“Yaaaaaa! Kenapa kalian tidak menikah lagi?! Yaaaa! Oh Changmin. Oh Jinhee! Aaaah. Haiiiish!!!” Serunya kesal sambil melempar bantal ke arah televisi.

“Yaaaa! Kyuhyun-ah! Menurutmu mereka harusnya menikah lagi kan? Kalau perlu sampai punya anak!” Omelnya lagi akibat ending drama yang ditontonnya tidak sesuai harapannya.

Aku menganggukkan kepala saja. Menurutku, endingnya tetap menyenangkan. Setelah sekian banyak episode, pasangan itu akhirnya kembali bersama. Bahkan mereka berciuman di tangga darurat. Aku rasa itu cukup bagus. Entah apa yang diinginkan wanita satu ini.

“Aku akan menelepon ke TVN besok. Aku mau memberikan ide agar mereka membuat episode spesial sampai Changmin dan Jinhee menikah dan punya anak,” katanya serius. Aku mengangguk-anggukkan kepalaku demi mejaga kedamaian di kamar ini.

“Memangnya kau siapa bisa minta-minta begitu?” Tanyaku.

Hyejin menatapku. Bibirnya mengerucut. “Tidak ada gunanya kita jadi sponsor wardrobe mereka bertahun-tahun dong?” Ujarnya dengan kecewa.

Namanya Song Hyejin. Setiap hari dia sibuk mengurus keluarga, perusahaan dan kehidupan sosialitanya. Pasti tidak ada yang menyangka bahwa hobinya adalah nonton serial drama. Aku berani bertaruh dia akan lebih memilih diam di rumah menonton drama kesayangannya daripada belanja ke mall. Aku kadang bingung bagaimana ia memiliki hobi itu meskipun ia sudah memiliki seorang suami dan tiga orang anak. Dia sudah cukup tua untuk menonton drama-drama percintaan yang sering muncul di televisi.

“Haissssh! Aku masih kesal. Kenapa endingnya tidak menggigit seperti yang kubayangkan? Iiish…” Gerutunya tanpa henti, membuatku terpaksa memberhentikannya.

Aku menariknya ke dalam pelukanku kemudian menciumnya. “Ayo kita tidur. Besok kita janji mengajak Jinhyuk ke laut. Jangan sampai tidak jadi. Aku sudah susah-susah cari waktu kosong,” kataku.

Ia tersenyum cerah kepadaku. Ia balas memelukku, meletakkan kepalanya di dadaku. “Jaljayo, yeobo. Saranghaeyo,” ucapnya sebelum ia terbuai dalam alam mimpinya. Aku memandangnya sebentar, menikmati kecantikannya, memutuskan untuk mencium puncak kepalanya, sebelum aku ikut masuk ke alam mimpi.

—–

“Eomma! Appa!!” Seru Jinhyuk yang entah sejak kapan duduk di atas perutku sambil memukul-mukul aku dan Hyejin dengan tangan kecilnya, membuat kami terbangun.

“Hai, magnae. Sayang. Selamat pagi,” sapa Hyejin dan mengecup pipi tembem anak bungsu kami itu. “Mana ciuman selamat pagi untuk eomma?”

Jinhyuk mengecup pipi Hyejin secepat kilat. “Eomma! Appa! Katanya mau mengajakku ke laut. Ayo!!!” Serunya sambil menarik-narik kami.

Aku melihat Jinhyuk sudah siap dengan tas mungilnya yang berani aku jamin isinya adalah baju renang dan entah mainan apa yang dibawanya.

“Eommaaaa! Appaaa! Ayooo!” Kali ini Jinhyuk berseru lebih keras mengekspresikan kekesalannya kepada kami yang masih malas-malasan di tempat tidur.

Hyejin mencium Jinhyuk dengan gemas, membuat makhluk mungil itu meronta-ronta agar terlepas. “Eomma dan Appa siap-siap dulu ya. Jinhyuk tunggu sebentar. Hyung dan Nuna apa sudah siap?” Ujar Hyejin setelah puas mencium si kecil.

“Aku akan mengecek hyung dan nuna. Eomma dan appa jangan lama-lama,” katanya kemudian keluar dari kamar kami.

“Arraseo, Jinhyuk-nim,” sahut Hyejin lalu mengunci pintu kamar kami.

Hyejin kembali ke tempat tidur, tempat aku masih berbaring nyaman di bawah selimutku. Hyejin merangkak ke atasku, menatapku dengan nakal. “Oppaaa, tidak mandi?” Godanya.

Aku menatap wajahnya yang sangat dekat dengan wajahku. Nafasnya terasa berhembus menerpa pipiku. “Mau mandi tidak? Humm?” Godanya lagi, tidak lupa mendaratkan ciuman mesra untukku.

Aku membelai wajahnya sebelum ia melepaskan ciumannya yang hangat itu. “Ya sudah kalau Oppa tidak mau. Jangan menyesal ya,” katanya kemudian turun dari tempat tidur. Ia berjalan ke arah kamar mandi lalu mencopot semua pakaiannya di depan mataku sebelum masuk ke dalam kamar mandi.

Aku bergerak secepat kilat menyusulnya namun ia lebih cepat dariku. Aku sampai di depan kamar mandi tepat saat ia menutup pintunya. “Maaf. Waktumu sudah habis, sayang,” ujarnya dari dalam kamar mandi sambil tertawa. Sedangkan aku bersusah payah memohon kebaikan hatinya untuk mengijinkan aku masuk, meskipun hasilnya nihil. Aku terpaksa gantian memakai kamar mandi.

—-

Hyejin berjalan sambil mengamit lenganku. Wajahnya terlihat sangat gembira. Senyuman tidak pernah lupa terbentuk dari bibirnya. “Bagaimana menurutmu? Apa aku masih cukup seksi?” Tanyanya.

Aku meliriknya dengan sebal. “Nappeun yeoja! Bagaimana bisa kau membiarkan suamimu sendiri tersiksa karena ulahmu?” Kataku dengan ekspresi sama sebalnya dengan ekspresi mataku.

Hyejin tersenyum kecil. “Mian,” ucapnya yang tanpa susah payah sudah meluluhkanku. Aku hanya tertawa geli saat menatapnya. Entah bagaimana wanita ini selalu bisa mendapatkan hatiku.

Kami masuk ke dalam mobil dan melihat anak-anak sudah duduk dengan manis di tempatnya masing-masing. Jihyun dan Ah Reum duduk di jok tengah sedangkan Kihyun dan Jinhyuk di jok belakang. “Ah Reum-ssi?” Gumamku sedikit terkejut melihat sosoknya yang duduk di sebelah Jihyun.

Aku menatap Hyejin, meminta penjelasan. Hyejin hanya tersenyum. “Aku lupa bilang padamu. Yoochun-ssi sedang ke Amerika dengan istrinya. Dia menitipkan Ah Reum pada kita. Lagipula kasihan kalau ia tinggal sendirian di rumah,” katanya dengan santai.

Aku melihat melewati Jihyun. Kihyun duduk di belakangnya dengan tablet yang tidak pernah terlepas dari tangannya dan earphone yang tersambung ke telinganya. Wajahnya tanpa ekspresi. “Apa Kihyun sudah tahu sebelumnya?” Tanyaku pada Hyejin.

“Kalau aku memberitahunya pasti ia tidak mau ikut. Sudah, biarkan saja. Kihyun kan bisa main dengan Jinhyuk nanti,” jawab Hyejin.

Park Ah Reum, anak dari Park Yoochun, cucu Dr. Park, dokter-dokter yang turun-temurun menangani kelahiran keluarga Cho. Sahabat karib anak keduaku, Cho Jihyun. Musuh besar anak pertamaku, Cho Kihyun. Meskipun sekarang mereka sedang bertengkar hebat, aku tidak bisa menolaknya ikut bersama kami.

Ah Reum melihatku kemudian tersenyum memberi hormat. Aku membalas senyumnya. “Annyeonghaseyo, ahjussi,” sapanya dengan ramah diiringi senyumnya yang sangat manis.

“Annyeonghaseyo, Ah Reum-ssi,” balasku dengan lembut selayaknya seorang ayah kepada anak perempuannya.

“Maaf mengganggu liburan, ahjussi,” katanya masih dengan sopan.

Jihyun seketika memandangku dengan galak. “Ah Reum tidak menganggu sama sekali. Iya kan, Appa?” Katanya membuatku tertawa sambil mencubit pipi Jihyun dengan gemas. Kalau saja anak itu di sampingku, ia pasti sudah habis kuciumi.

“Appa, sakit,” keluhnya sambil menarik pipinya lepas dari cubitanku.

“Tentu saja tidak, sayang. Ah Reum sudah appa anggap seperti anak appa sendiri. Tentu saja ia tidak mengganggu. Lagipula kalau tidak ada Ah Reum, siapa teman mainmu nanti?” Jawabku.

Jihyun tersenyum. “Appa memang yang paling baik. Nanti aku sekamar dengan eomma dan Ah Reum ya?” Kata Jihyun. Kali ini aku tidak setuju dengannya. Kalau mereka bertiga sudah berkumpul, aku tahu apa yang akan mereka bicarakan. Fashion. Mereka bisa tidak tidur semalaman.

Aku menggelengkan kepalaku. “Jihyun sekamar dengan Ah Reum saja. Eomma tidur sama Appa. Kihyun dengan Jinhyuk. Okay?”

Setelah sekian lama, akhirnya aku mendengar suara Kihyun. “Bisa kita berangkat sekarang?” Suaranya terdengar dingin, membuatku khawatir, tapi Hyejin menanggapinya dengan santai.

“Kihyun-ah. Nanti di pesawat duduk sama eomma ya, sayang,” kata Hyejin tanpa mendapat sahutan dari Kihyun.

“Kihyun-ah…” Hyejin memanggil Kihyun dengan lembut.

Dengan malas, Kihyun menyahut, “Ne, eomma.”

Hyejin tersenyum. “Anak eomma yang baik. Kita berangkat sekarang. Let’s gooooo!!!!”

Jungmin pun menyalakan mesin mobil dan mengantarkan kami ke bandara. Aku pikir aku bisa istirahat sebentar selama perjalanan ke bandara tapi ternyata aku salah besar.

—–

Perjalanan baru berjalan 5 menit dan mataku menuntut untuk tertutup. Aku menuruti perintah otakku untuk tidur tapi Jinhyuk mengacaukan segalanya. Jinhyuk bergerak dari jok belakang, tempat duduk asalnya, menuju tempat dudukku bersama Hyejin.

“Appa, berapa lama lagi kita sampai?” Tanyanya. Dia memaksaku membuka mata untuk menjawab pertanyaannya.

“Sejam lagi mungkin. Sabar ya,” jawabku sambil mengelus-elus kepalanya yang cukup kecil dibandingkan telapak tanganku.

“Memangnya kita mau kemana sih?” Tanya Jinhyuk lagi.

Aku menengok Hyejin. Ia sudah sibuk dengan tablet dan smartphone-nya. Ia sibuk menatar sekretarisnya untuk melakukan tugas-tugas di butik selama ia pergi. Setelah itu, ia sibuk menelepon Hamun dan Hyemi, membicarakan produk-produk baru lini bisnis mereka. Aku sama sekali tidak punya kesempatan bertanya padahal aku juga tidak tahu mau kemana kami pergi, Hyejin yang mengurus semuanya.

Tiba-tiba Jihyun muncul dengan tangannya yang mencubit Jinhyuk. “Palingan kita akan ke Jeju,” kata Jihyun.

“Jeju lagi?” Jinhyuk balik bertanya. Meskipun Jinhyuk baru berusia tiga tahun tapi tampaknya ia sudah ribuan kali ke pulau itu.

“Iya, Jeju lagi. Memangnya kau mau kemana? Maldives? Kosta Rika?”

Jinhyuk tampak bingung mendengar nama-nama asing di telinganya tapi kepalanya menggeleng-geleng menjawab pertanyaan Jihyun.

“Selama eomma tidak menjual villa kita di sana, kita tidak punya pilihan lain,” kata Jihyun.

“Auuuuw, Oppa!!! Jangan menjambakku. Sakit!” Omel Jihyun dengan setengah teriakan kesakitan. Aku melihat ke belakang dan Kihyun tertawa memamerkan deretan giginya yang putih.

“Aku pinjam tabletmu. Baterai tabletku habis,” kata Kihyun.

“Tidak mau!”

“Pinjam.”

“TIDAK MAU!!!”

Hyejin menutup teleponnya kemudian menengok ke belakang, menatap langsung kedua anaknya. “Kihyun-ah, eomma minta tolong jaga tanganmu kalau tidak mau eomma ikat. Minta maaf pada Jihyun,” katanya tegas pada Kihyun.

Kihyun meminta maaf pada Jihyun karena telah menjambak rambutnya. “Mian, Jihyun-ah,” kata Kihyun tapi tidak mendapat jawaban dari Jihyun.

Hyejin beralih pada Jihyun. “Jawabanmu?”

“Ne, Oppa,” ujar Jihyun dengan masam.

“Good girl. Sekarang Jihyun-ah, pinjamkan tabletmu pada Kihyun Oppa.”

“Ne,” jawab Jihyun sambil memberikan tabletnya kepada Kihyun.

“Gomawo, Jihyun-ah. Sekali lagi, maafkan aku.”

Kedua anakku sudah berdamai. Sekarang mereka sibuk dengan mainan mereka masing-masing. Kihyun dengan game di tabletnya. Jihyun dengan smartphone-nya.

Jinhyuk menatap ke luar sambil duduk di pangkuannya. Dari mulutnya keluar terus pertanyaan yang hanya bisa kujawab, “Ne. Oo. Hum..” Aku terlalu ngantuk sekarang.

Hyejin menarik Jinhyuk dari pangkuanku. “Jinhyuk-ah, kembali ke tempat dudukmu. Jangan ganggu Appa. Appa mau tidur,” kata Hyejin yang tentu saja tidak dituruti oleh Jinhyuk.

Jinhyuk malah bertanya kepadaku, “Appa ngantuk? Kita kan mau jalan-jalan, buat apa tidur?”

Aku hanya tersenyum. Ngantuk benar-benar telah menarikku ke dalam ketidakberdayaan. Sebelum aku jatuh ke alam mimpi, Hyejin memangku Jinhyuk dan menggantikanku menjawab semua keingintahuannya.

—-

“Memangnya siapa yang mau kau ikut?! Dasar pengganggu!! Pulang ke rumah sana!!!”

“Kalau Ah Reum pulang, aku juga pulang!!!”

“Yaa. Kalian berdua…”

Aku terbangun mendengar teriakan-teriakan yang mau membuat kepalaku pecah. Aku lihat Kihyun dan Jihyun sedang bertengkar dan Hyejin siap memarahi mereka berdua.

“Kalian berdua saling minta maaf!” Suruh Hyejin kepada Jihyun dan Kihyun tapi keduanya saling membuang muka.

“Aku tidak akan minta maaf pada Oppa sebelum dia minta maaf pada Ah Reum. Dia yang salah kenapa menganggu Ah Reum duluan,” kata Jihyun menolak minta maaf.

“Yaaa! Dia yang salah, kenapa ikut liburan bersama kita?! Dia kan seharusnya syuting bukan ikut pergi dengan kita! Aku tidak mau minta maaf,” sahut Kihyun yang juga menolak minta maaf.

“Baiklah kalau begitu. Eomma tidak mau mengurus kalian sebelum kalian saling minta maaf,” kata Hyejin lalu membuka pintu mobil. “Ah Reum-ssi, Jinhyuk-ah, Yeobo, kajja!”

Rupanya kami sudah sampai di bandara. Hyejin keluar dari mobil sambil menggendong Jinhyuk. Ah Reum mengikuti Hyejin sedangkan Kihyun dan Jihyun masih bersitegang di tempat mereka masing-masing.

“Kalian mau liburan atau tidak?” Tegur Hyejin dengan galak kepada kedua anaknya itu.

Jihyun mendesah kesal. “Oppa, mian,” ucapnya walaupun masih dengan setengah hati.

Hyejin menatap Kihyun. “Kau mau tinggal?”

Kihyun memalingkan wajahnya dengan kesal tapi ia tetap meminta maaf pada Jihyun. “Mianhe, Jihyun-ah.”

Hyejin tersenyum. “Anak-anakku yang pintar dan baik. Kita berangkat sekarang. Come on!!”

Jihyun keluar dari mobil lebih dulu. Ia bergandengan tangan dengan Ah Reum menuju ruang tunggu VIP. Kihyun menyusul dengan Hyejin dan Jinhyuk. Aku, menyusul mereka setelah telepon-telepon manajer ini terselesaikan. Nasib jadi Direktur. Liburan saja susah.

—-

XOXO
@gyumontic