Annyeong! Akhirnya setelah berhari-hari bertapa ketik sana hapus sini ketik sini hapus sana, FF inj jadi juga. Semoga memuaskan dan menyenangkan semua pihak. Maafkan author yang sedang mengalami degradasi otak sehingga tidak mampu lagi membuat FF penuh konflik dan panjang. Author hanya mampu buat one shot dan cukup membuat tersenyum. Selamat membaca!

—–

Setelah putus dengan Siwon Oppa, harus aku akui aku jadi memiliki kekosongan dalam kehidupanku terutama kalau sudah berkumpul dengan onniedeul dan pasangan mereka masing-masing. Rasanya, aku ingin berkata ‘ya’ kepada setiap pria yang mengajakku bersenang-senang. Sayang, aku tidak seberani itu. Ada seorang pria yang sedang dekat denganku namun dia tidak kunjung menyatakan perasaannya padaku dan aku lebih memilih menunggunya mengatakan ‘Kang Hamun, aku mencintaimu’ entah kapan, hanya dia dan Tuhan yang tahu. Oleh karena itu, aku mengajak Sonrye, sahabatku sejak sekolah dasar, untuk sama-sama menanggung penderitaan sebagai perempuan single di depan onniedeul-ku yang nyaris tidak pernah merasakan pedihnya hidup perempuan single kalau melihat perempuan lain dibelai mesra kekasihnya.

“Hamun, aku tidak berani masuk ke dalam,” kata Sonrye.

“Wae?” Tanyaku yang sudah siap mendorong pintu masuk.

Sonrye menggedikkan kepalanya ke dalam ruangan dimana eonnideul dan pasangan mereka menungguku. “Kau tidak bilang kalau ada Cho Kyuhyun-nim di dalam. Dia bos-ku. Aku takut bertemu dengannya,” jawab Sonrye yang tampak benar-benar enggan untuk bertemu bos-nya yang selalu dia deskripsikan dengan tiga kata : dingin, galak dan menakutkan.

Aku tertawa. “Tenang saja. Bos-mu itu sedang ada pawangnya. Kau akan aman, Sonrye,” kataku yang tidak pernah bisa membuktikan deskripsi-deskripsi Sonrye. Aku malah mendeskripsikan pria itu dengan tiga kata yang berbeda : manja, baik hati dan menyenangkan.

Aku menarik Sonrye masuk ke dalam. Ia langsung membungkuk memberi hormat kepada Kyuhyun Oppa dan mengucapkan salam dengan sopan, “Selamat malam, Cho Kyuhyun-nim.” Aku harus menahan tawa melihat Sonrye yang sedikit gemetar saking takutnya dengan Kyuhyun Oppa.

Kyuhyun Oppa tersenyum kepada Sonrye. “Selamat malam. Selamat datang, Sonrye-ya. Silahkan duduk,” balas Kyuhyun Oppa dengan ramah. Sonrye lalu duduk di sebelahku. Dari helaan nafasnya, aku tahu dia lega.

“Sudah aku bilang kan kau akan aman. Kalau kau melihat bos-mu itu bersama Hyejin eonni-ku, kau tidak perlu khawatir. Kyuhyun Oppa akan berada di titik terjinaknya kalau dengan Hyejin eonni,” kataku sambil menunjuk pria yang duduk dengan kepala terkulai lemah di bahu wanita di sebelahnya seolah ia pria paling tidak berdaya.

Sonrye menganggukkan kepala tanda setuju dengan perkataanku. Berkali-kali aku mengatakan pada Sonrye bahwa Kyuhyun Oppa memiliki sisi lembut yang mungkin tidak pernah ia tunjukkan kalau berada di kantor tapi ia tidak pernah percaya sampai dengan mata kepalanya sendiri ia melihat bos-nya itu menggeliat manja hanya untuk memeluk kekasihnya.

“Kyuhyun Oppa! Sudah aku bilang jangan bermesraan di depanku sampai aku punya pacar!” Tegurku yang tidak agak suka jika melihat Kyuhyun Oppa dan Hyejin eonni bermesraan. Mereka bisa membuat orang panas dingin hanya dengan melihat kemesraan mereka.

Kyuhyun Oppa menjulurkan lidahnya padaku. “Sudah aku bilang kau harus segera cari pacar, Kang Hamun. Kalau Lee Donghae-mu itu tidak juga menyatakan cintanya, kau saja yang nyatakan duluan. Tidak susah kan?” Katanya dengan santai membuatku ingin menjambak rambutnya yang entah kenapa selalu berantakan itu.

“Aku tidak akan pernah menyatakan cintaku padanya,” kataku. Bagiku, meskipun dunia sudah maju dan modern sampai manusia bisa terbang, laki-laki tetap harus menyatakan perasaannya duluan kepada wanita.

“Ya sudah kalau gitu cari pria lain saja,” kata Kyuhyun Oppa lagi tetap dengan gaya santainya tanpa melepaskan tangannya dari pinggang Hyejin eonni.

Hyejin eonni dengan lembut mengelus paha Kyuhyun Oppa. “Sudahlah. Kau ini kerjanya kalau tidak mengganggu Jihyo ya Hamun. Kalau Hamun mau menunggu Donghae Oppa, apa salahnya sih? Namanya juga cinta. Mungkin Donghae Oppa masih malu-malu, sama sepertimu dulu. Untung aku sabar menunggumu,” kata Hyejin eonni.

“Yaaa, Hyejin-ah. Kita itu berbeda dengan Hamun dan Donghae. Kalau kita dulu, kau sudah tahu aku mencintaimu setengah mati. Kau hanya menunggu kata-kata ‘Song Hyejin, apa kau mau jadi kekasihku?’ keluar dari mulutku untuk memastikan hubungan kita. Padahal jelas sekali aku tidak perlu mengatakannya. Sehari tidak bertemu denganmu saja aku langsung demam,” balas Kyuhyun Oppa yang kini sudah mengangkat kepalanya untuk bertatapan dengan Hyejin eonni.

“Lalu apa bedanya dengan Donghae Oppa? Mungkin dia juga merasakan hal yang sama denganmu dulu dan Hamun merasakan hal yang dulu aku rasakan,” sahut Hyejin eonni tidak mau kalah.

Kyuhyun Oppa lalu berpaling menatapku. “Apa Donghae selalu meneleponmu?” Tanyanya kepadaku. Aku menganggukkan kepalaku.

“Sesibuk apapun dia, selalu menghubungimu?”

Aku kembali menganggukkan kepalaku.

“Kau pernah menghubunginya duluan? Sesering apa kau menghubunginya duluan?”

“Lebih sering Donghae Oppa duluan yang menghubungiku sih,” jawabku.

Kyuhyun Oppa menyeringai seolah dialah yang mengetahui segalanya di muka bumi ini. “Dengarkan aku ya, Hamun. Donghae sudah jatuh cinta padamu jadi kau tidak perlu ragu lagi padanya. Anggap saja kalian sudah pacaran,” kata Kyuhyun Oppa yang mendapat bantahan dari Hyejin eonni.

“Hamun, kau tetap harus menunggunya memastikan hubungan kalian dengan mulutnya sendiri. Dengarkan pesanku baik-baik.”

“Ya ampun, itu tidak perlu. Aku beritahu satu hal ya, pria itu tidak akan kemana-mana kalau sudah bertemu dengan wanita yang ia cintai. Cinta itu bukan dari perkataan tapi dari perbuatan.”

Kyuhyun Oppa mendebat pendapat Hyejin eonni dan aku tahu hal selanjutnya yang akan aku lihat adalah delikan mata Hyejin eonni yang akan membuat Kyuhyun Oppa terdiam. “Okay, aku mengalah. Hamun, kau harus memastikan Donghae menyatakan cinta padamu,” kata Kyuhyun Oppa kepadaku lalu kembali memeluk Hyejin eonni dan mengulaikan kepalanya dengan manja di bahu kekasihnya itu.

Hyejin eonni tersenyum puas. Ia menghadiahkan sebuah kecupan kilat di bibir Kyuhyun Oppa. Kyuhyun Oppa merajuk untuk mendapatkan satu atau beberapa kecupan lagi tapi Hyejin eonni mengabaikannya. Sonrye yang berada di sebelahku hanya menunduk sambil tertawa geli melihat kelakuan bos-nya yang memalukan itu.

Aku menjulurkan lidahku kepada Kyuhyun Oppa. Ia masih berusaha untuk mendapatkan lagi ciuman dari Hyejin eonni tapi wanita itu hanya memberikannya sebuah belaian di kepalanya. Dengan wajah cemberut, Kyuhyun Oppa kembali mengulaikan kepalanya di bahu Hyejin eonni tapi kali ini ia berusaha menggoda Hyejin eonni dengan menciumi leher wanita itu. Aku tidak tahu sampai kapan Hyejin eonni bisa bertahan. Aku bertaruh dengan Sonrye, tidak sampai 5 menit mereka pasti akan meninggalkan tempat ini. Kyuhyun Oppa semakin agresif dan Hyejin eonni sedikit melunak. Lebih baik aku tidak melihat mereka.

—–

Sonrye sedang tenggelam dalam kenikmatan daging sapi panggang kesukaannya dan tidak ada hal apapun di dunia ini yang dapat mengalihkannya dari daging sapi panggang, termasuk aku. Aku melihat MinAh eonni yang juga sedang menikmati makanan kesukaannya, ramyeon pedas yang bisa membuatnya berkeringat saat memakannya.

Aku teringat kepada tujuan awal kami berkumpul adalah membantu MinAh eonni dan Eric Oppa mempersiapkan resepsi pernikahan mereka yang entah kapan, tergantung tanggal kosong yang dimiliki hotel ini. “Eonni, katanya kau mau memilih kue. Mana contoh kuenya?” Tanyaku.

“Sedang diambilkan,” jawabnya dengan singkat lalu kembali memasukkan sesumpit ramyeon ke dalam mulutnya. MinAh eonni mengunyah dengan penuh semangatt.

Eric Oppa duduk di sebelah MinAh eonni, memakan sup ayamnya dalam diam. Mereka tidak saling bicara dan aku tersadar bahwa mereka berdua pasti sedang bertengkar.

MinAh eonni dan Eric Oppa tidak jauh berbeda dengan Kyuhyun Oppa dan Hyejin eonni. Mereka adalah pasangan yang tidak pernah malu untuk memperlihatkan kemesraan mereka, apalagi Eric Oppa. Eric Oppa sangat suka menggoda dan menyentuh MinAh eonni begitu juga sebaliknya tapi akhir-akhir ini, sejak mereka memutuskan untuk menikah, mereka lebih banyak bertengkar. Sindrom persiapan pernikahan, mungkin.

“Kenapa makannya tidak dihabiskan?” Tanya Eric Oppa saat melihat MinAh eonni mendorong mangkuk ramyeon-nya yang masih berisi setengah.

“Kenyang,” jawab MinAh eonni dengan singkat lalu meneguk segelas air dingin untuk menghilangkan kepedasan yang ia rasakan di mulutnya.

“Pelan-pelan minumnya. Awas tersedak,” pesan Eric Oppa penuh perhatian, menunggu MinAh eonni menyelesaikan minumnya, memastikan kekasihnya itu tidak akan tersedak.

MinAh eonni meletakkan gelas kosongnya ke atas meja dan Eric Oppa kembali melanjutkan makannya. Aku menatap MinAh eonni dengan penasaran. “Eonni dan Oppa sedang bertengkar?” Tanyaku sepelan mungkin agar Eric Oppa tidak mendengarnya.

MinAh eonni menganggukkan kepalanya. Ia menjelaskan kepadaku dengan emosi yang meluap-luap, “Sudah aku bilang pada Oppa-Ahjussimu itu bahwa aku mau memakai gaun pengantin yang pendek tapi dia memaksaku untuk memakai yang panjang. Aku menurutinya. Lalu aku bilang aku mau baju pernikahan kami warna ungu tapi ia bilang warna hijau lebih bagus. Aku jelas tidak mau. Aku sudah menurutinya untuk memakai gaun panjang, gantian dia untuk menuruti warna yang aku pilih dong. Ini kan pernikahan berdua bukan pernikahannya sendiri.”

Aku hanya tersenyum kaku. Eric Oppa sudah memutar badannya untuk memandang kami berdua. “Aku sudah setuju untuk memakai warna ungu, Park MinAh,” kata Eric Oppa dengan tidak lembut namun tidak juga kasar.

“Iya tapi setelah Oppa membentakku dan aku menangis,” sahut MinAh eonni dengan judes.

“Aku kan sudah minta maaf,” kata Eric Oppa tanpa penyesalan berarti.

Aku hanya kembali tersenyum kaku. Pasangan ini sama mesranya dengan Kyuhyun Oppa dan Hyejin eonni tapi kalau soal bertengkar, mereka berbeda jauh. Kyuhyun Oppa dan Hyejin eonni nyaris setiap hari berdebat, bertengkar tapi dengan mudah mereka akan kembali berbaikan dan bermesraan. Berbeda dengan MinAh eonni dan Eric Oppa yang nyaris tidak pernah bertengkar tapi sekalinya bertengkar membutuhkan waktu untuk kembali berbaikan.

“Hamun, aku sarankan kepadamu kalau kau mau menikah suatu saat nanti. Jangan pernah, aku bilang sekali lagi, jangan pernah. Jangan pernah menikah dengan pria egois yang tidak bisa mengerti keinginanmu,” kata MinAh eonni.

Eric Oppa berdeham. Ia kembali memutar badannya untuk berhadapan dengan MinAh eonni dan aku. “Ya Park MinAh, jangan menyebutku seperti itu. Aku kan sudah bilang kita akan memakai warna ungu sesuai keinginanmu,” kata Eric Oppa.

“Memang ada yang menyebut nama Oppa?” Sahut MinAh eonni dengan dingin. MinAh eonni memang tidak menyebut nama Eric Oppa tapi jelas sekali ia baru saja menyindir pria itu.

Eric Oppa berusaha mengalah dengan tidak membalas ucapan MinAh eonni. Aku bertanya untuk mengalihkan pertengkaran mereka, “Oppa dan Eonni sudah menemukan penyanyi untuk mengisi acara pernikahan eonni?”

“Kim Junsu dan Kim Jongwoon,” jawab MinAh eonni dengan wajah berseri-seri. Aku akui kedua pria yang baru saja disebutkan oleh MinAh eonni itu punya suara yang bisa membuat orang yang mendengarnya merinding, cocok untuk lagu-lagu romantis. Kalau aku menikah, aku mungkin akan menyewa mereka juga untuk jadi wedding singerku.

Eric Oppa menghela nafasnya. “Kenapa? Oppa tidak suka juga?” Tanya MinAh eonni dengan sinis.

“Aku tidak bilang begitu kan?” Kata Eric Oppa berusaha menahan agar emosinya tidak terpancing.

MinAh eonni lalu kembali padaku. “Saat pertama kali aku mengajukan Kim Junsu dan Kim Jongwoon kepadanya, dia bilang kemahalan dan menyuruhku mencari penyanyi lain. Jelas aku tidak mau. Aku tidak mau suasana pernikahanku dan mood para tamu berantakan hanya karena salah penyanyi. Kalau Eric Oppa tidak mau membayarnya, aku juga bisa membayarnya,” ujar MinAh eonni.

“Bukan aku tidak mau membayarnya, MinAh-ya. Sehabis menikah kan kita masih banyak keperluan, jangan terlalu boros lah,” kata Eric Oppa. Perkataan Eric Oppa ada benarnya jadi aku menganggukkan kepalaku.

“Ya Hamun, kau tidak boleh mendukung Eric Oppa,” kata MinAh eonni kepadaku dengan galak.

Aku hanya menyeringai. “Aku tidak mendukung Eric Oppa. Aku juga tidak mendukung MinAh eonni. Aku netral. Netral,” kataku untuk menyelamatkan diriku sendiri dari pertengkaran pasangan ini.

MinAh eonni menatapku kesal. Beruntung, koki hotel ini masuk membawa beberapa kue yang akan dijadikan tester untuk kue pernikahan MinAh eonni dan Eric Oppa yang harus aku tegaskan, entah kapan tergantung tanggal kosong hotel ini.

“Aku tidak mau coklat.”

“Aku tidak mau strawberry.”

Pasangan itu saling menatap tajam. Baru koki itu meletakkan kue-kue di hadapan mereka dan mereka sudah mulai berdebat. Perdebatan semakin keras ketika mereka mulai mencicipi kue-kue tersebut.

“Ini tidak enak,” kata Eric Oppa menunjuk sebuah kue yang baru saja ia makan.

MinAh eonni menyendok secuil kue tersebut untuk merasakannya. “Ini enak kok,” komentar MinAh eonni berkebalikan dengan komentar Eric Oppa.

Eric Oppa berusaha mengabaikannya dengan mencoba kue yang lain. “Kue yang ini enak tapi rasa kopinya terlalu pahit. Tolong dibuat lebih manis. Aku pilih kue ini,” kata Eric Oppa kepada koki.

“Aku tidak suka kopi!!!” MinAh eonni tampak sangat kesal sampai ia bisa berseru sekeras itu. “Eric Oppa!”

“Aku sudah lelah berdebat terus denganmu, MinAh. Aku pilih kue ini. Kau pilih saja kue yang kau suka.”

“Oppa!”

Perdebatan ini semakin mengerikan. Aku lebih baik menghindar. Aku mengajak Sonrye untuk pindah ke kursi yang tadi ditempati oleh Kyuhyun Oppa dan Hyejin eonni. Dengan senang hati, Sonrye mengikutiku. Tampaknya ia juga tidak ingin terseret ke dalam perdebatan pasangan itu. Aku duduk di sebelah HyunAh eonni yang sedang berusaha mendamaikan sahabat dan pasangannya itu.

—-

“Sudah, sudah. Biar aku dan Henry yang memilih,” kata HyunAh eonni sambil menggeser semua kue ke hadapannya dan kekasihnya, Henry. “Kalian boleh meragukan sense of fashion kami tapi kalau soal makanan tak ada yang bisa menandingi kemampuan kami.” Dengan pasrah, MinAh eonni dan Eric Oppa membiarkan pasangan itu yang memilihkan kue pernikahan mereka.

“Kalian juga harus mencobanya,” kata HyunAh eonni kepadaku dan Sonrye.

Aku mengambil blueberry cheese sedangkan Sonrye mengambil tiramisu. “Enaaaak,” kataku dan Sonrye hampir bersamaan.

Aku melihat HyunAh eonni dan Henry Oppa sedang berdiskusi serius atas sebuah kue yang habis mereka cicipi. “Aku rasa kue ini terlalu manis, baby Hyun. Gulanya harus dikurangi sedikit agar rasa lemonnya lebih terasa,” kata Henry Oppa terhadap sebuah kue.

HyunAh eonni menganggukkan kepalanya tanda ia setuju. “Aku pikir juga begitu. Tapi kue ini tidak cocok untuk orang tua, agak asam,” kata HyunAh eonni.

“Aku setuju. Kita coba yang lain,” ujar Henry Oppa sambil menggeser kue lemon tersebut dan menggantikannya dengan kue buah-buahan.

“Okay.”

Aku tertawa geli melihat mereka. HyunAh eonni dan Henry Oppa berbeda dari pasangan Kyuhyun Oppa-Hyejin eonni dan Eric Oppa-MinAh eonni. Mereka nyaris tidak pernah menunjukkan kemesraan mereka di depan orang tapi mereka juga tidak pernah bertengkar. Mereka selalu satu pikiran dan satu selera. Mereka punya dunia mereka sendiri yang aku yakini tidak akan ada orang lain yang bisa memasukinya.

HyunAh eonni dan Henry Oppa sudah mengganti kue buah-buahan mereka dengan kue pelangi berlapiskan serpihan almond. “Aku rasa kue ini tidak akan mengecewakan,” kata Henry Oppa yang dengan mudah disetujui oleh HyunAh eonni.

HyunAh eonni lalu menengok padaku dan Sonrye. “Bagaimana rasa kue yang kalian makan?” Tanya HyunAh eonni kepada kami berdua.

Aku dan Sonrye menjawab kompak meskipun kami memakan kue yang berbeda, “Enak!!”

“Aku mau mencobanya ya,” kata Henry Oppa sambil mengambil kue blueberry cheese dari hadapanku. HyunAh eonni memperhatikan kekasihnya dengan serius.

“Bagaimana, Baby Hen? Enak?” Tanya HyunAh eonni.

Henry Oppa menganggukkan kepalanya lalu menyuapi HyunAh eonni sesendok kecil kue blueberry cheese tersebut. Senyum HyunAh eonni mengembang sempurna. “Kue ini benar-benar enak, baby Heeen. Aku pilih kue ini.”

“Aku juga,” ujar Henry Oppa sambil membersihkan sisa-sisa krim keju di pinggiran bibir HyunAh eonni.

Wajahku bersemu merah melihat mereka berdua. Kata orang, hubunganku dulu dan Siwon Oppa juga seperti itu hanya saja aku dan Siwon Oppa lebih mesra daripada mereka. Tidak ada yang pernah menyangka kami berdua akan putus tapi cinta di antara kami menghilang begitu saja dan tidak bisa dipaksakan lagi.

Aku ingin punya pacar lagi seperti mereka. Koreksi, aku ingin punya hubungan pacaran seperti mereka : manis, hangat, harmonis. Kalau aku punya pacar seperti Henry Oppa pasti akan aneh. Hanya orang-orang seperti HyunAh eonni yang bisa mengerti makhluk ajaib seperti Henry Oppa.

“Hamun-ah,” panggil Henry Oppa tiba-tiba setelah ia dan HyunAh eonni telah selesai memilih 4 jenis kue untuk resepsi pernikahan MinAh eonni dan Eric Oppa.

“Ne, Oppa?” Sahutku gelagapan, ingat, bukan karena aku memikirkannya tapi karena aku baru saja memikirkan hubungan yang menggemaskan yang dimilikinya dengan HyunAh eonni.

“Kalau kau mau menikah dan membutuhkan bantuan soal makanan, kau jangan lupa untuk menghubungiku ya,” kata Henry Oppa sambil menyengir lucu dengan deretan giginya yang rapi dan putih cemerlang.

“Tentu saja tapi pernikahanku masih lama. Mungkin Kyuhyun Oppa dan Hyejin eonni yang akan menikah setelah MinAh eonni dan Eric Oppa,” kataku.

“Ah, kalau mereka berdua sih tidak usah dibantu. Semakin kita mau membantu, semakin banyak permintaan mereka yang buat sakit kepala. Tidak usah. Tidak usah,” ujar Henry Oppa yang membuatku dan Sonrye tertawa terbahak-bahak.

“Betul. Betul. Kyuhyun-nim memang seperti itu. Banyak permintaan yang suka buat orang sakit kepala,” kata Sonrye yang lalu segera kembali menutup mulutnya. “Jangan bilang pada Kyuhyun-nim apa yang aku bilang barusan. Aku mohon.”

HyunAh eonni tertawa melihat wajah ketakutan Sonrye. “Tenang saja. Bos-mu itu sudah punya pawang sejati yang bisa mengendalikannya,” kata HyunAh eonni.

Ponsel HyunAh eonni tiba-tiba berbunyi dan ia segera mengangkatnya. “Ne, Yoochun Oppa? Wae?” Sahut HyunAh eonni diiringi tawa renyah yang membuat ekspresi Henry Oppa berubah 180 derajat.

HyunAh eonni berjalan ke luar ruangan diikuti oleh Henry Oppa. Meskipun mereka adalah pasangan yang paling adem ayem tapi kalau masalah cemburu, Henry Oppa bersaing ketat dengan Kyuhyun Oppa. Mereka berdua sama-sama tidak bisa melihat kekasihnya dengan pria lain bedanya Henry Oppa akan bertanya baik-baik kepada HyunAh eonni setelah urusan wanita itu dan pria lain selesai sedangkan Kyuhyun Oppa, belum Hyejin eonni bicara dengan teman prianya, Kyuhyun oppa sudah mengambil alih bicara. Jujur, aku tidak mau punya pacar cemburuan seperti itu.

—-

Jihyo eonni dan Woobin Oppa terlambat hampir 2 jam dari waktu perjanjian. Mereka masuk ke dalam ruangan sambil bergandengan tangan dan tertawa-tawa. “Kami dataaaaaang!!!” Seru Jihyo eonni dengan ceria.

MinAh eonni yang masih bertengkar dengan Eric Oppa menatap Jihyo dengan tajam. “Kau terlambat!!” Bentak MinAh eonni dengan galak.

“Mianhe, eonni,” kata Jihyo eonni yang tidak jadi mendekati MinAh eonni dan memeluknya. Jihyo eonni duduk di dekatku dan Sonrye. “Mereka sedang bertengkar?” Tanya Jihyo eonni kepadaku.

Aku menganggukkan kepalanya. “Pantas MinAh eonni semengerikan itu,” bisik Jihyo eonni kepadaku lalu menyengir kepadaku membuat aku mau tidak mau tertawa geli melihat cengirannya yang sangat lucu itu.

Jihyo eonni adalah adik dari Siwon Oppa dan dia tidak menjauhiku meski aku bukan lagi calon adik iparnya, seperti yang selalu ia sebutkan kepadaku. “Tadi aku lihat HyunAh eonni dan Henry Oppa di luar? Apa mereka sudah mau pulang?” Tanya Jihyo eonni.

“Kurasa belum,” jawabku melihat tas HyunAh eonni yang masih berada di kursinya.

“Kyuhyun Oppa dan Hyejin eonni?” Tanya Jihyo eonni lagi melihat tidak ada tanda-tanda kehadiran dari pasangan itu.

“Tadi sih ada tapi setelah berdebat mengenai hubunganku dan Donghae Oppa lalu beberapa kecupan, mereka menghilang,” jawabku dengan tersenyum yang maknanya tentu saja langsung dimengerti oleh Jihyo eonni.

“Aku rasa kita hanya punya 3 pilihan tempat : apartemennya, parkiran mobil atau…salah satu kamar di hotel ini?” Ujar Jihyo eonni sambil mengikik jahil.

“Jangan suka ngomongin orang di belakang. Tidak bagus, sayang,” ujar Woobin Oppa sambil membelai rambut kekasihnya itu dengan penuh kasih sayang.

Jihyo eonni memanyunkan bibirnya dengan aegyo-nya yang tidak akan dikeluarkannya di depan orang selain Woobin Oppa. “Aku kan tidak ngomong yang jelek-jelek, Oppa. Aku sedang mencari mereka. Tidak enak kan kalau tidak lengkap apalagi ini dalam rangka persiapan pernikahan eonni kami yang paling cantik, Park MinAh!!” Jihyo eonni sengaja mengeraskan suaranya saat menyebutkan nama MinAh eonni.

MinAh eonni yang sedang sibuk dengan wedding organizer membahas dekorasi tempat resepsi langsung menengok dan menatap tajam kepada Jihyo eonni. “Jangan mengganggu, nona Choi! Kim Woobin, ikat pacarmu kalau kerjanya hanya mengganggu!” Omel MinAh membuat Jihyo tertawa terbahak-bahak.

“Jangan galak-galak eonni. Nanti cepat tua. Tidak mau kan sebelum menikah rambutmu sudah ubanan?” Goda Jihyo membuat MinAh semakin naik darah.

“Yaaaa Kim Woobin!!!”

“Ne, MinAh noona yang cantik,” sahut Woobin Oppa sambil tersenyum yang aku bilang akan langsung melumpuhkan semua wanita yang melihatnya. Sayang, dari semua wanita yang luluh lantak kepadanya ia memilih Jihyo eonni, nona evil yang punya seribu satu cara untuk membuat orang kesal.

Woobin Oppa membelalakan matanya untuk memperingati Jihyo eonni. “MinAh noona sedang stress, jangan mengganggunya, sayang. Ganggu yang lain saja. Hamun atau aku juga boleh,” kata Woobin Oppa.

Aku menatap Woobin Oppa. “Kenapa bawa-bawa namaku?” Tanyaku. Woobin Oppa hanya tersenyum dan membuatku terdiam. Itu salah satu anugerahnya.

“Daripada eonni-mu ini menggoda MinAh noona dan membuatnya mengamuk, kau pilih mana?”

Aku menghembuskan nafas panjang dengan mulutku. “Demi kedamaian di ruangan ini,” ujarku.

Woobin Oppa tersenyum penuh terima kasih kepadaku sedangkan Jihyo eonni sudah tersenyum jahil kepadaku. “Kenapa tersenyum seperti itu kepadaku, eonni? Apa yang ada di otakmu?” Tanyaku.

“Apa Donghae Oppa sudah menghubungimu hari ini?” Tanya Jihyo eonni sambil tersenyum lebar dan menaikkan alisnya berkali-kali.

Sudah aku duga ia akan menggodaku mengenai hubunganku dengan Donghae Oppa. Jihyo eonni memang orang yang paling ingin tahu tentang hubunganku dan dia selalu berhasil untuk membuatku menceritakannya. “Terakhir sebelum dia naik pesawat. 3 jam yang lalu,” jawabku.

“Setelah itu belum ada kabar?”

“Ya belumlah eonni. London ke Seoul kan lama. Donghae Oppa masih di pesawat,” kataku.

Jihyo eonni menyengir geli menyadari kebodohannya. Woobin Oppa yang mendengar percakapan kami tertawa geli karena kekasihnya. Dengan lembut, Woobin Oppa membelai kepala gadis yang sedang duduk membelakanginya itu.

“Lalu apa dia sudah menyatakan cintanya padamu?” Tanya Jihyo eonni.

Aku menggelengkan kepalaku.

“Astaga!!!! Apa susahnya sih bilang ‘aku mencintaimu. Jadilah kekasihku’?”

Aku mengangkat bahuku. Pertanyaan seperti itu sudah ratusan kali aku dengar dan belum mendapatkan jawabannya. “Mungkin Donghae Oppa memang tidak mencintaiku?” Ucapku asal karena pada awalnya memang Donghae Oppa bukan naksir kepadaku. Ia dulu menyukai Hyejin eonni dan bersaing keras dengan Kyuhyun Oppa. Namun karena Kyuhyun Oppa begitu gigih dan berjanji akan menjaga Hyejin eonni dengan baik, Donghae Oppa mundur perlahan. Dan, jadilah Hyejin eonni mengenalkan Donghae Oppa padaku yang pada saat itu baru putus dari Siwon Oppa.

Jihyo eonni menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Tidak. Tidak mungkin. Aku yakin Donghae Oppa mencintaimu. Percayalah.”

“Apa yang tidak mungkin di dunia ini sih, eonni?”

Agak sakit hati sebenarnya memikirkan jika benar Donghae Oppa ternyata tidak mencintaiku tapi aku juga tidak mau terlalu membawa diriku dengan angan-angan bahwa pria itu jatuh cinta padaku. Ia hanya meneleponku setiap hari, menanyakan kabarku lalu mengajakku makan bersama. Aku menganggap kegiatan itu sebagai pendekatan. Mana ada sih pria yang mau menelepon seorang gadis setiap hari kalau tidak tertarik padanya? Aku hanya bisa menunggu ia memastikannya. Sialan.

Jihyo eonni sedang mengobrol dengan Woobin Oppa sambil makan waffel yang baru datang. “Kita bagi dua ya. Kebanyakan kalau aku makan sendiri,” kata Jihyo eonni.

“Iya sayang,” sahut Woobin Oppa sambil membersihkan sisa madu yang menempel di dagu Jihyo eonni.

“Oppa, menurut Oppa apa aku harus memberitahunya?”

“Jangan, biar saja dia memberitahukannya sendiri.”

Aku mendengarkan percakapan pasangan ini dan aku mulai kehilangam arah akan percakapan mereka. Mereka membicarakan banyak hal yang tidak sambung menyambung satu dengan yang lainnya tapi mereka tertawa terbahak-bahak saat mendengarkan jawaban pasangannya.

Melihat Jihyo eonni dan Woobin Oppa membuatku selalu memikirkan bagaimana Tuhan punya ide aneh bin ajaib untuk menjodohkan kedua manusia ini. Woobin Oppa, laki-laki paling keren yang digandrungi oleh puluhan wanita, punya senyum paling mematikan dan kecerdasan serta kekayaan yang tidak terbatas. Sempurna. Sejak kenal Jihyo eonni ia jadi memiliki kekurangan yaitu kebiasaan memanjakan Jihyo eonni sehingga membuat perempuan itu semakin merajalela dengan kejahilannya. Aku salah satu korbannya. Sedangkan Jihyo eonni, gadis cantik dengan pergaulan luas, temannya ada dimana-mana apalagi namja, otaknya sebagian besar terisi oleh ide-ide ajaib dan punya penyakit yang tidak bisa disembuhkan : menjahili orang. Aku tidak tahu bagaimana mereka bisa saling jatuh cinta karena Woobin Oppa sama sekali bukan tipe Jihyo eonni.

Ah biarlah, toh mereka yang saling jatuh cinta dan menjalaninya.

Aku kembali menguping pembicaraan Jihyo eonni dan Woobin Oppa.

“Jadi aku harus memberitahunya atau tidak, Oppa? Aku tidak enak.”

“Terserah kau saja deh. Ikuti kata hatimu saja.”

Jihyo eonni lalu menatapku. Ia menatapku dengan serius. Benar-benar serius, sama sekali tidak ada tanda-tanda kejahilan di matanya. Aku tahu Jihyo eonni jago bernyanyi tapi dia payah kalau soal akting.

“Ada apa?” Tanyaku.

Jihyo eonni menatapku dan menjulurkan jari kelingking kanannya padaku. “Aku akan memberitahukan sesuatu padamu tapi berjanjilah kau tidak akan membahasnya dengan siapapun. Siapapun. Ingat itu. Termasuk aku dan Woobin Oppa. Dan kau harus pura-pura seolah kau tidak pernah mengetahuinya. Okay?”

Jihyo eonni berhasil membuat jantungku berdegup sangat kencang. Aku tidak tahu apa yang akan ia lakukan. Aku menyiapkan hatiku untuk kejahilan Jihyo eonni yang paling parah. “Waeyo, eonni?” Tanyaku.

“Janji dulu kau tidak akan membahasnya,” kata Jihyo eonni tanpa menurunkan kelingking kanannya.

Aku mengaitkan kelingking kananku ke kelingking Jihyo eonni. “Aku berjanji,” ujarku.

Jihyo eonni lalu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Ia mengutak-atiknya sebentar lalu memberikannya padaku. “Bacalah,” katanya.

Aku membaca pesan Kakao Talk antara Jihyo eonni dan…Donghae Oppa!!!

Yaa Choi Jihyo. Jangan membuatku panas dingin.

Aku tidak bermaksud membuat Oppa panas dingin. Aku hanya tanya bagaimana kalau ada pria lain yang mendekati Hamun.

Jangan bicara yang tidak-tidak. Membayangkannya saja aku sudah ngeri.

Lagian Oppa tidak jelas. Setiap hari meneleponnya tapi tidak kunjung menyatakan cinta pada Hamun.

Memangnya cinta harus selalu diucapkan. Kan bisa dilihat dari perbuatan.

Iiiish! Kau benar-benar menyebalkan! Ya sudah, aku jodohkan saja Hamun dengan Taemin atau si Sehun. Mereka tidak kalah tampan darimu.

Yaa Choi Jihyo! JANGAN!!! Awas kalau kau mengenalkan Hamun dengan pria lain!

Jadi, Oppa mencintai Hamun? Humm?

Iya, aku mencintai Hamun.

Kapan Oppa akan menyatakannya?

Tunggu urusanku di London selesai ya, cantik. Sudah, kau pacaran saja sana. Jangan menggangguku! Dan jangan beritahukan Hamun mengenai ini. Aku ingin dia mendengar langsung dari mulutku. Paham?

Aku membaca percakapan itu sambil senyum-senyum sendiri. Tidak ada yang bisa menandingi kebahagiaanku saat ini. Jihyo eonni yang berada di sebelahku dengan cemas. “Berjanjilah kau akan bersikap seolah kau tidak mengetahuinya ketika Donghae Oppa menyatakan cintanya padamu,” kata Jihyo eonni yang tentu saja akan aku turuti dengan senang hati.

Aku memeluk Jihyo eonni bahkan mengecup pipinya dengan mesra seperti yang biasa dilakukan Woobin Oppa kepadanya. “Jihyo eonni… Gomawoo!!! Kau memang eonni-ku yang paling baik. Daebak!!! Aku mencintaimu.”

Aku kembali membaca pesan-pesan Donghae Oppa di ponsel Jihyo eonni. Aku bahkan men-capture screen percakapan tersebut dan mengirimkannya ke ponselku.

Iya, aku mencintai Hamun.

Aku tersenyum geli meski telah puluhan membaca pesannya itu.

Kang Hamun, aku mencintaimu. Jadilah kekasihku.

Aku membayangkan Donghae Oppa mengatakannya dengan wajah bersemu merah, malu-malu, lalu menciumku dan menggengam tanganku memastikan hubungan kami untuk ke tahapan yang serius seperti para eonnideul kecuali MinAh eonni. Aku ingin punya kekasih bukan suami.

Aaaaaaakh!!! Kenapa wajahku terasa panas. Ini semua gara-gara Jihyo eonni. Bagaimana aku bisa berekspresi dengan baik di depan Donghae Oppa nanti? Membayangkannya saja sudah buat aku senyum-senyum sendiri. Aaaah, Kang Hamun. Neo babo-ya!!! Aku harus segera minta Hyejin eonni untuk mengajarkanku berakting. Aaaakh!!!

Kkeut!
:*