Semakin sering aku bergaul dengan mereka semakin sering kepalaku geleng-geleng setiap melihat hal-hal aneh bin ajaib yang kadang masih tidak aku percaya meskipun terjadi di depan mata kepalaku sendiri. Werewolf, Mind Reader, Penyihir, Sighter, Vampire, dan entah apalagi teman-temanku sekarang.

“Eonni, kau curang!” Protesku saat melihat pengumuman nilai dengan Jihyo eonni.

Jihyo eonni yang mendapatkan nilai A+ untuk semua pelajaran hanya karena ia bisa membaca pikiran para dosen dan tentu saja dengan bantuan HyunAh eonni yang bisa melihat masa depan tentang soal-soal ujian apa saja yang akan keluar.

Jihyo eonni hanya menyeringai jahil. “Kau sih sok teladan. Salah sendiri,” katanya sambil tertawa terbahak-bahak.

Aku membandingkan nilaiku dengan nilai Jihyo eonni untuk mata kuliah yang sama-sama sedang kami ambil dan nilaiku selalu berada di bawahnya kecuali untuk mata pelajaran matematika dan lainnya yang berhubungan dengan angka.

Aku memanyunkan bibirku karena kesal. Memang salahku sih karena aku tidak mau menggunakan keahlian HyunAh eonni untuk melihat soal-soal ujianku tapi tetap saja Jihyo eonni juga salah. Aku kesal padanya karena ia mendapat nilai bagus karena sudah tahu soalnya lebih dulu bukan karena belajar keras seperti mahasiswa yang lainnya.

“Sudahlah. Jangan kesal terus padaku. Baru kali ini kok aku menggunakan kemampuan HyunAh eonni. Aku kan sudah hampir 8 tahun kuliah, aku harus segera lulus. Maafkan aku. Okay?” Jihyo eonni merangkul bahuku, menggiringku ke dalam ruangan khusus tempat makhluk asing atau makhluk berkemampuan khusus seperti kami berkumpul.

“Mwo? 8 tahun?” Tanyaku tidak percaya. Jihyo eonni punya kemampuan khusus untuk membaca pikiran orang. Tidak sulit baginya membaca pikiran para dosen untuk mengetahui jawaban-jawaban setiap ujiannya, bahkan dengan jawaban yang paling detil.

“Sebenarnya hanya 4 tahun. Hanya saja setiap selesai 1 tahun kuliah, aku cuti 1 tahun.”

“Buat apa?”

“Kerja. Kemampuan membaca pikiran ini bisa mendatangkan banyak uang tahu,” katanya dan aku meyakini bahwa dengan kemampuannya itu Jihyo eonni bisa berganti gadget elektronik sebulan sekali sesuka hatinya. Barang-barang yang dimilikinya pun keluaran terbaru dari brand ternama.

Aku sudah mengalihkan konsentrasiku dari Jihyo eonni kepada sekumpulan pria tampan berkulit pucat dan persis manusia hanya saja mereka memiliki magnet tersendiri yang membuat, entah hanya manusia atau semua jenis makhluk, tertarik kepada mereka. Vampires.

Aku melihat mereka duduk melingkari sebuah meja yang berjarak 5,38 meter bersudut 39 derajat dari tempat aku dan Jihyo eonni. Mereka tertawa lepas memperlihatkan gigi mereka yang rapi dan RATA untuk menyembunyikan identitas mereka sebagai vampir.

“Apa yang sedang mereka bicarakan?” Tanyaku pada Jihyo eonni berharap ia kemampuannya berlaku untuk makhluk selain manusia.

“Pembicaraan tidak penting. Perempuan, game, olahraga dan …. Perempuan,” jawab Jihyo. “Di otak mereka hanya ada perempuan. ASTAGA KIM WOOBIN!!”

Seorang pria tinggi kurus dengan tatapan mata tajam dan rambut biru elektrik tiba-tiba muncul di antara aku dan Jihyo eonni. “Maaf mengangetkan kalian tapi aku bukan Woobin. Aku Seunghyun,” katanya lalu pergi meninggalkan kami berdua begitu saja.

“Annyeong!” Sapa seorang pria yang tiba-tiba muncul di hadapan kami. Dengan wajah kaku dan tatapan matanya yang tajam, ia menyeringai kepada jahil kami. Ia sangat mirip dengan pria yang sebelumnya muncul.

“YAA KIM WOOBIN!!!”

Pria itu menyeringai kemudian mengecup pipi Jihyo eonni dengan lembut. “Maafkan aku, sayang. Aku sudah tidak sabar bertemu denganmu makanya aku langsung teleportasi kesini,” katanya dengan halus, berbanding terbalik dengan tampangnya yang menyeramkan.

“Tetap saja. Kau dan Seunghyun Oppa sama-sama suka mengagetkanku. Tidak bisakah kalian bilang-bilang dulu kalau mau tiba-tiba muncul?”

“Mana sempat, sayang. Kami, teleporter, hanya butuh waktu 1 detik untuk berpindah tempat sejauh 100 km. Bayangkan kami butuh waktu berapa detik hanya untuk berpindah dari toilet ke sini?”

“0,0001 detik,” jawabku begitu saja tanpa perlu menghitungnya.

Pria bernama Kim Woobin itu menatapku dengan heran. “Bagaimana kau bisa tahu?”

“Dia punya kemampuan memprediksi angka dengan tepat,” jawab Jihyo eonni.

Tampang Woobin terlihat sangat excited melihatku. “Aku Kim Woobin. Teleporter. Aku bisa berpindah tempat sesuka hatiku hanya dalam hitungan detik. Aku juga bisa menembus benda-benda padat,” katanya sambil menjulurkan tangannya kepadaku.

Aku menjabat tangannya dengan sopan. “Kang Hamun,” kataku memperkenalkan diri.

“Senang mengenalmu. Aku harap kita bisa berteman baik. Teleporter dan Numbers biasanya bersahabat,” katanya lagi membuatku bingung.

“Numbers?”

“Itu sebutan kami untuk manusia sepertimu. Kalian banyak membantu kaum kami. Kalian memperhitungkan dengan tepat jarak dan waktu sehingga banyak dari kami mempergunakan jasa kalian,” katanya.

“Heoh? Manusia sepertiku? Kau bukan manusia?” Otak di kepalaku rasanya sudah kusut, tidak terurai dengan baik, sehingga membuat aku kesulitan mencerna omongan Woobin.

“Kami bukan manusia tapi kami memiliki organ-organ tubuh yang sama dengan milik kalian. Fungsi pada tubuh kami juga sama dengan kalian.” Aku semakin bingung. Aku bahkan nyaris bengong mendengar penjelasan Woobin. “Bingung ya? Aku juga. Aku hanya sering mendengarnya dari orang tuaku. Mereka teleporter kelas expert yang sudah bisa teleportasi ke luar angkasa. Numbers dibutuhkan untuk kasus-kasus seperti itu,” kata Woobin lagi.

Aku hanya tersenyum lemah menyadari bakatku dan peluang-peluang yang bisa aku dapatkan sebagai Numbers. “Aku sedang berusaha mencernanya,” kataku.

Woobin masih memandangku dengan excited. Ia terlihat begitu senang bisa bertemu dengan seorang Numbers. “Oppa, jadi sekarang apa Numbers lebih menarik daripada Mind Reader?” Tanya Jihyo eonni membuat Woobin Oppa terpaksa berpaling dariku.

—–

Aku terlalu sibuk belajar sampai tidak sadar ada sepasang makhluk aneh yang entah sejak kapan berada di depanku dan bermesraan. Sudah pernah melihat pria berkulit putih pucat dengan gusi merah darah mengelus ekor berbulu putih? Aku sedang melihatnya. Vampir dan Werewolf, sepasang kekasih dengan sejarah musuh bebuyutan turun menurun, sedang mengobrol sambil saling merangkul bahu? Hyejin sedang dalam wujud serigalanya yang menggemaskan yang membuatku masih berpikir untuk memelihara seekeor anak serigala.

“Sedang belajar?” Tanya Hyejin kepadaku. Dalam sekejap, ia berubah menjadi sosok manusianya. Ekornya menghilang, begitu juga dengan bulu-bulunya.

“Sepertinya begitu,” kataku dengan ragu melihat dari 857 paragraf yang harus aku hafakan belum ada seperempatnya yang mengendap di kepalaku.

“Kapan ujiannya? Besok?”

Aku menganggukkan kepalaku dengan pasrah.

Hyejin tertawa kecil. “Sudah, minta HyunAh saja mengintip soal ujianmu. Kalau merasa bersalah, tidak usah semua dijawab dengan benar,” katanya dengan santai.

Aku menggelengkan kepalaku. Aku bersikeras untuk belajar. Kalau aku dapat nilai bagus besok itu harus karena kerja kerasku.

“Memangnya besok kau ujian apa?” Tanya Kyuhyun, vampir tampan, semua vampir memang tampan, namun tidak menarik.

“Sejarah Mental,” jawabku. Aku berusaha memasukkan semua kata-kata yang sedang aku baca dan menghafalkannya sampai ke titik koma. Dengar gosip, dosen mata kuliah ini memperhatikan jawaban mahasiswanya sampai ke titik koma.

Kyuhyun tertawa. “Kau mau soalnya?” Tanyanya.

Aku menatapnya dengan kaget. “Kau bisa melihat masa depan seperti HyunAh eonni?”

Kyuhyun menggelengkan kepalanya sambil tertawa mengejekku. “Aku tidak bisa melihat masa depan tapi aku mampu mengingat masa lalu sampai ke hitungan milidetik,” katanya dengan bangga pada dirinya sendiri. Selain tampan, vampir memang punya kecenderungan membanggakan diri sendiri.

Aku menatap Kyuhyun dengan tidak percaya. Aku belum pernah mendengarnya memiliki kemampuan seperti itu. Yang aku tahu vampir satu ini memiliki kekuatan yang tidak bisa ditandingi oleh makhluk manapun di muka bumi. Makhluk terkuat dan tidak bisa mati. Aku tidak tahu itu anugerah atau kesialan.

Hyejin tersenyum hangat kepadaku. Dia makhluk asing paling baik yang pernah aku temui selama aku tidak menyinggung mengenai usia. “Sejarah Mental kan bukan mata kuliah utama. Kalau kau tidak mau melanggar prinsipmu dengan menggunakan kemampuan HyunAh, kau bisa menggunakan kemampuan Kyuhyun. Dengan kemampuan Kyuhyun, kau harus tetap belajar,” kata Hyejin menjelaskan. Tidak, ia lebih kepada membujukku.

Untuk pertama kalinya aku melanggar prinsipku untuk tidak pernah menggampangkan kuliahku. Aku menutup buku-ku dan memilih untuk mengandalkan kekuatan Kyuhyun. “Bagaimana caranya?” Tanyaku.

Pasangan ini saling tersenyum, terutama Hyejin. Ia tersenyum paling lebar. “Dari tahun ke tahun, dosen itu selalu memberikan soal ujian yang sama. Aku ingat setiap huruf dalam soal itu. Kau mau tahu? Atau mau tahu sekaligus jawabannya?” Tanya Kyuhyun dengan senyumnya yang paling menyebalkan itu. Senyum membanggakan diri.

“Soalnya saja,” jawabku. Aku ingin mempermudah jalan kuliahku tapi separuh diriku belum rela untuk melakukan kecurangan seperti ini.

Kyuhyun menarik buku catatanku dan mulai menuliskan soal-soal, yang katanya, selalu keluar dalam ujian Sejarah Mental. Aku melihatnya menulis 10 nomor soal beserta dengan kunci jawabannya. “Aku berikan bonus dimana kau bisa menemukan jawabannya,” katanya sambil menyerahkan tulisan cakar ayamnya di buku catatanku.

“Kau yakin?” Tanyaku.

“Kalau kau sampai dapat nilai minimal 90, kau traktir aku es krim. Okay?”

Aku membaca tulisannya dan mencocokkannya dengan buku-bukuku. Mau tidak mau aku mengucapkan terima kasih karena bagaimanapun ini akan membantuku. Tinggal aku buktikan saja kebenarannya besok. “Gomawo,” ucapku.

“Anytime,” sahutnya enteng. “Kalau begitu bagaimana kalau kau ikut kami sekarang.”

“Kemana?”

Belum sempat aku mendapatkan jawaban, Hyejin sudah membereskan buku-bukuku dan Kyuhyun menarik tanganku untuk mengikutinya. Mengingat ia makhluk terkuat, tentu saja aku tidak bisa melawannya meskipun aku sudah meronta sekuat mungkin.

Kyuhyun mengajakku ke kolam renang kampus yang sepi. Hanya ada beberapa orang yang sedang menikmati dinginnya air di musim dingin seperti ini. “Mereka berenang?” Tanyaku tidak percaya dengan penglihatan mataku.

“Mereka yang kau maksud itu vampir. Kami berenang di musim dingin untuk menghangatkan tubuh kami. Salju juga. Salju membuat kami merasa lebih hangat,” ujarnya.

Kyuhyun melepas kausnya dan kemudian bergabung dengan teman-temannya di dalam kolam renang. Tentu saja mereka bukan manusia biasa. Mana ada manusia yang sanggup berenang di suhu nyaris 0 derajat seperti ini. Hanya vampir yang sanggup seperti itu.

Aku dan Hyejin duduk di pinggiran kolam, mencoba menjaga jarak sejauh mungkin dari air. “Werewolf tidak bisa berenang atau takut air? Tidak mungkin karena dingin kan? Bulu kalian kan tebal luar biasa,” Tanyaku pada Hyejin yang merasa nyaman dengan berbaring di kursi jemurnya.

“Aku tidak mau basah. Keringnya susah apalagi di musim dingin seperti ini. Aku tidak mau repot-repot,” katanya dan cukup masuk akal bagiku.

Aku melihat sekeliling. Hanya ada aku, Hyejin dan Kyuhyun serta beberapa teman-temannya. Tidak ada objek lain yang bisa kuperhatikan kecuali teman-teman Kyuhyun.

Seorang vampir pria dengan kulit putih gading pucat berdiri di dalam kolam dengan air yang hanya sebatas perutnya. Ia tampak hanya sedang bermain-main dengan air. Seorang vampir pria lagi dengan kulit coklatnya yang pucat sudah berenang 6,5 kali bolak-balik kolam berukuran panjang kali lebar 100 meter kali 50 meter. Vampir itu begitu seksi saat menyembulkan kepalanya untuk menarik nafas. Aku terus memperhatikannya dan tanpa sadar aku menghitung berapa kali ia mengayuh tangan untuk gaya bebasnya itu.

“Kau tertarik padanya?” Tanya Kyuhyun yang entah sejak kapan berada di sampingku. Ia duduk di pinggir kursi jemur Hyejin yang sedang tidur nyenyak membuat wanita itu terbangun hanya untuk mengeluh.

“Jangan membuatku basah. Kau tahu susahnya mengeringkan bulu-bulu ini kan?”

Kyuhyun pun berpindah duduk di sisi lain yang tidak menyentuh satu pun bagian tubuh Hyejin. “Kau tertarik padanya?” Tanya Kyuhyun lagi.

“Dia siapa?” Tanyaku kembali tidak paham dengan maksudnya.

“Choi Siwon. Pria berkulit coklat yang sedang berenang itu. Daritadi aku lihat kau memperhatikannya,” katanya sambil menyeringai jahil.

“Apa itu kemampuanmu yang lain?”

“Tidak. Aku hanya bolak-balik melihat ke arah sini untuk memastikan tidak ada satupun vampir yang akan menyentuh Hyejin. Karena kau satu arah dengannya, mau tidak mau aku melihatmu juga,” jelasnya dan aku bernafas lega karena ia tidak punya kemampuan lain yang aku yakin akan membuatku iri setengah mati.

“Kau tertarik dengan Choi Siwon?” Tanyanya lagi.

“Tidak,” jawabku berusaha mengingkari diri. Mana mungkin aku tidak tertarik dengannya kalau aku hanya memperhatikannya dalam kurun waktu 1 jam 28 menit 13 detik ini.

Kyuhyun tertawa keras. “Jangan berbohong. Tidak ada manusia yang tidak tertarik dengan vampir. Apalagi Choi Siwon.”

“Aku tidak tertarik padamu,” kataku.

“Karena aku sudah menutup auraku ketika bertemu Hyejin. Setiap vampir memiliki aura yang membuat orang tertarik kepada mereka. Kami bisa menutupnya kalau kami sudah menemukan orang yang benar-benar mencintai dan kami cintai.”

“Ooooh. Lalu kenapa aku tidak tertarik dengan teman-temanmu yang lain?” Tanyaku penasaran.

“Bisa jadi karena mereka sepertiku, sudah menutup aura mereka. Kalau bukan karena itu pasti karena aura Choi Siwon adalah yang terkuat di antara kami. Dia menutup aura vampir lain yang berada di sekitarnya. Kau boleh mengetesnya ketika bertemu vampir lain ketika tidak ada dia.”

“Kenapa begitu?” Aku kembali penasaran. Aku begitu ingin mengetahui dengan rinci vampir bernama Choi Siwon itu.

“Karena dia masih muda. Maksudku sebagai vampir. Aku mengubahnya beberapa tahun lalu,”

“Kenapa kau mengubahnya?”

“Ceritanya panjang, nona Kang Hamun yang manis. Aku akan menceritakannya kalau ada waktu kapan-kapan.”

Aku begitu penasaran dan ingin memaksa Kyuhyun untuk menceritakannya tapi aku tidak punya kemampuan untuk memaksanya. Apapun yang aku lakukan pasti akan terpental karena dia yang begitu kuat.

Aku kembali melihat ke kolam renang. Siwon sedang mengangkat tubuhnya keluar dari kolam itu dan kemudian berjalan ke arah….kami. Dengan gugup, aku menyiapkan diriku. Jantungku serasa berdetak 3,7 kali lebih cepat daripada biasanya. Aku melihat ia semakin dekat dan jantungku sudah berdetak 5,24 kali lebih cepat.

“Nanti malam kau akan datang?” Tanyanya pada Kyuhyun.

Aku hanya menundukkan wajahku, tidak berani membiarkan mataku melihat sosok paling sempurna yang pernah aku temui seumur hidupku. Aku hanya mendengarkan suaranya yang mampu mempercepat aliran darahku dari jantung ke seluruh tubuhku.

“Tenang saja. Aku pasti datang. Asal kau juga mengundang Jihyo,” kata Kyuhyun.

“Tidak akan. Aku tidak akan membiarkan kalian para vampir menatap adikku dengan tampang-tampang kehausan. Tidak. Tidak,” sahut Siwon.

Kyuhyun tertawa terbahak-bahak. “Aku bercanda. Aku akan datang,” kata Kyuhyun. Ia lalu menarik tanganku membuat kepalaku mengangkat dan melihat pria yang jauh lebih tampan daripada penglihatanku dari jarak 21 meter tadi. “Kenalkan ini Kang Hamun. Teman Hyejin. Teman Jihyo juga. Dia manusia biasa tapi pasti punya kemampuan khusus sampai bisa berteman dengan adikmu.”

Siwon mengulurkan tangannya kepadaku. “Choi Siwon. Kyuhyun pasti sudah bercerita banyak padamu kan? Senang berkenalan denganmu, Hamun,” kata Siwon dengan senyumnya yang semakin membuat jantungku berdetak tidak karuan.

Aku hanya mengganggukkan kepalaku. Siwon tersenyum kepadaku. “Sampai jumpa lagi, Hamun. Kyu, aku tunggu kedatanganmu,” katanya lalu pergi meninggalkan kami.

Aku memandang punggungnya yang semakin menjauh dan jantungku yang berangsur-angsur normal seiring dengan jaraknya yang semakin jauh.

“Dia kakak beradik dengan Jihyo eonni?” Tanyaku tidak percaya. Jihyo eonni adalah manusia biasa sedangkan Siwon Oppa adalah vampir.

“Yess. Aku sudah bilang kalau aku mengubahnya jadi vampir beberapa tahun lalu kan? Masa kau sudah lupa sih? Baru juga beberapa menit lalu,” kata Kyuhyun dengan kesal.

“Otakku tidak sebagus otakmu, tuan Cho,” balasku sama kesalnya. Dia pasti tidak mengerti bagaimana ketertarikanku pada Siwon mampu membuatku melupakan segala hal.

Kyuhyun menyeringai jahil. “Aku hanya bercanda. Aku itu vampir paling ramah tahu. Aku tidak pernah marah.” Aku melemparkan tatapan tidak percaya. Bagaiamana bisa dia disebut yang terkuat jika tidak pernah ada marah yang membuat ia mengeluarkan kekuatannya. “Sungguh, Hamun cantik. Aku tidak pernah marah.”

“Ya ya ya. Aku percaya kata-katamu. Kembali ke pertanyaanku tentang Choi bersaudara.

“Iya, mereka kakak beradik. Kandung.”

Sial buatku yang masih memiliki banyak pertanyaan tapi harus tahan untuk memendamnya karena si gadis werewolf menggemaskan itu sudah bangun dan merengek, “Ayo kita pulang. Aku sudah ngantuk.”

Kyuhyun yang sudah rela menutup auranya demi seekor werewolf tentu saja dengan sukarela menuruti rengekan Hyejin. Kyuhyun segera memakai kembali bajunya yang masih kering. “Ayo kita pulang,” katanya sambil merangkulku, bukan merangkul Hyejin.

“Celanamu masih basah. Aku tidak mau dekat-dekat denganmu,” kata Hyejin lalu berjalan santai di depan kami.

“Apa Hyejin selalu seperti itu? Maksudku, manja,” Tanyaku.

Kyuhyun mengacak-acak rambutku. “Dia hanya tidak suka air. Beberapa jam lagi dia juga sudah menempel padaku. Tenang saja,” kata Kyuhyun dengan tenang. Ia membiarkan Hyejin berjalan lebih dulu di depannya tanpa melepaskan perhatiannya dari gadis itu.

“Kau sudah tidak penasaran lagi soal Siwon? Tampaknya kita punya banyak waktu untuk membahasnya sekarang,” katanya.

Dengan wajah berseri-seri aku memandang Kyuhyun. Dari wajahku saja sudah ketahuan aku ingin mengetahui segalanya tentang Siwon Oppa. “Apa yang akan kau beritahukan padaku? Aku akan merekamnya dengan baik di otakku yang lemah ini.”

Buk!

Aku terus berjalan tanpa memperhatikan depanku saking aku begitu konsentrasi dengan cerita yang akan keluar dari mulut Kyuhyun. Aku menabrak seorang pria yang sangat menarik. Rambut coklatnya, kulit kuning langsatnya, matanya yang hitam legam, kulitnya yang sepanas api dan terutama senyumnya yang menarikku seolah ia adalah magnet yang sangat kuat yang membuatku tidak bisa lepas darinya. Aku hampir saja mengikuti kemana pria itu pergi kalau Kyuhyun tidak menarikku.

“Pria itu namanya Lee Donghae. Salah satu vampir tertua di generasi kami. Umurnya 259 tahun dan memiliki kemampuan untuk berjalan-jalan menembus waktu. Time traveler. Kau tertarik padanya?” Kata Kyuhyun.

Aku menggelengkan kepalaku. “Jangan bohong. Aura Donghae sama kuatnya dengan aura Siwon. Tidak ada yang tidak tertarik padanya”. Mana mungkin aku tertarik pada pria itu. Aku baru saja tertarik dengan seorang vampir bernama Siwon dan selang beberapa jam kemudian aku tertarik dengan vampir lain bernama Donghae. Apa memang vampir memiliki pesona sedahsyat itu? Atau aku yang harus segera menyelidiki diri sendiri?

—-

Penyesalan terbesarku datang ketika aku tidak membaca kisi-kisi soal yang diberikan Kyuhyun padaku hanya karena aku tidak percaya pada vampir itu. Aku memilih belajar sendiri tapi hasilnya tidak ada satupun soal yang aku pelajari keluar dalam ujian. Begitu aku lihat soal yang dituliskan Kyuhyun, 75 persen ada dalam soal. Sial. Lain kali aku harus lebih mempercayainya.

“Bagaimana ujianmu? Sukses?” Kata HyunAh eonni, mengambil tempat duduk di sebelahku.

Aku hanya mengangkat kepalaku sebentar untuk melihat HyunAh eonni dan kemudian membenamkannya lagi di atas buku-bukuku. “Aku gagal total,” jawabku lemas.

“Kok bisa? Kata Hyejin, Kyuhyun sudah memberikan kisi-kisi soal yang keluar. Kau tidak membacanya?”

Aku menggelengkan kepalaku dengan lemas. Aku membayangkan tahun depan aku akan berada di kelas itu untuk mengulangnya. “Harusnya aku percaya padanya. Aku begitu yakin padanya saat ia memberikan soal-soal itu tapi begitu aku pulang aku kembali tidak ingin menyentuhnya. Aku menyesal, eonni.”

HyunAh eonni mengelus kepalaku dengan lembut. “Hyejin kurang kuat mempengaruhimu berarti. Kalau tahun depan kau mengulang, aku akan memaksamu untuk menggunakan kekuatanku. Bagaimana?” katanya. Aku hanya menganggukkan kepalaku dengan asal.

HyunAh eonni membuka novelnya. Aku sama sekali tidak mengusiknya, bahkan dengan suara nafasku. Aku terlalu frustasi membayangkan nilaiku yang pasti dapat di bawah C atau mungkin D sampai aku juga tidak menyadari ada seorang laki-laki yang duduk di hadapanku sampai MinAh datang dan meneriakkan namanya dengan girang.

“Eric Oppa!!!”

MinAh langsung memeluk dan mencium pria itu namun pria itu langsung berubah bentuk yang jauh berbeda dari sebelumnya.

“Henry?!” Seru MinAh kaget sekaligus kesal. Pukulan bertubi-tubi pun langsung menghantam pria itu.

“Aduh!!! Maafkan aku, Min. Maaf. Aku hanya bercanda kok. Ampuunn,” pinta pria itu sambil meringis kesakitan memohon permintaan maaf dari MinAh.

Aku menatap HyunAh eonni untuk meminta penjelasan. Aku belum pernah bertemu makhluk yang satu ini. “Dia shapeshifter. Dia bisa berubah bentuk menjadi apapun,” kata HyunAh eonni dan langsung kembali fokus dengan novelnya.

MinAh terus memukul pria itu dan kemudian pria itu berubah menjadi sebuah boneka beruang besar yang empuk. “YAA HENRY LAU!!!” Teriak MinAh saking kesalnya kemudian menjambak boneka beruang itu pada kepalanya.

Henry akhirnya kembali ke wujud aslinya, pria kurus dengan pipi tembem dan mata kecil. “Hai, aku Henry Lau. Kau pasti Kang Hamun. Iya kan? HyunAh sering menceritakan tentang dirimu akhir-akhir ini. Kau baru bergabung dengan mereka ya? Apa kemampuanmu? Aku shapeshifter, bisa berubah bentuk menjadi apapun dan kapanpun aku mau,” ujarnya panjang lebar.

Astaga pria ini cerewet sekali. Aku hanya tersenyum saking malasnya menjawab seluruh pertanyaannya. Aku masih belum bisa bergerak dari kenyataan kelas Sejarah Mental yang akan aku ulang. Untung MinAh masih memukulinya sehingga Henry tidak terlalu memperhatikanku.

“Berhenti memukuliku, Park MinAh! Kita ini sesama penyihir. Tidak boleh bertengkar.”

“Aku tidak peduli! Kau sudah mempermainkan aku. Aku marah padamu! Nikmati saja pukulanku.”

Henry kembali mengubah bentuknya menjadi benda-benda lain secara acak. Bantal, sekarung beras, sak tinju, balon dan benda-benda lain yang bisa dipukuli MinAh tanpa membuat gadis itu kesakitan. Sampai seorang pria kekar berambut pendek nyaris cepak muncul dan menenangkan MinAh.

“Jangan memukuli saudara sepupumu seperti itu. Kasihan ah,” kata pria itu.

Henry segera pindah tempat duduk ke sebelah HyunAh eonni dan mempersilahkan pria tadi duduk di tempatnya. Ini pertama kalinya aku melihat pria yang wajahnya begitu tenang dan penuh kedamaian. Meskipun ia memiliki guratan-guratan tegas yang menunjukkan kekerasannya tapi ia tetap terasa membuat kehidupan lebih tenang.

“Aku Eric Mun. Kau?” Tanyanya tanpa basa-basi kepadaku.

“Hamun. Kang Hamun,” jawabku.

“Manusia?” Tanyanya lagi membuatku agak kaget.

“Iya, manusia. Tapi mereka menyebutku Numbers,” jawabku dengan terbata-bata saking masih kagetnya.

Pria itu kemudian tersenyum kepadaku. “Numbers. Aku sangat menyukai Numbers,” katanya.

“Kau tahu numbers?”

“Aku tahu segala jenis makhluk di dunia ini, sayang,” katanya.

Aku melemparkan tatapan penasaran yang tidak bisa aku tutupi. Aku salah satu manusia paling jujur yang ada di muka bumi ini. Aku tidak bisa berbohong, tidak bisa memalsukan diri. Aku mengeluarkan apa yang sebenarnya ada pada diriku. Aku tidak bisa menutup-nutupi sesuatu.

“Kau apa? Bukan manusia pasti kan?”

“Aku malaikat. Eric Mun. Masa kau tidak pernah mendengar namaku? Apa MinAh tidak pernah menyebut-nyebut namaku di depanmu?”

Ya Tuhan! ASTAGA! Andai aku memiliki ingatan yang sedikit lebih lemah daripada ingatan Kyuhyun, aku pasti akan dengan mudah mengenali pria ini. Malaikat yang coba dipindahkan MinAh eonni entah dari mana untuk menjadi berada di hadapannya, ditukar dengan sebuah gelas.

Aku mengulurkan tanganku untuk menjabat tangannya. Tangan seorang malaikat. “Senang mengenalmu, angel Mun,” kataku dengan ramah, berusaha dekat dengannya.

Dari semua makhluk aneh yang aku temui, hanya dengan malaikat aku merasa bertemu dengan makhluk aneh tanpa perlu merasa was-was.

“Jangan terlalu senang dulu. Aku ini malaikat di tiga dunia : surga, bumi dan neraka. Aku bisa galak juga kalau mengurus bumi apalagi neraka. Jangan salah,” katanya dengan senyumnya yang damai.

Aku tersenyum. Aku berdiri dari tempatku lalu meninggalkan keempat orang itu yang menatapku dengan heran. “Hamun, kau mau kemana?” Tanya HyunAh eonni dengan bingung.

Aku terus berjalan mengikuti kemana langkah kakiku berjalan tanpa aku tahu sebenarnya kemana aku pergi. Aku seperti dituntun untuk menuju ke suatu tempat. Aku terus berjalan dan aku menemukan seorang pria yang sedang duduk di bawah pohon sambil menatapku dengan lembut. Pria dengan rambut coklatnya, kulit kuning langsatnya, matanya yang hitam legam dan senyumnya yang menarikku seolah ia adalah magnet yang sangat kuat yang membuatku tidak bisa lepas darinya.

Lee Donghae. Aku mengingat namanya.

“Hai. Kau Kang Hamun kan? Kita bertemu kemarin di depan gedung kolam renang. Kau ingat aku?” Tanyanya dengan pelan dan lembut.

Aku menganggukkan kepalaku. Bagaimana mungkin aku melupakannya? Aku bahkan masih ingat sengatan panas kulitnya di kulitku. Gara-gara dia, aku hanya mampu menghafalkan 198 dari 857 paragraf untuk ujian Sejarah Mental-ku kemarin. Bagaimana bisa dia mengenalku? Kyuhyun yang menceritakannya? Atau dia yang mencari tahu tentang diriku?

Tbc
Xoxo @gyumontic