“Jadi yang harus dibuang topi ini, buku ini, foto ini, aaaarrrghhh!” Jihyo mengacak-ngacak rambutnya karena kesal. Sudah setahun sejak ia putus dengan Lee Sungmin, namun hingga saat ini ia tak bisa membuang semua barang yang berhubungan dengan namja itu.

Jihyo menghela napas sejenak, dia memandangi gelang couple yang ia buat sendiri dari benang berbagai warna yang seharusnya ia berikan ke Sungmin. Jika saja namja itu tak Jihyo pergoki sedang berselingkuh tepat di hari jadi mereka yang ke-3 tahun.

“Kau seharusnya buang saja benda itu, atau berikan ke namja lain.”

Jihyo langsung bangkit dari tempat tidurnya dan menengok ke segala arah. Tidak ada seorang pun di apartemennya, bahkan itu adalah suara namja!

“Kau siapa?!” Teriak Jihyo memberanikan diri, di otaknya sudah berkecamuk segala bayangan buruk, mulai dari pencuri, pemerkosa, atau yang paling ringan, hantu.

“Aku bilang, buang saja gelang itu, atau berikan saja ke namja lain. Kau ini sudah setahun namun tetap saja tidak bisa mencari kekasih baru!” Tiba-tiba saja seorang namja muncul di ujung ruangan kamar Jihyo. Kulitnya sangat putih, kontras dengan warna rambut hitamnya yang hitam legam. Ia tinggi menjulang, namun ada bayangan seperti sayap di belakangnya.

“Siapa kau?” Jihyo berteriak, badannya menegang sakit takutnya melihat ada namja misterius di kamarnya. Harusnya ia bisa langsung menghajar namja itu dengan jurus taekwondonya, namun yang sekarang ia lakukan malah melempar bantalnya ke arah namja itu, yang anehnya menembus sosok itu.

“Bodoh, mana bisa kau mengusirku hanya dengan bantal saja?” Namja itu tiba-tiba saja ada di depan wajah Jihyo, padahal ia sangat yakin namja itu tidak berjalan ataupun berlari ke arahnya.

‘Dia pasti hantu, dia hantu, dia hantu’, pikir Jihyo, tak berapa detik kemudian, semuanya gelap di mata Jihyo

+++

“Kau sudah sadar?” Namja itu terduduk di samping Jihyo yang sedang pingsan. Ia mengelus kepala yeoja itu. “Sadarlah, kau sudah 1 jam pingsan.”

Jihyo membuka matanya perlahan, namja itu yang pertama kali ada di penglihatannya, sesaat ia bisa melihat jelas semua lekuk di wajah namja itu, dia terlalu tampan untuk seorang hantu.

“Yaaaaak!” Jihyo berteriak sambil menghantamkan tonjokannya ke pipi namja itu. Namja itu tersungkur ke lantai. Jihyo berteriak sekali lagi.

“Ya! Kau ini, kau ini kan hantu! Maksudku tadi kau, tembus, haduh, kau tidak apa-apa?” Jihyo panik melihat namja itu memegang pipinya yang lebam, namun perlahan-perlahan biru di pipinya berangsur-angsur menghilang.

“Ya! Kau ini percaya dengan hantu?” Namja itu berusaha bangkit berdiri, sekarang ia menepuk-nepuk pipinya yang tadi kena tonjokan yeoja di hadapannya. “Aku ini love angel!”

“Mwo?!” Jihyo menganga tidak percaya. “Malaikat cinta?”

Love angel!” Namja itu membenarkan. “Dan aku bukan hantu!”

“Ne, malaikat cinta kan?”

“Ya! Aku ini love angel! Beda dengan malaikat cinta!” Namja itu meneriaki Jihyo karena kesal.

“Kan sama saja!” Jihyo menggembungkan pipinya. “Lagipula kalau kau love angel, mengapa kau tidak pink, maksudku kau lebih cocok jadi malaikat kematian dengan penampilan serba hitam begitu.”

Namja itu menyeringai, gigi taringnya terlihat jelas, namun entah mengapa kali ini tidak menyeramkan untuk Jihyo. “Kau pikir cerita-cerita dongeng di manusia itu benar-benar ada? Asal kau tau, kami para love angel bisa memilih warna apapun yang kami sukai! Dan hanya 1 persen dari kaum kami yang memilih warna pink!”

“Baiklah, terserah kau. Lalu mengapa ada di sini, LO-VE A-NGEL?” Jihyo mengeja dan memberi penekanan di kata love angel.

“Aku selalu ada di sini kok,” sang love angel tiba-tiba melompat dan muncul di atas tempat tidur Jihyo, duduk di sampingnya.

“Kau menguntit yah!” Jihyo melayangkan tangannya ke arah namja itu namun ia tak bisa memukulnya karena kini lagi-lagi sang love angel menjadi transparan. “Yaaaa! Kau curang!”

“Kau yang selalu menggunakan jurus taekwondomu di saat ada namja yang mendekatimu. Bagaimana kau bisa mendapatkan kekasih sih?” Sang love angel menahan tangan Jihyo dan menggenggam pergelangan tangannya dengan erat. “Dengar, setiap manusia memiliki love angel yang mendampinginya. Makanya jangan sebuat aku penguntit lagi. Dan aku bisa menampakkan diriku dan menghilang sesuai keinginanku.”

Jihyo menatap sang love angel itu dengan kesal. “Lalu kalau kau ini love angel mengapa kau biarkan aku sakit dan membiarkan Sungmin oppa meninggalkanku?! Mengapa juga kau tak membuatku untuk menjadi kekasih namja lain hah? Mengapa juga setiap aku mencoba untuk berkencan semuanya berantakan!”

“Karena belum saatnya.”

+++

“Jihyo, gwenchana?” Sahabat dan satu-satunya namja yang masih bersama Jihyo, Key, menatapnya dengan cemas.

“Ne. Wae, Key?” Jihyo tak merasa sakit, ia meletakkan telapak tangannya di dahinya, tak ada panas sama sekali.

“Maksudku, kau ini tak sadar apa sudah 2 minggu ini kau jadi bahan pembicaraan satu kampus gara-gara kau suka mengoceh sendiri?” Tanya Key.

Memang, sudah 2 minggu sejak sang love angel itu menampakkan diri di depan Jihyo, kini semua orang di kampusnya melihat Jihyo dengan tatapan aneh. Siapa yang tak akan menatapnya dengan aneh jika Jihyo terus saja berbicara sendiri.

“Ne, Key. Lagipula biarkan saja mereka berbicara seenaknya. Sejak aku putus dengan Sungmin oppa mereka juga terus membicarakanku kan?” Jihyo meraih biolanya dan mulai memainkannya.

“Permainanmu sudah tak seindah dulu lagi,” sang love angel mengangguk-anggukkan kepalanya seolah ia mengerti akan semua jenis musik. Jihyo langsung menghentikan permainannya.

“Ya! Kau ini memangnya mengerti apa soal musik!” Jihyo berteriak ke arah tembok.

“Jihyo, kau benar tidak mau istirahat dulu? Kau semakin membuatku cemas,” Key menyentuh pipi Jihyo, memastikan sahabatnya benar-benar tak sakit. Namun entah mengapa dia terjungkal.

“Ya! Kau ini apa-apaan sih mendorong Key seperti itu?” Jihyo kembali berteriak ke arah tembok, tak menyadari kalau kini seluruh orang di ruang kelasnya menatapnya dengan aneh.

“Dia memegangmu seenaknya!” Kini sang love angel bangkit dari kursi yang ia duduki, mengkonfontrasi yeoja di hadapannya.

“Key, kau tidak apa-apa?” Jihyo membantu Key berdiri, mengamati tak ada luka satupun di tubuh Key.

“Jihyo, kurasa kau yang apa-apa. Kau semakin melantur berbicara sendiri. Kau yakin mau masih mau ikut kelas?” Key memandang ke sekitarnya, ia tak suka bagaimana mahasiswa lain melihat Jihyo dengan tatapan aneh.

“Ne, ini kan tahun terakhir kita di kampus. Kita harus belajar sebaik mungkin. Hwaiting!” Jihyo menjulurkan lidahnya ke arah sang love angel.

+++

Lihat, lihat, semenjak ia putus dengan Sungmin sunbae, dia menjadi kurang waras.”

“Sedih yah, padahal dia kan salah satu mahasiswa paling berbakat di universitas ini. Tapi sayang saja dia galak sih.”

“Kau tau tidak kalau dia semakin gila suka berbicara sendiri?”

“Kasihan sampai sekarang saja dia tidak punya pacar.”

Jihyo menenteng tempat biolanya berjalan melewati kerumunan mahasiswa di depannya. Dia sudah tak peduli lagi dengan segala omongan mereka. Toh sejak dia dan Sungmin putus, semua orang membicarakannya. Seorang mahasiswi berbakat dan asisten dosen yang paling tampan di universitas musik ini putus karena ada orang ketiga di hubungan mereka, seorang mahasiswi cantik puteri pemilik universitas ini.

Jihyo menghentikan langkahnya saat melihat gerombolan mahasiswi melingkari mobil Ferrari merah yang berhenti di depan kampus mereka.

“Jagi!” Teriak seorang namja keluar dari mobil tersebut yang langsung di iringi bisik-bisik ribut dari para mahasiswi.

Jihyo melirik ke kanan dan kirinya. Tak ada siapapun yang sedang berjalan keluar kampus selain dirinya. Ia memicingkan matanya agar dapat melihat dengan jelas wajah namja itu.

“Ya ampun! Love angel!” Jihyo membungkam mulutnya. Kenapa si malaikat cinta menampakkan dirinya di hadapan seluruh kampus dengan keadaan ajaib seperti ini.

“Jagi, aku merindukanmu,” namja itu berjalan menghampiri Jihyo. Ia mengadahkan kepalanya ke atas, melihat sosok yang memandang ke bawah dari balik jendela. “Kau sudah lama menungguku, anak manis?” Ia mengembalikan pandangannya ke yeoja di depannya, mengecup pipinya dengan mesra.

“Kau apa-apaan sih?” Jihyo mendorong sang love angel. “Kau pikir ini lucu?”

“Ini lucu, Jihyo,” sang love angel menyunggingkan senyuman liciknya. “Aku tidak suka bagaimana mereka membicarakanmu di belakang. Itu sama saja menertawakan krebilitasku sebagai love angel!”

“Jihyo, pacar baru yah?” Teriak salah satu mahasiswi di tengah gerombolan itu.

Sang love angel menggandeng tangan Jihyo dengan erat. “Annyeonghaseyo, Kim Woobin imnida. Aku kekasih Choi Jihyo. Aku dokter di StarFive Hospital.”

Yaa ampun, di StarFive Hospital? Itu kan rumah sakit paling bagus di negara ini!”

“Dia tampan sekali. Sungmin sunbae lewat.”

“Ugh, kenapa sih Choi Jihyo selalu jadi mahasiswi paling sempurna!”

“Ya, kau terlalu berlebihan. Nama siapa yang kau pakai itu?” Bisik Jihyo.

“Namaku,” sang love angel menuntun Jihyo masuk ke mobil. “Namaku Kim Woobin.”

+++

“Woobin oppa!” Jihyo berteriak dengan kencang hingga memenuhi seluruh apartemennya. “Woobin oppa, keluar sekarang!”

Sang love angel atau sebut saja dengan nama aslinya Kim Woobin, muncul di hadapannya. “Waeyo, jagi?”

“Yaaaak! Kau ini selalu muncul dengan cara aneh-aneh sih!” Jihyo mendorong Woobin menjauh darinya. Woobin tertawa puas.

“Gara-gara kau, aku jadi tidak bisa punya kekasih baruuuu!” Jihyo melempar bantal ke arah Woobin, yang kali ini dengan tepat menghantam perutnya. Hampir 3 bulan ia mengenal sang malaikat cinta ini, Jihyo sudah hapal betul kapan Woobin menampakkan diri sepenuhnya sebagai manusia dan kapan pula dia hanya menampakkan diri menjadi transparan.

“Kau kenapa sih? Kau marah-marah melulu bagaimana kau bisa mendapatkan kekasih?” Woobin menyibakkan rambutnya, membuat Jihyo ingin muntah.

“Ini semua gara-gara kejadian kau seenaknya muncul di depan kampusku dengan sok-sok charming dan mengaku-ngaku jadi pacarku!” Jihyo kembali melempar pulpen yang ia pegang ke arah Woobin. Namun kali ini dugaannya meleset, Woobin masih di mode menjadi manusia.

“Aaaaw!” Woobin berteriak saat pulpen menghantam dahinya. “Jihyo, ini sakit!”

Jihyo berlari menghampiri Woobin. “Mian, mian, Woobin oppa.”

“Kau ini benar-benar! Kalau begini seumur hidup kau tidak akan memiliki kekasih!”

Jihyo memencet memar di dahi Woobin yang mulai memudar, “Ini semua kan harusnya jadi tugasmu untuk mencarikanku kekasih!”

“Awww! Kalau aku tidak mau bagaimana?!”

“Maksudmu?” Jihyo memandang namja di hadapannya dengan penuh tanda tanya. “Maksudmu kau memang sengaja tidak mau membuatku hidup berpasangan dengan namja lainnya?”

“Memang begitu rencanaku,” Woobin menjulurkan lidahnya, dengan sekejap ia berpindah tempat, berbaring di tempat tidur Jihyo.

“Iiiiih, kau menyebalkan sekali sih! Pergi dari tempat tidurku, pergiiiii!” Jihyo menghentak-hentakkan kakinya karena kesal. “Aku tidak mengerti kenapa harus kau yang jadi love angelkuuu!”

Shining star, like a little diamond…

Makes me love …

“Yoboseyo? Keeey! Ya ampun sudah berapa lama kau tidak menghubungiku Choi Jihyo satu-satunya yeoja tercantik di seluruh jagat raya ini hah? Waeyo? Ke bar? Aku mau ikut! Kita minum soju yang banyak yah! Aaaarrrggggh!” Jihyo berteriak saat lagi-lagi Woobin muncul di hadapannya dan merebut handphonenya.

“Kau mau minum soju? Dengan Key?” Suara Woobin meninggi. “Kau tidak ingat apa saat kalian masih jadi mahasiswa baru dan kalian berdua minum soju hingga mabuk? Kau mencium Key!”

Jihyo memelototi Woobin, “Ya! Kami sekarang sudah dewasa! Aku tidak akan seperti itu lagi! Lagipula kau tidak perlu melarang-larangku seperti itu! Kau ini bukan siapa-siapa.”

“Aku, aku bukan siapa-siapa?” Woobin membanting handphone Jihyo. “Aku love angel mu, arraseo?”

“Kalau begitu mengapa kau tidak membuatku bersama seorang namja saat ini? Hah?”

“Karena kau tak perlu namja lainnya untuk ada disampingmu, bersamamu setiap detik. Kau tidak perlu!” Woobin memeluk tubuh Jihyo dengan erat seolah dia tak akan melepaskannya lagi. “Aaakh! Geli Jihyo, geli!”

Woobin tertawa geli karena yeoja yang sedang ia peluk mengelitikinya hingga melepaskan pelukannya.

Jihyo berlari secepat mungkin ke arah pintu sebelum Woobin menyadarinya. Namun ia tetap saja kalah cepat dengan sang love angel.

“Kau mau kemana nona manis?” Woobin telah menunggunya di depan pintu, menyunggingkan senyumnya yang hampir mirip seperti seringaian.

Jihyo refleks tak bisa menahan kecepatannya, ia tau ia akan menabrak namja di depannya. “Oppa, minggir! Aku tak bisa berhenti! Minggir!”

Woobin memajukan tubuhnya, sedikit menunduk, hingga setinggi Jihyo, bukan minggir seperti instruksi yeoja tersebut. “Terlambat,” bisiknya.

Jihyo menabrak namja di depannya, bukan, Woobin menciumnya!

+++

Annyeong! Kembali lagi dengan author yang memunculkan seri Angel. Tenang, cuma ada 2 cerita kok hehe. Sampai bertemu dengan lanjutannya!