By @gurlindah93

 

Hari-hariku kulalui dengan rapat, merevisi dokumen, membuat kontrak, mendengarkan keluhan boss titan atas pekerjaanku, dan lain-lain, dan lain-lain, dan lain-lain, dan lain-lain.

Selama 1 bulan ini setiap hari aku pulang kantor minimal jam 8 malam. MINIMAL!

Aku sudah sering memohon padanya untuk pulang lebih dulu ketika pekerjaanku sudah selesai tapi dia tidak memperbolehkan karena pekerjaannya belum selesai. Yang ada dia malah memberiku pekerjaan tambahan, katanya agar aku tidak menganggur saat menunggunya menyelesaikan pekerjaan.

Bahkan dia tidak membuatku menganggur saat weekend! Selalu saja ada pekerjaan yang harus kuselesaikan saat weekend dan harus kubawa hari Senin. Bossku membuatku tidak bisa bersosialisasi dengan siapapun, bahkan dengan keempat sahabatku. Sepertinya dia benar-benar menyimpan dendam padaku. Huks.

Yang paling menyedihkan saat ini aku tidak bisa ikut liburan keluarga selama 4 hari ke Milan. Milan saudara-saudara! Kota impianku. Aku benar-benar terpuruk karena boss titan dan kontrak terkutuk itu.

“SS-yaa. Apa kamu mendengarkanku?” tanya Eric yang mengembalikan kesadaranku. Yoomi hanya menatapku dengan simpati.

“Ne sajangnim, aku mendengar semuanya. Sajangnim ingin membuat kontrak baru dengan toko CD di lantai 2 kan? Isinya harus lebih menekan agar mereka tidak mengulur-ulur waktu dalam membayar kontrak. Sajangnim pelit sekali sih” ujarku mereview kata-kata Eric tadi, ditambah sedikit komentar.

“Ani, kalau aku pelit semua store di sini akan kunaikkan nominal kontraknya dan tidak kuperbolehkan terlambat membayar saat semua harga barang naik karena krisis ekonomi dunia seperti saat ini. Lagipula beberapa hari ini kamu terlihat tidak tenang, apa perlu kutambahkan tugas untukmu agar lebih fokus?” ujarnya tajam.

“Ani. Aku hanya memikirkan keluargaku yang sedang bersenang-senang di Milan sedangkan aku harus di sini, mengerjakan semua hal yang sajangnim inginkan” balasku dengan sinis.

“Oh. Lalu, apa kamu ingin menyusul mereka? Silahkan pergi, nanti pulang dari liburan kamu bisa merasakan liburan di penjara” Eric mengingatkan isi kontrak terkutukku.

“Tidak perlu. Aku kan bisa ikut liburan berikutnya, 2 bulan lagi aku akan mengajak mereka liburan saat aku sudah tidak bekerja lagi. Aaaaahhh next destination will be my choice” sahutku.

“Mwo?” dia menatapku dengan tatapan tidak percaya.

“Ne. Setelah menyelesaikan kontrak aku akan mengundurkan diri. Mungkin Yoomi-ssi dan Sanghyun-ssi sudah bisa mulai mencari penggantiku dari sekarang. Aku permisi dulu” pamitku.

Aku tersenyum puas bisa membuatnya sedikit terkejut. Apa dia kira aku akan bertahan lebih lama? No, thanks.

“MinAh-ssi, apa benar kamu akan mengundurkan diri setelah 3 bulan?” tiba-tiba Yoomi mendatangiku di mejaku.

“Ne” balasku pendek. Yoomi terlihat gelisah seperti ingin mengatakan sesuatu tapi dia tahan.

“Wae geurae?” tanyaku.

“Aku ingin MinAh-ssi bertahan. Kumohon pikirkan lagi ya” jawabnya lalu pergi ke ruangannya.

Aku tidak tahu kenapa dia bertingkah aneh begitu tapi yang pasti aku tidak akan bertahan walau appa yang menyuruh sekalipun.

***

Pagi ini aku bangun dalam keadaan tidak fit, badanku panas dan kepalaku terasa pusing sekali. Seharusnya aku beristirahat di rumah tapi ada pekerjaan yang harus kuselesaikan hari ini, menyiapkan kontrak yang sangat penting bagi Eric.

Biasanya dalam keadaan fit aku bisa mengetik dengan kecepatan penuh, tapi karena kondisiku saat ini aku lebih berhati-hati sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama.

“Ini kontraknya sajangnim” kuserahkan 6 lembar kontrak yang kuharap tidak banyak revisi. Kalau tidak ada revisi aku bisa istirahat sebentar dan berharap ketika rapat keadaanku lebih baik.

“Aneh. Kamu melakukan kesalahan yang selama ini tidak pernah kamu lakukan SS” aku mendekati mejanya dan melihat lingkaran merah yang dibuat. Aku salah mengetik ‘Mun’ dengan ‘Myun’ di bagian tanda tangan.

“Joesonghamnida, akan segera kuperbaiki” ujarku lirih. Rasa sakit di kepalaku sudah tidak bisa ditoleransi lagi.

“SS-yaa wae geurae? Wajahmu merah sekali” Eric memperhatikan wajahku yang kuyakin memang memerah karena panas di tubuhku.

“Gwenchana sajangnim, aku benarkan dulu halaman terakhir lalu kontraknya akan siap kubawa ke rapat. Joesonghamnida” aku mengambil kertas kontrak lalu berjalan ke arah pintu keluar. Tapi anehnya aku tidak bisa menemukan pintu keluarnya karena semua nampak berputar, ada di mana ya?

“Yaaaa kamu terlihat tidak sehat, astaga kamu panas sekali” Eric memegangiku dan menyentuh keningku. Aku tidak boleh lemah, masih ada beberapa pekerjaan yang harus kuselesaikan. Setelah semua selesai baru aku bisa istirahat.

“Gwenchana sajangnim aku akan kembali ke mejaku. Sajangnim mempersiapkan diri saja untuk rapat nanti” aku berusaha berjalan tapi ditahan oleh Eric.

“Apa yang kamu lakukan? Diam saja di sini. Yoomi! Yoomi!” bossku memanggil Yoomi dengan tidak sabar. Aku benar-benar tidak ingin terlihat lemah di depan 2 orang yang sangat kuat ini.

“Astaga MinAh kamu kenapa? Ya Tuhan badanmu panas sekali, kamu harus ke rumah sakit” ucap Yoomi setelah menyentuh keningku.

“Hehee gwenchana Yoomi-ssi. Ini hanya sementara, nanti juga hilang. Aku akan mengambil jaket di mobilku agar tidak kedinginan lalu semua akan baik-baik saja. Gwenchana” aku berusaha keras untuk lepas dari Eric tapi dia memegangiku dengan kuat sekali.

Eric mengambil kertas kontrak dari tanganku lalu menyerahkannya ke Yoomi “Aku akan membawanya ke rumah sakit, tolong tunda rapat hari ini jadi besok pagi. Sampaikan permintaan maaf pada Cho Hyunhwa, katakan aku akan mengubah isi kontraknya sesuai keinginannya sebagai permintaan maaf” perintah Eric pada Yoomi.

Apa bossku ini sudah gila? “Yaaaaa!! Kalau kamu menuruti permintaannya mall ini akan mengalami kerugian” aku berusaha berdiri tegak tapi kakiku tidak bisa menahan tubuhku. Kenapa di saat seperti ini tubuhku tidak menurutiku sih.

“Berisik sekali kamu, Yoomi beritahu petugas vallet untuk menyiapkan mobilku di lobby” kata Eric.

Lalu kejadian yang tidak pernah kuduga sebelumnya terjadi, Eric menggendongku.

“Yaaaaaaa jangan menggendongku. Turunkan aku! Ini perintah!! Aku tidak mau kamu gendong!!” aku meronta-ronta sepanjang perjalanan menuju lobby minta diturunkan tapi dia tidak mau menurunkanku malah mempererat gendongannya.

“Yaaaa di sini aku yang memberi perintah. Kuperintahkan kamu diam Park MinAh!” teriaknya sampai orang-orang menoleh ke kami. “Ne” jawabku pendek tidak membantahnya karena saat ini seluruh tubuhku tidak berfungsi dengan baik. Selain itu berada di gendongannya membuatku hangat dan nyaman.

Keringat dingin terus bercucuran membasahi bajuku, kepalaku seperti mau pecah.

Setelah memasukkanku ke mobilnya Eric segera memacu mobilnya sekencang mungkin.

“Apa sajangnim mau membawaku ke rumah sakit?” tanyaku hampir tak terdengar. “Eoh” jawab Eric pendek.

“Tolong antar aku ke rumah sakit Family Health, eommaku bekerja di sana. Aku tidak suka rumah sakit” pintaku. Memang benar aku tidak suka rumah sakit, walaupun eomma sering mengajakku ke rumah sakit sejak kecil tapi aku tidak pernah suka suasana rumah sakit.

“Eoh” untungnya dia mengiyakan permintaanku.

“Mianhae sudah membuat kemejamu basah” kulihat kemejanya basah oleh keringatku yang membuat bentuk tubuhnya terekspos. Dadanya bidang, bahunya lebar, lengannya menunjukkan kalau dia rajin berolahraga. Sungguh aku tidak bermaksud memperhatikannya tapi Eric ternyata memiliki bentuk tubuh dengan nilai 10. Baru kali ini kusadari kalau aku memiliki boss yang seksi. Hahahaa.

“Jangan berpikiran kotor ya. Aku tahu tubuhku sangat menarik” sahutnya tiba-tiba.

Hah?! Sepertinya dia tahu kalau aku, secara tidak sengaja, memperhatikan tubuhnya. Kutarik kembali kata-kataku barusan. Dia tidak seksi, sama sekali tidak seksi. Dia sangat menyebalkan. Pria yang menyebalkan tidak pernah terlihat seksi walau dia telanjang di depan mataku. Apalagi pria ini.

“Yaaaaaaa!!! Siapa yang memperhatikan tubuhmu” aku menyesal sudah pernah berpikir kalau Eric Mun seksi. Kubuang muka berharap dia tidak tahu kalau wajahku semakin memerah.

“Ckckck sakit tapi masih bisa berteriak-teriak” lalu dia tertawa terbahak-bahak. Dasar pria kekanakan.

Dalam waktu singkat kami sampai di rumah sakit, di UGD seorang dokter memberiku suntikan IV kemudian menginfusku. Aku berharap dengan antibiotik dosis tinggi yang dia suntikkan kondisiku akan cepat membaik.

“Dokter, boleh aku minta tolong? Tolong panggilkan Shin Eunmin, katakan MinAh ada di sini” pintaku. Untung saja dokter itu mau memanggil eommaku. Mungkin karena eomma salah satu dokter senior di sini jadi dia tidak bisa menolak permintaanku.

“Nanti kalau diperbolehkan pulang oleh eomma aku akan langsung kembali ke kantor” ujarku pada Eric yang sejak tadi tidak meninggalkanku. Aku merasa tidak enak kalau tidak segera kembali ke kantor untuk mengerjakan tugas-tugasku yang menumpuk. Walaupun bossku ini menyebalkan tapi aku sadar dengan segala tanggung jawabku.

“SS-yaa, kenapa kamu memikirkan pekerjaan saat kondisimu seperti ini” Eric terlihat heran karena aku ingin secepatnya kembali ke kantor. Mungkin dia pikir aku akan bahagia bisa meninggalkan pekerjaan untuk sementara waktu.

“Aku kan sudah berjanji untuk bekerja semaksimal mungkin selama 3 bulan, keadaanku juga sudah lebih baik. Lagipula aku tidak suka kalau pekerjaanku menumpuk” jawabku yang membuatnya terdiam.

“MinAh, gwenchana?” eommaku datang dengan tergesa-gesa dan nampak khawatir.

“Gwenchana eomma. Hanya panas biasa, tadi sudah disuntik antibiotik. Nanti kalau sudah lebih baik aku akan kembali ke kantor” aku berusaha menenangkan eomma.

“Joesonghamnida nyonya Park, jeoneun Eric Mun-imnida CEO Shinhwa mall. MinAh-ssi tidak akan kembali ke kantor sampai dia benar-benar sembuh” kata Eric pada eommaku.

Aku melotot pada Eric tapi dia mengabaikannya.

“Ne ne.. Terserah kalian, tapi aku yang berwenang di sini.. Eric-ssi sebaiknya kamu kembali saja ke kantor. Park MinAh, jangan kembali ke kantor. Deal?” eommaku menatapku dan Eric bergantian dengan kharismanya yang katanya membuat appa jatuh cinta.

Aku cemberut sedangkan Eric tersenyum puas. “Oke aku pergi dulu. Ingat, Eric-ssi kembali ke kantor, MinAh tidak boleh ke kantor. Nanti kita pulang bersama-sama setelah eomma selesai bekerja” lalu eomma meninggalkan kami.

“Pergi sana” usirku pada Eric.

“Kamu menyuruhku pergi?” tanyanya.

“Ne, kamu dengar eomma kan? Selain itu aku tidak bisa istirahat kalau kamu tetap di sini” aku berbalik memunggunginya.

“Okay, aku akan pergi” dia langsung beranjak pergi menuruti perintahku.

“Sajangnim….” panggilku.

“Hmmmm” Eric menghentikan langkahnya.

“Gamsahamnida” ucapku dengan sungguh-sungguh.

“Istirahatlah” kata-katanya juga terdengar sungguh-sungguh di telingaku.

Dengan senyum tersungging di bibirku aku berusaha memejamkan mata untuk istirahat.

Sekitar jam 7 malam setelah menghabiskan 3 botol infus aku diperbolehkan pulang. “Eomma, setelah aku mengundurkan diri aku ingin liburan” rajukku saat eomma melepas infusku.

“Apa kamu tidak takut appa akan marah karena kamu hanya bekerja selama 3 bulan?” tanya eomma. Eomma benar, tapi aku sudah tidak tahan dengan pekerjaan yang teramat banyak itu. Kadang-kadang aku sampai bermimpi belum menyimpan data yang baru kuselesaikan atau lupa meminta tanda tangan Eric. Mimpi yang aneh kan?

“Aku akan bicara pada appa untuk mencari pekerjaan lainnya” ujarku. “Terserah. Kajja” ajak eomma. Aku berjalan mengikuti eomma. Aaahhh aku ingin tidur di kasurku sendiri dengan nyenyak setelah tidur di rumah sakit.

“Joesonghamnida dokter, pasien Han di kamar 297 mengalami sedikit komplikasi setelah operasi” kata seorang suster menghentikan langkah kami.

“MinAh kamu pulang sendiri naik taksi ya? Atau minta ahjussi menjemputmu. Eomma harus memeriksanya” eomma memang berdedikasi dengan pekerjaannya, selalu bertanggung jawab dengan tugas-tugasnya sebagai dokter. Mungkin hal itu menurun padaku karena aku juga sangat bertanggung jawab pada semua tugasku. Hohoho.

“Aku yang akan mengantarnya pulang nyonya Park” kata seseorang.

Eric berdiri di depan kami dengan kemeja berbeda dari yang dipakainya tadi, walau tidak basah tapi tetap saja menunjukkan bentuk tubuhnya. Dengan wajah bersemu merah aku langsung mengarahkan pandangan ke tempat lain.

“Eric-ssi. Apa tidak merepotkan?” eomma terlihat lega karena ada yang menawarkan untuk mengantarkanku pulang.

“Gwenchana, tidak merepotkan sama sekali. Kajja” ajaknya. Dengan berat hati aku mengikutinya berjalan di belakangnya.

“Sajangnim sedang apa di sini?” tanyaku berusaha tidak memperhatikan punggung pria itu. Sepertinya demam sedikit mempengaruhi kewarasanku.

“Aku ingin mengecek keadaanmu apa besok sudah siap untuk menyelesaikan pekerjaanmu yang menumpuk. Ternyata kamu sudah sembuh” ujarnya lega.

“Ne sajangnim, ne… Aku sudah siap kerja rodi lagi” sahutku dengan kesal.

“Jadi menurutmu aku menyuruhmu kerja rodi?” tanyanya tiba-tiba. Lalu kalau bukan kerja rodi apalagi namanya? Dia tidak sadar kalau perintah-perintahnya membuatku kerja rodi.

“Ne sajangnim, tapi aku pekerja rodi yang tangguh” sahutku dengan percaya diri.

Dia diam saja seolah mengiyakan.

‘Ladies, aku pulang diantar boss titan’ ketikku di group chat saat dalam perjalanan pulang.

‘Jinjja? Tumben, baik juga boss titan’ balas Jihyo.

‘Aaahh aku yakin dia merasa bersalah Min’ balas Hyejin.

‘Eoh. Rasanya besok aku akan disuruh kerja rodi lagi T.T’ balasku.

‘Malam ini kamu tidur yang nyenyak ya’ balas HyunAh.

‘Eonni…… Istirahat ya, besok eonni harus kerja rodi lagi hihihii. Good night’ balas Hamun.

‘Bogoshippo eonni’ balas Jihyo.

‘Nado… Hiks’ balasku.

Aku benar-benar merindukan mereka.

Tidak terasa kami sudah sampai di rumahku “Gamsahamnida sajangnim” ujarku.

“Eoh. Ini, tadi Yoomi titip untukmu” Eric menyerahkan tasku yang tadi tidak sempat kubawa.

“Gamsahamnida. Sampai besok” pamitku lalu keluar dari mobil bossku.

“SS” panggil Eric tiba-tiba.

Aku menoleh padanya “Jaga kesehatanmu” pesannya. Aku tersenyum padanya lalu masuk rumah.

Kejadian hari ini membuat pandanganku atas bossku agak berubah, ternyata dia pria yang cukup baik karena mau direpotkan olehku. Nampaknya kebencianku padanya sudah berkurang. Sedikit.

***

tbc

Enjoy ^^