“Hyung, aku tidak bisa masak,” Kyuhyun melirik sebal ke arah member tertua di antara Super Girls’ Namja, Eric yang sedang sibuk memasak air. “Hyuuuuuuung!”

“Ne, arra, arra, Kyu!” Eric mendengus kesal. “Tapi ini kan sebagai bukti cinta kita kepada para yeoja kesayangan kita. Sekali-kali berkorbanlah,” Eric mengatakan kalimat tersebut seperti komandan yang sedang membakar semangat para prajuritnya, hanya Henry yang bertepuk tangan, Kyuhyun semakin menjadi-jadi mendumel dan Donghae yang sejak tadi disuruh Eric mengupas bawang hanya terdiam sambil sesekali mengelap matanya yang pedih.

“Hyung, daebak! Aku akan memasakkan sesuatu yang khusus untuk Hyun ku tersayang!” Henry mengambil apron bermotif anak panda berwarna hijau neon dari tasnya.

“Ya Magnae! Woobin kemana sih?” Kyuhyun mau tak mau mulai mengupas kentang karena Eric sudah menodongkan pisau daging ke arahnya.

“Woobin bilang dia akan segera menyusul setelah syuting Running Man. Sudah kau kerjakan saja pekerjaanmu jangan banyak bicara!” seru Eric.

“Hyung sendiri daritadi cuma memerintah saja. Sudahlah hyung, bilang saja kau tidak bisa memasak sama sepertiku. Kita beli makanan delivery saja sih, selesai.”

Eric memajukan pisau daging yang sejak tadi dipegangnya mendekati Kyuhyun. “Jaga bicaramu, anak muda.”

“Ne, haraboji,” teriak Kyuhyun dan Henry bersamaan.

“Hyungdeul, maaf aku terlambat,” Woobin setengah berlari menuju dapur apartemen Eric.

“Woobin-aaah!” Henry langsung memeluk teman seumurannya dengan senang. “Akhirnya kau datang juga! Aku ada menu baru untuk HyunAh? Kau mau coba? Nanti kau dan Jihyo akan kubagi! Oke, oke?”

“Kyu,” Eric menyikut lengan Kyuhyun. “Aku masih tidak bisa percaya kalau mereka seumuran,” bisik Eric.

“Huh? Kenapa hyung?” Kyuhyun kini bergabung bersama Eric memandangi kedua magnaedeulnya yang sedang sibuk berdiskusi mengenai resep masakan baru Henry.

“Kau lihat saja, Woobin terlihat dewasa sekali, yah kecuali kalau sifat devilnya sudah muncul. Tapi Henry itu masih anak-anak sekali. Bahkan dari selera fashion saja sudah berbeda, cckcck.” ujar Eric.

Kyuhyun memandangi keduanya, memang sih fashion mereka seperti bumi dan langit. Woobin terlihat amat modis dengan celana denim dan sweater turtle neck hitam yang dipakainya. Kalau Henry, yah, Kyuhyun rasa dia cukup menggemaskan dengan celana pendek warna kuning, kemeja pink, dan apron hijau neon. “Kurasa Woobin harus mengajari Henry fashion, hyung.”

“Ah!” Woobin menghentikan kegiatan gosip Eric dan Kyuhyun. “Annyeonghaseyo, Kim Woobin imnida,” Woobin membungkukkan tubuhnya memberikan salam kepada Donghae. Memang diantara para namjachingu Super Girls, hanya Woobin saja yang belum pernah bertemu langsung dengan Donghae disaat informal seperti ini karena Woobin selalu sibuk syuting.

“Lee Donghae imnida,” Donghae membalas salam Woobin.

“Kukira Wonnie hyung yang akan datang,” Woobin melipat kedua tangannya di depan dadanya dan bersender pada salah satu dinding dapur Eric. “Kurasa aku lupa kalau Hamun sudah berpaling ke sahabatnya Wonnie hyung.”

Donghae terdiam sesaat, merasa tidak enak dengan Woobin. Bagaimanapun juga, namja dihadapannya ini adalah kekasih dari adik perempuan Choi Siwon, ia merasa tidak enak bergabung dengan para namja-namja ini. “Mmh, aku,” Donghae berpikir dengan keras. “Aku belum resmi berpacaran dengan Hamun.”

“Jinja?” Woobin kini benar-benar kaget, ia tertawa sarkas. “Kau sudah merebut Hamun dari Wonnie hyung tapi sampai sekarang kau menggantungkan Hamun. Parah sekali.”

“Yaaaa, Woobin-ah, kau agak keterlaluan,” Kyuhyun menjitak kepala Woobin. “Lihat ekspresi Donghae, dia jadi sangat merasa bersalah.”

“Hahahaha, pantas saja kau sekarang jadi aktor incaran satu Korea, Woobin-ah. Daebak!” Eric tertawa sangat puas. “Selamat datang ke klub para namja yang menderita, Lee Donghae!”

“Ini, ini ada apa?” Donghae yang masih bingung daritadi bahkan tak bergerak dari posisi ia berdiri sejak tadi. Ia masih saja diliputi perasaan tidak enak.

“Donghae hyung, eh, aku tidak apa-apa kan memanggilmu seperti itu? Kau tidak sadar apa daritadi kau dikerjai oleh Eric hyung! Apa kau tidak sadar apa daritadi mereka bertiga mengucilkanmu dengan menyuruhmu mengiris bawang di sudut pojok seperti itu?” Woobin kini melembutkan suaranya agar tak terdengar sarkas.

“Tapi kan yang mengeksekusi bagian pentingnya kan kau, Woobin! Harusnya kau tadi tidak terlambat, kami bertiga sudah mati kutu mendiamkan Donghae seperti itu!” kini Eric ikut menjitak Woobin.

“Hyuuuung, maafkan kami yah. Ini cara kami menyambut anggota baru. Dulu saja Woobin sampai seminggu dikerjai oleh Eric dan Kyu hyung,” Henry memasang tampang super menyesal yang langsung dihadiahi Donghae dengan cubitan di pipi Henry yang menggemaskan.

“Jeongmal miaaan, Donghae hyung. Aku turut bahagia kok kalau Hamun bahagia. Tapi cepatlah resmikan hubungan kalian,” Woobin kini memeluk Donghae meminta maaf karena tingkah usilnya.

“Gwenchana, Woobin-ah. Dulu aku tidak pernah mengerti mengapa Jihyo bisa berpacaran denganmu. Tapi setelah melihatmu seperti ini, aku tau kalau kau dan Jihyo sama-sama usil,” tawa Donghae.

“Koreksi, sama-sama evil,” Kyuhyun mengangkat suaranya.

“Hyung, kalau aku evil, kau apa?” Woobin protes.

“Aku rajanya evil, hahahahaha,” Kyuhyun tertawa puas melihat wajah sebal Woobin.

“Eh, bau apa ini?” Eric mengendus-ngendusnya hidungnya, mencium bau gosong.

“Omo! Daging yang aku goreng gosong!” teriak Henry heboh. “Woobin, Woobin, tolong aku!”

“Tuh kan kubilang juga apa, mending pesan makanan delivery,” Kyuhyun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Jagi? Jagi? Kau ada di rumah?” suara MinAh terdengar dari jauh. Sepertinya anggota Super Girls sudah datang.

“Omo! Cepat buang semuanya ke tong sampah! Bereskan dapur! Kyu, telpon makanan delivery, pesan 10 porsi!” teriak Eric panik mendengar suara kekasihnya. Kalau MinAh melihat kekacauan di dapur ini, bisa-bisa ia murka karena Eric sudah menjerumuskan para namja untuk memasak.

Donghae hanya bisa tertawa, sepertinya hidupnya saat ini tidak hanya akan berwarna karena Hamun, namun juga karena para namja di sekelilingnya ini.