By @gurlindah93

 

Jam 7.25 aku sudah sampai di kantor. Dengan semangat membara aku siap menyongsong hari pertamaku bekerja, dan yang terpenting aku siap menghadapi boss titan Eric Mun.

“MinAh-ssi? Yoomi sudah menunggu di ruangan sajangnim” kata seseorang saat aku baru menginjakkan kaki di kantor. Kubuka pintu kantor Eric dengan perlahan-lahan, untunglah hanya Yoomi yang ada di dalam kantor. “Fiuh….” aku menghela nafas lega.

“MinAh-ssi? Waeyo? Kamu senang sajangnim tidak ada di sini?” sapa Yoomi dengan tersenyum.

“Ah aniya… Hanya senang bisa datang tepat waktu” bantahku. Kuperhatikan kantor yang baru kulihat untuk pertama kali. Kantornya kira-kira sebesar kantor Jungsoo oppa tapi terlihat lebih luas karena tidak banyak barang di dalamnya, semua nampak simple. Tidak sesuai perkiraanku sebenarnya, aku membayangkan kantor Eric akan terisi banyak barang melihat kelakuannya yang seenaknya sendiri.

“Selamat pagi sajangnim..” sapa Yoomi.

Eric berjalan ke kursinya sambil melirikku. Aku hanya membungkuk. Sedikit.

“Yoomi kamu sudah memberi list pekerjaan-pekerjaan wajib yang harus SS lakukan kan?” tanya Eric sambil menatapku.

“Ne sajangnim” jawab Yoomi.

“Kamu tidak menjawab?” matanya terus menatapku padahal dia sedang tidak membicarakan aku, mereka sedang membicarakan SS. Siapa SS itu ya? Apa aku?

“Ne? Aku?” aku menunjuk diriku sendiri.

“Ya kamu SS, memang siapa lagi SS di sini?” katanya dengan frustasi.

“Mwo? SS? Aku?” tanyaku bingung. SS? Aku tidak membaca tentang SS di kertas yang kemarin Yoomi berikan padaku.

“Eoh. Kamu SS. Spoiled Secretary” Eric menunjukkan senyum puas.

“Ige mwoya? Siapa yang manja?” aku tidak percaya pria kekanakan yang bahkan tidak mengenalku ini menyebutku manja.

“Yaaaa sopanlah sedikit, aku ini bossmu” perintahnya.

“Yaaa bagaimana aku bisa sopan kalau kamu menyebutku manja” ya Tuhan, pria ini benar-benar menyebalkan.

“Ehem” Yoomi berdehem dan membuatku sadar kehadirannya.

“Yoomi-ssi….” sebelum aku menyelesaikan kalimatku sudah dipotong duluan oleh boss titanku.

“SS-yaa hari ini aku ada rapat dengan direktur marketing beserta staffnya jam 10, tolong siapkan power point bahan rapat” perintahnya.

“Power point? Bagaimana?” belum 30 menit di sini tapi aku sudah disuruh membuat power point yang tidak kuketahui apa isinya.

“Kamu tidak tahu cara membuat power point Park MinAh?” pandangannya sungguh meremehkanku.

“Aniya, maksudku apa isinya? Tentu saja aku bisa membuat power point, power point buatanku selalu dipuji oleh dosenku” ucapku dengan bangga. Memang benar aku selalu dipuji oleh dosenku karena power pointku yang kreatif dan menarik, bahkan beberapa temanku rela membayarku untuk membuatkan mereka power point.

“Aku sudah mengirimkan bahan rapat hari ini ke email MinAh-ssi, nanti coba dicek juga file-file yang sudah disimpan di komputer kantor untuk melengkapi bahan yang sudah kukirimkan. Selanjutnya tugas MinAh-ssi yang harus mengirim email ke semua pihak yang bersangkutan. Kertas yang kemarin sudah dibaca dengan teliti kan?” tanya Yoomi. Aku mengangguk, sejak kejadian dengan kontrak terkutuk itu sekarang aku membaca semua hal dengan teliti dan detail.

“Tunggu apa lagi? Hush hush” Eric sang boss titan mengusirku. Lihat saja, dalam 3 bulan aku akan menunjukkan kemampuan Park MinAh yang sesungguhnya. Setelah itu aku akan pergi menjauh darinya, sejauh mungkin, kalau perlu aku akan pindah ke Argentina atau Afrika Selatan agar tidak bertemu dengannya.

Aku diperintahkan membuat power point dari bahan yang bahkan baru kubaca sekarang dalam waktu kurang dari 2 jam. Kulirik ruang CEO dengan penuh dendam, saat ini di dalam dia pasti sedang menertawakanku.

Pada dasarnya aku yakin bossku itu memang kejam terbukti dengan sekretarisnya yang tidak pernah bertahan lama. Tapi karena dia menyalahkanku atas kekalahannya main game yang membuatnya terlihat sangat sangat sangat kekanakan di mataku, maka dia akan memperlakukanku 3 kali lipat lebih kejam. Terima kasih sudah memperingatkanku sebelumnya CEO Eric Mun, aku siap menghadapimu.

Tepat jam 10 Eric keluar dari ruangannya, dengan senyum puas aku mengikutinya. Aku sudah membuat power point sesuai perintahnya, dia akan terkejut melihat hasil kerjaku. Hohoho. Hebat sekali kamu Park MinAh.

Presentasinya berjalan sangat lancar, beberapa pegawai bahkan memuji hasil kerjaku “Semoga kamu bisa bertahan” ujar Han Youngki direktur marketing kami sambil berbisik-bisik padaku. Aku hanya tersenyum mengiyakan. Memang benar aku akan bertahan, tapi hanya selama 3 bulan.

Saat mulai sesi diskusi aku merasa sangat bosan jadi aku mengirimkan pesan ke group.

‘Tugas pertamaku sangat lancar. Aku berhasil menunjukkan pada boss titan kalau aku sekretaris yang bisa melakukan apapun dalam waktu singkat’ ketikku.

‘Jinjja? Tidak ada keluhan darinya?’ balas HyunAh.

‘Molla, rapatnya sedang berlangsung. Mungkin dia sedang memikirkan kemarahan apa yang akan dia luapkan padaku nanti’ balasku.

‘Mwo? Eonni kan sedang rapat, tidak seharusnya eonni mengirim pesan. Kembalilah bekerja, nanti dimarahi boss titan loh’ balas Hamun.

‘Mereka sedang diskusi, sudah kurekam diskusi mereka dengan mp3 jadi aku tidak perlu repot-repot mendengarkan mereka untuk mencatat notulen. Hahaha’ balasku.

‘Eonni cerdas! Manse!!! Eonni keren sekali hahahaa love you eonni’ balas Jihyo.

‘MinAh-yaaa aku yakin bossmu akan sadar akal bulusmu cepat atau lambat. PS: Ini Kyuhyun bukan Hyejin hahahahaa’ balas Kyuhyun menggunakan account Hyejin.

Apa-apaan ini? Kenapa ada Kyuhyun di chat room, bukannya Hyejin dan Kyuhyun harus bekerja di kantor masing-masing ya?

‘Kyuhyun-aahh ini pembicaraan wanita, jangan ikut campur. Mana Hyejin?’ balasku.

‘Masih tidur’ balas Kyuhyun.

“Mwo????” ucapku spontan dengan suara sedikit keras. Menurutku sih. Tapi sekarang semua orang menatapku.

“Joesonghamnida.. Joesonghamnida… Saya sedang mencatat isi diskusi ini tapi tiba-tiba baterai smartphone saya habis hehee.. Joesonghamnida, saya akan mencatat di buku saja” aku membuka note yang kubawa dan mulai mencatat.

Kulirik Eric yang ternyata sedang menatapku dengan tajam, kuangkat jempolku menunjukkan kalau aku baik-baik saja dengan tampang innocent.

Selesai rapat semua orang menyapaku dan mengajakku berkenalan, mungkin mereka ingin mengenal siapa korban CEO mereka berikutnya.

“SS-yaa.. Eh MinAh-ssi, ayo kita kembali. Masih banyak pekerjaan” perintah Eric dengan nadanya yang sok lalu keluar dari ruang rapat.

“Sajangnim, tolong jangan panggil aku SS. Aku tidak manja” pintaku dengan tegas sambil berjalan di sebelahnya, aku mendongak untuk menatapnya. Kenapa dia harus tinggi sekali ya?

“Kamu tidak suka kupanggil SS?” tanyanya.

Aku menggeleng.

“Baiklah selamanya aku akan memanggilmu SS” ujarnya lalu masuk kantornya.

“Dasar titan!” bisikku. Sepertinya dia suka melakukan hal-hal yang tidak kusukai untuk membuatku kesal.

“Mwo?” tiba-tiba Yoomi sudah di sebelahku.

“Ah aniya hehe” sahutku, dia tersenyum seolah mengerti penderitaanku.

“Kudengar rapatnya berjalan lancar ya? Chukkae.. Selama kamu melaksanakan semua perintahnya pekerjaanmu akan selesai dengan sempurna dan sajangnim akan puas walau tidak memujimu” sepertinya Yoomi berusaha membuatku nyaman dengan perkataannya. Aku tersenyum, kuhargai niat baiknya tapi di mataku Eric Mun adalah boss titan yang harus dihadapi selama 3 bulan ini.

Saat jam makan siang aku berusaha membaur dengan sekretaris lain, dengan kemampuanku bergaul yang tergolong expert tidak butuh waktu lama bagiku untuk mendapat partner makan siang.

Kim SoEun, Park JiAh, dan Kim Sooyoung adalah sekretaris-sekretaris yang berhasil kuajak makan siang bersama di hari pertamaku bekerja. Dari mereka akan kugali informasi tentang Eric Mun yang bisa kugunakan untuk menghadapinya.

“Bagaimana hari pertamamu bekerja MinAh-ssi?” tanya Sooyoung.

“Belum ada hambatan berarti. Semoga begitu seterusnya” jawabku.

“Jadi kira-kira MinAh-ssi akan bekerja selama 3 bulan atau kurang dari itu?” JiAh bertanya sambil terkikik, mungkin dia tahu cerita semua sekretaris yang sudah bekerja pada CEO kami.

“Aku akan menyelesaikan kontrakku sebaik-baiknya” balasku sediplomatis mungkin. Aku tidak ingin mereka tahu isi kontrakku karena sejujurnya itu sangat memalukan.

“Semoga MinAh-ssi bisa mengikuti jejak Yoomi” kata SoEun.

“Ne… Yoomi bisa bertahan 3 tahun menerima perintah-perintah sajangnim. Kata sekretaris-sekretaris yang dulu sih perintahnya sedikit tidak manusiawi” bisik JiAh. Aku bisa membayangkan sekretaris-sekretaris yang dulu pasti mengomel di belakang Eric Mun setiap dia memberi perintah dengan nadanya yang menyebalkan itu. Aku bersimpati pada mereka semua.

“Tapi dari yang kuperhatikan sajangnim memperlakukan Yoomi dengan biasa saja. mungkin itu yang membuat Yoomi bertahan. Yoomi kan personal assistant jadi sajangnim lebih lunak padanya” lanjut SoEun dengan berbisik juga.

Aku setuju dengannya, sejak awal aku merasa Eric memperlakukan Yoomi dengan lebih lunak karena Yoomi adalah PA, PA yang sangat sabar.

Andaikan aku bisa sesabar Yoomi.

Jam 1 siang kami semua kembali ke pos masing-masing, itu berarti perbudakanku dimulai lagi.

Baru saja meletakkan pantatku ke kursi, teleponku sudah berdering.

“Yoboseyo?” sapaku.

“SS-yaa sudah kenyang? Gossip apa yang sudah kamu dapatkan di hari pertama bekerja? Apa kamu sudah berbagi cerita dengan sekretaris-sekretaris itu?” tanya Eric.

Aku terkejut, tahu dari mana dia kalau tadi aku membicarakannya. Apa dia mengontrol semua CCTV di kantor ini? Atau bahkan mall ini? Pria ini membuatku merinding, ngeri membayangkan semua gerak-gerik pegawainya tidak pernah lepas dari pengamatannya. Lain kali aku akan mentraktir teman-teman baruku di luar kantor jika ingin mendapat info tentangnya.

“Eobseo sajangnim, kami hanya berkenalan. Tapi dari mana sajangnim tahu kalau aku makan siang bersama sekretaris lain? Sajangnim memata-mataiku? Aku bisa melaporkan sajangnim karena sudah melanggar privasi pegawai dan…….” sebelum aku menyelesaikan kalimatku Eric memotongnya “Yaaaa!! Berisik sekali kamu. Kamu kira aku sanggup bertindak sejauh itu? Aku sudah hafal kelakuan semua sekretarisku di hari pertama bekerja. Bergossip” aaahhh benar pasti mereka semua membicarakan Eric saat makan siang. Pria itu memang patut menjadi bahan gossip.

“Ayo ke ruang rapat 15 menit lagi, aku akan bertemu pemilik butik Cute Girl” lanjutnya memberi titah lalu menutup telepon.

Mwo???? Pemilik butik Cute Girl??? Aku bahkan tidak tahu kalau di mall ini ada store Cute Girl yang jadi langgananku di mall lain. Bayanganku untuk jalan-jalan berkeliling mall saat tidak ada pekerjaan hancur sudah. Baru 7 jam bekerja di sini sudah membuatku yakin tidak akan ada waktu luang untukku.

Dengan secepat kilat aku mencari berkas untuk rapat dengan butik Cute Girl yang untungnya sudah disiapkan dengan rapi oleh sekretaris terdahulu, kemudian aku mengeprint data yang kira-kira dibutuhkan dalam rapat. Apa yang akan dirapatkan aku tidak tahu, jadi semua yang kurasa penting kusiapkan. Sedia payung sebelum hujan, begitulah prinsipku.

Tepat 15 menit kemudian Eric keluar dari kantornya “Apa kamu yakin akan membawa semua map itu?” tanyanya saat melihatku membawa 16 map yang membuatku kesulitan berjalan karena menghalangi pandanganku.

“Aku tidak tahu apa yang akan dirapatkan jadi aku membawa semuanya” jawabku.

Dari tumpukan map di tanganku aku bisa mengintipnya menyeringai dengan sangat sangat jahil “Kajja” ajaknya. Dengan penuh perjuangan aku mengikutinya. Tanpa map di tanganku saja aku sudah kesulitan mengikuti langkahnya yang panjang, apalagi dengan belasan map yang menghalangi pandanganku.

“Jamsimanyo.. Jamsimanyo sajangnim” pintaku dengan halus, tapi seperti yang sudah kuduga dia tidak memperlambat ataupun memperpendek langkahnya. Dasar boss titan.

“Yaaaaa ppali!! Jangan buat klienku menunggu. Sepertinya kamu harus lebih sering berolahraga agar lebih cekatan” teriaknya dari dalam lift. Aku diam saja tidak menjawabnya, salah sendiri tidak mau menungguku.

Bruk!

Bagus, aku menabrak pintu lift yang tertutup. Pria itu menutupnya! Dan aku yakin dia lakukan dengan sengaja.

Dengan tingkat kekesalan yang jarang kurasakan aku mengambil semua map yang berjatuhan di lantai saat aku menabrak pintu lift. Aku tidak peduli jika dia harus menungguku atau terlambat rapat karenaku. Aku tidak peduli.

Tiba-tiba ada seorang pegawai laki-laki yang keluar dari lift dan membantuku membereskan map-map yang berceceran “Gamsahamnida” ucapku.

“Ne, aku akan membantu MinAh-ssi membawa ini ke ruang rapat” pegawai baik hati yang tidak kuketahui namanya ini menawarkan diri membantuku. “Gamsahamnida” ucapku sekali lagi.

Setelah turun 2 lantai kami sampai di ruang rapat, sepertinya klien belum datang karena kulihat Eric masih duduk sendirian.

“Sudah saya kerjakan sajangnim, saya pamit dulu” kata pegawai yang tadi membantuku lalu pergi.

Eric hanya mengangguk tidak mengatakan apa-apa.

“Jeogiyo, memang apa yang sajangnim perintahkan padamu?” tanyaku penasaran setelah berhasil mengejarnya sebelum keluar dari ruang rapat. Pegawai itu hanya mengangguk sambil tersenyum.

Bagaimana bisa dia diperintah-perintah boss titan dengan seenaknya sendiri tapi malah tersenyum? Mungkin karena CEO mereka cenderung diktator sehingga tingkah laku pegawainya menjadi aneh-aneh. Aku berdoa semoga aku tetap menjadi Park MinAh yang sedia kala sampai aku keluar dari kantor ini.

“Sajangnim menyuruhnya apa?” tanyaku sambil menyiapkan berkas-berkas butik Cute Girl.

Eric memandangku lalu tertawa “Hahahaa kamu benar-benar gadis penggosip ya SS. Penasaran?” aku menggeleng “Ani” kataku pendek. Aku memang tidak penasaran kok, hanya ingin tahu kesialan apa yang harus dialami pegawai itu untuk melakukan perintah boss titan. Itu bukan penasaran kan? Aku ingin tahu sebagai kolega yang sama-sama menderita karena perintah-perintah boss titan.

Tidak lama kemudian pemilik butik Cute Girl datang sendirian. Hmmmm tumben ada klien yang akan rapat tapi tidak membawa sekretaris. Mungkin beliau merasa bisa mengikuti rapat sendirian tanpa bantuan sekretaris, andai saja bossku juga seperti itu.

“Han Youngjae-ssi” Eric menyalami kliennya “Eric Mun-ssi” balas Han Youngjae pemilik butik langgananku.

Aku sudah menyiapkan mp3 untuk merekam pembicaraan mereka dan iPad sebagai kamuflase kalau Eric curiga aku tidak mencatat notulen. Ide brilian selalu saja muncul dari otakku hahahaa. Keluar dari kantor ini aku akan langsung melamar kerja untuk posisi manager. Manager Park MinAh.

Han Youngjae mengeluarkan sebuah amplop pada Eric, Eric membukanya lalu membacanya sebentar. “Akhirnya anda akan menikahkan putri tunggal anda.. Chukkaeyo, aku pasti akan datang” ucap Eric dengan senang. Rapat ini dibuka dengan berita pernikahan putri Han Youngjae, langkah yang cerdas untuk mencairkan suasana. Dengan berat hati aku memuji bossku.

“Hahahaa ne ne.. Setelah anakku menyukaimu selama `1 tahun tanpa mendapat balasan darimu, akhirnya dia menemukan pria yang dia cintai dan mencintainya. Kuharap Eric-ssi bisa datang untuk memberi restu hahahaa” sahut Han Youngjae dengan hangat walaupun kudengar bossku sudah menolak anaknya. Oh, ternyata ada juga wanita yang menyukai Eric Mun. Mungkin wanita itu belum pernah berada di dekat pria ini selama lebih dari 1 jam.

“Baiklah aku pamit dulu, terima kasih mau menemuiku dengan mendadak Eric-ssi” Han Youngjae berdiri lalu menyalami Eric dan pergi. Pergi begitu saja. Apa rapatnya batal?

“Sajangnim… Bagaimana dengan rapatnya?” tanyaku saat Eric ikut-ikutan berjalan keluar. Dia menoleh lalu memandangku “Rapat? Rapat apa? Apa tadi aku menyebut kata rapat?” lalu meninggalkanku sendirian di dalam ruang rapat. Kulirik tumpukan map yang kubawa ke ruang rapat dengan sia-sia.

Aku ingin mencekik pria itu.

***

tbc

Enjoy ^^