image

Aku baru akan memejamkan mata ketika satu-satunya manusia dari enam atau tujuh milyar manusia di dunia yang tidak ingin aku temui ini tiba-tiba muncul dan mengganggu rencana tidurku. “Kenapa kamu datangnya sekarang? Aku mau tidur,” keluhku yang tentu saja tidak akan dia dengarkan.

Ia masuk ke dalam selimutku dan menjajah tempat tidurku. “Aku sudah download album-mu tapi belum sempat aku dengarkan. Chukkae,” ucapnya sambil tersenyum menatapku.

Mau tidak mau, meskipun aku sedang mengantuk, daya tariknya kepadaku memang terlalu besar. Dengan senang hati aku memiringkan tubuhku agar bisa menatapnya lebih jelas. Aku membalas senyumnya sambil merapikan rambut-rambut yang jatuh menutupi sebagian sisi wajahnya. “Kenapa belum didengarkan?” Tanyaku.

“Belum sempat. Lagipula kalau aku bisa minta kamu menyanyikannya langsung untukku buat apa aku mendengarkan albummu?” Katanya dengan seringaian lebar yang menggemaskan yang memamerkan deretan gigi putihnya yang rapi.

Aku menelusupkan lenganku di bawah kepalanya dan itu selalu membuat jarak antara kami lebih dekat, entah kenapa. Aku bahkan bisa merasakan wangi shampoo dari kepalanya yang berada tepat di bawah hidungku. Ia berbaring telentang di sampingku dengan lenganku sebagai alas kepalanya sedangkan aku berbaring miring dengan lenganku yang satu lagi memeluknya.

“Kamu tahu sekarang seharusnya aku sudah tidur kan?”

Ia menganggukkan kepalanya. “Tidurlah. Aku bisa menunggu,” katanya.

Perempuan ini memang benar-benar menggemaskan kalau sedang bersikap sok dewasa dan bijaksana seperti sekarang. Hanya saja, aku mempunyai kelemahan yaitu tidak bisa berkata tidak untuk semua permintaannya.

“Baiklah. Aku akan menyanyikannya untukmu,” ujarku.

Ia tersenyum. Dari senyumnya aku tahu dia senang sekali. Aku menyanyikan lagu yang menjadi lagu andalan di album solo-ku dan ia mendengarkan dengan baik.

“Gomawo. Kamu boleh tidur sekarang,” ucapnya ketika aku sudah selesai menyanyikan laguku.

Aku hanya tersenyum. Aku sadar aku punya kelemahan lain yaitu aku tidak akan bisa tidur jika sudah bersamanya. Aku akan memilih untuk menghabiskan waktuku dengan mengobrol dengannya. “Aku tidak bisa tidur,” kataku.

“Wae?” Tanyanya.

“Kamu masih perlu tanya kenapa?”

Ia menyengir lebar seakan tahu bahwa keberadaannya yang menjadi jawaban. “Aku akan pulang setelah kamu tidur,” katanya membuatku tertawa. Bagaimana tidak? Dia adalah penyebab aku tidak bisa tidur dan dia akan pulang setelah aku tidur. Tidak nyambung kan?

Aku mendekatkan tubuhku sehingga tidak ada jarak lagi antara aku dan dia. Aku mengeratkan pelukanku sehingga setidaknya ia memerlukan usaha kalau ingin lari dariku.

“Gomawo,” ucapku.

“Untuk?” Tanyanya.

“For the happiest moments. For the darkest times. For everything.”

Ia tertawa dalam pelukanku. “Berlebihan,” ucapnya. “Lebih baik kamu tidur sekarang.”

Ia membalik tubuhnya sehingga berhadapan denganku. Tangannya menjulur ke punggungku lalu mengelusnya dengan lembut. “Jadwalmu yang padat sudah menunggu. Kamu harus jaga kesehatan. Jadi, lebih baik kamu tidur sekarang. Jalja…”

“Jalja,” bisikku. Aku baru ingat bahwa kelemahanku yang kedua itu bisa hilang dengan sebuah belaian tangannya. Tidak sampai lima menit, aku sudah terlelap memeluknya.

Kkeut!