?” pintaku sambil memasang tampang memelas, Siwon hyung palling tidak bisa menolakku jika aku bersikap seperti ini, hihihi.

“Baiklah,” dia mendorongku menuju kulkas. “Jangan banyak-banyak tapi, besok pagi kita harus bekerja.”

Aku segera mengambil sebotol wine dan Siwon hyung membawa dua gelas ke arah ruang tamu. Aku menyalakan televisi dengan volume sekecil mungkin supaya setan kecil Jihyo tak terganggu.

“Kau tumben memintaku untuk menemanimu minum wine,” Siwon hyung menegguk langsung segelas penuh wine. “Ada apa?”

Ini seperti ritual kami sejak kuliah, aku selalu mengajak Siwon hyung mminum wine jika ada sesuatu yang mengganjal pikiranku, sama seperti malam ini.

“Hyung, di rumah sakit aku bertemu seorang yeoja,” aku ku. Aku berpikir sejenka, “Tapi aku tidak naksir kepadanya loh.”

Siwon hyung memasang tampang bingung, “Lalu apa masalahnya? Kau tidak naksir kepadanya tapi yeoja itu menyukaimu?”

“Bukan begitu juga,” aku menggaruk kepalaku. “Bagaimana yah? Dia kemarin tiba-tiba memanggilku dengan sebutan oppa.”

Siwon hyung semakin bingung, tampangnya seperti kuda jika sedang bingung. “Jadi apa masalhnya? Aku tidak melihat masalah jika dia memanggilmu oppa.”

“Tentu saja itu masalah hyung! Itu masalah itu masalaaah!” aku tak sengaja berteriak dan bantal yang datang entah darimana menghantam kepalaku.

“Kau itu dari tadi berisik sekali sih Cho Kyuhyun! Aku tidak bisa tidur!” nona evil kami keluar dari kamarnya dan langsung berebut gelas wine ku, menenggaknya.

“Ya! Choi Jihyo!” aku mengambil gelasku kembali yang sudah kosong. “Kau ini tidak boleh minum wine!”

“Lalu aku hanya menonton kalian berdua saja menenggak wine? Begitu? Aku sedang kesal!” cerocos Jihyo sambil mengikat rambutnya. Sebaiknya aku tidak menanyakan lebih lanjut alasan magnae kesal, pasti dia akan segera menendangku, sama seperti oppanya.

“Yasudah, lebih baik bantu aku mengurusi persoalan Kyu,” ujar Siwon hyung.

“Persoalan apa?” Jihyo tiba-tiba terlihat bersemangat. Dia memang paling senang jika melihatku susah.

“Bukan persoalan, tapi hanya kebingungan saja,” aku menambahkan pernyataan Siwon hyung yang terlalu berlebihan itu.

“Jadi di rumah sakit ada yeoja yang baru saja dikenal Kyu tapi langsung memanggilnya oppa,” Siwon hyung berhenti sejenak menuangkan wine ke gelasnya. “Lalu Kyu panik dipanggil seperti itu.”

“Bukan seperti itu hyung. Hanya saja aneh ada yang memanggilku dengan sebutan oppa selain si nona evil ini,” aku menghela napas sejenak. Memang itu yang aku rasakan, ada keanehan yang menjalar di tubuhku sejak aku mendengarkan kata itu dari mulutnya, bahkan setiap aku mengingatnya aku akan langsuung merasa aneh,

“Hah, yeoja pasti yang memanggilmu dengan sebutan oppa itu bukannya Seohyun, makanya kau merasa aneh,” jelas Jihyo dengan nada sarkasnya. Anak ini memang paling tidak suka dengan Seohyun, sebenarnya salahku juga sih yang setiap hari terus mengeluh kepada Siwon hyung dan Jihyo jika Seohyun selalu mengikutiku kemanapun aku pergi.

“Jadi aku harus bagaimana?”

“Bagaimana apanya?” tanya Siwon hyung dan Jihyo serempak.

“Bagaimana ya bagaimana? Masalahnya selama sebulan ini aku sudah berjanji untuk menemaninya mengobservasi para pasien untuk novelnya.”

“Novelnya?” tanya Jihyo. “Dia penulis?”

Aku mengangguk. “Ne. Song Hyejin.”

Raut wajah Jihyo berubah, aku sangat kenal raut wajah itu, dia tersenyum licik sambil merebut kembali gelas wine ku. “Oh, Hyejin unnie,” lalu menengguknya.

“Kau kenal yeoja itu, Hyonie?” Siwon hyung memandangku meminta penjelasan, aku menggeleng.

“Hyejin unnie menyukaimu,” kini wajah magnae kami berubah serius. “Aku yakin itu.”

+++

“CEO Mun, anda memanggil saya?” aku membuka pintu ruangan CEO dan menemukan CEO Mun sedang bermain game perang-perangan bersama seorang namja yang sepertinya seumuran denganku.

“Ah, Henry! Come in! Do you wanna join us?” CEO Mun menyodorkan stik PS nya, aku menggeleng sopan.

“Ada yang salah dengan chocolate cream with orange cherry blossom yang aku buat?” aku memandangi sepatu boots yang aku kenakan, kenapa hari ini aku memakai warna tanah seperti ini yah? Harusnya aku pakai warna kuning saja, lebih cerah, lebih bisa membawa keceriaan.

“Hahaha, kau terlalu giat bekerja, Henry!” CEO Mun memberi isyarat untuk duduk di sebelahnya. Aku dengan ragu bergabung dengan kedua namja tersebut.

“Kau ingat kan saat kau pertama kali di sini aku berjanji untuk merombak kitchen?”

Aku mengangguk. “Tapi tidak apa-apa kok CEO Mun, kurasa aku suddah nyaman bekerja di sana.”

“No, no! Desain kitchen ini eomma ku yang merancangnya atas persetujuan Chef Song. Jadi kita harus mengubahnya!” CEO Mun berbicara begitu berapi-api hingga menonjokkan kepalan tangannya ke udara.

“Ya ampun, jadi masih masalah itu lagi?” namja di sebelah CEO Mun akhirnya bersuara. “Jadi gara-gara haelmoni memaksamu untuk datang ke psikolog hingga kau memecat Chef Song dan kini mau mengubah seluruh desain kitchen? Samchun, kau seperti anak kecil!” Oh, namja ini ternyata keponakannya CEO Mun. Tapi memangnya CEO Mun sudah setua apa hingga memiliki keponakan sebesar ini? Jangan-jangan CEO Mun itu alien yang tidak bisa tua!

“Tidaaaaaaak!” tanpa sadar akau berteriak sendiri, membuat kedua namja di sampingku terbengong-bengong.

“Kau tidak mau mengubah desain kitchen?” CEO Mun memelototiku, aku menggeleng. “Bukan-bukan itu maksudku, CEO Mun. Hanya saja nanti bagaimana bisa memasak jika kitchen dirombak total?” untung aku sedikit pintar untuk mencari alasan, CEO Mun terlihat yakin akan jawabanku tadi. Huft, kalau tidak mungkin aku bisa dipecat langsung saat ini juga.

“Tenang, kalau masalah itu, sementara ini semua kegiatan kitchen akan kupindahkan di samping kolam renang!” CEO Mun menjawab dengan bangga seolah idenya sangat cemerlang. Tapi memang cemerlang sih, dengan begitu akan seperti dapur outdoor dan para tamu hotel bisa menikmati hidangan sambil mengetahhui bagaimana freshnya semua bahan makananku dan cara membuatnya yang sangat berkelas, sama seperti chefnya hahaha.

“Samchun, kau benar-benar cari masalah dengan haelmoni,” namja yang seumuran denganku menggeleng. Aku memperhatikan pakaiannya, dia memakai sweater warna abu-abu tua dilapisi dengan jas hitam serta celana jeans warna senada dan sepatu sneakers. Ah, selera fashionnya tidak buruk-buruk amat, tapi tetap saja aku yang paling baik. Siapa yang bisa menolak kemeja pink dengan vest bunga, celana pensil warna hijau ini dan jangan lupa boots kebangganku?

“Nah, itu jadi tugasmu Woobin. Kau yangakan mendesain ulang kitchen dan kau harus bekerja cepat sebelum nyonya besar itu melakukan cek rutin bulanan ke hotel, hahahaha,” CEO Mun menepuk pundak keponakannya. Oh, namanya Woobin, mungkin nanti kami bisa berteman.

“Oiya CEO Mun, ada yang ingin aku tanyakan,” tiba-tiba aku kepikiran dengan ucapan Sekretaris Jung saat setiap kali aku bertemu dengannya.

“Wae?” CEO Mun kini menepuk pundakku. “Tanyakanlah padaku, anak muda, jangan sungkan-sungkan.”

“Mengapa Sekretaris Jung selalu berkata kalau dia ingin resign? Kalau dia resign maka aku tidak akan punya teman lagi,” jawabku jujur. Memang selama ini aku selalu merasa Sekretaris Jung banyak membantuku dan sudah kuanggap seperti teman sendiri, bahkan dia yang memberi nama chocolate cream with orange cherry blossom.

“Loh, serius itu samchun? Sekretaris Jung mau resign?” Woobin menganga tidak percaya. “Samchun, jika Sekretaris Jung resign maka tidak akan ada lagi yang mau menjadi sekretarismu!”

“Nah itu dia,” CEO Mun mengerenyitkan dahinya. “Henry, kau bilang kau temannya HyunAh kan?”

Aku mengangguk.

“Nah, bagaimana jika kau memasakkan sesuatu yang enak untuknya, lalu jangan lupa dengan desert yah, dan segelas wine. Lalu ajak dia bicara dan bujuk supaya dia tidak resign, bagaimana?”

Aku mengangguk sekali lagi, ini kan demi teman.

CEO Mun tersenyum puas, ” Nah tapi kau harus mengajaknya malam hari dan jangan lupa yah, tiga lilin di tengah-tengah meja, HyunAh sangat suka hal seperti itu.”

Aku melirik ke arah Wooobin yang sudah menepuk dahinya dan berbicara sendiri. Aku hanya bisa membaca gerakan bibirnya yang mengatakan ‘Ya ampun, samchun mulai lagi.’

Aku tidak mengerti apa yang Woobin katakan, namun demi Sekretaris Jung yang telah memberikan nama kepada hasil kreasiku hingga digemari oleh seluruh tamu hotel ini, maka aku harus berjuang!