By @gurlindah93

 

“MinAh?” panggil HyunAh.

Terpaksa aku mendatangi mereka seolah aku tidak mendengar apa-apa.

“Ne, ini aku mau menyerahkan smartphonemu yang dari tadi berbunyi. Sepertinya Henry ingin bicara denganmu” aku menyerahkan smartphone HyunAh pada pemiliknya.

“Gomawo. Apa kamu sudah dari tadi di sini?” HyunAh nampak cemas, aku tahu dia takut kalau aku mendengar semuanya.

Kupasang tampang paling cool yang bisa kulakukan “Ani, baru saja hehee” jawabku. Cukup cool menurutku kalau mengingat aku baru saja ditolak oleh cinta pertamaku. Secara tidak langsung.

“Aaaaahhh okay, ayo masuk. Aku sudah tidak sabar ingin duet lagi denganmu” ujar Yunho dengan bersemangat.

Aku tidak apa-apa, serius aku tidak apa-apa. Tapi saat ini aku ingin menyendiri. Aku ingin merefresh perasaanku dan menata hatiku kembali. Berdekatan dengan Yunho tidak akan membantuku melakukan itu semua.

“Mianhae Hyun, oppa… Aku harus menemui Eric sajangnim karena tiba-tiba dia meneleponku untuk mengerjakan sebuah dokumen. Mianhae” alasan itu yang pertama kali terlintas di pikiranku agar mereka tidak curiga kalau aku tiba-tiba pergi.

“Jinjja? Tapi katamu kamu tidak ada tugas apapun Min” HyunAh terlihat kecewa. Mianhae lady Jung, tapi aku benar-benar ingin sendirian saat ini.

“Teleponnya tiba-tiba. Aku juga sebal dengan bossku itu” kataku. Mianhae sajangnim, aku akan bekerja dengan baik untuk menebus kebohonganku karena sudah menggunakan namamu.

“Apa kalian janjian di sini? Tadi aku melihatnya lewat sini bersama teman-temannya, mungkin sekarang sedang parkir. Nah itu dia” Yunho menunjuk segerombolan pria yang berjalan ke arah kami. Salah satu pria itu kuyakini adalah Eric Mun.

Matilah aku. Bagaimana kalau kebohonganku terbongkar?

Semakin dekat gerombolan itu keringat dingin semakin membasahi telapak tanganku.

“Eric-ssi” sapa Yunho terlebih dulu.

“Yunho-ssi. SS sedang apa di sini?” tanya Eric sambil menatapku dari atas sampai bawah.

“Kata MinAh Eric-ssi menyuruhnya untuk mengerjakan sebuah dokumen. Apa itu benar? Apa Eric-ssi sengaja datang ke sini untuk menjemputnya?” Yunho bertanya pada Eric tanpa basa-basi. Aduh, apa yang harus kulakukan?

Eric memandangku meminta penjelasan dan aku dengan pasrah balas memandangnya tanpa kata-kata.

“Oh… Ne ne… SS memberitahu kalau dia sedang di sini, jadi aku menjemputnya untuk mengerjakan dokumen penting” jawab Eric. Terima kasih Tuhan.

“Ah okay, oppa ayo masuk ke dalam” ajak HyunAh pada Yunho. Setelah mereka pergi dari hadapanku barulah aku bisa bernafas lega.

“Apa-apaan itu menggunakan namaku untuk berbohong. Kalau mau bohong, bohong sendiri sana jangan ajak-ajak aku. Aku tidak mau kecipratan dosamu” gerutunya sambil menatapku sebal. Kalau saja aku tidak berhutang padanya sudah pasti aku akan membalasnya.

“Ne sajangnim, joesonghamnida.. Joesonghamnida” ucapku lirih. Tidak kusangka bossku memiliki pemikiran yang cepat dan tanggap. Aku sungguh-sungguh berterima kasih padanya.

“Mana terima kasihmu?” pintanya. Tuhan, tolong beri aku kesabaran malam ini.

“Ne sajangnim. Gamsahamnida, jeongmal gamsahaeyo” kulirik Eric, dia menyeringai puas mendengarnya. Aku yakin sekarang dia merasa sebagai penyelamat hidupku dan dia akan terus-terusan mengungkitnya.

“Ya ya yaaaa. Kenapa kalian bertengkar terus, Eric-yaaa kenalkan aku padanya” kata seorang teman Eric.

“Ini sekretarisku yang paling manja dan berisik Park MinAh. SS, ini Kim Dongwan, Lee Minwoo, Park Chungjae, Jung Pilgyo, Andy Lee” Eric memperkenalkan teman-temannya satu-persatu. Entah kenapa pria-pria tampan dan ramah ini bisa bergaul dengan bossku yang berasal dari planet pluto.

“Ini sekretarismu yang MBA? Whoaa daebak!” komentar Pilgyo. Aku tersenyum mendengarnya “Ne Pilgyo-ssi” sahutku. Kupandangi teman-teman Eric satu persatu dengan kagum. Mereka semua seperti selebriti.

“Kalian karaoke tanpa aku ya, aku harus pergi sebelum teman-teman SS memergoki kebohongan kami. Kalau kalian mabuk jangan menyetir sendiri. Kajja” kata Eric lalu pergi.

Aku begitu terkesima dengan teman-teman Eric sampai tidak mengerti apa yang bossku itu katakan. Kata-katanya bagaikan angin lalu di telingaku.

“SS-yaaaa!!! Ppali!!!!” teriak Eric.

“Mwo?” aku sungguh tidak mengerti maksud pria yang suka memerintah ini.

“MinAh-ssi, Eric mengajakmu pergi dari sini sebelum teman-temanmu memergoki kalian” Minwoo menjelaskan maksud Eric padaku.

“Aaahh ne.. Bangapseumnida yorobeun. Aku harap kita bisa bertemu lagi, mungkin minum bersama. Hehehee.. Annyeong” pamitku lalu mengejar boss titan.

“Mau ke mana?” tanya Eric saat kami meninggalkan tempat karaoke menggunakan mobilnya. Bukannya tadi dia yang mengajakku pergi ya?

“Terserah, kan sajangnim yang mengajakku pergi” jawabku.

“Kamu ini benar-benar tidak tahu terima kasih ya” gerutu Eric.

“Gamsahamnida sajangnim. Gamsahamnida. Aku harus mengatakan berapa kali sih? Apa aku harus mengatakannya sampai mati? Geurae, seumur hidup aku berhutang pada sajangnim karena sudah berbohong untukku. Tapi tadi sajangnim kok bisa cepat sekali tanggap sih?” terlepas dari kelakuannya yang menyebalkan aku terkesima dengan reaksinya yang super cepat.

“Hahahhaaaa wae? Aku keren sekali ya? Aku bisa menebak kalau terjadi sesuatu dan kamu ingin pergi dari sana tapi harus mencari alasan yang tepat. Dan aku, sang boss titan adalah alasan paling tepat untukmu. Benar begitu kan?” aku bertepuk tangan mendengar penjelasannya.

“Daebak! Sajangnim daebak. Neomu neomu neomu joha. Tidak sia-sia aku melatih sajangnim untuk berpikir cepat, pekerjaanku yang selalu tepat waktu memaksa sajangnim harus secepat mungkin memikirkan tugas baru untukku kan? Neomu joha. Park MinAh jjang” aku masih bertepuk tangan dengan heboh. Kali ini memberi applause pada diriku sendiri yang sudah membantunya berpikir dengan cepat.

“Apa maksudmu? Jangan terlalu GR, sejak lahir aku memang cerdas. Ayo kita ke sana saja, aku butuh kopi” Eric membelokkan mobilnya ke sebuah coffee shop.

Aku mengikuti Eric memasuki coffee shop yang lumayan ramai. Setelah memesan kami duduk di sudut yang cukup tenang.

“Jadi ceritakan apa yang terjadi antara kamu dengan pria itu” pinta Eric.

Kutatap bossku dengan enggan. Sebenarnya aku tidak ingin bercerita apapun tentang diriku padanya apalagi kisah cintaku, tapi karena dia sudah menolongku mau tidak mau kuturuti permintaannya.

Setelah menghembuskan nafas dengan berat aku mulai bercerita.

“Jung Yunho adalah kakak Jung HyunAh, kami bertetangga sejak aku lahir sampai beberapa tahun yang lalu. Singkat cerita aku jatuh cinta pada Yunho oppa saat SMP, lalu tiba-tiba saja tanpa memberitahuku dia pindah ke Amerika untuk kuliah setelah lulus SMA. Aku cukup syok saat itu, aku belum memberitahu perasaanku padanya dan aku belum tahu perasaannya padaku. Bisa dibilang selama 10 tahun ini perasaanku menggantung, aku tidak bisa mencintai pria lain karena hal tersebut. Tapi tadi semua sudah jelas” jelasku pada Eric. Dia hanya menatapku sambil mengangguk-angguk.

“Dia hanya menganggapmu adik kan?” tebaknya. Mungkin pria ini bukan hanya tanggap tapi juga seorang peramal.

Aku mengangguk “Sudah bisa ditebak ya?” tanyaku sedikit sedih. “Cerita klasik, seorang gadis jatuh cinta pada tetangga masa kecil tapi dia hanya dianggap sebagai adik oleh pria itu. Klise dan mudah ditebak, tapi yang mengejutkan adalah gadis sepertimu mengalami kisah klise seperti itu” ujarnya dengan nada meremehkan.

Apa pria ini tidak pernah jatuh cinta seumur hidupnya? Apa dia tidak tahu bagaimana bersimpati dan menghibur gadis yang baru patah hati? Dan ‘gadis sepertimu’ itu maksudnya apa? Memangnya aku gadis seperti apa?

“Ne… Silahkan mencemoohku sajangnim. Aku baru saja ditolak secara tidak langsung dan aku baik-baik saja” kuseruput hot chocolate yang kupesan dengan kesal. Bersama pria ini selalu saja membuatku kesal.

Kamipun terdiam dengan pikiran masing-masing.

“Tenang saja… Kamu akan belajar mencintai lagi” katanya tiba-tiba dengan mata terpaku pada smartphonenya.

Belajar mencintai? Apa itu mungkin? Karena sejak 10 tahun yang lalu aku sudah siap jika suatu saat akan menikah tanpa cinta.

“Sajangnim…. Apa maksud sajangnim dengan ‘gadis sepertimu’? Memangnya aku gadis seperti apa?” tanyaku penasaran. Aku ingin tahu gadis seperti apa aku di matanya.

Eric menatapku dengan tatapan yang tidak bisa kuartikan. “Gadis kaya yang sok tahu, terlalu percaya diri, sombong, gegabah. Apa lagi ya, coba kupikirkan… Ah…. Berisik” jawabnya lalu kembali menekuni smartphonenya.

Sudah kuduga.

“Sajangnim tenang saja, 1 bulan lagi gadis itu akan enyah dari kehidupan sajangnim” balasku dengan nada dingin.

“Ayo pulang” perintahnya tiba-tiba dengan nada kesal tanpa kutahu penyebabnya. Dia benar-benar pria 35 tahun yang masih memiliki tantrum seperti bocah 5 tahun.

“Shireo. Sajangnim pulang saja duluan, aku masih mau duduk-duduk di sini” tolakku.

“Terserah” dia bangkit dari kursinya lalu pergi begitu saja. Kenapa lagi pria itu, benar-benar tidak bisa ditebak.

Aku segera memesan secangkir hot chocolate lagi untuk menenangkan diriku. Sekarang aku merasa  lebih kesal pada Eric dibanding merasa terpuruk memikirkan bahwa aku baru saja patah hati. Aaaahhhh pria itu selalu saja memporakporandakan perasaanku. Benar-benar menyebalkan.

Setelah 30 menit menghabiskan waktu sendirian akhirnya aku memutuskan untuk pulang dengan perasaan lebih baik. Semoga saja di sekitar sini ada banyak taksi jadi aku tidak perlu terlalu lama menunggu, aku benar-benar lelah dan ingin tidur.

“MinAh.. Park MinAh… Park MinAh!!!” sepertinya aku terlalu kesal pada Eric sampai berhalusinasi mendengar suaranya saat melewati tempat parkir.

“Park MinAh berhenti!!!” kali ini suaranya terdengar sangat nyata. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling tempat parkir. Seorang pria keluar dari mobilnya dan menghampiriku.

“Sajangnim?” aku terkejut melihat seseorang yang tidak mungkin ada di sini berdiri di hadapanku. Kulihat dia dari atas sampai bawah, dia memakai pakaian yang sama persis seperti yang tadi Eric gunakan. Masih linglung aku memegang pipinya dengan kedua tanganku “Waaaahhhh halusinasiku terasa nyata sekali ya” gumamku.

“Yaaaaaaa apa-apaan kamu? Kamu tidak mabuk kan?” Eric mengendus-endus mulutku. Nafasnyapun terasa nyata di kulitku.

“Whoaaaaaaaa sajangnim!” refleks aku mundur selangkah saat tahu kalau yang berdiri di depanku benar-benar Eric Mun.

“Yaaaaaa kamu itu kenapa?” tanya Eric bingung melihatku bertingkah aneh.

“Sedang apa sajangnim di sini? Tadi katanya mau pulang. Apa ada barang yang tertinggal?” aku kebingungan saat melihatnya masih di sini. Untuk apa dia di sini ya?

“Ayo kuantar pulang” seperti biasa seluruh kata-katanya terdengar seperti perintah. Dan karena sudah terlalu sering diperintah olehnya maka otomatis aku menurutinya seperti robot.

Setelah aku masuk ke mobilnya tanpa bicara Eric memacu mobilnya. “Tadi sajangnim belum menjawab pertanyaanku. Sedang apa sajangnim di coffee shop?” aku kembali menanyakan hal yang masih membuatku kebingungan.

“Saat kamu tidak mau kuajak pulang kuanggap kamu sedang ingin sendirian, jadi kutinggalkan kamu sendirian di dalam” jawabnya tanpa menoleh sedikitpun.

“Jadi sejak tadi sajangnim menungguku di luar?” aku memandangnya dengan takjub. Bossku bisa melakukan hal yang terpuji ternyata.

“Berisik” Eric nampak tidak nyaman dengan pertanyaan dan pandanganku. Kualihkan pandanganku ke luar. Dalam keadaan normal aku akan langsung berkomentar tanpa henti sampai dia kesal, tapi kali ini pikiranku sibuk mencerna apa yang baru dia lakukan.

Sepanjang perjalanan kami hanya diam saja dengan keadaan yang menurutku sedikit canggung.

“Gamsahamnida” ucapku saat kami sampai di rumahku. Eric hanya mengangguk lalu memacu mobilnya pergi.

Sebelum tidur aku memikirkan apa yang sudah terjadi hari ini, terutama perkataan Eric “Tenang saja… Kamu akan belajar mencintai lagi”. Walau nadanya terdengar tidak serius tapi harus kuakui kalau perkataannya membuatku merasa sedikit tenang.

“Yaaaaaa kenapa senyum-senyum sendiri?” Jungsoo oppa tiba-tiba saja masuk ke kamarku.

“Yaaaaaaaa oppa kenapa tidak mengetuk pintu dulu sih?” memiliki kakak seperti Jungsoo oppa bisa membuatku kena serangan jantung karena sering mengagetkanku.

“Aku sudah mengetuk berkali-kali, sudah memanggil MinAh MinAh… Tapi kamu tidak memberi respon. Lagipula kenapa senyum-senyum sendiri? Apa kamu sedang bahagia? Wajahmu berseri-seri” Jungsoo oppa memperhatikan wajahku dengan seksama.

Apa aku sedang bahagia?

“Kenapa oppa ke sini?” tanyaku agar Jungsoo oppa tidak terlalu banyak bertanya atau berkomentar. “Besok diajak appa makan siang di luar, bangunnya jangan kesiangan. Eh serius nih, kenapa kamu terlihat senang? Sejak bekerja wajahmu selalu ditekuk seolah-olah kebahagiaanmu dikuras habis oleh dementor. Apa bossmu sekarang sudah berubah jadi baik hati?” langsung saja aku memunggunginya begitu mendengar pertanyaannya.

“Arraseo…. Sana pergi. Aku mau tidur, katanya harus bangun pagi” usirku. Untunglah dia langsung pergi tanpa bertanya lebih lanjut.

Aku tidak tahu kenapa aku malah merasa bahagia padahal baru saja patah hati. Yang jelas sekarang hatiku terasa sangat lega setelah tahu perasaan Yunho padaku. Mungkin benar kata Eric, aku bisa belajar mencintai lagi.

***

tbc

Enjoy ^^