“Odiya?” Tanyaku tanpa basa-basi dengan smartphone yang kujepit di antara bahu dan telinga kananku sedangkan kedua tanganku sibuk membebaskan leherku dari jeratan dasi super menyebalkan ini.

“Wasseo?” Akhirnya, aku mendengar suaranya juga setelah berjam-jam aku hanya mendengarkan ocehan orang-orang yang hanya menjual mimpi belaka.

“Ne. Aku sudah kembali. Kau dimana?” Tanyaku lagi. Aku sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya.

“Aku akan ke ruanganmu sebentar lagi. Sabar ya,” ujarnya lalu menutup sambungan padahal aku belum selesai bicara.

“YAA! YA! YAA SONG HYEJIN!!” Teriakku tidak berguna pada smartphoneku. “HEEIISH!!”

Aku melempar dasiku dengan sembarangan ke atas meja kerjaku lalu menarik smartphoneku dari jepitan antara telinga dan bahu kananku dan memberikannya nasib yang sama dengan dasiku. Teronggok begitu saja di atas meja kerjaku.

Aku bolak-balik melihat jam tanganku. Waktu berjalan setiap detiknya tapi aku merasa mereka berjalan dengan sangat lambat. “Heiissh. Mana wanita itu?” Keluhku kesal sendiri menanti kedatangannya dan memutuskan untuk duduk di kursi-ku yang tepat berada di seberang pintu masuk ruanganku sehingga begitu ia datang, aku dapat langsung melihatnya.

“Hai.”

Wanita itu akhirnya muncul juga. Dengan rambut terurai dan gaun hitam selututnya, ia tampak sangat cantik dan mempesona. Namun aku tidak suka dengan kenyataan bahwa tubuhnya terlihat sangat sempurna dengan balutan gaun itu.

“Yaaa!!! Kenapa kau pakai baju itu? Lekukan tubuhmu terlihat kemana-mana tahu!” Protesku dan hanya mendapat seringaian yang menurutku, ehm, cukup seksi.

Ia berpose di hadapanku bak seorang model. Dia berbalik, membuat aku hanya bisa melihat rambut, punggung, bokong dan betisnya namun cukup untuk membuatku menelan ludah. Tangannya di kedua pinggangnya lalu ia menoleh membuat badannya sedikit terputar dan lekukan tubuhnya terlihat semakin sempurna. “Aku…seksi kan?” Ujarnya dengan suara yang dibuat-buat mendesah. Sialan.

“You’re the sexiest woman alive,” kataku dan wanita itu justru tertawa terbahak-bahak.

“Aku tahu aku bukan wanita paling seksi, sayang,” sahutnya.

“Setidaknya bagiku kau paling seksi. Apa itu tidak cukup? Sini.” Aku merentangkan tanganku, menyuruhnya untuk mendekat kepadaku. Aku ingin segera memeluknya, menciumnya, menyalurkan semua kerinduanku padanya.

Namun bukannya mendekat kepadaku, ia justru mendekati lemari pajangan di belakang mejaku. “Astagaaa!!! Kenapa pajangan ini berantakan sekali!” Ocehnya dan langsung membereskan benda-benda di sana tanpa memedulikan aku yang harus memutar kursiku untuk melihatnya. Melihat rambut, punggung, bokong dan betisnya. Lagi.

Meski sudah 15 tahun menikah, melihat tubuhnya, yang tidak kurus dan juga tidak gendut namun cukup berisi dengan pakaian yang membalutnya sehingga beberapa lekuk tubuhnya terlihat jelas di mataku, masih memberikan reaksi yang menyakitkan di bagian bawah tubuhku.

“Yaa. Mau sampai kapan kau membiarkan suamimu hanya menatap punggungmu?” Tegurku menyadari ia sudah membiarkanku 30 menit hanya memperhatikan punggungnya.

Wanita itu menoleh kepadaku. Wajah cantiknya tidak berubah dibandingkan dengan waktu pertama kali aku melihatnya. Memang terlihat lebih tua tapi bagiku tetap ia yang paling cantik. Kecerewatannya pun tidak mengurangi kecantikannya sedikitpun.

“Yaa Cho Sajangnim, kau punya 15 cleaning service di kantor ini. Apa tidak ada satupun yang bisa merapikan lemari pajang ini?” Ocehnya yang sudah aku antisipasi kemunculannya. Tentu saja, omelannnya itu hanya akan masuk telinga kiriku dan kemudian mental lagi ke luar.

Aku bangkit dari tempat dudukku dan mendekatinya. Aku merangkul pinggangnya dan memepetkan tubuhnya kepadaku. “Aku menyuruhmu ke sini bukan untuk membereskan ruanganku. Kau sudah membuang waktuku 30 menit, nyonya Cho,” bisikku tepat di telinganya membuatnya kegelian akibat kumis halusku yang menggelitiknya.

Ia menjauhkan kepalanya dariku. Hanya kepalanya, tubuhnya masih menempel erat pada tubuhku. Ia kembali sibuk dengan pajangan-pajangan di lemari sedangkan aku sibuk dengan hidungku pada lehernya sambil memainkan rambutnya dengan tangan kananku, tangan kiriku masih mengunci pinggangnya dengan erat.

“Lalu buat apa kau menyuruhku datang?” Tanyanya.

Aku mendengus berusaha mengalihkan perhatiannya, walau aku tahu ia tidak akan peduli. Ia sudah lebih expert dalam hal tidak mempedulikan pasangan.

Aku akhirnya memaksanya untuk membalik tubuhnya, sehingga sekarang aku bisa melihat wajahnya. Aku memepetnya ke lemari pajangan sampai tidak ada ruang lagi di antara kami. Aku menyeringai lalu mencium bibirnya dengan intens.

Ia mencengkram kemejaku lalu mendorongku sedikit menjauh sehingga dengan terpaksa aku melepaskan bibirnya yang memabukkan itu. “Aku tahu,” katanya dengan nafas terengah-engah. Ia sudah pasti mengerti maksudku. Dari sekian ratus juta manusia di muka bumi ini, dia adalah satu-satunya yang bisa menerjemahkan apa yang aku inginkan meski aku hanya tersenyum atau berdeham atau bahkan diam saja.

“Apa?” Tanyaku bermaksud terus menggodanya.

“Kau menginginkan tubuhku. Ya kan?” katanya tanpa malu-malu membuatku tertawa geli mendengarnya. Dia tidak seratus persen benar tapi ya, aku menginginkan tubuhnya.

“Jangan tertawa terus. Kau benar-benar menginginkannya? Sekarang? Di sini? Serius?” Tanyanya.

Aku menganggukkan kepalaku dengan mantap, meyakinkan dirinya bahwa aku memang benar-benar menginginkannya. Walaupun sebenarnya dengan berada di dalam pelukanku saja sudah cukup bagiku.

Ia menghela nafas panjang kemudian mulai bergerak untuk membuka resleting pakaiannya. Aku menghentikan tangannya sebelum ia benar-benar melucuti pakaiannya. Bukan, bukan aku tidak ingin tubuhnya tetap aman dibalik pakaiannya ini tapi aku berniat aku yang melepasnya setelah beberapa kissmark di lehernya.

“Yaa… Kenapa menghentikanku? Kita harus melakukannya dengan cepat. Aku harus segera kembali ke rumah. Kau tidak mau si magnae mengambek sepanjang malam hanya karena dia tidak melihatku saat ia pulang sekolah kan?” Protesnya panjang lebar yang tentu saja tidak ada satu kata pun yang masuk ke telingaku.

“Aku bisa menyuap anakku dengan sebuah game baru untuk meminjam eomma-nya sebentar,” kataku yang kini sudah mulai bergerak untuk mendapatkan keinginanku.

Aku menggendong tubuhnya dan mendudukkannya di atas pangkuanku di atas sofa ruang kerjaku yang entah sudah berapa kali terkontaminasi dengan keringat orang-orang. Okay, keringat kami berdua. Tapi tidak usah khawatir, cleaning service-ku selalu membersihkannya.

Aku tersenyum dengan penuh hasrat namun aku tidak ingin terburu-buru menghabisinya. Hari ini masih ada 18 jam lagi dan aku ingin menikmati setiap detiknya dengan sangat berarti.

Ia mengalungkan tangannya di leherku dan balas tersenyum kepadaku. Senyuman mengejek sekaligus menginginkan aku.

Aku mendiamkannya saat tangannya sudah bergerak membelai pipiku dan ketika ia sudah menempatkan setiap bagian tubuhnya dengan pas beradu dengan tubuhku. Aku tahu gadis ini lebih pintar dariku tapi kegilaannya setingkat denganku kalau sudah menyangkut surga dunia ini.

“Kau tahu hari ini hari apa?” Tanyaku sambil menikmati semua sentuhan yang ia berikan kepadaku.

Aku hanya duduk diam, memeluk erat pinggangnya dan menikmati setiap gerakannya yang semakin lama semakin menyiksaku. “Aku lupa. Memang hari ini hari apa?” Tanyanya setelah menghisap adam’s apple-ku yang membuatku agak sedikit kehilangan akal.

“Kau benar-benar lupa ya?” Tanyaku lagi tanpa berharap jawaban darinya karena ia sedang sibuk dengan dadaku yang entah sejak kapan kemeja yang sebagai pelindungnya berhasil dia lepaskan.

Aku merapikan helai-helai rambutnya yang sudah berantakan menempel kemana-mana di tubuhku, menariknya menjadi satu lalu menggulungnya dan mengikatnya dengan kencang di atas kepalanya agar tidak mengganggu.

Aku tersenyum melihat hasil kerjaku pada rambutnya. Aku sukses membuatnya berada kokoh di atas kepala wanita ini. Paling tidak, selama bibirku menyusuri tubuhnya tidak ada rambut-rambut yang akan menggangguku.

“Hei,” kataku dengan suara serak dan aku berhasil mengalihkan perhatiannya.

Ia mengangkat kepalanya dan menatapku dengan lucu. Aku tersenyum kepadanya. “Kalau tidak salah, aku yang menginginkanmu. Kenapa jadi kau yang lebih agresif? Tidak bisakah kau diam dan membiarkan aku menggerayangi tubuhmu, bukan sebaliknya, sayang,” Godaku.

“Aku kan sudah bilang, kita tidak bisa lama-lama. Kau harus ingat, kau punya 3 orang saingan untuk mendapatkan perhatianku.”

“Aku malah berniat menambahnya menjadi 4,” ujarku berakibat sebuah pukulan kecil di bahuku.

“Jangan bermimpi. Mengurus 1 suami dan 3 orang anak itu tidak mudah tahu. Belum lagi perusahaan. Tidak. Aku tidak mau punya anak keempat,” katanya yang sudah aku dengar puluhan kali dan aku menghargainya.

“Cerewet. Sekarang giliranku,” kataku dan tanpa basa-basi menyerang bibirnya yang sudah belepotan lipstik akibat perbuatannya sendiri.

Aku menangkup erat wajahnya dan melumat bibirnya sesuka hatiku yang kemudian turun ke lehernya naik ke telinganya sambil tanganku bergerak membuka pakaiannya.

Aku tersenyum puas memandang bercak-bercak merah di leher dan bagian dada atasnya. Tinggal 2 helai pakaian dalam yang membalut tubuhnya. Gaunnya tadi sudah teronggok di lantai di bawah kakiku.

“Ini baru namanya seksi,” godaku dengan tatapan nakal pada tubuhnya berakibat sebuah cubitan menyakitkan di perutku.

“Sialan. Kau masih mau mengulur waktu atau aku akan pulang?” ancamnya yang aku yakini tidak sepenuhnya akan ia penuhi. Dari gelagat tubuhnya, aku juga tahu ia menginginkan aku.

“Sabar, sayang. Hari masih panjang,” kataku dan memberikan sebuah kecupan mesra di bibirnya.

Aku baru akan beralih mencium tulang bahunya ketika pintu ruang kerjaku tiba-tiba terbuka.

“Sajangnim, rapat dengan DH Group akan dimulai 5 menit lagi,” katanya.

Aku dan Hyejin menoleh kepadanya dan sekretarisku balas menatap kami dengan mata membulat saking terkejutnya lalu buru-buru keluar dari ruanganku.

“Maaf sajangnim. Aku tidak tahu. Jwisonghamnida. Jwisonghamnida,” ucapnya berkali-kali lalu menutup pintu ruanganku.

“Kau lupa mengunci pintunya,” kata Hyejin sambil mengangkat tubuhnya dari pangkuanku. Ia lalu mengambil gaunnya dan memasangnya kembali dengan cekatan ke tubuhnya.

“Kau mau kemana?” Tanyaku yang hanya bisa duduk pasrah, melihatnya menarik resleting gaunnya. Ia benar-benar menghentikannya.

“Kau tidak dengar apa kata sekretarismu tadi? Rapat dengan DH Group 5 menit lagi. Aku tidak mau kehilangan 1 Milyar won hanya gara-gara hal yang bisa kita lakukan sepanjang malam nanti,” katanya.

Dengan malas-malasan, aku merapikan celanaku, memakai kemejaku kembali dan membiarkan Hyejin yang memasang dasi serta jas favoritnya kepadaku. Ia menatapku sejenak. “Tampan,” pujinya dan aku hanya tersenyum. Aku hanya ingin bersamanya sekarang bukan bersama orang-orang yang akan berceloteh panjang lebar menjual mimpi kepadaku meski nilainya milyaran won.

Hyejin lalu menciumku sebelum aku pergi lagi meninggalkannya. “Happy Aniversary.” Dia mengingat hari bersejarah dalam pernikahan kami.

“Aku akan menunggumu sampai kau pulang,” bisiknya kemudian dengan senyuman paling menggoyahkan iman yang paling aku suka lalu mendorongku untuk segera keluar dari ruanganku untuk mengikuti rapat. Dengan penuh semangatt, aku mengikuti rapat dengan bayangan Hyejin yang akan menungguku pulang di rumah. Sialan.

Kkeut!