Annyeong yeorobun. Maaf akhir2 ini author jarang muncul. Otak author buntu sebuntu2nya. Untung ada ide dari teman2 sejawat sehingga jadilah ff super pendek ini. Terima kasih sudah membaca dan memberi komen. Maaf kalau kependekan . Enjoy!

image

Girls, You Need To Listen To Us! Please…

Aku masuk ke dalam restoran dan menuju sebuah ruangan tempat biasa aku, Eric hyung, dulu Siwon hyung kini Donghae hyung, Henry dan Woobin berkumpul. “Annyeonghaseyo,” sapaku kepada empat pria yang sudah datang lebih dulu daripada aku. Aku mengambil tempat duduk di sebelah Eric hyung dan tanpa segan mengambil anggurnya.

“Itu punyaku!!” Protes Eric hyung yang tentu saja tidak aku pedulikan. Toh, Eric hyung memanggil pelayan dan memesan anggur baru untuk dirinya sendiri.

“Apa yang terjadi?” Tanyaku. Kami, lima pria ini, tidak akan berkumpul kalau tidak ada hubungannya dengan wanita-wanita ajaib bernama Song Hyejin, Park MinAh, Jung HyunAh, Choi Jihyo dan Kang Hamun yang entah sedang berada di mana saat ini.

“Woobin sedang mengeluh tentang Jihyo,” kata Henry memberitahuku.

“Memang Jihyo kenapa? Apa ada yang tidak beres dengannya?” Tanyaku lagi.

Woobin, mungkin sedang kesal sampai ia bercerita dengan berapi-api, “Aku sebal melihat Jihyo. Akhir-akhir ini dia selalu nempel-nempel dengan si Choi Seunghyun itu! Sudah gitu si Jihyo nempel-nempelnya pakai celana pendek dan kaus tipis yang menerawang. Kalau kalian lihat bagaimana tatapan Seunghyun saat melihat Jihyo saat itu. Aku mau meninjunya saat itu juga. Untung, aku bisa menahan diri!!”

Sebagai teman yang baik seharusnya aku turut prihatin dengan penderitaan Woobin tapi aku malah tertawa terbahak-bahak. Penderitaannya belum seberapa dibandingkan penderitaanku. “Jihyo belum apa-apa dibandingkan dengan Hyejin. Wanita yang katanya paling mencintaiku itu dengan santai memeluk Kim Junsu di depan mataku!”

“Lalu apa masalahnya? Kau kan juga sering dipeluk-peluk Victoria,” kata Eric hyung.

“Tentu saja masalah. Hyejin memeluk Junsu saat kami sedang berjemur di pinggir pantai. Hyejin memakai bikininya yang super minim sedangkan Junsu hanya memakai celana renangnya yang ketat dan super pendek. Kulit mereka langsung bersentuhan. Kalian bisa membayangkannya kan?!”

Aku membalik memoriku pada saat dimana aku dan Hyejin sedang berjemur di pinggir pantai. Kami berjemur sambil berpelukan. Hyejin memakai bikininya sedangkan aku yang sedang tidak fit memakai kaus dan celana pendek. Tiba-tiba si Junsu itu, dengan celana renangnya yang hanya menutupi bagian paling intim pada tubuhnya, datang menyapa kami dan tanpa memperhitungkan perasaanku, Hyejin langsung melompat memeluk Junsu. Kulitnya yang terekspos dimana-mana otomatis beradu dengan kulit Junsu. Kalau saat itu aku tidak ingat bahwa Hyejin mengaku kalau ia hanya mencintaiku, aku pasti sudah menariknya dari pelukan Junsu. Oh ya, Junsu itu lebih tua dariku tapi aku tidak akan memanggilnya dengan sebutan ‘hyung’.

“Jihyo-ku berbeda dengan Hyejin-mu, hyung. Jihyo itu tidak bisa ditebak. Kalau Hyejin kan mau menemui pria manapun atau ke ujung dunia sekalipun, dia akan tetap kembali padamu. Kalau Jihyo? Hanya dia dan Tuhan yang tahu mau wanita itu,” kata Woobin yang setelah aku pikir-pikir ada benarnya. Jihyo tidak mudah ditebak.

“Humm. Ya sudah kalau gitu. Sabar-sabar saja,” kataku dengan santai sambil menyesap anggurku.

Pletak!!

Aku menatap Eric hyung yang baru saja menjitak kepalaku dengan keji. “Hyuuung!!! Apa salahku?” Protesku kesal.

“Temanmu itu sedang kesal. Bukannya ditolong malah hanya disuruh sabar,” katanya dengan galak sambil menunjuk-nunjuk Woobin. Woobin menjulurkan lidah kepadaku dan aku melemparkan serbetku ke wajahnya sampai Woobin menarik lidahnya kembali ke dalam mulutnya.

“Lalu aku harus bagaimana, hyung? Jihyo memang seperti itu. Urakan, tidak pernah bisa diatur. Kalau aku datang dan tiba-tiba menguliahinya untuk berpakaian lebih sopan dan tidak nempel-nempel ke berbagai pria, aku yakin dia akan mencincangku habis. Aku tidak mau. Sorry, hyung,” kataku.

“Cih!!! Kau ini memang benar-benar menyebalkan,” omel Eric hyung padaku. Aku mengacuhkannya, membiarkannya mengomel sesuka hatinya sampai ia puas. Pria berumur ini pasti sudah tertular kecerewetan kekasihnya, Park MinAh.

“Ngomong-ngomong hyung, MinAh masak apa hari ini?” Tanyaku skak-mat membuat Eric hyung terdiam. Aku tahu Eric paling sebal dengan kekurangan MinAh yang sangat amat tidak pandai memasak.

“Jangan membahas masalah itu. Kemarin malam aku nyaris masuk rumah sakit karena sakit perut akibat masakannya. Untung aku berhasil memuntahkan semuanya sebelum masuk rumah sakit,” keluhnya yang tidak aku tanggapi meskipun dalam hati aku tertawa terbahak-bahak mendengarnya.

“Coba kalau tidak aku muntahkan, kalian pasti akan berada di rumah sakit untuk menjengukku bukan di sini minum-minum anggur sampai puas. Gratis lagi karena Woobin yang akan membayarnya,” lanjut Eric hyung masih dengan semangatt.

Henry memandang Eric hyung dengan penuh simpati. “Memangnya masakan MinAh separah apa sih, hyung?” Tanya Henry. Di antara kami berlima, Henry lah yang paling beruntung kalau soal makanan. HyunAh, kekasihnya, adalah yang paling handal dalam urusan memasak. Tidak ada masakan HyunAh yang tidak bisa dimakan.

Eric menatap Henry dengan serius bahkan seolah memperingatkan Henry. “Kau tidak akan bisa membayangkannya. Kalau suatu hari MinAh menyuruhmu makan masakannya, kau harus memiliki alasan apapun untuk tidak memakannya. Okay?” Henry menganggukkan kepalanya dengan patuh kepada Eric hyung. “Percuma aku bolak-balik mengajarinya memasak. Fiuuuuh!!”

Aku tidak bisa lagi untuk tidak tertawa keras-keras. “Makanya hyung. Kalau sudah tahu kekasihmu tidak bisa memasak bilang saja tidak usah memasak. Bilang juga tidak usah iseng mencoba untuk memasak. Aku bilang seperti itu pada Hyejin. Masak air saja dia bisa gosong apalagi masak yang lainnya. Sekarang, dapur kami bersih dari peralatan memasak ataupun ceceran bumbu. Yang membuat dapur kami paling hanya peralatan makan atau bungkus-bungkus makanan yang kami beli dari restoran. Hidupku jauh lebih tenang dan tidurku lebih nyenyak,” kataku.

“Aku akan mencoba untuk mengatakannya kepada MinAh. Semoga MinAh tidak marah dan tidak mengadu pada Jungsoo. Haissssh!!!” Geram Eric hyung sambil mengacak-acak rambut tipis di kepalanya. Aku rasa Eric hyung semakin tua semakin banyak kehilangan rambutnya.

“Kyu.” Astaga, Lee Dong Hae! Aku nyaris lupa keberadaannya saking tidak ada suaranya pria ini daritadi. Ia hanya duduk mendengarkan kami sambil memakan cheesecake-nya.

“Wae, hyung?” Tanyaku.

“Memang air bisa gosong?” Tanyanya balik dengan wajah polosnya. Aku tidak pernah tahu bagaimana pria ini tetap tampak baby face di usianya yang hampir 30 tahun.

Aku menepuk keningku mendengar pertanyaan Donghae hyung. “Maksudku sampai airnya habis. Kalau airnya sudah habis tapi apinya masih nyala, pancinya kan jadi gosong, hyung,” jelasku dan Donghae hyung hanya menganggukkan kepalanya setelah puas dengan jawabanku.

“Hamun sudah pulang kuliah?” Tanyaku basa-basi. Aku yakin Hamun pasti masih belajar di kampus untuk ujian akhir semester ini. Darimana aku tahu? Hyejin melaporkan bahwa Hamun belum pulang, masih ada di kampusnya.

“Masih di kampus,” jawab Donghae hyung dengan muram. “Aku tidak tahu kenapa dia lebih mencintai buku-bukunya daripada aku.”

“Kenapa hyung tidak menemani Hamun belajar di kampus saja?” Usulku. Aku tidak tahu apa enaknya belajar dan aku tidak tahu menemani kekasih belajar itu akan membantu atau mengganggu. Hyejin tidak suka belajar soalnya.

Donghae hyung menggelengkan kepalanya. “Kalau aku berada di dekat-dekat Hamun aku takut mengganggunya. Kau tahu penyakit pria kalau baru-baru menjadi sepasang kekasih kan? Aku takut tidak bisa menahan untuk tidak memeluk atau menciumnya,” katanya.

Aku tertawa lagi. Donghae hyung dan Hamun baru 4 bulan resmi menjadi sepasang kekasih. Aku tahu bagaimana perasaan Donghae hyung yang selalu ingin bermesraan dengan Hamun namun. Dulu waktu hubunganku dengan Hyejin seusia itu, tidak ada hari yang kami lewati tanpa skinship yang intim. Kami sering menghabiskan malam hanya dengan berciuman lalu tertawa bersama kemudian kembali berciuman sampai kami terlelap bersama. Setelah 7 tahun, kami masih memiliki gairah yang sama tapi lebih handal untuk mengontrolnya.

“Kyuhyun hyung! Kenapa kau bolak balik menertawakan kami sih? Menyebalkan!” Protes Woobin dengan kesal. Wajahnya yang mirip Seunghyun membuatku mengerti kenapa Jihyo suka nempel-nempel dengan Seunghyun.

“Kau buat dulu Jihyo tidak menempel pada Seunghyun baru boleh melarangku untuk tertawa,” kataku dengan tawa yang semakin keras.

“Hyung,” panggil Henry. Aku hanya mengangkat kepalaku untuk menjawabnya karena aku sedang mengunyah potongan ayam madu panggang di dalam mulutku. “Apa kau pernah cemburu pada pria-pria yang ada di dekat Hyejin?” Tanyanya.

Aku berusaha menelan ayam panggangku secepat kilat. “Pernah tapi tidak sering. Jarang sekali malah. Memang kenapa?” Sahutku begitu ayam madu panggangku tertelan.

“Sama Junsu hyung sekalipun?”

“Aku sudah kebal. Hanya di saat-saat tertentu saja. Kenapa memangnya sih?”

“Yoochun hyung. Pria itu selalu saja jadi perhatian HyunAh. Apa-apa ‘Yoochun Oppa!!'” Henry menirukan cara HyunAh memanggil Yoochun hyung. “Masak apa-apa, tidak pernah lupa porsi untuk Yoochun hyung. Pergi kemanapun tidak pernah lupa oleh-oleh untuk Yoochun hyung. HyunAh bahkan pernah membatalkan kencan denganku demi pergi menemui Yoochun hyung yang baru kehilangan kartu ATM-nya. Aku juga sering mendengar Yoochun menelepon HyunAh malam-malam. Tidak ada omongan yang penting sih tapi tetap saja aku cemburu.”

Aku tertawa mendengar ocehan Henry. Berbeda dengan Woobin yang kalau mengeluh tampak menyebalkan, Henry tampak sangat bodoh. “Hyung, jangan tertawa. Aku benar-benar kesal pada HyunAh kalau sudah urusan Yoochun hyung,” kata Henry kepadaku.

“Lalu kau mau aku bagaimana? Memberikanmu saran?” Henry saja menghela nafasnya panjang. “Saranku, kau harus belajar untuk cuek. Yoochun hyung dan HyunAh itu hanya seorang idol dan fangirl nomor satunya. Tidak ada apa-apa di antara mereka. Tidak gampang sih tapi kau harus mencobanya. Aku butuh waktu satu tahun untuk mengabaikan hubungan Hyejin dengan Jaejoong hyung yang seperti itu.”

Henry mendecakkan lidahnya. “Tampaknya hyung sudah menerima Hyejin apa adanya sampai kau sudah kebal atas semua kelakuan Hyejin yang aneh-aneh kepadamu. Kapan kalian akan menikah?” Tanya Henry.

Henry melemparkan pertanyaan yang benar-benar tidak ingin aku dengar apalagi aku jawab. 7 tahun menjadi pasangan kekasih, aku masih tidak tahu keinginan wanita itu kemana membawa hubungan kami. Aku sudah bolak-balik mengajaknya untuk menikah tapi ia selalu menghindar dengan lincah.

“Apa aku harus menjawabnya?” Tanyaku kepada Henry.

“Tidak perlu. Kami tahu Hyejin sudah puluhan kali menolak menikah denganmu,” kata Eric hyung dan serempak membuat dirinya, Woobin, Henry, bahkan Donghae hyung puas menertawaiku. Sial!

—-

Kkeut!!!