By @gurlindah93

 

Malamnya aku menyiapkan semua yang kubutuhkan untuk interview besok.

Kemeja, blazer, pencil skirt, tas, sepatu, semua sudah siap kukenakan.

“Ya Tuhan, kamu benar-benar akan ikut miss Korea?” tanya Jungsoo oppa yang tiba-tiba menyelonong masuk ke dalam kamarku dan memperhatikan peralatan perangku.

“Maybe. But surely I’m gonna be the winner” jawabku dengan yakin.

Jungsoo oppa geleng-geleng kepala lalu segera berbaring di tempat tidurku dan menyalakan TV. Seharian pria ini hanya mondar-mandir, bermalas-malasan entah di kamarnya atau di kamarku. Kurasa dia merindukan meja kerjanya.

Kubiarkan saja dia menikmati hari liburnya karena besok dia tidak akan bisa tidur-tiduran seperti ini.

‘Ladies, apa kalian sudah tidur? Aku tidak bisa tidur karena oppa menonton TV di kamarku dengan suara super keras. Aiiiiisssssshhhh’ ketikku di group chat.

‘Oppamu hanya ingin menemanimu MinAh-yaa’ balas HyunAh.

‘Jungsoo oppa mungkin sedikit mengkhawatirkan eonni’ balas Jihyo.

‘Mengkhawatirkanku kenapa? Nan gwenchana’ balasku.

‘Aigoo, bagaimana bisa jadi sekretaris kalau pemikiranmu lambat begini. Oppamu itu khawatir karena besok kamu akan melakukan interview pertamamu, dia khawatir kamu akan stress’ balas Hyejin.

‘Nan gwenchana.. I feel great and excited’ balasku.

‘Wajar kalau oppa khawatir. Eonni berbaring saja di sebelahnya agar oppa tidak terlalu khawatir, tunjukkan kalau eonni baik-baik saja. Cobalah untuk tidur’ balas Hamun.

Aku dinasehati anak kecil. Huks huks. Tidak terlalu mengejutkan sih, Hamun sudah sering melakukannya. Hahaa. Mungkin kedewasaan Hamun itulah yang membuat Lee Donghae tidak bisa jauh darinya. Tapi kalau Donghae tidak segera menyatakan cintanya akan kusuruh Hamun mencari pria lain.

‘Arraseo..’ balasku.

Aku memandang Jungsoo oppa yang sedang menonton Thor 2 entah untuk keberapa kalinya.

“Wae?” Jungsoo oppa menyadari kalau aku sedang memandangnya. Aku menggeleng lalu berbaring di sebelahnya “Minggir aku mau tidur” kataku.

Jungsoo oppa segera meminggirkan tubuhnya sehingga aku bisa berbaring. Karena tidak ingin terganggu dengan TV yang menyala kupunggungi Jungsoo oppa.

“Kalau filmnya sudah habis jangan lupa TV dimatikan, lampu juga matikan” perintahku. “Hmmmmm” sahutnya.

Tidak kuduga dia membelai rambutku seperti yang selalu dia lakukan ketika kami masih kecil kalau aku takut tidur sendiri, karena merasa nyaman dengan mudah aku tertidur walau TV masih menyala dengan keras.

***

Karena sangat nyenyak pagi harinya aku bisa bangun jam 6 pagi.

Setelah mandi dan bersiap-siap, jam 8 pagi aku siap untuk bertempur. Segera saja aku ke meja makan untuk minum susu sebelum berangkat. Aku perlu banyak energi untuk menjawab semua pertanyaan yang akan diajukan.

Ternyata di meja makan sudah berkumpul kedua orang tuaku dan Jungsoo oppa “Omo. Appa dan eomma sudah pulang?”.

“Eoh, tadi jam 7 pagi” jawab appa sambil mengetik sesuatu di smartphonenya.

“Waaahh kamu nampak cerah padahal nanti akan mengikuti interview. Bagaimana kalau mulai nanti malam kamu dan oppamu tidur dalam 1 kamar setiap hari seperti semalam agar kalian berdua bisa secerah ini setiap pagi?” ujar eomma.

“Mwo?” aku menatap Jungsoo oppa yang sedang konsentrasi memakan rotinya, meminta penjelasan darinya tapi dia diam saja. Aku tidak percaya kalau Jungsoo oppa mau tidur bersamaku semalam. Terakhir kali aku dan oppaku tidur dalam satu kamar adalah saat aku kelas 2 SD, tapi karena aku merusak mainannya Jungsoo oppa menendangku dari kamarnya dan berkata dia tidak akan pernah mau tidur bersamaku lagi. Hiks.

“Jaesoo oppa, kalau 2 anak ini tidur dalam 1 kamar pasti akan menghemat listrik” eomma mengatakan sesuatu yang sedikit tidak masuk akal. Tidak mungkin kan pria 31 tahun tidur dalam 1 kamar dengan adik perempuannya yang berumur 27 tahun? Aku memandang eomma dengan heran, mungkin eomma salah makan selama di Jepang.

“Bisa bisa.. Jadikan saja mereka dalam 1 kamar, mungkin rumah kita lebih tenang tanpa teriakan-teriakan 2 anak ini yang setiap saat terdengar dari dalam kamar masing-masing” jawab appa tanpa melepaskan pandangannya dari smartphonenya.

“Andwae!!!!!” sahutku dan Jungsoo oppa bersamaan.

“Aku berangkat dulu sebelum eomma mengeluarkan ide-ide jeniusnya lagi. Annyeong yorobeun” Jungsoo oppa membawa rotinya lalu segera pergi.

“Ckckck. Kalian berdua ini tidak pernah berubah. Apa kamu sudah siap dengan interviewnya Min?” eomma menatapku dari atas sampai bawah.

“Tidak perlu ditanyakan lagi eomma. Aku sudah sangat siap. Eomma, appa, aku pasti akan mendapat pekerjaan itu. Lihat saja nanti” ucapku dengan semangat yang meluap-luap.

“Arraseo… Kita lihat nanti” balas eomma.

“Hmmmmmm” sahut appa.

Aku sampai di tempat interview 5 menit sebelum jadwalku. Ternyata interview sudah berlangsung sejak pagi hari karena saat aku datang ada yang keluar dari ruang interview.

“Park MinAh-ssi” panggil seorang pria yang kemarin menerima berkas lamaranku.

Dengan penuh percaya diri aku memasuki ruangan. Di dalam ruangan sudah ada 3 orang yang duduk menghadapku, seorang wanita yang sangat cantik, dan 2 orang pria yang sama-sama menarik. Hmmmmm sepertinya menyenangkan bekerja dalam 1 kantor bersama pria-pria seperti mereka.

Sejujurnya aku tidak tahu yang mana yang akan menjadi bossku apakah pria yang duduk di tengah atau pria yang duduk di pinggir, yang kutahu namanya Eric Mun tapi tidak mungkin kan aku bertanya yang mana yang namanya Eric Mun. Aku sedikit menyesal tidak melakukan sedikit penelusuran mengenai calon bossku.

“Park MinAh-ssi” kata pria di pinggir.

“Ne” sahutku.

“Bisa ceritakan tentang dirimu yang belum kami baca di resumemu?” tanya pria di pinggir dengan ramah.

“Saya orang yang mau bekerja keras dan selalu mendapat apa yang saya inginkan. Sejak kecil sampai sekarang saya belum pernah merasakan kegagalan karena saya tahu bagaimana menyelesaikan masalah dengan baik. Saya dikelilingi orang-orang yang baik jadi tidak perlu khawatir jika saya terjerumus dalam kegiatan yang buruk seperti memakai narkoba atau merampok” jawabku dengan tegas dan sesopan mungkin.

“Sombong sekali” komentar pria di tengah dengan suara yang hampir tidak terdengar. Kutatap pria itu dengan sebal dan dia balik menatapku.

“Ssshhh dengarkan dulu, biarkan dia bicara. Atau ajukan pertanyaan daripada mengomentarinya” bisik wanita cantik di sebelahnya.

Selain cantik wanita itu juga bijaksana ternyata.

“Malas” ujarnya. Tidak kusangka dia malah mengeluarkan iPadnya lalu mulai mengutak-atiknya.

“Hei, sejak pelamar pertama sampai sekarang kenapa selalu main game sih? Dengarkan dong jawaban mereka” tegur wanita cantik yang terlihat kesal dengan kelakuan pria di tengah.

Bukannya seharusnya aku yang diwawancarai ya? Kenapa aku malah mendengarkan perdebatan mereka?

“Joesonghamnida Park MinAh-ssi, baik kita lanjutkan” kata pria di pinggir. Selain ramah pria di pinggir juga bersahabat sehingga aku merasa nyaman.

Selama proses interview hanya pria di pinggir dan wanita cantik yang bertanya padaku dengan antusias sedangkan pria di tengah nampak tidak peduli dengan jawaban-jawabanku, kusimpulkan pria di pinggirlah yang bernama Eric Mun, calon bossku.

Kujawab semua pertanyaan dengan baik, tegas, dan penuh percaya diri walaupun pria di tengah selalu memberi komentar seperti “Congkak” “Terlalu percaya diri” “Cuih” “Jawaban apa itu” dan yang paling mencengangkan “Kamu tidak cocok jadi sekretaris”.

Aku tidak tahu jabatan apa yang dia duduki di perusahaan ini, tapi kalau diterima aku pasti akan menjauhinya.

Akhirnya pertanyaan yang sudah kuduga dilontarkan oleh pria di pinggir “Park MinAh-ssi memiliki gelar MBA, benar?” aku mengangguk “Ne”.

“Apa alasan Park MinAh-ssi melamar bekerja di sini?” tanyanya.

Pria di tengah menghentikan kegiatannya mengutak-atik smartphonenya lalu menatapku dengan heran “MBA?”.

Wanita cantik berbisik lagi pada pria di tengah “Apa tidak membaca CVnya?” lalu memberikan CVku pada pria itu.

Pria itu membacanya sekilas lalu menatapku kembali dengan penasaran.

“Ne. Benar saya memiliki gelar MBA, tapi saya belum pernah bekerja sehingga saya ingin mencari pengalaman kerja dulu sambil pelan-pelan meniti karier saya. Saya juga ingin belajar cara menghandle orang yaitu boss saya sebelum akhirnya menghandle perusahaan” aku memandang pria di pinggir sambil tersenyum. Dia membalas senyumanku.

“Aku tidak percaya” ucap pria di tengah lalu kembali menekuni smartphonenya.

Aku sungguh-sungguh ingin melemparnya dengan  sepatuku yang memiliki heels 15 cm ini.

Setelah melakukan interview selama sekitar 25 menit mereka menyuruhku keluar.

“Hasilnya akan kami informasikan besok Park MinAh-ssi, kalau Park MinAh-ssi diterima sebagai sekretaris hari Jumat Park MinAh-ssi harus kembali ke sini karena kami akan melakukan briefing. Hari Senin bisa langsung bekerja” kata wanita cantik.

Aku ingin bertanya apa tidak ada training atau sebagainya seperti di perusahaan lain tapi kuabaikan, mungkin aku akan mendapat kejelasan saat briefing.

Membayangkan pria ramah yang bernama Eric Mun itu akan menjadi bossku membuatku semakin bersemangat untuk bekerja di sini.

“Ne, gamsahamnida” ucapku lalu bangkit dari kursiku.

“Annyeonghaseyo” pamitku pada mereka bertiga lalu segera menuju pintu keluar.

“Yaaaaaaa!!! STOP!!!! KAMU!!! BERHENTI DI SANA!!!!”

Seketika itu langkahku terhenti.

***

tbc

Enjoy ^^