By @gurlindah93

 

Semakin Eric mendekati Yoomi semakin ngeri aku membayangkan apa yang akan terjadi. Untuk pertama kali dalam hidupku aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, jantungku berdebar sangat kencang.

Sampai Eric berjarak 2 meter dari Yoomi aku masih tidak tahu apa yang harus kulakukan. Dengan sangat menyesal aku menutup mata tidak mau melihat apa yang akan Eric lakukan. Sungguh tindakan seorang pengecut.

“Ayo ikut” aku mendengar suara Eric berbicara bersamaan dengan seseorang yang menarik tanganku dan memaksaku bangkit dari kursi kemudian berjalan mengikutinya. Siapa yang berani melakukan hal ini padaku?

Kubuka mataku dan terkejut saat Eric berdiri di depanku dan menarikku berjalan mengikutinya.

“Yaaaaa sajangnim!!! Lepaskan tanganku, kenapa kamu menarik tanganku?” gerutuku tapi tidak mendapat tanggapan darinya.

Eric menghentikan langkahnya saat kami sampai di samping mobilku. “Mana?” dia menengadahkan tangannya meminta sesuatu. “Mwo?” tanyaku tidak mengerti.

“Kunci mobilmu” perintahnya. Kunci mobil? Untuk apa dia minta kunci mobilku?

“Untuk apa?” kalau tidak mengerti kita harus bertanya kan? Itulah yang kulakukan.

“SS-yaaaaa!! Kamu sungguh bodoh! Aku harus pulang tapi karena tadi kemari naik taksi aku harus memakai mobilmu. Apa ada bagian yang masih tidak kamu mengerti?” dia terlihat sangat kesal.

“Ada. Apa hubungannya denganku?” aku tidak suka dianggap bodoh, tapi aku benar-benar tidak mengerti dengan 80% isi perkataannya.

“Aku kemari untuk menjemputmu!!!! Kemarikan kunci mobilmu!!!!” teriaknya.

Aku memandang sekeliling dan ternyata teman-teman kantorku sudah berkumpul memperhatikan kami termasuk Yoomi dan Sanghyun.

Eric semakin mempererat pegangannya “Aaaaawwwww ne sajangnim, aku ambilkan” kataku kesakitan. Kurogoh-rogoh tasku tapi tidak menemukan kunci di manapun, apa tertinggal di dalam ya?

“Ppali” Eric terlihat tidak sabar. Satu tangannya yang bebas ikut merogoh-rogoh tasku “Park.. MinAh.. Babo..” dia menunjukkan tangannya yang berhasil mendapatkan kunci dari tasku sambil menyeringai.

Boss titan memaksaku masuk mobil lalu memacu mobilku dengan kecepatan yang tidak pernah kugunakan pada mobilku.

“Sajangnim, tolong menyetirnya jangan ngebut” pintaku dengan gemetar. Aku takut mobil kesayanganku ini tergores.

Eric diam saja tapi dia sedikit mengurangi kecepatannya. Hanya sedikit .

“Untuk apa sajangnim menjemputku?” tanyaku masih tidak mengerti kenapa dia menjemputku.

“Bisa kan kamu tidak banyak bertanya? Aku ini sedang patah hati” gerutunya.

Oh. Dia mengaku kalau sedang patah hati.

“Hahahahahaaaaaaa” tentu saja aku tertawa, bagaimana tidak tertawa kalau boss para titan mengakui bahwa dirinya sedang patah hati.

“Yaaaaaaaa!!! Park MinAh!!!!” dia meminggirkan mobil lalu menatapku seolah akan mencincangku.

“Joeosnghamnida sajangnim… Joesonghamnida… Silahkan kembali menyetir, jangan pedulikan aku. Aku akan tertawa dalam hati” sahutku kemudian mengarahkan pandangan ke luar jendela.

Sungguh aku tidak bermaksud menertawakannya, tapi pengakuannya kalau dia sedang patah hati tidak pernah kubayangkan sebelumnya mengingat bagaimana angkuhnya seorang Eric Mun.

“Turun” perintahnya. Kami berhenti di gedung yang nampak seperti apartment.

Aku turun mengikutinya “Sajangnim, kita di mana? Ini bukan rumahku” ucapku. Seharusnya dia mengantarku pulang setelah memakai mobilku dengan paksa. Bisa dibilang mobilku dibajak olehnya.

“Siapa yang mau ke rumahmu? Tentu saja rumahku, apa aku jauh-jauh ke tempat karaoke itu untuk mengantarkanmu pulang?” balasnya tanpa menoleh sedikitpun. Hah? Aku tidak mengerti jalan pikiran pria ini. Terpaksa aku mengikutinya.

“Eric-ssi” “Eric-ssi” “Tuan Mun” “Eric-ssi” semua pegawai yang bertemu dengan Eric menyapanya yang tentu saja hanya dibalas senyuman tipis oleh Eric. Di manapun berada dia tetap sosok yang angkuh. Dasar.

Di lift Eric memencet tombol 32, lantai paling atas gedung ini.

Kutebak penghuni gedung ini adalah orang-orang yang mobile karena banyak sekali orang keluar masuk hingga kami berdesak-desakan dan membuatku tergencet. Tiba-tiba Eric berdiri di depanku menciptakan sedikit ruang untukku agar tidak tergencet orang-orang yang keluar masuk.

Mulai lantai 28 sudah tidak ada yang keluar masuk lagi sehingga hanya kami berdua yang ada di dalam lift tapi Eric tidak berpindah tempat, dia tetap berdiri di depanku. Aku diam saja tidak menyuruhnya pindah karena berada di balik punggung pria ini membuatku merasa aman.

Pintu lift terbuka di lantai 32, aku mengikutinya keluar dan berhenti di apartment 3201.

“Masuk” ajaknya.

Apartment Eric terdiri dari 2 lantai dengan dekorasi modern minimalis, hampir semua perabotannya berwarna abu-abu dan putih.

“Gomdori annyeong. Apa kamu sudah tidur?” kulihat Eric berjongkok di dekat tangga. Kuikuti dia dan kulihat ada seekor anjing kecil berwarna cokelat yang sedang tidur di kandang. Honey nampak besar jika berada di samping anjing ini.

“Sajangnim sudah sampai di rumah dengan selamat. Apa aku sudah boleh pulang?” tanyaku. Aku merasa lelah dan lapar, aku ingin segera pulang setelah menyerahkan surat pengunduran diri yang ada di tasku. Kukeluarkan amplop yang tadi dikembalikan Yoomi padaku lalu kuserahkan pada Eric, tapi Eric sudah berpindah tempat. Ke mana dia?

“Buatkan aku makan malam sebelum pulang” teriak Eric dari sofa di depan TV. Cepat sekali dia jalan ke sana.

Kuletakkan kembali surat pengunduran diri ke dalam tasku. Pria ini harus diberitahu batasan-batasan dalam memerintahku.

“Sajangnim, aku ini sekretarismu, bukan ahjumma yang bekerja di rumahmu. Kenapa tadi tidak mampir beli makanan dulu sebelum pulang?” tolakku sambil berkacak pinggang di depannya.

“Aku menjemputmu untuk membuatkanku makan malam” ujarnya santai sambil menonton TV.

Jadi dia jauh-jauh menjemputku hanya untuk menyuruhku membuatkannya makanan? “Apa Yoomi-ssi juga selalu memasakkanmu makanan?” aku prihatin dengan Yoomi yang pasti sering disuruh masak makanan untuk Eric selama 3 tahun.

“Ani. Dia tidak pernah masak apapun untukku” jawabannya membuatku semakin kesal. Jadi kenapa dia menyuruhku masak untuknya kalau Yoomi saja yang sudah 3 tahun bekerja tidak pernah dia suruh masak.

“Eeeerrrggghhhhhh shireo” tolakku lagi.

“Apa kamu seperti chaebol lain yang tidak bisa masak?” Eric menatapku sambil menyeringai.

“Andwae! Aku bisa masak” ucapku yakin. Beberapa detik kemudian aku menyesalinya. Kenapa aku tidak bisa menyaring kata-kata yang keluar dari mulutku sih? Ini semua gara-gara Eric yang meremehkan kemampuanku.

“Nah, buktikan kalau begitu” tantangnya kemudian kembali menonton TV.

Dengan terpaksa aku meletakkan tasku lalu menuju dapur. Di dapur aku hanya bisa termenung. Apa yang harus kumasak????? Seumur hidup aku tidak pernah memasak. Kecuali ramyeon instant.

Dengan harap-harap cemas aku membuka lemari satu persatu berharap menemukan penyelamat hidupku.

“Aaaaaaccckkkkkk!!!!” teriakku saat menemukan ramyeon instant di salah satu lemari.

“Wae geurae?” tanya Eric sambil berteriak. “Aniya” balasku sambil berteriak juga.

Dengan penuh percaya diri aku mulai memasak. Aku memang hanya bisa memasak ramyeon tapi semua orang bilang ramyeon buatanku sangat enak, akan kubuktikan pada Eric bahwa aku tidak seperti chaebol lain.

“Sajangnim, makanannya sudah siap” panggilku. Aku puas melihat ramyeon buatanku. Setelah kutambah bawang prai, telur, dan keju rasanya pasti semakin enak.

“Kenapa ada 2?” tanya Eric yang melihat 2 mangkok ramyeon di meja makan. “1 untuk sajangnim, 1 untukku. Aku juga lapar” kuambil sumpit dan bersiap memakan ramyeon buatanku.

“Jakkaman! Aku mau ramyeon punyamu” pintanya.

“Tapi ini sama saja sajangnim. Aku memasaknya bersamaan, porsinya juga sama persis” aku tidak tahu kenapa dia mau menukar ramyeon kami padahal ramyeon kami identik.

“Keju di ramyeonmu lebih banyak” tanpa menunggu jawaban dariku Eric menukar ramyeon kami lalu mulai memakannya dengan rakus. Sepertinya dia benar-benar kelaparan. Dan kekanakan.

Kami menghabiskan ramyeon tanpa bicara, harus kuakui ramyeon buatanku memang luar biasa. Hohoho.

Eric mengambil beberapa kaleng bir dari kulkas lalu meletakkannya di meja makan. Aku mengambil 1 lalu mulai meminumnya perlahan, aku ingin tetap sadar saat mengemudi pulang nanti.

“So, will you tell me?” tanyaku memulai pembicaraan.

“Tell you what?” dengan cepat dia sudah menghabiskan kaleng pertamanya dan sekarang membuka kaleng kedua.

“Anything” aku berharap dia mau bercerita apapun karena dia baru mengalami hal yang berat. Patah hati.

“No, I didn’t know that Yoomi and Sanghyun are in a relationship until last night when she gave me her resignment letter. Jujur aku sangat terkejut… Dan patah hati… Tapi anehnya aku tidak terlalu terpuruk. Mungkin ini kesalahanku juga yang tidak suka mencampur kehidupan pribadi dan pekerjaan sehingga Yoomi tidak pernah bercerita apapun padaku” Eric berkata dengan lirih sambil memandang kaleng bir yang dia putar-putar. Sekali lagi Eric Mun nampak rapuh.

Aku tidak suka melihatnya seperti ini.

“Sajangnim, kuberitahu sesuatu. Listen to me carefully” ucapku.

“Mwo?” Eric menatapku dengan penasaran.

“Namaku Park MinAh, putri dari Park Jaesoo dan Shin Eunmin, aku punya seorang kakak laki-laki Park Jungsoo. Seperti yang sajangnim tahu keluargaku pemilik supermarket yang tersebar di seluruh Korea dan beberapa negara lain. Jangan tanya negara apa saja ya, aku tidak hafal. Aku punya anjing betina namanya Honey, dia lebih besar dari gomdori jadi jangan pertemukan mereka. Aku punya 4 sahabat sejak kecil yang kalau diurutkan berdasarkan umur namanya Jung HyunAh, Song Hyejin, Choi Jihyo, dan Kang Hamun. Jihyo sebenarnya sepupu jauhku. Aku menyayangi mereka seperti saudaraku sendiri. Ohya mereka semua juga chaebol jadi tentu saja pergaulan kami kelas atas hahahaaa. Jakkaman aku minum dulu” karena lelah bicara tanpa henti aku meminum birku beberapa teguk.

Eric memandangku sambil tersenyum. Ini saja sudah cukup, cukup bagiku untuk melihatnya tersenyum.

“Kulanjutkan. Aku baru jatuh cinta 1 kali seumur hidupku dengan Jung Yunho, tapi mantan kekasihku cukup banyak, ada 13. Mau dengar namanya satu persatu?” dia menggeleng. “Bagus, aku juga tidak ingat nama mereka. Ohya aku seorang sekretaris yang bergelar MBA, ini adalah pekerjaan pertamaku seumur hidupku. Appa yang memaksaku” ujarku dengan sedih.

“Jinjja? Jadi bukan kamu yang ingin bekerja?” Eric nampak terkejut dengan pengakuanku.

Aku menggeleng “Pada pekerjaan pertamaku tidak kuduga aku kerja bersama boss dari segala titan, hobbynya berteriak-teriak, memerintah seenaknya” kutatap Eric menunggu reaksinya.

“Lanjutkan” suruhnya.

“Lucunya aku dan bossku memiliki 1 persamaan. Kami sama-sama mengalami cinta yang bertepuk sebelah tangan, cinta satu arah. Berbeda denganku yang mau mengakuinya, bossku itu tidak mau mengakuinya sampai hari ini. Tapi bossku mengatakan kalau aku bisa belajar mencintai lagi, jadi kuharap bossku juga bisa belajar mencintai lagi” kutatap Eric dengan sungguh-sungguh. Aku sungguh-sungguh berterima kasih padanya karena perkataannya, dan aku sungguh-sungguh berharap dia juga akan belajar mencintai sama sepertiku.

Dia juga balas menatapku. Bukan tatapan sebagai boss tapi untuk pertama kalinya tatapan sebagai pria, aku bisa membedakannya karena 3 bulan bersamanya membuatku mengenalnya dengan baik.

Kring kring.

Smartphone Eric berbunyi “Yoboseyo. Ah ne…” dia menjauhiku untuk menerima telepon.

Aku mengambil smartphoneku yang sudah beberapa jam tidak kusentuh.

Ada pesan dari Yoomi.

‘MinAh, sajangnim membawamu ke mana?’

‘Ke apartment sajangnim’ balasku.

Tidak lama kemudian dia langsung membalasnya ‘Jinjja? Dia mengajakmu ke apartmentnya? Whoaaa selama 3 tahun aku belum pernah ke sana. Sepertinya sajangnim merasa cocok denganmu, kumohon jangan mengundurkan diri ya’ aku melirik tasku.

Aku belum memutuskan apa aku akan menyerahkan surat itu atau tidak, fokusku saat ini hanya menemani Eric.

“Mian Dongwan tadi meneleponku” Eric kembali duduk di depanku.

“Aku akan mencuci piring” aku butuh waktu untuk berpikir sebentar. Kalau aku tidak jadi keluar aku akan mengecewakan keluargaku karena aku sudah memaksa mereka untuk liburan dan membuat mereka harus mengosongkan jadwal untukku. Tapi sepertinya aku juga tidak bisa meninggalkan Eric dalam keadaan seperti ini.

Setelah selesai mencuci piring aku kembali duduk di tempatku semula.

“Sekarang sajangnim yang cerita kehidupan sajangnim” pintaku.

“Apa kamu benar-benar akan mengundurkan diri? Hari ini hari terakhirmu bekerja kan?” tidak kusangka dia malah bertanya hal yang kuhindari sejak tadi.

“Molla. Besok aku akan ke kantor, tapi aku tidak tahu untuk apa. Apakah untuk bekerja atau menyerahkan surat pendunduran diri” aku menunggu reaksi darinya. Dari dalam lubuk hatiku aku berharap dia akan menahanku agar tidak mengundurkan diri.

“Oh… Kehidupanku? Kehidupanku tidak semenarik kehidupanmu. Apa yang harus kuceritakan?” tidak ada reaksi apapun darinya. Dadaku terasa sakit.

“Apa saja” ucapku.

Kalaupun memang besok aku akan mengundurkan diri, paling tidak malam ini aku bisa bersamanya lebih lama.

Malam ini aku menghabiskan waktu bersama Eric Mun, bukan CEO Shinhwa mall.

“Namaku Eric Mun, ayahku Mun Hwijae ibuku Kim SeunAh, aku anak tunggal. Sejak SMP keluargaku pindah ke Amerika tapi setelah lulus kuliah aku kembali ke Korea tanpa orangtuaku untuk bekerja. Hanya 1 tahun bekerja aku kembali lagi ke Amerika untuk meraih gelar MBA, kemudian pulang lagi ke Korea sampai sekarang. Aku mengikuti wajib militer di usia 26 tahun setelah melepas kewarganegaraan Amerika. Aku memiliki 5 teman dekat, selain itu hanya rekan kerja” dia menghentikan ceritanya.

“Cinta?” tanyaku.

Dia menatapku dengan enggan “Beberapa kali pacaran, akhir-akhir ini patah hati” jawabnya singkat.

“Apa sajangnim sangat mencintainya?” akhir-akhir ini kata-kata yang keluar dari mulutku tidak pernah kusaring terlebih dahulu.

Eric mengangkat bahunya “Lebih ke perasaan memiliki. Jadi saat dia bilang kalau dia mengundurkan diri karena akan menikah aku terkejut, tidak pernah menyangkanya. Tapi aku tidak bisa menahannya, selama ini aku tidak pernah menahan pegawaiku yang mengundurkan diri” aku tahu semua yang dikatakannya adalah kebenaran. Dia tidak pernah menahan pegawainya yang ingin keluar. Aku tahu apa yang akan kulakukan besok, menyerahkan surat pengunduran diriku.

“Kulanjutkan.. Aku punya sekretaris yang berisik dan manja. Suka berteriak-teriak juga sama sepertiku, jadi kalau kami bersama pasti ribut. Dia punya gelar MBA jadi dia cukup pintar dan cekatan. Ah… Dia pernah flirting padaku dan menyebabkan aku kalah main game yang sudah kumainkan berbulan-bulan, tapi dia tidak mau mengakuinya hahahaa. Dia….”

Cukup. Aku tidak mau mendengarnya lagi. Aku takut semakin lama mendengarnya bicara aku akan menghapus garis pembatas yang selama ini dibuat olehnya.

“Aku pamit pulang sajangnim” terpaksa aku memotong kata-katanya.

“Hah? Oh okay. Hati-hati menyetirnya” sahut Eric sedikit terkejut.

Aku mengambil tasku yang kuletakkan di meja depan TV.

“SS-yaaa.. Kajima..” tiba-tiba saja Eric mengatakan hal itu. Hal yang sebenarnya kuharapkan keluar dari mulutnya.

Tapi kini setelah Eric benar-benar mengatakannya aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Mataku memanas, sepertinya aku akan menangis jadi tanpa menoleh lagi aku keluar dari apartmentnya.

Benar kan setelah menutup pintu aku langsung menangis. Kenapa aku tidak bisa menahannya sampai mobil sih? Park MinAh yang selalu tangguh, percaya diri, dan tidak pernah menangis sekarang jadi gampang menangis gara-gara Eric Mun. Aku kesal pada diriku sendiri.

***

tbc

Enjoy ^^