By @gurlindah93

 

Kebencianku pada Eric Mun memang berkurang, tapi bukan berarti aku sudah tidak merasa kesal dengannya. Dia masih tetap menyebalkan walau kemarin sudah menggendongku dan membawaku ke rumah sakit.

Hari ini keadannya tetap seperti semula. Perintah ini, suruh itu, memarahiku karena hal kecil, pokoknya seenaknya sendiri. Seolah kejadian kemarin (aku masuk UGD) tidak terjadi. Pantas saja tidak ada yang betah bekerja bersamanya.

“Apa kamu yakin akan mengundurkan diri setelah 3 bulan MinAh-ssi” tanya Yoomi saat aku berada di kantor Eric untuk mendengarkan perintah boss titan.

“Ne, semalam aku sudah merencanakan liburan selama seminggu ke Athena bersama eomma, appa, Jungsoo oppa. Aaaahhh aku sudah tidak sabar” jawabku penuh semangat. Sekarang keinginanku untuk pergi dari sini meningkat menjadi 1000%.

Yoomi terlihat gelisah lagi, sedangkan Eric seperti tidak peduli. Well aku yakin dia sudah bisa memprediksi bahwa aku tidak akan bertahan lebih lama.

Hari ini aku menyiapkan rapat yang kemain tertunda, untunglah klien tidak terlalu banyak merubah isi kontrak walau perubahan kecil itu sedikit merugikan perusahaan kami.

“MinAh!!!!” panggil seseorang saat aku kembali ke mejaku setelah selesai rapat.

“Hyejin!! Yeojadeul ada apa kalian kemari?” tanyaku saat melihat Hyejin, HyunAh, Jihyo, dan Hamun berada di mejaku tanpa memberitahuku sebelumnya. “Bogoshippo” jawab Hyejin.

“Jihyo, tolong jangan diapa-apakan komputernya” pintaku pada Jihyo yang kulihat duduk di kursiku dan mengutak-atik komputerku.

“Relax eonni, aku sudah menyimpan semua. Waaaaahhhh ini eonni semua yang mengerjakan? Eonni keren! Luar biasa, pantas eonni sampai tumbang padahal eonni kan jarang sakit” Jihyo terkejut melihat isi komputerku. Aku memang selalu keren bukan? Hohoho.

“Kalian kenapa kemari? Kok bisa masuk?” aku heran bagaimana mereka berempat bisa masuk karena biasanya kantor ini tidak memperbolehkan tamu yang tidak berkepentingan masuk dalam jumlah banyak.

“Kami kan belum menengokmu Min, lagipula kami rindu sekali. Sudah lama kita tidak bertemu” sahut HyunAh lalu memelukku.

“Tidak ada yang bisa melarang vice president of Song corp untuk masuk ke manapun” Hyejin menunjukkan kartu nama di tangannya sambil tersenyum puas.

“Daebak!” komentarku melihat betapa berpengaruhnya perusahaan Hyejin di negeri ini.

“Kami ingin mengajak eonni makan siang. Di sini juga tidak apa-apa. Aku benar-benar merindukan eonni” ucap Hamun kemudian memelukku.

“Jam 12 ya eonni istirahat?” Jihyo tidak bisa mengalihkan pandangannya dari komputerku. Mungkin dia berharap bisa menemukan rahasia perusahaan yang akan dia jadikan berita. Dasar jurnalis.

“Eoh masih 20 menit lagi” kataku.

“Geurae, kami akan menunggu di sini. Bekerjalah seolah kami tidak ada” perkataan Hyejin membuatku terkejut. “Mwo? Kalian mau di sini? Apa kalian tidak mati kebosanan melihatku mengetik dan menjawab telepon dari boss titan? Kalian berjalan-jalan di mall saja nanti aku menyusul” aku yang mengerjakan tugas-tugasku saja merasa bosan apalagi mereka yang melihat.

“Shireo. Kerja saja silahkan” HyunAh menggeleng-geleng. “Silahkan” Jihyo bangkit dari kursiku dan sekarang menjajah mesin fotokopi, dia memencet-mencet entah tombol apa. Kuharap aku bisa mengembalikan ke asalnya nanti.

“Mana boss titan eonni?” baru saja Hamun menutup mulutnya Eric datang bersama Yoomi setelah mengecek beberapa store.

“SS, siapa mereka?” tanya Eric melihat teman-temanku satu persatu.

Ups, kukira dia akan kembali setelah makan siang.

“Mereka teman-temanku sajangnim. Song Hyejin, Kang Hamun, Choi Jihyo, Jung HyunAh. Ladies, ini Kim Yoomi dan CEO Shinhwa mall Eric Mun” ucapku yang membuat Eric melotot padaku. “Ssi….” lanjutku.

“Annyeonghaseyo jeoneun Kim Yoomi-imnida. Bangapseumnida” kata Yoomi memperkenalkan diri.

“Annyeonghaseyo, bangapseumnida” Hyejin mewakili teman-temanku menyapa Yoomi dan Eric.

Eric? Tentu saja diam saja dan langsung masuk ke ruangannya diikuti Yoomi.

“Itu boss titan? Aigoo keren sekali eonni… Keren!!! Beruntung sekali eonni punya boss seperti dia” Hamun menatap pintu ruangan Eric dengan terkagum-kagum. Maklum kalau Hamun mengaguminya, dia belum pernah diperintah oleh Eric Mun.

“Magnae!!!! Pemikiran kita sama. Aku juga menyukainya, dia keren” Jihyo mengajak Hamun untuk ber- high 5.

“Dia itu titan. Di mana kerennya?” komentarku lalu mulai bekerja lagi.

“Pokoknya dia ahjussi favoritku” kata Hamun serius. Ahjussi??? Huahahahaaaa. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ekspresi Eric saat dia dipanggil ahjussi oleh Hamun.

“By the way SS itu apa eonni?” tanya Jihyo sambil menatapku penasaran.

“Panggilannya untukku. Spoiled Secretary, dia bilang aku manja. Padahal aku selalu mengerjakan semua perintahnya. Memang kadang-kadang mengeluh sih, tapi tetap kukerjakan dengan sangat baik” jawabku dengan gemas. Aku masih tidak mengerti kenapa dia menganggapku manja.

“Huahahahaaaa lucu sekali ya Devil Ahjussi. Johaaaaa..” Jihyo tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasanku. Devil Ahjussi? Apalagi itu? Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pemikiran 2 magnae ini.

“Hihihihihiiii….Nado” magnae terkikik geli.

“Yaaaaaa!!!! Magnaedeul, diam atau aku tendang kalian dari sini” semburku pada mereka.

“Ssssshhh… Biarkan MinAh kerja” kata Hyejin. Dia duduk di mejaku sambil memainkan smartphonenya. Beruntung magnaedul sangat menurut pada Hyejin.

Keempat sahabatku mulai mengoceh tidak karuan sambil menungguku, aku hanya bisa mengangguk-angguk karena sejujurnya aku tidak terlalu fokus mendengarkan mereka. Sekarang Jihyo dan Hamun bahkan sedang membuka map-map yang ada di atas meja. Kenapa mereka jadi mengobrak-abrik kantorku ya? Aku sudah siap mendengarkan omelan Eric setelah mereka semua pulang.

Jam 12 siangpun tiba. Akhirnya setelah sekian lama aku dan sahabat-sahabatku bisa makan siang bersama. Hari yang sudah kutunggu-tunggu sejak aku bekerja di sini. Bertemu dengan mereka memompa semangatku kembali agar bisa bekerja dengan baik.

***

Dalam waktu dekat seorang pemilik stationary dari Amerika Serikat yang akan mengembangkan bisnisnya ke Korea berencana akan membuka store di mall ini dalam jangka panjang. Klien yang sangat penting kalau kata Eric.

Aku menyiapkan segalanya dalam bahasa Inggris karena aku yakin pemiliknya tidak mengerti bahasa Korea apalagi tulisannya. Setelah 4 hari fokus mengerjakan segalanya untuk rapat dengan pemilik stationary yang namanya Michael Adams hari ini kami akan bertemu dengannya. Mengingat kerja kerasku dalam mentranslate semuanya ke dalam bahasa Inggris aku berdoa semoga rapat hari ini berjalan lancar.

“Sudah siap semuanya?” tanya Eric di dalam ruang rapat. Aku mengangguk dengan bangga.

Jam 10 tepat rombongan klien dari Amerika datang, rombongan itu terdiri dari 3 orang Amerika dan 1 orang Asia. Orang Korea?

Tunggu, sepertinya aku mengenalnya.

Jung Yunho!

Sudah 10 tahun aku tidak bertemu dengan pria itu tapi aku masih mengingat sosoknya dengan jelas,

“Park MinAh?” dia nampak terkejut saat melihatku. Eric menatapku dengan bingung.

“Yunho oppa? Ani, Jung Yunho-ssi?” sapaku terkejut tidak menyangka yang berdiri di depanku benar-benar Jung Yunho. Tidak kuduga Yunho memelukku. Aku membalas pelukannya dengan gembira. Tidak pernah kusangka akan bertemu dengannya lagi setelah dia pergi ke Amerika untuk kuliah dan tidak pernah kembali semenjak itu.

“Sorry, she’s my old friend Park MinAh. I haven’t met her for 10 years” katanya pada pria Amerika yang kutebak adalah Michael Adams. Aku menyalaminya “Hi, my name is Park MinAh. I’m Eric Mun’s secretary. Nice to meet you” dia membalasku dengan ramah “I’m Michael Adams nice to meet you too”.

“Let’s start our meeting” ujar Eric memotong obrolan kami. Aku meliriknya sebal karena sebenarnya aku masih ingin mengobrol dengan Yunho.

“Setelah rapat kita lanjutkan obrolan kita” bisik Yunho padaku seperti bisa membaca pikiranku. Aku mengacungkan jempolku.

Saat rapat aku baru tahu kalau ternyata Yunho menjabat sebagai vice president dari stationary yang akan membuka store di sini. Dialah yang memaksa untuk mengembangkan bisnis ke Korea sebagai negara asalnya.

Melihatnya berdiri di depanku membuat semua kenanganku kembali.

Jung Yunho adalah kakak laki-laki dari HyunAh, kami bertetangga sejak lahir sampai 5 tahun yang lalu keluarga Jung pindah rumah. Bisa dibilang aku lebih dekat dengan Yunho daripada dengan Jungsoo oppa saat kami kecil karena perbedaan umurku dengan Yunho hanya 1 tahun.

Tanpa kusadari perasaan cinta yang kurasakan pada kakak laki-laki berubah menjadi perasaan cinta pada seorang pria saat aku berumur 14 tahun. Aku begitu mencintainya, mimpiku saat itu hanya 1 yaitu menjadi istrinya saat kami dewasa nanti. Kami berdua membangun keluarga kecil yang bahagia dan aku akan menjadi ibu rumah tangga yang selalu menyambutnya setiap dia pulang kerja. Mimpi remaja yang kuanggap akan menjadi kenyataan.

Tapi segala impianku hancur saat Yunho pindah ke Amerika untuk kuliah tanpa memberitahuku, tiba-tiba saja 1 hari setelah kelulusan SMA dia pergi sendirian tanpa keluarganya. Dia pergi tanpa mengetahui kalau aku mencintainya, dan akupun tidak tahu bagaimana perasaannya padaku.

Hal itulah yang membuatku tidak bisa mencintai pria lain karena perasaanku masih menggantung tanpa tahu perasaan Yunho padaku. Para mantan kekasihku? Mereka hanya partner untuk bersenang-senang. Sorry guys.

“SS, apa kamu mendengarkan semuanya?” bisik Eric padaku. Mungkin dia sadar kalau aku memandang Yunho dengan pandangan kosong. Aku mengangguk, kebohongan pertamaku pada Eric Mun. Dan aku merasa bersalah karenanya.

Setelah rapat selesai Yunho langsung mendatangiku dan Eric “Eric-ssi, bolehkah aku meminjamnya sebentar?” pintanya pada bossku. Eric melirikku yang menatapnya dengan tatapan memohon lalu mengangguk “Gamsahamnida Eric-ssi, aku akan mengembalikan MinAh secepatnya” dengan gembira aku mengikuti Yunho. Aku sungguh berterimakasih pada Eric karena membiarkanku mengobrol dengan Yunho.

Di coffee shop kami saling bertukar cerita. Ternyata setelah lulus dari kuliah Yunho langsung bekerja di perusahaan stationary tempatnya bekerja sekarang. Berdasarkan ceritanya kurasa tidak butuh lama baginya untuk menduduki jabatan CEO karena Michael Adams berencana pensiun dalam waktu dekat.

“Apa HyunAh tahu oppa di sini?” tanyaku.

Sejak kepergian Yunho HyunAh tidak pernah membahas Yunho di depanku, tidak hanya HyunAh tapi juga ketiga sahabatku lainnya. Aku tahu mereka ingin menjaga perasaanku, kami semua bersikap seolah-olah kami tidak pernah mengenal Jung Yunho dan aku merasa bersalah pada HyunAh karena hal itu.

“Belum, setelah dari sini aku akan pulang. Sudah 2 tahun appa, eomma, dan HyunAh tidak mengunjungiku di Amerika” aku bisa merasakan Yunho sangat merindukan keluarganya. Sama seperti aku merindukannya.

Setelah berbincang selama 1 jam Yunho pamit karena harus pulang, tapi sebelumnya kami sudah berjanji akan makan malam hari Sabtu besok bersama yang lainnya. Aaahhh semoga boss titan tidak memberiku pekerjaan yang harus dibawa pulang. Semoga.

Bertemu dengan Yunho membuatku tidak bisa konsentrasi “SS, apa kamu mendengarkanku?” tanya Eric.

“Tentu saja” jawabku pendek.

“Jangan bohong. Sejak bertemu dengan Jung Yunho pikiranmu seolah-olah tidak ada di sini” Eric menatapku tajam. Aku tahu dia akan memarahiku.

“Aniya. Hanya saja…. Joesonghamnida sajangnim” ujarku. Untuk apa aku cerita pada boss titan kalau pria yang baru saja kutemui adalah cinta pertamaku.

“Ini. Agar kamu tidak melamun terus kerjakan semuanya dan selesaikan hari ini” bossku menyerahkan 2 tumpuk dokumen. Dia tidak memarahiku tapi memberi tugas yang kuyakini adalah hukuman untukku karena tidak mendengarkannya. Eeeerrrrggghhhh.

“Ne” aku mengambil dokumen-dokumen itu dengan susah payah, tapi sepertinya aku kesulitan membawa semuanya sekaligus. “Joesonghamnida sajangnim, aku akan mengambil sisanya lagi” pria ini benar-benar menyebalkan. Untung hanya tinggal 1 bulan lagi sampai kontrakku berakhir. Dan Athena, here I come!!

***

Syukurlah tidak ada tugas yang harus kukerjakan saat weekend jadi malam ini aku akan merayakan kedatangan Yunho bersama yang lainnya. Kami akan makan malam lalu melanjutkan hangout di tempat karaoke. Waktu bersenang-senangku yang pertama sejak aku bekerja.

Untuk Jung Yunho tentu saja aku berdandan, aku memakai kaos garis-garis berwarna pink dan boyfriend jeans yang dipadu peep toe heels berwarna gold. Perfect.

“Kamu mau ke mana?” tanya Jungsoo oppa yang tiba-tiba menyelonong masuk ke kamarku.

“Aku sudah cerita kan kalau Yunho oppa datang? Malam ini kami akan makan malam” aku menyapukan lipstick berwarna wine ke bibirku dengan hati-hati agar tidak belepotan.

“Eoh. Apa kamu tidak apa-apa pergi dengannya?” Jungsoo oppa memandangku dengan khawatir. Aku tidak pernah cerita kalau dulu aku mencintai Yunho tapi kurasa Jungsoo oppa bisa merasakannya karena setelah kepergian Yunho aku sempat menjadi pendiam selama beberapa bulan.

“Ne oppa.. I’m okay, don’t worry. I’ll be okay” ujarku dengan percaya diri. Tapi tidak begitu dengan hatiku. Aku berharap semua akan berjalan baik-baik saja walau sepertinya perasaanku akan selamanya menggantung karena aku sudah tidak punya keberanian untuk mengungkapkan perasaanku atau menanyakan perasaannya padaku.

Sampai di restaurant semua sudah tiba kecuali Jung bersaudara. “Annyeong ladies…” Hyejin, Jihyo, dan Hamun langsung terdiam dan wajah mereka nampak cemas saat melihatku datang. Melihat reaksi mereka aku tahu mereka sedang membicarakanku.

Setelah keheningan menyelimuti kami selama beberapa saat aku memutuskan untuk bicara “Mmmmm… Aku tahu kalian pasti mencemaskanku. Nan gwenchana, aku sudah dewasa dan bisa mengontrol perasaanku” kataku pada mereka.

“Jinjja? Tapi kamu yang paling tidak pernah membicarakan perasaanmu pada kami Min” ucap Hyejin yang sepenuhnya benar. Pada keempat sahabatku ini aku memang bisa bercerita semua hal kecuali perasaanku. Aku selalu merasa sedikit tidak nyaman kalau membicarakan perasaanku pada orang lain. Mereka akhirnya tahu kalau aku mencintai Yunho 2 tahun setelah kepergiannya ke Amerika, dan hal itu membuat mereka menyesal sekaligus bersalah karena merasa tidak peka dengan perasaanku pada Yunho.

“Jinjja…. Nan gwenchana. Aku senang bisa bertemu Yunho oppa lagi setelah 10 tahun, lagipula aku sudah bertemu 3 kali dengannya di kantor. Gwenchana..” sahutku berusaha meyakinkan mereka.

“Apa eonni masih mencintai Yunho oppa?” tanya Hamun perlahan. Aku merasa dia takut menyinggungku.

“Sepertinya aku sudah tidak mencintainya lagi” jawabku.

“Apa eonni sudah benar-benar melupakan Yunho oppa?” Jihyo memandangku berharap mendapat kejujuran dariku.

Aku diam saja. Selama 10 tahun ini aku tidak pernah bisa melupakan Yunho, aku tidak tahu apa ini karena dia cinta pertamaku atau karena perasaanku padanya masih menggantung. Aku tidak tahu.

“Annyeong” sapa HyunAh yang datang bersama Yunho.

“Oppa!!” Jihyo langsung menghampiri Yunho dan memeluknya. “Aigoo, Jihyo sudah dewasa ya. Kudengar kekasihmu aktor tampan ya?” Jihyo mengangguk dengan bangga.

“Oppa” Hamun memeluk Yunho dengan sedikit canggung karena memang Hamun tidak terlalu dekat dengan Yunho, saat Yunho pergi ke Amerika Hamun baru berumur 9 tahun. “Dokter Kang apa kabar?” Hamun hanya tersenyum dan mengangkat jempolnya.

“Yun oppa” Hyejin memeluk Yunho dan dibalas dengan pelukan erat oleh Yunho. HyunAh dan Hyejin adalah teman satu sekolah sejak SD jadi Yunho mengenal Hyejin dengan sangat baik. “Miss Song! Bagaimana perusahaanmu? Kutinggal 10 tahun kamu sudah menjadi vice president ya” Yunho menatap Hyejin dengan bangga. “10 tahun waktu yang lama oppa. Ada hal-hal yang sudah berubah tapi ada juga hal-hal yang tidak bisa berubah” kata Hyejin sambil melirikku dengan penuh arti.

“Hello again oppa” aku memeluk Yunho dengan erat di pertemuan keempat kami. Yunho tidak berkata apa-apa hanya mengelus-elus rambutku.

“Ayo kita makan aku sudah lapar” ajaknya.

Selama makan aku berusaha mencairkan suasana yang sedikit canggung, aku ingin menunjukkan kalau aku baik-baik saja dan sepertinya berhasil. Semua bisa mengobrol dengan nyaman, bahkan kami tertawa-tawa dengan tingkah Jihyo yang selalu jahil.

Setelah makan kami langsung pergi ke tempat karaoke langganan kami. Yang pertama menyanyi adalah tamu kami dari Amerika dengan suaranya yang indah. Kemudian tanpa kuduga Yunho mengajakku berduet menyanyikan lagi ‘I Want To Spend My Lifetime Loving You’, lagu favorit kami berdua. Tentu saja aku menyanyikannya dengan sepenuh hati, bukankah itu memang impian masa kecilku, menghabiskan waktu bersama Yunho sampai maut memisahkan.

“Oppa, ayo temani aku mengambil barang di mobil” ajak HyunAh pada Yunho saat Hamun dan Hyejin berduet menyanyikan lagu ‘Nobody’ dari Wonder Girls.

Tidak lama setelah HyunAh meninggalkan ruangan smartphonenya berbunyi terus-menerus, kulihat ternyata dari Henry. “Jihyo-yaa aku mau ke restroom sekalian menyerahkan ini ke HyunAh ya” kataku pada Jihyo lalu keluar untuk mencari HyunAh.

Karena smartphone HyunAh berbunyi terus-terusan aku memutuskan untuk mencari HyunAh dulu sebelum ke restroom.

Aku menemukan HyunAh di tempat parkir sedang berbicara dengan Yunho di dekat mobil mereka, segera saja kudatangi mereka.

“Oppa, kenapa mengajak MinAh duet? Menyanyikan lagu itu pula. Tolong jaga perasaan MinAh” aku menghentikan langkahku saat mendengar percakapan mereka.

“Memang kenapa? Lagu itu kan selalu kami nyanyikan saat SMA. Apa lagu itu mengingatkannya pada seorang pria?” hahahaa Jung Yunho babo. Kamulah pria itu.

HyunAh menatap Yunho dengan tidak percaya. “Oppa.. Bagaimana perasaanmu pada MinAh?” tanya HyunAh. Jantungku berdebar kencang saat mendengar pertanyaan itu. Pertanyaan yang tidak berani kutanyakan sendiri pada Yunho.

Sesungguhnya aku ingin pergi dari sini karena takut mendengar jawaban Yunho, tapi aku harus mengetahui perasaannya padaku agar aku bisa memutuskan apakah aku harus melupakannya atau tidak.

“MinAh? Tentu saja aku menganggapnya sebagai adik seperti Hyejin, Jihyo, dan Hamun. Keempat sahabatmu kan adikku juga sama sepertimu. Wae?” jawaban yang sudah kuduga tapi tetap saja mengejutkan. Selama ini dia hanya menganggapku adik, semua rasa cinta dan sayang yang kurasakan darinya hanyalah rasa cinta dan sayang terhadap adik. Aku merasa bodoh sekali sudah salah menafsirkan perasaannya selama bertahun-tahun.

I’m officially broken heart.

Kring kring.

Smartphone HyunAh yang sejak tadi kupegang tiba-tiba berbunyi dan membuat kakak beradik Jung menoleh ke asal suara yang mereka dengar.

Ups, apa yang harus kulakukan?

***

tbc

Enjoy ^^