By @gurlindah93

 

Beberapa hari terakhir ini setiap kali bertemu Eric aku selalu merasa bersemangat padahal yang kudengar dari mulutnya adalah perintah dan omelan. Entahlah, aku tidak sempat memikirkannya karena tugasku yang menumpuk setinggi mount everest.

“SS-yaaa ini dokumen halaman 36 tidak ada, apa belum kamu print?” tanya Eric dengan nada tajam melalui telepon.

“Sudah semua sajangnim, coba aku periksa lagi” ujarku lalu menutup telepon dan segera ke ruangan Eric.

“Ini” Eric menyerahkan dokumen yang langsung kuperiksa, benar saja halaman 36 tidak ada.

“Joesonghamnida sajangnim. Aku akan memeriksanya lagi siapa tahu ada yang belum kuprint lagi” kuperiksa dengan teliti satu persatu halaman.

“Kamu sudah melakukan ini beratus-ratus kali tapi masih ada kesalahan tidak penting. Ckckck” komentar Eric.

Kulirik boss titan dengan sebal, dia terlihat tidak peduli malah menatapku dengan tatapan ‘cepat selesaikan’ yang membuatku kembali menekuni dokumen di tanganku.

“Hanya 1 halaman yang tidak ada, aku akan mengeprintnya dulu sajangnim” aku mengutuk diriku yang tidak teliti, waktu beberapa menit terbuang percuma untuk mengecek kelengkapan halaman. Aku merasa seperti mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas akhir.

Setelah halaman 36 selesai kuprint aku membawanya beserta beberapa kontrak kerja yang baru selesai kukerjakan ke ruangan Eric. Tapi ternyata dia tidak ada di ruangannya, kutebak dia sedang berada di ruangan Yoomi yang terhubung langsung dengan ruangan CEO. Terkadang aku iri dengan Yoomi yang memiliki ruangan yang sangat nyaman, sedangkan aku harus duduk di meja kecil di depan ruangan Eric. Hidup memang tidak pernah adil.

Kubuka pintu ruangan Yoomi perlahan, benar saja Eric ada di dalam ruangan Yoomi. Tapi apa yang dilakukannya membuatku terkesiap.

Eric mengelus-elus rambut Yoomi dan menatap wanita yang sedang tidur itu dengan penuh perasaan. Walau aku baru saja patah hati tapi aku tahu tatapan apa itu. Tatapan cinta.

Dengan perlahan pula aku keluar dari ruangan Yoomi, aku akan berpura-pura tidak pernah melihatnya.

“SS” panggil Eric saat aku baru melangkah 1 meter dari ruangan Yoomi. Setelah mengerjap-ngerjapkan mata aku berbalik.

“Ne sajangnim” aku tersenyum sambil melihatnya.

Ekspresi wajah Eric nampak sedikit keras tapi anehnya ada kesedihan di sana.

“Ayo ikut aku, kita makan di luar” ajak Eric.

“Gamsahamnida.. Tapi tugasku masih banyak sajangnim” aku berjalan ke meja Eric dan meletakkan kertas-kertas yang kupegang di sana lalu melangkah keluar.

“Siapa yang mengajakmu? Ini perintah” Eric menghentikan langkahku dengan kata-katanya.

Sekali lagi aku berbalik dan menghadapnya “Tapi ini masih jam 11 sajangnim, belum saatnya istirahat” ujarku sambil tersenyum. Sebisa mungkin aku menghindarinya karena tidak ingin membahas apa yang baru saja kulihat.

“Aku CEO di sini” Eric berjalan melewatiku menuju keluar. Jika sudah seperti ini aku tidak bisa membantahnya.

Di dalam mobil aku hanya diam saja tidak tahu harus berkata apa.

“Mau makan apa?” tanya Eric memecah kesunyian di antara kami. “Terserah sajangnim, aku tidak lapar” jawabku singkat. Sebenarnya aku sudah punya rencana makan siang di restaurant Italia yang terkenal di dalam mall, tapi dalam keadaan seperti ini tidak mungkin kan aku bilang ingin makan makanan Italia.

Beberapa menit kemudian Eric membelokkan mobilnya ke sebuah restaurant Italia yang sama seperti yang ingin kudatangi. Apa pria ini punya indra keenam ya?

“Fettuccine salmon 1, strawberry juice 1” pesanku bahkan saat waitress belum menyapa kami.

“Katanya tadi tidak lapar” Eric menatapku dengan heran. “Sudah lama aku ingin ke sini, aku sudah tahu recommended menu di restaurant ini hehee” kataku dengan senang. Eric hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah lakuku.

“Fettuccine salmon 1, ice capuccino 1” pesan Eric. “Sajangnim ikut-ikut ah” komentarku setelah waitress yang melayani kami pergi.

Eric menatapku dengan serius, dia pasti akan membahas kejadian di kantor.

“Apa yang kamu lihat?” tanyanya. “Hah? Melihat apa?” sepertinya aku tidak pandai berakting karena nada bicaraku terdengar kaku.

“Tadi di ruangan Yoomi” sepertinya Eric yakin kalau aku melihatnya.

“Hanya sajangnim, berdiri di sebelah Yoomi-ssi yang sedang tertidur……” aku tidak sanggup melanjutkan lagi. Aku kembali mengerjap-ngerjapkan mata.

“Hmmmmm jadi kamu melihat semuanya” ujarnya lirih. Menurutku saat ini bossku terlihat rapuh. Sisi lain dari Eric Mun yang baru kulihat.

“Sajangnim mau menceritakannya? Aku kan sudah cerita kisah tragisku dengan Yunho oppa, tidak adil kalau sajangnim tidak menceritakan kisah sajangnim juga” walaupun aku tidak ingin mengetahui kehidupan pribadi Eric tapi jujur saja aku penasaran.

Setelah menghela nafas panjang dia mulai bercerita “Aku memang memiliki perasaan pada Yoomi. Aku yang tidak pernah mencampur urusan pekerjaan dan pribadi jatuh cinta pada PAku sejak awal dia bekerja bersamaku” akunya. Jadi inilah alasan kenapa Eric memperlakukan Yoomi dengan lembut.

“Apa sajangnim sudah menyatakannya pada Yoomi-ssi?” sebagai boss tentu tidak akan sulit baginya untuk menyatakan cinta pada PAnya.

Eric menggeleng “Tidak, aku tidak pernah bilang padanya. Aku sudah merasa memilikinya. Tidak perlu pernyataan cinta” romantis juga bossku ini.

“Apa Yoomi-ssi juga mencintai sajangnim?” tanyaku hati-hati. “Sepertinya tidak, entahlah aku tidak tahu. Berbeda denganmu aku tidak perlu mengetahui perasaan Yoomi, memilikinya di sisiku saja sudah cukup bagiku” dibandingkan tadi, sekarang Eric terlihat semakin rapuh dan aku tidak suka hal itu.

“Ternyata kita berdua sama-sama memiliki cerita cinta yang klasik. Seorang boss yang jatuh cinta pada pegawainya, benar-benar klise dan mudah ditebak” ucapku mengulang kata-katanya padaku untuk mencairkan suasana. Melihat Eric yang rapuh membuat dadaku terasa sakit.

“Yaaaa ceritaku ini cerita cinta dewasa, berbeda denganmu, cerita cinta remaja” aku menyunggingkan senyum melihatnya sudah kembali lagi seperti Eric yang kukenal.

“Arraseo… Tetap saja namanya cinta yang bertepuk sebelah tangan hehehe” kuarahkan telapak tanganku ke depannya. Dengan malas dia menepuk telapak tanganku.

“Jota….” kataku senang. Aku tidak peduli dia mencintai siapa, yang aku inginkan hanya melihat sosok Eric yang kuat dan tangguh seperti biasanya.

Tidak lama kemudian pesanan kami datang. Mencium baunya membuatku ingin segera menghabiskan makanan impianku.

“Sepertinya aku mengalami karma” katanya tiba-tiba saat kami menyantap makanan kami.

“Mwo?” aku bingung dengan maksudnya. “Kamu tahu alasanku benar-benar marah saat kamu memanggilku Eric Mun?” dia mengingatkanku pada kejadian paling horor di hidupku. Aku mengangguk dengan lemah.

“PA sebelum Yoomi adalah PA sekaligus gadis yang baik. Aku merasa cocok dengannya sehingga aku menyuruhnya untuk memanggilku Eric-ssi saat kami tidak di kantor agar kami lebih akrab, sayangnya dia salah mengartikan maksudku. Tidak lama setelah dia memanggilku Eric-ssi dia menyatakan cinta padaku, katanya dia merasa aku juga jatuh cinta padanya karena memperbolehkannya memanggil namaku. Tentu saja aku bilang aku tidak pernah mencintainya, aku pria yang tidak pernah mencampur urusan pekerjaan dan urusan pribadi. Besoknya aku memecatnya” jelasnya.

Aku melongo mendengar ceritanya “Hahahaha sajangnim, menurutku saat dia menerima surat pemecatannya dia langsung menyumpahimu agar jatuh cinta pada salah satu pegawaimu. Bukankah Tuhan selalu mengabulkan doa hambaNya yang teraniaya? Hahahahaa” tawaku tidak bisa berhenti.

“Yaaaaa geumanhae! Ayo pulang!” sahutnya dengan nada tinggi. “Makananku belum habis sajangnim” tolakku lalu melanjutkan kegiatan makanku yang terhenti.

Eric bangkit dari kursi lalu menarik tanganku “Yaaaa sajangnim, aku masih lapar. Lepaskan, biarkan aku selesai makan. Nanti aku pulang sendiri” rajukku, aku meronta-ronta agar dibiarkan menghabiskan makananku tapi dia malah mempererat pegangannya. Dengan 1 tangan dia mengeluarkan kartu kredit dari jasnya lalu membayar dan menarikku ke mobilnya.

Aku memanyunkan bibirku dan diam saja selama dalam perjalanan.

“SS-yaaa.. Marah?” tanya Eric. Tidak ada jawaban keluar dari mulutku. Aku sungguh kesal dengannya karena aku belum memakan salmonnya sama sekali. Sejak kecil aku selalu menyisihkan bagian yang paling kusuka untuk kumakan terakhir tapi dia malah mengajakku pulang saat aku belum memakannya sedikitpun.

“Makananmu sudah habis Park MinAh! Hanya sisa salmonnya saja, kenapa kamu marah sekali?” kata Eric dengan sebal. Kenapa malah dia yang sebal sih?

“Sajangnim!!! Salmon itu memang sengaja kumakan terakhir, apa sajangnim tidak tahu peribahasa save the best for the last?” aku menatapnya dengan tidak percaya.

“Oooohhh… Mianhae hehee. Salahmu sendiri menertawakanku. Aku ini bossmu, tidak boleh kamu tertawakan” ujarnya dengan kekanakan. Mendengarnya malah semakin membuatku kesal.

Beradu argumen dengan pria ini sama saja seperti berusaha memindahkan gunung, tidak berguna!

Sampai di kantor aku langsung keluar dari mobil dan berjalan mendahuluinya.

“SS. SS-yaaa” panggil Eric. Aku tidak menoleh sedikitpun.

“MinAh wae geurae?” tanya Yoomi saat melihatku datang ke kantor dengan muka cemberut.

“Biarkan saja dia, dia memang selalu kekanakan. Ayo kita bicarakan jadwalku besok” perintah Eric yang segera dituruti Yoomi.

Ya bagus, kalian berdua pergilah dari hadapanku. Aku sedang tidak ingin melihat wajah kalian.

***

Malam ini dengan berat hati aku mengetik surat pengunduran diriku yang akan kuserahkan besok. Seharusnya aku merasa senang tapi nyatanya sekarang aku merasa sedikit sedih. Aku akan merindukan semuanya, termasuk boss titanku.

Di kantor aku merapikan semuanya agar sekretaris penggantiku mudah untuk mencari data atau dokumen-dokumen. Kutata semuanya berdasarkan abjad.

‘MinAh, minggu depan kita jadi liburan ke Athena? Kalau kamu tidak bisa semuanya batal’ Jungsoo oppa mengirimkan pesan padaku. Karena belum menyerahkan surat pengunduran diri aku tidak membalasnya.

Setelah semua tertata rapi aku masuk ke ruangan Eric, sejak pagi aku tidak melihatnya. Mungkin dia sedang memeriksa store di mall.

Kuletakkan surat pengunduran diri di meja Eric. Aku memandang sekali lagi ruangan CEO Shinhwa mall untuk terakhir kalinya. Setelah yakin dengan keputusanku aku membalas pesan Jungsoo oppa.

‘Ne oppa….’

“MinAh? Wae geurae?” aku berpapasan dengan Yoomi di pintu saat aku akan keluar dari ruangan Eric.

“Aniya” jawabku pendek lalu segera menuju mejaku.

Saat sedang membereskan barang-barangku tiba-tiba Choi Sanghyun mendatangiku “MinAh-ssi, sedang beres-beras ya?” sebagai direktur HR tentu saja dia tahu kalau hari ini kontrakku berakhir.

“Ne” sahutku pendek. Melihatnya mengingatkan bagaimana aku salah mengira dia sebagai CEO Shinhwa mall. Tentu saja tidak ada yang mengira pria seperti titan dengan tingkah kekanakan itulah CEO sebenarnya.

“Hari ini adalah ulang tahunku, aku ingin mengundang MinAh-ssi dan beberapa kolega untuk merayakannya. Aku akan memberi alamatnya lewat pesan, kuharap MinAh-ssi bisa datang” undangnya dan segera pergi tanpa mendengar jawaban dariku. Bahkan aku belum mengucapkan selamat ulang tahun padanya, tapi nampaknya dia harus berkeliling untuk mengundang teman-temannya yang lain.

Sebenarnya aku heran karena dia mengundangku, aku dan Sanghyun hanya bertemu beberapa kali untuk urusan pekerjaan jadi bisa dibilang kami berdua tidak dekat apalagi berteman. Mungkin dia sekaligus ingin merayakan perpisahan denganku, bagaimanapun aku menghargai undangannya.

Pulang kantor aku membeli hadiah sebelum ke tempat karaoke tempat Sanghyun merayakan ulang tahunnya.

Omong-omong seharian ini aku tidak bertemu dengan Eric, di mana ya dia? Apa dia sakit? Aku akan mengirim pesan pada Yoomi untuk menanyakan keadaan Eric sesampainya di tempat karaoke.

Sesampainya di tempat karaoke ternyata sudah cukup banyak teman-teman sekantorku yang datang, termasuk Yoomi. Setelah memberi kado untuk Sanghyun dan mengucapkan selamat ulang tahun aku segera mendatangi Yoomi.

“Yoomi-ssi” sapaku. “MinAh, akhirnya kamu datang” ujarnya. Malam ini Yoomi terlihat sangat cantik dan bercahaya. Apa mungkin Eric sudah menyatakan perasaannya dan Yoomi membalasnya?

“Yoomi-ssi” panggil Sanghyun. “Jakkaman” ucap Yoomi padaku lalu mendatangi Sanghyun. Mereka berdua berdiri di depan dengan senyum merekah di bibir mereka.

“Gomawo karena teman-teman sudah datang ke sini. Jeongmal gomawo, aku sangat menghargainya” kata Sanghyun mengawali speechnya.

“Sebenarnya selain untuk merayakan ulang tahunku ada pengumuman yang harus kami sampaikan” Sanghyun menatap Yoomi dengan sangat bahagia.

“Kami akan segera menikah, aku dan Kim Yoomi akan menikah 2 minggu lagi” pengumuman Sanghyun membuatku seperti terkena serangan jantung. Jadi selama ini Yoomi dan Sanghyun berpacaran? Apa Eric sudah tahu hal ini? Apa ini sebabnya seharian dia tidak datang ke kantor?

Tidak tahu berapa lama aku berpikir untuk mencerna semuanya sampai seseorang memanggil namaku “MinAh… MinAh…” ternyata Yoomi sudah duduk di sebelahku.

“Mianhae, berita yang tadi kami sampaikan sepertinya membuatmu syok ya?” tanya Yoomi. Aku mengangguk, di saat seperti ini aku tidak bisa berbohong atau menyembunyikan perasaanku.

“Jadi MinAh tahu kan kenapa aku selalu berharap MinAh bisa bertahan menjadi sekretaris Eric-ssi? 2 minggu lagi aku akan menikah, kemarin aku sudah menyerahkan surat pengunduran diriku. Aku harus mengundurkan diri karena aku ingin mengurus rumah tangga dengan sebaik-baiknya” Yoomi menghela nafas lalu melanjutkan.

“Jika MinAh juga mengundurkan diri aku takut sajangnim akan sangat syok, dia harus kehilangan 2 orang sekaligus yang kuyakin akan mempengaruhi mentalnya. Walaupun dari luar sajangnim terlihat seenaknya sendiri dan angkuh tapi aku tahu sebenarnya dia cukup rapuh” terangnya. Aku sudah melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana rapuhnya dia karenamu Kim Yoomi.

“Permisi Yoomi-ssi aku harus pergi dulu” pamitku.

“Ini, tolong pikirkan lagi keputusanmu” Yoomi menyerahkan sebuah amplop padaku, amplop yang berisi surat pengunduran diriku. Aku menerimanya dan langsung memasukkan ke dalam tasku. Sekarang yang terpenting mengetahui keadaan Eric.

“Annyeonghaseyo sajangnim” seru semua orang di dalam ruangan.

Aku melihat ke arah pintu masuk yang terbuka. Eric berdiri di sana dengan tatapan tajam, dia terlihat berantakan. Hanya memakai t-shirt berwarna abu-abu dan celana jeans dengan rambut acak-acakan dia nampak mencari-cari seseorang kemudian matanya berhenti di Yoomi. Lalu dengan terburu-buru dia berjalan ke arah Yoomi, “Sajangnim” kata Yoomi yang melihat Eric berjalan ke arahnya.

Melihat situasi ini aku yakin Eric akan mendatangi Yoomi lalu menyatakan perasaannya dan memintanya membatalkan pernikahan karena Eric sudah menyimpan perasaan pada Yoomi selama 3 tahun. Di depan pegawainya. Kalau itu sampai terjadi akan muncul tsunami di Shinhwa mall.

Aku harus mencegah hal itu terjadi. Aku harus melindungi bossku. Tapi bagaimana? Apa yang harus kulakukan?

***

tbc

Enjoy ^^^