By @gurlindah93

 

Aku berbalik.

Kulihat pria di tengah berdiri dan menatapku dengan murka.

“Wae?” tanya wanita cantik dengan bingung. Eric Mun juga memandang pria itu dengan heran.

Pria itu berjalan menuju arahku dengan ekspresi ingin membunuhku. Ya Tuhan, apa aku akan mati di sini?

Karena ketakutan aku berjalan mundur dengan harapan bisa melarikan diri dari pria mengerikan yang kini semakin bernafsu untuk mencincangku.

Sayang, langkahku terhenti saat aku menabrak pintu. Nowhere to run. Setelah kuingat-ingat kembali ternyata aku sudah menulis surat wasiat yang kutitipkan pada pengacara keluargaku. Baiklah aku tenang karena anjingku akan dirawat dengan baik jika terjadi sesuatu padaku.

Kututup mataku bersiap jika dia memukul atau melakukan perbuatan tidak terpuji lainnya. Tapi sampai beberapa detik tidak terjadi apapun padaku. Saat perlahan-lahan membuka mata aku melihat pria itu berdiri tepat di depanku dan memandangku dengan penuh kebencian. Aku bisa mendengar desahan nafasnya yang seperti banteng melihat kain berwarna merah.

“Mwo.. Mwo?” tanyaku terbata-bata. Aku merasa tidak pernah melakukan kesalahan apapun pada pria di depanku ini, bahkan aku tidak mengenalnya. Eh atau dia salah satu pria yang pernah kutolak ya? Tapi tidak, aku yakin tidak pernah bertemu dengannya.

Dia menyeringai saat menatapku “Katakan annyeonghaseyo sekali lagi” perintahnya dengan lembut, tapi dingin.

“Mwo?” aku tidak mengerti dengan kemauannya. Sungguh, aku tidak bisa mencernanya.

“Apa kamu tidak mengerti bahasa manusia Park MinAh-ssi? Tapi tadi aku mendengarmu bicara tanpa henti selama 25 menit. Dengarkan aku. Ka-ta-kan an-nyeong-ha-se-yo se-ka-rang ju-ga” sekarang bukan hanya tatapan matanya, kata-katanya pun terdengar penuh kebencian.

“An-nyeong-ha-se-yo” ucapku lirih.

“Hah! Ternyata benar” dia bertingkah seolah sudah menemukan sesuatu yang mengganggunya sejak lama.

“Mworago?” belum sampai 1 jam berada di kantor ini tapi aku sudah merasa stress.

“Jumat kemarin kamu pergi ke Heaven kan?” tanyanya dengan yakin. Dari mana dia tahu ya? Aku mengangguk.

“Apa kamu masih ingat dengan pria yang kamu ganggu malam itu?” tanyanya.

Pria? Pria yang mana ya? Kuputar kembali ingatanku. Aku bertemu banyak pria di Heaven club. Kim Woobin, pegawai pria, pria-pria yang sedang berdansa, pria-pria yang menggodaku, dan pria yang kugoda.

Pria yang kugoda!!!!!

Memang aku tidak melihat wajahnya tapi bentuk badannya nampak sama persis dengan pria yang berdiri di depanku.

Aku menatapnya dari atas ke bawah dengan tidak percaya dan dia tersenyum puas, seolah tahu kalau aku sudah menyadarinya.

“Pria yang membentakku!” kutunjuk dia dengan telunjukku tapi dia menepis telunjukku dan gantian menunjukku dengan telunjuknya. Berani sekali dia!

Kutunjuk lagi wajahnya dengan telunjukku yang lain tapi dia menepisnya lagi dan menunjukku dengan telunjuknya yang lain juga, entah berapa kali kami melakukan hal ini sampai akhirnya dia memegang kedua telunjukku lalu melotot padaku dan mendekatkan wajahnya ke wajahku.

“Kamu… Tahu… Berapa… Lama… Aku… Main… Game.. Itu…??? 2 bulan!!!! Hanya tinggal 1 level lagi sampai aku menjadi raja tapi kamu membuatku kalah!!! Dan sekarang aku harus memulainya lagi dari awal” semburnya.

“Yaaaaaa!!!! Aku tidak tahu kalau saat itu kamu sedang main game, aku kan hanya ingin mengobrol denganmu. Lagipula mana ada orang yang main game di club?!?!” kudekatkan wajahku ke wajahnya. Entah game apa yang dia mainkan tapi aku akan menunjukkan kalau aku merasa tidak bersalah, bukan aku yang membuatnya kalah.

“Mengobrol? Atau menggodaku?” kali ini senyum nakal menghiasi wajahnya.

Kurasa wajahku memerah karena aku merasakan panas di wajahku. Pelan-pelan kujauhkan wajahku agar dia tidak menyadarinya.

1 2 3.

“Aaaaaaaaaaaaaaawwwwwwwwwww!!!!” teriak pria sombong nan menyebalkan di depanku dengan suara turbo.

Aku bergegas membuka pintu keluar kemudian secepat mungkin menjauh dari ruangan dan dari pria yang sama-sama terkutuknya tanpa menoleh sedikitpun.

“Yaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!! Park MinAh!!!!!!!!!!!!!!!! Mau ke mana kamu??????????????” teriak pria itu. Aku bisa mendengar dia mengejarku, semakin kupercepat langkahku.

“Sudah sudah, kita harus melakukan interview lagi” wanita cantik itu menahannya dan berusaha menenangkannya. Kalau aku diterima bekerja di sini aku akan menjadi teman baik wanita cantik itu, janjiku pada diriku sendiri.

Sampai di dalam mobil aku mengatur nafasku yang tidak beraturan setelah berjalan super cepat.

Entah apa yang terlintas di pikiranku tadi tapi aku sangat puas. Aku yakin dia akan sedikit sulit berjalan karena injakanku. Hahaha.

Kuarahkan mobilku ke kantor Jungsoo oppa karena kuyakin sahabat-sahabatku sedang tidak ada di rumah. Aku butuh orang untuk menumpahkan segala kekesalanku.

“Annyeonghaseyo MinAh-ssi” sapa Cha Seoyoon, sekretaris Jungsoo oppa yang keren sekali. Aku akan berguru padanya agar bisa menjadi sekretaris sekeren dia, atau bisa jadi aku akan lebih keren darinya hohoho.

“Annyeonghaseyo.. Oppa ada di dalam?” tanyaku. “Ne ada” jawabnya dengan ragu-ragu.

“Tapi…..” lanjutnya yang tidak kudengarkan karena aku sudah membuka pintu kantor Jungsoo oppa.

“Ups….” mungkin seharusnya aku mendengarkan kata-kata sekretaris Cha sampai akhir.

Jungsoo oppa sedang duduk di kursinya sambil memangku kekasihnya. Bibir mereka beradu dengan panas sekali. Fiuh.

“Eonni” kata Kang Sora kekasih Jungsoo oppa begitu menyadari keberadaanku.

Aku hanya bisa tersenyum dengan canggung. Apa aku pura-pura tidak melihat saja ya?

Jungsoo oppa nampak acak-acakan, rambutnya berantakan, kemejanya tidak terkancing dengan benar, dan wajahnya seperti kepiting rebus. Aku menahan diri agar tidak tertawa. Setidaknya tidak di depan Sora.

“Oppa aku pulang dulu ya” pamit Sora kemudian mengambil tasnya yang isinya berceceran di lantai. Sebenarnya apa yang mereka lakukan sih? Pasangan ini sama saja seperti Kyuhyun dan Hyejin, tidak mengenal tempat dan waktu untuk bermesraan. Ckck.

Kubantu Sora mengambil isi tasnya. “Gomawo eonni. Aku pulang dulu ya” Sora memelukku lalu langsung keluar dari kantor Jungsoo oppa.

“Huahahahahhaahaaa apa ini yang oppa lakukan kalau sedang di kantor? Aigoo, sepertinya appa harus tahu kalau bekas kantornya digunakan untuk kegiatan yang tidak-tidak” ujarku sambil berjalan ke arah Jungsoo oppa. Dia menyisir rambutnya dengan jarinya dan merapikan bajunya.

“Yaaaaaaaaa apa yang kamu lihat……… Aiiiiiiisssshhhh…. Sora jarang kemari kok” sahutnya membela diri.

“Aaaaahhh jadi setiap Sora kemari ini yang kalian lakukan? Nakal sekali kalian” godaku. Aku mengendus-endus Jungsoo oppa.

“Ani…. Ah sudahlah… Yaaaaa apa yang kamu lakukan?” Jungsoo oppa mendorongku menjauhinya.

“Tadi saat aku memeluk Sora aku mencium parfum oppa di sekujur tubuhnya, aku penasaran apa parfumnya juga menempel di tubuh oppa” jawabku masih berusaha mengendus tubuhnya.

“Geumanhae!!!! Apa yang kamu lakukan di sini? Tumben? Sudah selesai interviewnya?” ah aku jadi ingat alasan utamaku kemari.

“Sudah selesai dengan sangat baik. Tapi aku kesal sekali, tadi orang yang mewawancaraiku ada yang tingkahnya sangat sangat sangat menyebalkan” gerutuku. Kubuka kulkas yang isinya lebih lengkap daripada kulkas di rumah. Aku mengambil jus anggur dengan harapan dapat menenangkan diri.

“Nugu? Eric Mun?” tanya Jungsoo oppa. Aku tertawa mendengarnya. Bagaimana mungkin pria seramah Eric Mun bisa menyebalkan.

“Ani… Eric Mun ramah sekali, pria satunya. Aku tidak tahu siapa dia pokoknya dia sangat menyebalkan. Aiiiiisssshhh aku tidak akan mau berhubungan dengannya kalau aku bekerja di Shinhwa mall” aku mengambil kardus jus kedua dari kulkas. Enak sekali sih minuman ini.

“Eric Mun? Ramah? Apa benar?” kutatap Jungsoo oppa dengan gemas, dia kan tidak pernah bertemu dengan Eric Mun. Sok tahu sekali dia.

“Eoh. Dia sangat sangat ramah dan bersahabat, benar-benar menyenangkan” kataku menggambarkan calon bossku.

“Berarti yang kudengar selama ini salah. Bagus deh kalau Eric Mun ramah dan bersahabat” aigoo Jungsoo oppa ini selalu termakan gossip. Kalau dia bertemu dengan Eric Mun pasti dia akan cocok dengannya.

“Eoh” karena merasa lelah aku berbaring di sofa yang sangat nyaman. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk tertidur.

***

Hari ini aku bangun kesiangan karena semalam aku menonton ulang 5 film Twilight saga sampai jam 3 pagi.

Kring kring.

Kulihat ada nomer tidak dikenal yang meneleponku.

“Yoboseyo” kataku sambil mengerjap-ngerjapkan mata karena masih mengantuk.

“Yoboseyo Park MinAh-ssi” sapa seorang wanita.

“Ne” kira-kira siapa ya yang meneleponku. Apa pegawai salon langgananku?

“Jeoneun Kim Yoomi-imnida dari Shinhwa mall, mau menginformasikan kalau Park MinAh-ssi diterima bekerja di Shinhwa mall sebagai sekretaris dari CEO kami Eric Mun” katanya.

Aku terdiam mencerna kata-katanya.

“Mwo?????” teriakku.

“Joesonghamnida sepertinya aku mengagetkanmu. Park MinAh-ssi diterima bekerja sebagai sekretaris Eric Mun, CEO kami. Besok MinAh-ssi diharapkan datang untuk briefing jam 1 siang” mataku seketika terbuka lebar menyadari apa yang wanita ini kabarkan.

“Joesonghamnida. Joesonghamnida. Ne, besok aku akan datang jam 1 tepat. Jeongmal gamsahaeyo” ujarku dengan hati gembira. Walaupun aku sudah menyangka akan diterima tapi kabar ini membuatku bersemangat.

“Ne. Sampai bertemu besok MinAh-ssi” balasnya lalu menutup telepon.

“Aaaaaaaaaaacccccccckkkkkkkk!!!!” teriakku.

Segera kukabari sahabat-sahabatku.

‘Ladies, mulai sekarang panggil aku sekretaris Park’ ketikku.

‘Whooaaaa chukkae eonni’ balas Jihyo.

‘Chukkae eonni. Pasti senang sekali ya’ balas Hamun.

‘Yeeeeeeeeeessssssssss. I’m so happy. Extremely happy’ balasku.

‘Chukkae MinAh-yaaa tidak kusangka kamu benar-benar berhasil. Jangan lupa traktirannya ya’ balas Hyejin.

‘Call! Besok jam 7 malam di restaurant langganan kita lalu lanjut ke Heaven. PS: BOYS ARE NOT ALLOWED’ balasku. Aku tidak mau kemesraan 4 wanita itu dengan pasangan mereka mengubah moodku yang sedang bagus-bagusnya.

‘Yes!’ balas Hyejin.

‘Okay’ balas Hamun.

‘Chukkae Min. Apa kamu sudah tahu bossmu?’ balas HyunAh.

‘Ne. Orangnya ramah sekali, sikapnya juga bersahabat. Pokoknya aku beruntung punya boss seperti dia’ balasku.

‘Bagus kalau begitu’ balas HyunAh.

Kukirim pesan juga untuk kedua orang tua dan Jungsoo oppa ‘Mulai sekarang panggil aku sekretaris Park’.

‘Congratulations’ balas eomma dan appa.

‘Jinjja? Waaahh bagus. Semoga mereka tidak menyesali keputusan mereka ya’ balas Jungsoo oppa. Terkadang aku bertanya-tanya kenapa aku punya kakak laki-laki seabsurd dia.

Seharian karena moodku bagus aku melakukan kegiatan yang jarang kulakukan.

Memandikan Honey anjingku, merapikan kamarku, dan yang paling ajaib ikut masak makan malam. Bukan aku yang sepenuhnya masak sih, aku hanya membantu ahjumma. Tapi karena aku sangat jarang berada di dapur jadi pegawai di dapur keheranan melihatku sibuk di dapur.

“MinAh? Sedang apa kamu?” bahkan eommaku juga terkejut.

“Masak” jawabku pendek. Aku sedang berkonsentrasi penuh untuk menumis karena tidak ingin kena cipratan minyak.

“Oooohhh. Keajaiban memang ada” komentar eomma lalu pergi dari dapur.

Hari ini entah kenapa appa dan Jungsoo oppa sudah pulang sebelum makan malam, jadi kami berempat bisa makan malam bersama. Hal yang jarang terjadi mengingat kesibukan appa, eomma, dan oppa.

“Appa, MinAh sekarang jadi sekretaris” ujar Jungsoo oppa saat kami makan malam.

“Eoh. Arraseo. Bagaimana persiapanmu Min?” tanya appa.

“Siap! Eh tapi kok tidak ada training atau semacamnya ya? Besok aku briefing, Senin langsung kerja. Apa itu memang bisa terjadi?” karena belum pernah bekerja jadi aku cukup bingung dengan peraturan-peraturan perusahaan dan semacamnya.

“Tergantung kebijakan perusahaan. Kalau di perusasaan appa training hanya 1 bulan tapi pegawai belum bekerja, jadi seperti kuliah. Kami mengajarkan hal-hal yang sesuai job desc mereka. Kemudian masa percobaan 4 bulan” jawab appa.

“Mungkin mereka memang tidak berniat merekrutmu Min” sahut Jungsoo oppa. Aku diam saja tidak berkomentar.

Malam ini aku berencana tidur lebih awal agar besok bisa segar.

***

Jam 6 pagi aku terbangun dan tidak bisa tidur lagi, jadi aku memutuskan untuk mengecek media social dan browsing. Saat akan melakukan sedikit penelusuran tentang Eric Mun ternyata jam sudah menujukkan angka 9 akhirnya kubatalkan penelusuranku. Dengan secepat kilat aku mandi.

Tepat jam 11.30 aku sudah siap, tanpa makan aku segera berangkat karena takut terlambat. Entah sudah berapa lama aku tidak merasakan excited seperti ini.

Karena briefing masih sekitar 1 jam lagi maka aku berjalan-jalan di mall, membeli snack untuk mengganjal perut karena sekarang perutku baru terasa lapar.

Akhirnya saat yang kutunggu-tunggu tiba. Aku menuju ruang interview untuk mendapatkan briefing seperti yang sudah diinfokan kemarin. Setelah menunggu beberapa saat aku dipersilahkan masuk.

Di dalam ruangan sudah ada Eric Mun dan wanita cantik yang kemarin mewawancaraiku duduk di sofa.

“Annyeonghaseyo” sapaku. “Annyeonghaseyo, silahkan duduk Park MinAh-ssi” wanita cantik mempersilahkanku duduk di depan mereka.

“Jeoneun Kim Yoomi-imnida yang kemarin menelepon Park MinAh-ssi, selamat datang di Shinhwa mall” ujarnya dengan senyum menghiasi bibirnya.

“Gamsahamnida Kim Yoomi-ssi. Mohon bantuannya” sahutku dengan senyum yang tidak kalah lebarnya.

Yoomi mengeluarkan kertas dan diserahkan padaku “Baca dulu dengan teliti sebelum menandatanginya” pintanya.

Kubaca dengan cepat kertas yang ternyata isinya tentang job desc dan peraturan perusahaan, masa percobaan sekaligus trainingku 3 bulan, setelah 3 bulan aku bisa memutuskan apakah akan meneruskan pekerjaanku atau tidak. Isi kontrak yang standard.

Setelah membaca semuanya aku bersiap menandatanganinya, tapi Yoomi menghentikanku “Jamsimanyo.. Apa Park MinAh-ssi sudah yakin mau bekerja di sini, bekerja untuk CEO Shinhwa mall?” tanyanya seolah mempertanyakan kesiapanku.

Kutatap pria di depanku, dengan yakin aku mengangguk “Ne Yoomi-ssi” jawabku.

Kedua orang di depanku tersenyum lebar seolah lega karena aku tidak mundur. Tentu saja aku tidak akan mundur kalau boss dan teman sekantorku seperti mereka. Lalu kutandatangani kertas kontrak kerjaku dengan perasaan yang gembira.

Brak!!!

Tiba-tiba ada yang membuka pintu dengan kasar.

“STOP!!!! Jangan tandatangani itu! Aku tidak mau bekerja denganmu!!” teriak seseorang dengan penuh kemarahan.

Deja vu.

***

tbc

Enjoy ^^