Annyeong!
I’m back dengan ff one shot singkat ini..
Selamat membaca..

~ting tong~

Bel apartemenku berbunyi.

“Yaa~ masuklah, kau tau code ku kan?”

~klik~

“Oppa! Kau tau darimana aku yang datang? Kalau orang lain bagaimana? Berbahaya tau, main suruh masuk saja!” cerocosnya begitu masuk kedalam

Akhirnya seseorang yang kutunggu datang juga..

Aku rindu suaranya..

“Paboya? Kalau orang lain tentu tak akan bisa masuk. Aku kan tak menyebutkan code ku.” jawabku sambil mengeluarkan smirk andalanku

“By the way ada apa Oppa menelponku hanya bilang ‘kutunggu kau di apartemenku’ lalu langsung mematikan telpon.. Apa-apaan sih Oppa.. Terdengar serius sekali, tidak biasanya..” cerocosnya lagi

Aku rindu omelannya..

“Kau cerewet sekali.. Tidak biasanya.. Biasanya aku yang cerewet..” jawabku sambil mendengus

“Omo Oppa!” serunya kaget saat melihatku, kemudian melempar tasnya dan berlari menghampiriku.

Aku rindu ekspresi kagetnya..

Sedetik kemudian ia sudah berada disebelahku, menangkup wajahku dan memaksaku yang tertunduk di mini barku sambil memainkan kaleng bir untuk menoleh padanya, melihat wajahnya, menatap matanya..

Ekspresinya berubah drastis setelah melihat wajahku dan menatap mataku..

Gurat kekhawatiran tersirat di wajahnya..
Matanya mulai berkaca-kaca..

Aku rindu kekhawatirannya..

Ya aku tau aku agak berantakan..

Aku cukup stress, lelah dan suntuk..

Stress karena permasalahan grupku dan berita-beritanya..

Lelah tentunya karena drama baruku yang saat ini sedang tayang..

Suntuk karena memikirkan keputusanku yang aku tau sangat mengejutkan publik..

Sudah 2 bulan terakhir aku begini..

Lemah.. Lesu.. Tak bertenaga..

Oleh sebab itulah aku membutuhkan dia..

Aku rindu perhatiannya..

Jika kau bertanya bagaimana keadaanku yang sebenarnya ini bisa tak tampak di publik?

Tentu saja jawabannya karena aku aktor yang handal!

Aku bisa sesuka hati memasang topengku, bahkan sahabat baikku pun bisa saja tak sadar akan topengku ini..

Tapi topeng ceria ku ini pada akhirnya akan selalu terbuka dihadapannya dan menunjukkan sosok asliku, sisi lemahku..

Ya walaupun tak terlalu sering..

Aku akan selalu luluh lantah terhadapnya..

Sebenarnya bukannya aku mau membuatnya menangis, tapi hanya padanya aku merasa aman dan nyaman..

Walaupun dia bukan milikku, tapi ijinkan aku egois untuk kali ini..

Aku meraih tangannya diwajahku, memindahkannya ke kepalaku dan kemudian menghempaskan tubuhku ke pelukannya.. Memeluknya erat..

“Gwaenchana oppa.. Aku disini.. Himne Oppa.. Kau oppaku, kau pasti bisa melewatinya..” ia mencoba menenangkanku dan menghiburku

Air mataku tak terasa mulai menetes..

Aku tau sebagai namja mungkin sebagian orang akan menganggapku cemen karena aku menangis..

But hey man.. It’s gender equality era!

Apapun.. Tak peduli lah apa kata orang..

Okay, back to the story..

Aku menumpahkan semua sesak di dadaku ini di dalam pelukannya..

Ia hanya terdiam sambil membelai kepalaku dan menepuk-nepuk lembut punggungku..

Walaupun ia terdiam aku tau ia terdiam sambil menangis..

Aku tau ia pasti ikut menangis gara-gara aku menangis..

Aku mengerti betul dirinya..

Benar saja saat aku mulai tenang, pipiku sudah tidak basah lagi, aku melepas pelukanku untuk menatapnya..

Psstt.. Walaupun begini aku tak mau menangis didepan wajahnya..

Beda denganku, pipinya masih basah.. Matanya masih merah.. Air matanya masih menetes..

“Kenapa menangis, jagi? Kenapa ikut sedih?” tanyaku lembut sambil mengusap air matanya

“Ott.. Ottoke.. Opp.. Oppa..” jawabnya terbata-bata sambil terisak

“Arraseo.. Tenanglah.. Aku kuat.. Aku bisa melewati ini semua.. Kan kau bersamaku.. Eo?”

“Eung”

“Mian.. sudah membuatmu khawatir dan menangis.. Jangan bilang oppamu ya..” aku meminta maaf sambil menggodanya untuk mencairkan suasana

“No prob, Oppa”

“Gomawo”

Aku tersenyum sambil membelai lembut rambutnya

Ia kembali tersenyum

Aku rindu senyumnya

“Oppa pasti lelah.. Sebaiknya oppa segera tidur, mumpung belum terlalu malam.. Kau butuh banyak istirahat.. Aku juga akan segera pulang” serunya memecah keheningan diantara kami

Ia beranjak dari tempatnya berdiri

Tertegun dengan kata-katanya..

Mengingat aku ingin egois kali ini..

Aku bangkit dari kursi bar ku dan menahan tangannya..

“Temani aku malam ini~ Aku tak bisa tidur~ ” seruku manja kembali ke kepribadianku yang lain

Ya terkadang aku merasa aku punya kepribadian ganda..

Langkahnya terhenti oleh kata-kataku..

Ia berbalik kemudian tersenyum..

“Aigoo.. Uri oppa manja sekali..” sambil mencubit pipiku gemas

Aku kemudian mengeluarkan aegyo ku yang tentunya tak bisa ditolaknya

“Arraseo.. kajja..” serunya sambil menggandengku ke tempat tidur

Ia membantuku naik ke kasur kemudian menyelimutiku sambil mengambil posisi disebelahku..

“Aku akan menemanimu sampai kau tidur, Oppa..” serunya sambil membetulkan posisi bantal ku

“Eo” jawabku singkat

Ia mulai membelai kepalaku, menepuk-nepuk pelan dadaku dan menyenandungkan lullaby sebagai pengantar tidurku..

“Jjaljja Joonie Oppa~” serunya kemudian mengecup keningku

“Jjaljja Hyunnie~ Saranghae~” jawabku sayup-sayup

“Saranghae Oppa.. Aku dan Yonghwa oppa akan selalu ada disampingmu.. Berjalan berdampingan denganmu.. Himmm!”

Suaranya semakin terdengar samar-samar..

Aku rindu kasih sayangnya..

Lullaby dan belaian HyunAh mengantarku lebih dalam, lebih jauh kedalam alam mimpi..

Aku rindu padanya..

“Bogoshiposo” racauku

-End-

Inspired by Mr Baek
Choi Dae Han yang sedang muram..
Jadi ikutan galau..

Actor Lee Joon fighting!!!