Annyeong yeorobun!
Setelah sekian lama akhirnya aku punya FF. Hihihi. Semoga pada suka ya. Ini potongan cerita dari kehidupan Kyuhyun dan Hyejin di seri Top Class Socialite. Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa komen ya…

Selama ini aku selalu yang tertawa paling keras ketika Donghae hyung mengeluh saat Johee mengandung Dongjoo, permintaan wanita itu aneh-aneh dan tidak jarang membuat sakit kepala. Mulai dari yang minta berendam 3 kali sehari dengan sabun khusus yang diimpor dari Swiss sampai meminta Donghae hyung pergi ke kantor tengah malam hanya karena Johee ingin tidur di ruang tidur Donghae di kantor karena terasa lebih nyaman, katanya. Aku juga tertawa terbahak-bahak ketika Siwon hyung dengan tampang muram menceritakan Hamun yang sedang mengandung 3 bulan tiba-tiba menelepon Siwon hyung dan bilang bahwa ia menginginkan Siwon hyung berada di sisinya saat itu juga padahal Siwon hyung sedang berada di Irlandia untuk mengurus bisnisnya. Alhasil, Siwon harus membayar tagihan telepon sebesar 2 juta won demi mendengar rengekan Hamun selama kurang lebih 3 jam. Harus aku katakan, karma itu ada dan aku menyesal telah menertawakan mereka yang berjuang susah payah demi menuruti keinginan-keinginan wanita yang sedang hamil.

“Oppa!!!!” Panggil Hyejin, istriku yang sedang mengandung anak ketiga kami. Usia kandungannya baru 5 minggu dan ia sudah membuat kepalaku nyaris pecah setiap hari. Seperti saat ini.

Hyejin memanggilku dengan sebutan ‘Oppa’. Sebutan yang tidak pernah diucapkannya sejak kami saling mengenal 15 tahun lalu. Aku tidak keberatan jika ia memanggilku ‘Oppa’ tapi aku tidak bisa tahan dengan permintaan lanjutan yang dia ajukan. “Oppa, aku mau makan kimbap tuna mayonaise,” katanya sambil bergelung manja memelukku.

Aku melihat jam pada dinding di depan meja kerja-ku masih menunjukkan pukul setengah tiga sore. Sebagai pimpinan yang berintegritas, aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku begitu saja apalagi hanya untuk membeli kimbap tuna. “Aku akan minta Jung Min untuk membelikanmu kimbap,” kataku.

Hyejin menggelengkan kepalanya. Ia memaksaku meninggalkan ruanganku. “Tidak mau. Aku maunya Oppa yang beli. Ayolah, Oppa. Di mini market di lobby juga ada kok,” katanya.

“Kalau gitu kenapa tidak beli saja sendiri. Ajak saja Hyemi atau Hamun untuk menemanimu. Aku tidak bisa meninggalkan pekerjaanku sekarang, sayang.”

Hyejin mengerucutkan bibirnya dan memasang wajah cemberut kepadaku. “Ini bukan kemauanku tapi anakmu. Memangnya perusahaan ini akan langsung bangkrut kalau kau tinggal 10 menit?”

Kalau sudah bicara seperti itu, aku tidak bisa menolak lagi. Aku menuruti keinginannya hanya untuk membeli kimbap tuna mayonaise yang ia idam-idamkan itu.

Kami turun ke mini market di lobby, ternyata kimbap tuna mayonaise-nya sudah habis. Hyejin merengek untuk mencari kimbap tuna menyebalkan itu sampai dapat. Karena tidak ada di mini market di lobby kantor-ku, aku terpaksa berjalan sampai mendapatkannya di mini market yang terletak dua blok jauh-nya dari kantorku. 10 menit berubah menjadi 30 menit. Yang seharusnya aku sudah bisa menandatangani belasan surat bernilai ratusan juta won untuk dijalankan, kali ini aku hanya mendapatkan kimbap seharga 750 won.

Aku agak kesal sebenarnya tapi melihat Hyejin yang begitu senang memakan kimbap tersebut, kekesalanku menguap begitu saja. “Makan yang banyak biar kandunganmu sehat,” ujarku dengan kepuasan tersendiri bisa mengabulkan permintaan istri tercinta yang sedang menanggung hasil pekerjaanku.

Hyejin menggandengku dengan erat selama perjalanan kembali ke kantorku. “Gomawo sudah mau mengabulkan permintaanku, Oppa,” ucapnya lalu menciumku. Di tengah jalan. Di depan banyak orang. Aku yakin tidak akan sampai 3 menit, foto kami di tengah jalan ini akan muncul di website maha tahu itu. http://www.TopClassSocialite.com.

—–

Aku tidak tahu wanita hamil yang sedang ngidam dan selalu mengganggu suaminya itu sebuah anugerah atau penderitaan. Terutama ketika kau sedang berada ribuan kilometer jauhnya dari istrimu yang sedang hamil dan tiba-tiba ia menelepon hanya untuk bilang, “Oppa, kapan kau akan pulang?” Rasa gelisahnya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

“Masih 2 hari lagi, sayang. Waeyo?” Tanyaku.

“Aku mau makan japchae.”

“Minta Minjung ahjumma saja bikinkan atau ajak Hyemi dan Hamun makan bersama di rumah biar kau tidak kesepian,” ujarku.

“Tidak mau. Aku mau makan japchae buatan Oppa,” sahutnya.

Dia mulai lagi. “Aku kan tidak bisa masak, sayang,” ujarku.

“Ya sudah. Yang penting aku makan bersama Oppa. Pulang ya…”

Kalau aku egois, mungkin aku akan langsung ke bandara, membeli tiket pulang dan menempuh belasan jam demi bertemu dengan wanita cantik ini. Tapi aku punya tanggung jawab. Aku punya ribuan karyawan yang nasibnya berada di tanganku. Aku tidak bisa seenaknya, walau ini perusahaanku sendiri. Aku menghela nafas panjang.

“Sabar ya. Dua hari lagi. Begitu sampai aku akan langsung membuatkan japchae untukmu dan makan bersamamu dimanapun kau inginkan ya?” Kataku selembut yang aku bisa.

“Tidak mau. Aku maunya sekarang,” katanya keras kepala.

“Iya, sayang. Tapi aku baru pulang 2 hari lagi. Lagipula ini Spanyol. Kalaupun aku pulang sekarang, tidak mungkin dalam sekejap aku langsung berada di sampingmu. Aku mohon, bersabarlah ya sayang.”

Hyejin mulai merengek. Ia mengeluarkan seluruh jurusnya dengan merayu bahkan sampai menangis menjerit-jerit memintaku pulang dan memasakkan japchae untuknya. Aku hanya bisa memijit pelipis mataku untuk mengurangi rasa sakit kepalaku karena pusing memikirkan Hyejin di rumah. Aku bersumpah aku akan langsung menelepon Siwon hyung begitu Hyejin menutup teleponnya dan meminta maaf karena aku terlalu banyak tertawa ketika ia menceritakan betapa tersiksanya ia ketika Hamun meminta Siwon pulang dari Irlandia.

“Apa kabar Kihyun dan Jihyun? Mereka baik-baik saja kan?” Tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraan dengan membahas kedua anak kami yang sudah lahir lebih dulu yang tidak pernah menimbulkan kerepotan seperti ini.

“Mereka baik-baik saja. Mereka sedang jalan-jalan ke Jepang bersama teman-temannya,” jawab Hyejin. Aku tahu maksud Hyejin dari teman-teman mereka, pasti anak-anak yang selalu menjadi sorotan TopClassSocialiteKids.

“Siapa yang menjaga mereka?” Tanyaku.

“Eomma dan Eommonim. Tami-ssi juga ikut. Tidak usah khawatir, Oppa. Mereka akan baik-baik saja. Sekarang, aku hanya ingin Oppa pulang dan memasakkan japchae untukku. Ya? Ini bukan keinginanku tapi keinginan anak Oppa.”

Dia sudah mengeluarkan kata-kata andalannya. Seharusnya aku tidak mengijinkan kedua bocah itu pergi sehingga mereka bisa membuat repot eomma-nya jadi tidak mengganggu pekerjaanku, terutama di saat-saat sulit seperti ini.

“Aku akan mengusahakan untuk pulang secepatnya. Begitu urusanku selesai, aku akan langsung pulang. Aku janji. Ya, sayang?” Aku berusaha membujuk wanita ini meskipun aku tahu tidak akan berhasil.

“Terserah. Aku marah pada Oppa,” katanya lalu menutup telepon.

Kepalaku terasa sangat sakit memikirkan wanita itu. Aku juga sedikit cemas tapi di lain sisi aku juga bersyukur karena aku bisa kembali mengerjakan pekerjaanku. Aku tahu Hyejin ngambek mati-matian sekarang tapi aku sedang tidak bisa mengurusnya. Aku akan menyelesaikan urusan dengan Hyejin begitu kembali ke rumah. Lusa.

—–

Usia kandungan Hyejin menginjak 2,5 bulan dan permintaannya semakin aneh-aneh. Yang paling parah, dia tidak mau terlepas sedetik pun dari diriku. Mulai dari bangun pagi sampai kembali tidur malam, ia akan selalu menempel kepadaku. Tidak peduli aku di kantor atau di rumah, sedang rapat atau sedang santai. Selama aku masih berada di Seoul aku bisa mengurusnya tapi kalau aku sudah harus ke luar kota atau ke luar negeri, itu yang repot.

“Oppa, aku mau ikut,” rengeknya ketika Jung Min sedang mengepak baju-bajuku ke dalam koper untuk perjalanan dinas ke Swiss selama 2 minggu.

“Boleh, tapi nanti aku tidak bisa menemanimu ya? Jadwalku sangat padat di sana,” kataku. Sebenarnya, aku lebih tenang kalau dia tidak ikut meskipun aku juga tidak ingin meninggalkannya.

Hyejin tampak berpikir. Ia minta ikut denganku ke Swiss karena ia ingin selalu bersamaku. Buat apa ia ikut kalau ternyata tidak bisa terus bersamaku. Iya kan?

“Aku mau ikut. Setidaknya aku tetap bisa bersama Oppa beberapa jam setiap harinya daripada tidak sama sekali,” jawabnya yang sama sekali tidak aku inginkan. Mati aku.

Aku berusaha memberikan pengertian kepada Hyejin bahwa aku harus menyelesaikan banyak pekerjaan di Swiss dan kalaupun ia ikut, aku tidak bisa menemaninya. Ia akan sendirian dan aku tidak bisa melihatnya kesepian. Tapi yang namanya Hyejin adalah salah satu wanita yang keras kepala yang pernah diciptakan Tuhan.

“Aku. Mau. Ikut,” katanya dengan tegas, memaksakan keinginannya. Ia keluar dari ruanganku bersama Minjung ahjumma, entah kemana.

Jungmin menatapku dengan penuh belas kasihan. Ia terlihat ingin menolongku tapi ia tahu tidak ada yang bisa ia lakukan. “Kau akan merasakannya kalau istrimu hamil lagi nanti,” kataku.

Jungmin tersenyum. “Aku pikir dulu hyung pria yang paling beruntung karena memiliki istri yang cantik dan paling pengertian di seluruh dunia ini, ternyata hyung merasakan juga betapa merepotkannya istri yang sedang hamil,” katanya.

Aku hanya memasang wajah datar lalu meninggalkan Jungmin dengan baju-bajuku sedangkan aku mencari Hyejin yang sudah berada entah di mana. Aku berusaha menghubungi Hyejin tapi tidak ada sahutan, aku akhirnya menghubungi Min Jung ahjumma yang selalu bersamanya.

“Odiya ahjumma?” Tanyaku kepada Min Jung ahjumma.

“Di ruangan Hyemi. Dia sedang mengeluh karena tidak boleh ikut ke Swiss,” adu Min Jung ahjumma kepadaku.

Aku tertawa geli membayangkannya. Hyejin yang biasanya menjadi tempat mengeluh orang sekarang gantian ia yang mengeluh. Hyemi pasti sakit kepala dibuatnya. “Ya sudah, bilang pada Hyejin aku mau rapat dulu. Nanti jam 5 aku akan kembali. Aku titip istri dan anakku ya, ahjumma. Gomawooo,” kataku lalu memberikan kecupan melalui handphone-ku kepada wanita separuh abad yang telah setia menjaga Hyejin sejak wanita itu lahir.

Selama rapat, aku bolak-balik mengecek handphone-ku untuk melihat apa Hyejin menghubungi atau tidak. Ternyata tidak. Mungkin dia terlalu sibuk dengan Hyemi, membicarakan ide-ide baru lini fashion mereka. Mungkin. Mungkin saja juga Hyejin masih mengeluh panjang lebar karena tidak boleh ikut ke Swiss.

“Hai. Aku sudah selesai rapat. Kau dimana?” Aku langsung menelepon Hyejin begitu rapatku selesai.

“Ruanganmu,” jawabnya. Dari cara menjawabnya aku tahu ia masih marah. Aku rasa merajuk lebih tepat. Hyejin tidak bisa marah.

Aku berjalan ke ruanganku. Di dalam, Hyejin duduk di kursiku dengan mata fokus tertuju ke komputerku. “Hai sayang. Apa sekarang Star Craft begitu menarik untukmu?” Tanyaku sambil memeluknya dari belakang dan meletakkan kepalaku di bahunya, mataku fokus ke layar komputerku dan tanganku di keyboard.

Jari-jariku bergerak lincah di atas keyboard. Di atas jari-jari Hyejin sebenarnya, karena aku sedang membantu Hyejin bermain Star Craft. “Oppa!!! Tembak musuh itu!!!” Seru Hyejin dengan serius layaknya gamer-gamer yang pernah aku temui.

Aku memencet beberapa tuts secara bersamaan untuk bisa berlari dan menembaki musuh sekaligus. “Aduh!!! Awas! OPPA!!!”

Hyejin memutar wajahnya kepadaku. Ia menatapku dengan kesal. “Wae?” Tanyaku bingung.

“Oppa! Katanya kau sering main game ini. Kau juga katanya gamer sejati. Masa baru main sebentar sudah mati? Aku yang main dari tadi saja tidak mati-mati. Lebih jago aku daripada Oppa!”

Aku hanya tertawa mendengar omelannya. Wajahnya yang semakin berisi akibat hamil membuatku tidak tahan untuk tidak menggigitnya. Dia begitu menggemaskan.

“Jangan menggigit daguku, Oppa!” Protesnya kesal.

“Habis kau begitu menggemaskan, sayang. Jangan salahkan aku.”

Hyejin tersipu malu-malu. Sejak hamil anak ketiga ini, Hyejin juga jadi lebih mudah kugoda. Kalau dulu biasanya, ia akan balas menggodaku tapi sekarang ia hanya tersenyum malu-malu seperti remaja yang baru pernah pacaran.

Aku kembali menggoda Hyejin dengan mengelus pipi tembemnya. “Siapa suruh kau jadi terlalu cantik?”

“Oooppaaa… Jangan terus menggodaku,” katanya dengan kepala tertunduk, bersembunyi di dadaku. Aku tertawa sambil memeluknya.

—–

4 bulan berlalu, entah siapa yang berhasil membuat Hyejin mengurungkan niatnya untuk mengikutiku kemanapun aku pergi. Ia sekarang jadi lebih sering berada di rumah, berjemur santai di pinggir kolam renang dengan bikininya yang membuat perut agak buncitnya terlihat jelas atau tidur-tiduran sambil menonton dvd-dvd film fiksi sains yang sebelumnya jarang sekali ia tonton.

“Selamat pagi.”

“Tumben sudah bangun,” kataku melihat Hyejin yang sudah membuka matanya meskipun badannya masih melingkar di balik selimut tebalnya. Aku mendekati Hyejin untuk mencium keningnya.

“Itu ucapan selamat pagi untukmu,” ujarku kemudian bersiap-siap memakai bajuku. Aku bisa melihat Hyejin tersenyum di antara kantuknya yang masih hinggap.

“Semalam kau nonton film apa sih? Aku tidur kau masih nonton saja,” kataku sambil memakai celana-ku.

“Star Trek,” jawabnya dengan suara setengah nyawa. Aku tertawa mendengar suaranya yang agak mengganggu itu.

“Sayang, lebih baik kau kembali tidur. Aku tidak akan mengganggu.”

Hyejin kembali memejamkan matanya dan aku mempersiapkan diriku untuk satu hari panjang yang akan penuh pemikiran dan pengambilan keputusan.

“Aku pergi ya,” kataku berpamitan padanya setelah aku siap dan sebelum pergi ke bandara untuk perjalanan dinasku ke Thailand. Aku lalu menciumnya yang masih berbaring di tempat tidur.

Hyejin memandangku dengan kening berkerut. Astaga! Apa dia mulai lagi? Aku jantungan menunggu responnya. “Oppa mau kemana?” Tanyanya.

“Thailand. Aku sudah bilang padamu minggu lalu kan?” Kataku selembut dan setenang mungkin.

“Astaga! Aku lupa!” Hyejin langsung bangkit dari peraduannya. Ia buru-buru masuk ke kamar mandi lalu keluar lagi dan mengganti baju tidurnya dengan baju yang lebih bagus.

“Kau mau kemana? Tidak ikut denganku ke Thailand kan?” Tanyaku bingung sekaligus deg-degan. Jangan bilang kau mau ikut aku ke Thailand. Please, no….

Hyejin menggelengkan kepalanya. “Mengantarkan Oppa ke bandara. Apa aku juga tidak boleh mengantarkan Oppa ke bandara?” Tanyanya. Aku bernafas lega tapi raut wajah Hyejin sudah memunculkan kesedihan yang tidak bisa aku lihat.

Aku menggigit hidungnya dengan kedua belah bibirku dengan gemas. “Tentu saja boleh, sayang. Jangan sedih begitu. Kajja,” ujarku dan Hyejin pun langsung menggandeng tanganku dengan erat.

“Oppa….”

“Humm?”

“Tidak jadi.”

Aku memandang Hyejin dengan heran. Tidak biasanya ia ragu-ragu untuk menyampaikan isi hatinya. Dengan lembut aku mengelus bahunya. “Ada apa? Katakan saja,” kataku.

“Tidak jadi. Sudahlah,” sahutnya bersikeras diam. Aku pun tidak memaksa. “Ayo kita jalan. Nanti Oppa terlambat.”

Sepanjang perjalanan bahkan sampai aku boarding, Hyejin tidak sedikitpun melepaskan tanganku. Ia bahkan terus menempel kepadaku. “Kau kenapa sayang? Katakan saja,” kataku yang menangkap gelagat aneh dari wanita ini.

Hyejin menggelengkan kepalanya tapi aku tahu ia ingin menyampaikan sesuatu. “Sudah katakan saja. Jangan sampai kau menyesal tidak mengatakannya lalu kepikiran dan membuatmu stress. Tidak bagus untuk kehamilanmu,” kataku lagi.

Hyejin menatapku dengan ragu. Ia berulang kali menghela nafas sebelum akhirnya mengatakan isi hatinya, “Tapi Oppa janji harus menurutinya. Ya?”

“Janji,” sahutku.

Hyejin rupanya memberikan pesan-pesan yang harus aku turuti selama berpisah dengannya. “Oppa, pokoknya begitu urusan Oppa selesai, Oppa harus langsung kembali ke hotel. Oppa tidak boleh pergi karaoke, ke club, ke spa atau ke tempat manapun. Oppa juga tidak boleh bertemu dengan wanita manapun, mau itu teman Oppa, rekan kerja Oppa atau siapapun. Oppa tidak boleh dekat-dekat wanita lain.”

Aku tertawa mendengarnya. Hyejin yang tidak pernah cemburu, tidak pernah banyak peraturan, yang sering membuatku bingung sebenarnya Hyejin menganggapku suaminya atau bukan.

“Jangan tertawa. Aku serius, Oppa.”

“Kalau aku diundang oleh klienku?” Tanyaku jahil. Aku tahu jawabannya pasti tidak tapi menggodanya adalah salah satu kesenanganku.

Hyejin mengerucutkan bibirnya dengan sebal. “Itu termasuk, Oppa. Oppa tidak boleh menerima tawaran klien untuk ke tempat-tempat yang aku sebutkan tadi. Pokoknya Oppa harus langsung kembali ke hotel dan meneleponku begitu urusan pekerjaan Oppa selesai. Arraseo? Jung Min akan terus melapor padaku nanti.”

Ternyata hormon wanita yang sedang hamil tidak selamanya membuat sakit kepala. Ada saat-saatnya membuat hati jadi berbunga-bunga dan kembali merasa seperti pasangan yang baru pacaran.

Seumur hidup, Hyejin tidak pernah cemburu padaku. Mau aku bertemu dengan wanita manapun, mau itu klien-ku, teman-ku, mantan kekasihku bahkan wanita-wanita yang sedang menggodaku, Hyejin akan dengan santai menanggapinya.

Aku selalu bertanya padanya, dengan sedikit memasang wajah sebal, “Kenapa kau tidak pernah cemburu setiap aku dekat dengan wanita lain?”

Dengan santai ia menjawab, “Aku percaya padamu. Apapun yang kau katakan, aku akan mempercayainya.”

Sekarang aku merasa menjadi pria yang paling bahagia menerima kenyataan bahwa istriku bisa cemburu juga. Hahahahahaha!

Aku mencium Hyejin sebelum aku masuk ke dalam pesawat. Matanya berkaca-kaca dan tidak mau melepaskan tarikannya pada kemejaku seolah ia tidak ingin aku pergi. Aku menjadi tidak tega melihatnya tapi aku tetap harus meninggalkannya. “Aku akan segera kembali. Aku mencintaimu.”

Hyejin hanya menganggukkan kepalanya. Ia menatapku yang memasuki pesawat dengan nanar. Pramugari yang biasa melayani aku, tersenyum manis menyapaku. “Istri Anda tidak ikut, Tuan? Nyonya sedang hamil kan?” Tanyanya sambil menuangkan wine kesukaanku.

“Ya. Karena itu ia harus banyak istirahat. Lagipula kalau dia ikut, kau bisa sakit kepala memenuhi semua permintaannya,” ujarku.

“Aku tidak pernah sakit kepala melayani istri Anda. Permintaannya tidak pernah aneh-aneh. Selain itu, aku sangat senang melihat kalian berinteraksi di dalam kabin pesawatku,” katanya.

Aku memandang pramugari itu dengan curiga. “Kau penggemar TopClassSocialite?”

Dengan bersemangat, pramugari itu menganggukkan kepalanya. “Tuan dan istri Tuan adalah pasangan favoritku,” katanya dengan penuh, entah kebanggaan atau kepuasan tersendiri.

Belum aku lepas landas, Hyejin sudah mengirimkan pesan kepadaku.

Oppa harus segera pulang. Aku akan merindukanmu, Oppa. T__T

Kwiyo… Aku akan lebih merindukanmu. Jaga dirimu baik-baik ya. Sampai jumpa, sayang. Saranghae!!!

—–

Donghae hyung dan Siwon hyung pernah bilang bahwa masa-masa ngidam wanita yang sedang hamil hanya akan berlangsung sampai usia kehamilan mereka 3 atau 4 bulan. Tapi tampaknya Hyejin berbeda dari wanita-wanita lainnya. Ia masih merengek padaku minta ditemani keliling Everland di usia kandungannya yang hampir 7 bulan.

“Oppa, kita mau berangkat jam berapa kalau Oppa hanya duduk saja daritadi? Nanti keburu Everland tutup,” Omel Hyejin melihatku yang tidak kunjung bangkit berdiri dari kursiku.

“Tunggu sebentar ya. Habis makan siang kita berangkat ya, sayang,” bujukku agar Hyejin tidak merajuk.

“Ya sudah. Aku tunggu setelah jam makan siang. Aku mau ke ruangan Hyemi,” katanya lalu meninggalkan ruanganku.

Minggu lalu, setelah pernegosiasian yang sangat keras, Hyejin berhasil memaksaku pergi ke Everland. Di tengah hari kerja. “Buat kerjaan, Oppa selalu punya waktu 366 hari setahun. Kenapa untukku sehari saja susah sekali sih?” Ujarnya dengan lirih diiringi tatapan sedih yang membuatku menyerah total padanya. Waktu itu.

Aku tidak menyangka pekerjaanku hari ini sudah sangat banyak sampai aku tidak bisa berdiri sedikit pun dari mejaku padahal aku sudah janji pergi dengan Hyejin.

“Yaaa Cho Hyemi!!!” Seruku begitu perempuan itu mengangkat teleponnya.

“Tidak usah berteriak seperti itu aku juga bisa dengar. Wae?” sahut Hyemi dengan datar.

“Aku mau pergi dengan Hyejin. Aku minta tolong gantikan aku sampai nanti malam ya.”

“Kenapa kau baru bilang sekarang sih? CEO tidak bertanggung jawab.”

“Yaaa Cho Hyemi! Aku minta tolong. Kau mau sepupu iparmu itu bersedih karena aku tidak bisa menemaninya? Nanti kau juga yang kena.”

Tampaknya Cho Hyemi sudah termakan bujukanku. “Baiklah. Baiklah. Hanya hari ini. Besok kau harus masuk dan mengurus semuanya lagi. Arraseo?”

“Arra. Arra. Gomawo, Hyemi-ssi. Salam buat Jongwoon hyung ya. Saranghae!”

Hyemi tidak menanggapiku lagi. Ia langsung menutup teleponnya. Aku tidak peduli. Yang penting dia sudah setuju untuk menggantikanku hari ini.

Tepat jam 1 siang, aku membereskan berkas-berkas di atas mejaku dan membawanya kepada sekretarisku. “Jung Min-ssi, aku mau pergi dengan Hyejin. Hyemi yang akan menggantikanku ya. Kalau ada apa-apa, jangan lupa untuk menghubungiku,” kataku.

“Apa Hyejin-ssi tidak akan marah kalau aku mengganggu acara kencan kalian?” Tanya Jung Min sambil terkekeh.

“Dia tidak akan marah. Paling merajuk. Aku akan mengatasinya dengan baik. Tenang saja. Aku pergi ya,” jawabku lalu meninggalkan kantorku begitu saja, mempercayakan sekian ratus juta won kepada orang yang paling anti mengurus keuangan demi seorang wanita hamil yang sedang ingin pergi ke Everland. Ya Tuhan, masih ada 2 bulan lagi. Kuatkan aku.

Aku menelepon Hyejin untuk menyuruhnya ke lobby. “Aku sudah di lobby ya,” kataku lalu menutup telepon. Tidak lama kemudian Hyejin sudah muncul dengan berjalan pelan-pelan akibat perutnya yang sudah semakin besar dan berat badannya yang bertambah.

“Oppa….” Katanya saat kami berjalan ke mobil yang telah menjemput kami.

“Wae?” Tanyaku.

“Kita tidak jadi ke Everland ya…”

Terima kasih, Tuhan.

“Aku tiba-tiba ingin ke pantai. Kita ke Haeundae ya?”

Apa?!

Aku hanya bisa melongo mendengar permintaannya. Hyejin membatalkan pergi ke Everland demi ke Busan. Astaga. “Kau kan tidak boleh naik pesawat,” kataku beralasan.

“Kan kita bisa naik kereta,” katanya.

“Tapi sampainya lama.”

“Kita nanti menginap di sana. Besok pagi baru pulang. Bagaimana?”

“Aku besok ada rapat pagi di kantor.”

Hyejin menatapku minta dikasihani, seperti anak anjing kelaparan dan kedinginan. Lagi-lagi ia mengalahkanku. “Baiklah. Baiklah. Kita ke Busan sekarang tapi besok pagi harus sudah pulang ya?”

Hyejin tersenyum sumringah. “Call!!!” Serunya lalu memelukku dengan erat. “Gomawooo Oppaa…”

Aku hanya tersenyum, sedikit getir, mengingat kalau besok aku kembali ke kantor akan banyak pekerjaan menumpuk akibat aku tinggal seharian lebih. Demi istri dan calon anak.

—–

Menurut perkiraan dokter, Hyejin akan melahirkan besok. Kami semua sudah berkumpul di rumah sakit untuk menemaninya. Aku, Kihyun, Jihyun, eomma, appa, eommoni dan aboji. Semua sudah standby di rumah sakit, menanti anggota baru keluarga Cho dengan sangat penuh gairah. Hyejin, yang hamil, justru tenang-tenang di tempat tidurnya sambil menonton drama-drama romantis kesukaannya.

“Kau belum merasakan sakit perut?” Tanya eomma yang sudah cemas sejak 1 minggu yang lalu.

Hyejin menggelengkan kepalanya. “Nanti kalau aku merasakan sakit-sakit, aku pasti bilang,” katanya.

Aku yang setiap malam menemaninya, menanti-nanti teriakannya karena kontraksi, ingin sekali mencubitnya dengan gemas. “Kau kan akhir-akhir ini tidak peka terhadap rasa sakit. Jangan terlalu santai,” kataku memperingatkan.

“Yaa Cho Kyuhyun-ssi, aku sudah 2 kali melahirkan. Aku tahu rasa sakitnya bagaimana. Tenang saja. Tidak usah gelisah,” katanya lalu tertawa. Aku mengelus kepalanya dengan lembut.

“Kyu, kau tidak pergi dinas?” Tanyanya.

“Kau kan mau melahirkan. Masa aku tidak menemanimu?” Kataku.

“Ya ampun. Aku kan sudah berkali-kali melahirkan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Santai saja. Kalau kau perlu pergi, pergi saja. Aku tidak mau perusahaan kita bangkrut hanya karena Direkturnya menemani istrinya melahirkan anak ketiga,” ujarnya dengan santai dan tenang.

Aku meremas kepalanya dengan gemas. “Memangnya aku di sini untuk melihatmu? Aku mau melihat anakku. Tahu?” Ujarku membuat Hyejin cemberut.

“Aku akan bilang dokter kalau kau tidak boleh melihatnya setelah aku melahirkan,” balasnya.

Setelah 9 bulan merepotkanku, ia membuangku begitu saja di dekat-dekat hari kelahirannya. Ia tidak lagi memanggilku ‘Oppa’, tidak lagi merengek kepadaku minta ini dan itu, tidak lagi bermanja-manja kepadaku, tidak lagi melarangku kesana kesini, ia bahkan tidak keberatan untuk berjauhan denganku dengan jarak yang jauh dan jangka waktu yang lama serta hal-hal lain yang pernah ia lakukan sebelum melahirkan. Justru aku yang sepertinya tidak bisa melepaskan Hyejin.

Aku sedikit merasa sedih. Aku menginginkan Hyejin yang banyak permintaan dan begitu mengandalkanku tapi aku juga ingin anakku segera lahir. Aku merasa lebih sempurna dengan hadirnya anak ketiga ini. Walaupun selama hamil dia, ibunya begitu merepotkan tapi memberikan begitu banyak pelajaran kepadaku untuk menjadi suami, appa sekaligus pria yang lebih bertanggung jawab dan pengertian. Terima kasih, Jinhyuk-ah! Semoga kau lahir dengan selamat. Appa sudah tidak sabar bertemu denganmu.

—-

Kkeut!
@gyumontic