Annyeong! Author kembali dengan cerita agak gak jelas, hihihi maafkan. Selamat membaca!

Ini sudah kesekian malam aku selalu menemukannya terduduk di kursi pojok bagian belakang bus ini. Dia selalu memakai hoodienya, namun tetap saja tak bisa menutupi keseluruhan wajahnya. Masih tersisa bayang-bayang lekukan wajahnya, yang membuatku setiap malam membayangkan bagaimana wajahnya jika ia melepaskan hoodienya.

Aku selalu mengambil tempat duduk di pojok belakang sebelah kiri, sebenarnya alasannya hanya satu, aku suka melihat lampu-lampu kota di malam hari. Namun, aku harus pindah ke kursi pojok belakang sebelah kanan karena namja itu menggusurku.

Tiba-tiba saja di satu malam saat aku pulang malam dari kampus, dia duduk di kursi favoritku. Awalnya aku kira tidak akan apa-apa, toh dia hanya sekali duduk di sana, namun hingga saat ini, dia selalu duduk di kursi kesayanganku, lengkap dengan jaket berhoodienya yang selalu melindunginya dari tatapan kesalku.

“Kursi ini kosong kan?” suara seorang namja membuyarkan pikiranku, ia menunjuk kursi di sampingku. Aku mengangguk.

Untuk pertama kalinya, aku melihat namja berhoodie itu bergerak! Ia menengok ke arahku, dengan cepat, namun kembali ke posisinya semula.

“Kurasa aku beberapa kali melihatmu di bus ini,” namja di sebelahku kembali berbicara denganku. “Mmmh, aku juga lumayan sering naik bis terakhir ini.”

Aku mengangguk kembali, rasanya tidak pantas mendiamkan seseorang yang berusaha mengajak ngobrol kepadaku. “Aku memang lumayan sering pulang malam.”

“Tidak baik seorang yeoja sepertimu pulang malam-malam begini,” tersirat nada riang di ucapan namja itu. Aku juga tidak tau mengapa dia sesenang itu.

“Aku sedang mengerjakan thesisku,” jawabku cepat. Memang aku mengerjakan thesisku hingga larut malam di perpustakaan, jika sampai rumah, aku tidak bisa berpikir, malah langsung tidur atau menonton drama.

“Kau nanti turun dimana?” tanya namja itu. Aku kini menengok ke arahnya. Sepertinya seharusnya sejak tadi aku tidak menjawab sepotong-sepotong pertanyaannya. Namja dihadapanku ini ternyata sangat tampan. Jihyo ppaboya!

“Di pemberhentian selanjutnya,” jawabku. Aku memandangi garis rahangnya yang sangat tegas yang seolah ikut bergerak saat ia kembali tersenyum. “Kalau kau?”

“Di pemberhentian selanjutnya juga. Tak apa-apa kan jika nanti aku mengantarmu? Kau tau kan, sudah jam segini terlalu berbahaya jika seorang yeoja berjalan kaki pulang sendirian ke rumah,” kali ini aku baru menyadari jika matanya terbingkai dengan tajam dengan alis tebalnya betul-betul bisa membuat meleleh.

Bus yang aku tumpangi pun berhenti, sudah waktunya aku turun. Aku berdiri, namja di sebelahku juga berdiri, dan anehnya, si namja berhoodie pun ikut berdiri. Padahal selama ini dia tak pernah turun bersamaan denganku.

“Dia pulang bersamaku,” namja berhoodie itu tiba-tiba saja sudah berdiri ditengah-tengah kami berdua.

“Jihyo, kau kenal namja ini?” namja disebelahku bertanya kepadaku. Wajahnya menegang, aku hampir saja mau menggeleng. Namun tiba-tiba saja namja berhoodie ini menyibakkan hoodienya dan sedikit berteriak ke arahku.

“Ya! Kau ini hanya gara-gara aku lupa hari ulang tahunmu sampai kau pura-pura lupa punya kekasih dan malah menempel dengan namja lain?” si namja berhoodie itu kini memelototiku. “Ayo pulang!”

Dia menarikku turun dari bus, aku mengumpulkan kesadaranku untuk sadar kalau aku dibawa kabur oleh namja yang tidak aku kenal.

“Huwaaaaa, lepaskan!” aku memukulnya dengan tas berisi buku-buku kuliahku saat kami sudah sedikit jauh dari bus yang baru saja berjalan kembali.

“Yaaa! Kau ini! Sakit tau!” Dia berteriak kembali kepadaku. Kenapa sih namja ini suka sekali berteriak kepadaku? Kan mengurangi ketampanannya! Oke, harus aku akui dia memang tampan. Aku baru menyadari jika ia sangat tinggi menjulang, rambut coklatnya berjatuhan di sekitar alisnya, dan matanya, yaampun matanya, betul-betul bisa membuat meleleh saat ini juga.

“Kau melihatku seperti kau melihat namja itu,” dia tiba-tiba saja menyeringai. “Kau naksir aku yah?”

“Iiiih,” aku bergidik sendiri mendengarnya. “Mana mungkin aku naksir pada namja asing yang tiba-tiba saja mengaku-ngaku kekasihku lalu menarikku secara paksa turun dari bus!”

“Ya! Aku baru saja menyelamatkanmu dari seorang penculik dan pemerkosa, tau!”

Aku mengerenyitkan dahiku. Apa dia bilang tadi? Penculik? Pemerkosa? Aku langsung mundur beberapa langkah, menyiapkan lagi pukulan dengan tas ku. “Jangan-jangan kau yang sebenarnya penjahat!”

Dia menghela napas sangat keras, mengeluarkan sesuatu dari kantung jaketnya, “Aku ini detektif. Pernah dengar kan?” Namja berhoodie itu mengeluarkan badgenya.

Aku memperhatikan baik-baik badgenya, Detektif Kim Woobin. Aku jadi malu sendiri, ternyata dia memang benar-benar menolongku. Aku langsung membungkuk meminta maaf, “Mianhae.”

Dia sepertinya tak mendengar permintaan maafku. Si namja berhoodie sibuk menghubungi seseorang melalui ponselnya. “Ne, dia masih ada di bus. Kurasa dia akan berhenti di perhentian selanjutnya. Calon korban sudah aman bersamaku. Ne, ne.” Lalu ia menutup teleponnya, memelototiku. “Gara-gara kau, aku harus menyerahkan hasil tangkapanku ke detektif lain! Padahal aku yang sudah mengikuti dan mengawasi si tengik itu selama ini. Gara-gara kau, aku jadi harus mendahulukanmu daripada menangkap penjahat itu!”

Dia terus saja mendumel, padahal aku kan tidak meminta di selamatkan.

“Kenapa jadi tiba-tiba aku yang salah sih?”aku memanyunkan bibirku, baiklah, aku bersikap sok imut untuk seorang mahasiswa pasca sarjana.

“Memang kau yang salah! Kau bahkan tak menyadari jika ia tau namamu, dia tau kau kau pulang berjalan kaki ke rumah, bahkan dia tau kau sering naik bus terakhir malam-malam begini!” dia kembali berteriak.

Aku memelototinya untuk sesaat, bahkan wajah tampannya tak bisa mengurangi rasa kesalku padanya, “Baiklah detektif, kalau begitu terima kasih sudah menolongku. Aku mau pulang. Silahkan kejar penjahatmu.” aku berjalan menjauhinya menuju ke rumah. Jika saja dia tidak semenyebalkan itu, mungkin aku sudah berpikir untuk sedikit flirting kepadanya, namun kutarik lagi keinginanku tadi.

“Ya, tunggu!” dia setengah berlari mengejarku. “Kau harus berterima kasih padaku karena aku sudah menyelamatkanmu, agassi.”

“Gamsahamnida,” aku membungkuk, “Sudah kan? Aku mau pulang, detektif.”

“Tunggu,” dia menahanku. “Satu lagi.”

“Apa lagi?” Aku bingung dengan detektif ini, dia sekarang malah memperlambatku untuk bisa segera sampai ke rumah.

“Kalau di film-film, pahlawan itu mendapat hadiah dari yeoja yang ditolongnya,” dia tersenyum, yang sempat aku salah artikan sebelumnya sebagai seringaian.

“Mwo?” aku memiringkan kepalaku. Namja ini kenapa sih?

“Nah, benar. Seperti itu,” nada bicaranya terdengar sangat jahil. Ia meletakkan kedua tangannya di pipiku dan mendekatkan wajahnya ke wajahku.

“Omo, omo! Apa-apaan ini detektif?” aku panik sendiri, ia hanya tertawa sambil melepaskan kedua tangannya dari wajahku.

“Kau ini memang benar-benar polos ternyata. Ayo, aku antar pulang,” ia berjalan di depanku seolah-olah tidak ada apa-apa.

“Cck, apa-apaan sih dia ini,” aku mendumel sepanjang perjalananku sampai ke rumah, tidak lama sih, hanya 5 menit, tapi tetap saja, mengapa namja berhoodie ini menyebalkan, mulai dari mengambil kursi bus favortiku, menarikku secara paksa dari bus, dan hampir menciumku.

“Sudah sampai, agassi,” ujarnya serius. “Masuklah, sudah malam. Kau akan mendapatkan masalah jika semalam ini masih diluar rumah.”

Aku mau tak mau tersenyum, ini adalah ucapannya paling serius malam ini, dan tentu saja aku sangat menghargainya. Bagaimanapun juga, ia sudah menolongku malam ini.

“Gamsahamnida detektif. Maaf merepotkan,” aku membungkuk sekali lagi kepadanya. Ia kali ini benar-benar tersenyum layaknya orang normal.

“Tunggu agassi,” dia menghentikan langkahku memasuki rumah. Ia memandangku dengan cara yang berbeda, lebih lembut. Ia mendekatkan wajahnya ke wajahku, untuk kedua kalinya, dan kini memejamkan matanya, menempelkan bibirnya ke bibirku. “Terima kasih untuk hadiahnya.”