Jihyo memandang biola di pangkuannya lama sekali, sudah lama sekali ia tidak pernah bermain di sini, bahkan untuk berlatih sekalipun. Namun entah mengapa hari ini kakinya melangkah ke ruang pertunjukan. Ruang dimana pertama kali saat ia dan Sungmin bertemu, saat Sungmin mendengarkan permainan biolanya dan bertepuk tangan.

Jihyo mulai memainkan biolanya, hari ini rasanya ia tak memikirkan apa-apa, ini sama seperti saat ia belum pernah bertemu Sungmin. Saat sebutannya hanyalah “mahasiswa baru dengan bakat alami” bukan “si mahasiswa berbakat kekasih asisten dosen”. Ia terus menggesek biolanya, menyalurkan semua emosinya ke dalam musik.

Ruangan pertunjukan yang gelap pun tak berapa lama dipenuhi dengan tepuk tangan seseorang. Jihyo membuka matanya dan mencari siapa si penepuk tangan. Ia melihat sosok namja berdiri di balik kegelapan, duduk di bangku kosong tempat penonton. Ia memajukan tubuhnya hingga sedikit cahaya yang masuk ke ruang pertunjukan menyinari wajahnya.

“Sudah lama kau tidak bermain seindah itu,” Sungmin bangkit dari tempat duduknya dan menuruni anak tangga menuju ke panggung.

Jihyo berdiri dengan kaku, ia mundur beberapa langkah. “Kamsahamnida, Sungmin sunbae.”

“Mianhae, jeongmal mianhae Jihyo,” Sungmin menghentikan langkahnya sebelum ia bisa mencapai ke atas panggung. “Maaf jika aku mengganggu konsentrasimu saat bermain tadi.”

“Gwenchana,” Jihyo segera memasukkan biola miliknya ke dalam tas nya, segera membenahinya dan meninggalkan ruangan ini. Namun tak ada jalan lain selain melewati Sungmin. “Aku masih ada urusan lain sunbae. Maaf, aku duluan.”

“Jihyonnie,” Sungmin memanggil nama yeoja di depannya sekali lagi. “Mianhae.”

“Untuk apa?” Jihyo rasanya ingin sekali melangkah keluar ruangan ini, meninggalkan Sungmin sendirian, namun entah mengapa dia tak bisa, mungkin sebenarnya selama setahun ini ia memang tak bisa melupakan Sungmin.

“Maafkan aku sudah menyakitimu. Aku memang bersalah, aku sadar itu,” Sungmin melangkah kembali mendekati Jihyo. “Aku selalu ingin meminta maaf kepadamu namun kau-”

“Choi Jihyo!” panggil namja lainnya yang berdiri di tepat di pintu keluar ruangan. “Aku mencarimu daritadi!”

Jihyo menghela napas lega begitu melihat namja itu berdiri menunggunya, menyelamatkannya dari situasi tidak enak ini. “Sunbae, aku buru-buru. Sampai jumpa.” Jihyo membungkukkan badannya dan berlari melewati Sungmin.

+++

“Gomawoyo, Woobin oppa~” Jihyo meletakkan secangkir espresso panas di meja. “Ini, kesukaaanmu.”

Woobin mendengus kesal melihat tingkah yeoja di depannya. “Kau tau tadi apa yang terjadi jika aku tidak datang tepat waktu? Kau bisa mati kutu bersama Sungmin di sana.”

Jihyo menyengir tak bersalah, “Yah, mana aku tau jika Sungmin oppa ada di sana. Lagipula kau ini kan love angelku, kau seharusnya selalu ada di mana aku berada.”

Woobin meletakkan cangkirnya dan memegang pipi Jihyo dengan kedua telapak tangannya. “Siapa yang mengatakan jika aku tidak harrus mengikutimu setiap saat dan melarangmu melakukan apapun yang kau suka?’

Jihyo memanyunkan bibirnya, “Salah sendiri kau seenaknya saja menciumku waktu itu!”

Woobin memandang manusia di hadapannya dengan tatapan tak percaya, “Ya! Kalau aku tidak menahanmu saat itu, kau bisa langsung membentur pintu dengan keras!”

“Kalau saja kau tidak sok menolongku saat itu, aku tentu saja akan membentur pintu, dan itu lebih baik!”

“Jadi kau lebih suka kesakitan, hah?”

“Kau saja yang mesum!”

“Ya! Choi Jihyo! Manusia ini susah sekali sih diberitahu! Kau akan celaka jika aku tidak menahanmu waktu itu!”

“Menciumku,” Jihyo menyipitkan matanya, memberikan tatapan paling kesalnya selama ia mengenal sang love angel di hadapannya.

“Kalau itu sih bonus,” Woobin menyeruput kembali espresso di hadapannya.

“Iiiiiiiih,” Jihyo mencubit lengan Woobin. “Gara-gara kau selama 2 minggu ini selalu melihat hal-hal aneh dan kau bilang ciuman itu bonus?”

“Kau melihat para fallen angel,” Woobin meraih tangan Jihyo dan menggerak-gerakkan jari jemarinya di telapak tangan Jihyo.

“Apa sih!” Jihyo menarik tangannya, sejak kejadian bodoh ciuman itu, ia merasa tak nyaman berdekatan dengan sang love angel. Bahkan ia meminta agar Woobin jangan terus berada di sampingnya dan hanya datang ketika ia dibutuhkan.

“Kau ini mau tau tidak makhluk apa yang kau lihat? Sudah 2 minggu ini kau baru memanggilku dan kini kau malah bersikap kasar padaku? Ya! Choi Jihyo, kau tidak akan pernah punya kekasih kalau begini,” tubuh Woobin perlahan-lahan mulai terlihat tembus pandang. Jihyo tau jika sang malaikat cinta ini tersinggung dengan tindakannya, namun ia memang benar-benar tak nyaman jika harus bersentuhan dengan Woobin.

“Ne, mianhae oppa. Jeooongmal~” Jihyo tak ingin Woobin menghilang di dalam coffee shop langganannya yang sedang dipenuhi pengunjung ini. Ada tiga kemungkinan yang bisa terjadi, pertama semua pengunjung akan ketakutan melihat namja yang bisa menghilang. Kedua mungkin mereka menganggap Jihyo gila karena berbicara sendiri. Ketiga, mungkin saja para pengunjung tidak menyadari jika sejak tadi mereka berdua sedang berdebat di ujung ruangan coffee shop ini.

Woobin menarik kembali tangan Jihyo, menggerak-gerakkan kembali jarinya di telapak tangan Jihyo. “Para fallen angel dulunya adalah love angel yang memutuskan untuk hidup sebagai manusia di bumi, untuk tujuan apapun. Memang kami tidak bisa menjadi manusia utuh sepenuhnya. Bagi orang-orang yang bisa melihat kami, fallen angel akan telihat sama bercahayanya ketika kau melihat love angel. Namun satu bayangan sayapnya hilang dan mereka tak punya kekuatan apapun.”

Jihyo memandangi jari Woobin yang terus berputar-putar di telapak tangannya, “Lalu mengapa tiba-tiba aku bisa melihat para fallen angel?”

Woobin mengangkat jarinya dari telapak tangan Jihyo, ia membenarkan posisi duduknya. “Manusia bisa melihat para fallen angel jika memang ia punya bakat yang manusia sebut indera keenam. Namun, cara satu lagi untuk melihat fallen angel adalah ciuman dari love angel.”

“Ya!” Jihyo menjitak kepala Woobin. “Woobin oppa paboya! Kalau begitu mengapa kau menciumku, hah?”

“Ralat Choi Jihyo, aku melindngimu supaya tidak menghantam pintu!”

“Haduh, akhirnya aku melihat pasangan favoritku kembali bersama namun sekarang kalian malah saling berteriak satu sama lain!” seru seorang yeoja dengan perut besar sambil berjalan tertatih ke meja Jihyo dan Woobin.

“Dia cari gara-gara denganku, unnie!” adu Jihyo.

“Sebenarnya sepupumu mengusirku untuk tidak dekat-dekatnya, MinAh noona, makanya kau baru bisa melihat wajah tampanku hari ini,” balas Woobin yang sigap menarik kursi dan menuntun MinAh yang sedang hamil tua untuk dapat duduk.

“Aku tidak mengerti dengan kalian berdua. Setiap ke coffee shopku, selalu saja bertengkar,” MinAh akhirnya dapat duduk dengan tenang. “Oiya Jihyo, ahjussi kesayanganmu sudah kembali dari Busan. Katanya ia bawwa oleh-oleh untukmu.”

“Jinja? Mana Eric ahjussi, unnie? Dia ada di belakang?” Jihyo sudah dua minggu tak bertemu dengan suami sepupunya sekaligus pemilik coffee shop yang lebih sering ia sapa dengan panggilan Eric ahjussi.

“Ne, Hyonie. Yeobo, ada Jihyo!” teriak MinAh.

Woobin baru saja akan kembali duduk di kursinya, namun ia urungkan niatnya. Ia berbalik ke arah Jihyo dan menariknya untuk bangkit. “Noona, aku lupa ada urusan dengan Jihyo. Kami pamit dulu.”

“Aduh! Oppa, aku kan mau bertemu dengan Eric ahjussi. Ada apa sih?” tanya Jihyo yang sekuat tenga menahan dirinya agar tidak bangkit dari tempat duduknya. Namun tak berapa lama ia bisa merasakan tangannya memanas.. Jihyo tau Woobin sedang menggunakan kekuatannya untuk memaksanya segera meninggalkan coffee shop, mau tak mau ia bangkit juga, daripada tangannya lepas dari badannya karena ditarik sang love angel ini.

“Kalian yakin tidak mau menunggu Eric oppa dulu?” MinAh ingin menahan keduanya namun dengan kehamilannya yang sudah tinggal menunggu hari untuk melahirkan membuatnya tak bisa bergerak bebas.

“Ne. Sampaikan salam kami pada Eric hyung, noona,” Woobin memaksa Jihyo untuk melangkah pergi sebelum Eric muncul di hadapan mereka bertiga.

“Eh, Jihyo, Woobin, kalian mau kemana?” seru suara namja tepat dibelakang Jihyo dan Woobin.

“Eric ahjussi! Woobin menarikku dan,” Jihyo menoleh ke arah namja yang memanggil namanya. Namun tubuhnya menegang. Memang sudah 2 minggu ia bisa melihat para fallen angel, namun tidak pernah sedekat ini.

+++

Jihyo mencorat-coret kertas partiturnya, ia tidak ada pikiran sama sekali untuk mengerjakan tugasnya. Yang terpikirkan saat ini malah mengenai para fallen angel. Mengapa mereka mau menjadi manusia? Apa MinAh unnienya tau jika Eric ahjussi ternyata adalah seorang fallen angel?

“Hyonnie,” Sungmin memegang pundak Jihyo.

“Ne, sunbae,” Jihyo menggeser posisi duduknya agar tangan Sungmin tak berada di pundaknya. “Ada yang bisa aku bantu?”

Sungmin tau kekikukan Jihyo saat ini, ia duduk di kursi di depan meja Jihyo. “Profesor Ahn memintaku untuk membantumu mengerjakan project akhirmu.”

“Gwenchana, sunbae. Aku bisa mengerjakannya sendiri,” Jihyo segera memasukkan kertas dan pulpen ke dalam tasnya, bersiap untuk meninggalkan kelas.

“Sebenarnya aku bohong, aku tidak diminta Profesor Ahn untuk membantumu,” Sungmin memegang tangan Jihyo, menahannya. “Aku ingin minta maaf.”

“Ne, sunbae, aku sudah maafkan,” Jihyo menarik tangannya, ia tak suka hanya berduaan seperti ini dengan Sungmin.

“Aku hanya ingin kau tau, aku tetap tak bisa melupakanmu. Maafkan aku, aku hanya bingung waktu itu,” ujar Sungmin lirih.

“Apa?” tanya Jihyo bingung. Selama setahun ini, Jihyo sudah mati-matian berusaha melupakan Lee Sungmin dari hidupnya. Dan disaat Jihyo sedang menata hidupnya kembali, Sungmin mengatakan hal yang tidak masuk akal.

“Selama tiga tahun aku bersamamu, aku selalu merasakan sedang bersama orang lain,” Sungmin mengelus kepala Jihyo. “Kau terlalu berwarna untukku, kau terlalu rumit. Aku tidak percaya dengan diriku sendiri bisa menyeimbangimu. Di saat itulah Haneul datang, Haneul terlihat sangat jelas, dia hitam putih.”

“Haneul menggodamu dan kau terpikat olehnya, tidak ada hitam putih dan berwarna. Jika menurutmu aku terlalu rumit, mengapa kita bisa bersama hingga 3 tahun lamanya?” Jihyo berusaha menahan amarahnya. Ia merasa takut sekali, takut meledak-ledak. Tiba-tiba ia berharap sang love angel bisa menyelematkan dia dari situasi mengerikan ini.

“Aku tau kau sudah mencintai namja lain. Aku mellihat dokter itu menjemputmu di depan kampus. Namun aku tetap saja tidak bisa melupakanmu. Aku bodoh,” Sungmin menggerakkan tangannya dari kepala Jihyo menuju punggung yeoja itu.

Rasanya saat waktu waktu berjalan lama sekali untuk Jihyo. Ia tak bisa mendengarkan dengan jelas perkataan Sungmin. Ia hanya terus memikirkan mengapa sang love angel tidak di sini, mungkin jika ia ada saat ini, Sungmin pasti sudah tersungkur jatuh dibuatnya. Mengapa Woobin tak ada di sini? Mungkin ini salah Jihyo karena mengusirnya waktu itu.

“Jihyo!”

Jihyo berusaha mengembalikan semua pikirannya ke situasi saat ini, seseorang memanggilnya, menyadarkannya, namun ia tak bisa melihat wujud nyata orang yang memanggilnya.

“Jihyo?”

Suara yang berbeda memanggilnya, lebih lembut, namun lemah sekali dibandingkan suara sebelumnya.

Seperti rasanya ditarik dengan cepat, Jihyo kali ini menyadari, Sungmin sudah tak lagi berbicara dengannya, ia menciumnya. Suara tadi suara Sungmin memanggilnya. Bagai kena hantam batu besar, Jihyo tau harusnya sejak tadi ia tak memanggil love angelnya.

Woobin telah berdiri tepat di hadapannya saat ini.

+++

“Oppa, aku tau kau di sini, muncullah,” sudah semalaman ini Jihyo terus menerus berbicara sendiri. Ia tak mengerti mengapa Woobin tak mau menampakkan dirinya. “Aku tau kau marah kepadaku, tapi jangan biarkan aku sendirian seperti ini.”

“Aku tidak mengerti mengapa kau masih mencintai Sungmin-ssi,” Woobin tiba-tiba muncul di samping Jihyo, dalam wujud aslinya, yang hanya sekali Jihyo lihat saat pertama kali Woobin menampakkan dirinya. Kini Jihyo bisa melihat bahwa Woobin memang benar-benar memiliki sayap, sayap yang saat lembut bahkan terlihat seperti bayangan. Kulit sang malaikat kini terlihat putih, bahkan cenderung pucat.

“Aku tidak mencintainya lagi,” Jihyo berusaha menata setiap kata yang diucapkannya. “Aku tau bahwa kau tidak mengizinkanku untuk dekat dengannya lagi.” Jihyo terdiam sejenak. “Kau love angelku, kau tau siapa namja terbaik untukku, iya kan?”

Woobin menekuk lututnya dan merapatkan tubuhnya, memeluk lututnya. “Ne, aku love angelmu.” Sayapnya kini ikut menekuk, menutupi setengah tubuhnya, “Sayangnya aku tak tau siapa namja terbaik untukmu.”

Harusnya Jihyo marah dengan perkataan Woobin. Dia love angelnya, dia yang harusnya tau siapa namja terbaik untuk Jihyo. Mungkin juga dialah yang membuat Jihyo dan Sungmin menjadi sepasang kekasih dulu. Namun Jihyo tak marah, ia malah menyenderkan kepalanya ke sayap Woobin yang ternyata sangat dingin.

“Gwenchana, asal kau terus bersamaku, oppa. Aku tak akan kesepian lagi.”

+++

Jihyo berlari menyusuri lorong rumah sakit. Ia melihat Eric ahjussi terduduk di ujung ruangan. “Ahjussi, bagaimana MinAh unnie?”

Eric memandang Jihyo dengan tampang lelah namun bahagia. “Aku akhirnya menjadi seorang ayah dari bayi perempuan.”

Jihyo berteriak kencang hingga semua orang di lorong rumah sakit menengok kepadanya. Ia buru-buru meminta maaf dan memeluk Eric.

“Chukkae, ahjussi! Aku jadi seorang imo!” Namun Jihyo buru-buru melepaskan pelukannya. Baru pertama kali Jihyo bertemu dan memelluk ahjussi favoritnya setelah ia tau bahwa ahjussinya merupakan seorang fallen angel.

Eric sadar dengan reaksi Jihyo, ia mengacak-acak rambut sepupu istrinya itu. “MinAh saat ini belum bisa ditemui. Kau mau menemanimu mengobrol sebentar?”

Jihyo mengangguk dan segera duduk.

“Kau pasti sudah tau wujudku yang sebenarnya kan?” Eric memulai pembicaraannya.

“Ne, dan kau tau, untuk seorang ahjussi renta sepertimu, kau mengagetkanku,” Jihyo berusaha bercanda, Eric malah menjitaknya.

“Kau ini tetap saja mengejekku,” Eric tertawa. “Aku marah kepada Woobin saat itu.”

“Wae?”

“Dia membahayakanmu,” Eric meraih tangan kanan Jihyo. “Dia ternyata benar-benar sudah membuatnya.”

“Membuat apa ahjussi?”

“Segel,” Eric mengangkat tangan kiri Jihyo, “Namun belum selesai. Telapak tangan kirimu masih bersih.”

“Chakkaman,” Jihyo menarik kedua tangannya. “Aku tidak mengerti.”

“Untuk seseorang yang memiliki indra keenam sejak lahir mungkin mereka terbiasa melihat hal-hal aneh yang tak bisa dilihat manusia biasa pada umumnya. Namun untuk seorang manusia biasa yang tiba-tiba bisa melihat kami para fallen angel, itu sebuah penyiksaan. Banyak diantara kaummu yang menderita, bahkan hingga bunuh diri karena tak sanggup memiliki bakat penglihatan seperti itu.”

“Aku baik-baik saja, ahjussi. Memang awalnya aku kaget melihat para fallen angel, tapi aku sudah terbiasa,” Jihyo mengelus telapak tangan kanannya, ia tak bisa melihat rune yang dibuat oleh Woobin.

“Kau belum melihatnya berarti,” Eric menghela napas sejenak. “Itu bukan masalah, Woobin sudah membuat segel pengunci untukmu, namun belum selesai. Tangan kirimu harus digambari segel juga agar kau tak bisa melihat kami lagi.”

“Para fallen angel?” Jihyo berharap ia tak mendengar jawaban mengerikan dari Eric.

“Kami semua, fallen angel dan love angel,” Eric berdesis saat mengucapkannya.

“Aku tidak mau!” Jihyo bangkit dari duduknya. “Aku baik-baik saja, ahjussi! Aku senang melihat kalian, aku, aku tidak mau tidak bisa melihat love angel lagi!”

Jihyo menoleh saat melihat seorang yeoja berteriak setengah berlari mengikuti para suster yang membawa seorang namja masuk ke ruang UGD. Darah menutupi tubuh namja dan yeoja tersebutt. Yeoja itu terlihat tak apa-apa, namun dari pandangan sekilas saja Jihyo tau hal yang sangat buruk terjadi pada namja tersebut.

“Yoojae! Yoojae!” yeoja itu terus memanggil nama namja tersebut. “Kumohon, tetaplah hidup,” sesaat yeoja itu meraih tangan namja tersebut sebelum para suster menutup pintu ruangan UGD.

Sesaat sesudahnya Jihyo berteriak, Eric berusaha menariknya pergi keluar dari rumah sakit. Jihyo melihat yeoja itu mengeluarkan cahaya dari tubuhnya, menyalurkannya melalui tangan namja tersebut. Yeoja itu terjatuh, ia hanya memiliki satu bayangan sayap, dan kini sayapnya tiba-tiba berubah menjadi batu dan jatuh menghantam lantai, pecah berkeping-keping. Napas yeoja itu tersengal-sengal hingga akhirnya ia terjatuh dan membatu.

Di mata manusia biasa, yeoja tersebut hanya pingsan, dan tak pernah bernapas lagi.

+++

“Maafkan aku,” Woobin membelai rambut Jihyo yang sedang terlelap. “Aku tak bisa menahan diriku untuk mencintaimu. Aku harusnya menjalankan tugasku sebaik mungkin.”

Namja itu memandangi setiap lekuk wajah Jihyo. Ia tersadar mengapa kaumnya banyak yang terjatuh dan memilih menjadi fallen angel, manusia memang sangat memikat.

“Aku tak ingin kau melihat semua kengerian,” Woobin meraih telapak tangan kiri Jihyo, menempelkan jarinya ke permukaan kulit Jihyo. “

“Aku ingat bagaimana cara Sungmin menatapmu,” Woobin mulai menggerakkan jarinya di telapak tangan Jihyo. “Aku bingung mengapa seorang namja bisa menatapmu seperti itu. Aku tidak mengerti apa kelebihanmu sehingga Sungmin menatapmu seperti itu. Aku mulai mempelajarimu lebih jauh.”

Woobin menghentikan gerakan jarinya. “Aku tak tau jika kau bisa sememikat ini. Aku tidak tau jika aku betul-betul bisa terjatuh hanya karena dirimu.”

“Aku tidak ingin tidak bisa melihatmu,” Jihyo membuka matanya. “Kau love angel terbaik yang pernah kumiliki, oppa.”

“Pabboya!” Woobin menjitak pelan Jihyo. “Selama kau hidup kau hanya punya satu love angel.”

Jihyo tersenyum, “Jangan tinggalkan aku ya. Jangan buat aku tidak bisa melihatmu lagi.”

“Jihyo,” Woobin berusaha menyelesaikan segelnya, namun ia tak bisa menggerakkan jarinya. “Aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu, love angel.”

Woobin tersenyum getir, ia tau Jihyo selama ini hanya menganggapnya sebagai seorang love angel, pelindungnya, tak kurang dan tak lebih.

“Jeongmal saranghae, Choi Jihyo,” Woobin mencium bibir Jihyo, ia kini tau mengapa manusia senang melakukan ini. Ciuman membuat dirinya hangat dan bisa merasakan seberapa besar dirinya mencintai Jihyo.

Dan Woobin pun menghilang.

+++

“Senang rasanya bisa kembali ke Seoul!” teriak Henry, violist rekan Jihyo di orchestra, sambil membawa secangkir cappucino dan ice green tea latte ke mejanya.

“Kurasa kau bukannya senang pulang ke Seoul, tapi karen kau sudah rindu melihat wajah yeoja itu, benar kan?” Jihyo mengambil ice green tea latte dan menyeruputnya.

“Hehe, kok kau bisa tau?” Henry merapihkan rambutnya, sesekali melirik jam.

“Sepanjang kita tur di Eropa, kau terus menerus menceritakan tentang yeoja itu padaku. Aku hampir mau muntah,” Jihyo pura-pura mempraktekkan dirinya muntah, namun cepat-cepat ia hentikan karena tak ingin mengganggu pengunjung lain. “Kenapa sih kau tidak mencoba menghampirinya dan memperkenalkan dirimu kepadanya?”

“Aku tidak percaya diri,” Henry tertawa kencang. Jihyo paling sebal jika Henry tertawa semua giginya yang rapih dan putih akan terlihat jelas. Itu seperti mengejek dirinya yang tidak memiliki gigi semengkilap Henry.

“Kau ini sudah 1 tahun datang ke coffee shop di dekat StarFive Hospital hanya demi memandangi dia beristirahat di kala waktu istirahatnya dan masih tak berani memperkenalkan diri? Henry, jarak coffee shop dengan studio kita itu setengah jam tau!” Jihyo merutuk-rutuk sebal.

“Masih mending aku daripada kau sudah 5 tahun menolak semua namja di dunia ini. Mulai dari Hyunjung, Seungri, Daeran, lalu si model itu siapa namanya? Minho! Kemarin juga siapa namanya si pianist yang dari Inggris itu? Andrew? Kau ini suka namja atau tidak sih?”

Jihyo hanya bisa tersenyum. Ia tak bermaksud menjauhi semua namja yang berusaha mendekatinya. Namun setiapa da namja yang mendekatinya, Jihyo selalu merasa itu bukanlah perasaan mereka yang sesungguhnya, mereka seperti tidak mencintai Jihyo karena kesadaran mereka sendiri. Melainkan karena mereka digerakkan oleh love angel untuk menjadi kekasih hatinya.

“Aku hanya belum bisa menemui namja yang mencintaiku sepenuh hatinya,” Jihyo memandang ke arah pintu coffee shop. Ia melihat sekelopok dokter memasuki ruangan. “Yeoja itu kan?”

“Dokter Jung!” Henry seketika bersikap cool, padahal sedetik yang lalu bisa masih bersikap seperti bocah umur 5 tahun yang meniup-niup kopinya yang masih panas.

“Hahahaha, Henry pabboya!” Jihyo menertawai rekannya yang sedang kasmaran ini. “Kau mau kue? Aku lapar.”

Henry tak menjawab, matanya terus mengikuti setiap gerakan dokter Jung. Jihyo mengangkat bahunya, ia memutuskan membelikan Henry kue apa saja.

Jihyo berjalan menuju stall kue di dekat kasir, ia melihat-lihat sejenak, beberapa kue terlihat sangat menggoda bagi perut yang kosong.

“Hot espresso, satu,” ujar seorang namja di sebelah Jihyo. Jihyo sudah lama tak mendengar suara itu, mengapa baru setelah 5 tahun ia mendengarnya kembali?

Ia menoleh, seorang namja dengan jas dokter sedang menunggu hot espressonya selesai dibuat. Tingginya menjulang, kulitnya yang putih tetap membuat Jihyo familiar meskipun kini rambut hitam legamnya telah berubah menjadi dark red.

Dan tak terlihat lagi bayangan sepasang sayap di belakang punggungnya. Hanya ada satu sayap yang tersisa.

“Annyeong, my fallen angel,” Jihyo berbisik, senyumnya mengembang.