Entah angin apa yang membawa Siwon Oppa tiba-tiba muncul di depan apartemenku dengan sekotak blueberry cheesecake yang paling aku sukai. “Semoga bisa menghiburmu,” katanya sambil menyerahkan kue itu untukku.

Aku melihat kue yang dibelikannya cukup besar untuk aku habiskan sendiri. Rasanya aku butuh waktu seminggu untuk memakan seluruh bagian kue itu untuk sampai tidak tersisa.

Aku tahu maksud baik Siwon Oppa tapi ini agak berlebihan. “Oppa mau membuatku gendut?” Sindirku.

Siwon Oppa tertawa. “Kalau tidak habis, buang saja. Aku hanya ingin membuatmu lebih bahagia. Aku tahu rasanya patah hati, Hyejin-ah,” katanya.

Aku memeluk Siwon Oppa. “Gomawo,” ucapku singkat.

Aku meletakkan kue-ku ke dalam kulkas lalu kembali menemui Siwon Oppa. “Mau ikut makan malam bersamaku?”

“Apa ada Hamun dan Donghae?”

Aku menganggukkan kepalaku. “Saranku kalau Oppa masih…”

Siwon Oppa tertawa terbahak-bahak memotong omonganku. “Aku sudah sepenuhnya tidak peduli, Hyejin-ah. Aku akan mengajarkan padamu nanti cara-cara menyembuhkan patah hati dengan cepat.”

Aku menatap Siwon Oppa dengan kesal. Meskipun ia pria paling tampan di jagad raya ini, rasanya tidak akan menjadi masalah besar kalau aku membuat sehelai rambutnya rontok. “Aku tidak patah hati, Siwon Oppa. Aku sakit hati,” kataku sambil menjambak rambutnya.

“Aw!” Siwon Oppa balas menatapku dengan kesal. “Apa bedanya sih? Kau melihat Kyu dengan wanita lain. Kau sakit hati. Lalu kalian bertengkar. Akhirnya, Kyu memutuskanmu. Kalian berakhir. Kau patah hati. Begitu siklusnya kan?”

Aku memukul punggung Siwon Oppa dengan kencang sampai ia berteriak kesakitan, “Hyejin-aaaaah!!! SAKIT!”

Aku melenggang keluar dari apartemenku dengan tidak peduli. “Mau ikut atau tidak?”

Siwon Oppa berjalan cepat lalu merangkul bahuku. “Tentu saja. Aku tidak akan membiarkanmu sendiri. Sama seperti kau tidak pernah membiarkan aku sendiri selama masa pemulihan hatiku,” katanya sambil tersenyum penuh kehangatan membuatku mau tidak mau ikutan tersenyum.

Aku meletakkan kepalaku di bahunya seolah aku tidak sanggup lagi mengangkat bagian tubuhku itu sendirian. Seolah aku terlalu lelah. “Gomawo, Oppa,” bisikku dengan lirih.

—–

Aku dan Siwon Oppa masuk ke dalam restoran. Seperti biasa, keempat temanku dengan pasangannya sudah menunggu. Jihyo, HyunAh, Henry, MinAh, Hamun dan juga Donghae Oppa. Eric Oppa dan Woobin tampaknya absen malam ini.

Aku melihat ekspresi Siwon Oppa melihat mantan pacarnya dengan kekasih baru yang notabene adalah sahabatnya. Wajahnya penuh senyum, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Justru Hamun dan Donghae yang tegang.

Aku dan Siwon Oppa duduk bersebelahan. Aku sibuk dengan makananku sedangkan Siwon Oppa sibuk mencairkan suasana dengan Hamun dan Donghae Oppa.

“Hamun-ah, apa Donghae sudah menyatakan cintanya padamu?” Tanya Siwon Oppa.

Dari nada bicaranya, Siwon Oppa mencoba bertanya dengan setulus hatinya.

Tidak ada jawaban.

Aku mempertajam pendengaranku karena aku sedang tidak ingin mempergunakan indera penglihatanku. Aku sedang tidak ingin melihat sedikitpun kemesraan yang berada hampir di seluruh titik di ruangan ini. Pasangan suami-istri. Sepasang kekasih. Ayah dan anak perempuannya. Bahkan seorang anak laki-laki yang sedang menyuapi neneknya, aku tidak sanggup melihatnya.

Aku mendengar Siwon Oppa tertawa tapi ia berbicara dengan cukup serius, “Hamun-ah. Donghae-ya. Dengar aku baik-baik. Kalau kalian berdua masih memikirkan aku, kalian salah besar. Aku baik-baik saja. Aku tidak masalah kalau kalian ingin pacaran. Kalian saling mencintai. Tidak ada yang salah dari saling mencintai. Donghae, kau sahabatku. Hamun juga sahabatku. Kalian berdua begitu penting dalam hidupku dan melihat kalian bahagia adalah salah satu kebahagiaanku.”

Aku berharap suatu saat nanti aku bisa setulus Siwon Oppa.

—-

Satu per satu mulai pulang. Jihyo, harus menjemput Woobin ke stasiun. Ternyata laki-laki itu baru pulang dari Busan. Henry dan HyunAh, mau kencan. Hamun dan Donghae Oppa menjadi yang terakhir pulang menyisakan aku, MinAh dan Siwon Oppa di meja kami.

“Kami pulang duluan ya. Siwon-ah, gomawo,” kata Donghae Oppa.

Aku yakin saat ini Siwon Oppa sedang tersenyum dan mereka akan berpelukan.

“Jaga kekasih kecilmu ini baik-baik. Sampai jumpa.”

“Oppa… Gomawo.” Aku mendengar suara kecil Hamun mengucapkan terima kasih.

Siwon Oppa kemudian mengantarkan mereka sampai ke luar restoran, meninggalkan aku dengan MinAh. Aku bisa merasakan tatapan MinAh yang sepertinya cemas dan mengasihani aku.

“Jangan menatapku seperti itu, Min. Aku risih,” kataku.

“Aku cemas. Kami semua mencemaskanmu,” kata MinAh dengan serius.

Aku tahu. Mereka semua mencemaskanku. Pasca ditinggal kekasih yang sudah 5 tahun lebih bersama, aku hidup nyaris seperti mumi. Kosong. Pada awalnya tapi aku merasa lebih baik sekarang.

“Aku baik-baik saja, MinAh sayang,” ujarku sambil tersenyum kepadanya. Senyuman paling menggembirakan yang bisa aku berikan padanya.

“Kalau kau baik-baik saja, makananmu seharusnya sudah habis. Bukan hanya diaduk-aduk seperti itu selama 2 jam, Hyejin sayang,” kata MinAh.

Aku tersenyum lemah. MinAh mengelus lenganku. “Kau harus membuka hatimu. Aku tahu kau dan Siwon Oppa adalah sama-sama korban patah hati dan itu yang membuat kalian dekat.”

“Aku tidak patah hati. Aku sakit hati,” kataku yang dipedulikan MinAh walau tidak sungguh-sungguh.

MinAh melanjutkan ceramahnya, “Okay. Sakit hati. Tidak ada salahnya kalau kalian berdua mencoba untuk saling mengobati. Iya kan?”

“Siapa yang saling mengobati?”

Siwon Oppa tiba-tiba muncul. Rupanya ia sudah kembali dari mengantarkan penyebab patah hatinya.

Siwon Oppa menatapku dan MinAh dengan bergantian. “Siapa mengobati siapa?” Tanyanya lagi dengan bingung.

MinAh menunjuk aku dan Siwon Oppa silih berganti. “Kalian,” jawabnya dengan singkat.

Aku menatap Siwon Oppa dan ia balas menatapku. Kami sama-sama berpikir. Kami tidak saling mencintai. Kalau kami mengikuti apa kata MinAh itu namanya pelarian.

MinAh tersenyum kepadaku dan Siwon Oppa. Ia membelai tanganku dengan lembut. “Aku hanya ingin kalian berdua bahagia. Bersenang-senang,” kata MinAh.

“Tapi itu namanya bermain-main, MinAh,” kata Siwon Oppa.

“Justru itu. Aku sudah bilang agar kalian bersenang-senang kan? Seperti anak kecil saja, bermain membuat hati senang kan?”

“Min, kami baik-baik saja. Gwencana. Jangan khawatir,” kata Siwon Oppa.

“Jangan membohongi aku. Aku mengenal kalian berdua lebih dari siapapun. Aku tahu kau, Oppa. Kau mengorbankan dirimu demi kebahagiaan Hamun. Kau masih mencintai Hamun bahkan sampai detik ini. Aku tahu itu,” kata MinAh semakin lama semakin pelan. Ia lalu berpaling kepadaku. “Aku juga kenal kau, Hyejin-ah. Bencana sehebat apapun di dunia ini tidak akan mampu mencabut nyawamu kecuali Kyuhyun yang tiba-tiba meninggalkanmu.”

MinAh benar.

—–

“Jadi kita akan bersenang-senang?” Tanyaku begitu aku dan Siwon Oppa sampai di depan sebuah club yang terkenal paling mahal di daerah Gangnam, daerah tempat tinggal Siwon Oppa.

Dengan yakin, Siwon Oppa menarik tanganku untuk masuk ke dalam. “Kita harus bersenang-senang. Kalau kita tidak bisa berdua, kita cari orang lain,” katanya. Siwon Oppa mengajakku duduk di pinggir bar.

Siwon Oppa langsung mengelanakan matanya menyisir setiap sudut club ini, mencari-cari teman untuk bersenang-senang. Mungkin. Sedangkan aku masih menyesuaikan diri dengan dentuman musik yang keras, asap rokok dan ruangan yang minim pencahayaan ini.

Aku menarik ujung kemeja Siwon Oppa seperti anak kecil yang takut tersesat. “Oh ayolah, Hye. Aku tahu club itu salah satu teman terbaikmu. Kau hanya perlu sedikit tenang, banyak laki-laki akan mendekatimu pasti,” katanya lalu pergi meninggalkanku.

Aku duduk sendirian di pinggir bar sekarang. Seorang bartender memberikanku segelas jus jeruk. “Long time no see, Hye,” sapanya dengan ramah.

“Mian. Aku agak sibuk,” jawabku lalu meneguk jus jeruknya sampai setengah gelas. “Terima kasih jus jeruknya, Hae Guk-ya.”

“Sama-sama. Kau dengan Siwon? Mana yang lain? Teman-temanmu? Kyuhyun?”

Aku tersenyum kecil. “Aku dan Kyuhyun sudah putus. Teman-temanku sedang kencan dengan pacar masing-masing. Ini malam minggu, kan?”

Hae Guk menepuk-nepuk bahuku seakan ia menyesal telah menanyakan hal yang seharusnya tidak perlu ia tanyakan. Aku tersenyum basa-basi berterima kasih. “Tidak usah khawatir. Masih banyak pria yang mau denganmu. Tunggu sebentar. Aku akan mengenalkan temanku denganmu,” kata Hae Guk yang langsung menghilang dan tiba-tiba kembali dengan seorang pria.

“Ini temanku. Kim Junsu,” kata Hae Guk memperkenalkan temannya padaku dan memperkenalkan aku kepada temannya itu. “Jun, ini Hyejin. Pelanggan tercantik-ku.”

Junsu menyalamku. “Nice to meet you,” ucapnya dengan ramah sambil tersenyum hangat. Senyumnya yang ia berikan padaku benar-benar menakjubkan dan ia benar-benar tampan.

“Nice to meet you too,” sahutku, dengan anggun. Sikap yang aku tunjukkan kalau sedang menggoda laki-laki. Apa yang aku lakukan? Am I seducing him? Now?

Hae Guk menjelaskan Junsu lebih dalam kepadaku. “Temanku ini yang punya resort terbesar di Jeju.”

“Oh ya? Kau pasti sering ke Jeju kalau begitu ya, Junsu-ssi,” kataku.

Junsu tertawa. “Tidak juga. Aku lebih sering berada di Seoul daripada di Jeju. Aku akan mengajakmu kapan-kapan,” katanya.

Aku menganggukkan kepala menyetujui basa-basinya itu. Aku tidak peduli aku akan benar-benar diajak ke Jeju atau tidak. Yang penting, aku akan bersenang-senang sekarang.

Junsu sudah duduk di sebelahku dan kami sudah terlibat obrolan seru, merancang perjalanan kemana-mana karena rupanya Junsu sangat ahli di bidang wisata sedangkan aku sangat suka traveling. Cocok.

“Jadi kau mau mencoba menyelam?” Tanya Junsu. Tangannya menarik pinggangku untuk mendekat kepadanya karena suara musik yang begitu keras di tempat ini. Meskipun kami sudah saling berteriak, kami tetap harus terjaga paling jauh 20 sentimeter untuk bisa mendengar suara satu sama lain.

“Aku akan mengajakmu ke tempat menyelam paling indah yang pernah aku lakukan. Indonesia.”

“Tentu saja. Akan dengan senang hati.”

Aku merasa murahan mengikuti semua ajakannya dan tawarannya padahal kami baru beberapa menit kenal. Aku sedang bersenang-senang.

—–

Aku menyadari aku sudah berada cukup lama di club ini karena aku sudah cukup mabuk akibat alkohol-alkohol yang diberikan Hae Guk kepadaku. Aku sudah meracau berbagai hal dengan Junsu. Aku bahkan tidak sungkan untuk menyandarkan tubuhku kepada Junsu. “Kita harus sering-sering ketemu untuk merancang acara jalan-jalan kita. Jadi, bulan depan kita ke Jeju? Aku akan menginap di resort-mu kan?”

“Tentu saja. Kau tamu spesial,” katanya.

Aku sudah lama berada di sini tapi Siwon Oppa belum juga muncul. “Apa kau melihat Siwon Oppa?” Tanyaku kepada Hae Guk yang semakin sibuk melayani tamu yang semakin pagi semakin ramai.

“Tadi aku melihatnya dengan seorang gadis di lantai dansa. Kalau kau lelah, tidur saja. Nanti aku yang akan mengantarkanmu pulang,” kata Hae Guk.

Aku tentu saja menolak. Aku masih ingin bersenang-senang. Aku tidak ingin pulang. Aku juga tidak ingin tidur. Aku mau menghabiskan waktuku dengan menyenangkan.

Aku meneguk gelas ke sekian yang berisi vodka atau apalah itu. Aku merasa lebih baik meskipun rasa mabukku lebih kuat. “Aku sudah mabuk maafkan aku kalau nanti merepotkanmu,” kataku kepada Junsu memperingatkannya sebelum ia melihat diriku versi memalukan.

Junsu hanya tersenyum. Ia juga sudah sama mabuknya denganku. Hanya saja ia masih bisa melawan rasa mabuknya. Aku sudah tidak bisa. Aku menyenderkan sepenuhnya badanku kepada Junsu. Tidak lama tampaknya aku sudah tidak sadarkan diri.

—-

Siwon Oppa membangunkanku dan membuatku heran kenapa ada dia menjadi orang pertama yang aku lihat begitu membuka mataku. “Kita tidak melakukan apa-apa. Percayalah. Kita hanya mabuk berat dan Kyuhyun membawa kita pulang,” katanya.

“Kyuhyun?” Keningku berkerut mendengar namanya.

“Well. Hae Guk menelepon Kyuhyun untuk menjemput kita di club karena kita berdua sama-sama mabuk berat. Tidak ada yang bisa bangun apalagi menyetir mobil,” kata Siwon Oppa.

“Kenapa harus Kyuhyun?” Tanyaku lagi.

“Mungkin Kyuhyun satu-satunya orang yang berhasil dihubungi Hae Guk?”

“Cih! Kalau sampai ia atau wanita mengeluh kencannya terganggu karena aku, Oppa yang tanggung jawab. Aku tidak mau berurusan lagi dengan pria itu!” Sewotku lalu beranjak ke kamar mandi.

Siwon Oppa tampaknya sudah lebih dulu sadar karena kini ia sudah berpenampilan sangat rapi dengan kemeja dan celana jeans-nya. Jenggot dan kumis halus di wajahnya juga sudah bersih tercukur. Berbeda jauh denganku yang masih berantakan, rambut kusut dan wajah pucat. Jelas aku sedang tidak beres.

“Sial. Buat apa dia muncul? Hanya untuk menjemputku yang sedang mabuk lagi. Sial!” Umpatku kesal sambil membersihkan diriku dari bau alkohol, rokok dan parfum orang-orang dari club.

Aku keluar dari kamar mandi dan tersadar sedang di mana aku sebenarnya. Rumah Kyuhyun. Double shit!!!

“Oppa!!!! Siwon Oppa!!! Aku mau pulang sekarang!!!!” Teriakku sambil menyambar semua barang-barangku.

Aku keluar dari kamar dan menemukan Kyuhyun bersama dengan kedua orang tuanya yang sedang makan pagi bersama. “Selamat pagi, eommoni, aboeji,” sapaku sambil mencium kedua pipi mereka. Aku memang bermasalah dengan anak mereka, bukan dengan mereka.

“Selamat pagi. Sudah mau pulang?” Tanya ibu Kyuhyun yang sudah menganggapku seperti anaknya sendiri.

Aku menganggukkan kepalaku. “Aku ada urusan pagi ini. Aku hampir terlambat, eommoni,” kataku, tentu saja berbohong. Ini hari minggu dan aku benci jika ada yang menggangguku di hari yang seharusnya bisa aku habiskan dengan tidur sepanjang hari.

“Makan pagi saja dulu bersama kami sini,” kata ayah Kyuhyun yang terpaksa aku tolak karena aku sudah muak melihat wajah Kyuhyun. Sepertinya pengendalianku atas indera penglihatanku sedang rusak.

“Mian. Jeongmal mianhe, aboeji. Aku buru-buru. Kapan-kapan aku akan mampir lagi dan makan bersama aboeji ya? Terima kasih, aboeji. Sampai jumpa,” kataku lalu mengecup kedua pipinya dan ibu Kyuhyun.

Aku meninggalkan rumah Kyuhyun dengan helaan nafas panjang. “Akhirnya,” kataku setelah merasa aku bisa bernafas dengan normal.

“Aku akan mengantarmu.”

Kyuhyun tiba-tiba muncul di sampingku. Kami tidak lagi sama seperti dulu. Kami berdiri terpisah 1 meter jaraknya seperti kami berdua adalah orang asing untuk satu sama lain. Padahal dulu tidak bisa ada jarak antara kami meskipun hanya 1 milimeter.

“Aku bisa pulang sendiri,” kataku dingin.

Kyuhyun tidak menjawab. Ia tetap berdiri di sebelahku, berjarak 1 meter dariku. “Eomma dan Appa belum tahu bahwa kita sudah putus,” kata Kyuhyun membuatku ingin menendangnya jauh-jauh dariku.

“Kenapa tidak kau katakan saja terus terang pada mereka? Kalau kau tidak bisa mengatakannya, aku akan mengatakannya,” kataku dengan tegas.

Kyuhyun tertawa getir. “Tidak semudah itu. Melepaskanmu, tidak semudah itu. Hyejin-ah,” katanya.

Aku tidak berani menatapnya. Aku lurus memandang jalan yang sudah penuh lalu lalang kendaraan. Taksi sudah berkali-kali melewatiku, begitu juga dengan bus umum tapi tidak ada satu pun yang aku berhentikan. Aku ingin segera meninggalkan tempat ini tapi aku tidak ingin meninggalkan Kyuhyun.

—-

Kkeut!