Annyeong, hope you enjoy it onniedul dan semua readers! ff ini ada kaitannya sama ff Gangsa Eui Bimil (Gangsa’s Secret) dan Walking After You. maafkan kalo ada banyak kekurangan yang penting bisa jadi selingan untuk baca dan memperbaiki mood kekekeke makasih sudah baca

****

Aku tersenyum-senyum sendiri memandangi panorama di depanku. Sudah setahun aku meninggalkan kampus ini tapi rasanya tidak ada yang berubah. Sama sekali. Aku melangkahkan kaki dengan semangat dan berjalan menuju cafetaria. Tentu saja karena aku sudah lapar dan rindu makanan Korea.

Setelah memesan makanan-makanan favoritku di tempat ini, aku duduk di salah tempat dengan mejanya yang panjang. Cukup untuk 10 orang. Tak peduli kata orang yang keheranan melihatku makan sendirian dengan porsi yang sangat banyak, langsung saja kumakan semua makanan itu.

“Dasar Kang Hamun, apa kau tidak makan dengan baik selama di Inggris?” tanya seorang gadis yang terpaksa membuatku mengadah.

Aku tersenyum bahagia saat melihat wajah-wajah yang saat ini menatapku dengan berbagai ekspresi. “Hai Hyejin,” sapaku pada gadis yang tadi berkomentar. Ia masih menatapku penuh heran.

“Cara makanmu tidak anggun sama sekali, Hamun. Kau seperti pria yang baru saja kerja rodi!” kini Minah yang berbicara sambil memandangku kesal. Ya, dia sangat feminim dan menjunjung tinggi keanggunan.

“Aigo, Hamun, makanlah yang banyak. Kau pasti rindu semua makanan ini setelah setahun student exchange di Inggris,” ujar Hyunah yang memandangku dengan kesedihan. Hyunah jjang! Dia paling mengerti diriku!

“Kau lebih rindu makanan daripada kami sampai-sampai kau mengunjungi cafetaria terlebih dulu, bukan menemui kami?” kini Jihyo yang berbicara dengan wajah kesal. Aku hanya tersenyum pada mereka, dan tak lama kemudian mereka juga ikut tertawa dan bergantian memelukku atau mengacak rambutku. Aku tahu kalau mereka hanya bercanda tadi.

“Tapi aku serius, kau keterlaluan tidak mengabari kami kalau hari ini kau kembali. Untung Jihyo melihatmu sedang makan disini,” ujar Hyejin sembari mereka semua mengambil posisi duduk disekitarku.

“Kalau aku beritahu, bukan surprise namanya. Lagipula kalian masih kelas, kan?” ujarku membela diri sambil tetap fokus pada makananku.

“Aku sedih kita tidak bisa lulus bersama mengingat kau harus mengulang di tingkat tiga tahun ini,” kata Hyunah.

Aku tertawa. “Mulai sekarang aku akan memanggil kalian sunbae,” kataku. Jihyo langsung memukul kepalaku dengan gulungan kertas essaynya. “Yaa, harusnya dari dulu kau sudah memanggil kami dengan sebutan ‘onnie’, kau paling muda diantara kita semua,” protesnya.

“Ne… Onniedul,” kataku yang disambut oleh tawa mereka.

“Minah,” panggil seorang pria yang menurutku tampan. Rasanya, aku tak pernah melihat wajahnya. “Boleh aku bergabung? Meja yang lain penuh,” ujarnya.

Minah langsung mengambil tasnya dan memangkunya sehingga tempat yang disebelahnya kini kosong. “Sini,” ujar Minah dengan lembut sambil menepuk-nepuk tempat kosong disebelah Minah. Apa dia pacar Minah yang baru? Tapi seingatku Minah tidak pernah bercerita kalau ia putus dengan Junghyuk.

“Selamat makan,” ujarnya pada kami semua.

“Minah, kau sudah putus dengan Junghyuk? Maksudku, kau terlihat sangat baik padanya seakan kalian punya hubungan,” tanyaku. Pria itu pasti mendengar pertanyaanku karena dia sudah menatapku sekarang. “no offense, aku hanya penasaran dan tak bisa menunggu nanti untuk menanyakan hal ini,”  jelasku pada pria itu.

Minah menatapku bingung. “Aku tidak putus dengan Junghyuk, Hamun,” katanya.

“Kalau begitu jangan bersikap terlalu baik atau terlalu lembut pada pria lain. Bagaimana perasaan Junghyuk kalau ia melihatnya?” tanyaku sedikit kesal.

“Tentu saja, aku hanya bersikap seperti itu pada Junghyuk tidak pada pria lain,” balasnya. “Lalu pria ini?” tanyaku sambil menunjuknya dengan sumpitku.

Minah terdiam sesaat lalu tertawa tiba-tiba. “Apa Junghyuk terlalu banyak berubah sampai kau tak menyadari kalau pria disampingku ini adalah Junghyuk-ku?” tanya Minah. Ia merangkul pria itu dan mengecup pipinya. Pria tampan (yang belum bisa kupercaya kalau dia adalah Junghyuk yang dulu kuper dan antisosial) hanya tersenyum sambil ganti mengecup kening Minah.

“Ba-bagaimana bisa ka-kau jadi begini?” tanyaku sambil menatapnya dari ujung rambut sampai tubuhnya.

Pria itu tertawa kecil, sepertinya ia tidak tersinggung dengan pertanyaanku. “Aku ingin berubah demi Minah. Ia tak menuntut banyak dariku tapi aku tak mau orang-orang mengejeknya karena berpacaran denganku,” katanya.

“Lalu suatu hari ia datang ke kampus dengan tampilannya seperti ini. Saat semua orang tahu kalau dia adalah Junghyuk, semua orang menyesali perkataan mereka,” kata Minah dengan semangat. “Aku tahu ia tak nyaman karena jadi pusat perhatian. Aku sudah bilang padanya kalau ia tak perlu memaksakan diri tapi ia tak mau mendengar,” lanjut Minah.

“Karena aku mencintaimu, sayang, dan aku tahu kau sayang padaku apa adanya, makanya aku bertahan,” kata Junghyuk yang membuat Minah luluh lantah.

Aku tersenyum bahagia melihat pasangan ini. Mereka saling mencintai dengan apa adanya. Beruntung Minah mendapatkan pria seperti Junghyuk, begitu juga dengan pria itu.

“Wah, wah, kita kedatangan mahasiswa lama rupanya,” ujar seseorang yang sedang berjalan menghampiri meja kami. “Selamat datang, Kang Hamun,” kata pria itu setelah ia tiba dan memeluk Hyejin dari belakang.

“Hei, apa maksud oppa dengan menyebutku mahasiswa lama? Lagipula, apa oppa tidak salah memeluk orang?” tanyaku padanya sambil menatapnya kesal.

“Hyejin kekasihku. Tidak salah lagi,” katanya lalu mencium pipi Hyejin. Hyejin pun membalasnya.

“Kau bisa bertemu Hyejin dan memeluknya setiap saat. Apa kau tak rindu padaku?” tanyaku.

“Tentu saja tidak, meskipun bertahun-tahun tidak bertemu denganmu, aku tetap bisa hidup. Beda dengan Hyejin. Aku tak melihatnya dua jam saja, tubuhku mulai mengalami tantrum,” katanya. Kini pria itu dan Hyejin sudah saling bertatapan.

“Saranghae, Cho Kyuhyun,” ujar Hyejin lalu mereka berciuman di depan kami.

“Tolong hentikan kedua orang ini,” ujarku pada yang lain namun mereka hanya bisa menggelengkan kepala. “Tidak bisa, kalau mereka sudah bersama, dunia serasa milik berdua. Kau akan terbiasa lagi sehabis ini, Hamun,” kata Hyunah yang disambut oleh tawa yang lain. Sedangkan Kyuhyun hanya menatapku dengan tatapan kemenangan dan senyum usilnya.

Cho Kyuhyun adalah tetanggaku yang sudah tumbuh bersamaku sedari kecil. Ia kuanggap seperti oppaku sendiri karena umur kami yang terpaut dua tahun. Ia sudah berpacaran dengan Hyejin selama 4 tahun. “Hei-hei, jangan lupa atas jasa siapa kalian bisa bersatu,” ujarku yang membuat mereka berdua kalah telak. Kyuhyun langsung menghampiriku dan memelukku seakan-akan ia sangat merindukanku. Ya, dulu aku yang bersusah payah demi mereka berdua sampai akhirnya mereka bisa menjadi sepasang kekasih.

Kini Kyuhyun sudah duduk di sebelah Hyejin. Saling berbicara satu sama lain seakan kami tidak ada. Akan tetapi, aku bersyukur karena mereka bisa bersama. Aku ngeri jika mengingat bagaimana terpuruknya Hyejin dulu akibat patah hati karena dikhianati Junsu. Kyuhyun saat itu dengan sabar menjadi penolong Hyejin. Bahkan ia sempat hanya menjadi pengganti Junsu. Melihat mereka saat ini, aku yakin Hyejin sudah benar-benar mencintainya dan melupakan lelaki brengsek macam Junsu. Aku berharap bisa bertemu pria itu dan meninjunya sampai hidungnya patah.

Aku kembali menatap mereka berdua dan kembali melihat mereka saling berpelukan atau mengecup. “Kurangi kemesraan kalian saat ada aku,” ujarku yang sepertinya tidak mereka pedulikan. Baiklah, aku akan mencoba untuk tidak mempedulikan kalian berdua.

“Jihyo-ah, jangan mengambil makananku terus dong,” ujarku kesal sambil memukul pelan tangannya yang hampir mengambil kimbabku. Ia hanya menjulurkan lidahnya padaku dan mengambil makananku yang lain.

“Sudah, sudah, jangan bertengkar lagi. Nanti ikut aku ke restaurant Henry. Dia pasti memasakkan makanan khusus untukmu,” ujar Hyunah.

“Yah, sayang sekali. Aku sudah menutup restaurantku begitu 15 menit yang lalu Hyunah mengabariku kalau kau sudah disini Hamun,” kata seorang pria yang kutahu ia adalah Henry. Pria itu menghampiriku dan memelukku lalu mengambil posisi duduk disamping Hyunah. Ia juga memeluk dan mencium Hyunah.

“Henry sudah tidak bekerja di cafetaria ini?” tanyaku pada mereka berdua.

“Aku sudah membuka usahaku sendiri. Aku bersyukur ada Hyunah yang selalu mendukungku sampai aku bisa menjadi seperti sekarang,” kata Henry sambil menatap Hyunah lembut.

“Itu juga karena kamu sudah berusaha keras sehingga restaurantmu bisa selaris sekarang,” kata Hyunah sambil mengelus pipi Henry. Henry memegang tangan Hyunah yang dipipinya dan mereka hanya saling pandang sambil tersenyum.

Aku ikut tersenyum akibat mereka berdua. Pasangan ini sangat damai dan harmonis. Dulu Henry adalah salah satu pegawai di cafetaria ini. Ia jatuh cinta pada Hyunah yang selalu memuji makanan buatannya dengan tulus. Hyunah juga yang mendorong Henry untuk membuka restaurant sampai pria itu bisa menjadi seperti sekarang. Aku bersyukur mereka menjadi pasangan yang bisa saling mendukung seperti ini.

“Lalu, mana kekasih barumu Jihyo?” tanyaku pada gadis yang duduk disampingku. Satu-satunya gadis yang mendengarkan perkataanku sekarang. Minah, Hyejin, dan Hyunah sudah melupakan kalau aku ada disini setelah para kekasihnya datang.

“Woobin?” tanya Jihyo. “Dia sibuk berlatih basket karena ada pertandingan nanti,” lanjutnya.

“Nasib berpacaran dengan kapten tim basket universitas ini. Yang sabar ya,” ujarku setengah prihatin –  setengah mengejek sambil menepuk punggungnya.

“Yaa, Jihyo masih lebih baik daripada kau yang belum punya kekasih sampai sekarang,” ujar seorang pria yang tiba-tiba datang lalu duduk di antaraku dan Jihyo. “Lagipula, aku sangat mencintai Jihyo. Meskipun aku sangat sibuk, aku pasti menyediakan waktu untuknya,”

“Yaa, Kim Woobin! Aku ingin duduk di sebelah sahabatku kenapa kau menggangguku?” tanyaku kesal.

“Karena kau mengejeknya tadi,” ujar pria itu sambil memeluk Jihyo. Jihyo membalas pelukan itu sambil menatapku dengan tampang meremehkanku. “Dia iri karena belum punya pacar, Woobin,” katanya.

“Terus saja menghinaku biar kalian puas,” kataku yang pura-pura merajuk. Tak lama kemudian, pasangan paling usil ini tertawa sambil memeluk dan mengacak rambutku.

Aku tertawa bersama mereka. Tak lama setelah itu mereka juga sudah melupakanku dan mulai asik berbicara sendiri. Jika kuingat-ingat, cukup lama Woobin mengejar Jihyo sampai akhirnya gadis ini menyerah pada usaha Woobin. Woobin sempat menyerah dan menjadikanku teman curhatnya selama dua tahun saat Jihyo berpacaran dengan Sungmin sunbae. Entahlah seberapa kuat hati pria ini tapi aku yakin ia adalah yang terbaik untuk sahabatku. Jihyo tampak sangat bahagia sekarang.

“Hamun, kurasa kau juga sudah harus cari kekasih,” ujar Minah tiba-tiba setelah (mungkin) ia menyadari kesendirianku.

“Agar kau tidak kesepian saat kami sedang bersama para kekasih,” kata Hyejin.

“Atau supaya kau tidak mengganggu kami,” kata Jihyo.

“Hei-hei kalian, jangan gitu sama Hamun,” kata Hyunah yang memang menjadi selalu paling baik diantara kami. Rasanya ingin aku peluk Hyunah saat ini kalau saja Henry tidak sedang merangkulnya.

“Atau kau ingin kukenalkan dengan temanku?” tanya Kyuhyun.

“Atau salah satu tim basketku?” tawar Woobin.

“Atau mau teman bisnisku?” kini giliran Henry.

“Aku sedang tidak ingin mengenal siapa-siapa, kawan-kawanku dan oppa-oppaku. Terima kasih saran dan tawarannya,” balasku yang membuat mereka menatapku malas. “Oia, bagaimana dengan Donghae gangsa-nim? Apa kabarnya setelah tidak ada mahasiwa yang tidur di kelasnya?” tanyaku.

“Sejak kau tidak ada, ia jadi lebih temperamen dan sering tantrum,” ujar Hyejin yang disetujui Kyuhyun.

“Tapi kalau boleh jujur, ia sangat tampan,” kata Minah.

“Minah…..” ujar Junghyuk dengan tampang pura-pura sedih yang membuat Minah tidak berpendapat lagi.

“Andai saja ia tidak suka marah, aku yakin ia akan menjadi pria paling populer di universitas ini,” kata Jihyo yang membuat Woobin menatapnya penuh cemburu.

“Sekarang saja sudah banyak gadis yang menyatakan cinta padanya,” sahut Hyunah yang membuatku sedikit kesal.

Aku mendengus kesal mendengar perkataan itu. “Dia tidak tampan sama sekali,” ujarku. “Suka menghukumku, menyuruhku membawa laporannya, suka tantrum, temperamennya tinggi. Aku tidak akan menyukai pria seperti itu,” kataku.

“Apa kau yakin dengan perkataanmu?” tanya sebuah suara yang sangat kukenal dan…. kurindukan. Aku memutar kepalaku dan melihat pria itu. Rasanya saat itu air mataku ingin tumpah, perasaanku membuncah, dan aku sangat ingin memeluknya. Saat ini juga.

“Boleh aku meminjam Hamun? Aku mau merubah pemikirannya tentangku,” ujar pria itu sambil mengambil tas Hamun dan menggenggam tangan Hamun.

“Bawa saja, Donghae gangsanim. Jangan dikembalikan,” ujar Kyuhyun yang disambut oleh tawa Donghae.

*****

Donghae duduk di meja kerjanya sedangkan aku berdiri di depannya. Ia tak melepas genggaman tangannya sedari tadi tapi ia tetap terdiam. Ia juga tidak memandangku sejak tadi, yang kudengar justru suara isakan.

“Oppa, waeyo?” tanyaku akhirnya sambil mengangkat wajahya. Aku bisa melihat matanya mulai berair dan memerah.

“Kenapa kau tidak mengabari aku kalau kau sudah disini?” tanyanya padaku.

“Aku ingin memberi surprise padamu, tapi sepertinya gagal,” ujarku jujur.

“Aku terlalu kaget saat melihatmu tadi di cafetaria. Untung aku bisa menahan perasaanku. Rasanya aku sudah ingin memelukmu tadi,” kata Donghae padaku.

“Oppa, merindukanku sampai sebegitunya? Kita sering facetime atau skype, kan?” tanyaku.

“Itu beda,” ujar Donghae sambil menarikku mendekat padanya. Aku menatap wajahnya lalu memeluknya. “Aku sangat merindukanmu. Aku juga merasakan hal yang sama sepertimu,” kataku padanya.

Ia mengeratkan pelukannya padaku seakan ia tak ingin aku pergi darinya. “Setahun tidak melihatmu membuatku bertingkah sangat aneh. Aku tak bisa membayangkan kalau kau student exchange lebih lama lagi,” katanya.

“Aku juga,” kataku. Ia melepaskan pelukannya dan mencium bibirku kilat. “Duduk sini,” ujar Donghae sambil menarikku untuk duduk disebelahnya. Aku menuruti kemauannya. “Pinjam iPhone milikmu,” pintanya dan kuberikan apa yang ia mau.

“Waeyo?” tanyaku.

“Selfie,” katanya. Aku tersenyum menatap camera iPhone milikku sedangkan ia berpose seakan ia hendak mencium pipiku.

“Untuk apa, oppa?” tanyaku tak mengerti.

Ia membuka KakaoTalk milikku dan membuka grup chat milikku, Hyejin, Minah, Hyunah, dan Jihyo. Lalu yang ia lakukan adalah men-share foto selfie kami!

“Oppa!” seruku tak percaya dengan apa yang ia lakukan. Aku hendak men-cancelnya tapi Donghae mengelak sehingga aku tak bisa mengambil iPhoneku.

“Mereka minta kau segera mencari pacar, kan? Aku ingin mereka tahu kalau kau milikku,” katanya sambil tersenyum lembut padaku.

Ya ampun, pria ini. Aku kehilangan kata-kata jika ia sudah menatapku dengan mata sendunya dan memberikan senyuman itu padaku. Aku baru sadar kalau ternyata ia sudah menjadi sangat tampan sekarang. Bagaimana bisa aku telat menyadarinya?

Choi Jihyo: “WHATTTT?”

Song Hyejin: “APA MAKSUDNYAA?!”

Park Minah: “INI TIDAK MUNGKIN!”

Jung Hyunah: “HAMUN! Kau….”

Kang Hamun: “Annyeong, Hyejin shi, Jihyo shi, Minah shi, Hyunah shi. Lee Donghae imnida. Saat ini aku memperkenalkan diri bukan sebagai dosen kalian melainkan kekasih Hamun. Aku sudah lama menyukai Hamun dan akhirnya dua tahun yang lalu kami berpacaran.

Song Hyejin: Siapa yang tadi bilang kalau ia tidak akan suka pada pria yang selalu menghukumnya, menyuruhnya membawa laporann, suka tantrum, dan temperamennya tinggi?”

Choi Jihyo: “Yaaa! Kang Hamun! Kenapa tidak bilaaang?”

Kang Hamun: “Aku yang memintanya untuk merahasiakan ini tapi setelah cukup lama berpikir, aku yakin Hamun ingin (setidaknya) kalian tahu. Maka dari itu aku mengatakan hal ini pada kalian,”

Song Hyejin: “Dua tahun merahasiakan ini semua dari kami? Daebak!”

Park Minah: “Ternyata si magnae yang kelihatan paling tidak memikirkan pria justru mendapatkan dosen kita,”

Kang Hamun: “Itu pesonanya (ini masih Lee Donghae)”

Jung Hyunah: “Chukae untuk kalian berdua. Kami ikut bahagia,”

Donghae menatapkku dengan ekspresi wajah yang penuh kebahagiaan. “Terima kasih sudah membiarkan mereka tahu,” kataku dengan tulus.

“Terima kasih sudah mau bersabar untukku,” katanya. “Saranghae,” kata Donghae.

“Nado,”

******