Annyeonghaseyo hehe, ff ini dibuat dalam waktu yang cukup singkat jadi mohon maaf banget kalau banyak kekurangan dan tidak memuaskan. But, hope you enjoy it! leave your comments ya really need your opinion ehehe🙂

Main cast: Man in the portraitceci2

note: Gangsa = dosen (Gimana rasanya kalau dosen kamu setampan dia? kkkk~)

*****

Semua orang pasti punya rahasia yang tak bisa ia bagi pada orang terdekat sekali pun. Rahasia yang disimpan untuk dirinya sendiri dan hanya Tuhan yang tahu. Aku juga punya rahasia itu. Yang kupendam untuk diriku sendiri. Hal yang menyangkut rasa dihatiku pada seorang gadis.

Aku tahu tak selamanya rahasia tetap menjadi rahasia. Akan ada waktu dimana rahasia itu harus diungkapkan untuk kebaikanku sendiri. Tetapi sampai waktu itu tiba, aku ingin menikmati perasaan ini. Cinta dalam diam.

Aku rasa berlebihan tapi aku benar-benar menyukainya. Berawal dari kebaikannya pada semua orang termasuk diriku. Kelembutan yang sederhana akan tetapi mampu meluluh lantahkan hatiku yang kata orang sedingin es. Gadis itu mungkin juga berpikir demikian. Disaat aku sangat menyukainya, mungkin dia sangat membenciku karena sikapku yang dingin terutama padanya. Asal kau tahu, aku masih sama seperti diriku dulu sewaktu remaja. Aku tak bisa bersikap lembut pada gadis yang kusukai karena ia selalu membuatku nervous. Aku bersikap seperti ini untuk menutupi semua rasa yang terlalu menggebu.

“Kang Hamun, bangun,” ujarku pada gadis yang sedari tadi kubicarakan. Aku yakin seisi kelas mendengar suaraku. Dari tempatku berdiri, bisa kulihat teman disebelahnya menyikut Hamun yang tertidur pulas, kebiasaannya saat kuliah.

“Ne, gangsa nim?” tanyanya seakan-akan ia lupa kalau dirinya baru saja melakukan suatu pelanggaran. Hatiku tertawa melihat tingkahnya tapi tidak dengan wajahku.

“Bagaimana mungkin kau bisa tidur dari tadi saat aku menjelaskan psikoanalisa milik Freud yang akan keluar di UAS nanti?” tanyaku. Gadis itu mulai menundukkan kepalanya seakan ia tak punya kalimat untuk membela dirinya. Hei, hei, tolong jangan murung seperti itu, aku jadi merasa bersalah.

“Baiklah, pelajaran hari ini selesai. Kang Hamun, kau bantu aku untuk membawa semua laporan ini ke ruanganku,” kataku. Aku bisa melihatnya menggerutu sesaat tapi jujur saja, aku melakukan semua ini agar bisa lebih lama denganmu. Maafkan aku yang sangat kekanak-kanakan ini.

“Gangsa nim, kenapa selalu aku?” tanyanya kesal saat ia mengikuti langkahku menuju ruanganku. “Karena kau selalu tidur saat aku mengajar. Sudah dua bulan aku mengajar, hanya 3 pertemuan kau tidak tertidur,” jawabku berdasarkan fakta untuk menutupi kebohonganku yang lain. Tak mungkin aku jujur kalau aku hanya memanfaatkan kelemahanmu itu supaya aku bisa memiliki waktu berdua denganmu.

Aku berhenti sesaat mengambil tumpukan laporan dan dokumen lain yang ia bawa. Aku tak tega melihat gadis itu harus menanggung beban yang sebenarnya bukan kewajibannya. “Jangan buat aku tampak tidak berguna, aku tidak lemah. Aku bisa membantu,” ujarnya sambil mengambil tumpukan dokumen yang sempat kurebut dari tangannya tadi. Hamun menghela nafasnya panjang, wajahnya tampak semakin lusuh. Ada apa? Kau sebegitu tidak sukanya berada di dekatku? “Waeyo? Kalau berat bilang saja, aku yang bawa,” kataku.

Dia menggeleng. “Baru saja sebuah ide gila muncul,” katanya. Aku terdiam menanti kelanjutan pembicaraan ini. “Gangsa nim harus mengajar kelas besar yang berisi 300 siswa. Setiap pertemuan kuliah anda kita selalu mengumpulkan paper. Aku membayangkan kau membawa 300 paper dan buku literatur milikmu seorang diri…. kurasa itu sedikit menyedihkan. Maka dari itu, beberapa detik yang lalu hatiku dan pikiranku sedang melakukan pro kontra apa sebaiknya yang kulakukan. Aku bingung, makanya aku kesal,” ujarnya. Ya Tuhan, mengapa ada gadis sebaik dirinya di muka bumi ini? Rasanya aku ingin mengelus kepalanya atau menggenggam tangannya agar semua kegundahannya itu hilang.

“Menurutmu aku harus bagaimana?” tanyanya setelah ia meletakkan dokuman yang ia bawa di meja kerjaku.

Aku mohon Tuhan, tolong aku. Jawaban apa yang harus kuberikan padanya? Aku ingin bersamanya lebih sering lagi tapi aku tak mungkin mengatakan sejujurnya. “Ikuti kata hatimu saja,” kataku, akhirnya. Aku berusaha menyunggingkan senyumku untuk membuatnya lebih tenang tapi apa daya, wajahku terlalu kaku.

“Gangsa nim, barusan anda tersenyum?” tanyanya. Apakah ia melihatnya? “Menurutmu?” tanyaku balik. Mungkin senyumku kelewat aneh tadi.

“Aku tak yakin. Bibirmu seperti tertarik beberapa milimeter namun wajahmu tetap datar,” katanya. “Bisa kau ulangi sekali lagi? Aku ingin melihatnya lagi,”

“Untungnya untukku? Lagipula kenapa kau sangat mempedulikannya?” tanyaku sedingin mungkin. Aku semakin nervous karena ia sangat dekat denganku saat ini.

“Aku hanya penasaran, karena saat kau tersenyum sekilas tadi kau terlihat lebih tampan,” katanya. Hei, hei, hei, yang benar saja. Apa kau tak tahu efek perkataanmu itu sudah bereaksi ditubuhku sekarang?

“Kau ada-ada saja. Tugasmu sudah selesai, kembali ke teman-temanmu sana,” ujarku sambil mendorongnya menuju pintu keluar. Aku ingin bersama denganmu lebih lama namun aku tak mau ia melihat wajahku yang memerah.

“Pergilah,” ujarku setelah berhasil mendorongnya sampai ambang pintu.

“Baiklah, aku sudah memutuskan untuk menolong anda membawa semua dokumen itu setelah kelas selesai,” ujar Hamun. Oke, aku senang, tapi ini bukan moment yang pas. Lebih lama aku melihatnya, ia pasti akan segera sadar kalau wajahku sudah memerah. “Terima kasih,” kataku dingin lalu menutup pintu itu. Belum sempat aku menenangkan diri, pintu kantorku sudah diketuk kembali. Aku yakin gadis itu pelakunya.

“Apa lagi?” tanyaku seadanya setelah aku kembali membuka pintu ruanganku.

Ia menarik tanganku dan memberikan selembar kertas kecil dengan angka didalamnya. “Nomor ponselku, mungkin Donghae gangsa nim membutuhkan pertolonganku untuk hal yang lain. Jangan sungkan untuk minta tolong. Annyeonghasimika,” pamitnya.

Aku tahu, selama beberapa detik setelah kepergiannya tubuhku terasa kaku. Dengan gerakan yang sangat lambat aku menutup pintu ruanganku dan menguncinya. Aku bersandar di pintu itu untuk menenangkan jantungku yang berdetak sangat kencang akibat akumulasi perbuatan gadis itu.

Aku melihat lagi kertas itu. Tak pernah terbayang aku dapat memiliki nomor gadis itu dengan cara seperti tadi. Apa yang harus aku lakukan? Berkat secarik kertas berisi nomor gadis ini, aku yakin tiap malam pasti akan dipenuhi kebimbangan.

“Geez,” umpatku setengah kesal menyadari kebodohanku sendiri. Gadis ini sangat istimewa, ia membuatku, seorang Lee Donghae yang merupakan dosen termuda di universitas Seoul ini, bertindak seperti orang bodoh dan kekanak-kanakan.

*****

Sebulan sudah nomor gadis itu terdaftar di kontak list smartphoneku. Sudah sebulan ini, tiap malamnya aku hanya memandangi nomor itu tanpa berani bertindak apapun. Ia tetap menolongku setiap kelasku selesai, tapi hanya sebatas itu. Tidak lebih.

“Geez,” gerutuku kesal. Mengapa aku begitu bodoh jika berbicara mengenai gadis ini? Tentu saja tidak ada perkembangan apapun jika aku tidak melakukan apa-apa. Apa yang kuharapkan? Menyedihkan. Hidupku terasa lebih menyedihkan setelah aku menyadari bahwa materi yang sudah kumiliki di umurku yang masih muda ini ternyata tidak sepenuhnya memberikan kebahagiaan padaku.

Akumulasi kesedihanku bertambah lagi begitu ingat kalau tubuhku saat ini sedang terkulai lemas dan tak berdaya untuk melakukan apapun. Sudah dua hari ini suhu tubuhku meningkat, mungkin saat ini adalah puncaknya. Aku mengambil smartphoneku dan berusaha menelpon asistenku, hanya untuk menulis namanya di kolom search contact rasanya susah sekali. Kepalaku pusing dan mataku sudah gamang.

“Han So, tolong gantikan aku untuk mengajar kelas siang nanti. Tubuhku sudah tidak mau bekerja sama. Aku akan istirahat di ruanganku, jika kau sudah selesai mengajar nanti tolong antarkan aku pulang. Gomawo,” kataku bahkan sebelum orang diseberang sana menyapa atau merespon perkataanku. Aku hanya ingin tidur sekarang di sova yang ada di ruangan ini.

*****

Aku membuka mataku perlahan. Aku mendengar ada suara yang menyanyikan lullaby untukku. Ini suara Hamun, tidak salah lagi. Tapi, bagaimana bisa ia berada disini? Ah, aku pasti sedang bermimpi.

“Sudah baikan?” tanya suara itu. Aku mengarahkan mataku pada sumber suara dan mendapati gadis itu tersenyum padaku. Senyumnya seakan menulariku, bibirku pun tertarik membentuk senyuman yang kuharap gadis itu bisa melihatnya di dunia nyata.

“Bagaimana kau bisa di ruanganku?” tanyaku.

Ia diam saja tak menjawab. Hanya menatapku tanpa menghapus senyum yang menenangkan itu. “Apa kau kedinginan? Aku tak menemukan selimut di ruanganmu ini,” katanya.

Aku tertawa kecil dan tersenyum padanya. “Kalau aku kedinginan, kau mau apa memangnya?” tanyaku.

Ia tampak berpikir sebentar. Ia mengambil tanganku dan menggenggamnya. “Mungkin seperti ini bisa menghangatkanmu, walaupun sedikit,” katanya.

Aku mengeratkan genggaman tangan itu. Aku ingin menyimpan kehangatan ini sehingga saat terbangun nanti semuanya terasa nyata. “Hamun, apa kau tahu selama ini aku menyukaimu?” tanyaku. Ia hanya menggeleng.

“Aku menyukaimu. Sangat. Sampai-sampai aku selalu bertindak bodoh dan dingin jika kau berada disekitarku. Sudah lama aku ingin kau tahu perasaanku ini, tapi kau adalah mahasiswa yang kuajar dan aku seorang dosen. Aku takut kau terganggu dengan hal itu, aku takut teman-temanmu yang lain akan berpikir negatif tentang dirimu, aku takut kau membenci dosen yang sering menghukummu ini,” ujarku akhirnya.

“Benarkah?” tanya gadis itu sambil mengelus kepalaku.

Aku mengangguk. “Mungkin kau bukan dirinya yang nyata, tapi aku sangat lega bisa menyampaikan apa yang kupendam selama ini padamu. Aku akan bersabar menunggu Hamun sampai ia lulus dua tahun lagi. Saat itu aku akan memberitahu semua perasaanku padanya. Meskipun ini semua hanya mimpi, aku sangat bersyukur bisa bermimpi seindah ini. Aku jadi ingin terus sakit seperti ini,” kataku, bercanda tentu saja.

“Boleh aku memberikan saran, Donghae gangsa nim?” tanyanya yang kujawab dengan anggukan.

“Menurutku, dua tahun adalah waktu yang cukup lama. Segala kemungkinan bisa terjadi. Jika kau tidak memberi kejelasan pada Hamun tentang perasaanmu, siapa yang bakal menjamin dua tahun lagi Hamun masih sendiri? Penantianmu akan berakhir sia-sia,” ujarnya. Jujur saja, semua perkataannya terasa benar dan membuatku cemas.

“Apa yang harus kulakukan?” tanyaku.

“Setelah kau terbangun nanti dan setelah kau sembuh, jujurlah tentang perasaanmu padanya,” katanya.

*****

Dua hari berlalu setelah mimpi aneh nan indah itu. Aku juga sudah sehat kembali seperti sedia kala. Akan tetapi, hatiku belum bisa tenang. Perkataan Hamun dalam mimpi itu selalu mengusikku. Sudah sejam berlalu dan perbuatanku masih sama saja, memandang nomor ponsel Hamun di smartphoneku. Aku hanya perlu menekan layarnya.

Saat aku hendak berjalan menuju ruang tamu, tanpa sengaja tanganku yang memegang smartphone tersenggol oleh rak buku milikku. Reflek, aku berusaha menangkap ponselku yang nyaris terjatuh itu dan aku berhasil.

“Nuguseyo?” tanya sebuah suara. Aku menatap sumber suara yang ternyata adalah smartphoneku. Aku menatap layar ponselku dan tampak jelas bahwa aku telah menelpon Kang Hamun! Mungkin tidak sengaja terpencet saat aku menangkap ponselku tadi. Tapi… Aakh!

“Nuguseyo?” tanyanya lagi.

Dengan segenap keberanian yang kukumpulkan, aku menjawab pertanyaan Hamun. “Ini aku, Donghae,” kataku. Aku memegang dadaku yang sudah berdetak sangat kencang.

“Gangsa nim? Waeyo?” tanya Hamun.

Aku terdiam sesaat. Aku tak punya alasan apapun untuk meneleponnya. Ini hanya ketidak sengajaan. “Aku butuh bantuan,” ujarku yang muncul begitu saja tanpa kusaring. Apa yang kukatakan barusan?

“Apa gangsa nim sedang dalam masalah? Rumah anda dimana? Aku akan..”

“Ani, aku yang ke tempatmu. Dimana rumahmu?” Mati aku. Aku hanya bisa mengutuki diriku sepanjang perjalanan. Donghae, kau baru saja melakukan kebodohan tingkat dewa.

*****

Aku menghela nafas panjang sebelum mengetuk pintu rumah Hamun. Bahkan, jantungku sudah berdetak sangat kencang sekarang. “Annyeonghaseyo,” sapaku saat pintu itu terbuka.

“Annyeonghaseyo. Cari siapa?” tanya wanita separuh baya yang kutebak sebagai ibu Hamun. Wajah mereka mirip sekali.

“Aku..”

“Kau pacar Hamun apa teman Hamun?” tanya bibi itu padaku dengan wajah yang sangat antusias.

“Aku.. bukan pacar Hamun, eomonim,” jawabku yang membuat wajah wanita itu lesu seketika.

“Dasar Kang Hamun, dia bilang sudah punya seseorang yang ia sukai tapi tidak pernah membawa pria itu kemari. Aku kesal padanya,” ujar eomonim yang membuatku lemas seketika. Jadi, Kang Hamun sudah punya seseorang yang ia sukai?

“Omma, jangan menganggunya,” ujar sebuah suara yang kuyakin adalah Hamun. “Pria muda dan tampan ini adalah dosenku, omma,” ujar Hamun.

“Lee Donghae imnida,” ujarku memperkenalkan diriku. Sebisa mungkin aku mengusahakan agar wajahku tersenyum setidaknya pada orang tua Hamun ini.

“Omona, hebat sekali. Baiklah, aku tinggal ke dalam dulu. Enjoy your time,” kata eomonim yang langsung meninggalkan kami berdua.

Hamun mengajakku duduk di kursi yang ada di halaman rumahnya. “Ada apa gangsa nim?” tanya Hamun.

Aku terdiam tak bisa menjawab, hanya bisa menundukan kepalaku dan memandang sepatuku. Saat ini aku tak bisa berpikir dengan jernih. Informasi yang aku dapat tadi mengacaukan semuanya. Mengacaukan keberanianku, rencanaku, dan perasaanku. Berulang kali ia bertanya, aku tetap diam saja. Aku kesal padanya meskipun aku tahu ia punya hak sepenuhnya untuk jatuh cinta pada pria manapun. Aku tahu ini salah karena itu aku berusaha meredamnya. Aku memijat pelipisku dan menghela nafasku berulang kali berharap hal itu ada gunanya.

“Gangsa nim! Kau kenapa sih?” tanya Hamun dengan intonasi yang meninggi. Mungkin ia kesal karena aku sudah bungkam sejak tadi. “Kau butuh bantuan apa? Kalau kau diam saja aku tak mengerti. Bicaralah,” kata Hamun.

Aku memusatkan tatapanku padanya saat ini. Baiklah, jika ia ingin mengerti apa yang kurasa saat ini, akan kukatakan. Toh, sehabis ini semuanya akan berakhir. “Aku menyukaimu, Kang Hamun. Saranghae. Aku ingin kau menjadi pacarku,” kataku padanya. Ia terdiam tak memunculkan respon apapun.

“Itu tujuanku datang kesini. Aku ingin mengatakan hal itu. Tapi sepertinya sudah tidak ada gunanya, kan? Kau sudah punya pria yang kau sukai. Eomonim yang bilang,” kataku. Aku bangkit dari tempat dudukku dan beranjak pergi.

“Apa kau yakin dengan perkataanmu barusan?” tanyanya. “Lalu bagaimana dengan semua rasa takutmu? Apa kau sudah tak takut jika status kita sebagai dosen dan mahasiswa akan menggangguku? Atau apa kau sudah tak takut teman-temanku akan berpikir negatif tentang diriku? Atau kau sudah tak takut kalau aku membenci dosen yang sering menghukumku ini?”

Langkahku terhenti mendengar perkataannya. Aku memutar tubuhku dan menatapnya penuh heran. “Bagaimana…” tanyaku.

“Kau belum memeriksa history call-mu?” tanyanya. Aku menggeleng. Aku tak pernah memeriksa history callku karena aku hanya menelpon orang-orang yang kubutuhkan.

“Apa kau yakin kalau yang kau telepon saat aku sakit itu adalah Han So sunbae?” tanyanya.

“Bagaimana kau tahu kalau aku sakit?” tanyaku yang masih belum dapat mengintegrasi semua informasi yang muncul tiba-tiba ini.

Ia tersenyum padaku. “Lihatlah history callmu dua hari yang lalu,” katanya. Aku melakukan apa yang ia katakan. Aku tak menemukan nama Han So disana, yang ada justru..

“Kau menelponku saat itu, bukan Han So sunbae,” ujarnya. Kini ia berjalan mendekat padaku. Berdiri puluhan senti di depanku sedangkan aku hanya bisa terdiam berusaha menerima semua ini dengan logikaku.

Aku teringat sesuatu. “Saat itu aku tidak mengigau apapun, kan?” tanyaku.

Senyum menenangkan itu kini berubah menjadi senyum usil. “Kau mengatakan banyak hal saat itu, aku lupa,” ujarnya yang membuatku sedikit tenang.

“Yang kuingat, gangsa nim bilang kalau Lee Donghae sangat menyayangi Kang Hamun. Kau punya banyak ketakutan yang membuatmu harus menahan perasaanmu dan kau berniat menungguku sampai aku lulus nanti,” katanya yang berhasil membuat wajahku memerah. Aku bahkan sudah menutupi wajahku dengan tanganku agar ia tidak melihatnya.

“Gwencana, aku ingin melihat wajah gangsa nim saat anda malu-malu,” ujarnya. Aku bisa mendengar tawa kecilnya. Dasar, kau senang melihatku seperti ini karenamu?

“Berani sekali kau mengganggu dosenmu,” ujarku dingin hanya untuk mengkamuflase perasaanku saat ini. Aku bisa merasakan tangannya menyentuh tanganku, menariknya menjauh dari wajahku. Saat ini aku kembali melihat wajahnya dan senyuman yang selalu membuat jantungku berdebar.

“Apa kau yakin tidak mau mendengar jawabanku?” tanyanya yang membuatku kembali mengingat perkataan ibu Hamun tadi. Hamun sudah punya orang yang ia sukai.

“Bukankah sudah jelas kau akan menolakku? Fakta itu sudah cukup menyakitkan jadi aku tak mau mendengar penolakan itu dari mulutmu,” ujarku. Kekesalan dan rasa sakit kembali menyelimutiku.

Ia menggenggam tanganku dan menatap mataku lembut. “Sebagai dosen, kau terlalu mudah mengambil kesimpulan,” katanya.

Ia menjinjit dan mendekatkan wajahnya padaku. Jantungku berdetak sangat kencang sampai kukira ia bisa keluar dari tempatnya. Ia terdiam saat bibirnya hanya berjarak beberapa senti dari bibirku. Ani, ani, ini tidak boleh. Aku terlalu gugup.

Tiba-tiba ia mengubah haluannya dan mengecup pipiku. Aku menatapnya dengan tatapan kaget bercampur lega sedangkan ia hanya tertawa menikmati kebingunganku. “Aku mau menjadi kekasihmu,” katanya sembari memelukku.

Selama beberapa saat, aku hanya bisa terdiam. Aku yakin logikaku masih tidak dapat mempercaya apa yang baru saja terjadi. Akan tetapi, kehangatan yang kurasa dari pelukannya membuat hatiku mengambil alih semuanya. Aku membalas pelukannya. Erat. Meluapkan semua rasa yang selama ini kutahan. Kau bisa merasakannya, kan, Hamun?

*****

“Kang Hamun, mengapa kau selalu tidur saat aku mengajar?” tanyaku pada gadis yang masih tertidur itu. Dengan segera, temannya membangunkan Hamun.

“Ne, gangsa nim? Ada apa?” tanyanya balik seakan ia tak melakukan kesalahan apapun. Aku tertawa dalam hati tapi tidak dengan wajahku. Aku menghela nafas panjang dan segera mengakhiri kelas ini. “Kang Hamun, kau bantu aku untuk membawa semua laporan ini ke ruanganku,” kataku.

“Aku tak mengerti kenapa nilaimu tetap bagus walaupun kau sering tidur di kelas?” tanyaku setelah kami berdua tiba di ruangan.

Ia tersenyum kepadaku. “Rahasia tak selamanya menjadi rahasia, karena oppa sudah bertanya aku akan menjawabnya,” ujarnya. Setelah sebulan menjadi kekasihnya, akhirnya aku mulai terbiasa dengan panggilan ‘oppa’ yang ia berikan padaku saat kita hanya berdua.

“Kalimat puitis apa lagi sekarang?” tanyaku diiringi tawa kecil. Ia juga ikut tertawa denganku.

“Nilaiku tetap bagus karena aku selalu mendengarkan semua penjelasanmu,” jawabnya.

Aku tertawa lebih keras. “Kau tidur, Hamun,” kataku.

“Apa kau bisa menjamin kalau aku benar-benar tidur?” tanyanya. Aku tak bisa menjawab. Untuk apa ia berpura-pura?

“Aku hanya berpura-pura tidur agar kau memberikan perhatian lebih padaku dan menyuruhku untuk membantumu membawa laporan-laporan ini ke ruanganmu,” katanya. “Aku hanya ingin lebih lama bersamamu,” lanjutnya.

Aku hanya bisa menggeleng dan menatapnya takjub, tak menyangka ia berbuat seperti itu. “Kau juga sengaja memberikan nomormu padaku?” tanyaku penasaran.

Ia mengangguk. “Kau membuatku patah hati saat itu. Sebulan lebih kau tidak menelponku padahal kukira aku punya harapan meskipun sangat kecil,” ujarnya dengan wajah yang pura-pura cemberut.

Aku duduk di atas mejaku dan menarik tangannya mendekat padaku. “Jangan cemberut. Aku minta maaf,” kataku yang dengan mudah mengembalikan senyumnya.

“Boleh aku menciummu?” tanyaku. Kurasa aku sudah gila mengajukan pertanyaan seperti itu padanya.

Ia menggeleng. “Ini kampus,” jawabnya.

Aku tersenyum padanya dan mencium kening Hamun. “This gonna be our secret,”

*****

END