By @gurlindah93

 

“Huahahahahahahhahahaaa”

“Oh my God!!!!”

“Damn!!!”

“Impossible!!!”

Butuh waktu agak lama bagi keempat sahabatku untuk tenang. Mungkin sekitar setengah jam aku harus mendengarkan tawa, pujian, doa, ketakutan, umpatan, dan semua yang keluar dari mulut mereka karena berita yang baru saja kusampaikan.

Setelah mereka bisa mengendalikan diri kuserahkan map yang tadi diberi oleh Jungsoo oppa ke mereka, dengan berebutan mereka membaca isinya.

“Shinhwa mall”

“Eric Mun”

“Sekretaris pribadi”

“Minimal diploma”

“MinAh, apa pendidikanmu tidak terlalu tinggi untuk posisi ini?” tanya HyunAh heran. Aku senang sekali ada yang memiliki pemikiran sama denganku.

“Itu sudah kukatakan ke appa, tapi beliau tidak mau mendengarnya. Katanya pekerjaan sekretaris itu tidak mudah jadi jangan diremehkan” gerutuku.

“Benar, mungkin appamu ingin kamu merasakan bagaimana mengurus orang sebelum mengurus perusahaan Min” komentar Hyejin. IQnya yang super tinggi membuatnya selalu berpikir dengan rasional, walau tidak ada yang mengalahkan kerasionalan magnae kami.

“Setuju dengan Park aboji. Eonni kan belum pernah bekerja, beliau pasti takut ketika eonni bekerja di manajerial malah memalukan karena eonni tidak punya pengalaman” benar kan, magnaeku ini selalu menggunakan isi otaknya sebelum bicara dan bertindak.

“Ne ne ne ne ne…. Lalu menurut kalian aku harus menerimanya?” tanyaku.

“Bukannya mereka yang menerima eonni ya? Kan eonni melamar pekerjaan ke mereka… Ya eonni memang harus melamar, anggap saja ini sebagai pengalaman. Jadilah anak yang berbakti MinAh eonni” sahut si jahil Jihyo.

Aku diam saja, berpikir perkataan mereka yang memang terdengar masuk akal.

“Aaaaahhh sudahlah, aku mau tidur lagi” kuletakkan kepalaku di bantal Hyejin yang sangat nyaman.

“Yaaaaaaa!!!! Kamu yang menyuruh kami berkumpul tapi sekarang malah kamu tinggal tidur! Park MinAh!!!” omel Hyejin.

“Eonni…..”

“Yaaaaaaaaaa”

Aku tidak mempedulikan omelan mereka, aku sungguh ingin tidur dengan nyenyak.

Ketika terbangun jam dinding super besar di kamar Hyejin menunjukkan jam 12.30 siang, kamar sudah sepi. Kutebak mereka semua sudah pulang, atau kencan, atau belanja, atau apapun yang tidak bisa kulakukan saat ini karena harus menyiapkan berkas lamaran.

“Aiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiisssssssssssssssssssshhhhhhh!!!!” umpatku dengan frustasi.

Tok tok.

“Agasshi, Hyejin agasshi menitipkan ini pada saya untuk diserahkan ke MinAh agasshi begitu agasshi bangun” salah seorang pegawai Hyejin menyerahkan secarik kertas padaku dengan agak ketakutan. Mungkin dia pikir aku bisa menelannya hidup-hidup karena mengangguku saat moodku sedang buruk.

“Gomawo” ucapku sambil tersenyum, secepat kilat pegawai itu langsung pergi. Aku terkikik melihatnya.

‘Sekretaris Park MinAh.. Jihyo, HyunAh, dan Hamun sudah pulang sejak tadi. Aku akan kencan dengan Kyuhyun hohoho ;p Setelah menenangkan diri tolong segera pulang ya. PS: Aku sudah menyuruh pegawai untuk masak bulgogi kesukaanmu’

Aku membaca pesan dari Hyejin lalu merobek-robeknya menjadi sangat kecil dan kusebarkan di atas tempat tidur Hyejin “Gomawo sudah mengijinkanku tidur Song Hyejin agasshi. Selamat kencan!” ucapku pada tempat tidur kosong.

Kuperiksa smartphoneku yang baterainya hampir habis, ternyata HyunAh mengirim video message. “MinAh annyeong.. Pasti baru bangun” di layar terlihat HyunAh dan kekasihnya Henry dengan background yang kutebak adalah mall.

“Hi MinAh.. I heard from baby Hyun that you’re gonna have your first job, congratulations!! So I bought you this. I hope you like it” Henry menunjukkan bantal leher yang lucu berwarna pink. Walaupun selera fashionnya aneh tapi pilihannya kali ini tepat sekali, aku sangat menyukainya.

“Annyeong.. Saranghae Park MinAh!” kata mereka berdua sambil melambaikan tangan.

Aku merapikan rambutku sebelum mengirim video message balasan untuk HyunAh dan Henry “Hi guys.. Thank you so much for your gift and your love, I’ll work harder to show you how good I am as a secretary hehehe.. I love the neck pillow by the way, the color is cute hahaa.. See you soon.. Love you guys.. Muach” setelah selesai membuat video message aku segera keluar kamar Hyejin.

Di meja makan Hyejin sudah tersedia bulgogi seperti janjinya, baunya sungguh menggoda jadi tanpa pikir panjang langsung saja kusantap makanan favoritku.

“MinAh, sudah bangun” Hyejin eomma mendatangiku saat aku sedang lahap makan. “Omo.. Joesonghamnida eomoni” kuhentikan kegiatan makanku  saat itu juga.

“Hahahaa gwenchana MinAh, lanjutkan saja. kami semua sudah makan jadi bulgoginya bisa kamu habiskan” kata-kata Hyejin eomma membuatku tersenyum malu “Hehehee gamsahamnida eomoni.. Eomoni mau pergi? Cantik sekali” kuperhatikan Hyejin eomma terlihat sangat rapi dan cantik.

“Eoh… Aku ada janji dengan teman kantor Hyejin appa. Kamu lanjutkan makan ya, eomoni pergi dulu” setelah mencium pipiku Hyejin eomma langsung pergi meninggalkanku.

“Hohoho mari makan lagi Park MinAh, penuhi perutmu sebelum bekerja” tanpa basa-basi segera saja kuhabiskan semua yang ada di meja makan.

Masih memikirkan bahwa aku akan bekerja saja sudah meningkatkan nafsu makanku, bagaimana kalau aku benar-benar bekerja ya? Entahlah, membayangkannya saja sudah membuatku pusing.

Selesai makan aku langsung pulang untuk menyiapkan berkas lamaran yang dibutuhkan.

Semua ijazah bisa kusiapkan dengan mudah, CV juga beres. Yang belum siap adalah hatiku. Ya, aku masih enggan untuk bekerja.

Apa diam-diam aku pergi ke luar negeri saja ya? Tapi apa alasannya? Appa pasti akan menggantungku hidup-hidup kalau aku melarikan diri dari perintahnya.

Dengan pikiran yang kacau aku memutuskan untuk berdiam diri di kamar saja, semua kegiatan kulakukan di kamar mumpung kedua orang tuaku tidak ada di rumah karena mereka tidak pernah  mengijinkanku makan di dalam kamar. Urusan pegawai rumah belakangan, akan kubelikan mereka vitamin yang tidak akan mungkin mereka tolak. Hohoho aku merasa bangga dengan rencana sempurnaku.

Benar kan, dengan kecerdasan dan ide-ide brilianku ini seharusnya aku menjadi manager. Manager!!!!

Eeeeeeerrrrggghhhhh memikirkannya lagi membuatku jadi semakin stress, jantungku berdebar tidak karuan. Tapi tetap saja aku bisa tertidur dalam waktu 10 detik hehee.

***

“Agasshi” Myungjin ahjumma yang selalu mengurusku dengan sangat baik membangunkanku.

“Hmmmm….” sepertinya semalam aku mengoleskan lem ke mataku secara tidak sengaja.

Dengan lembut Myungjin ahjumma menggoyang-goyangkan tubuhku “Agasshi harus bangun, sekarang sudah jam 11” dengan terpaksa aku bangun dan bangkit dari tempat tidur tapi dengan mata masih menutup. Aneh ya? Tolong dibayangkan sendiri bagaimana bentuknya.

“Aku sudah bangun, lalu?” tanyaku.

“Agasshi mau apa sekarang?” aku bisa mendengar Myungjin ahjumma terkikik.

“Tidur” jawabku dengan sangat yakin.

“Andwae. Kalau agasshi tidur terus, nanti malam tidak bisa tidur padahal besok harus melamar pekerjaan kan?” kali ini Myungjin ahjumma tidak bisa menahan tawanya.

Mataku terbuka tanpa kusuruh “Mwo????? Ahjumma tahu dari mana??? Pasti oppa yang bilang ya??? Aiiiiiiisssshhhh pria itu selalu saja mengadukan segala hal tentangku ke semua orang. Nanti kalau bertemu akan kujahit mulutnya” gerutuku.

Myungjin ahjumma yang sudah terbiasa dengan segala tingkahku hanya menatapku dengan prihatin, tapi tetap tertawa.

Semua orang, catat ya, semua orang langsung tertawa begitu mendengar aku akan bekerja. Seakan-akan aku tidak mungkin bisa bekerja, padahal semua orang pasti tahu kemampuanku setara dengan kemampuan seorang manager, bukan sekretaris.

Karena reaksi dari orang-orang sekitarku tanpa kuduga semangatku untuk bekerja menyala, bukan hanya menyala tapi juga membara. Aku akan menunjukkan pada semua orang bahwa aku yang seharusnya manager Park MinAh akan bekerja dengan sangat baik sebagai sekretaris. Sekretaris Park MinAh.

“Ahjumma. Aku akan mendapatkan pekerjaan itu dan akan kukerjakan sebaik-baiknya. Kalau aku bisa menaklukkan pekerjaanku, ahjumma harus mentraktirku makan ice cream. Setuju?” tanpa mendengar jawabannya aku segera keluar kamar.

Dengan semangat sekretaris aku berjalan ke kamar Jungsoo oppa.

“Oppa!!!!!!!!” tanpa mengetuk pintu aku masuk ke kamarnya.

Jangan kaget, di rumah kami memang sering terdengar teriakan-teriakan seperti ini. Tolong dibiasakan.

“Waeeeee??? Ketuk pintu dulu kenapa sih??” Jungsoo oppa yang sedang sibuk dengan iPadnya terkejut melihat kedatanganku.

“Aku pasti diterima sebagai sekretaris, lalu aku akan mengerjakan pekerjaanku dengan sebaik-baiknya. Kalau aku bisa menaklukkan pekerjaanku oppa harus membelikanku ice cream. Eh tapi Myungjin ahjumma yang akan membelikanku ice cream. Oppa kan banyak uang jadi belikan aku tas baru saja. Okay?” ujarku dengan suara setegas dan seyakin mungkin.

Oppa menatapku dengan heran “Bicara apa kamu? Lebih baik kamu menyisir rambutmu dulu, kamu terlihat seperti singa” komentarnya lalu kembali pada iPadnya.

Aku segera berlari ke arah cermin yang ada di kamar Jungsoo oppa “Aaaaaaaaaaaaaaaccccccckkkkkk!!!!” teriakku dengan histeris. Rambutku terlihat mencuat ke mana-mana, hal yang tidak boleh terjadi pada seorang Park MinAh.

Sebagai pelampiasan kulempar bantal sofa yang ada di dekatku ke arah Jungsoo oppa lalu segera berlari keluar kamarnya.

“Yaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!!! Park MinAh!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” aku bisa mendengarnya mengumpat tapi aku tidak peduli, yang kupikirkan aku harus menyisir rambutku dengan rapi sebelum makan.

Setelah rambutku terlihat rapi tanpa mandi aku segera ke meja makan. Dengan sangat lahap aku memakan makanan yang ada di meja makan. “Kamu habiskan semuanya? Aku makan apa?” tanya Jungsoo oppa tepat saat aku menghabiskan makananku.

“Ani. Silahkan oppa habiskan semuanya, sekretaris Park harus menjaga berat badan. Annyeong” aku mencium pipi Jungsoo oppa lalu segera ke kamar. “Park MinAh! Apa-apaan kamu? Menjijikkan! ” teriaknya.

Untuk menyongsong masa depan sebagai sekretaris aku harus mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Isi otak dan ketrampilan sudah sangat terpenuhi, attitude sebagai sekretaris tentu saja sudah kumiliki sejak lahir, penampilan fisik tidak perlu dipertanyakan lagi. Tapi karena 2 hari ini aku merasa sangat stress aku harus melakukan relaksasi, hanya saja jika ke salon akan menghabiskan waktu jadi aku memutuskan untuk berendam di kamar orang tuaku. Alasannya sederhana, bathtub di sana 2 kali lebih luas daripada di kamarku.

Setelah membawa garam mandi, bathrobe, dan masker sheet ke kamar orang tuaku aku segera memulai ritual. Kuputar lagu dari Boyz II Men kemudian segera saja aku terbuai dengan kenyamanan lilin aromatherapy milik eomma dan garam mandi yang kubawa. Saat berendam kubayangkan bossku akan sangat puas dengan semua pekerjaan yang bisa kuselesaikan dengan sempurna dan tepat waktu, dia pasti akan memujiku habis-habisan dan memamerkan hasil pekerjaanku pada semua pegawai kantor. Membayangkannya membuatku senyum-senyum sendiri.

30 menit kemudian alarm smartphoneku berbunyi yang artinya waktu berendamku sudah habis. Setelah kupakai masker yang sudah kusiapkan aku kembali ke kamar. Kulihat Jungsoo oppa sedang tidur-tiduran di tempat tidurku.

“Oppa sedang apa?” tanyaku dengan mulut setengah tertutup karena takut merusak posisi maskerku.

“Kamu ini bicara apa sih? Tadi berendam di kamar eomma ya?” aku mengangguk sambil mengoleskan body lotion ke seluruh tangan dan kakiku.

“Park MinAh, kamu mau melamar jadi sekretaris atau mau ikut miss Korea sih? Pakai perawatan segala. Lagipula belum tentu kamu lolos administrasi, kalaupun lolos interviewnya masih hari Rabu besok. Repotnya kok sekarang” Jungsoo oppa mengomel sambil memperhatikanku. Aku berdoa semoga bossku tidak secerewet pria ini.

“Berisik” ucapku yang pasti tidak didengarnya karena terus mengomel.

***

Hari ini aku berdandan semenarik mungkin, walaupun hanya menyerahkan berkas lamaran tapi first impression pasti berguna.

Kulihat ada sekitar 15 orang pelamar yang datang sebelum aku dan menunggu panggilan. Mereka semua wanita yang menarik dan terlihat pintar, tapi yang paling bersinar di sini tentu saja aku. Hohoho.

Setelah menunggu sekitar 20 menit akhirnya namaku dipanggil “Park MinAh-ssi” panggil seorang pria yang bertugas menerima lamaran.

“Ne” jawabku.

Aku menyerahkan berkas lamaran yang sudah kususun rapi padanya. Diceknya satu persatu lalu setelah dianggap lengkap dia menyuruhku untuk menandatangani pernyataan bahwa aku sudah menyerahkan berkas dengan lengkap.

“Baiklah Park MinAh-ssi, besok kami akan mengirimkan email untuk interview kalau Park MinAh-ssi lolos administrasi. Kalau belum menerima sampai malam bisa dicek di website kami” ujarnya.

“Ne gamsahamnida” sahutku lalu segera pergi.

***

Jam 7 pagi aku sudah membuka mataku, luar biasa bukan?

Kucek pesan di smartphoneku yang sejak semalam terus berbunyi.

‘Besok ya pemberitahuannya?’ ketik HyunAh setelah semalaman kami semua membahas lamaran pekerjaanku.

‘Semangat eonni’ balas Jihyo.

‘Hwaiting!!!!’ balas Hamun.

‘Ah pasti kamu lolos Min. Santai saja’ balas Hyejin.

‘Kami selalu mendoakanmu’ balas Hamun.

‘MinAh…..’ balas Hyejin.

‘Aku yakin dia sudah tidur’ balas HyunAh.

Aku tersenyum membaca pesan dari mereka.

Setiap 5 menit aku mengecek email tapi belum ada satupun email masuk di kedua alamat email yang kucantumkan di berkas lamaranku. Awalnya aku tidak pernah berpikir kalau aku akan merasa secemas ini, tapi ternyata aku merasakannya.

Karena terlalu cemas aku menelepon Jungsoo oppa “Yoboseyo” kataku begitu Jungsoo oppa mengangkat teleponku.

“Eoh. Mworago?” tanyanya.

“Apa oppa sibuk?” pertanyaan tidak penting sebenarnya karena oppaku selalu sibuk.

“Eoh. 10 menit lagu aku ada rapat. Wae geurae?” sekarang Jungsoo oppa terdengar tidak sabar.

“Kapan pulang?” aku tidak bermaksud menyuruhnya pulang sih, hanya bertanya.

“Yaaaa apa kamu tidak dengar? 10 menit lagi aku rapat, dan sekarang masih jam 10 pagi Park MinAh. Kamu tahu kan aku biasanya pulang jam berapa?” tentu saja aku tahu Jungsoo oppa pulang jam berapa, paling cepat jam 6 sore dan kalau lembur bisa jam 1 pagi. Entah apa saja yang dikerjakannya sampai selarut itu. Maksudku dia punya banyak pegawai, kenapa tidak diserahkan saja ke pegawainya. Dasar workaholic.

“Oh… Okay…” sahutku dengan nada sedikit kecewa.

“What happen?” kali ini suara Jungsoo oppa terdengar sedikit cemas.

“Nothing.. See you oppa” aku menutup telepon tidak ingin mengganggunya lagi.

Jam 2 siang aku tidur siang, ya tidur siang. Walaupun cemas manusia perlu tidur kan? Aku berharap saat bangun sudah ada email yang berisi panggilan interview.

Ternyata tidurku sedikit tidak tenang, setengah jam setelah tidur aku terbangun dan tidak bisa tidur lagi. Kucek emailku tapi masih belum ada email yang masuk.

Dengan lunglai aku berjalan ke ruang keluarga, siapa tahu menonton DVD bisa meredam kecemasanku.

“Omo. Oppa sedang apa di sini?” kulihat Jungsoo oppa sedang bermalas-malasan menonton TV mengenakan baju rumah.

“Menonton TV” jawabnya asal.

“Arra… Maksudnya kok sudah pulang?” aku duduk di sebelahnya lalu merebut remote TV darinya.

“Sudah tidak ada pekerjaan. Ada apa tadi menelepon?” kulirik Jungsoo oppa dengan penuh haru, walaupun tidak mengatakannya aku tahu kalau dia sengaja pulang cepat untukku.

“Sedang cemas menunggu panggilan interview ya?” tanyanya dengan lembut.

Aku mengangguk lemah.

Saat itu juga smartphoneku berbunyi menandakan ada email masuk. Dengan tangan bergetar aku membukanya.

“Oppaaaaaaaaaaaaaaaa… Besok aku interview jam 10 pagi di Shinhwa mall. Aaaaaaccckkkkk” ujarku histeris lalu memeluk Jungsoo oppa.

***

tbc

Enjoy ^^