Annyeong! Maafkan author membuat ff yang agak serius malam ini. Cerita ini terinspirasi dari ucapan Woobin yang di ambil dari artikel di salah satu media online kpopherald.com

 

“I am fully aware that I don’t have a ‘pretty boy’ face like other popular male actors. But I have thought that I should pursue my acting career differently. I became an actor because I enjoy ‘acting’ itself and I’m planning to continue with what I have.”

 

 

 

Jihyo membuka pintu kamarnya, di sana sudah menunggu kekasihnya Kim Woobin yang sedang terduduk di tempat tidurnya.

“Ah Hyonnie, kau sudah pulang?” Woobin menghampiri Jihyo dan memeluknya.

“Kau di sini dari jam berapa, jagi?” Jihyo melirik jam tangannya, sudah pukul 2 dini hari.

“Belum lama,” Woobin menghela napas sejenak dan menuntun Jihyo duduk di tempat tidur tanpa sekalipun melepas genggaman tangannya.

Walaupun baru setengah tahun mereka berdua berpacaran, namun Jihyo hapal betul tingkah Woobin seperti ini.

“Maafkan aku tidak datang ke press conference film terbarumu ya, hari ini take terakhir dramaku,” Jihyo mencium pipi kekasihnya. “Kau tidak macam-macam dengan Hyunwoo-ku kan?”

Woobin menggeleng. Ini sudah memasuki tahap serius. Biasanya jika Jihyo menggoda Woobin seperti itu, si tuan devil pasti akan langsung mengambek dan membela diri mengatakan jika dirinya satu-satunya namja yang boleh disebut namanya oleh Jihyo.

“Waeyo, Kim Woobin?” Jihyo kini benar-benar cemas melihat kekasihnya yang sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun sejak tadi. Ia mengira-ngira sejak kapan Woobin berada di rumahnya. Jihyo mengenali jas hitam yang Woobin kenakan, jas yang sama Woobin pakai di press conference siang ini. Dari berita di media online yang Jihyo baca, acara tersebut selesai sore. Apa mungkin namja ini langsung ke rumahnya dari acara itu?

“Kau lebih mencintaiku apa Sungmin hyung?”

Woobin menatap Jihyo dengan tatapan paling serius yang pernah Jihyo lihat. Jika dalam keadaan normal, tentu Jihyo akan dengan segera menyebut nama Sungmin dan membuat Woobin kesal.

“Kau sayangku,” Jihyo mengelus pundak Woobin. “Waeyo?”

“Aku bukan pretty boy, tidak seperti Sungmin hyung,” Woobin memainkan jari jemari Jihyo.

“Lalu?” Jihyo mengerenyitkan dahinya. Ia mencintai namja di hadapannya ini apa adanya. Ia mencintai Woobin yang selalu bersikap cool dan misterius, namun ia juga mencintai sisi konyol dan jahil namja itu.

“Aku tidak punya wajah tampan dan menawan seperti aktor-aktor lainnya,” Woobin menyenderkan kepalanya ke bahu Jihyo. “Namun aku sangat mencintai akting, seperti mencintai dirimu, Choi jihyo.”

Jihyo tersenyum, namja ini selalu saja berpikir terlalu jauh tentang suatu hal yang mengganjal otak dan hatinya. “Kau memang bukan tipe namja yang menyenangkan seperti itu. Namun kau ada di posisi saat ini karena kau memiliki bakat dalam dirimu.”

“Tapi… ” ucapan Woobin terputus saat Jihyo menciumnya.

“Kau mendapatkan hatiku dengan cara yang berbeda dengan namja lain. Maka kau pasti juga tau bagaimana mendapatkan impianmu di dunia akting” Jihyo tersenyum.

“Gomawoyo Jihyonnie,” Woobin memeluk kekasihnya. “Kau selalu menjadi yang terbaik untukku.”

“Tentu saja aku yang terbaik. Memangnya yeoja mana lagi yang bisa mendengarkan ocehanmu di tengah malam, hah?”

Woobin tertawa dan mencubit gemas pipi Jihyo. “Sudah ah aku mau tidur!” Woobin melepaskan jasnya dan mulai membuka kancing kemejanya.

“Ya, ya, ya! Kim Woobin! Kau mau berbuat apa!” Jihyo menonjok lengan Woobin.

“Aaakh, Choi Jihyo! Aku sudah pakai baju ini sejak press conference! Gerah seharian pakai baju ini!” rengek Woobin.

“Jadi kau mau tidak pakai baju? Siapa juga yang mengizinkan kau tidur di kamarku?”

“Aku, mumpung Siwon hyung sedang tidak ada di rumah, hehe” Woobin menyeringai dan melanjutkan melepas kancing kemejanya dan membukanya. “Aku mau tidur!”

Jihyo hanya memandang tidak percaya namja berumur seperempat abad ini bertelanjang dada dan tidur di tempat tidurnya. “Aaaaaaa Kim Woobin! Masa bodo ah! Aku tidur di kamar Wonnie oppa saja!”

Tentu saja Jihyo bodoh menyangka kekasihnya dengan mudah membiarkan dirinya pergi ke kamar Siwon. Jihyo terjungkal saat lengannya ditarik Woobin.

“Tidur bersamaku, nona evil,” Woobin memeluk Jihyo dengan erat. “Eh, kau belum ganti baju daritadi. Kau tidak mau melepas bajumu saja, sayangku?”

Dan Woobin menerima jitakan di kepalanya yang membuatnya tidur nyenyak.

 

+++++