By @gurlindah93

 

Siang ini Yunho dan koleganya akan ke kantorku untuk menandatangani kontrak kemudian langsung pulang ke Amerika.

Sejak mengetahui kalau dia tidak memiliki perasaan apapun padaku aku merasa lebih nyaman dalam menghadapinya, bertemu dengannya selalu membuatku bahagia karena sebelum aku mencintainya dia adalah kakak laki-lakiku yang selalu melindungiku.

“Kamu sudah siap bertemu pria itu?” bisik Eric padaku saat kami di ruang rapat menunggu kedatangan Yunho dan koleganya.

Aku tidak mengharapkan Eric mengkhawatirkan kondisiku atau semacamnya, tapi pertanyaannya membuatku merasa dia tidak membenciku. Setidaknya dia ingin tahu keadaanku dan aku menghargainya.

“Gwenchana sajangnim, aku sudah baik-baik saja. Don’t worry. Gomawoyo untuk semuanya” balasku sambil berbisik juga.

Saat yang bersamaan klien yang kami tunggu datang. Yunho terlihat sangat tampan dengan turtle neck hitam dan setelan jas merah maroon. Aku bangga karena pernah jatuh cinta pada pria tampan sepertinya hahaha.

Tidak butuh lama bagi kedua belah pihak untuk menandatangani kontrak karena semua sudah kami bicarakan dengan intens dan detail hanya dalam 3 pertemuan. Eric Mun memang benar-benar CEO yang luar biasa, dia bisa membuat klien menyetujui semua idenya yang selalu menguntungkan kedua belah pihak. Aku belajar banyak darinya.

“MinAh, aku pamit ya. Sepertinya kita tidak akan bertemu untuk waktu yang lama.. Annyeong..” pamit Yunho padaku lalu memelukku.

Perasaanku bercampur aduk, di satu sisi aku sedih karena akan berpisah dengannya lagi tapi di sisi lain aku bahagia karena aku bisa menata perasaanku dengan lebih baik tanpa harus dibayang-bayangi olehnya.

“Oppa annyeong. Hati-hati di jalan, jangan lupa menghubungiku ya” ucapku dengan sungguh-sungguh.

“Kami akan mengantarmu ke airport” kata Eric tiba-tiba. Aku melotot padanya. Kenapa lagi dia, tiba-tiba ingin mengantar Yunho ke airport.

“Ah tidak perlu Eric-ssi, aku yakin kalian banyak punya pekerjaan yang harus diselesaikan. Gwenchana, yang penting aku sudah berpamitan dengan MinAh” Yunho menatapku dengan sedih.

“Gwenchana, sepulang dari airport kami akan mampir ke tempat  klien yang searah” aku tahu Eric berbohong, klien mana yang akan dia temui, dia tidak pernah mau menemui klien di luar selain di kantor ini. Bossku ini juga jarang melakukan perjalanan bisnis ke luar kota atau luar negeri. Dibandingan Jungsoo oppa yang selalu melakukan perjalanan bisnis sebulan sekali, bossku termasuk CEO yang cukup aneh.

“Incheon? Jinjja?” Yunho nampak tidak percaya.

“Ne, Incheon. Benar kan MinAh?” Eric menatapku dan aku tahu tatapan apa itu. Tanpa berpikir aku langsung mengangguk. Lama kelamaan aku merasa seperti robotnya yang selalu menuruti perintahnya.

“Baiklah, sampai bertemu di airport Eric-ssi, MinAh” sahut Yunho kemudian pergi.

“Yaaaa sajangnim. Kita tidak punya klien di Incheon, kenapa sajangnim harus berbohong?” aku menggerutu padanya. Masalahnya aku punya setumpuk tugas yang harus kuselesaikan secepatnya.

“Kamu harus mengucapkan perpisahan yang pantas, dia sudah kamu anggap seperti kakak laki-lakimu kan? Sudah jangan banyak tanya, aku akan memberitahu Yoomi kalau kita akan Incheon” Eric meninggalkanku termenung di ruang rapat.

“Yaaaaa ppali!!!!” teriaknya dari luar. Masih dengan kebingungan aku mengikutinya.

“Sajangnim, apa perlu kita ke Incheon?” tanyaku pada Eric yang sedang mengemudikan mobilnya. Awas ya kalau dia mengomeliku gara-gara tugasku belum selesai.

“Ini adalah waktu yang tepat untuk melepaskan semuanya” jawabnya tanpa menoleh sedikitpun padaku.

Jawabannya membuatku terkejut. Aku tahu yang dimaksud dengan semuanya adalah perasaanku, dengan mengantarkan kepergian Yunho Eric berharap aku bisa mengucapkan selamat tinggal tidak hanya pada Yunho tapi juga pada perasaanku.

“Gomapta” ucapku lirih dengan penuh rasa terima kasih. Nampaknya kami sedang belajar untuk saling memahami dan menurutku itu sangat bagus. Kami masih bekerja bersama selama 3 minggu lagi, akan sangat menyenangkan kalau kami saling memahami. Paling tidak bisa sedikit mengurangi frekuensi argumen yang selama ini sering kami lakukan.

Setelah menemukan Yunho di airport aku mengucapkan perpisahan lagi “Annyeong, aku benar-benar akan merindukan oppa” kataku dengan tulus sambil memeluknya.

“Aku akan sering menghubungimu, dulu aku tidak pernah menghubungimu karena kata Hyun kamu sedang sibuk untuk sekolah jadi aku tidak ingin mengganggumu. Tapi kini setelah melihatmu menjadi wanita cantik yang penuh percaya diri aku merasa sangat bangga” balasnya sambil mengelus-elus rambutku. Berada di pelukannya membuatku kembali ke masa kecilku.

“Ehem” sela Eric yang membuyarkan momen indahku dan Yunho. Aku meliriknya dengan sebal.

“Sepertinya aku harus segera pergi. Jaga dirimu MinAh, Eric-ssi aku menitipkan MinAh padamu. Tolong jaga dia baik-baik” ujar Yunho.

“Ne Yunho-ssi, pasti” sahut Eric yang kutebak hanya basa-basi.

“Saranghae” setelah mengucapkan itu rasanya segala beban di hatiku menghilang. Aku sudah mengungkapkan perasaanku walau aku yakin Yunho akan salah menafsirkannya.

“Nado saranghae nae dongsaeng, my beautiful sister. Take care” setelah mencium keningku Yunho langsung pergi.

Aku menatap punggung pria yang pernah kucintai dengan nanar, seiring dengan kepergiannya aku harus mulai membuka hatiku. Belajar untuk sungguh-sungguh mencintai pria lain.

“Sudah puas?” Eric tiba-tiba berdiri di depanku saat aku sedang menikmati punggung Yunho menjauh.

“Yaaaaaa di saat seperti ini seharusnya aku memperhatikan punggung pria yang pernah kucintai pergi meninggalkanku sampai dia hilang dari pandanganku seperti di drama-drama. Kenapa kamu malah menutupinya? Minggir sana” aku berusaha mendorong Eric tapi dia tidak bergeming sama sekali, sepertinya tenagaku kurang menghadapi pria sebesar dia. Lalu aku berjinjit untuk mengintip Yunho tapi malah dihalang-halangi oleh Eric.

“Drama? Apa tidak cukup tadi kamu memeluknya begitu lama? Aku saja yang melihat merasa capek. Ayo pulang, melihat kalian bermesraan membuatku merasa lapar” akhirnya Eric pergi dari hadapanku tapi sayangnya Yunho sudah tidak nampak. Aku sangat sebal dengannya karena menghilangkan momen romantisku.

“Yaaaaaa Eric Mun!!!” panggilku. Ups, kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulutku.

Eric menghentikan langkahnya lalu berjalan ke arahku. Aku bisa melihat aura kemarahan darinya. Gawat.

“Eric Mun???? Eric Mun????????? Aku berbaik hati mengantarkanmu mengucapkan selamat tinggal pada cinta masa kecilmu lalu kamu merasa berhak memanggilku dengan Eric Mun??????” semburnya tepat di depan wajahku. Kini orang-orang mulai memperhatikan kami.

“Kajja, kita lanjutkan di dalam mobil” bisik Eric setelah menyadari kalau semua tatapan mata pengunjung airport tertuju pada kami.

Aku ketakutan dengan nadanya yang penuh ancaman. Berada dalam 1 mobil dengannya berarti kiamat, aku harus melarikan diri “Ani… Aniya sajangnim, aku akan pulang naik taksi saja. Gamsahamnida” tolakku. Sepertinya dia tahu rencanaku melarikan diri darinya karena bahkan sebelum aku menggerakkan kaki seinchipun dia berhasil mengamit lenganku dan menguncinya.

“Jangan harap kamu bisa melarikan diri begitu saja Park MinAh” walaupun Eric mengatakan dengan suara hampir tidak terdengar tapi di telingaku dia seperti singa yang mengaum karena melihat santapannya. Habislah aku.

Eric menggeretku ke mobilnya dan aku sudah siap mendengarkan kemarahannya.

“Yaaaaaaa Park MinAh!!!! Berani-beraninya kamu memanggilku Eric Mun!! Apa aku sudah bukan bossmu lagi?” teriaknya tanpa basa-basi.

“Joesonghamnida sajangnim, joesonghamnida… Aku tidak sengaja, aku terlalu sebal karena sajangnim menghalangi padanganku. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi” kataku tanpa menoleh padanya. Melirik saja aku tidak berani. Huks. Dia sungguh menyeramkan.

“Kamu sadar posisi kita kan? Kamu adalah sekretarisku, aku tidak peduli dengan kekayaan orang tuamu tapi bagiku kamu adalah sekretarisku dan kamu harus menghormatiku sebagai bossmu. Ada batasan-batasan yang mau tidak mau harus kamu patuhi selama kamu bekerja sebagai sekretarisku. Kamu tahu betapa lancangnya kamu tadi?” Eric menatapku dengan tajam.

Untuk pertama kali selama aku mengenal Eric Mun baru kali ini aku mendengar kemarahan bercampur dengan kekecewaan dari mulutnya. Apa aku telah begitu mengecewakannya?

“Ne sajangnim, tadi aku sangat lancang. Aku tahu sajangnim tidak suka hal itu. Joesonghamnida. Aku memang bersalah, aku lupa menempatkan diri. Joesonghamnida” setelah mengatakan permintaan maaf untuk kesekian kalinya aku langsung menangis. Seumur hidup aku belum pernah menangis di depan pria kecuali appa dan Jungsoo oppa.

“Yaaaaaa apa kamu menangis?” tanya Eric dengan syok. Mungkin dia tidak mengira aku menangis karena hal sepele.

Aku menggeleng “Ani” tapi terlambat, suaraku sudah terdengar parau dan air mata sudah mengalir di pipiku dengan sukup deras.

Kalau bisa saat ini juga aku akan menghentikan air mataku yang terus-terusan keluar ini, tapi aku tidak bisa. Sungguh memalukan aku menangis karena hal sepele yaitu mendengarkan kemarahan Eric yang sebenarnya sehari-hari selalu kualami,. Tapi kali ini aku memang bersalah, aku tidak bisa memberi argumen atau membenarkan perilakuku. Memanggilnya Eric Mun memang tidak bisa dibenarkan. Dia adalah bossku. Eric Mun adalah boss dari Park MinAh.

“Hapus air matamu” Eric memberikan sapu tangannya. Tanpa kata-kata aku menerimanya, dalam keadaan seperti ini aku tidak bisa membantahnya.

Setelah aku bisa mengendalikan tangisku Eric mulai mengemudikan mobilnya entah ke mana. Aku bahkan tidak sanggup mengangkat kepalaku.

“Turun” suruh Eric, tanpa bertanya aku mengikuti perintahnya. Ternyata kami berhenti di sebuah restaurant yang terlihat tradisional.

Unsur tradisional ternyata tidak hanya di luar, di dalam restaurant malah lebih tradisional. Semua perabotan terlihat tua tapi terasa menyenangkan dan hangat seakan-akan kita sedang bertandang ke rumah halmoni dan haraboji. Seumur hidup aku belum pernah ke restaurant semacam ini.

“Annyeonghaseyo. Omo, Eric?” seorang wanita paruh baya yang melayani kami nampak terkejut dengan kedatangan Eric.

“Ne ahjumma, sudah lama tidak bertemu” sapa Eric dengan sopan.

“Eeeeyyyy 4 tahun itu sudah sangat lama. Tapi aku tidak pernah lupa wajah tampanmu. Kedua orang tuamu saja kalau ke Korea selalu mampir kemari kenapa kamu tidak pernah?” wanita paruh baya itu nampak sedikit kecewa.

“Joesonghamnida ahjumma, saya sangat sibuk. Nanti saya akan sering-sering kemari” janji Eric yang kusangsikan akan ditepati.

“Gwenchana, yang penting kamu sehat. Nuguya?” ahjumma itu menunjukku.

“Annyeonghaseyo, jeoneun Park MinAh-imnida bangapseumnida” ujarku memperkenalkan diri.

“Aigoo, kamu tidak pernah sekalipun mengajak seorang gadis kemari sejak pertama kali kemari. Manis sekali dia” komentar ahjumma itu sambil senyum-senyum memperhatikanku.

“Ani, dia sekretaris saya” sekali lagi Eric menegaskan kalau aku adalah sekretarisnya.

“Sekretaris atau apapun dia tetap seorang gadis, gadis yang manis. Pintar sekali kamu memilihnya. Ya sudah aku akan membuatkan menu spesial untuk kalian berdua” kata ahjumma itu lalu meninggalkan kami.

“Restaurant ini pertama kali kukunjungi saat aku berusia 7 tahun. Aku dan keluargaku selalu mampir kemari dalam perjalanan dari Incheon airport ke rumah. Ahjumma itu adalah anak dari pemilik restaurant ini” Eric menjelaskan tanpa kutanya. Aku hanya diam saja mendengarkan tanpa mengangkat wajahku.

“Gwenchana? Aku tidak menyangka tadi kamu akan menangis” tanyanya. Tentu saja dia tidak menyangka, selama ini dia mengenal sekretarisnya sebagai wanita tangguh tapi ternyata sekretarisnya menangis karena hal sepele. Sungguh memalukan.

“Gwenchana sajangnim, joesonghamnida” aku menatapnya untuk meyakinkan kalau aku sudah baik-baik saja.

Tidak lama kemudian ahjumma itu kembali membawa makanan yang dari aromanya sangat sedap sekali. Dan benar saja semua makanan di restaurant ini tidak ada yang mengecewakan.

“Whoaaaaa semua makanan di sini benar-benar enak sajangnim” komentarku, Eric hanya tertawa melihatku yang memakan semuanya dengan lahap.

Setelah menghabiskan semuanya kami langsung kembali ke kantor karena masih banyak pekerjaan yang harus kami selesaikan.

“SS-yaaaa. Ireona..” sayup-sayup aku mendengar seseorang memanggilku.

Aku membuka mata sedikit dan menyadari aku masih di dalam mobil Eric. Sepertinya aku tertidur dalam perjalanan pulang.

“Apa aku tertidur sajangnim?” kukerjapkan mata dan kusadari kami sudah sampai di depan kantor kami.

“Ne, dan mengorok. Ayo turun, tugas-tugas memanggilmu” mendengar kata tugas kesadaranku langsung kembali sepenuhnya.

“Apa aku tadi benar-benar mengorok sajangnim?” tanyaku penasaran karena aku merasa tidak pernah mengorok seumur hidup, tapi Eric hanya tersenyum penuh arti. Aaahhh bossku ini selalu saja menyebalkan, aku kan penasaran apa tadi aku mengorok atau tidak.

***

Weekend ini aku memiliki janji untuk yoga bersama keempat sahabatku. Akhirnya aku bisa sedikit memiliki waktu luang karena tidak ada pekerjaan yang kubawa pulang.

“Hyejin-aahh bagaimana kabar Joongki oppa?” tanyaku saat menunggu yang lain datang sambil melakukan sedikit pemanasan.

“Baik, beberapa hari yang lalu aku baru saja menengoknya. Dia semakin tampan, tubuhnya semakin kekar” jawabnya dengan bangga. Aku ingat saat Joongki masuk wajib militer Hyejin menangis dan tidak mau keluar kamar selama 4 hari karena merindukan kakaknya. Berbeda denganku yang bahagia saat Jungsoo oppa mengikuti wajib militer, hidupku terasa sangat tenang karena tidak mendengar teriak-teriakannya selama 2 tahun. Ada sih saat-saat aku merindukan Jungsoo oppa, tapi jarang. Hahahaa.

Setelah kami berlima berkumpul segera saja Cho Hyemi instruktur yoga kami memulai sesi hari ini.

“Bagaimana kabar boss titan eonni?” tanya Jihyo sambil berbisik-bisik.

“Dia? Tetap menyebalkan seperti biasanya, tapi entah kenapa sudah 2 weekend ini dia tidak memberi tugas apapun untuk kubawa pulang ke rumah. Mungkin dia sedikit mengasihaniku karena kantong mataku semakin menghitam. Aiiisssssh pria itu selalu saja ya….” “MinAh….” tegur Hyemi. Sepertinya aku sudah sedikit mengganggu ketenangan kelas kami.

“Ne, Hyemi mianhae. Kamu sih Jihyo tanya-tanya boss titan” aku melotot pada Jihyo, menyalahkannya karena bertanya tentang Eric sehingga membuatku tidak berhenti bicara.

“Mianhae” sepupu jauhku itu menyengir sambil meminta maaf. Dasar gadis tengil.

“Eonni tidak bisa berhenti kalau membicarakan boss titan ya” kata Hamun tiba-tiba saat kami beristirahat di cafe setelah menyelesaikan sesi yoga. Kenapa magnaedeul jadi sering membicarakan bosku sih?

“Menceritakan pria itu tidak ada habisnya. Banyak sekali cerita jika menyangkut pria itu yang membuatku geleng-geleng kepala, bahkan baru-baru ini terjadi hal yang tidak pernah terbayangkan olehku sebelumnya” jelasku merujuk pada bagaimana aku menangis karena dimarahi oleh bossku beberapa hari lalu di Incheon.

“Ada apa memangnya?” tanya HyunAh penasaran. Aku menggeleng “Ada kejadian tidak terduga. Sudah ah jangan membahasnya lagi, aku sedang ingin menikmati kebersamaan kita. Jangan diganggu dengan pembahasan tentang Eric Mun. Arraseo?” aku tidak ingin menceritakan pada mereka kalau aku menangis gara-gara dimarahi Eric karena kejadian itu cukup memalukan.

Yang aneh sejak kejadian di Incheon adalah sekarang aku malah lebih sering menganggap Eric sebagai laki-laki dibanding sebagai boss, padahal dia sudah mengatakan dengan jelas kalau aku hanya boleh menganggapnya sebagai boss selama aku masih bekerja bersamanya. Aneh bukan?

***

tbc

Enjoy ^^