Author menyerah! Tadinya cuma mau ada 2 cerita di seri Angel, tapi ternyaya imajinasi author susah diberhentiin, hahaha. Selamat membaca dan jangan lupa komen!

“Ini dia sepupuku paling super sibuk sedunia!” seru MinAh memeluk Jihyo yang membawa dua kantung besar di tangannya. “Bagaimana Eropa?”

“Dingin,” ujar Jihyo cepat. “Unnie, ini titipan belanjaanmu.” Jihyo menyerahkan dua kantung besar ke sepupunya. Sebulan tur Eropa itu artinya semakinn banyak titipan belanjaan MinAh unnienya. Lain kali dia harus menolak dititipkan berbagai belanjaan aneh dari MinAh.

“Choi Jihyo! Kau lama sekali tak terlihat,” Eric segera meninggalkan kasir saat melihat Jihyo. “Apa kabar anak tengil? Kau membuat kekacauan di Eropa? Atau kau malah mengencani pria di sana?” seru Eric memeluk Jihyo.

“Menurutmu bagaimana, ahjussi?” Jihyo memasang tampang sebal. Ia memang selalu sebal jika ditanya oleh dua orang ini mengenai kisah percintaannya. Mereka berdua selalu ingin ikut campur. Menurut MinAh dan Eric, karir Jihyo tidak bisa dicampuri, mereka tidak mengerti dengan hal yang berhubungan dengan musik dan orchestra. Namun kalau soal percintaan, mereka jagonya.

‘Sudah oppa, kasihan Jihyo baru datang. Kau mau minum apa, Hyonie? Hari ini gratis untukmu,” ujar MinAh.

“Ice espresso, unnie,” jawab Jihyo.

MinAh dan Eric menatap Jihyo tidak percaya. Sudah lama Jihyo tidak pernah memesan minuman itu.

“Espresso?” MinAh mempertegas sekali lagi. Jihyo mengangguk.

“Baiklah, tunggu sebentar,” MinAh menyenggol lengan suaminya, memberi kode agar mencari tau apa yang aneh dengan Jihyo, kemudian terburu-buru pergi untuk membuatkan sepupunya ice espresso.

“Oke, ada apa? Kau sudah selama 5 tahun ini tak pernah memesan minuman itu,” Eric tanpa basa-basi menginterogasi Jihyo. Bahkan tak ingin menyuruh yeoja di hadapannya untuk duduk terlebih dahulu.

“Aku bertemu dia,” Jihyo menatap telapak tangannya, “Dia tak mengenaliku.”

“Fallen angel?” Eric berhati-hati mengucapkannya, Jihyo mengangguk mengiyakan.

“Woobin maksudmu? Woobin menjadi seorang fallen angel?” Eric memandang aneh Jihyo. “Kau serius tidak salah lihat?”

Jihyo mengangguk kembali. “Aku tidak muungkin salah melihat seorang fallen angel, ahjussi.” Mata Jihyo tiba-tiba saja seperti terserang debu, rasanya panas dan gatal sehingga ingin mengeluarkan air matanya. “Dia tak mengenaliku.”

“Ada kemungkinan seorang fallen angel tidak mengingat dirinya dulu sebagai love angel dan apa tujuannya saat ia memutuskan menjadi manusia,” Eric melipat kedua tangannya di dadanya. “Namun itu hanya sebagian kecil, saat prosesnya sangat menyakitkan bagi mereka.”

Jihyo tak ingin mendengarkan bagaimana proses perubahan seorang love angel menjadi manusia, menjadi seorang fallen angel. Sudah cukup mengenai ini semua. Ia hanya ingin melihat Woobin kembali, dan impiannya sudah terwujud.

“Kau akan menemuinya lagi?” tanya Eric.

Jihyo mengangguk kembali, “Aku merindukannya, sejujurnya.”

“Apa kau memang mencintainya seperti ia mencintaimu?” Eric berusaha memperjelas semuanya. “Meskipun Woobin tak mengatakan secara langsung apa alasannya menjadi fallen angel, kita berdua tau bahwa tindakan ini ia tempuh karena ia begitu mencintaimu, cinta seorang namja kepada yeoja, Choi Jihyo.”

“Aku tau. Hanya saja hingga saat ini,” Jihyo berusaha mengkhayalkan bagaimana bentuk segel yang digambarkan Woobin di telapak tangan kanannya. “Hanya saja hingga saat ini aku masih bingung apakah aku mencintainya hanya kepada love angel atau sebagai namja.”

“Jika kau hanya mencintainya sebagai love angel, maka jangan usik kehidupan baru Woobin,” nada suara Eric menjasi sedikit tinggi. Ia tau bagaimana sulitnya memutuskan untuk menjadi manusia, ia tau bagaimana sakitnya proses perubahan tersebut, kehilangan satu sayapnya hanya untuk seseorang yang sangat ia cintai. “Jangan usik kehidupannya jika kau tidak benar-benar mencintainya, Jihyo.”

+++

Jihyo tertawa sendiri saat menemukan dirinya berada di depan pintu coffee shop tempat ia bertemu dengan Woobin seminggu lalu. Ia rasanya ingin membuka pintu di hadapannya, namun ia tiba-tiba merasa takut, bagaimana jika Woobin ada di dalam?

“Kau mau masuk ke dalam, nona?” Jihyo tersentak saat mendengar suara namja di belakangnya, ia hampir saja meloncat karena kaget.

“Ne,” Jihyo menjawab cepat dan membuka pintu coffee shop dan berjalan menuju barista. Jihyo benar-benar tidak berani untuk melihat ke sekelilingnya. Bahkan ia tidak bisa melihat papan menu.

“Mau pesan apa, agassi?” tanya barista, namun Jihyo malah terdiam, ia ingin memesan ice green tea latte kesukaannya, namun ice espresso selalu ada di pikirannya.

“Dia pesan ice green tea latte dan ice espresso, aku arabica,” ujar suara namja itu lagi, suara yang menegurnya di depan coffee shop tadi.

Jihyo mau tidak mau menoleh ke pemilik suara tersebut, ia tak pernah merasa familiar dengan suara tersebut. Ia hanya terpaku melihat namja di sampingnya, si pemilik suara berat.

“Dark angel,” desis Jihyo. Harus Jihyo akui namja di sampingnya saat tampan, sejujurnya dia tipe hampir semua yeoja, apalagi dengan kemeja putihnya yang acak-acakan dan jas hitam yang dikenakannya. Namun lain persoalan jika namja di hadapannya seorang dark angel.

Jihyo pertama kali bisa melihat dark angel pada suatu hari di 3 tahun lalu. Jihyo sendiri bingung mengapa tiba-tiba ia bisa melihat para angel lagi, dan bonus bisa melihat dark angel, padahal sebelumnya ia yakin, sebelum Woobin menghilang, sang love angel telah menyegel bakat penglihatannya.

“Halo, gifted,” sang dark angel tersenyum. “Bukan bakat alami sepertinya?”

Jihyo refleks bergerak mundur. Seumur hidupnya, ia tak pernah mau berurusan dengan dark angel, yah, kecuali dengan Cho Kyuhyun.

“Kau kenal Cho Kyuhyun ternyata,” sang dark angel membayar pesanannya di kasir. “Dia dulu salah satu dark angel terhebat yang aku tau, namun sekarang dia lemah terhadap manusia.”

Jihyo tersadar jika para dark angel bisa membaca pikiran manusia. “Aku belum akan mati detik ini juga kan? Jika tidak, kurasa aku tak punya urusan denganmu. Terima kasih untuk minumannya, namun maaf, aku hanya ambil ice green tea lattenya.”

Jihyo mengutuk-ngutuk dirinya yang datang ke coffee shop ini, tentu saja di dekat rumah sakit seperti ini ia akan banyak menemui para angel, termasuk dark angel, sang malaikat maut.

Jihyo memperhatikan sekeliling, mencari meja yang kosong, namun saat ini keadaan coffee shop sedang ramai, tak ada meja yang kosong.

“Kau mencari meja atau seseorang?” sang dark angel tiba-tiba muncul di hadapannya.

“Mengapa kau selalu mengikutiku sih?” Jihyo risih berada di dekat dark angel, meskipun mereka sedang berwujud sebagai manusia. Dark angel akan muncul di saat seorang manusia sedang sekarat atau waktu hidupnya tinggal sedikit. Mereka akan menemani manusia di saat-saat terakhirnya, berbagi semua kesedihan yang ada.

Dark angel menurut Jihyo adalah malaikat yang paling sibuk, mereka tak terikat pada satu manusia. Secara random mereka akan mendatangi manusia manapun yang sekarat. Tak ada pula bayangan sayap di punggung mereka. Namun yang membuat Jihyo risih adalah kekuatan pembaca pikiran yang mereka miliki.

“Apa fallen angelmu pernah mengatakan kalau kau sangat memikat?” Sang dark angel menyibakkan rambut Jihyo ke belakang telinganya.

Jihyo memelototi sang dark angel. Cukup sudah berada di coffee shop ini, ia melangkah cepat ke pintu keluar. Samar-samar ia melihat seorang namja bercahaya dengan sayap, namun saking kesalnya Jihyo ia tak sempat menoleh ke arah namja tersebut.

“Hati-hati, jagi!” Seru sang dark angel itu tertawa.

+++

Woobin memegang pisau bedahnya dengan sangat erat. Setiap ia memegang pisau, rasanya ia ingin menyayat satu bayangan sayap di punggungnya. Ia tau tau mengapa ia hanya memiliki satu sayap, ia bahkan tak ingat apapun mengenai hidupnya, ia hanya ingat 3 tahun yang lalu ia terbangun di sebuah kamar dan hanya ingat jika ia dokter di StarFive Hospital.

Selama 3 tahun ini Woobin harus menyesuaikan diri dengan keadaan dan semua penglihatannya. Ia sering melihat orang-orang dengan satu sayap sepertinya di jalanan, bahkan makhluk dengan dua sayap yang disebut para angel. Ia sudah mulai terbiasa dengan para makhluk yang tak bisa dilihat oleh manusia kebanyakan.

Woobin sudah beberapa kali bertemu dengan para gifted, sebutan untuk manusia yang memiliki indra keenam ataupun yang dicium oleh para love angel. Namun baru pertama kalinya setelah 3 tahun ini dia bertemu dengan seorang gifted yang mengenali dirinya.

2 minggu yang lalu, saat Woobin beristirahat sejenak dengan rekan-rekan dokternya di coffee shop samping FiveStar Hospital, ia menemukan seorang gifted yang sepertinya mengenalinya. Yeoja itu memandangnya dengan sangat terkejut, namun sekilas senyumannya tak bisa Woobin lupakan. Ia tau Woobin adalah seorang fallen angel, namun ia pergi begitu saja.

Dan seminggu yang lalu, Woobin melihatnya kembali. Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan tergerai menjuntai. Ia berjalan kebingungan memasuki coffee shop diikuti oleh seorang namja, dark angel. Apakah yeoja itu akan segera meninggal?

Namun sepertinya dugaan Woobin salah, yeoja itu berjalan dengan cepat keluar dari coffee shop, namun sang dark angel tak mengikuti. Dark angel berteriak kepada yeoja itu “Hati-hati, jagi!”. Mungkin yeoja itu bukan alasan Woobin menjadi fallen angel.

“Dokter? Dokter?” Suara suster Cha menyadarkan Woobin. “Sudah waktunya ke pasien kamar 207.”

“Ah, baiklah,” Woobin meletakkan kembali pisau bedahnya dan melangkah ke kamar pasien 207, pasien Song Hyejin. Ia sudah hampir 3 bulan ini pasien Song mengalami koma setelah kecelakaan lalu lintas.

Dan di kamar itulah Woobin melihat yeoja itu kembali. Woobin yakin dia tak berbicara dengan pasien Song yang masih tak sadar, ia berbicara dengan seorang dark angel yang Woobin kenal, Cho Kyuhyun.

“Permisi,” ujar Woobin. Yeoja itu tersentak dan membungkukkan badannya memberi salam. “Maaf mengagetkan, namun sudah waktunya pemeriksaan rutin.”

“Ne. Maaf dokter, saya keluar dulu,” yeoja itu baru saja melangkah keluar namun entah mengapa Woobin malah menahannya.

“Apa kau saudara dari pasien Song?” Tanya Woobin, sebenarnya ia sudah tau bahwa pasien Song hanya memiliki seorang kakak laki-laki yang hampir setiap hari datang.

“Bukan dokter, saya hanya kenalan Hyejin-ssi saja,” yeoja itu terus menatap ke bawah, Woobin merasakan yeoja ini sedang menghindari Woobin. Yeoja itu kembali melangkah keluar kamar.

“Kau penasaran dengannya kan dokter?” Kyuhyun yang sejak tadi mengamati mereka dari sudut ruangan membuka suara. “Mengapa kau tak mengejarnya?”

Woobin menatap tajam Kyuhyun, dark angel ini pasti sedang membaca pikirannya yang kalut. Ia terdiam sebentar namun kini sang dark angel berada di sampingnya, mendorongnya. “Kau mau tau jawabannya kan, Woobin-ssi? Pergi!”

Woobin mengalihkan tugasnya ke suster Cha, ia setengah berlari mengejar yeoja itu. “Agassi, chakkaman!”

Namun yeoja tersebut mempercepat langkahnya. Woobin merasa sangat familiar dengannya, langkahnya yang cepat dan tak mau disusul, membuat Woobin rasanya ingin mendahului dan muncul mencegat di hadapannya.

“Chakkaman,” Woobin meraih tangan Jihyo dan menahannya agar tak lepas lagi dari pandangannya. “Kau mengenalku, iya kan?”

Jihyo tak bisa memandang sang fallen angel, apalagi dari jarak sedekat ini. Hatinya berdegup kencang, ia bingung apakah ini karena sudah lama ia tak bertemu Woobin, atau memang karena ia benar-benar mencintai namja itu.

“Mian dokter, kurasa kau salah orang,” Jihyo berusaha melepaskan genggaman Woobin, namun tak bisa.

“Kau seorang gifted kan? Kau tau aku seorang fallen angel kan? Apa aku dulu love angelmu?” Woobin mendesak Jihyo, ia tau yeoja ini mengenalnya, namun entah mengapa dia berbohong.

“Dokter, kau menyakitinya,” seorang namja tiba-tiba muncul di hadapan mereka. Woobin mengenalinya, dark angel yang waktu itu bersama Jihyo di coffee shop.

+++

“Kau, pergi dari hadapanku, sekarang!” Jihyo berteriak frustasi melihat sang dark angel terus mengikutinya. Ia sudah tak peduli jika orang-orang disekitarnya mengatakan dia gila.

“Aku ingin mengikutimu saja,” sang dark angel berlari mengimbangi Jihyo. Ini yang Jihyo tak harapkan, ia tau sudah menjadi sifat natural dark angel yang tidak akan pernah berbohong. Setiap jawaban yang Jihyo dengar dari dark angel ini membuat ia kesal.

“Jihyo-ah, kau bahkan tak bertanya siapa namaku. Kau menyakiti hatiku,” sang dark angel mendahului langkah Jihyo.

‘Aku tidak peduli denganmu,” Jihyo berbalik arah, apapun akan dia lakukan untuk menjauh dari dark angel ini.

“Apapun? Kau akan melakukan apapun untuk menjauh dariku?” Sang dark angel berteriak. “Kalau begitu dengarkan ceritaku tentang seorang fallen angel yang hilang ingatan.”

Jihyo menghentikan langkahnya. Sang dark angel ini memang makhluk paling menyebalkan sedunia yang bisa meraih atensinya. Ini pasti soal Woobin.

“Para love angel dan fallen angel mengatakan jika ia hilang ingatan karena proses perubahan yang menyakitkan. Namun, apakah kau tau Choi Jihyo? Ia hilang ingatan karena sebelum proses perubahan, ia memutuskan untuk melupakanmu.”

Jihyo mematung. Ia tau Woobin tak akan seperti itu, Woobin tak akan pernah bertindak seperti itu. Namun, dark angel tak pernah berbohong kan? Semua pikirannya bercampur jadi satu, ia semakin tak tau mana yang fakta.

“Dia memang melupakanmu,” sang dark angel mendorong Jihyo hingga menghantam dinding salah satu bangunan. “Kau tau dia memang melupakanmu.” Ia menekan bahu Jihyo dengan tangan kanannya ia Jihyo meringis kesakitan.

Dan saat itulah, Jihyo tau sang dark angel sedang menghantarkan sesuatu lewat tangannya, melewati bahu Jihyo, menjalar melalui leher hingga ke otak. Sebuah nama, Choi Seung Hyun.