Annyeoooong !
@gyumontic is back.
Langsung aja ya. Ini sequel dari Hard To Let You Go.
Semoga pada suka ya.

Mmuah. Enjoy!

*****
Aku adalah tipe orang yang tidak bisa berpisah dari benda-benda yang aku sukai. Shim Johee, sekretarisku, sudah paham betul apa yang akan terjadi jika aku hidup tanpa peralatan game dan botol-botol wine-ku. Aku bisa marah hanya karena salah ketik satu huruf pada dokumen-dokumen yang diserahkan kepadaku. Semua akan menjadi lebih parah kalau aku berpisah dari pawangku.

“SHIM JOHEE!!!” Teriakku dengan keras. Aku yakin sekretarisku bisa mendengar teriakanku walaupun ruanganku dan ruangannya dibatasi oleh tembok setebal 10 cm.

Dengan tergopoh-gopoh, Johee masuk ke dalam ruanganku. Ia masuk dengan membawa handphone-nya dan menyerahkannya padaku. Tanpa perlu aku bertanya, Johee sudah menjawabnya, “Belum ada kabar lagi, sajangnim. Mungkin ia masih ada di dalam pesawat.”

Aku membaca histori pesan antara Johee dan pawangku. Pesan terakhir yang dikirimkan si pawang sekitar 18 jam lalu, bunyinya : Aku baru naik pesawat. Aku akan bilang padamu kalau sudah sampai. Bilang pada bos-mu, jangan bolak-balik meneleponku. Dia harus fokus dengan pekerjaannya.

Aku menyerahkan kembali handphone Johee. “Seharusnya dia sudah sampai kan?”

“Tapi handphone-nya belum bisa dihubungi, sajangnim.”

Aku menghubungi satu-satunya serangkaian nomor yang bisa aku hafalkan luar kepala. Lima detik pertama serasa lima tahun bagiku karena tidak kunjung ada nada sebagai indikator panggilanku tersambung atau tidak.

“Maaf. Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi.”

“Sial!” Saking kesalnya, aku melempar handphone-ku dengan asal.

“Ckckckck! Apa bos-mu selalu seperti ini, Johee-ssi?” Tegur seorang wanita yang tiba-tiba muncul di pintu ruanganku. Ia berjalan dengan anggun menuju meja kerjaku. Di tengah jalan, ia memungut handphone malang yang tadi aku lempar. “Harusnya kau melaporkan padaku setiap perbuatannya dengan detil, Johee-ssi. Handphone ini sudah yang keberapa sejak aku pergi?” Pawangku sudah kembali.

“Baru yang pertama, Hyejin-ssi,” jawab Johee dengan penuh hormat.

Hyejin menatap curiga pada Johee tapi ia tidak mendesak Johee. Ia menatap padaku. “Handphone yang keberapa, Cho Kyuhyun-nim?” Tanyanya dengan gigi nyaris terkatup rapat. Tatapannya sangat mengerikan. Satu-satunya tatapan yang membuatku takut.

“Baru satu. Sebuah kemajuan kan?” jawabku jujur.

Hyejin menatapku tidak percaya. Agak sulit membuat perempuan ini percaya padaku karena ia tahu betul kelakuanku kalau ia berpergian. Terakhir kali ia pergi, 3 minggu ke Jerman, aku menghabiskan 5 handphone sebagai pelampiasan kekesalanku kalau tidak bisa menghubunginya.

“Aku tidak bohong, sayang. Sungguh,” kataku lagi dengan manja, berusaha meluluhkan hatinya.

Hyejin menerima jawabanku. Ia meletakkan handphone-ku di atas meja kerjaku. “Kau tidak boleh melakukannya lagi. Arraseo?”

“Ne. Arra,” sahutku.

Hyejin lalu bicara pada Johee, “Apa saja yang dilakukan bos-mu selama dua minggu ini? Apa dia punya hobi baru selain marah-marah?”

Johee menggelengkan kepalanya, entah karena dia takut kepadaku atau dia sudah kebal dengan semua omelanku. Hyejin tersenyum. “Lain kali jangan berbohong padaku ya, Johee-ssi. Kau boleh kembali bekerja,” ujar Hyejin. Johee pun keluar dari ruanganku. Kadang aku berpikir sebenarnya pemilik perusahaan ini aku atau perempuan ini.

“Kenapa para pegawaiku begitu menghormatimu?” Tanyaku heran.

Hyejin tersenyum angkuh. “Karena aku satu-satunya yang dapat menyelamatkan mereka kalau kau sedang marah-marah,” jawabnya yang ada benarnya.

Hyejin mendekatiku. Ia berdiri dengan bertumpu pada tepi meja kerjaku. “Kau harus mengubah perangaimu yang satu itu. Kurangi marah-marah pada pegawaimu. Mereka itu yang banyak membantumu sampai kau bisa menjadi sesukses ini. Tanpa mereka, kau tidak bisa apa-apa,” ujarnya serius.

“Iya aku tahu,” jawabku malas-malasan. Aku ingat bahwa pegawaiku adalah pendukung nomor satu dalam kesuksesanku. Aku ingat!

Perempuan ini terlalu banyak bicara. Apa dia tidak merasakan hal yang sama denganku? Rasa tersiksa setengah mati karena terpisah dengan orang yang paling dicintai, walau hanya 1 hari.

Aku terlalu merindukannya. Aku menariknya duduk di pangkuanku. Aku mengikatnya dengan cara melingkarkan tanganku di pinggangnya dan menjepit kakinya di antara kedua kakiku. “Aku merindukanmu,” kataku tanpa basa-basi. Aku menempelkan hidungku di lehernya, menghirup wangi tubuhnya yang sudah sangat aku rindukan.

Hyejin menarik kepalaku dengan lembut, memisahkanku dari lehernya. Ia menatap langsung ke dalam mataku. “Berjanjilah padaku kau akan mengurangi sifatmu yang suka marah-marah itu,” katanya sambil membelai pipiku dengan lembut.

“Aku berjanji,” sahutku tanpa pikir panjang. Aku tidak peduli aku harus bagaimana. Aku tidak peduli apapun permintaannya, aku akan menuruti semuanya. Saat ini, aku hanya peduli pada gadis yang sangat kurindukan ini. Aku kembali meletakkan hidungku di lehernya. Sesekali aku menciumi leher jenjangnya itu.

“Apa kau akan kembali meninggalkanku?” Tanyaku yang sudah hafal jadwal padatnya sebagai model eksklusif Dior.

“Tidak dalam waktu dekat,” jawabnya. Ia menyusupkan wajahnya di rambutku dan aku bisa merasakan ciuman-ciumannya yang membangkitkan seluruh gairah di dalam tubuhku yang sudah tertahan selama 2 minggu.

“Syukurlah.” Aku bergerilya menciuminya dari leher kemudian naik ke bibirnya, pipi, kening, kembali ke leher dan turun ke bahunya.

Nafasku tertahan menikmati ini semua. Aku yakin aku akan memporakporandakan pakaian gadis ini kalau Johee tidak tiba-tiba masuk dan memberitahukan rapat ketigaku hari ini akan segera dimulai. “Tunggu aku. Aku tidak akan lama,” ujarku kecewa. Aku ingin menghabiskan waktu dengan Hyejin bukan dengan rapat entah membahas apa.

Hyejin tertawa geli melihat kekecewaanku. Ia membantuku merapikan pakaianku, rambutku dan menghilangkan bekas-bekas lipstiknya yang menempel di bibirku. Aku menunggunya menyelesaikan pekerjaannya sambil mencuri ciuman-ciuman di bibirnya. “Ingat. Tunggu aku,” kataku sekali lagi untuk mengingatkannya bahwa ia tidak boleh pergi ke luar ruangan ini tanpa diriku.

“Iya, aku ingat. Sekarang berhenti menciumku kalau kau tidak mau orang-orang di ruang rapat melihat bibirmu merah merona,” katanya sambil menyapukan tisu di daerah bibirku untuk terakhir kalinya. Aku berhenti menciumnya.

Hyejin memelukku sebelum aku pergi rapat. “Johee-ssi, kalau bos-mu berbuat macam-macam langsung laporkan padaku ya,” pesan Hyejin kepada sekretarisku.

Johee tertawa. “Aku pastikan hal itu tidak akan terjadi, Hyejin-ssi,” sahut Johee. Tentu saja hal itu tidak akan terjadi. Buat apa aku marah-marah kalau sumber ketenangan dan kedamaian hidupku sudah kembali?

—-

Pawangku alias Hyejin, satu-satunya orang yang dapat mengendalikan emosiku, menenangkanku, meredam amarahku dan hal-hal lain, sedang terlelap nyenyak di ruangan khusus di belakang ruang kerjaku yang biasa aku gunakan sebagai tempatku untuk istirahat atau menginap kalau hari sudah terlalu larut untuk pulang. Mungkin ia masih lelah setelah berbelas-belas jam terbang dan langsung menemuiku.

Aku mendekatinya. Ternyata ia menyadari kedatanganku. ” Rapatmu sudah selesai?” Tanyanya dengan suara parau selayaknya orang yang baru bangun tidur.

Aku menganggukkan kepalaku kemudian membaringkan tubuhku di sebelahnya. Menyusupkan lenganku di bawah kepalanya, membiarkannya menjadikan lenganku sebagai bantalnya. “Tidurlah lagi,” ucapku.

Hyejin tersenyum lemah. Ia memelukku kemudian memejamkan matanya lagi. “Terima kasih, tampan,” ucapnya membuatku tertawa geli.

“Berhenti memujiku. Aku lebih ingin mendengar pernyataan cinta dari mulutmu,” kataku.

Hyejin hanya tersenyum menggodaku. “Memangnya kau mencintaiku?”

Perempuan ini pasti sedang tidak waras. Aku nyaris tidak bisa hidup normal tanpa dirinya dan dia masih berani bertanya apa aku mencintainya atau tidak. “AKU MENCINTAIMU!” Seruku tanpa ragu-ragu.

Hyejin tersenyum geli. “Aku tahu,” ucapnya sambil menyeringai jahil. Ia tidak mau mengatakan cinta padaku karena ia ingin menggodaku.

Aku tidak tahan untuk tidak menciumnya. Aku mengulum bibir empuk Hyejin dan semakin lama semakin menuntut. Hyejin mendorongku agar menjauh. “Aku mohon tidak sekarang. Aku benar-benar butuh tidur, sayang,” ujarnya.

Aku mengalahkan ego-ku. Aku membiarkan Hyejin tidur dalam pelukanku sedangkan aku memuaskan mataku dengan mengamati gadis cantik ini. “Selamat tidur,” bisikku.

—–

Aku merasakan ada beban berat di atas tubuhku. Selain itu aku juga merasakan ada yang membuat geli di sekitar leherku. “Apa-apaan ini?” Racauku sambil meraba-raba bagian leherku.

Aku menemukan sebuah kepala yang sangat aku kenal. “Apa yang sedang kau lakukan?” Tanyaku pada gadis yang entah sejak kapan berada di atasku. Seingatku, ia tidur dalam pelukanku tadi.

Hyejin menyeringai nakal. “Memberikan sedikit tanda bahwa kau milikku,” ujarnya.

Aku tertawa sama nakalnya dengan seringaiannya. “Lalu mana tanda bahwa aku memilikimu?” Tanyaku.

“Cih! Jangan berpura-pura. Waktu aku mandi, aku menemukan tanda ini. Aku yakin betul tadi tidak ada. Kau yang membuatnya kan?” Tangannya menunjuk kulit leher di bawah telinganya yang agak kemerahan karena perbuatanku.

Aku hanya tertawa. Dia benar. Aku yang membuatnya ketika ia terlelap begitu menempel denganku dan aku tidak bisa menahannya lagi. “Tapi letaknya terlalu tersembunyi. Orang-orang tidak bisa melihatnya.”

“Astaga! Ini jelas terlihat. Aku terpaksa memakai syal untuk menutupinya,” ocehnya.

“Letaknya tersembunyi. Rambutmu menutupinya,” kataku.

“Tidak usah banyak bicara lagi. Ayo siap-siap. Aku mau makan malam dengan teman-temanku.”

“Teman-temanmu? Lalu aku?”

“Kau masih punya waktu sebulan untuk menghabisiku, sayang,” katanya dengan kerlingan mata yang menggoda dan gerakan tubuh yang membuatku sesak nafas. “Kau mau ikut atau tidak?”

“Ikut,” jawabku lemas. Lebih baik aku ikut daripada aku sendirian di rumah ini.

“Kajja!” Ia menarikku bangun dan mendorongku masuk ke dalam kamar mandi.

Untung, aku masih bisa mengontrol hasratku. Kalau tidak, mungkin aku akan menarik lepas bathrobe-nya, menelanjanginya dan menghabisinya saat ini juga. “Aaaaaargh!!!” Keluhku.

—–

Semua orang menganggapku dan Hyejin adalah pasangan paling intim dan liar akibat kami yang tidak bisa menahan kemesraan kami di tempat umum sekalipun. Ada yang iri tapi ada juga yang muak. Aku hanya ingin bilang, cobalah bertemu dengan kekasihmu seminggu lalu berpisah 2 minggu atau sebulan lalu bertemu lagi seminggu kemudian berpisah lagi sebulan. Apa yang akan kau rasakan?

Aku dan Hyejin menjadi yang pertama tiba di tempat janjian Hyejin dengan teman-temannya. Ruangan itu masih kosong. Aku dan Hyejin mengambil tempat duduk di sofa yang membelakangi pintu masuk. “Kenapa sih rambutmu selalu berantakan?” Omelnya sambil menyisir rambutku dengan jari-jari tangannya.

“Sudahlah. Nanti juga akan berantakan lagi,” kataku yang sudah mengerti betapa kerasnya rambutku ini. Seribu kali aku menyisir, seribu satu kali ia akan kembali berantakan.

“Berarti kau harus semakin sering menyisir, sayang,” katanya. Ia menangkup wajahku dengan tangannya, memperhatikan hasil pekerjaannya di rambutku. “Nah, begini kan lebih tampan.”

Hyejin berada hanya beberapa senti di depanku dan ia terlihat sangat cantik menggoda malam ini. “Menjauhlah atau lipstikmu akan berantakan saat ini juga,” kataku.

Hyejin hanya tertawa semakin menggodaku. “Aku tidak keberatan. Aku bawa lipstiknya,” bisiknya kemudian mencium bibirku. Aku sengaja tidak membalasnya, demi keamanan bersama, tapi Hyejin bergerak semakin gencar menggodaku. Dia menciumku semakin liar bahkan menempelkan tubuhnya dengan gerakan-gerakan yang berbahaya diiringi tarikan-tarikan nafas yang mengganggu kesadaranku.

Dengan terpaksa, aku mendorong Hyejin untuk kembali duduk ke tempatnya. “Diamlah kalau kau mau makan malam ini berjalan lancar. Jangan menggodaku,” ujarku.

Hyejin hanya tersenyum nakal. Dia tahu aku sudah termakan godaannya. Aku memang begitu mudah terjebak dalam godaannya. Setiap hal yang aku lakukan padanya memang adalah hal-hal yang ingin aku lakukan tapi perempuan ini selalu menjadi pihak yang memancingnya keluar. Dasar.

—–

Meski aku tidak bisa terpisah dari barang-barang kesayanganku, percaya atau tidak, aku punya hobi menghilangkan barang-barang yang aku sukai. Aku pernah menghilangkan PSP-ku dan dengan mudah aku akan mendapatkannya lagi. Johee selalu cepat tanggap sebelum semuanya terlambat. Tapi aku pernah menghilangkan sesuatu yang Johee pun tidak bisa memberikan jalan keluar.

Aku pernah menghilangkan Hyejin dari kehidupanku dan itu menjadi penyesalan terbesarku.

Kami bertengkar hebat dan aku terlalu emosi sehingga memutuskannya begitu saja. Masalah kami waktu begitu simpel. Bisa diselesaikan dengan bicara dari hati ke hati. Seharusnya.

Hyejin cemburu pada seorang wanita yang mendekatiku dan ia minta aku untuk menjauh. Karena waktu itu aku sedang stress, aku malah memarahi Hyejin dan tidak mendengarkan satu kata pun yang keluar dari mulutnya. “KITA PUTUS!” Teriakku tanpa ragu dan Hyejin pun menghilang.

Selama sebulan, aku hidup seperti orang gila. Aku bekerja 24 jam non-stop. Pegawaiku bolak-balik mengeluh tapi aku tidak mau mendengarkan mereka. Aku tidak mau mendengarkan siapapun kecuali ibuku. Ketika ia bilang aku harus istirahat, maka aku akan pulang dan memeluknya, menumpahkan semua penyesalanku dengan menangis.

“Apa yang terjadi?” Tanya eomma berkali-kali padaku setiap aku menangis kepadanya tapi aku tidak sanggup untuk menjawab. Aku tidak sanggup mengatakan bahwa hubunganku dengan Hyejin telah berakhir. Aku hanya menangis.

Selama sebulan itu, aku tidak berani menemui Hyejin karena aku begitu merasa bersalah kepadanya tapi aku begitu tersiksa karena tidak bisa menemuinya. Sampai suatu ketika, Hae Guk, bartender di club tempat aku dan Hyejin suka berkumpul dengan teman-teman kami menelepon. Ia memberitahukan Hyejin dan Siwon hyung sedang mabuk berat. Selain itu, Hyejin sedang bersama dengan seorang laki-laki.

Tanpa ragu aku langsung menjemput Hyejin. Aku bisa menemukan Hyejin dengan mudah di tempat gelap dan sesak seperti ini. Indera penglihatan dan penciumanku seketika berubah manjadi sangat tajam jika berurusan dengan Hyejin.

Aku menemukannya tertidur di pinggir bar dengan seorang pria yang sedang memeluknya. Aku tidak kenal pria itu dan aku tidak ingin mengenalnya. Aku mendorong pria itu menjauh dari Hyejin dan kemudian menggendong Hyejin ke dalam mobilku. Hae Guk membawa Siwon hyung. Mereka berdua benar-benar tidak sadarkan diri saat aku membawa mereka pulang.

Aku meletakkan Hyejin di kamarku sedangkan Siwon hyung kubiarkan saja tergeletak di ruang tamu. Aku menyelimuti Hyejin dan membiarkannya tidur nyenyak sampai keesokan paginya. Ia muncul di depanku dan kedua orang tuaku yang sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri.

“Maafkan aku aboeji tapi aku sedang buru-buru. Lain kali aku akan mampir ya,” kata Hyejin lalu meninggalkan rumahku.

Ia pergi dari rumahku tanpa menganggapku ada. Ia hanya sekali menatapku dan itu cukup membuatku meringis menyesali perbuatanku.

Karena aku tahu bahwa aku tidak boleh lagi melepaskannya. Aku menyusulnya. Aku menahannya untuk tidak pergi dariku. Aku bahkan memohonnya untuk tidak pergi sampai menangis, di pinggir jalan raya yang ramai.

“Aku mohon jangan pergi. Kalau kau tidak bisa kembali, aku mohon jangan pergi. Maafkan aku,” ucapku.

Kupikir waktu itu Hyejin akan menghajarku lalu meninggalkanku yang telah begitu menyakitinya. Tapi yang ada dia hanya berdiri, menatapku sambil menangis.

“Jangan pernah lagi menyuruhku pergi. Kau juga tidak boleh meninggalkanku,” katanya dengan terbata-bata karena senggalan nafasnya selama ia menangis.

Aku buru-buru memeluknya, menciumnya, berterima kasih sekaligus meminta maaf atas kebodohan yang pernah aku buat. Sampai saat ini aku masih merasa itu perbuatanku yang paling totol yang pernah aku lakukan. Meninggalkannya.

“KYU!!! YAA! CHO KYUHYUN!!!!” Suaranya menyadarkanku dari lamunan tengah malam.

Aku tersenyum kepadanya yang sedang berdiri di sampingku dengan wangi sabun yang menguar menusuk hidungku, mengganggu keteguhan imanku. “Apa yang sedang kau pikirkan? Kau tidak mandi?” Tanyanya.

Bagaimana aku bisa mandi kalau yang ada dia duduk di sebelahku, meletakkan kepalanya di bahuku sambil memelukku dengan erat seolah tidak memperbolehkan aku pergi selangkah pun. Aku mencium puncak kepalanya.

“Kau sedang nonton apa sih?” Tanyanya lagi.

Aku terlalu lelah untuk menjawab. Aku mencium keningnya lalu merangkul bahunya, mendengarkan semua ocehannya, komentarnya atas acara televisi yang tidak sesuai dengan keinginannya.

“Bicaralah sepuasmu. Aku akan mendengarkannya dengan baik. Aku bahkan akan mengingat setiap katanya dengan baik karena itu lebih mudah kulakukan daripada harus hidup tanpa dirimu,” kataku dalam hati. Dalam hati. Jangan sampai Hyejin mendengarnya.

Kalau Hyejin sampai mendengar kalimat itu dari mulutku langsung, ia pasti akan menjajahku. Tidak pernah mendengarnya saja, ia sudah begitu mudah mengontrolku apalagi kalau mendengarnya? Tidak akan aku biarkan.

Aku tidak akan pernah membiarkannya pergi lagi, selamanya.

Kkeut!
Xoxo
@gyumontic