Gak usah panjang2 ya. Langsung aja check it out!

Hope you enjoy!

xoxo

“Kyu…”

“Waeyo?”

“Will you marry me?”

“Mworago?”

“Kau… Mau menikah denganku?”

—–

“Kejutan!!!”

Hampir saja aku melemparkan baju yang baru aku lepaskan dari tubuhku kepada seorang wanita yang tiba-tiba muncul dan memelukku dari belakang kalau tidak cepat-cepat aku menyadari siapa yang sebenarnya datang mengejutkanku. “Astaga Song Hyejin!!! Kau mau membuatku mati berdiri malam-malam begini?!”

Gadis itu hanya tersenyum lalu mengecup bibirku. “Apa kau tidak merindukanku?” Tanyanya. Ia berjalan ke tempat tidurku dan duduk di sana sedangkan aku berjalan menuju koperku, mencari kaus yang kira-kira bisa aku pakai tidur malam ini.

“Tentu saja aku merindukanmu,” jawabku yang kemudian tersadar. “Astaga Song Hyejin!!! Apa yang kau lakukan di sini?”

“Menemuimu tentu saja,” jawabnya tanpa merasa bersalah.

“Aku tahu. Tapi ini Osaka! Osaka!!! Kau malam-malam terbang ke Osaka hanya untuk menemuiku?!”

Hyejin menganggukkan kepalanya dan ia sukses membuatku jauh lebih terkejut daripada kemunculannya yang tiba-tiba. “Ya Tuhan. Lain kali kau tidak boleh melakukannya lagi. Kau membuatku jantungan!”

“Ya Tuhan, Cho Kyuhyun! Aku bukan anak umur 5 tahun lagi yang kalau terbang harus ditemani oleh orang tuanya. Aku sudah berumur hampir seperempat abad dan untuk mengingatkanmu, aku pernah terbang ke Roma untuk menyusulmu. Sendirian.”

Aku memijit pelipis mataku untuk meredam emosiku. Kalau urusan berdebat, aku tidak akan pernah menang melawan wanita ini jadi lebih baik aku diam saja selama argumennya memang benar.

“Kyu…”

“Humm?” Aku mulai membuka laptopku dan mengaktifkan semua aplikasi game yang sedang berusaha aku tamatkan dalam beberapa bulan belakangan ini.

“EunHae Oppadeul benar akan wajib militer tahun depan?”

“Entahlah. Kalau menurut jadwal tampaknya begitu tapi kan bisa saja ditunda. Kita lihat saja nanti.”

Aku konsentrasi dengan game-ku meskipun kadang-kadang aku harus memecahnya dengan mendengarkan ocehan Hyejin yang panjang dan lebar.

“Kyu…”

“Waeyo?” Aku masih tidak mengalihkan perhatianku dari karakter dunia mayaku yang hampir saja mati kena tembak musuh.

“Will you marry me?”

“Mworago?” Aku segera memghentikan permainanku dan beralih sepenuhnya pada gadis yang benar-benar sudah membuyarkan seluruh isi otakku. Otakku kini hanya ada dirinya dan ucapannya yang ajaib itu.

“Kau… Mau menikah denganku?”

Tidak ada satupun orang di dunia ini yang bisa mengetahui masa depan, apalagi aku. Cho Kyuhyun, seorang pria yang mencintai kekasihnya setengah mati yang bahkan rela mengorbankan nyawanya untuk wanita itu kalau ia memang membutuhkannya namun selalu saja ditolak kalau sudah urusan mengajak untuk menikah.

Aku menatap kekasihku dengan tidak percaya. Aku berani bersumpah, ucapannya barusan layak dijadikan keajaiban dunia ke delapan. Ia baru saja melamarku. Hal yang dalam mimpiku pun tidak pernah terbersit. “Apa kau bilang?” Tanyaku untuk yang kesekian kali saking tidak percayanya pada mulut kekasihku sendiri.

“Kyu… Aku sedang tidak bercanda. Jawab saja, iya atau tidak,” jawabnya dengan galak. Meskipun galak begitu, aku bisa melihat wajahnya bersemu merah dan tidak berani menatapku.

Aku tidak perlu banyak berpikir untuk menjawab lamarannya, “Tentu saja aku mau. Mana mungkin aku menolaknya. Aku hanya kaget. Apa yang membuatmu tiba-tiba berubah pikiran?”

Song Hyejin, kekasihku yang sudah menolak lamaranku puluhan kali, sudah berani mengangkat wajahnya. Semburat merah di pipinya juga sudah menghilang digantikan oleh ketegasan tulang pipinya. Ia menatapku dengan serius. “Aku berpikir. Kalau kita menikah sebelum kau wajib militer, seperti yang dilakukan Sungmin Oppa, aku tidak berani membayangkan bagaimana hidupku. Kalau aku hamil, aku harus ke dokter sendirian. Belum lagi kalau aku melahirkan. Belum tentu kau bisa cuti kan? Kau mana bisa keluar masuk camp sesuka hatimu. Jadi, mumpung kau belum masuk wajib militer, aku memutuskan untuk menikah denganmu.”

Aku menatap geli wanita yang sedang duduk di atas tempat tidurku itu. Ia balas menatapku dengan bingung. “Apa ada yang salah?” Tanyanya.

Aku menggelengkan kepalaku dengan mantap, memberikannya keyakinan bahwa yang baru saja ia lakukan, melamarku, bukanlah kesalahan. Aku lalu duduk di sampingnya dan merangkul bahunya penuh kebahagiaan yang tidak bisa digantikan dengan apapun yang ada di dunia ini. “Melamarku…adalah satu-satunya hal yang paling benar yang pernah kau lakukan sepanjang aku mengenalmu,” kataku berimbas sebuah pukulan di dadaku.

“Aku serius,” kataku kemudian. “Aku pikir kau akan berpikir untuk menikah ketika semua membermu sudah menikah atau ketika aku sudah selesai militer atau mungkin kau tidak pernah berpikir untuk menikah denganku.”

Sebuah pukulan kecil mendarat lagi di dadaku dan aku menerimanya dengan senang hati. Saat ini, Hyejin boleh melakukan apapun padaku. Ia mendapatkan hak prerogatif atas diriku sebagai reward karena ia sudah berani melamarku.

“Mana mungkin aku tidak mau menikah denganmu. Kalau bukan denganmu, lalu aku mau menikah dengan siapa?”

“Entahlah. Aku tidak pernah sanggup memikirkan kau menikah dengan pria selain diriku. Melihat kau duduk berdua dengan pria lain saja aku langsung pusing.”

Hyejin tersenyum cerah. Senyum yang selalu membuat hari-hariku lebih cerah di antara jadwal-jadwalku yang suram. “Itu juga salah satu alasanku,” katanya.

“Apa? Kau tidak mau membuatku pusing-pusing lagi?” Tanyaku. Hyejin tersenyum lebih lebar mengajak bibirku membentuk senyuman yang sama lebarnya. “Akhirnya!! Kau memikirkan diriku juga, sayang…”

Hyejin tetap tersenyum namun senyumannya kini lebih cocok disebut dengan menyeringai. “Sebenarnya bukan. Aku yang tidak mau pusing-pusing lagi. Aku membayangkan jika tiba-tiba kau meninggalkanku hanya karena aku tidak mau menikah denganmu atau kau menikahi wanita lain. Aku rasa aku bisa gila,” ujarnya.

Dengan gemas, aku mencium puncak kepalanya yang dapat aku raih dengan genggaman tanganku. “Aku tidak tahu kalau kau bisa juga gila karena aku,” ujarku jahil lalu tertawa terbahak-bahak sendiri.

“Cho Kyuhyun… Kau baru saja mendengar pernyataan cinta seorang wanita yang akan menjadi pendamping hidupmu sampai kau mati. Tidak bisakah kau serius sedikit?” Omelnya kesal. Ia mau memukulku sekali lagi tapi aku lebih cepat menahan kepalan tangannya.

“No… No. Kau tidak boleh lagi memukulku,” ujarku lalu mendorongnya sampai seluruh permukaan bagian belakang tubuhnya beradu dengan tempat tidurku yang empuk.

Aku menatap Hyejin dengan serius. Aku menikmati kecantikannya yang tidak pernah pudar di mataku meski dalam 7 tahun terakhir aku hampir setiap hari melihatnya. “Aku mencintaimu,” bisikku kemudian mencium lembut bibirnya yang entah sudah berapa kali beradu dengan bibirku.

“Tidak perlu kubilang, kau juga sudah tahu perasaanku kan?” Balasnya yang kini sudah mengunciku dengan tangan dan kakinya juga bibirnya.

“Kau mau menggodaku humm?”

“Tergantung kau kuat menahannya atau tidak.”

Aku tersenyum geli melihat senyum nakalnya yang jelas-jelas sedang menggodaku. Aku tidak punya pilihan. Aku rasa aku harus mengubah jadwal penerbanganku demi tawaran yang lebih menggiurkan di depan mataku.

—-

Kkeut!