Hope you enjoy it! :)

*****

Sedari kemarin Hamun tampak tidak seperti biasanya. Ia yang tidak secerewet onniedulnya, kini makin terlihat pendiam. Jihyo yang saat ini kebetulan ada bersama Hamun di ruang tv dorm Super Girls, tidak tahan untuk memuaskan rasa penasarannya. “Kau kenapa Hamun? Apa ada masalah kuliah?” tanya Jihyo akhirnya. Hamun menggeleng sambil tetap menatap lesu televisi yang ada di depannya.

“Kau tak mau bercerita padaku?” tanya Jihyo makin penasaran dan mulai khawatir.

Hamun menatap Jihyo dengan bimbang. Bibirnya sempat terbuka namun tertutup lagi seakan-akan ia masih ragu. Ia terdiam beberapa saat sampai pada akhirnya ia membuka suara. “Aku sedang bingung, onnie,” katanya.

“Bingung apa? Mungkin onnie bisa bantu,” Jihyo menjawab.

“Aku bingung harus memberi hadiah apa saat Donghae ulang tahun besok,” kata Hamun.

Jihyo terdiam sesaat lalu seketika tawanya membuncah. “Kenapa ketawa, sih, onnie?” tanya Hamun kesal.

“Kau, sih, Hamun! Hanya karena soal sepele seperti ini kau sampai kebingungan! Kau bukannya belum pernah berpacaran, kan?” kata onnienya itu.

“Iya, onnie. Tapi aku ingin sesuatu yang spesial meskipun saat ini ia bukan kekasihku,” jelas Hamun lagi.

Jihyo menepuk pundak Hamun dan mengacak rambut magnaenya. “Kau mau saran mujarab dariku?” tanya Jihyo dengan serius yang Hamun jawab dengan anggukan.

“Donghae pasti suka apapun yang kau berikan. Jadi, jangan terlalu dipikirkan,” katanya. Jihyo masih menatap Hamun dengan serius. Hamun juga demikian. Ia berharap ada suatu ide brilian dibalik kalimat Jihyo onnie barusan. Akan tetapi, tak lama kemudian Jihyo tertawa terpingkal-pingkal. Hamun akhirnya sadar kalau Jihyo onnie hanya menggodanya dan tidak ada niatan untuk membantu sama sekali.

“Onnie tidak membantu!” seru Hamun kesal dan beranjak pergi dari ruang tv dorm Super Girls.

“Yaa, Kang Hamun!”

*****

Hamun yang masih kesal akhirnya pergi menuju dapur untuk mencari pasangan yang menurutnya dapat membantu masalahnya. Pasangan itu tampak sangat bahagia saat membuat kue bersama di dapur. Saling menggoda dengan menempelkan tepung di pipi yang lain dan saling mencicipi kue-kue buatan mereka yang sudah jadi.

“Hyunah onnie, Henry oppa,” panggil Hamun. Mereka sudah tersenyum melihat Hamun sekarang. “Ada apa magnae Hamun kesayangan Hyunah?” tanya Henry. Hyunah memandang lembut Henry dan tersenyum pada pria itu akibat ucapannya.

“Ada apa, Hamun?” kini giliran Hyunah yang bertanya. Mereka berdua bahkan sudah mengambil posisi duduk di meja makan bersama Hamun.

“Saat Henry oppa ulang tahun, Hyunah onnie memberikan hadiah apa pada oppa?” tanya Hamun.

Hyunah berusaha mengingat-ingat. “Seingatku, aku pernah memberikan Henry jam, baju, celana, jaket, dan biola,” jawab Hyunah. Hamun tampak bimbang. Itu bukan jawaban yang ia harapkan sesungguhnya.

“Dari semua hadiah itu, Henry oppa paling suka yang mana?” tanya Hamun.

Kini Henry menatap Hyunah sambil tersenyum lembut pada gadis itu. “Aku suka semua pemberian Hyunah. Selama itu dari Hyunah, semuanya terasa sangat special,” ujarnya.

Hamun menghela nafas panjang. Sepertinya ia mulai menyerah. Ia makin putus asa setelah melihat pasangan di depannya ini.

“Hamun, memangnya kenapa kau menanyakan hal tadi?” tanya Hyunah onnie.

Hamun hanya menggeleng sebagai jawaban. Ia segera bangkit dari tempat duduknya dan berpamitan untuk meninggalkan Hyunah dan Henry.

*****

Hamun memutuskan untuk mengurung dirinya di kamar sambil mencari ide untuk hadiahnya. Tak lama setelah itu, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka dan munculah Jihyo onnie dengan Minah onnie di ambang pintu. Tanpa menunggu dipersilahkan, mereka segera masuk, naik ke kasur Hamun, dan duduk di depan magnaenya.

“Ada apa onniedul?” tanya Hamun lemas.

“Kata Jihyo, kau sedang mencari ide hadiah untuk Donghae oppa, ya?” tanya Minah onnie. Hamun hanya mengangguk.

“Karena kau tak menerima saranku, aku bawakan guru paling expert dalam bidang relationship pada orang dewasa,” kata Jihyo.

“Jadi apa saran onnie?” tanya Hamun.

Minah tak langsung menjawab. Ia turun dari kasur Hamun dan memeriksa lemari baju Hamun. Setelah melihat-lihat baju Hamun, Minah kembali ke tempat asalnya. “Kau punya masalah besar Hamun! Tapi, aku ada disini untuk membantumu,” kata Minah.

“Maksud onnie?” tanya Hamun tak mengerti.

Minah mengeluarkan satu-persatu isi tas berukuran sedang yang ia bawa. Ada sisir, lipstik, alat make up lainnya, dan…. lingerie, dan…. dress mini dengan punggung yang sangat terbuka.

“O-onnie ini apa?” tanya Hamun bingung.

“Ini sisir, lipstik, alat make up, lingerie, dan mini dress,” jelas Minah.

“A-ani. Maksudku, untuk apa?” tanya Hamun lagi.

Minah tersenyum. “Kau mau memberikan hadiah yang spesial, kan, untuk Donghae?” Hamun mengangguk.

Minah menyeringai. “Kau tahu, kan, gunanya semua benda ini apa? Kau sudah besar, Hamun. Aku yakin kau pasti tahu meskipun sedikit,”

Hamun mulai menganga tak percaya. “Maksud onnie… Aku tidur dengan Donghae oppa, begitu?” tebak Hamun. Minah dan Jihyo tersenyum dan mengangguk bersama.

“Yaa! Onnie! Aku tak mau!” seru Hamun yang langsung beranjak dari kamarnya. Diluar kamar, Hamun bisa mendengar Minah onnie sudah tertawa sangat keras sama seperti Jihyo onnie. Hamun yakin kalau mereka sudah bersekongkol untuk mengganggu Hamun.

*****

Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, Hamun segera masuk ke kamar Hyejin dan mendapati gadis itu sedang asik menonton drama melalui laptopnya. Menyadari kehadiran Hamun dan tampang kusutnya, Hyejin segera menjauhkan laptopnya.

“Hamunie, waeyo?” tanya Hyejin khawatir.

Setelah tak menjawab selama beberapa saat, tiba-tiba tangisan Hamun keluar. “Aku kesal pada Jihyo onnie dan Minah onnie yang menggodaku sejak tadi. Mereka hanya tertawa tapi tidak membantu sama sekali. Aku juga agak kesal pada Hyunah onnie dan Henry oppa yang juga tidak bisa membantu. Aku lebih kesal pada diriku yang tak bisa menemukan ide apapun untuk membuat Donghae oppa senang di hari ulang tahunnya. Aku juga merasa bersalah karena telah kesal pada Minah onnie, Jihyo onnie, dan Hyunah onnie padahal mereka sudah berusaha membantuku.” Hamun mengeluarkan semua isi hatinya.

Hyejin tersenyum pada gadis itu sambil mengelus-elus punggung Hamun dengan lembut. “Sudah, sudah, jangan menangis lagi. Kau tidak salah apa-apa. Rasa kesal itu wajar, Hamun,” ujar Hyejin yang membuat Hamun lebih tenang.

Setelah kondisi Hamun membaik, Hyejin mulai bertanya lagi. “Jadi, masalahmu saat ini adalah tidak tahu hadiah apa yang mau kau berikan pada Donghae oppa?” tanya Hyejin memastikan.

Hamun mengangguk. “Saat ini aku dan Donghae oppa tidak memiliki hubungan apapun. Aku juga tidak berani menjamin ia masih sayang padaku seperti dulu. Akan tetapi, aku ingin memberikan sesuatu padanya,” jelas Hamun. “Onnie punya ide?” tanyanya.

Hyejin tampak berpikir sesaat lalu tersenyum. “Bukankah diantara kita berlima, kau yang paling puitis dan kreatif? Kenapa kau tidak membuatkan sesuatu untuknya?”

“Aku sudah berpikir seperti itu onnie, namun karena tugas kuliah dan jadwal show yang begitu padat selama dua minggu kemarin, aku jadi tidak sempat membuatnya. Benda itu juga tidak akan bisa selesai malam ini,”

“Buat saja sesuatu yang sederhana. Simple but meaningful,” kata Hyejin.

“Apa onnie yakin Donghae akan menyukainya?”

“Aku yakin ia akan suka semua pemberian darimu terutama saat kau membuatnya dengan sepenuh hati dan sambil memikirkan pria itu,”

Hamun mengangguk meresponi saran Hyejin barusan. Harusnya dari awal ia datang ke leadernya ini yang memang terkenal bijaksana. Pantas saja Kyuhyun oppa tergila-gila dengan Hyejin onnie.

*****

Hari ini Donghae mengundang semua member Super Junior, Super Girls, Eric Mun, Kim Woobin, artis-artis SMTOWN, dan sahabat-sahabatnya untuk merayakan ulang tahunnya. Ini adalah pesta sederhana yang ia buat untuk membagi kebahagiaannya di hari ini. Akan tetapi, ia masih merasa ada sesuatu yang kurang.

Semua orang yang berpapasan dengan Donghae di ruang itu pasti mengucapkan selamat padanya dan memberikan hadiahnya. Dari bungkusnya saja, Donghae bisa menilai kalau barang pemberian teman-temannya bukan sembarangan. Tetapi saat ini, yang sangat ia inginkan bukanlah benda-benda itu.

Matanya mulai mencari dimana gadis itu berada. Tak butuh waktu lama untuk Donghae menemukan gadis itu, karena baginya gadis itu selalu bersinar dimana pun ia berada. Gadis itu terlihat sangat manis dengan make up naturalnya dan dress biru mudanya. Donghae hanya terdiam menikmati wajah gadis itu yang sedang tertawa dengan Taemin dan Sehun, sahabatnya.

*****

Hamun tak henti-hentinya tertawa mendengar cerita-cerita dari Taemin dan Sehun. Tiba-tiba saja, Taemin menghentikan pembicaraan mereka dan berbisik pada Hamun. “Donghae hyung sudah menatapmu sejak lima menit yang lalu,” katanya.

Mendengar hal itu, membuat jantung Hamun mulai berdebar dan segera mencari sosok pria itu. Ia ada disana, tak jauh darinya. Jantung Hamun mulai tidak terkontrol saat matanya bertemu dengan mata pria itu diiringi dengan senyum manisnya. Nafas Hamun mulai terasa berat setelah memperhatikan dengan seksama penampilan Donghae saat itu. Pria itu sangat tampan dengan setelah jas hitam dan dalaman kemeja berwarna putih yang dua kancing paling atas sengaja ia buka. Pria itu juga mengangkat poninya dan membiarkan dahinya terlihat, style rambut Donghae yang paling Hamun suka.

Hamun berusaha mengembalikan akal sehatnya dengan mengalihkan pandangannya dari Donghae. Ia kembali memusatkan perhatiannya pada Sehun dan Taemin. Saat Sehun baru memulai ceritanya, tiba-tiba seseorang datang dan berkata, “Maafkan aku Taemin, Sehun. Apa boleh aku meminjam Hamun?” tanyanya.

Hamun menatap kedua sahabatnya sambil mengisyaratkan sesuatu melalui tatapan mata. ‘Jangan biarkan aku dibawa pergi olehnya,’ itu yang dimengerti Taemin dan Sehun melalui bahasa isyarat mereka. Akan tetapi, kedua pria itu hanya menyeringai dan justru mendorong Hamun mendekat pada Donghae.

“Tentu saja, hyung,” jawab mereka kompak tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Bawa saja, tak perlu dikembalikan,” kata Sehun. Hamun hanya melirik mereka berdua dengan kesal.

“Hai, Hamun,” sapanya diiringi senyum khas miliknya. Hamun tak bisa membohongi dirinya. Dari Jarak sedekat ini, Donghae tampak jauh lebih tampan dan mampu membuatnya berdebar.

“Hai, Donghae oppa,” balas Hamun kikuk berusaha mengabaikan rasa nervousnya. Ia bisa merasakan tangan kirinya tiba-tiba terasa hangat akibat genggaman tangan pria itu. Hamun tak bertanya. Ia hanya mengikuti langkah pria itu.

*****

Mereka berdua kini duduk di bench yang ada di halaman belakang restaurant itu. Mereka duduk bersebelahan tanpa melepaskan kaitan tangan mereka. Hamun dan Donghae hanya diam sejak tiga menit yang lalu sambil menatap langit yang terlihat jelas dari tempat mereka.

“Oppa, selamat ulang tahun,” ujar Hamun memecah keheningan.

Donghae kini mengalihkan pandangannya dari langit dan mulai menatap Hamun. “Gomawo, Hamun,” ujarnya sambil mengelus kepala Hamun dengan tangannya yang bebas.

“Aku suka gaya rambut oppa hari ini,” ujar Hamun jujur.

“Aku sengaja mengaturnya seperti ini karena aku tahu kau akan datang,” balas Donghae. “Kau pernah cerita padaku sebelumnya,” jelasnya.

Hamun tersenyum mendengar perkataan Donghae itu. “Oia, apa oppa sudah melihat hadiah-hadiah milik oppa? Apa oppa menyukainya?” tanya Hamun.

Donghae tersenyum lagi pada gadis itu. Rasanya senyumnya tak akan bisa hilang jika Hamun bersamanya. “Sejak lima tahun yang lalu, jika aku ulang tahun, aku tak pernah lagi mengharapkan hadiah apapun,” katanya.

“Akan tetapi, saat ini aku mengharapkan sebuah hadiah dari seorang gadis,” lanjut Donghae sambil menatap manik mata Hamun dengan intens seakan berkata ‘kaulah gadis itu’.

Hamun mengerti apa maksud Donghae. “Aku takut ini tidak sesuai ekspektasimu, oppa,” katanya.

“Aku tidak berekspektasi apapun, Hamun. Aku hanya berharap memiliki sesuatu darimu yang bisa kujaga,” katanya.

Hamun mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan memberikan benda itu pada Donghae. “Gomawo,” kata Donghae sambil menatap benda itu dengan wajah yang terkagum-kagum.

Benda itu adalah sebuah kertas yang tampak seperti kertas A4 tetapi telah dilipat menjadi dua. Tidak banyak hiasan di halaman depannya. Hanya ada tulisan ‘Milik: Donghae’

“Boleh kubuka?” tanya Donghae.

Donghae melihat sebuah gambar sederhana sosok pria dan wanita. Ada tanda tangan Hamun di bawah gambar wanita itu dan di bawahnya lagi tedapat tulisan, “In next 5 years, if you don’t have anybody… marry me?”

Donghae terdiam dan hanya menatap benda itu. Hamun mulai khawatir. “Itu adalah hadiah, sekaligus kontrak. Kalau oppa mau, oppa tanda tangan disitu,” ujar Hamun yang sampai beberapa lama tak dibalas Donghae.

“T-t-tapi kalau Donghae oppa tak mau juga tak apa,” ujar Hamun walaupun mengatakan itu membuatnya sedih. Ia hendak mengambil benda itu dari tangan Donghae karena ia yakin pria itu tidak menyukainya, tetapi Donghae menahannya.

“Mianhe, aku tak bisa menandatanganinya tapi aku ingin menyimpannya. Boleh?” tanya Donghae yang Hamun jawab dengan anggukan.

Mendengar perkataan Donghae barusan membuat semua tenaga Hamun rasanya lenyap. Apa yang ia pikirkan selama ini ternyata benar, Donghae sudah tidak mencintainya. Mungkin ia hanya terlalu percaya diri saat ia berpikir kalau Donghae sangat mengharapkan hadiah darinya. Mungkin ia sudah salah paham dengan kebaikan pria itu padanya. Mungkin saja kini Hamun sudah dianggapnya seperti seorang adik. Banyak kemungkinan yang membuat Hamun makin terpuruk saat ini.

“Apa aku boleh meminta hadiah yang lain darimu?” tanya Donghae tiba-tiba.

“Hm, boleh,” jawab Hamun yang tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.

Donghae mengangkat wajah Hamun dan membiarkan mata mereka saling bertatapan. Semakin lama, wajah Donghae semakin mendekat dan akhirnya pria itu mencium sang gadis dengan lembut. “Saranghae,” katanya pada Hamun.

“O-oppa yakin?”  tanya Hamun tak percaya. Donghae hanya tersenyum sambil mengangguk.

“Do you want to be my girlfriend? If you say yes, you’re the gift that i hope for so long,” ujarnya. Ia bisa melihat Hamun tersenyum padanya meskipun air matanya mengalir. “Saranghae, Hamun. Saranghae,” katanya lalu menarik Hamun dalam pelukannya.

“Lalu mengapa oppa menolaknya? Hadiahku tadi,” kata Hamun setelah melepaskan pelukannya.

Donghae mencium kening dan pipi Hamun bergantian. “Because i’ve already have someone, and the person is you,  Hamun,” katanya. “And in 5 years later, i will be the one who proposed you,”

Hamun sangat senang mendengar perkataan Donghae. Semua gundah dihatinya kini terhapuskan. Ia terlalu senang sampai-sampai kini yang mengalir dari matanya adalah air mata kebahagiaan dan kelegaan. “Hamun sayang, jangan menangis lagi. Kau belum jawab pertanyaanku,” ujar Donghae dengan sabar menghapus air mata Hamun. “Kau mau menjadi kekasihku?”

“Pabo. Itu pertanyaan retoris,” kata Hamun sambil tersenyum.

“Baiklah, aku anggap itu sebagai ‘iya’. Aku ambil hadiahku lagi ya,” katanya lalu mencium Hamun sekali lagi.

“Hei, hei, pasangan yang disana. Jangan berciuman di depan banyak orang,” ujar Leeteuk oppa yang membuat Donghae melepaskan ciumannya dari Hamun.

Hamun dan Donghae, reflek, menoleh ke sumber suara dan mendapati sudah banyak orang yang berjejer di dekat jendela dan pintu bagian belakang restaurant ini.

“Aku sudah merekamnya Hamun saat Donghae oppa menyatakan cinta padamu,”  ujar Jihyo onnie.

“Daebak, magnae!” seru Minah dan Hyunah onnie.

“Oppa, jaga magnaeku ya!”  kata Hyejin.

Donghae dan Hamun kini saling bertatapan. Mereka masih shock melihat kenyataan kalau semua orang menguping pembicaraan mereka dan melihat perbuatan mereka. Mereka hanya bisa tertawa bersama saat ini dan memutuskan untuk kembali ke dalam ruang pesta.

Saat semua orang sudah kembali masuk ke ruangan dan tak ada yang memperhatikan mereka lagi, tiba-tiba Hamun memberikan kecupan singkat dipipi Donghae. “Aku belum mengatakannya dengan jelas. Nado saranghae,” kata Hamun.

Donghae tersenyum pada Hamun sambil memegang pipinya sendiri yang baru dicium Hamun. Andai saja saat ini hanya ada dirinya dan Hamun. Andai saja ia bisa mengusir semua tamu di pesta ini dan membiarkan dirinya bersama Hamun seorang. Pasti gadis itu tidak akan ia biarkan pergi dari sisinya setelah apa yang Hamun lakukan barusan pada Donghae. Ia terlalu mencintai sampai-sampai perbuatan Hamun sekecil apapun itu, berdampak dahsyat bagi Donghae.

END